[Freelance] Of Not-A-Close-Friend, Camera, and Kei

Of Not-A-Close-Friend, Camera, and Kei

Of Not-A-Close-Friend, Camera, and Kei

| Author: Namtaegenic | Cast: Kei (Lovelyz), Kim Heecheon (HALO) | Genre: Fluff | Rate: PG-15 | Length: Ficlet | Disclaimer: I own the storyline

© 2015 Namtaegenic

.

.

“Jadi,” Kei membuka konversasi tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah remaja yang sedang dibolak-baliknya, “seberapa dekat hubungan kalian?”

Si lawan bicara menarik sudut bibir kanannya ke atas dan mendengus. Kei ini memang cantik sekali. Tapi di balik itu, ia punya kepribadian yang menyebalkan. Pertanyaan-pertanyaan sarkastisnyalah yang membuatnya tampak berbeda dari gadis lain yang Heecheon temui. Karena jika Heecheon diberi kesempatan untuk bertukar jiwa dengan raga serta rupa seindah Kei, ia pastikan dirinya akan jadi Kei yang manis dan dipuja banyak anak laki-laki di sekolah. Bukan Kei yang suka mengkritisi orang lain dengan sarkasme seperti yang sekarang ini.

Heecheon dan Kei bukan teman baik. Bukan teman baik di sini berarti hubungan mereka memang tidak begitu baik. Gadis yang sikapnya seperti Kei sama sekali bukan tipe idealnya—atau bahkan tipe teman idealnya. Beberapa orang bisa saja mengatakan bahwa ia hanya berkata sesuai dengan apa yang terlintas di kepalanya. Tapi jika memang sifat jujur itu hanya bisa diaplikasikan dengan cara demikian, Heecheon lebih baik berteman dengan orang-orang yang sedikit muka dua. Setidaknya mereka bisa berpura-pura baik di hadapannya.

“Hubunganku dengan benda ini?” Heecheon mengangkat kamera yang sedari tadi ia genggam dan ia lihat-lihat demi membunuh waktu. Jaeyong dari klub majalah sekolah—klub di mana Kei pun berada (Heecheon tidak mau tahu soal seberapa tajamnya rubrik The Way We See It—rubrik khusus yang membahas pendapat penulisnya mengenai suatu topik yang sedang hangat—karena rubrik itu pasti penuh dengan kalimat-kalimat khas Kei yang pedas dan penuh sindiran tajam). Jaeyong bilang ia ingin meminjam kamera Heecheon. Pemuda itu sudah berbaik hati mengizinkan benda kesayangannya itu digunakan Jaeyong, tapi ia malah berakhir dengan menunggu lama di ruang redaksi, bersama gadis terakhir yang diinginkannya bersamanya dalam waktu lebih dari satu jam.

Ugh. Heecheon berdecak kesal. Jaeyong akan membayar ini semua, lihat saja. Besok-besok Heecheon akan menagih hutang budinya.

“Hubunganku dengan kameraku lebih akrab daripada hubunganku dengan siapa pun di sekolah ini,” Heecheon menjawab sembari sedikit melagukan nada bicaranya sekedar untuk memberikan kesan bahwa ia tidak terusik. Padahal sebaliknya.

Terdengar dengus meremehkan dari arah sana.

“Kameramu akan cantik sekali dengan gaun pengantin kelak, aku turut berbahagia,” Kei masih saja memaku pandangannya pada majalah, tidak peduli pada air muka Heecheon yang seakan hendak membalikkan meja dan menumpahkan air minum ke wajah gadis itu.

“Jadi, sudah berapa lama?”

“Sudah lama apanya? Hubungan kami?” Heecheon memotong kesal. Orang-orang awam fotografi seperti Kei ini mana paham dengan hubungan antar fotografer dan kameranya. Dia kan bisanya cuma menertawakan orang lain.

“Sudah berapa lama kau benci padaku?”

Heecheon menganga. Kedua alisnya bertaut segera setelah mendengar kalimat selanjutnya yang terlontar dari satu-satunya teman konversasinya ini.

