[Oneshoot] Nam Lawyer

Nam Lawyer copy

‘Nam Lawyer’

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Seo Jisoo – Nam Woohyun

etc

Romance – Fluff

PG-17

 Pernah di post di disini dengan cast yang berbeda.

Pada akhirnya cinta itu akan kembali pada kita

 

 

 

 

“Jisoo-ya apa kau mau jadi kekasihku?”tanya Nam Woohyun.

Seo Jisoo, gadis itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum bahagia. Woohyun langsung memeluknya dengan erat. Keduanya saling berpelukan di bawah kemilau bintang.

“Terima kasih kau sudah menerimaku apa adanya,”kata Woohyun setelah melepas pelukannya.

“Sama-sama Woohyun-ah. Aku mencintaimu,”

Laki-laki tersebut memeluk Jisoo kembali dan berbicara dalam hatinya. Beruntungnya dia memiliki seorang Seo Jisoo, gadis sempurna dan desainer muda ternama di Korea. Sementara dirinya hanyalah pengacara publik yang sering kali dipandang sebelah mata akan kemampuannya.

Woohyun dan Jisoo menikmati kencan mereka di waktu senggangnya. Untung saja di hari Minggu ini Woohyun tidak punya jadwal kepengadilan atau pun menangani kasus begitu pula Jisoo. Keduanya menikmati kencan di Lotte World.

“Woohyun-ah aku mau lihat itu,”kata Jisoo sambil menunjuk stan bando.

Woohyun tersenyum dan langsung mengajak Jisoo kesana. Sampai disana Jisoo langsung melihat bando-bando cantik dengan berbagai bentuk. Saat melihat sebuah bando berwarna merah dan berbentuk telinga Micky Mouse dia mengambilnya dan memasangkannya kepada Woohyun bukan dirinya.

Ya kenapa aku yang pakai?”tanya Woohyun bingung.

“Tidak. pakai saja itu cocok untukmu,”

Woohyun hendak melepas bando tersebut namun Jisoo langsung merengut dan menunjukan ekspresi sedihnya. Ekspresi yang membuat Woohyun tidak tahan. Akhirnya Woohyun mengalah dan tetap memakainya. Jisoo tersenyum puas melihatnya.

“kalau begitu aku harus pilihkan satu untukmu,”gumam Woohyun.

Tangan Woohyun terulur kepada sebuah bando yang persis seperti miliknya namun ukurannya terlihat lebih besar dari miliknya. Setelah itu Woohyun memasangkan kepada Jisoo dan tersenyum puas melihat kekasihnya yang begitu imut.

“Kau sangat imut! Kau cocok sekali pakai itu,”puji Woohyun.

“Terimakasih,”sipu Jisoo.

Woohyun mengeluarkan dompetnya dan membayar bando yang mereka kenakan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan kencan mereka.

Tidak terasa hubungan keduanya sudah menginjak bulan ke-4 namun tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang hubungan mereka. Woohyun sedang duduk di depan komputernya dan mengamati beberapa dokumen penting untuk kasus yang dia tangani sekarang ini. tiba-tiba saja seseorang meletakan secangkir kopi di atas meja Woohyun dan laki-laki tersebut langsung tersenyum melihat orang yang memberikannya.

“Terima kasih Na-byeon,”ucap Woohyun.

“sama-sama Nam-byeon,”kata Hyeryung tersenyum.

Woohyun menyeduh kopinya sebelum dingin dan Hyeryung hanya memperhatikan Woohyun. Tiba-tiba seruan seseorang membuat Hyeryung dan Woohyun mengalihkan perhatiannya.

“Woohyun-ssi ada tamu untukmu,”seru Sungjong.

Woohyun berdiri dan terkejut melihat orang yang mengunjunginya. Orang yang sama sekali tidak pernah dia prediksi untuk ke kantornya.

“Jisoo-ya ada apa?”tanya Woohyun langsung menghampiri tamunya, Jisoo.

Jisoo melihat Hyeryung begitu pula Hyeryung namun tidak lama dia mengalihkan pandangannya ke arah Woohyun dan tersenyum kepada kekasihnya.

“Woohyun-ah ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu,”ujar Jisoo.

“Apa itu?”tanya Woohyun sambil tersenyum.

“bisa kita bicarakan di cafe depan kantormu?”tanya Jisoo lagi.

“Ya tentu,”

Jisoo menunggu di depan dan Woohyun terlebih dahulu membereskan mejanya dan juga menyimpan dokumen yang telah dia buat tadi. Hyeryung yang kini duduk di mejanya langsung bertanya pada Woohyun.

“Nam-byeon siapa perempuan itu?”tanya Hyeryung penasaran.

“Dia? Tamuku. Kenapa?”jawab Woohyun.

“Ah.. tidak ada hanya saja aku penasaran hehe,”

“Na-byeon aku pergi sebentar ya,”pamit Woohyun. Hyeryung menganggukan kepalanya dan kembali dengan tugasnya.

Di cafe sebelum berbicara Woohyun dan Jisoo menikmati kue yang mereka pesan terlebih dahulu. Keduanya masih diam tidak ada yang mengeluarkan suara jika tatapan mereka saling bertemu keduanya hanya tersenyum kikuk.

“Jisoo-ya apa yang ingin kau katakan?”tanya Woohyun yang mulai penasaran.

“Ah.. aku ingin memperkenalkanmu dengan sahabatku,”jawab Jisoo.

“mendadak sekali. Kau bilang tidak ada yang boleh tahu hubungan kita?”

