[Oneshoot] Beautiful Goodbye

feyoung2

Title: Beautiful Goodbye || Length: Oneshoot || PG: T || Genre: School Life – Friendship – Hurt
Poster By: Leesinhyo@HSG Thankseu!

Cast’s:

 Yoo Ji Ae
Kim Seok Jin
park Chanyeol

Other’s:
Rose (Oc)
Kwon Mina
Jung Daehyun

Sorry Of Typo’s
Don’t Be Silent!

Disclamer: Fanfic ini murni milik Feyoung♡. Saya hanya meminjam nama, sedangkan cast milik agensi & Orang tua masing – masing.

 

Summary:
“Because it is you, although hurtful me more miss you and I can only see from a distance”

Feyoung♡
-Persent-

-Ji Ae Side-

 

Hujan tiba…
aku hanya sanggup menatap butiran air yang jatuh dibalik jedela.
jujur, aku membutuhkan sosok matahari.
Aku pikir, Hujan datang dan menghapus semua hal yang membebankan pikiranku. Nyatanya, hujan malah menusukku secara perlahan, melemparku dari atas tebing, menjatuhkanku seakan aku adalah sebuah batu yang tidak berguna…

Seharusnya aku lebih berpikir dewasa,
Mungkin suatu hari nanti, kau akan lebih mementingkan orang lain dari pada aku. Pikiranku tidak akan melenceng dari takdir! Aku yakin dengan hal itu!.

.

.

.

Kicauan burung dipagi hari, menyapa diriku yang sedang berjalan menuju sekolah dengan membawa sebuah paying bercorak bunga mawar.
Hari ini gerimis, biasanya aku menggunakan sepeda menuju sekolah, namun karena hari ini hujan, aku putuskan untuk berjalan kaki dengan menikmati hawa dingin dan sesekali mengeratkan coat yang ku gunakan karena badanku terasa kedinginan.

06.55 KST

5 menit lagi. Andai saja aku tidak bergegas menuju sekolah mungkin gerbang bercat hitam dengan tinggi kira – kira 7 sampai 8 meter itu terkunci.

Kau selamat, Yoo Ji Ae –gummanku dalam hati.

 

Ketika aku akan meletakkan patungku didalam loker, Seorang gadis yang dikuncir kuda mendekatiku dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
“Ji Ae-ya!” Gadis itu sedikit berlari, dengan memegang roknya yang terlalu pendek, mungkin.

Dia, Kwon Mina. Temanku wanita satu – satunya disekolah ini.
Bukan!
Aku bukan orang yang sulit bergaul, hanya saja aku kurang suka dengan keramaian, teman yang terlalu banyak, dan pada akhirnya mereka semua meninggalkanku. Ah, aku bosan mengatakan hal itu setiap hari.

guess what! Kenapa aku begitu senang hari ini?”

Mina menyandarkan tubuhnya diloker sebelah milikku. Benar, dia sudah kelewatan bahagia. Wajahnya secerah matahari, senyumnya semanis madu, matanya memancarkan sinar bulan, biar aku tebak…

“Jung daehyun mengajakmu berkencan?”

“Tepat! Hahaha… kau benar, Ji Ae”

Mina –hanya akan segembira ini jika kekasihnya mengajakknya berkencan. Itu sudah lagu lama, dan semua orang pasti bisa menebaknya dengan mudah! Puppy, anjing peliharaan Mina mungkin saja bisa menebaknya.

“Hei! Cukup dengan berita kencanmu. Ayo kita masuk kedalam kelas, jangan sampai Han sonsengnim mendahului kita” Aku dan mina berjalan menuju kelas. Lorong sekolah juga terlihat sedikit sepi, mungkin karena jarang ada siswa yang masuk karena hujan, atau mungkin mereka sudah masuk kedalam kelas masing – masing.

Didalam kelas, biasanya begitu ramai. Namun kali ini banyak bangku yang kosong.
Mungkin mereka malas masuk sekolah –dugaan sementara.

Aku duduk dimeja nomor Dua disebelah mina. Tempat favorit! Alasannya simpel, kenapa aku memilih bangku yang aku duduki sebagai tempat favorit, karena bangku ini memudahkan untuk mencontek ketika Ujian. Simpel bukan?

