Chasing Love [Chapter 2]

Chasing Love copy

Chasing Love

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Lovelyz’s Lee Mijoo | Infinite’s Nam Woohyun

Infinite’s L | Lovelyz’s Seo Jisoo | etc

PG-15

 

Siapa sangka bahwa kita akan dipertemukan takdir dengan cara seperti ini?

Berterimakasihlah pada takdir yang membuatku bertekat untuk memburu cintamu.

 

 

 

Mobil mewah itu tepat terparkir di dalam bagasi luas rumah Woohyun. Setelah memposisikan mobilnya dengan benar laki-laki itu keluar dari mobilnya dan berlari untuk segera masuk. Saat dia baru saja masuk kedalam Woohyun pun disambut dengan kakaknya yang lari terbirit-birit menghampirinya dengan memakai celemek.

“Hei Woohyun cepat ke belakang bantu aku membalikan dagingnya. Aku mau ke kamar mandi dulu!”titah Jihyun.

Jihyun langsung berbalik badan dan segera pergi ke kamar mandi sementara Wohyun dia langsung berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Aroma daging yang dipanggang begitu khas tercium oleh indra penciumannya. Woohyun tersenyum dan segera menghampiri daging yang menggiurkan itu. Akhirnya alat yang sudah dia beli sejak 3 tahun lalu dapat terpakai juga hari ini karena sebelumnya dia tinggal di apartemen jadinya Woohyun tidak bisa menggunakan alat tersebut untuk memasak BBQ atau bulgogi dengan keluarga atau temannya sehingga laki-laki ini hanya menyimpannya terus menerus di dalam gudang.

“pasti ini enak,”gumam Woohyun.

Seperti kata Jihyun tadi dia harus membalikan daging-daging itu agar tidak gosong. Memasak adalah salah satu hobi laki-laki ini bahkan Woohyun sempat bercita-cita menjadi seorang chef namun orangtuanya mengarahkan Woohyun untuk berbisnis dan bekerja di perusahaan milik pamannya hingga dia sukses seperti sekarang.

“Hei itu sudah matang yang diujung. Letakan di piring sebelum gosong!”kata Jihyun.

“Dasar cerewet,”cibir laki-laki itu sambil meletakan daging yang dimaksud oleh Jihyun.

Setelah semua selesai kini Jihyun menghidangkan daging tersebut di meja yang ada di pinggir kolam berenang. Woohyun yang sudah lapar sejak tadi langsung menyantap daging itu dan tidak lupa melapisi dagingnya dengan selada.

“Kalau aku boleh memberi saran bagaimana jika acara perayaan rumah barumu ini di adakan di halaman saja?”tanya Jihyun.

“Hmm bagus juga. Aku mengadakannya disini dan pintu masuknya dari garasi,” gumam Woohyun.

“Baiklah jadi kapan kau mau mengadakannya? Bajuku sudah sampai. Kau tahu? Itu sangat cantik!!”seru Jihyun.

“mungkin di hari Kamis. Noona apa seorang model bisa menjadi MC?”tanya Woohyun.

“kenapa kau bertanya seperti itu? Itu tergantung modelnya,”jawab Jihyun.

“Dia naungan agensi yang lumayan besar di Korea. apa bisa? Aku ingin menjadikannya dia MC di acaraku itu,”

“Sombong sekali kau karena uangmu banyak,”cibir Jihyun.

“jadi bagaimana apa itu mustahil?”tanya Woohyun lagi.

“kenapa tidak datang ke agensinya dan bertanya?”saran Jihyun.

“ah kau benar juga. Ngomong-ngomong ini enak noona tapi tidak sebanding dengan masakan ibu,”ujar Woohyun.

Jihyun mencibir adiknya dan kembali melanjutkan makannya. Namun tiba-tiba ponsel Jihyun berdering ternyata yang menghubungi adalah tunangannya. Dengan senang hati Jihyun langsung meninggalkan Woohyun sendirian. Woohyun sendiri pun kini berfikir keras untuk mencari cara bagaimana ia mengundang Mijoo menjadi MC di acaranya nanti.

 

 

“kenapa dari semalam kau diam saja?”tanya Jisoo.

Mijoo yang sedang di dandani oleh stylist langsung meminta orang tersebut berhenti sejenak dan meninggalkan mereka berdua terlebih dahulu. Kini hanya ada Mijoo dan Jisoo di dalam ruangan itu. Mijoo melihat Jisoo dengan datar. Ia masih sedikit kesal karena Jisoo tidak menjawab telfonnya kemarin dan hampir membuatnya malu.

“Hei Lee Mijoo kenapa kau begini denganku?”tanya Jisoo heran.

“Kau masih tidak tahu salahmu apa?”cibir Mijoo.

“Sungguh aku tidak tahu apapun. Kenapa? Bisakah kau cerita?”pinta Jisoo.

“ah lupakan saja. Aku juga tidak terima maaf darimu,”kesal Mijoo.

“Hei! Kalau aku ada salah maafkan aku!”ujar Jisoo dengan nada tinggi.

“aku bilang tidak mau ya tidak mau. Kau paham?”kata Mijoo.

“Heol baiklah hari ini aku tidak akan mematuhi perintahmu. Urus saja urusanmu sendiri!”kata Jisoo.