“Tidak apa. Hanya saja nanti kami berencana makan malam bersama dan mereka membawa pasangan mereka aku tidak mau seperti kejadian yang lalu,”

“kejadian apa?”

“mereka mencarikan teman kencan untukku dan menyuruhku kencan buta dengan orang tersebut. Huh walaupun semuanya pengusaha kaya dan jendral muda aku tidak tertarik,”

Woohyun tertawa mendengar dumelan pacarnya itu. Menurutnya Jisoo sangatlah menggemaskan jika sudah mengoceh panjang lebar.

“Baiklah aku mau,”kata Woohyun.

Jinjja?”kata Jisoo senang.

Woohyun menganggukan kepala dan memamerkan senyum manisnya, “Terimakasih Woohyun-ah,”

“Sama-sama Seo Jisoo,”

“kalau begitu nanti aku jemput kau.. tapi aku tidak tahu rumahmu,”kata Jisoo pelan namun tetap bisa di dengar Woohyun.

“jemput saja kau di halte bus dekat kantorku,”ujar Woohyun.

“baiklah kalau begitu. Kau harus tampil keren ok?”

Lagi-lagi laki-laki itu menganggukan kepalanya dan dia meneguk white coffee yang dia pesan.

Malam harinya Jisoo dan Woohyun sudah berada di restauran tempat Jisoo memiliki janji bersama teman-temannya. Jisoo melingkarkan tangannya di lengan Woohyun dan bertanya pada pelayan.

“Meja atas pesanan Lee Mijoo? Saya akan antarkan Anda kesana,”ujur pelayan tersebut.

Jisoo tersenyum saat melihat orang-orang yang mereka kenal sudah duduk dan menunggu dirinya, “maaf aku telat,”kata Jisoo saat sudah duduk. Jisoo melihat Woohyun yang masih berdiri lalu dia menyuruh laki-lakinya duduk disampingnya.

“Jisoo-ya siapa dia?”bisik Jiae yang ada disamping Jisoo.

“Pacarku,”celetuk Jisoo dengan tegas.

Mijoo, Sungyeol dan Baro membulatkan matanya mendengar pengakuan Jisoo. Pasalnya mereka tidak tahu bahwa Jisoo memiliki seorang kekasih. Menyukai seseorang yang dia suka saja tidak pernah cerita.

“Siapa namamu?”tanya Baro.

“Nam Woohyun imnida,”kata Woohyun sopan.

“sepertinya aku pernah dengar nama itu,”gumam Sungyeol.

“Apa yang kau bicarakan?”celetuk Mijoo.

“Eh? Bukan apa-apa hehe,”kata Sungyeol.

“Apa pekerjaanmu?”tanya Mijoo tiba-tiba.

Woohyun membulatkan matanya dan melihat ke arah Jisoo. Jisoo menatapnya dengan pandangan katakan saja dan dia pun berbicara.

“Aku seorang pengacara,”kata Woohyun.

Daebak! Apa kau memiliki kantor sendiri? Apa sering menangani kasus-kasus orang ternama?”tanya Jiae.

Woohyun tersenyum tipis, “Tidak, aku menangani kasus orang biasa. Aku hanya pengacara publik,”ucap Woohyun.

Baro dan Sungyeol membulatkan matanya dan Jiae sendiri terdecak kagum kepada Jisoo berbeda dengan Mijoo yang menatap Woohyun dengan tajam.

“apa kau bisa menghidupi Jisoo nanti. Kau hanya seorang pengacara publik, apa bagusnya pengacara publik,”celetuk Mijoo.

Sungyeol yang ada disamping Mijoo langsung mencubit pinggang kekasihnya itu menandakan agar tutup mulut.

“Mijoo-ya tutup mulutmu!”kata Jisoo angkat bicara.

Jisoo menatap Woohyun yang hanya memasang tampang biasa saja. Tidak lama kemudian makanan yang telah dipesan sejak tadi telah tiba dan dihidangkan di hadapan mereka. Ditengah-tengah menyantap makannya tiba-tiba saja Sungyeol menerima telpon dari ayahnya, “aku mengangkat telpon dulu,”pamit Sungyeol.

“Ayah ada apa?”

“Apa kau dirumah?”

“Tidak aku sedang makan malam bersama teman-temanku. kenapa?”

“bilang pada ibumu ayah tidak bisa pulang malam ini,”

“Apa ayah lembur malam ini?

“ada sesuatu terjadi pada atasanku. Bilang pada ibumu ayah menelpon ponselnya tapi tidak tersambung dan telpon rumah tidak ada yang mengangkat,”

“Ok kalau begitu sudah ya,”

Sungyeol kembali ke tempat duduknya Mijoo yang penasaran langsung memburu pertanyaan kepada Sungyeol.

“Siapa yang menghubungi? Apa selingkuhanmu?”tanya Mijoo.

Ya! Ayah yang menelponku jangan berbicara yang tidak-tidak,”dumel Sungyeol sambil melanjutkan makannya.

“Kenapa ayahmu?”tanya Baro.

“Dia ada urusan dengan atasannya,”

“Oh begitu.. harga saham perusahaan Woollim terus naik ya,”celetuk Baro.

“Ya begitulah. Aku penasaran siapa yang akan meneruskan perusahaan atasan ayahku itu,”gumam Sungyeol.

Ya kenapa kalian membicarakan hal begitu dihadapan kami? Mana bisa kami mengerti pembicaraan kalian. Kita ada tamu disini,”kata Jiae sambil melihat Woohyun.