“Hai Nona Yoo! Boleh meminjam buku catatan matematika?”

Kim Seok Jin, atau lebih akrab dengan panggilan Jin. Dia adalah sahabat lelaki-ku yang pertama.
kami sudah bersahabat sejak taman kanak – kanak, mungkin kira – kira sudah hampir 12 tahun kita berteman. Ya, sosok seperti Jin adalah tipe lelaki yang menyenangkan dan selalu melindungi wanita. Bukankah aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti Jin?

Dulu ketika awal masuk dikelas 3 SHS, Jin menyukai Mina. Jin meminta nomor ponsel mina padaku, bertanya mengenai mina setiap hari, bahkan sampai – sampai bertanya apa saja yang disukai oleh mina. Menurutku Jin dan Mina itu sangat cocok, bahkan aku sempat berencana menjodohkan mereka berdua.
namun setelah Mina tahu bahwa Jin menyukainya, Mina mengatakan padaku bahwa dirinya tidak menyukai Jin, dia hanya ingin berteman saja dengan Jin –tidak lebih.

Seiring waktu berjalan, Mina menemukan sosok yang pas untuk memiliki hatinya. Jung Daehyun, lelaki yang beruntung memiliki hati seorang Kwon Mina.
dan pas diwaktu yang bersamaan, Jin mengatakan bahwa dirinya juga menyukai seseorang –satu kelas dengan ku dan Jin. Menebak – nebak siapa yang disukai oleh Jin dan tak lain adalah Rose gadis cantik namun tidak secantik Mina –menurutku.

Sebenarnya jika aku boleh jujur, aku kurang menyukai Rose.
Rose sepertinya hanya akan baik jika didepanku, namun dia juga akan membicarakan hal yang buruk dibelakangku, aku sudah bisa menghafal gelagatnya yang buruk mengenai diriku. Terkadang Rose juga sering berbisik dengan teman – temannya mengenai diriku dan Mina jika waktu istirahat tiba.

Benar – benar tidak cocok dengan Jin!

.

.

.

 

 

-Author Side-

 

“Aku tidak sengaja mendengar bahwa ayah Ji Ae menikah lagi dan meninggalkan Ji Ae berserta ibunya”

“Jinjja?”

“Aku tidak menyangka bahwa orang tua Ji Ae seperti itu”

“Bukankah itu sudah biasa dikalangan pada PresDir? Mereka selalu memiliki simpanan didalam kantor mereka!”

Beberapa pembicaraan ketika jam istirahat tiba membuat Telinga Ji Ae serasa panas. Dadanya naik turun seperti tidak bisa mengontrol emosinya.
“Ji Ae-ya, kau harus sabar…” hanya itu kata – kata yang bisa dilontarkan oleh Mina. Sedari tadi tangan Ji Ae sudah mengepal, mungkin dalam hitungan detik Ji Ae bisa saja memporak porandakan seluruh isi kelas.

“Mau ikut denganku?” dua orang lelaki mendekati Ji Ae dan Mina. Dengan senyum indah, kedua lelaki itu mengajak Ji Ae dan Mina kesebuah tempat, yang pasti jauh dari Hujatan – hujatan teman Ji Ae.

 

***

“Jika aku sedang ada masalah, aku selalu lari ditempat ini. Mengadu pada tempat ini, dan aku bisa melupakan semua masalahku. Ajaib bukan?” lelaki itu, dengan senyum yang lebar mengandeng tangan Ji Ae menuju sebuah kursi yang terbuat dari kayu.

“kami sering kemari ketika membolos” disusul daehyun dan Mina yang berjalan mendekati Ji Ae. Awalnya Ji Ae masih bingung dengan apa yang dilakukan kedua lelaki ini, mengapa membawa Ji Ae dan Mina ketempat ini? Mengajak membolos pelajaran?

“Ji Ae-ya, kau tidak perlu takut. Kwon mina ada disini!”

