[Vignette] Friendzone

Friendzone

Friendzone

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Infinite’s Sungjong | Lovelyz’ Jiae

Infinite’s L

kepada bidadariku. Awalnya aku ingin mengungkapkan semua yang aku rasakan namun takdir berkehendak lain. Waktu mengizinkanmu bersama dengannya. Tak apa, aku mengiklaskanmu. Dan akan selalu mencintaimu, Yoo Jiae. Didalam zona persahabatan ini~

 

 

 

 

 

 

            Di pagi hari yang cerah itu seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kurus baru saja keluar dari rumahnya dan berjalan menuju rumah yang ada di sampingnya. Lelaki bernama Lee Sungjong itu berteriak memanggil nama seseorang dari teras rumahnya.

“Jiae-ya keluarlah ayo olahraga bersama!”teriak Sungjong.

Tak lama kemudian seseorang membuka pintu namun yang keluar bukanlah yang dia cari melainkan ibu perempuan yang ia cari.

“Sungjongie masuklah, Jiae baru saja mandi. ayo masuk!”ajak ibu Jiae.

Ne eommoni. Gamsahamnida,”kata Sungjong tersenyum cerita.

Kini Sungjong sudah berada di ruang tamu rumah Jiae, sembari menunggu Jiae keluar dari kamarnya ibu Jiae membawakan segelas susu vanila dan roti panggang untuk Sungjong.

“Nah makan dulu ya,”kata ibu Jiae.

joengmal gamsahamnida eommoni,”kata Sungjong.

cheonmaneyo, aku tinggal ya. Aku harus membereskan dapur dulu,”pamit ibu Jiae.

Sungjong menganggukan kepalanya. Karena merasa sedikit keroncongan ia mengambil roti panggang tersebut lalu mencomot kemulutnya. Tak lama kemudian seseorang yang dia tunggu pun menghampirinya namun Sungjong sedikit bingung dengan pakaian yang dia kenakan. Bukankah hari ini kedua sahabat itu sudah memiliki rencana untuk lari pagi bersama?

“kenapa kau memakai dress?”tanya Sungjong.

“Ah aku lupa memberitahumu bukan!”kata Jiae dengan nada riang.

Sungjong mengerutkan keningnya. Jiae pun bergegas duduk di samping Sungjong lalu memegang tangan Sungjong dengan erat dan muka yang berseri-seri.

“Semalam aku mendapatkan pesan dari Myungsoo Oppa!”kata Jiae antusias.

Sungjong yang hendak menelan roti yang ada di mulutnya pun mendadak tersedak, Jiae yang panik langsung mengambil segelas susu yang ada di meja lalu mengarahkan gelas itu ke mulut Sungjong dan tanpa basa-basi Sungjong langsung meneguk susu vanila tersebut.

“ye? Myung..myungsoo hyeong?”

“eoh Myungsoo Oppa mengirim pesan kepadaku kemarin. Dia bilang dia mengajak aku berkencan jam 11 nanti. Eotte? Aa aku senang sekali Jongie-ya!!”pekik ria Jiae.

Sungjong diam tanpa kata, haruskah dia bahagia bahwa seorang Kim Myungsoo mengajak seorang Yoo Jiae berkencan? Hei ayolah siapa yang tidak kenal dengan seorang Myungsoo. Laki-laki idaman semua perempuan di sekolahan Sungjong dan Jiae, yang notabene adalah senior mereka yang kini sudah berada di tingkat 3 sementara mereka di tingkat 2 bahkan rumah mereka pun hanya berbeda blok saja.

“Sungjongie, aku sudah cantik bukan?”tanya Jiae antusias.

Tanpa mengeluarkan suara Sungjong menjawab kata iya.

“bukankah bidadariku selalu cantik?”kata Sungjong di dalam hatinya.

“jadi aku minta maaf untuk membatalkan acara kita pagi ini. Kau pasti bisa mengerti keadaanku bukan Jongie-ya? Kita akan melakukannya di weekend minggu depan. Yakso!”kata Jiae sambil mengedipkan matanya.