“Jiae benar,”sambung Jisoo.

heol? Maaf akukan hanya penasaran siapa yang akan meneruskan perusaan ternama di Korea ini,”oceh Sungyeol.

“bukan urusanmu siapa dia. Eh tapi anaknya sangat misterius ya tidak pernah diberitahukan kepada publik. Pasti mereka takut anaknya diculik,”kata Jiae.

“Benar..benar!!”celetuk Mijoo.

“Berhentilah bicara!”desis Jisoo.

Woohyun hanya tersenyum tipis mendengar pembicaraan Jisoo dan teman-temannya. Menurutnya Jisoo pasti beruntung memiliki teman seperti mereka yang baik dan juga pengertian walaupun Mijoo memberikan kesan pertama yang buruk untuknya.

“Jisoo kau harus mendapatkan laki-laki seperti itu,”kata Mijoo.

“Lee Mijoo!”kata Jisoo dengan tegas.

Merasa Jisoo sudah mulai kesal Mijoo langsung meminta maaf, “Maaf..maaf..”

Hubungan Jisoo dan Woohyun sekarang mulai berbuka seperti pasangan kencan lainnya, terbuka dan di ketahui oleh teman-teman Jisoo. Walaupun banyak yang memandang rendah Jisoo bersanding dengan Woohyun namun itu tidak membuat semuanya berakhir. Woohyun sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya tiba-tiba saja Hyeryung langsung menghampirinya. Mereka saling menyapa dan berbicara tentang kasus masing-masing.

“Nam-byeon apa kau mau semangka? tadi Lee-byeon membelikan semangka untuk kita,”tawar Hyeryung.

“Ya boleh hari cukup panas mungkin akan segar jika memakan semangka,”jawab Woohyun tersenyum.

Hyeryung membalas senyum Woohyun lalu bangkit dan mengambil semangka yang dimaksud. Setelah itu dia kembali ke meja dan memakan semangka tersebut bersama Woohyun.

“Apa Lee-byeon  sedang ada sidang?”tanya Woohyun.

“Ya dia sedang menangani kasus nenek yang dituduh mencuri sama cucunya sendiri. Aigoo jahatnya orang itu,”kesal Hyeryung.

“Benar tapi kita belum tahu siapa yang benar dan yang salah semoga hakim memberikan keputusan yang benar,”

“aku harap Lee-byeon bisa memenangkan pengadilannya,”gumam Hyeryung.

Hyeryung dan Woohyun sibuk memakan semangkanya namun tiba-tiba saja Hyeryung memukul meja dan melihat Woohyun dengan senyuman aneh.

“Nam-byeon ayo kita main,”usul Hyeryung.

Ye? Main? Main apa?”bingung Woohyun.

“dari semangka ini. siapa yang bisa mendaratkakan biji-biji semangka ini di wajahnya paling banyak itu yang menang,”kata Hyeryung.

“Lalu yang menang apa hadiahnya?”tanya Woohyun antusias.

“bagaimana kalau mentraktir makan ayam dan minum bir? Ada kedai yang baru buka di ujung jalan sana,”jawab Hyeryung.

“Baiklah..”

Keduanya sibuk memakan semangka dan meninggalkan bijinya di dalam mulut mereka setelah itu mereka meniupnya dan berusaha membuat semangka itu lengket di wajah masing-masing. Setelah selesai mereka menghitung berapa yang melekat hasilnya Ara menempelkan 5 biji sementara Myungso hanya 3.

“Kau menang Na-byeon. Selamat,”kata Woohyun.

“Terimakasih aku menunggu traktiranmu,”ucap Hyeryung.

Woohyun membersihkan biji-biji semangka itu dari mukanya begitu pula Hyeryung namun karena tidak melihat cermin Hyeryung tidak mengetahui kalau ada satu biji yang masih tertempel di pipinya.

“Maaf masih ada satu yang tinggal,”kata Woohyun.

“Mana?”tanya Hyeryung berusaha mengusap pipinya.

“Permisi..”

Woohyun mengulurkan tangannya ke pipi Hyeryung dan mengambil biji semangka yang dia maksud.

BUG!!

Woohyun meringis kesakitan saat sebuah high heels mengenai wajahnya. Dia dan Hyeryung melihat ke arah pintu seorang gadis tampak menatap tajam Woohyun dan Hyeryung dengan mata berkaca-kaca.

“Ji..Jisoo-ya aku bisa jelaskan!”kata Woohyun.

“A..ada apa?”bingung Hyeryung.

Jisoo langsung keluar dari ruangan Woohyun dengan tergesah-gesah. Woohyun yang melihatnya langsung mengambil sepatu Jisoo yang jatuh dan mengejarnya.

“Apa itu kekasihnya? Heh pasti dia salah paham,”gumam Hyeryung merasa bersalah.

“Jisoo-ya! Jisoo-ya!”teriak Woohyun.

Semua orang yang ada dijalan memperhatikan sepasang kekasih yang berlari di keramaian tersebut. Beberapa orang mengira jika sekarang sedang ada syuting drama Korea. Akhirnya setelah berusaha mengejarnya Woohyun dapat menghentikan Jisoo.

“Kau salah paham.. aku hanya membersihkan—“

“Sudahlah aku sudah menelponmu untuk makan siang tapi kau tidak mengangkat telponku,”pekik Jisoo.

“A..aku tidak tahu aku men-silent-kan ponselku. Jisoo.. jangan salah paham,”kata Woohyun.

“aku tidak peduli yang ku lihat kau bermesraan dengan rekan kerjamu! Kau menggelikan!”

