[ONESHOOT] All My Love Is For You

Standard

tumblr_mlqr5hZ7V51r2zgyio1_500

Author : Xika Nisha

Main cast : Yoo Ji Ae (Lovelyz) | Mino (Winner)

Other cast : Lee Mi Joo (Lovelyz), etc

Genre : romance | fluff | songfict | AU

Length : oneshoot

Rating : pg-13

Inspired : All my love is for you – SNSD

……….

Aku akan pergi ke kota yang baru

Melihat keluar jendela saat naik kereta

Aku memejamkan mataku, jangan takut

..

Stasiun kereta api lumayan padat di pagi hari. Orang-orang dengan barangnya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang mengantri untuk membeli tiket, ada juga yang duduk-duduk menunggu kereta mereka.

Dan Yoo Ji Ae adalah salah satunya.

Gadis dengan tas ranselnya itu berdiri dan celingak-celinguk melihat kereta api jurusan Chunceon. Masih ada waktu lima menit sebelum keretanya datang, tapi Jiae tidak sabaran. Tasnya berat dengan alat tulis dan berbagai macam snack. Jika keretanya tidak segera muncul, mungkin bahunya bisa lepas.

Tidak lama, keretanya datang. Karena ketidak-sabarannya tadi Jiae jadi orang pertama yang masuk ke kereta. Ia meletakan pantatnya di bangku dekat jendela. Kursi sebelah yang kosong di letakan tas ransel miliknya.

“Permisi, bisakah saya duduk di sini?” seseorang menyapanya, membuat Jiae menoleh. Ia menghela nafas pendek, menyingkirkan tasnya dan meletakan di bawah kaki. Menyebalkan, padahal masih banyak kursi yang kosong.

Kereta berangkat dengan perlahan. Setiap orang sudah duduk di tempatnya masing-masing, termasuk Jiae. Helaan nafas berulang kali selalu ia keluarkan. Musik yang terdengar dari earphone tetap tidak bisa menenangkan hatinya. Ia terlalu gugup untuk menjadi pengajar selama satu hari di Chunceon.

Perlahan hujan turun, gerimis mengguyuri perjalanannya. Suasana dingin membuatnya merinding. Jiae melihat keluar jendela. Pemandangan yang cantik sekali. Dan Jiae sekarang merasakan dejavu.

‘Jika kau gugup, tarik nafas perlahan dan keluarkan dari mulut. Jangan tegang, santai saja. Setelah itu pejamkan matamu, bayangkan segala sesuatu yang membuatmu santai.’

Kalimat itu seakan menjadi lagu di telinganya. Manis dan lembut. Ia mengikuti segala langkah tadi. Perlahan perasaannya mulai tenang. Gugup itu hilang.

‘Jangan takut!’

Dua kata yang membuatnya langsung bersemangat. Ia sekarang ingat ucapan-ucapan tadi dari siapa. Seorang lelaki yang membuatnya mudah untuk tersenyum. Sekarang jiwanya ringan. Jiae siap menghadapi harinya.

……….

Pesan yang kau ajarkan kepadaku

Aku tak akan melupakannya

Untuk terus bersinar hingga saat ini

..

Kereta jurusan Chunceon telah sampai di stasiun. Orang-orang berbondong keluar dari kereta, termasuk Jiae. Selama perjalanan, ia membaca materi untuk bahan mengajar nanti. Ia juga memikirkan metode pendekatannya kepada anak-anak nanti.

“YOO JI AE!” lambaian tangan dari Mijoo di sambutnya dengan membalas lambaian tangan gadis itu. Si penjemput telah datang. Gadis cantik dengan rambut kucir kudanya, tidak lupa lupa jaket lusuh favoritnya.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Mijoo, berbasa-basi.

“Sangat membosankan. Kau, sih, kabur duluan.” Mijoo nyengir lebar. Ia tidak mengajak Jiae bukan tidak sengaja. Mendadak gadis itu menelponnya dan memohon untuk ikut serta.

“Jja!” Mijoo menggandeng Jiae menuju taksi yang ia pesan. Mereka segera menuju tempat pertemuan. Katanya anak-anak sekarang tengah berkumpul bersama relawan-relawan lain.

“Kau gugup?”

“Sedikit.”

“Tenang, anak-anak nggak nakal.” Jiae mengangguk paham. Tapi tetap saja ia gugup. Ini pertemuan pertama mereka,  tidak seperti kawan-kawan lain yang dari hari pertama sudah mulai saling mengenal.