Sungjong tertawa hambar, ia mengulurkan tangannya lalu mengacak-acak rambut Jiae yang sudah rapi itu dan kini rambutnya pun menjadi kusut kembali.

“Aaa kau menghancurkan rambutku nappeun!”rutuk Jiae.

Mianhae kekeke,”kekeh Sungjong.

 

 

            Jam sudah menunjukan pukul 11 pagi. Jiae dan Sungjong sejak tadi menunggu Myungsoo di teras rumah Jiae dan tak lama kemudian yang di tunggu pun muncul. Laki-laki itu langsung menghampiri kedua sahabat tersebut dengan nafas tersengal.

“ah apa aku terlambat?”sesal Myungsoo.

Aniyo Oppa kau tepat waktu!”kata Jiae.

Ne ini pas jam 11 hyeong,”sambung Sungjong.

“kalau begitu aku dan Jiae pergi dulu sebelum matahari terik. Kami pamit Sungjong-ah,”kata Myungsoo.

pai-pai Sungjongie!”kata Jiae.

Sungjong hanya membalas dengan seulas senyum. Setelah kepergian mereka Sungjong masih tetap berada di teras rumah Jiae lalu tiba-tiba saja ibu Jiae datang menghampiri Sungjong dan bertanya.

“kau tidak jadi pergi bersama Jiae, sungjong-ah? Dan dimana anak itu sekarang?”tanya ibu Jiae.

“Dia berkencan eommoni dia berjanji mengganti waktu kami di weekend depan,”kata Sungjong.

Aigoo dengan siapa dia berkencan huh? Apa dia laki-laki baik? Ah aku lebih menyukai dia bersama denganmu Sungjong-ah, kalian terlihat baik satu sama lain apalagi aku mengenalmu sejak kau masih dalam gendongan,”oceh ibu Jiae.

“haha gwenchana eommoni, Myungsoo hyeong orang yang baik dan aku rasa Jiae juga menyukainya sejak lama jadi jangan khawatir. Jinjja? Apa aku terlihat baik bersamanya?”tanya Sungjong.

“ya aku merestui kau dengannya haha,”canda ibu Jiae.

“Hehe tapi kami hanya sahabat,”lirih Sungjong.

“Ini hampir jam siang, bukankah ibumu pergi ke Busan? Bagaimana kau makan bersamaku, aku memasakan ayam kesukaanmu dan Jiae. ayo!”tawar ibu Jiae.

“baiklah eommoni aku akan menghabiskan ayam itu,”canda sungjong. Ibu Jiae pun hanya tertawa mendengar perkataan Sungjong.

 

 

            Malam harinya Sungjong terlihat sangat gelisah. Ia terus monar-mandir di kamarnya dan sesekali melirik ke arah jendela. Pasalnya sejak pagi tadi hingga sekarang pukul 7 malam Jiae belum juga pulang ke rumah.

gomawo untuk hari ini Oppa!”kata seseorang dari luar.

Sungjong yang mendengar suara yang sangat familiar di telinganya itu langsung membuka jendela dan melihat keluar. Betul dugaannya ternyata itu adalah Jiae dan juga Myungsoo. Tanpa basa-basi Sungjong langsung keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju teras. Sesampai di teras saat sungjong sudah melihat myungsoo melangkahkan kakinya pergi dari rumah Jiae ia pun langsung berteriak memanggil Jiae agar tak masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu.

“Jangan masuk dulu Jiae-ya!”kata sungjong.

Setelah sampai di hadapan Jiae ia pun langsung melirik Jiae dari atas kepala hingga ujung kaki tuk memastikan sahabatnya ini tidak terluka sedikit pun.

gwenchana?”tanya Sungjong.

nan.. gwenchana. ya kenapa kau ada Jongie-ya?”bingung Jiae.

Aniyo kau membuatku khawatir karena pergi lama sekali. Apa Myungsoo hyeong menjagamu dengan baik? Apa yang terjadi antara kau dengan dia selama pergi tadi?”tanya Sungjong.