Jisoo dengan perasaan kesal keluar dari ruangan itu. Stylist yang sejak tadi menunggu di depan pintu langsung dia suruh untuk kembali ke dalam sementara Jisoo sendiri memilih untuk menunggu Mijoo di parkiran saja karena ia terlalu kesal dengan gadis itu saat ini.

 

 

Perasaan Woohyun kini sedang kalut karena dia bingung saat ini. Hari ini Woohyun memutuskan untuk pergi ke Woollim Entertaiment agensi yang menaungi Mijoo. Setelah berbicara dengan resepsionis Woohyun disuruh menunggu terlebih dahulu maka dari itu Woohyun memilih untuk duduk di sofa yang telah disediakan.

“Aish yang benar saja masa kau melupakan ponselku. Cepat ambil!”bentak seorang laki-laki.

Woohyun menoleh kesumber suara. Dia menatap seorang laki-laki yang memakai kacamata hitam itu dengan pandangan datar. Tetapi setelah ia menatap laki-laki itu terus menerus ia baru sadar bahwa orang itu adalah Aktor Kim Myungsoo yang kini sedang membintangi drama terhot di hari Rabu dan Kamis. Sadar dilihati oleh Woohyun aktor tersebut langsung menghampiri laki-laki itu dan menegurnya.

“Kenapa melihatku? Kau terperangkap dengan kegantenganku?”tanya Myungsoo.

Mata Woohyun melebar bahkan bola matanya hendak keluar. Dia fikir aku tidak normal, batin Woohyun.

“kau ingin tanda tangan atau foto? Ah mungkin tanda tangan ya untuk kekasihmu sampai-sampai kau menghampiri perusahaan ini? hahaha”tanya Myungsoo dengan tawa lebarnya. “baiklah aku akan memberikannya,”lanjut Myungsoo.

Myungsoo mengambil sebuah kertas yang ada diatas meja dan mengeluarkan pulpennya. Lalu Myungsoo menandatangani kertas itu dan memberikannya pada Myungsoo.

“Ini untuk kekasihmu,”kata Myungsoo.

Dengan penuh keheranan Woohyun terpaksa mengambil kertas itu dan memegangnya. Tidak lama kemudian resepsionis yang tadi dia temui memanggil namanya, “Nam Woohyun-ssi,”. Woohyun langsung berdiri menghampiri resepsionis itu untuk segera menemui presdir dari agensi ini. Myungsoo terkejut saat Woohyun langsung pergi meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan hormat lagi.

“Memangnya siapa laki-laki itu? Ekspresinya datar sekali melihat aktor tampan sepertiku tidak berterimakasih pula,”cibir Myungsoo sambil memperhatikan Woohyun yang terus menjauh dari padangannya.

 

 

Sampai didalam ruangan presdir Woohyun langsung duduk dan disambut oleh Sunggyu. Karena Sunggyu begitu sibuk hari ini maka mereka langsung membicarakan hal yang ingin Woohyun sampaikan tanpa basa-basi.

“Sebenarnya saya ingin meminta Lee Mijoo untuk menjadi MC di acara yang akan saya adakan dirumah,”kata Woohyun.

“Mijoo sedang sibuk jadi tidak bisa untuk melakukan hal itu. Lagi pula dia jarang menjadi MC kecuali itu acara penghargaan,”ujar Sunggyu.

“Presdir Kim saya sangat butuh Mijoo menjadi MC di acara saya. Acaranya hari Kamis. Saya akan membayar 3 kali lipat dari honor Mijoo biasanya,”ucap Woohyun.

“a-apa? 3 kali lipat?”ulang Sunggyu.

“Ya saya akan membayar 3 kali lipat. Jika tetap tidak bisa saya akan bayar berapapun Anda inginkan,”

“Hoho itu hal yang mudah. Baiklah kalau begitu bisa,”

Woohyun tersenyum senang mendengarnya. Ia menahan tangannya yang hendak mengepal ke udara. Akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan Mijoo dengan cara seperti ini.

 

 

“aku mengerti. Baiklah…”

Jisoo menutup telfonnya dan langsung menoleh pada Mijoo yang sedang beristirahat disampingnya. Dia menjelaskan pada Mijoo kalau Presdir menginginkannya menjadi MC untuk diacara Woohyun, “baiklah kalau begitu,”kata Mijoo setelah mendengar penjelasan dari Jisoo. Mijoo memang tergolong orang yang asik diajak bekerjasama. Dia tidak memilih pekerjaan yang dipilihkan oleh Sunggyu karena dia mempercayai atasannya tidak akan memberikan pekerjaan yang macam-macam untuknya.

“ngomong-ngomong aku ada salah apa denganmu sampai kau marah begini?”tanya Jisoo.

“ah sudahlah,”cibir Mijoo.

Mijoo langsung meninggalkan Jisoo sendiri. Melihat punggung gadis itu sudah jauh dari pandangannya Jisoo pun mengeram karena kesal melihat Mijoo yang masih saja mendiaminya.

 

 

Di lain tempat Myungsoo saat ini baru saja menyelesaikan syutingnya. Dia bertanya pada Sungjong –managernya apalagi jadwal yang harus dia selesaikan hari ini. Sungjong langsung mengeluarkan catatannya dan melihat daftar lengkap jadwal Myungsoo yang sudah diatur.

