[Drabble] Jung Kook’s Anger

Title : Jung Kook’s Anger | Scriptwriter : magnaegihyun | Genre : Fluff, Comedy | Duration : 1722 words | Rating : T | Main Cast : Jeon Jung Kook, Jeong Ye In | Support Cast : BTS’ member, Lovelyz’s member

Previous

.

Summary

Ye In benar-benar heran. Bukankah kali ini ia masih harus marah pada Jung Kook, tapi kenapa ia sekarang kebingungan ketika Jung Kook tidak mengabarinya. Apa sekarang Jung Kook sedang marah padanya? Tapi tunggu, apa alasan Jung Kook marah padanya coba? So check this story out!

posterjknger

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

*

 

Ye In menatap layar ponselnya sambil memanyunkan bibirnya. Ia benar-benar berharap sejak tadi layar ponselnya akan menyala bersamaan dengan getaran yang menunjukkan ada pesan Kakao Talk dari seseorang yang benar-benar ia tunggu. Tapi semua itu tampak mustahil sekarang, membuat dirinya dan segenap perasaannya kecewa dan merasa lelah. Padahal ia harus pergi untuk pengambilan gambar salah satu majalah. Ia tahu ini bukan pertama kalinya tapi ia harus memberi pandangan yang baik bagi orang lain yang melihatnya bukan? Ia masih seorang rookie yang harus sopan dan membutuhkan banyak bantuan.

 

“Ye In-a, cepatlah bersiap-siap!”

 

Ia dapat mendengar bahwa Ji Yeon atau lebih dikenal dengan Kei, unninya yang memang ceria dan cerewet itu meneriakinya. Well, mungkin itu salah satu perintah dari leader unninya. Siapa saja tentu akan meneriakinya jika melihatnya yang sekarang duduk santai di meja belajarnya sambil menatap kosong layar ponselnya.

 

Iapun bangkit dan dengan malas menarik baju ganti dari lemarinya. Ia melirik hoodienya yang seragam dengan member lainnya itu sudah tergeletak manis di atas ranjangnya menunjukkan bahwa ia harus menggunakannya. Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya itu sekaligus menghindari amukan dari leader unni yang sekarang mulai terdengar.

 

“Ya ampun, Mi Joo… Cepatlah ganti baju!”

 

 

.

 

 

“Hai, Ye In-a!”

 

“Hai juga, oppa!”

 

Ye In membalas sapaan seseorang yang menyapanya itu. Ia sebenarnya tidak terlalu bersemangat hari ini sesuai dengan isi hatinya tadi, tapi mengapa orang yang menyapanya ini juga berada di tempat yang sama dengannya? Ini aneh, ia tidak mendapat kabar apapun dari Jung Kook bahwa ia da grupnya memiliki jadwal yang sama dengannya hari ini.

 

Ah, ralat, Jung Kook kan tidak mengabarinya sejak kemarin. Tentu dari mana ia tahu Jung Kook dan grupnya ke mana saja hari ini. Apa sih masalah Jung Kook? Lelaki itu tidak mengabarinya sekalipun sejak kemarin, berbanding terbalik dengan dua atau tiga hari yang lalu, lelaki itu mengiriminya pesan dan meneleponnya tanpa henti. Jangan bilang, lelaki itu kini tertular sifat 4D Tae Hyung, member satu grup lelaki itu yang begitu Ye In kenal dapat merubah moodnya begitu cepat.

 

Tadi yang menyapa Ye In adalah Tae Hyung yang memang mengenal Ye In dibanding member yang lain. Tae Hyung termasuk orang kepercayaan Ye In ketika ia harus bertanya apakah Jung Kook berbohong atau tidak kepadanya. Sesuai dengan peribahasa ada udang dibalik batu, memang Tae Hyung meminta sesuatu pada Ye In di balik kedekatan mereka itu. Tae Hyung sebenarnya memiliki niatan untuk melakukan pendekatan pada salah satu member satu grup Ye In. Ye In sih oke-oke saja. Well, setidaknya ia paham bahwa Ji Ae, member satu grup yang disukai Tae Hyung itu sedikit kurang peka masalah seperti itu, hingga Ye In harus membantu mereka.