Mianhae. Myungsoo Oppa menjagaku dengan baik bahkan dia lebih ketat menjagamu dibandingkan kau Jongie, hahaha. Tidak ada yang terjadi hanya saja kami berjalan sambil bergandengan tangan layaknya pasangan kencan lainnya. Aa aku sangat bahagia Sungjongie!!”kata Jiae berseri-seri.

DEG!! Jantung Sungjong terasa berhenti berterak saat mendengar Jiae dan Myungsoo saling bergandeng tangan. Harusnya iya tak harus terbakar api cemburu karena hal itu, bukankah dia sering melakukannya bersama Jiae apalagi sejak kecil? Bahkan disaat balita mereka mandi bersama-sama dan tidur seranjang, walaupun itu dulu, saat kecil.

“Benarkah? Ke..kencan yang menyenangkan bukan..”lirih Sungjong.

Tanpa mengetahui perubahan raut wajah Sungjong dengan tangkas Jiae menjawab lirihan Sungjong yang masih dapat terdengar di telinga.

“ya kencan yang menyenangkan! Lain kali kau harus mengajak seorang gadis berkencan!”

Sungjong menganggukan kepalanya lemah. “kau capek bukan? Istirahatlah dan jangan lupa belajar besok kita ada ulangan harian dari Shin saem, apa kau mau di hukum lagi dengannya?”kata Sungjong mengalihkan pembicaraan.

“Ah matta! Kau benar aku belum belajar, gomawo sudah mengingatkanku! Aku akan masuk ke dalam lalu mandi dan bergegas belajar. Gomawo Sungjongie kau betul-betul sahabatku yang paling baik. Saranghae haha!”

Sungjong mendorong pelan badan Jiae tuk segera masuk ke dalam rumah tanpa menjawab perkataan Jiae tadi.

“apa masih bisa kau menyebut kata tersebut saat mengetahui apa perasaanku yang sebenarnya eoh..”kata Sungjong dalam hati.

 

 

1 minggu kemudian

 

            Akhir pekan kali ini Sungjong dan Jiae menghabiskan waktu bersama seperti janji Jiae minggu lalu. Di pagi hari yang cerah ini mereka melakukan lari pagi bersama di taman dekat tempat tinggal mereka. Saat sedang berjalan tuk mencari tempat beristirahat, tak sengaja mata Jiae melihat seseorang yang sangat dia kenal siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo.

“Jongie-ya disana ada Myungsoo Oppa sedang duduk sendiri. ayo kesana,”ajak Jiae mendesak.

arasso,”pasrah Sungjong.

Kini Jiae dan Sungjong sudah berada di dekat Myungsoo, Jiae langsung memanggilnya lalu menyapa seniornya tersebut.

“Myungsoo Oppa. Annyeong!”kata Jiae.

“Oh Jiae-ya, Sungjong-ah. Annyeong!”sapa balik Myungsoo

Oppa kau sendirian berolahraga disini?”taya Jiae yang kini sudah duduk di samping Myungso dan diikuti oleh Sungjong.

“Hmm ya baru saja aku selesai berolahraga. Kalian menghabiskan akhir pekan bersama eoh?”tanya balik Myungsoo.

“Ne Oppa aku sudah berjanji pada Sungjongie untuk menghabiskan weekend bersamaya,”jawab Jiae.

“Umm aku haus bagaimana kalau aku membelikan minum untuk kita?”kata Sungjong.

“Aku saja yang beli lagi pula aku ingin ke toilet, kalian tunggulah disini aku pergi dulu!”pamit Jiae.

Kini Sungjong dan Myungsoo duduk berdua dalam kesunyian, padahal Sungjong ingin sekali pergi dari dua orang ini dengan membelikan minuman namun apa daya malah Jiae yang memaksa dirinya tuk memeblikan minuman sehingga kini Sungjong pun terjebak dengan Myungsoo berdua dalam ketenangan.

“Sungjong-ah,”panggil Myungsoo.

Ne hyeong. Waeyo?”tanya Sungjong.

“menurutmu apa Jiae juga menyukaiku?”tanya Myungsoo.