“Tidak ada lagi hyeong. Kau bisa istirahat saat ini,”kata Sungjong setelah mengecek semuanya.

“Kau bilang aku ada jadwal pemotretan untuk majalah bulanan kapan kita akan mulai?”tanya Myungsoo.

“Kita belum dapat panggilan lagi mereka. Kabarnya si mereka belum dapat pasangan hyeong untuk pemotretan itu,”jawab Sungjong.

“Kenapa belum?”tanya Myungsoo heran.

“Entahlah mungkin belum ada yang pas,”balas Sungjong.

“Kenapa tidak menyarankan pada mereka Lee Mijoo saja?”usul Myungsoo.

“Hyeong kenapa kau berfikir seperti itu?”

“Tinggal bilang saja pada presdir. Ayo cepat pulang aku lelah!”

Myungsoo langsung pergi meninggalkan Sungjong sendiri. Karena tidak ingin lalai menjalankan tugasnya Sungjong terburu-buru lagi menyusul Myungsoo.

 

 

Mijoo berbaring di kamarnya sambil mengotak-atik ponselnya yang sejak tadi dia pegang. Entah sudah berapa kali dia melihat ponsel itu namun belum ada panggilan atau sms masuk dari orang yang sudah menolongnya pada malam itu. Dia merasa tidak enak hati karena belum membayar uang ganti kepada Woohyun. Setiap kali memikirkan laki-laki itu Mijoo tersenyum karena tidak menyangka ada laki-laki seperti itu. Seketika ponselnya berbunyi Mijoo yang sibuk menghayal langsung mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya itu.

“Halo Lee Mijoo disini. Dengan siapa saya berbicara?”

“Oh Mijoo-ssi ini aku Nam Woohyun laki-laki yang meminjamkan uang padamu. Apa kita bisa bertemu untuk membicarakan masalah uang itu?”

“Tentu saja bisa. Katakan saja dimana tempatnya aku pasti datang,”

“Bagaimana kalau sekarang di cafe NIT? Aku sedang ada disini. Kau tidak lupa dengan wajahku, kan?”

“Tentu saja tidak aku sangat megingatmu. Baiklah aku akan pergi kesana sekarang juga,”

“Hati-hati dijalan jangan terburu-buru,”

“Hmm baiklah,”

Setelah selesai panggilan Mijoo langsung buru-buru berlari ke ruangan khusus lemarinya. Dia mengambil satu persatu gaun yang ada didalam lemari untuk mencari mana yang cocok untuk dia kenakan saat ini setelah mengacak seluruh isi lemari akhirnya pilihan Mijoo jatuh kepada gaun pendek berwarna merah muda. Dia langsung mengganti pakaian santainya dengan baju itu kemudian Mijoo langsung memoleskan make up untuk membuat penampilannya lebih menarik.

 

 

Taksi yang dikendarai oleh Mijoo berhenti di depan kafe NIT sesuai dengan perkataan Woohyun tadi. Dari luar tampak Woohyun sedang menyeduh kopi penasanannya. Tidak ingin membuat Woohyun menunggu lama Mijoo langsung masuk kedalam kafe itu dan menghampiri ‘pahwalannya’.

“Maaf aku telat Woohyun-ssi,”sesal Mijoo.

“Oh kau sudah datang. Kau tidak telat Mijoo-ssi silakan duduk,”kata Woohyun mempersilahkan.

Woohyun memanggil pelayan untuk membawakan buku menu dan menyuruh Mijoo untuk memesan minuman. Awalnya Mijoo menolak karena dia bisa memesannya sendiri tapi Woohyun terus mendesak dan akhirnya dia memilih pesanannya. Setelah pelayan pergi membuatkan pesanannya kedua orang itu pun lanjut berbincang.

“Ngomong-ngomong berapa uang yang harus aku ganti Woohyun-ssi?”tanya Mijoo di tengah-tengah pembicaraan mereka.

“Kau tidak harus membayarnya,”jawab Woohyun.

“Maksudnya? Bukannya kita bertemu untuk mengembalikan uangmu itu?”heran Mijoo.

“Mengembalikan uang bisa kapan saja,”

Karena tidak mengerti ucapan Woohyun gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk. Untung saja pesanannya tiba di waktu yang tepat jadi Mijoo menghilangkan kekikukannya dengan menyeruput mocha latte-nya yang lezat itu.

 

 

Setelah berbicara selama 1 jam lebih kini Mijoo pamit pulang. Ia langsung keluar dari kafe itu untuk mencari taksi. Selama 10 menit dia berdiri di depan kafe namun tidak ada satupun taksi yang berhenti. Mijoo menghela nafas dengan berat kakinya sudah pegal karena harus berdiri lama memakai sepatu hak tinggi seperti ini.

Tin..tin..

Sebuah mobil yang kini berhenti tepat dihadapannya membunyikan klakson seperti kode untuk Mijoo. Mijoo memperhatikan mobil itu dan tidak lama kemudian si pemilik mobil membuka kaca jendelanya.

“Mijoo-ssi masuklah aku akan mengantarkanmu pulang,”kata Woohyun.