“Apa yang kau lihat belum tentu benar. Jangan marah padaku,”

“Aku membencimu!”

“Jisoo!”

Jisoo langsung berlari lagi namun dengan cepat Woohyun menyusulnya, “Setidaknya kau tidak meninggalkan sepatumu. Kau bisa terluka,”lirih Woohyun.

Woohyun berjongkok dan memasangkan sepatu itu kepada Jisoo setelahnya bukannya mengucapkan terimakasih Jisoo langsung menyelonong pergi dan tidak menatap Woohyun sama sekali.

“Apa yang harus aku lakukan?”dumel Woohyun pada dirinya sendiri.

Woohyun balik ke kantornya dengan lesu dan peluh yang bercucuran di dahinya. Hyeryung yang sedang duduk dengan Sungjong –yang baru saja pulang dari pengadilan—langsung berdiri dan bertanya pada rekannya itu.

“Bagaimana? Apa dia marah denganmu Nam-byeon? Dia pacarmu, benarkan?”kata Hyeryung memburu Woohyun dengan pertanyaannya.

“tidak apa Na-byeon. Jangan khawatir,”

“Jongsonghamnida,”sesal Hyeryung.

Woohyun menepuk pundak Hyeryung dan berusaha tersenyum, “tenang saja bukan kau yang salah. Oh ya kalian sudah makan siang? Bagaimana kita makan diluar?”ajak Woohyun.

Hyeryung melihat ke arah Sungjong dan yang dilihat menganggukan kepalanya setuju dan kini mereka berjalan  ke sebuah restauran dengan mobil Sungjong.

“Hikshiks.. Apa yang harus aku lakukan Mijoo-ya?,”isak Jisoo.

“salahmu sendiri kenapa berhubungan dengannya. Sudahlah aku bisa carikan laki-laki lain lebih dari dia. Apa kau mau dengan Kim Myungsoo sepupuku? Atau juara kelas di SMA dulu Lee Daeyeol? Atau kau mau dengan Lee Howon sunbaenim?”tanya Mijoo.

“Aku tidak mau! Aku tidak mau mereka huaaa. Woohyun hikshiks,”isak Jisoo.

Mijoo langsung berdiri dari mejanya dan duduk disebelah Jisoo. Dia menepuk pelan punggung sahabatnya itu agar berhenti menangis.

“kau salah memanggilku harusnya kau datang ke Jiae yang mengerti masalah patah hati,”ujar Mijoo namun diabaikan Jisoo.

Setelah 30 menit menangis akhirnya perasaan Jisoo sudah kembali normal. Dia mengusap airmatanya dengan tisu dan mengajak Mijoo untuk pulang. Mijoo mengiyakan permintaan Jisoo dan kini mereka sudah beranjak dari meja. Saat hendak membuka pintu keluar mata Jisoo dikagetkan dengan Woohyun dan juga Hyeryung yang hendak masuk ke dalam restauran.

Ya! mati kau Woohyun!”pekik Jisoo.

Jisoo mendorong Woohyun keluar dari restauran agar tidak membuat keributan di dalamnya. Diluar dia memukul Woohyun dengan tasnya dan sesekali menjambak rambut Woohyun.

“Aaaa.. y-ya Jisoo-ya sakit.. le-pas-kan,”kata Woohyun bersusah payah.

Hyeryung yang melihatnya hanya bisa diam sambil menutup mulutnya yang berbuka lebar begitu pula Mijoo tapi dia menatap mereka penuh dengan pandangan datar. Sungjong datang setelah memarkirkan mobilnya dan berdiri di samping Hyeryung.

“Ns-byeon a..ada apa?”tanya Sungjong heran.

“Aku tidak tahu. Bagaimana ini?”bingung Hyeryung.

“Is dia pantas mendapatkannya,”desis Mijoo.

“nona tolong Nam-byeon bisa terluka jika dibiarkan,”panik Hyeryung.

“Heh baiklah..baiklah akan aku lerai mereka,”

Mijoo akhirnya berhasil memisahkan sepasang kekasih itu. Dengan penampilan yang kacau itu Woohyun berusaha menjelaskan kepada Jisoo namun belum lagi membuka mulut.. AU!! Jisoo menendang tulang kering Woohyun.

“Laki-laki jahat! Mijoo-ya ayo pulang hikshiks,”ajak Jisoo.

Jisoo berjalan duluan ke parkiran mobilnya sementara Mijoo menatap garang Woohyun dan BUG!! Dia memberikan sebuah tinjuan kepada Woohyun di pipinya. Orang-orang yang berhenti untuk melihat pertikaian itu bergedik ngeri begitu pula Sungjong dan Hyeryung yang sejak tadi diam ditempat. Setelah Mijoo pergi Hyeryung dan Sungjong menghampiri Woohyun.

“Nam-byeon apa itu sangat sakit? Kita ke rumah sakit bagaimana?”tanya Sungjong.

“Tidak apa Lee-byeon. A-ayo kita makan,”kata Woohyun.

“Pasti dia salah paham. Maafkan aku Nam-byeon,”sesal Hyeryung.

“Bukan salahmu. Ayo,”kata Woohyun berusaha tersenyum.

Di dalam restauran sembari menunggu pesanan datang Sungjong pergi membelikan obat untuk mengobati luka yang di dapatkan oleh Woohyun. selagi menunggu Sungjong kembali Hyeryung mengajak Woohyun untuk berbicara.

“Aku menyesal. Apa perlu aku pergi untuk menjelaskan kepada pacarmu?”kata Hyeryung.

