[Vignette] Kring! Kring!

Standard

kring kring

Tittle : Kring! Kring

Author : Xika Nisha

Main cast : Ryu SuJeong (Lovelyz) | Lee SeungHoon (Winner)

Other cast : Jung Ye In (Lovelyz) | Jeon JungKook (BTS)

Genre : romance | fluff | friendship | school-life

Length : Vignette (1.400+)

Rating : PG-13

Disclaimer : FF ini buatan saya! Jika merasa ada kesamaan di cerita lain, mungkin itu adalah faktor tidak sengaja.

Summary : Apa yang membuat cinta bisa bersatu?

.

.

.

Kring! Kring!

Bunyi yang menyatukan kita.

….

“Oppa, kau akan pergi?” suara lembut di sore hari memecahkan rasa haru yang menyelimuti kamar yang dominan dengan warna biru itu. Tidak ada jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan seorang anak kecil yang akan berumur sembilan tahun.

“Oppa!” sekarang gadis itu merengek, meminta perhatian. “Itu tidak benarkan?”

“Jungkook yang bilang?” sekarang lelaki kecil itu yang mengeluarkan suaranya. Pandangannya tidak bisa berhenti untuk terus memandang keluar jendela. Mata sang gadis kecil itu jelalatan mencari barang yang sekiranya bisa membuat dugaannya benar.

Koper?

Sebuah koper besar berwarna abu-abu terletak diatas ranjang. “Ja-jadi… be-benar…” ia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Suaranya tercekat, matanya memanas, perlahan-lahan air mata yang tehenti disudut matanya perlahan-lahan turun. Ia terisak dan mulai menangis.

Lelaki kecil itu berbalik, mendapati saabat sekaligus tetangganya menangis. Dengan sedikit menghela nafas, sang lelaki mendekat. Ia memeluknya, menyalurkan sebuah ketenangan. Tidak tahu apa yang ia bisa lakukan untuk menenangkan gadis ini. “Jangan menangis Jeong-ah. Aku pasti pulang!”

Ketenangan sudah didapati gadis ini. Ia mulai mengontrol perasaannya agar bisa berbicara dengan lancar. “Kapan itu terjadi?”

“Sampai Jeong-ah mengatakan Jeong-ah suka aku. Auwh!” ia menjerit karena mendapat pukulan kecil di dadanya. Setelah itu mereka tertawa bersama. Sang gadis kecil mengeratkan pelukannya. Berharap jika pelukan ini tidak akan terlepas untuk selamanya.

Mendadak lelaki kecil itu teringat sesuatu. Dengan perlahan ia melepaskan pelukan itu, meninggalkan rasa tidak terima dari sahabatnya. “Tunggu sebentar, ada yang ingin kuambil.”

Ia sibuk membongkar meja belajarnya dan laci-laci yang berada dikamar besar itu. Raut kebingungan terpancar di wajah manis sang gadis. Apa yang sebenarnya yang dicari sahabatnya?

Kring!

Bunyi gerencingan lonceng terdengar. Wajah anak lelaki itu kembali ceria. Ia menunjukan gantungan dengan lonceng kecil berwarna biru. Bunyinya lumayan nyaring. Gadis kecil itu menatap gantungan lonceng itu dengan pandangan kagum.

“Ini untukmu.” Diberikannya gantungan itu kepadanya. “Bunyikan saja lonceng itu, jika aku pulang nanti aku bisa menemukanmu dari suaranya.”

Kring! Kring!

Bunyi yang tercta diantara hembusan angin itu membuat kedua sahabat ini tertawa bersama. Meninggalkan hal yang jadi beban.

..

Enam tahun kemudian…

Kring! Kring! Kring!

Bunyi itu terus saja membuat kebisingan di saku rok seragam Sujeong. Ia tidak merasa terganggu dengan suara berisik itu. Ia malah menikmati setiap bunyinya, menciptakan irama pengiring untuk senandungnya.

“Sujeong-ah, gantungan ponselmu berisik.” Protes Ye In. Tidak ada tanggapan. Hanya sebuah cengiran khas darinya. “Lepaskan saja. Mengganggu!”

“Silheo!” tolaknya mentah-mentah. Dengan berlebihan, ia memeluk ponselnya. Takut jika Ye In merebutnya.

Dasar!

“Masih menunggunya?” Ye In menyindir dengan sinis. Seketika wajah Sujeong memuram. Ia tidak suka seperti ini. Disindir karena pendiriannya. Memangnya ada apa dengan keputusannya untuk menunggu. Dunia pun tidak akan peduli. Apa yang salah?

“Tentu!” jawabnya dengan nada riang. “Aku selalu menunggunya tanpa kenal lelah.” Pernyataan Sujeong ini membuat Ye In mengerti jika temannya ini sangat keras kepala.