Kei menutup majalah, menaruhnya di pojok meja, dan kedua maniknya menatap Heecheon dengan datar namun sorotnya tajam. Hanya sebaris poni hitam legamnyalah yang mengurangi ketegangan yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Heecheon tidak pernah menyangka ia akan dapat pertanyaan demikian dari gadis itu.

“A-aku…tidak benci padamu. Siapa bilang aku benci padamu? Jaeyong? Jangan dengarkan apa kata—“

“Sejujurnya,” Kei melipat tangannya ke atas meja, “sejujurnya aku yang menyuruh Jaeyong agar meminjam kameramu. Karena kelihatannya kau lebih baik kehilangan semua gigimu ketimbang meluangkan waktumu untuk mengobrol denganku.”

Heecheon membiarkan otaknya mencerna kalimat itu perlahan-lahan, kemudian mulutnya kembali menganga. “Hah?”

Detik-detik selanjutnya adalah keheningan yang terasa panjang akibat tidak ada yang mau melanjutkan pembicaraan tadi. Dalam hati Heecheon mengumpat. Kini situasinya tampak mengindikasikan bahwa dirinyalah yang harus melontarkan kata maaf. Hebat sekali bukan, Kei ini? Ia mengucapkan lisan setajam tepian kertas, kemudian ia pula yang bersikap sebagai korban.

Tapi rasa bersalah karena ketahuan menaruh rasa tidak suka pada gadis itu tak kunjung mau pergi dari nuraninya, akhirnya Heecheon membuka mulut. Susah payah, memang. Tapi toh terucap juga.

“Sini. Foto denganku.”

Air muka Kei berubah drastis. Mata indahnya membelalak lebar seakan Heecheon baru saja mengakui bahwa dirinya baru saja mengompol di bangku redaksi, bibirnya tak lagi terkatup rapat, dan rona merah dan hangat mulai menjalari kedua pipinya.

“Apa—“

“Oh ayolah. Ini bisa mengurangi rasa bersalahku karena menganggapmu menyebalkan. Meskipun kau memang menyebalkan, sih,”

Heecheon tak lagi buang waktu. Ia menggeser bangkunya, dan melompat ke sisi kiri Kei. Tidak, gadis itu tidak siap, tentu saja. Jadi ia pasrah saja saat Heecheon mengarahkan muka kamera menghadap ke arah mereka dan serta-merta bunyi klik terdengar, ditingkahi oleh blitz.

Sementara itu, dari arah pintu, Jaeyong muncul. Apa pun yang bisa menggambarkan ekspresi Jaeyong saat itu hanyalah bahwa ia sangat takjub pada pemandangan barusan. Jaeyong mengedipkan mata dua kali atau tiga. Siapa tahu ia tidak sengaja menenggak sesuatu yang memberikan efek samping berupa khayalan maya berwujud Kei dan Heecheon.

Sementara si objek sendiri buru-buru memperbesar jarak antara mereka.

Lalu Jaeyong tercengang—untuk kesekian kalinya.

Melihat ada kesempatan untuk kabur, Heecheon segera menyerahkan kameranya pada Jaeyong, berpesan macam-macam seputar ingat-ya-jangan-rusak-kameraku-dan-jangan-gunakan-itu-untuk-hal-yang-tidak-tidak, lantas ia langsung menghilang ke balik dinding ruang redaksi, meninggalkan Kei yang mati-matian mencari kesibukan lain, dan Jaeyong yang tak sanggup lagi menahan tawanya.

.fin

Author’s note: Halo, halo. Eci di sini.

Jadi pendeknya aku pengen ngirim fanfiksi Lovelyz ke sini cuma ga tau mau nulis apa. Dan begitu bikin poster Kim Heecheon lagi pegang kamera, yaudahlah, bikin tentang foto-fotoan aja. Hehehe. Will be glad for your review!

Cheerio,

Namtaegenic

Advertisements

6 thoughts on “[Freelance] Of Not-A-Close-Friend, Camera, and Kei

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s