“Hyeryung-ssi tidak perlu, aku tidak mau kau di terkam oleh Jisoo,”tolak Woohyun.

“Tapi dia sudah dua kali salah paham padamu..”

“Hyeryung –ssi sebagai teman aku melarangmu. Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini sendiri. Jangan khawatir sebentar lagi dia tidak akan marah padaku, aku yakin,”

Hyeryung hanya diam karena tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi. Sungjong akhirnya kembali dengan bungkusan dari apotek. Di keluarkan obat yang dia beli dan membantu Woohyun untuk mengobati lukanya.

Aigoo apa dia cemburu dengan Na-byeon? Kau beruntung Nam-byeon memiliki pacar yang benar-benar sayang denganmu. Kalau dia tidak marah berarti dia tidak memiliki perasaan padamukan?”oceh Sungjong.

“Kau benar. Terimakasih Lee-byeon,”ujar Woohyun.

Saat malam hari Woohyun duduk diam di kasurnya sambil mengolesi obat untuk meredakan rasa sakit di kakinya dan juga pipinya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan tercantum ‘ayah’ disana. Woohyun langsung mengangkatnya.

“Ayah ada apa menelfonku?”

“Woohyun kau dimana?”

“Di rumahku. Ada apa?”

“Cepat kembali ke rumah aku ingin membicarakan sesuatu,”

Ye? A..apa? kenapa mendadak?”

“cepatlah sebelum aku kehabisan waktu,”

“Haha jangan bercanda ayah!”

“Aku tidak bercanda cepat kemari!”

Saat hendak menjawab dari sebrang sana panggilan sudah diputuskan. Woohyun mengerutkan keningnya heran dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya.

“Shireo!”pekik Woohyun.

“kenapa kau menolak permintaanku? Woohyun umurku sudah tidak panjang lagi. Sebentar lagi aku mati bahkan bisa saja aku mati secara mendadak,”kata Nam Hyun Soo, ayah Woohyun.

“Ayah.. aku tidak bisa,”rengek Woohyun.

“Woohyun-ah turuti apa kata ayahmu,”kata ibu Woohyun, Jiwoo.

“Ibu aku sudah suka kehidupanku yang sekarang. Jangan kacaukan hidupku!”

“Aaargg…”

Woohyun dan Jiwoo melihat Hyunsoo yang mengerang kesakitan. Woohyun langsung memegang tangan ayahnya sementara Jiwoo langsung menghubungi dokter.

“Sakit…”lirih Hyunsoo.

“Ayah aku akan menuruti permintaanmu.. Jangan sakit aku mohon,”kata Woohyun dengan tangisannya.

yeobo bertahanlah,”kata Jiwoo gemetaran.

Sudah 1 minggu Woohyun dan Jisoo tidak berhubungan dan setelah memikirkan matang-matang Woohyun pun akhirnya memilih untuk menghubungi Jisoo dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Untung saja Jisoo menyanggupinya dan mau bertemu dengan Woohyun.

“Jisoo.. kau masih marah padaku?”tanya Woohyun sambil menatap Jisoo yang ada di hadapannya.

“A..aku tidak bisa marah lama-lama padamu,”lirih Jisoo yang dapat didengar Woohyun.

Woohyun tersenyum tipis dan menikmati hidangannya begitu pula Jisoo. Makan malam pun akhirnya berakhir Woohyun mengajak Jisoo untuk pergi ke bukit dimana dia menyatakan cintanya kepada Jisoo. Saat di parkiran mobil Woohyun membukakan pintu mobil untuk Jisoo setelah itu dia berlari menuju kemudinya. Jisoo melihat-lihat mobil mewah yang dibawa Woohyun setahunya kekasihnya itu tidak memiliki kendaraan pribadi dan memilih untuk memakai kendaraan umum jika berkerja atau kemanapun.

“Woohyun-ah aku lupa bertanya. ini mobil siapa?”tanya Jisoo.

ye? Ini mobil.. sungjong. Aku meminjam mobilnya,”jawab Woohyun.

“Sungjong? Pengacara juga?”Ucap Jisoo.

“Ya kenapa?”balas Woohyun.

“Bukan apa-apa..”gumam Jisoo.

“bintangnya lebih banyak dari 4 bulan yang lalu. Benarkan?”ucap Jisoo sambil merangkul Woohyun.

“kau benar,”kata Woohyun mencium pucuk kepala Jisoo.

“Woohyun-ah aku merindukanmu. Maaf aku kasar padamu kemarin,”sesal Jisoo.

“Haha sudahlah jangan dipermasalahkan,”ujar Woohyun.

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan mereka masih tetap berada di tempat itu. Woohyun yang sebenarnya ingin berbicara sesuatu kepada Jisoo pun akhirnya memberanikan diri untuk buka mulut.

“Jisoo-ya ada yang ingin aku bicarakan padamu,”kata Woohyun serius.

Jisoo melihat ke arah Woohyun, tepat melihat kedua bola mata Woohyun yang begitu indah itu. Perlahan Woohyun menghembuskan nafasnya setelah itu dia berdehem dan akhirnya mengeluarkan suaranya.

“Maaf..”kata Woohyun dengan nada menyesal.

“maaf? Apa? Aku sudah memaafkanmu lagi. Aku tidak marah lagi denganmu, tenang saja,”kata Jisoo bingung.

“Bukan untuk itu..”kata Woohyun.

“Lalu apa?”

“kita akhiri sampai disini saja,”

DEG!! Bagaikan petir disiang bolong Jisoo kaget bukan main mendengarnya. Ini bukanlah april mop kenapa Woohyun mengeluarkan candaan aneh dari mulutnya?