..

Sujeong menatap langit malam. Bintang sedang bagus-bagusnya untuk di pandang. Ia memang senang memandangi bintang saat bosan di beranda kamar. Ia mencari-cari bintang yang paling bersinar terang diantara yang lain.

‘Menurutmu, mana yang paling indah? Bintang atau aku?’

Tanpa sadar Sujeong tertawa kecil. Ia masih ingat kalimat ‘narsis’ dari sahabatnya itu. Tawa kecil itu terhenti perlahan dan diganti raut wajah kesal. Perhatiannya teralihkan pada gantungan ponselnya.

Kring! Kring!

Iseng Sujeong membunyikannya. Karena ia ingin merasakan kehadiran Seunghoon, sahabat kecilnya. Dan setiap kali mencoba meresapi bunyi itu didalam hatinya, Sujeong akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan Seunghoon.

Tidak perlu jawaban, karena kau tahu semuanya.

..

Suasana hening di kamar Sujeong, membuat dirinya terasa hampa. Dan bahkan sekarang ia sedang resah dari kemarin. Bahkan sampai tak bisa tidur. Hanya berbolak-balik di tempat tidur. Lama-lama rambut indah berkilau miliknya rontok seketika karena memikirkan masalah ini.

Kemarin adalah kejadian yang mendebarkan bagi Sujeong. Bahkan ia hampir serangan jantung saat Jungkook menembaknya, dan membuat satu kelas hening.

Jungkook itu teman lengketnya. Ibaratnya, disana ada Sujeong disitu juga ada Jungkook. Mereka selalu kompak jika terpilih dalam satu kelompok. Jam istirahatpun dihabiskan mereka bersama.

Tapi, pernyataan pemuda tersebut membuat Sujeong sakit kepala. Gadis itu hanya menganggap Jungkook sebagai teman kecil, sama seperti Seunghoon (walau perasaannya saja yang berbeda). Dan ia sudah terikat janji oleh Seunghoon.

Terus bagaimana?

Pada akhirnya Sujeong mengambil keputusan paling dangkal. Keputusan yang sudah ia pegang dari dulu. Keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat.

..

Jungkook tengah menunggu Sujeong dibelakang sekolah. Mereka berjanji bertemu, membahas permasalahan lusa kemarin. Pemuda itu rasanya ingin meledak. Dan ia merasa yakin jika jawaban dari Sujeong adalah jawaban yang diinginkan.

“Menunggu lama Jungkook-ah?” suara merdu itu menyapa Jungkook yang tengah termenung sendiri. “Aniyo. Kemarilah!” Jungkook memintanya mendekat. “Jadi…”

“Mianhae.” Dengan cepat gadis itu memotong ucapan Jungkook. Tentu saja pemuda tampan itu terkejut. Wajah Sujeong juga terlihat gugup.

“Nde…”

“Mianhae, Jungkook-ah… aku tidak bisa menerimamu. Bukan aku tidak menyukaimu, aku hanya menganggapmu sebagai… teman.” Sujeong menundukan kepalanya. Ia tak ingin melihat wajah kecewa Jungkook.

“Apa ini karena Seunghoon hyung? Apa kau masih menunggunya?” emosi terbawa di setiap kata dari Jungkook. “Dia sudah enam tahun pergi. Tidak ada kabar. Apa kau masih percaya ia akan kembali? Itu hanya janji anak-anak. Seunghoon hyung pasti sudah lupa. Tapi kau masih mengharapkanya? Perempuan macam apa kau ini!”

PLAK!

Tamparan itu sangat kencang. Sujeong menggunakan seluruh kekuatannya untuk menampar Jungkook yang sudah mengusik harga dirinya.

“Apa pedulimu!” dua kata itu seakan meledak dari mulutnya. Berhamburan layaknya kertas yang sudah di potong-potong.

Hening.

Setelah pertengkaran kecil itu, Sujeong merasakan langkah kaki melewatinya dan menjauh. Sujeong masih terpaku disitu.

Apa aku salah?

..

Sore ini terasa menyenangkan saat Sujeong mulai mengayuh sepedanya. Membawa sekotak tiramisu pesanan sang ibu. Sepeda hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Tidak dengan kelajuan yang cepat seperti biasanya.

Ia ingin menikmati segala terpaan angin kewajahnya. Menghirup aroma yang menghambur di jalanan. Keseharian sederhana yang dimiliki Sujeong. Sekalian menghindari stres.

Ia masih tidak terima akan perkataan Jungkook. Bagaimana bisa orang yang ia anggap berharga mengatakan hal yang begitu menyakitkan hati. Hanya karena penolakan ia bisa kehilangan sahabat? WOW, menakjubkan!