“Apa kau sudah mendengar kabar darinya?” tanya Mijoo pelan, takut menyinggung. Jiae mengerti arah pembicaraan mereka. “Dia tak akan pernah menghubungiku.”

“Jangan bercanda!”

“Jika berhubungan dengan dia aku tidak bercanda!” ucapan itu tegas, membuat canggung suasana. Ia sebenarnya tidak ingin mengungkitnya. “Aku hampir tidak kuat menunggunya.” Suaranya terdengar menyedihkan.

‘Tunggu aku. Jangan pernah lupa di manapun aku berada, aku selalu mengingatmu. Tolong jangan sedih terus. Semangat!’

Suara itu lagi, membuatnya sakit kepala.

……….

Dalam segala sesuatu (keadaan)

Untuk terus saja mengalir

Aku memandang langit,

Dan aku mendengar suaramu

..

Mereka telah sampai di tempat tujuan. Rupanya tepat mengajarnya di taman yang rindang, penuh pohon dan bunga. Sudah lama ia tidak melihat pemandangan menyegarkan mata seperti ini.

“Hey, jangan melamun! Itu anak-anak tengah menunggu.” Seru Mijoo. Ia memang sempat melamun karena terlalu hanyut akan pemandangan ini. Mengingatkannya pada masa kecil yang hangat.

“Hai, Yoo Ji Ae! Sudah sampai, ya? Bagaimana perjalananmu?” salah seorang pemuda menyapanya. Seluruh relawan di sini kenal Jiae walau berbeda jurusan. Mereka ke sini untuk satu tujuan, mendidik anak-anak kurang mampu untuk belajar.

“Aku tidak bisa mengatakan padamu jika perjalanan ini menyenangkan,” candanya.

“Ayo kukenalkan dengan anak-anak. Mereka tadi sangat senang saat kuberitahukan akan ada guru baru cantik yang akan datang.” Mijoo menarik Yein ke anak-anak yang sedang bermain.

“Kalian semua, ayo kemari!” mendengar panggilan dari Mijoo, anak-anak itu segera berkumpul. Jiae memandang satu persatu anak-anak itu. Kira-kira umur mereka berkisar tujuh hingga sepuluh tahun. Baju mereka compang-camping dan tanpa menggunakan alas kaki. Memperhatinkan sekali keadaan anak-anak ini.

“Yoo Ji Ae!” lagi-lagi Jiae melamun. Langsung saja Mijoo memberi kode yang membuat Jiae ingat jika ia belum memperkenalkan diri.

“Hai!” dengan canggung ia memperkenalkan diri. Hal itu membuat anak-anak ikut kikuk membalas sapaan Jiae. “Perkenalkan, nama kakak Yoo Ji Ae, kakak ke sini sebagai guru tambahan. Tapi kakak hanya satu hari di sini. Jadi mari kita nikmati satu hari ini bersama kakak.”

Tidak ada tanggapan berarti. Semua masih asing dengan keberadaan Jiae. Saat itu ia merasa hari ini akan menjadi hari yang terberat.

‘Langit itu tinggi, kan? Cobalah pandang langit, bayangkan seluruh bebanmu naik ke langit dan melebur menjadi awan.’

Suara familiar itu berdenging di telinganya. Kalimat itu masih ia ingat. Dan sekarang pandangannya ke langit. Warna biru dan putih yang menyegarkan mata. Awan-awan terbentuk dengan cantik. Bahkan tanpa sengaja Jiae membayangkan awan itu membentuk wajah orang yang ia cintai.

Apakah ia serindu itu?

……….

Meskipun jika aku pergi

Cukup pejamkan matamu

Dan aku akan ada dalam hatimu

..

Kecanggungan Jiae dengan anak-anak tidak lama kemudian hilang. Dengan sabar gadis itu mendekati anak-anak. Ia mengajari mereka agar punya jiwa yang kuat dan berusaha mengembangkan diri mereka. Tugasnya bukan mengajari pelajaran di sekolah seperti temannya yang lain. Ia datang kemari berusaha untuk membentuk mental mereka. Sekalian juga latihan menjadi seorang psikolog nantinya.

Mungkin karena lelaki itu gadis ini menjadi orang yang berbeda.