“Haha tidak perlu aku tidak ingin merepotkanmu lagi,”tolak Mijoo.

“Tidak masalah. Ayo masuklah jika aku lebih lama lagi berhenti disini mobilku bisa di gerek,”ucap Woohyun.

Mijoo mengusap tengkuknya dengan bingung. Karena tidak enak Woohyun sudah menawarinya bahkan berhenti dipinggir jalan seperti ini Mijoo memilih masuk untuk masuk kedalam mobil Woohyun, “Tolong tunjukan dimana rumahmu,”kata Woohyun. Gadis itu menganggukan kepalanya dan langsung memasang sabuk pengaman.

 

 

Mobil Woohyun berhenti di depan rumah Mijoo yang sederhana namun asri. Mijoo melepas sabuk pengamannya dan langsung mengucapkan terimakasih pada orang yang baru saja dia kenal itu sebelum masuk keluar dari mobilnya.

“Terimakasih sudah mengantarkanku pulang. Aku merasa banyak merepotkanmu Woohyun-ssi padahal kita baru kenal,”ucap Mijoo tidak enak hati.

“Itu bukan masalah besar untukku. Maaf sudah menganggu waktumu yang berharga,”kata Woohyun.

“Aku sedang tidak bekerja. Sekali lagi terimakasih,”

Ketika Mijoo hendak membuka pintu mobil Woohyun mengatakan sesuatu padanya. Membuat Mijoo mengurungkan niatnya.

“Sampai bertemu di hari Kamis, Mijoo-ssi.”

Mijoo menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu ia pun keluar dari mobil Woohyun. Setelah Mijoo keluar dari mobilnya Woohyun diam-diam tersenyum dan segera meninggalkan perkarangan rumah Mijoo untuk kembali ke kantornya.

 

 

Mijoo baru saja menginjakan kakinya kedalam rumah namun dia dikagetkan oleh Jisoo yang sedang berbaring di sofa ruang tamunya sambil memakan jajanan ringan miliknya yang Mijoo ingat sekali dia simpan itu di dalam kulkas.

“Hei kenapa kau memakan makananku!”oceh Mijoo tidak terima.

“Kau lupa aku bilang apa? Kau harus diet diet dan diet kau tidak boleh makan makanan seperti ini,”kata Jisoo.

“Aish kau ini,”cibir Mijoo.

Model cantik itu menghampiri Jisoo dan hanya bisa menatap sedih bungkusan bekas makanan yang dihabiskan oleh Jisoo.

“Kau habis dari mana?”tanya Jisoo.

“Aku? Habis pergi bertemu seorang teman,”jawab Mijoo.

“Teman? Kau yakin?”tanya Jisoo lagi.

Mijoo tersenyum kikuk dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Jisoo karena dirinya masih belum yakin bahwa Woohyun adalah temannya, “Ya aku bertemu dengan teman. Kenapa memangnya?”

“aku disini untuk menjemputmu. Ada jadwal mendadak,”ujar Mijoo.

“Jadwal mendadak? Memangnya apa?”tanya Mijoo dengan penuh keheranan.

“Pemotretan. Presdir sudah menunggu kau tunggu didepan saja Hyunjuk sedang menuju rumahmu aku mau ke toilet dulu,”balas Jisoo.

Gadis itu langsung menuruti perkataan Jisoo untuk menunggu Hyunjuk, supir yang mengendarai van untuk Mijoo di teras rumahnya.

 

 

Sampai di gedung Woollim Mijoo langsung berjalan masuk kedalam. Di lobi dia berpapasan dengan Myungsoo. Ia pun memberikan hormat pada Myungsoo lalu berjalan kembali namun langkah kakinya terhenti ketika Myungsoo mengeluarkan suaranya.

“Sampai jumpa nanti Mijoo-ya,”kata Myungsoo.

Mijoo membalikan badannya dan menatap Myungsoo penuh tanda tanya. Myungsoo yang tersenyum puas hanya diam dan kembali berjalan tanpa memperdulikan Mijoo yang sedang kebingungan.

“Cepat jalan kenapa kau bengong?”tegur Jisoo.

“eo? Maaf..”sesal Mijoo. Mijoo dan Jisoo pun melanjutkan langkah kaki mereka untuk pergi ke ruangan Sunggyu.

Sampai diruangan presdir kedua gadis itu dipersilakan untuk duduk di sofa ketika Sunggyu mengatakan padanya apa kerjaan dadakan itu. Sunggyu mengatakan bahwa Mijoo akan melakukan pemotretan untuk majalah edisi bulan depan bersama Myungsoo. Mendengar hal itu Mijoo kaget dan mengingat kembali perkataan Myungsoo pada saat mereka berpapasan tadi. Dia mengutuk didalam hatinya karena dia tidak suka jika berada didekat Myungsoo.

“Apa aku harus melakukan itu?”tanya Mijoo pada Sunggyu.

“Tentu saja. Kau pergi segera ke lokasi dan kau Jisoo temani dia,”jawab Sunggyu.

“Sekarang?”tanya Jisoo.

“Ya sekarang! Kapan lagi kalau bukan sekarang,”cibir Sunggyu.