“ya, mina benar. Kau tidak perlu takut, Ji Ae”

Mereka terdiam, hanya semilir angin yang terkadang membuat rambut Ji Ae yang tertrai menjadi berterbangan mengikuti arah angin. Mina dan daehyun sudah memejamkan mata, pertanda bahwa mereka sudah masuk kedalam alam bawah sadar mereka.
Ji Ae masih termenung, seakan berat ketika hendak menyusul Mina dan daehyun masuk kedalam mimpi.

“Pejamkan matamu dan nikmati semilir angin. Aku yakin bebanmu akan hilang seketika” lelaki itu –masih dengan senyum lebarnya, park Chanyeol.

Ji Ae pun mengikuti apa yang diakatakan Chanyeol.
Perlahan dia memejamkan matanya dan menikmati angin yang seakan – akan mengangkat semua beban didalam tubuhnya. Dengan sekali tarikkan nafas, Tubuh Ji Ae seakan terbebas dari semua bebannya. Park Chanyeol benar, beban itu serasa lenyap seketika.

“Buka matamu dan anggap semua itu sudah lenyap, kau hanya akan mendengar kata – kata yang baik saja, jangan mendengar apa yang buruk mengenai dirimu karena itu bisa merusak mentalmu”

Objek pertama yang dilihat oleh Ji Ae ketika membuka matanya adalah park Chanyeol dengan senyum khas miliknya. Perlahan bibir Ji Ae terangkat mengukir sebuah senyuman.
Ji Ae harus banyak – banyak berterima kasih pada Chanyeol.

“Yoo Ji Ae. Ikuti saja kata hatimu dan jangan hiraukan perkataan orang lain yang akan menjatuhkanmu. Kau harus hidup jika ingin melakukan sesuatu”  99% perkataan Chanyeol itu ada benarnya. Ji Ae sudah duduk dikelas 3 semester akhir, jika dia terus saja mendengar perkataan yang menjatuhkan mentalnya mungkin prestasi yang selama ini didapatkannya hanya akan lenyap secara perlahan dan akan digantikan dengan sebuah dendam yang berlarut – larut.

“Park chanyeol, terima kasih”

“Untuk?”

“Semuanya, kau memberikan semua yang kau miliki padaku dan aku tidak tahu barus memberikan apa yang aku punya untuk membalas semua jasamu”

“Tidak perlu, aku senang membantuku. Aku harap kau mau menjadi temanku, itu saja”

Setelah itu… Hening.
Tidak ada hal yang akan dikatakan lagi oleh Ji Ae maupun Chanyeol. Mereka seakaan beku didalam suasana awkward ini.

‘Eum…Ji Ae?”

“Ya?”

“Akhir – akhir ini aku melihat Jin selalu bersama dengan Rose, apa mereka mempunyai hubungan khusus?”

Ji Ae terdiam. Dia juga bingung apa yang harus dikatakannya.
Semenjak Jin memutuskan untuk menyukai rose, Jin jarang sekali berkomunikasi dengan Ji Ae. Baik berinteraksi secara langsung maupun di telpon.

“Mungkin….mungkin mereka tengah, berkencan?”

Chanyeol hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya saja, setelah itu dia fokus dengan ponsel miliknya. Chanyeol mengetik beberapa kata ditouchscreen ponselnya kemudian dirinya menyimpan kembali ponselnya didalam blazer yang dipakainya.

“Aku kira Jin akan berkencan denganmu, Ji Ae”

“Tidak! Kami hanya berteman…itu saja”

Ya, teman…
Bukankah Ji Ae dan Jin hanya berteman?
mereka tidak memiliki kometmen apapun 12 tahun terakhir.
Dan Ji Ae hanya menganggap Jin hanya sebatas Kakak-nya saja.

“Apa kau dekat dengan Rose? Mungkin saja Jin mengajakmu dan Rose pergi makan, menonton dibioskop, atau bermain di Lotte word?”

Ji Ae hanya menanggapi perkataan Chanyeol hanya dengan gelengan pelan, seakan ada beban dipikiran Ji Ae mengenai Jin dan Rose.

“Aku terlalu banyak bertanya, maafkan aku”

“Tak apa”

.

.

.