Sungjong mengepalkan tangannya, dia sangat panas mendengar pertanyaan itu apalagi Myungsoo yang bertanya.

“Dia.. menyukaimu. Sangat menyukaimu,”kata Sungjong sedikit bergetar.

“Benarkah? Berarti perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan?”

Ne…”

“aku harus meresmikannya!”

Sungjong membulatkan matanya namun apa daya dia tak berhak tuk marah bukankah dia hanya seorang sahabat untuk Jiae apa haknya tuk mengatur siapa yang harus menjadi milik gadis itu bukan?

Ne resmikanlah hyeong, aku menanti kabar bahagia itu,”

Belum sempat Myungsoo menyaut perkataan Sungjong lagi, Jiae kini sudah kembali dengan 3 minuman kaleng dingin di tangannya.

“Ini untuk Myungsoo Oppa, ini untuk Sungjongie dan ini untukku,”kata Jiae.

gomawo..”kata Myungsoo dan Sungjong serentak.

 

 

2 minggu kemudian

 

            Selama 2 minggu ini belum ada tanda-tanda Kim Myungsoo tuk menyatakan perasaannya kepada Jiae dan selama 2 minggu ini juga Sungjong berusaha meyakinkan dirinya tuk menyatakan perasaannya dengan Jiae secara langsung. Maka dari itu Sungjong meminta Jiae tuk menemuinya di cafe Lasuha yang terletak di dekat sekolah mereka. Sudah 1 jam Sungjong menunggu di tempat itu namun belum ada tanda-tanda Jiae akan hadir bahkan ponsel gadis itu juga tak aktif sejak tadi. Awalnya Sungjong ingin meninggalkan tempat ini namun karena kuat tekatnya akhirnya dia pun mengurungkan niatnya. Suara pintu terbuka dari cafe itu membuat Sungjong segera melihat ke arah tersebut dan ternyata Jiae lah yang berkunjung. Sungjong melambaian tangannya tuk memberi kode kepada Jiae tuk berjalan ke arahnya dan setelah Jiae ada di hadapannya dengan senyum yang mengembang Sungjong mempersilakan ia tuk duduk.

“maaf aku telat,”sesal Jiae.

“tidak apa kenapa kau telat bahkan ponselmu kau matikan?”tanya Sungjong.

“aku baru saja bertemu Myungsoo Oppa. Dan kau tahu Jongie-ya kau pasti akan kaget mendengarnya. Aku- sudah-resmi-menjadi pacarnya!!”pekik Jiae tertahan.

DEG!! Sebulir airmata langsung jatuh dari pelupuk mata Sungjong tanpa dia kehendaki. Muka Jiae yang awalnya bahagia itu mendadak bingung saat melihat tetesan airmata Sungjong yang mengalir.

“Kau menangis?”tanya Jiae.

Dengan cepat Sungjong langsung menyeka airmatanya lalu tersenyum kepada Jiae.

“ini air mata kebahagiaan, aku senang kau sudah bersama Myungsoo Hyeong. Dia orang yang tepat untukmu,”kata Sungjong berusaha tegar.

Jiae pun mengembangkan senyumannya kembali setelah mendengar perkataan Sungjong.

“nah Sungjongie bagaimana aku yang mentraktir kau? Bukankah ini hari bahagiaku? Kajja pesanlah makanan nanti aku yang bayar tapi jangan mahal-mahal,”kata Jiae.

Arasso aku akan pesan makanan paling mahal disini,”canda Sungjong.

Ya yang murah ya-ya-ya,”kata Jiae sambil mengeluarkan aegyonya.

“aku hanya bercanda tenang saja kekeke,”kekeh Sungjong.

Mungkin kita tak dapat bersatu sebagai sepasang kekasih. Mungkin perasaanku keliruh kepadamu. Mungkin takdir menentang kita tuk bersatu. Aku tak akan memaksakan kehendakku, perasaanku. Asal kau bahagia bersamanya aku tak mengapa.

 

 

 

END

Advertisements

One thought on “[Vignette] Friendzone

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s