“kau tidak bisa bercanda Woohyun. ini tidak lucu,”kata Jisoo dengan nada tinggi.

“Tidak.. ini sungguhan. Maaf Jisoo-ya,”

Lemas. Badan Jisoo sungguh lemas. Woohyun tanpa melihat Jisoo langsung pergi meninggalkannya sendiri.

Ya!”teriak Jisoo namun diabaikan oleh Woohyun. Jisoo langsung jatuh ke tanah dan meracau tak jelas, “Bagaimana ini? Dasar Nam Woohyun sialan”teriak Jisoo.

Sudah satu bulan hubungan keduanya kandas dan itu semua memuat Jisoo berubah 180 derajat. Biasanya Jisoo akan banyak bicara namun tidak untuk sekarang. Sepulang dari butiknya Jisoo langsung mengurung diri di dalam kamarnya dan keluar hanya untuk makan malam. Mijoo dan Jiae menjadi heran sendiri dengan tingkah Jisoo karena dia sendiri tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada mereka.

“Jisoo-ya bagaimana besok kita jalan-jalan? Kau ajak Woohyun,”kata Jiae.

“Jangan ajak Woohyun carikan aku pasangan kencan,”ucap Jisoo.

Mijoo membulatkan mulutnya dan menatap Jisoo tidak percaya, “kau.. sudah putus dengan pengacara itu?”

Jisoo hanya menganggukan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya dan air mata yang dia tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga.

“Hikshiks..”Isak Jisoo.

“Jisoo-ya tenanglah. Mungkin dia bukan yang terbaik untukmu,”kata Jiae.

“Sudah ku bilangkan. eish laki-laki jahat,”kesal Mijoo.

“Tenanglah kami akan carikan laki-laki yang baik untukmu, ya..”ucap Jiae.

“Hikshiks..”

Keesokan harinya Jisoo duduk berhadapan dengan kedua pasangan mesra di hadapannya. Ada perasaan iri dibenaknya. Tidak lama kemudian orang yang mereka tunggu tiba. Seorang laki-laki bermuka imut dan bermata sipit seperti marmut menghampiri meja mereka dan duduk di samping Jisoo.

“Maaf membuatmu menunggu,”sesal laki-laki itu.

Jisoo menatap laki-laki yang ada di sampingnya, tidak buruk pikirnya. Begitu pula laki-laki yang ada di sampingnya itu ia tersenyum kepada Jisoo.

“Kau pasangan kencanku ya? Kenalkan aku Kim Sunggyu,”kata Sunggyu sambil mengulurkan tangannya.

Jisoo menerima uluran tangan itu dan tersenyum kepada Sunggyu, “Seo Jisoo imnida,”

Woohyun menatap ibunya dengan pandangan kesal. Bagaimana tidak sampai sekarang tidak ada juga kabar yang akan disampaikan oleh ayahnya itu dengan jelas.

“ibu ini sudah 1 bulan kenapa tidak ada kabar? Atau jangan-jangan kalian membohongiku ya?”tanya Woohyun penuh selidik.

“Tidak.. Ayahmu belum memberitahu kepada ibu bagaimana perkembangannya. Yang sabar,”kata Jiwoo.

“Apa kalian tahu aku mengorbankan sesuatu yang berharga untuk menuruti permintaan kalian? Aku kehilangan cinta pertamaku ibu,”lirih Woohyun.

“Maaf Hyun-ah. Ayahmu hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Ibu dan ayah minta maaf”sesal Jiwoo.

Woohyun mendesah pelan di tatapnya nanar lukisan sepasang kekasih yang ada di depannya. Dia merindukan mantan kekasihnya itu. Sangat merindukannya tapi amat di sesali dia tidak bisa bersamanya kembali.

Kehidupan Jisoo kini berubah lagi namun bukan berubah seperti semula melainkan dia sering pergi sepulang kerja. Dia pergi bersama laki-laki yang berbeda tiap harinya, pasangan kencannya. Sampai suatu saat tuan Seo yang geram melihatnya pun memanggil Jisoo ke ruangannya.

“Siapa kekasihmu sebenarnya? Kenapa kau selalu bergonta-ganti pasangan? Apa yang orang lain akan pikirkan tentangmu! Kau seorang desainer muda ternama dan anak dari seorang Seo Sang Won!”bentak Sang Won.

“Aku tahu itu..”jawab Jisoo singkat.

“Tidak ada pilihan lain,”kata Sangwon.

“Maksud ayah?”tanya Jisoo bingung.

“Aku akan menjodohkanmu!”jawab Sangwon tegas.

“Oh begitu. Terserah saja!”ucap Jisoo cuek dan langsung keluar dari ruangan Sangwon.

Di dalam ruanganya Sangwon hanya heran melihat reaksi Jisoo tidak seperti yang dia bayangkan tapi bukankah itu suatu keuntungan sendiri untuknya untuk tidak memakai cara keras kepada anaknya. Sangwon meraih gagang telpon yang ada di mejanya dan menghubungi seseorang.

“Saya sudah memutuskannya. Saya terima permintaan Anda,”

“Kau yakin? Kalau begitu kita adakan pertemuan sesegera mungkin,”

“Baiklah kapanpun saya bisa,”

“Saya akan memberitahu waktu pertemuan kita dan tempatnya. Sampai bertemu Sangwon-ssi,”

“Ya saya mengerti,”

Jisoo baru saja keluar dari restauran tempat dia makan siang dan restauran itu tepat di depan kantor Woohyun. Jisoo melangkahkan kakinya menyebrangi jalan entah apa yang membuatnya pergi kesana. Sampai di depan kantor Woohyun tidak ada yang dia lakukan, dia hanya berdiri di depannya. Tiba-tiba saja suara seseorang membuat Jisoo memalingkan hadapannya ke sebelah kanannya. Dia melihat Hyeryung, Sungjong dan seseorang yang asing baginya.