Setelah itu, Jin hanya akan berbicara dengan Ji Ae ketika ingin mencontek sesuatu pada Ji Ae, selain itu tidak pernah. Bahkan Jin Sudah tidak pernah mengirim pesan pada Ji Ae, hanya terkadang Ji Ae mengirim pesan terlebih dulu pada Jin namun dengan kata Jin selalu lama membalas pesan Ji Ae.

Mungkin saja Jin terlalu sibuk dengan Rose sehingga tidak mempunyai waktu untuk Ji Ae.

Bahkan diwaktu ulang tahun Jin pun, Ji Ae hanya seperti orang asing yang tidak diharapkan hadir dipesta perayaan ulang tahunnya.
Awalnya Ji Ae hanya biasa menanggapi hal itu, namun sepertinya Semakin lama Jin melupakan teman kecilnya –Ji Ae.

“Aku tidak menyangka bahwa orang yang sedang berkomitmen dengan orang lain itu sesibuk ini”

Hari ini, Jin dan Ji Ae sepakat akan melakukan kerja kelompok membuat makala mengenai Sejarah. Jin sudah berjanji akan datang kerumah Ji Ae pukul 3 sore, namun sampai pukul 4 Jin tidak kunjung datang.

Ponsel berwarna putih yang sedari tadi ada digengaman Ji Ae pun berdering.
terdapat nama ‘Jin’ dilayar ponsel Ji Ae.

 

From: Jin

‘Ji Ae-ya, maafkan aku.
Aku tidak bisa datang untuk kerja kelompok. Aku sudah berjanji pada Rose akan mengantarkan dia pergi berbelanja, Maafkan aku, Ji Ae’  

To: Jin

‘Gwenchana ^^ mungkin Rose lebih membutuhkanmu. Aku akan mengerjakan sendiri makalanya’ 

Setelah menekan tombol Send Ji Ae pun berbarning diatas ranjangnya. Memejamkan matanya yang sudah terasa panas.

“Aku harap ini yang terakhir, dan besok kau memiliki waktu untuk berbicara”

 

***

 

Masuk didalam kelas, Ji Ae melihat Jin tengah berpegangan tangan dengan Rose dan sesekali tertawa. Sudah lama sekali Ji Ae tidak melihat Jin tertawa sebebas ini, dia seeprti kembali dimasa sekolah dasar, diwaktu Jin hanya mau berteman dengan Ji Ae saja.

Ji Ae mendekati tempat duduk Jin. Dengan sedikit ulasan senyum, Ji Ae mengajak bicara Jin.
“Jin, bisa bicara sebentar?”

Setelah Jin tersadar bahwa Ji Ae sudah tepat dihadapannya. Jin berdiri dan mengikuti kemana Ji Ae melangkahkan kakinya.

“Rose, aku meminjam Jin sebentar ya? Nanti akan aku kembalikan!!”

.

.

.

 

Dan disinilah mereka berdua, Tepat didepan kelas.

“Em… Sepertinya sudah lama sekali kita seperti ini, benarkan, Jin?”
Jin hanya terdiam, dia menatap Ji Ae dengan tatapan aneh, kenapa tiba – tiba saja Ji Ae berbicara seperti itu?

“Mungkin?”

“Jin, aku tidak akan bertele – tele lagi. Selama ini aku menganggapmu sebagai temanku tapi sepertinya sekarang kau menjauh semenjak Rose hadir dalam kehidupanmu. Kau seperti melupakan pertemanan kita 12 tahun belakangan ini, dan aku menyadari hal itu”

Ji Ae melanjutkan lagi perkataannya

“Aku yakin Rose lebih baik dari pada diriku. Persetan dengan semuanya Jin! Aku pikir kau akan selalu ada disampingku ketika aku membutuhkan seseorang yang akan mengulurkan tangannya padaku ketika aku tidak sanggup untuk berdiri lagi, tapi nyatanya kau seakan menjatuhkanku dengan cara mendorongku secara perlahan diatas tebing yang curam. Kau pikir aku ini apa Jin? Mungkin kau sudah bosan memiliki teman sepertiku, aku tak mempermasalhkan hal itu! tapi setidaknya, bisakah kau mengulurkan tanganmu untuk menarikku agar aku tidak terjatuh dari atas tebung yang curam itu?”