 

Namun sampai sekarang pendekatan keduanya sepertinya kurang berhasil karena beberapa faktor. Faktor pertama adalah kesibukan Ji Ae. Ia paham jika Ji Ae memang berada di tahun terakhirnya di SMA begitupun dengan Tae Hyung. Tapi Ji Ae begitu sibuk dengan kursus yang diikutinya berbeda dengan Tae Hyung tampak begitu santai. Dari hal ini saja, mana bisa Tae Hyung dekat dengan Ji Ae jika ia tidak mau mendekati Ji Ae dengan alasan satu kursus lah minimal.

 

Faktor kedua adalah ketidakjelasan Tae Hyung. Hal ini cukup Ye In maklumi. Mengapa? Ketidakjelasan ini maksudnya adalah kepribadian aneh Tae Hyung yang jelas dimiliki lelaki itu karena ia bergolongan darah AB. Tapi hal inilah yang Ye In takutkan jika mendekatkan Ji Ae pada Tae Hyung. Ia takut Ji Ae malah akan menjauhi lelaki itu jika tahu kepribadiannya.

 

Faktor ketiga dan terakhirnya adalah tidak ada yang membantu mereka lagi hanya Ye In. Huh, sebenarnya itu bisa saja bukan menjadi keberhasilan tapi status Ye In yang jelas sebagai magnae dan tidak dapat memaksa atau dengan kata lain menyuruh keduanya itu benar-benar menyebalkan bukan. Andai saja leader unni yang mau membantunya, tentu saja itu akan lebih mudah bukan?

 

 

 

 

Oppa, pemotretan edisi bulan Februari juga?”

 

Ye In mendekati kelompok lelaki yang sedang bergerombol itu dengan suara ramah. Sejujurnya pertanyaan itu ia tujukan untuk Jung Kook seorang, tapi tidak, Jung Kook malah yang mengetahui bahwa Ye In menghampirinya dan hyung-hyungnya malah berbalik dan pergi menjauh. Ye In yang mengetahui itu sedikit sakit hati dan kesal. Lelaki itu jelas-jelas masih berstatus kekasihnya, tapi ia berani menghindari dan tidak menghiraukan ucapannya. Ya tuhan, apa salah Ye In coba?

 

“Maafkan Jung Kook ya, Ye In. Sejak kemarin dia memang sensitif begitu,” Jin, hyung Jung Kook yang diketahui Ye In begitu baik dan ramah itu menenangkan Ye In.

 

Ye In hanya tersenyum kecut,”Ya, oppa. Sejak kemarin dia juga tidak menghubungiku sama sekali.”

 

Ji Min, hyung Jung Kook yang Ye In kenal begitu jahil tiba-tiba memegang bahunya,”Wah, jangan-jangan kau ketahuan selingkuh ya?”

 

OPPA, jangan sembarangan!” Ye In berteriak keras membuat keenam lelaki di depannya tertawa.

 

“Tapi itu bisa jadi alasannya juga, Ye In-a. Kurasa Jung Kook bukan tipe orang yang marah karena hal kecil tapi kalau salah paham sih dia sering.”

 

Ye In terdiam mendengar timpalan Nam Joon, leader grup Jung Kook yang lebih dikenal dengan nama Rap Monster itu. Ya, ucapan itu benar juga. Jung Kook terlalu sering salah paham. Well, begitupun Ye In juga sih. Tapi, apa yang membuatnya salah paham? Mereka saja tidak bertemu sama sekali sejak seminggu yang lalu. Ia juga tidak bersama siapapun minggu ini. Kecuali minggu lalu sih saat acara akhir tahun ia harus berkolaborasi dan Jung Kook juga sempat marah.