Jisoo memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Sunggyu barusan. Karena tidak ingin kena marah berkelanjutan Jisoo segera berdiri dan mengajak Mijoo untuk bergegas pergi ke lokasi pemotretan.

“Hei cepat! Kim Myungsoo pasti sudah disana jangan biarkan dia menunggu karena kau,”bisik Jisoo.

“Heh..”

Mijoo menghela nafas dengan berat hati dia berdiri untuk segera pergi dari gedung agensinya. Jika dia tahu pekerjaannya akan bersama dengan Myungsoo harusnya dia menolak hal ini sejak awal.

 

 

Setelah bekerja seharian Woohyun kini sampai di rumahnya. Setelah keluar dari mobil Woohyun berjalan santai untuk segera masuk kedalam rumah namun dia dikagetkan dengan Jihyun yang tertidur di teras rumahnya. Woohyun berlari menghampiri Jihyun dan membangunkan kakaknya itu.

Noona bangunlah kenapa kau tidur diluar seperti ini,”tegur Woohyun.

Perlahan mata Jihyun terbuka dan samar-samar dia melihat Woohyun tengah menatapnya dengan bingung.

“Woohyun-ah kenapa tidak ada orang dirumahmu? Kemana pembantumu pergi?”tanya Jihyun dengan suara parau.

“Boyoon ahjumma pulang kampung karena anaknya sakit. Kenapa kau tidak bilang jika ingin kerumah jadinya kan kau menunggu seperti ini,”oceh Woohyun.

“Ponselku mati.. aku sedang berkelahi dengan Sungyeol makanya aku pergi kesini karena aku tahu dia akan menyusulku ke apartemen. Cepat buka pintumu aku lelah,”titah Jihyun.

Setelah masuk kedalam rumah Jihyun langsung berbaring diruang tengah. Woohyun sendiri mengambilkan minuman untuk kakaknya. Setelah selesai membuat sirup dia menghampiri Jihyun yang sedang menonton televisi sambil bersantai.

“Sebenarnya noona ada masalah apa dengan Sungyeol? Apa perlu aku datang untuk menghajarnya?”kata Woohyun. Dia sangat penasaran apa yang terjadi di antara kakak dan temannya itu.

“Dia makan siang dengan wanita lain yang banyak disukai laki-laki di kantornya siapa yang tidak kesal,”dumel Jihyun.

“Kau itu sedang cemburu noona. Itu hal biasa sudahlah jangan dipermasalahkan,”

“Ya aku memang cemburu tapi ini bukan hal sepeleh untuk dilupakan. Kau tidak tahu karena tidak pernah merasakannya,”kesal Jihyun.

Woohyun tertawa keras mendengar perkataan Jihyun. Pernyataan Jihyun itu bukanlah bohong. Memang benar dia tidak pernah merasakan yang namanya cemburu jikapun pernah mungkin sudah lama ketika dia masih siswa SMA yang mengalami cinta monyet. Sejak lulus dari SMA Woohyun tidak pernah menjalini hubungan dengan seorang gadis. Laki-laki ini memilih untuk fokus kuliah lalu mengikuti wajib militer dan barulah dia mencari pekerjaan hingga sukses seperti saat ini.

“ngomong-ngomong aku berhasil mengontrak model untuk dijadikan MC acara rumahku ini,”kata Woohyun.

“Kau bersungguh-sungguh? Siapa yang kau undang?”Tanya Jihyun kaget.

“Lee Mijoo,”jawab Woohyun santai.

“Apa? Kau tidak salah bicara bukan? Lee.. Lee Mijoo? Tidak dapat dipercaya,”ucap Jihyun takjub.

“Hmm awalnya itu tidak bisa cuma saat aku bilang akan menbayar 3 kali lipat dari bayaran kontraknya laki-laki bermata sipit itu langsung setuju,”kata Woohyun sambil membayangkan wajah Sunggyu yang begitu senang, “sepertinya dia mata duitan,”lanjut Woohyun dengan santainya.

“Tsk! Kau benar-benar diluar dugaan.. Bagaimana persiapan pesta? Apa ada yang bisa aku bantu?”Tanya Jihyun.

“Tidak noona. Aku sudah menyerahkan semuanya ke event organization. Kau hanya perlu datang bersama Sungyeol,”

“Aku tidak yakin akan membawa laki-laki genit itu kesini,”

Woohyun tertawa mendengar ucapan Jihyun barusan. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya masih bisa cemburu dengan orang yang berstatus sebagai tunangannya itu. Menurut Woohyun hal ini bukanlah masalah yang besar karena Sungyeol yang dia kenal tidak akan mungkin selingkuh dari kakaknya apalagi setelah dia melihat pengorbanan Sungyeol di masa lalu saat hendak mendekati Jihyun. Dia harus rela berkelahi dengan Woohyun selama 1 bulan lamanya!

“Hm Woohyun-ah ngomong-ngomong apa kau tertarik dengan Lee Mijoo? Kau bahkan belum melihat dia secara nyata mungkin saja dia hanya cantik di pemotretan,”kata Jihyun tiba-tiba.

“Aku juga tidak yakin. Aku sudah bertemu dengannya dan dia jauh lebih cantik dibandingkan noona,”balas Woohyun.

“A-apa? Kau sedang bercanda denganku?”pekik Jihyun.