Itulah perasaan bodoh yang kita sebut cinta. Karena kesalahpahaman semata saja bisa menjadi besar karena perasaan itu. Wah, Jungkook pasti sudah gila! Ia nekat menyatakan perasaannya saat ia tahu harapan itu tidak ada. Tapi apakah Sujeong juga tidak sadar, jika ia menolak Jungkook karena perasaan konyol tadi.

Jadi semua berawal dari cinta. Kerumitan ini berasal dari cinta. Betapa dahsyatnya cinta.

Perhatian Sujeong sudah tidak terfokus pada jalanan. Ia lebih sibuk pada dilema hidupnya. Mengapa ia seperti ini? Atau, bagaimana bisa ia melakukan hal itu? Pertanyaan demi pertanyaan berkumpul menjadi satu di kepalanya.

DUAK!

“OMO!”

Sebuah bunyi keras baru saja mengusik hari indah Sujeong. Dengan reflek, ia mengerem sepedanya. Ia terkejut karena baru saja menabrak seseorang berkaca mata hitam dengan kopernya. Sujeong sekarang takut jika sang korban terjadi apa-apa. “Neon… gwenchana?”

Lelaki yang baru saja ditabraknya mulai menoleh ke arah Sujeong. “Hah, baik-baik saja? Tidak lihat keadaanku sekarang?” bentak orang itu. Sujeong langsung panik. Ia turun dari sepeda, dan mengabaikan sepedanya yang tergeletak mengenaskan.

Kring!

Bunyi gantungan ponselnya otomatis berbunyi karena pergerakannya. Entah kenapa lelaki itu mematung memandangi Sujeong saat mendengar bunyi unik tadi. Sujeong berjongkok di hadapan sang pemuda. “Chogiyo… Apa kau terluka?” Sujeong mengbaskan kedua tangannya di depan pemuda tadi.

“j-jeong-ah… Ryu Sujeong…” lelaki itu berkata lirih, membuat gadis imut itu terkaget-kaget. Darimana orang ini tahu namanya? “Kau seorang peramal ya? Bagaimana bisa…” tuduhnya. Ia menatap horor.

Tanpa diduga, lelaki tak dikenal -yang menjadi korban Sujeong- memeluknya. Gadis itu berontak. Ia paling tidak suka disentuh, ya!

“YAK, LELAKI MESUM!!” dengan terus-terusan Sujeong memukul-mukul lelaki mesum ini.

“HEI! HEI!” akhirnya lelaki itu kewalahan dengan kekuatan Sujeong.

“TIDAK KENAL, MAIN PELUK-PELUK!!!”

“SIAPA YANG TIDAK MENGENALMU! AKU, LEE SEUNGHOON!!!!” lelaki itu membalas teriakan Sujeong. Ia tercenung seketika.  Masih belum connect.

Tunggu sebentar?

“Lee Seunghoon? Seunghoon oppa?!”  wajahnya menunjukan ketidak percayaan yang sangat kencang. “Maldo andwae.”

“Kau tidak percaya padaku?” lelaki yang mengaku sebagai Seunghoon itu nampak kesal. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menyembunyikan mata sipit itu.

“Lihat aku!” perintahnya. Sujeong melakukannya, untuk membuktikan jika pengakuan lelaki ini sungguh-sungguh. Ia merasa mata itu familiar, yang membuatnya terperangkap.

“Seunghoon oppa! Jeongmal?” Seunghoon –lelaki itu- mengangguk. Tanpa diduga, Sujeong memeluknya duluan. Menyalurkan segala kerinduan yang sudah menumpuk, setinggi menara Namsan. Keduanya berpelukan di pinggir jalan tanpa peduli dengan orang sekitar yang menonton mereka.

Kring! Kring!

Bunyi yang membuatku egois.

Kring! Kring!

Bunyi yang mengingatkanku pada sebuah janji.

Kring! Kring!

Bunyi yang menemukan kita.

Kring! Kring!

Bunyi dari takdir kita.

END


koment juseyo ^^

6 thoughts on “[Vignette] Kring! Kring!

  1. Oh, my Ryu! ini manis bangeeet >< Kring Kring yang penuh arti ^^ sebetulnya sempat merasa 'terguncang' saat tahu Kook nembak Sujeong (oyy!! Yein lu kemanain?) hehe, Jungkook sama Yein aja yaa /jiwa shipper/

    Overall, ini keren! (cuma mungkin bahasa asing lupa kamu italic yaa?) pasti bakal lebih kece kalau di italic ^^

    Like

  2. Kaget pas tahu jungkook ternyata nembak sujeong, aku kira kook bkal sama yein 😀
    tapi akhirnya seunghoon oppa back, suka dengan setiap kata yang ada di kring kring kring ❤ neomu joah

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s