“Jisoo-ssi ada apa kemari? Nam-byeon.. ah bukan Woohyun-ssi kan sudah tidak bekerja disini lagi,”terang Hyeryung.

Ye?”bingung Jisoo.

“Begini… apa hubungan kalian sudah berakhir? Woohyun resign menjadi pengacara publik karena urusan pribadi sejak 1 bulan yang lalu dan Dongwoo yang menggantikannya baru-baru ini. Apa kau tahu kenapa?”tanya Hyeryung.

“tidak.. aku tidak tahu,”jawab Jisoo sambil menggelengkan kepalanya, “kalau begitu aku pamit dulu. Permisi,”sambungnya.

Jisoo langsung pergi meninggalkan Hyeryung dengan tergesah-gesah. Laki-laki itu kemana dia sekarang, batin Jisoo. Jisoo pernah iseng untuk menghubunginya melalui telpon umum namun nomornya tidak aktif dan kini dia mendapatkan kabar bahwa Woohyun sudah berhenti menjadi pengacara publik. Kenapa??

“sepertinya hubungan mereka sudah berakhir,”gumam Sungjong.

“apa karena masalah itu? ah Lee-byeon aku sungguh menyesal,”desah Hyeryung.

“Bukan Na-byeon kaukan sudah dengar sendiri dari Woohyun bahwa dia dan Jisoo sudah berbaikan waktu itu.”

Ara menganggukan kepalanya. Dongwoo yang sedari tadi bingung hanya diam dan mendengarkan perbincangan kedua rekannya.

Hari H sudah tiba. Keluarga Seo turun dari mobilnya dan masuk ke restauran mewah sesuai dengan yang diberitahukan oleh orang itu. Sangwon bertanya kepada pelayan dimana meja yang dimaksud dan pelayan mengantarkan mereka ke ruangan VVIP yang telah di pesan.

“Apa dia kaya? Apa dia sudah tua? Apa dia laki-laki tidak berpendidikan?”cerocos Jisoo.

“Seo Jisoo!”desis Sangwon.

“heol…”cibir Jisoo.

“Dia penerus perusahaan Woollim,”kata Sangwon tiba-tiba.

Ye?”kaget Jisoo.

Jisoo memasang tampang terkejut. Sangwon membuka pintu ruangan itu dan mereka dapat melihat sepasang suami istri berdiri menyambut mereka. Jisoo memberikan hormat kepada calon mertuanya dan setelah itu mereka duduk.

“Dimana anakmu?”tanya Sangwon.

“Dia sedang ke toilet,”jawabnya.

Baru beberapa menit dibicarakan suara pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki berpakaian formal menghampiri meja tersebut. Sebelum duduk laki-laki itu memberikan sapaan untuk calon mertuanya.

“Perkenalkan nama saya Nam Woohyun,”kata Woohyun sambil membungkukan badannya 90 derajat.

Mendengar nama dan suara yang tidak asing itu Jisoo langsung melihat Woohyun dari yang semula mengabaikannya, “Kau!”pekik Jisoo. Woohyun membulatkan matanya dan menatap Jisoo tidak percaya lalu dia mundur satu langkah kebelakang.

“A..ada apa yeobo?”bingung Jiwoo.

Jisoo mengambil tasnya di atas meja dan berjalan menghampiri Woohyun. BRUG! BRUG! Jisoo memukul Woohyun dengan tasnya dan Woohyun pun berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Para orangtua menjadi syok dan langsung berdiri untuk melerai mereka. Setelah bersusah payah memisahkan Jisoo untuk berhenti menghajar Woohyun akhirnya mereka berhasil juga.

“Seo Jisoo kau mau membuatku malu eoh!”bentak Sangwon.

“Kenapa laki-laki itu ada disini,”kesal Jisoo.

“Jisoo-ya..”panggil Woohyun.

“Apa apa?”ketus Jisoo.

“Du..duduklah dulu akan ku jelaskan,”ujar Woohyun.

“Sudah meninggalkanku malam-malam beraninya kau menunjukan mukamu,”geram Jisoo.

Jisoo membulatkan matanya mendengarkan penjelasan yang ada di depannya. Sungguh dia tidak bisa dia bayangkan bahwa selama ini Woohyun adalah penerus perusahaan Woollim yang selalu dibicarakan orang-orang. Dan juga semua alasan kenapa dia berpisah dengan Woohyun tidak lain adalah karena Hyunsoo menginginkan Woohyun untuk menggantikan posisinya diperusahaan dan meresmikannya tepat saat hari pernikahan Woohyun akan di umumkan.

Heh maldo andwae!”kata Jisoo dengan frustasi.

“Maaf Jisoo-ssi membuatmu kesal kepada Woohyun tapi takdir membuat kalian bersatu lagikan?”kata Hyunsoo.

Jisoo hanya menganggukan kepalanya. Jujur dibalik perasaan kesalnya kepada Woohyun kini dia juga sedang berbahagia didalam hatinya. Dia bisa kembali kepada Woohyun.