Woohyun menceritakan secara rinci bagaimana dia dan Mijoo bisa bertemu. Lalu Woohyun juga mengatakan pada Jihyun bahwa tadi dia bertemu dengan Mijoo di sebuah kafe. Dia menceritakan tentang pandangannya terhadap gadis cantik itu bahkan menjelaskannya sambil tersenyum membayangkan Mijoo. Mendengar cerita Woohyun barusan kakak satu-satunya dari laki-laki itu tidak menyangka bahwa takdir bisa begitu. Yang lebih membuatnya tidak percaya ini adalah pertama kalinya dia melihat Woohyun bertindak berlebihan untuk seorang wanita.

“Apa kau Nam Woohyu adikku? Ini bukan kau yang aku kenal,”heran Jihyun sambil menyipitkan matanya menatap Woohyun dengan tatapan seduktif.

“E-entahlah aku juga tidak tahu,”balas Woohyun terbata-bata. Dia bahkan tidak mengerti kenapa bisa bertindak aneh hanya karena gadis yang baru saja dia kenal.

“Tidak mungkin.. apa kau menyukai gadis itu?”tanya Jihyun.

“Suka? Entahlah aku tidak yakin,”bingung Woohyun.

Terdengar helaan nafas dari Jihyun kali ini tatapan matanya begitu serius melihat Woohyun yang ada di dekatnya. Woohyun tahu betul arti tatapan kakaknya itu. Artinya ada sesuatu yang tidak diizinkan oleh Jihyun.

“Sudahlah Woohyun-ah kau tidak bisa bersamanya. Dia orang terkenal lebih baik kau cari gadis biasa saja jika perlu aku yang akan mencarinya untukmu,”ucap Jihyun.

“Kenapa tidak? Kenapa noona melarangku seperti ini biasanya tidak bahkan kau yang menyuruhku untuk segera mencari pasangan hidup?”tanya Woohyun tidak terima.

“Kau bisa menyukainya hanya karena melihat foto apa kau yakin benar tulus menyukai gadis itu?”tanya balik Jihyun.

“Aku tidak bilang kalau aku menyukainya!”jawab Woohyun.

“Melihat dari jawabanmu saja aku sudah tahu kau suka dengan gadis itu. Aku capek berdebat denganmu cukup dengan Sungyeol saja . Aku ingin tidur,”

Jihyun langsung berdiri meninggalkan Woohyun sendiri. Woohyun terdiam kaku mendengar ucapan Jihyun barusan.

 

Gadis itu duduk terdiam di kursi yang di sediakan khusus untuknya karena bosan dengan situasi ini. Di depannya Mijoo dapat lihat kalau Myungsoo sedang menyalami staff yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya untuk pemotretan mereka. Mijoo ingin pulang namun dia harus menunggu Jisoo yang sedang ada urusan mendadak. Tidak tahu pasti kejadiannya apa yang terjadi tapi Jisoo mengatakan adiknya sedang terlibat cekcok dengan temannya maka dari itu dia harus menunggu sampai Jisoo menjemputnya. Karena di tinggal Jisoo gadis itu pun ditangani oleh Sungjong, manager Myungsoo.

“Mijoo-ssi apa yang bisa aku bantu?”tanya Sungjong.

“Tidak ada terimakasih,”jawab Mijoo sopan.

Setelah mendengar ucapan Mijoo dia langsung menghampiri Myungsoo yang sejak tadi masih sibuk menyapa orang-orang. Sungjong membisikan sesuatu ketelinga Myungsoo setelah itu dia langsung menghampiri Mijoo yang tengah menutup matanya.

“Kau lelah?”tanya Myungsoo.

Mijoo membuka matanya. Dia kaget ketika meliat Myungsoo sudah ada di hadapannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu menutup kembali matanya.

“Apa Jisoo masih lama? Kalau begitu lebih baik aku saja yang mengantarmu pulang,”kata Myungsoo menawarkan tumpangan.

“Tidak. Terimakasih kasih banyak sunbae,”tolak Mijoo.

Drrt..drrt…

Ponsel Mijoo yang dia letakan di atas meja berbunyi. Mijoo mengambil ponselnya yang tepat berada diatas meja yang ada disampingnya untuk mengangkat panggilan dia bernafas legah saat melihat layar ponselnya bahwa yang menghubunginya adalah Jisoo.

“Hmm kau dimana?”

“Mijoo-ya maaf.. adikku ada masalah besar bahkan kami harus menyelesaikan masalahnya di kantor polisi. Ini membutuhkan waktu lama. Mijoo-ya maaf.. aku sudah menitipkan kau dengan Sungjong agar diantar pulang,”

“Hei Seo Jisoo kenapa kau lakukan ini padaku!”

“Maaf.. Tolong mengertilah aku saat ini,”

“Ya terserah kau saja,”

Myungsoo yang sejak tadi mendengar percakapan antara Mijoo dan Jisoo diam-diam tersenyum. Ketika Mijoo melihatnya Myungsoo langsung tersenyum santai dan mengajak Mijoo untuk pulang bersama.

“Ayo pulang bersama!”ajak Myungsoo.

“Aku pulang naik taksi saja,”tolak Mijoo.