Jin terdiam, matanya tak lepas dari tatapan mata sayu Ji Ae.
Seakan kehabisan kata – kata dan hanya mampu diam membeku saja.

“Jin, aku harap setelah ini kita hanya akan menjadi teman satu kelas saja. Jangan lagi mengingat kejadian 12 tahun belakangan, karena mungkin perlahan aku akan menghapusnya dari ingatanku. Dimasa depan nanti, jika kita bertemu anggap saja kita tidak pernah kenal atau anggap saja aku ini hanyalah sebuah bayangan. Aku harap kau baik – baik saja, selamat tinggal, Jin”

Perlahan Ji Ae meninggalkan Jin yang masih mencerna kata – kata yang baru saja dilontarkan Ji Ae. Sekarang mungkin Jin tersadar bahwa tidak seharusnya dirinya lebih mementingkan komitmennya dengan rose yang masih pada tahap awal dan melupakan Ji Ae yang sudah bersamanya selama 12 tahun ini.

 

Flashback

 

Seluruh siswa duduk dibangku masing – masing, termasuk Ji Ae dan Mina.
Teman Rose –Rin- mengatakan bahwa dirinya kehilangan uang 200 Won. Terpaksa seluruh Sonsengnim harus mengeleda seluruh tas milik siswa.

Ketika sampai ditas Ji Ae, sosnsengnim menemukan uang sebesar 200 Won ditempat pensil Ji Ae.
Seluruh siswa menatap Ji Ae, tapi sungguh Ji Ae tidak tahu mengenai hal itu.

“Yoo Ji Ae? Bisa ikut sosnengnim ke ruang guru?” Ji Ae pun hanya terdiam dan masih binggung dengan keadaan yang baru saja dialaminya.
Mencuri uang Rin? Bahkan Ji Ae tidak pernah sekalipun mendekati tas Rin, kemanapun dia selalu bersama dengan Mina, lalu bagaimana bisa Ji Ae dituduh sebagai pelaku pencuri uang Rin?

Sebelum pergi menuju Ruang guru, Ji Ae sekilas menatap Jin yang sama – sama tidak percaya dengan tuduhan tersebut.
Mata Ji Ae seakan berkata ‘Jin, tolong aku!’ namun Jin malah terdiam dan kembali duduk dikursi miliknya.

 

Jadi, apakah kau percaya bahwa aku yang mencuri uang Rin? Kenapa kau tidak membelaku, Jin? Apa kau lebih memilih Kekasihmu dari pada sahabatmu?

 

Flashback end  

 

Semuanya terlambat, karena sebuah penyesalan itu selalu datang diakhir.

Tidak ada yang bisa memutar waktu untuk kembali.

Seharusnya Jin tidak menyia – nyiakan Ji Ae seperti ini.

.

.

.

 

Ji Ae tengah memejamkan matanya ditempat yang pernah ditunjukkan Chanyeol padanya.
Angin sepoi – sepoi meniup rambut Ji Ae yang sengaja diurai.
Semuanya sudah selesai,
masalahnya dengan Jin sudah selesai dan sekarang dirinya tengah mencoba untuk melupakan memorinya 12 tahun yang lalu.

“Hai, mau berteman denganku?”

Suara berat itu seperti suara yang pernah didengar oleh Ji Ae.

“Cepat buka matamu dan lihatlah!”

Ji Ae membuka matanya dan…
Ya, lelaki dengan suara berat dan senyum yang khas itu, Park Chanyeol!

“Nona Yoo kau belum menjawab pertanyaanku! Mau berteman denganku?”

Dan hanya anggukan serta senyum lebar yang diberikan oleh Ji Ae pada Chanyeol.

 

 

FIN

A/N:
My first fanfiction become author here ><
How do? membosankan? atau alur cerita sudah pasaran?
55% alur Cerita ini adalah cerita real saya T_T sedangkan lainnya didapat dari ide teman – teman satu kelas.

Thank’s for Comment
Love you!~

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Beautiful Goodbye

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s