 

“Tapi, oppa… Dia salah paham dengan siapa? Aku saja tidak bertemu senior satu agensiku seminggu ini dan tidak tampil di acara manapun, kan?”

 

“Kurasa aku tahu, apa yang membuatnya marah. Aku dengannya sejak kemarin dan aku memergoki Tae Hyung sedang mengirim pesan denganmu bahkan kau balas dengan cepat,” Ho Seok, hyung Jung Kook yang selalu diceritakan Jung Kook dekat dengan Jung Kook itu membuka suara.

 

“Ta—tapi, biasanya kan aku juga mengirim pesan dengan Tae Hyung oppa?”

 

“Kok aku, hyung?” Tae Hyung sedikit protes.

 

“Ye In-a, kau kan sudah tidak membalas pesan-pesan Jung Kook sejak tiga hari yang lalu dan kau bahkan terus membalas pesan Tae Hyung,” Jin bertukas bijak.

 

Ye In mengangguk membenarkan ucapan Jin itu. Ia merutuk dalam hati, jadi sekarang ia yang harus meminta maaf begitu? Apa yang harus dilakukannya kini untuk meredakan kemarahan Jung Kook itu?

 

 

 

 

Oppa…”

 

Oppa…”

 

Oppa masih marah—”

 

“Ye In? Jung Kook? Sedang apa kalian disini?”

 

Ji Ae menyapa keduanya dengan ramah. Well, sebenarnya ia paham kok mengapa Ye In sering berdua dengan Jung Kook dengan kenyataan bahwa mereka berpacaran itu membuatnya sedikit iri karena tak punya pacar. Ia sebenarnya bertanya ‘ada apa dengan kalian’, karena sejujurnya ia sedikit penasaran dengan keduanya. Kenapa? Bagaimana bisa sekarang ia merasakan dejavu seperti minggu kemarin di depan dorm mereka tetapi bedanya sekarang Ye In lah yang seolah membujuk, bukan Jung Kook yang mendiamkan member termuda grupnya itu.

 

“Ah, halo, nuna. Aku akan pergi sekarang, maaf mengganggu,” Jung Kook tersenyum membalas ucapan Ji Ae berbeda dengan ekspresi yang ia tunjukkan sejak tadi pada Ye In.

 

“INI SEMUA SALAH UNNI!”

 

Ye In berteriak kesal melihat Jung Kook yang sedang beranjak pergi. Jelas ia kesal, sejak tadi ia membujuk lelaki ini dan sekarang hanya karena disapa Ji Ae, ia pergi. Ya, ucapannya benar. Jika saja Tae Hyung tidak menyukai Ji Ae tentu ia tidak akan begitu dekat dengan Tae Hyung. Jika saja Tae Hyung tidak begitu bodoh dalam hal perempuan, tentu ia tidak akan mengirimi pesan nasehat untuk Tae Hyung. Jika saja Ji Ae terlalu tidak peka atas pertemuan tidak sengajanya dengan Tae Hyung, tentu saja ia tidak akan mengaturnya dengan Tae Hyung kan. Ia juga tidak perlu merasakan kemarahan Jung Kook ini juga.

 

“Apa maksudmu, Ye In?” Ji Ae mengerutkan kening.

 

Jung Kook berbalik memandang Ye In heran,”Kau tidak boleh begitu, Ye In. Ji Ae nuna tidak ada hubungannya dengan kita.”

 

 

“Salah, Ji Ae unnilah akar permasalahannya.”

 

“Ye In, jangan keras kepala! Tae Hyung hyung lah yang membuatku—”

 

Ye In memotong perkataan Jung Kook dengan malas,”Ya, aku tahu memang oppa cemburu pada Tae Hyung oppa. Tapi semua itu karena Ji Ae unni. Jika saja, unni merespon perasaan Tae Hyung oppa, maka aku tidak perlu saling mengirim pesan dengannya. Jika unni sadar bahwa unni begitu sering tidak sengaja bertemu dengan Tae Hyung oppa dan mengajaknya mengobrol lebih lama, tentu aku tidak perlu saling merencanakan pertemuan tidak sengaja lain dengannya.”