Mijoo berdiri dan bergegas membereskan barang-barangnya setelah itu dia pergi meninggalkan Myungsoo sendiri.

 

Di luar gedung pemotretan Mijoo berdiri sendiri dan mencari taksi. Namun sejak tadi tidak ada satupun taksi yang lewat. Badannya mengigil karena kedinginan harusnya dia memakai jaket saat ini tapi Mijoo meninggalkan jaketnya di mobil van. Seseorang menepuk pundak Mijoo dari belakang gadis itu menoleh dan tersenyum saat tahu itu adalah Sungjong.

“Sungjong-ssi ada apa?”tanya Mijoo.

“Lebih baik ikut saja kami pulang. Dengar-dengar sulit mencari taksi di daerah sini. Presdir juga menghubungiku agar mengantarkanmu pulang,”jawab Sungjong.

Mijoo berada di pilihan yang sulit. Di tidak mau mengatakan iya kepada Sungjong tapi di satu sisi dia sudah merasa akan mati kedingingan jika terus menunggu taksi di luar seperti ini apalagi Sungjong bilang mencari taksi disini begitu sulit.

“Jadi bagaimana Mijoo-ssi?”tanya Sungjong lagi.

“Baiklah aku akan ikut denganmu,”jawab Mijoo pada akhirnya.

Setelah berada di mobil Sungjong bilang dia ingin mengambil sesuatu yang tertinggal jadi Mijoo berada sendirian di mobil. Sendirian di dalam mobil Mijoo berfikir kenapa Myungsoo tidak pergi menggunakan van kenapa dia malah pergi menggunakan mobil pribadinya. Tiba-tiba saja pintu terbuka Myungsoo langsung duduk di kursi kemudi dan mengumbar senyumnya pada Mijoo.

“Kenapa kau duduk disitu?”tanya Mijoo.

“Aku akan mengantarkanmu pulang,”jawab Myungsoo dengan santai.

Setelah memasang sabuk pengamannya Myungsoo langsung menjalankan kemudi. Mijoo panik karena Myungsoo dengan santainya pergi meninggalkan Sungjong.

Sunbae kenapa kau meninggalkan managermu?!”pekik Mijoo.

“Sudah aku bilang aku akan mengantarkanmu pulang. Dia akan pulang dengan mobil van,”kata Myungsoo.

“Jadi ini sengaja? Sunbae kau keterlaluan!”

“Berhentilah berbicara biarkan aku fokus mengemudi. Bagaimana jika kita kecelakaan dan besok pagi akan ada berita ‘Actor Kim Myungsoo dan Model Lee Mijoo kecelakaan usai berkencan’. Bagaimana menurutmu?”tanya Myungsoo sambil mengeluarkan senyum sinisnya.

Mijoo terdiam mendengar ucapan Myungsoo barusan. Ia hanya bisa meluapan emosinya dengan mengepal erat kedua tangannya. Mijoo menatap keluar jendela karena dia merasa canggung dengan keadaan ini. Berbeda dengan Myungsoo yang sesekali melirik Mijoo dengan penuh senyuman.

“Sudah lama kita tidak berada dalam mobil bersama. Aku benarkan?”ujar Myungsoo.

“Eo…”gumam Mijoo.

“Kau seharusnya tidak bersikap seperti ini padaku. Bukannya aku yang harusnya begitu karena kau sudah menolakku?”tanya Myungsoo.

“Jangan bernostalgia jika masih ingin menceritakan masa lalu lebih baik turunkan aku disini,”jawab Mijoo.

“Tapi ini jalan tol kau tidak bisa berhenti disini,”kata Myungsoo puas.

“Bukan masalah. Siapa orang yang tidak ingin memberikan tumpangan untuk orang sepertiku?”kata Mijoo tidak mau kalah.

“Heol baiklah aku kalah aku akan mengantarkanmu pulang dan tidak akan membicarakan hal itu lagi. Kau puas Lee Mijoo?”

Mijoo menganggukan kepalanya. Dia menutup matanya dengan rapat untuk beristirahat sejenak. Masih ada 30 menit sebelum dia sampai dirumah itu cukup untuknya beristirahat.

 

Hari yang di tunggu-tunggu Woohyun akhirnya tiba. Halaman belakang rumahnya sudah ditata dengan rapi dan cantik untuk mengadakan pesta perayaan rumah barunya. Jihyun juga sudah bersiap-siap untuk acara nanti malam. Jam menunjukan pukul 4 sore berarti masih ada 3 jam waktu tersisa sebelum acara dimulai. Namun jantung Woohyun terus berdetak dengan kencang tanpa dia tahu apa penyebabnya.

“Woohyun-ah ada Sungyeol disini ajaklah dia bicara!”panggil Jihyun.

Woohyun langsung bergegas keluar dan bertemu dengan sahabatnya itu, Lee Sungyeol. Mereka berbincang-bincang bersama namun Jihyun tidak ikut bergabung karena masih marah dengan tunangannya. Tanpa mereka sadari hari sudah mulai malam. Semua pelayan sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu sementara Woohyun menunggu kehadiran Mijoo. Ketika ponselnya berbunyi Woohyun melihat pesan teks yang baru saja dia kirimkan ternyata Mijoo sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Woohyun tersenyum senang mendengarnya. Dia bertekat untuk memberikan kejutan pada Mijoo.