Ia juga membaca dongeng-dongeng milik Aesop, seperti ‘kelinci dan kura-kura’.  Dongeng ini sudah sangat biasa baginya, tapi berbeda dengan respon anak-anak ini. Mereka terkadang menyampaikan keluhan mereka tentang kesombongan si kelinci. Bahkan saat lomb lari antara kura-kura dan kelinci, mereka menyoraki kura-kura supaya berlari lebih cepat. Dan saat kura-kura berhasil mencapai garis finish, semua berteriak senang.

Respon mereka yang polos membuat Jiae terhibur. Bahkan mereka meminta di bacakan dongeng yang lain. Akhirnya Jiae membacakan ‘The ugly duckling’ dan ‘The little mermaid’ karya Hans Christian Andersen. Tidak lupa ‘Hansel and Greteel’. Ia juga membacakan biografi tokoh-tokoh terkenal, seperti Thomas Alva Edision, Shakespare, Abraham Lincoln, dan Michelangelo.

Jiae adalah pecinta sejarah. Ia ingin menanamkan rasa itu kepada anak-anak kecil ini. Dan ia bahagia dengan respon mereka.

“Sayang sekali sekarang sudah pukul setengah sebelas, sudah dulu belajarnya. Ayo yang perempuan bantu kakak-kakak masak, yang laki-laki angkat meja dengan kursi lalu atur yang rapi, ya!”

Semua langsung ber-‘YAA’ ria. Mereka terlalu berat untuk meninggalkan cerita seru milik Jiae. Maklum, di rumah mereka tidak punya hiburan seperti televisi. Hanya sekadar dongeng saja membuat mereka terhibur. Jika tidak di perintah Jiae, mungkin mereka masih tetap bertahan di sana.

“Mereka merepotkan, ya?” tanya Mijoo. “Tidak juga, sih. Aku malah prihatin.” Jawabnya.

“Kasihan anak-anak itu. Untuk membeli buku saja tidak mampu.” Jiae membenarkan dalam hati. Inilah alasan mengapa manusia diminta bersyukur. Ada pepatah ‘di atas langit, masih ada langit’. Tapi berkaca tentang kehidupan anak-anak ini, pasti akan teringat dengan tanah. Tanah yang kita injak pasti masih ada lapisan tanah yang lebih dalam.

Selama makan siang bersama, ia belajar banyak dari mereka. Walau anak gelandangan, mereka tahu tata tertib makan. Mulai dari berdoa sebelum makan, makan tanpa saling mengganggu, dan berdoa lagi setelah makan. Kata Minah, kebanyakan dari mereka sudah dari sananya di ajari tata tertib makan. Jiae sangat malu. Ia sering lupa berdoa sebelum atau sesudah makan.

‘Kita lebih beruntung dari mereka. Hari ini belum tentu anak-anak itu makan.’

Ucapan, tindakan, dan segala tingkah laku masih terekam jelas di otaknya. Apa lagi kalimat itu. Kalimat yang sering ia abaikan. Sekarang ia mengerti apa maksudnya.

Song Min Ho, nama lelaki yang mengajarinya banyak hal. Bahkan tentang hal sepele saja lelaki itu menceritakan padanya. Mungkin ini alasan kenapa Jiae menyukai lelaki ini. Lelaki yang mengajarkannya tentang kearifan hidup.

Sederhana bukan?

“Jiae-ya, bantu kami cuci piring, jangan hanya bengong di situ.” Panggil temannya. Entah sudah keberapa kali ia terus melamun. Ia melihat anak-anak mulai mengumpulkan piring kotor dan bergotong-royong mengumpulkannya di bak cuci piring. Jiae berjalan menuju teman-temannya.

Entah kenapa jantungnya berdetak sangat keras. Seakan-akan hatinya dipenuhi oleh banyak hal yang menyenangkan. Salah satunya Song Min Ho. Lelaki yang meninggalkannya selama tiga tahun tanpa kabar itu masih memenuhi hatinya.

……….

Cinta adalah cahaya

Cahaya yang menyinari dunia

Hal itu ada disekitarku

..

Jiae pulang ke Seoul sore ini juga. Besok ia harus sudah mengurus skripsinya, jadi tidak bisa bersama-sama dengan yang lain. Anak-anak menolak kepulangannya, mereka masih ingin di bacakan dongeng lagi. Tapi mau bagaimana lagi?

“Salah sendiri kau memperpendek masa kuliahmu.” Mijoo menyalahkan Jiae akan keputusannya saat mengantarkan Jiae ke stasiun. Memang gadis itu sengaja mempercepatnya karena ingin cepat-cepat lulus.