 

Ye In mengeluarkan unek-uneknya. Ia sedikit lega. Paling tidak, dengan ini Jung Kook akan mengerti keadaannya dan meredakan kemarahan untuk Ye In. Ji Ae yang masih terbengong syok dengan penjelasan Ye In yang begitu panjang, begitu berbeda dengan Ye In di dorm yang begitu pendiam. Jung Kook mengatupkan bibirnya yang sempat menganga mendengarkan penjelasan Ye In itu. Jadi, ia salah paham lagi begitu. Ya ampun, Jeon Jung Kook, kenapa kau begitu bodoh sih? Tapi dengan ini, Ye In jadi memaafkannya kan?

 

“Ah… Jadi begitu. Lalu Ji Ae nuna bagaimana?”

 

Ji Ae yang dilempari pertanyaan tiba-tiba menoleh dengan kaget,”Hah? Aku? Aku kan hanya mengira kebetulan saja. Ya kalau begitu sih maaf, Ye In-a.”

 

“Ya, aku juga meminta maaf ya, unni. Berbicara keras dan tidak sopan seperti tadi. Jadi, unni mau kan jika diajak kencan oleh Tae Hyung oppa?” Ye In tersenyum lega.

 

“Kalau itu sih, suruh dia menghubungiku sendiri. Aku hanya tak mau kalian terus saja bertengkar sejak minggu lalu,” Ji Ae berkata bijak meredakan pertengkaran keduanya.

 

“Baik, unni. Aku akan mengatakannya pada Tae Hyung oppa. Terima kasih ya.”

 

“Ya, aku ke toilet dulu ya!”

 

Ji Ae pamit lalu bergegas meninggalkan keduanya. Keduanya sedikit canggung apalagi ini pertama kalinya mereka berduaan sejak minggu lalu. Ye In sedang menggigit bibir dan merutuk dalam hati menyadari ia menunjukkan sikap buruk di depan Jung Kook, kekasihnya itu. Sedang Jung Kook tampak sedikit lega bahwa keduanya berbaikan sekarang.

 

“Maafkan aku, Ye In-a. Aku selalu saja salah paham dan kekanakan,” Jung Kook mulai membuka suara.

 

Ye In tersenyum,”Kurasa kita sama-sama kekanakannya. Aku minta maaf juga ya, oppa.”

 

“Nah, karena kita sudah berbaikan. Bagaimana kalau kita berkencan setelah pemotretan ini untuk merayakannya?”

 

Ye In mengangguk menyetujui menyadari bahwa Jung Kook begitu senang sekarang. Huh, sekarang waktunya ia meminta izin untuk keluar pada manajer grupnya. Sejujurnya ia juga ingin berkencan sih. Jujur, ia juga merindukan Jung Kook sejak kemarin. Masalah sudah selesai kan sekarang, dan mungkin ia dan Jung Kook harus bersikap lebih dewasa mulai sekarang untuk menghindari amukan kekanakan yang selalu membuat mereka saling merasa kesal. Ah, mungkin lebih baik ia harus menunggu kabar gembira dari Tae Hyung dan Ji Ae sekarang. Akhirnya, perjuangannya kini tidak sia-sia!

 

-FIN-

Sunday, 2015 February 22nd – 8.39 am

Haihai! Maaf aku lama nggak update karena kesibukan aku. Jujur, aku mau hiatus dulu sampai urusan kelulusan SMAku selesai. Aku harus fokus soalnya. Maaf karena nggak jadi author sesuai dengan harapan kalian, apalagi ffku masih nggak jelas dan jelek begini. Makasih buat semuanya yang mau baca, komen dan like ffku ini. Minta doannya buat kelulusan dan ujian masuk universitas.

Thanks all,

magnaegihyun

Advertisements

4 thoughts on “[Drabble] Jung Kook’s Anger

  1. Pingback: [Drabble] Jung Kook’s Anger | magnaegihyun

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s