Ballroom sebuah hotel menjadi sangat ramai dan di dekorasi dengan megah karena akan terlaksa sebuah acara disana. Jisoo mengundang Mijoo, Jiae, Baro dan tentunya Sungyeol untuk hadir.

“kenapa Jisoo menyuruh kita ke pesta perusahaan? Tumben sekali biasanya dia tidak mau dan kini kita diundang,”oceh Mijoo.

“kau benar!”celetuk Jiae.

“Aku sering ke acara beginian. Kata ayahku perusaahan ayah Jisoo dan Woollim Company akan mengadakan merger,”

Ji..jinjja?”tanya Mijoo.

Sungyeol menganggukan kepalanya dan mereka –kecuali Sungyeol— berdecak kagum mendegarnya.

“Ya apa ada kemungkinan pewaris Woollim akan hadir dalam pesta ini?”tanya Baro.

“Sepertinya. Soalnya tumben sekali acaranya semewah ini,”jawab Sungyeol.

Baro, Jiae dan Mijoo berdecak kagum mendengarnya berbeda dengan ekspresi Sungyeol yang datar karena dia tahu tentang semuanya.

“ngomong-ngomong dimana Jisoo dia mengundang kita tapi dia tidak menampakan batang hidungnya?”tanya Jiae

Molla..”jawab Mijoo.

Di tengah-tengah acara tiba-tiba saja Hyunsoo mengambil ahli pembicaraan dan berdiri di atas panggung bersama dengan sangwon. Saat Hyunsoo berkata memulai omongannya semua tamu termasuk dua pasang kekasih itu memperhatikan mereka.

“Baiklah sebenarnya tujuan utama yang ingin saya umumkan disini adalah saya akan mengundurkan diri saya dari posisi ini,”

Semua orang berbisik-bisik dan terkejut mendengarnya, “dan saya akan mengumumkan pewaris saya. Berikan tepuk tangan kalian untuk pewaris grup Woollim, Nam Woohyun!”

Prok..prok…prok.. tepuk tangan bergema dan naiklah Woohyun ke atas panggung. Mijoo, Jiae, Baro dan juga Sungyeol menjadi kaget saat melihat orang yang tidak asing lagi untuk mereka, mantan kekasih Jisoo–seperti yang mereka ketahui.

“S..Sungyeol-ya apa kau tahu tentang ini semua?”tanya Baro.

“Tidak, aku sungguh kaget. Ah aku ingat! Pantas saja nama Nam Woohyun tidak asing ditelingaku, mungkin ayah yang pernah membicarakan dia makanya aku tahu,”

Heol daebak! Pengacara publik itu.. Bagaimana ini? aku sudah memberikan kesan buruk kepada pewaris Woollim,”racau Mijoo.

Daebak!!”seru Jiae.

“Ou.. Jisoo dimana?”tanya Sungyeol tiba-tiba.

Setelah Woohyun selesai memberikan pidatonya Hyunsoo memberikan suatu pengumuman lagi kepada hadirin.

“Selain mengumumkan pemimpin baru kita saya juga akan memberikan sebuah kabar bahagia dari saya pribadi dan juga tuan Seo,”

“Kami akan menyelenggarakan pertunangan anak saya dan tuan Seo sekaligus mengumumkan bahwa bulan depan mereka akan menikah. Seo Jisoo silahkan naik ke panggung,”

Tepuk tangan lagi-lagi terdengar. Mijoo dan Jiae sangat kaget dan Baro juga Sungyeol langsung memegang kekasih mereka agar tidak terjatuh karena kaget atau pingsan. Jisoo naik ke atas panggung dengan senyuman yang terus mengembang. Lalu acara tukar cincin pun di mulai. Woohyun memasangkan cincin ke jari manis Jisoo begitu juga sebaliknya dan mereka mengakhirinya dengan memberikan kecupan singkat yang membuat para tamu muda menjadi berteriak kencang. Mijoo dan Jiae hanya mencibir mereka.

“Tuan Nam memang hebat. Tidak memberitahu identitas anaknya sekali mengumumkannya banyak sekali berita mengejutkan,”ucap Sungyeol yang diiyakan oleh teman-temannya.

Acara sudah berakhir Woohyun dan Jisoo menghampiri keempat orang yang sejak tadi tidak mereka temui. Woohyun memberikan hormat kepada sahabat calon istrinya itu.

“Jisoo-ya kau.. kau aish kau membuatku syok!”kesal Mijoo.

Nado..nado..”kata Jiae dan Baro.

“Maaf hehe bagaimana kalian suka kejutanku?”tanya Jisoo.

Woohyun melihat ke arah Sungyeol yang hanya diam saja sejak tadi, “Annyeong Sungyeol-ya,”sapa Woohyun.

Semua mata melirik ke arah Woohyun yang bersikap informal kepada Sungyeol begitu pula orang yang namaya disebut.

Ye?”kata Sungyeol.

“Kau melupakanku chingu-ya? Ya kita bermain bersama saat umur kita 9 tahun kau lupa?”kata Woohyun.

Sungyeol membulatkan matanya dan mengingat masa lalu. Akhirnya dia ingat  bagaimana dia bisa merasa familiar dengan nama Nam Woohyun. Sungyeol dan Woohyun saling berpelukan melepas rindu.

Ya sebenarnya aku ingin menyapamu sejak pertama kali kita bertemu waktu kau membicarakaan tentang perusahaan,”oceh Woohyun

“Eoh.. kau menghilang, aish!”

Baro, Jiae, Mijoo dan Jisoo hanya tertawa geli melihat kedua orang yang sedang bernostalgia ini.

END

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Nam Lawyer

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s