“Aku ingin cepat bekerja. Itu saja!” mereka berdua sekarang tengah duduk di dalam stasiun, menunggu kereta jurusan Seoul datang.

“Terserahmu saja.” Mijoo mengangkat kedua bahunya, pura-pura tidak peduli. “Sebagai calon psikolog, bisakah aku bertanya?” Jiae tersenyum geli, ada-ada saja temannya ini. “Tanyakan saja, dasar aneh!”

Mijoo tersenyum kecil, ia membuka suara, “Ada seorang anak korban kekerasan orangtuanya bertanya padaku. ‘Cinta itu apa? Kenapa aku tetap mencintai ibuku yang jahat? Kenpa aku menyayangi ayahku yang sering memukulku? Kakak bisa jawab?’ saat mendengarnya aku merasa kasihan. Anak itu masih polos. Tapi ia tidak berbalik membenci kedua orangtuanya. Bahkan dia sering mengunjungi orangtuanya di penjara. Bukankah itu mengharukan? Dia tidak mengerti kenapa ada perasaan cinta di hatinya. Jadi, aku ingin mengerti apa definisi cinta tersebut.”

Jiae tertegun. Anak korban kekeran orangtua biasanya mengalami trauma, tapi berbeda dengan anak yang tadi diceritakan Mijoo. Ia tetap menyayangi orang tuanya. Pandangan Jiae melurus ke depan. Matanya melihat orang-orang berlalu lalang.

“Menurut Kahlil Gibran, cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alamipun tak dapat mengubah perjalanannya. Cinta ibarat seekor burung yang cantik, meminta untuk ditangkap, tapi menolak untuk disakiti.” Itu adalah kutipan kesukaannya tentang cinta.

“Bagiku itu susah dipahami. Bagaimana jika menurut dirimu?” Jiae mengerutkan dahinya. Definisi cinta menurut dirinya? Ia bingung mendeskripsikannya, cinta terlalu luas. Tiba-tiba otaknya mengingat perkataan Mino tentang cinta yang membuatnya merinding.

“Cinta itu seperti lampu di dalam rumah. Saat kegelapan mulai hadi, ia dinyalakan untuk memberi penerangan seisi rumah. Lampu itulah yang membuat rumah-rumah orang di seluruh dunia terang benderang.” Jiae melanjutkan bicaranya, “Mungkin itu yang terjadi pada anak itu. Hatinya sedang diterangi dengan cinta.”

Mijoo berbinar senang. Ia menatap Jiae dengan pandangan bangga. “Kau tahu darimana kata-kata itu?” tanya Mijoo.

Jujur, ia tidak mau mendengar pertanyaan seperti ini dari Minah. Tapi karena wajah cantik itu tengah menunjukan rasa penasarannya yang tinggi, membuat Jiae akhirnya bersuara. “Seseorang yang mengenalkanku tentang cinta.”

……….

Kaulah yang menopangku

Saat aku gemetar dalam kereta

Kini lebih mudah untuk tersenyum

..

Ia sekarang sudah berada dalam kereta. Duduk manis sambil melihat pemandangan indah yang tersaji. Dulu ia sering mabuk darat dan berhenti sejak kelas sebelas. Siapa lagi kalau bukan Minho yang mengubah seorang Yoo Ji Ae yang menyebalkan menjadi Yoo Ji Ae dengan pembawaan yang tenang.

Jiae masih ingat saat Minho tidak marah karena ia muntah dan mengenai celananya. Lelaki itu benar-benar super sabar dalam menghadapi Jiae di dalam kereta saat itu. Memori yang membuat ia cekikikan. Beruntung hanya beberapa orang di gerbong. Karenanya, ia belajar untuk menguasai mabuk daratnya itu.

Kursi kosong di sebelahnya membuat Jiae kesepian. Helaan nafas berat menjadi bukti beban kangennya. Ia rindu dengan Minho. Sudah tiga tahun ia memendamnya dengan menunjukan kebenciannya dengan lelaki itu.

Tiga tahun bukan waktu yang lama untuk melupakan cintanya. Apalagi dengan terlalu banyaknya kenangan yang tersimpan, semakin tidak mungkin ia melupakannya. Jiae aku ia berkencan dengan banyak laki-laki tiga tahun belakangan. Tapi tidak ada yang senyaman Minho.

Ia terlalu berharga.

……….