 

Sepanjang jalan menuju rumah kliennya Mijoo terus bertanya pada Jisoo kemana mereka akan pergi dan siapa orang yang menyelenggarakan acaranya. Tetapi Jisoo terus menutup mulutnya karena Sunggyu berpesan padanya agar tidak memberitahu apapun kepada Mijoo. Walaupun bingung Jisoo menuruti perintah Sunggyu.

“Seo Jisoo kemana kita akan pergi? Acara siapa ini harusnya aku menghapal dialog untuk aku berbicara di acara itu,”desak Mijoo.

“Kau berisik sekali aku tidak akan menjawab pertanyaanmu karena aku sendiri tidak tahu,”dusta Jisoo.

Mendengar jawaban Jisoo perempuan itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di rumah besar milik Woohyun. Mijoo takjub melihat rumah besar itu karena dia yakin yang memiliki rumah ini adalah orang yang mapan.

“Ayo cepat masuk kedalam!”ajak Jisoo.

Jam menunjukan pukul setengah 7 malam itu berarti 30 menit lagi acara akan di mulai. Orang-orang sudah ramai berdatangan dan saat mereka melihat Mijoo beberapa gadis fashionita menatap ke arah Mijoo sambil berbisik. Sepertinya mereka tahu bahwa Mijoo adalah model terkenal.

“Jisoo-ya aku mau ke toilet,”bisik Mijoo.

“Kau sudah rapi mau ke toilet? Ya ampun Lee Mijoo!”ujar Jisoo sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku mau ke toilet dulu tunggu disini jangan kemana-mana!”titah Mijoo.

Mijoo berjalan di keramaian mencari untuk mencari toilet. Dia bertanya kepada orang-orang dan mereka mengatakan toilet ada di dalam rumah. Dengan langkah penuh kebingungan Mijoo berjalan masuk kedalam rumah sang pemilik acara namun sampai di dalam dia tidak melihat satupun orang jadi Mijoo pun bingung dimana letak toilet.

 

Woohyun berjalan turun dari tangga dengan santai. Dia merapikan jas tuksedo hitamnya yang sedikit berantakan. Tanpa melihat keadaan sekitar Woohyun berjalan menuju dapur untuk mempercepat rutenya sampai di halaman belakang namun dia tidak sadar bahwa ada gadis yang sedang menatap kearahnya.

“Permisi tuan dimana toilet rumah ini?”tanya gadis yang tidak lain adalah Mijoo.

Woohyun mengerutkan keningnya karena dia merasa familiar dengan suara ini. Perlahan Woohyun melihat wanita yang memanggilnya alangkah kagetnya Woohyun saat tahu itu adalah Mijoo. Lantas Woohyun langsung membalikan badannya agar tidak diketahui oleh Mijoo.

“Tuan dimana letak toiletnya?”tanya Mijoo.

Mijoo menatap laki-laki yang jauh di depannya dengan heran. Kenapa orang itu malah berhenti berjalan dan menghadap kebelakang, batin Mijoo.

“Belok kanan dan paling ujung itu ada toilet,”jawab Woohyun dengan suara yang berbeda.

“Terimakasih banyak!”ucap Mijoo yang langsung buru-buru ke toilet.

Woohyun menghela nafas saat mengetahui Mijoo sudah pergi dari sana. Dia pun kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah kaki terburu-buru agar tidak diketahui oleh Mijoo.

 

Acara di mulai sudah saatnya Mijoo untuk naik ke atas panggung dan disaat itu pula Jisoo baru memberikan teks yang harus di bacakan oleh Mijoo. Karena tidak ada waktu untuk latihan lagi Mijoo langsung naik ke atas panggung dan memasang senyumnya untuk para hadirin.

“Selamat malam semuanya saya, Lee Mijoo, pada malam hari ini akan memandu kalian semua di acara penyambutan rumah baru dari….”

Mijoo melirik teks yang sudah di pegangnya dan membacakan nama orang itu.

“Tuan Nam Woohyun yang akan memberikan sedikit pidato untuk kita semua,”

Semua bertepuk tangan Mijoo sendiri tersenyum manis namun setelah sadar nama yang baru saja di sebutnya senyumnya memudar. Saat dia melihat laki-laki yang sedang naik ke atas panggung Mijoo terkejut dan tanpa sadar hampir terjatuh. Woohyun yang melihat hal itu langsung buru-buru menghampiri Mijoo dan menolongnya. Kini Mijoo berada di dalam dekapan Woohyun.

“Kau baik-baik saja Mijoo-ssi?”tanya Woohyun.

“Eo… aku baik-baik saja,”jawab Mijoo dengan kikuk.

“Kita bertemu lagi,”kata Woohyun sambil tersenyum.

Mijoo tidak bisa bergerak dia merasa sekujur tubuhnya menjadi lumpuh setelah melihat senyum manis Woohyun. Dia bahkan tidak sadar bahwa saat ini berpuluh pasang mata sedang menatap ke arahnya dan Woohyun dengan penuh keheranan.

 

 

 

TBC

Advertisements

3 thoughts on “Chasing Love [Chapter 2]

  1. Pingback: Chapter / Series | Secret Journey

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s