Meskipun jika dunia berakhir

Aku masih bisa melihat senyummu

Aku akan memilikimu selamanya

Aku sudah memutuskannya

..

Kereta sudah memasuki stasiun, bertanda jika sudah sampai di Seoul. Sama seperti berangkat ke Chunceon, ia tidak tidur selama perjalanan. Ditemani musik dan buku kesukaannya, ia membunuh bosan. Sekarang berat tasnya berkurang, jadi sekarang bahunya tidak terasa sakit. snack yang ia bawa dari Seoul dibagikan kepada anak-anak tadi.

Dalam hati ia bersorak girang. Hari sudah malam, ia lelah karena perjalanannya. Jiae sudah membayangkan tempat tidurnya yang nyaman. Sebenarnya ia tengah kelaparan, tapi ia mengabaikan perutnya. Jiae lebih memilih tidur.

Stasiun sudah tidak seramai tadi pagi. Tapi tetap lumayan padat. Dengan langkah ringan ia keluar dari stasiun. Tangannya dengan lihai mengetik nomor perusahaan taksi, memanggil sebuah taksi untuk menjemputnya di stasiun. Panggilan sudah disambungkan, dan sekarang telefonnya sudah ditempelkan ke telinga.

“Yoo Ji Ae?”

Saat ia tengah menunggu panggilan tersambung, tiba-tiba ada orang yang menyebut namanya. Jiae menoleh ke asal suara dengan was-was. Takut jika orang yang memanggilnya adalah orang jahat.

Sedetik kemudian rasa was-was itu tergantikan dengan perasaan terkejut dan senang dalam satu waktu. Bahkan ia mengabaikan operator tengah berbicara di ponselnya.

Jiae pikir sekarang ia seperti dinamit. Hanya tunggu beberapa detik lagi akan meledak ledakan yang lebih dasyat dibandingkan bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Perasaan yang ia simpan dengan baik selama tiga tahun keluar begitu saja. Hanya karena senyuman itu.

“Mi-minho…” setetes air mata keluar perlahan. Bibirnya bergetar karena terlalu kelu menyebut namanya. Senyuman itu bertambah lebar, menyadarkan ia jika ini bukan halusinasi.

“Aku pulang!” kalimat yang ia tunggu-tunggu akhirnya bisa didengar. Tanpa basa-basi lagi, Jiae berlari dan memeluk Minho. Air mata sudah tidak terbendung lagi. Ia rindu. Sangat rindu!

“Kenapa kau pulang? Apa kau ingin mengabarkan pernikahanmu? Kenapa tidak kembali lima puluh tahun lagi, agar au sudah jadi nenek-nenek dan melupakanmu. Kenapa kau kembali secepat ini?” Jiae terus menangis tanpa henti. Segala spekulasi berputar cepat di pikirannya tentang kepulangan Minho.

Minho tentu kelimpungan. Gadis itu tidak hanya menangis, tapi ikut memukul dadanya dengan kencang. “J-j-jiae… tunggu! Siapa yang… menikah? Aku pulang… untuk menemuimu!” jawabnya. “Sudah Jiae, dadaku sakit!”

Mendengar itu ia menghentikan pukulannya, tapi tetap menangis. “Lalu kenapa pulang?”

“Aku merindukanmu. Itu saja.” Jawab Minho singkat.

“Pembohong!” hardiknya. “Kalau merindukanku, kenapa tidak datang dua tahun sembilan bulan yang lalu!”

“Mereka memaksaku bertahan hingga ayahku sehat. Maaf jika tidak pernah menghubungimu. Di sana aku juga bekerja dan belajar, tidak ada waktu untuk sekedar memberi kabar.” Penjelasannya membuat perasaan Jiae melega. Segala tanda tanya di kepalanya menghilang.

Minho tidak berpaling darinya.

Jiae melepaskan pelukannya. Walau matanya sudah membengkak dan tampilannya berantakan, ia mencoba tersenyum. “Kukira kau selingkuh di sana.”

“Aku sudah mengatakan padamu, hatiku akan tetap terpaut padamu. Sejelek-jeleknya kau, aku akan tetap mencintai seorang Yoo Ji Ae. Gadisku!”

“Aku tidak jelek!” protesnya.

Minho merangkul Jiae yang cemberut, pura-pura marah. “Kau tidak jelek, hanya kurang cantik saja.” Godaan itu mendapat sambutan berupa cubitan dari Jiae. “Selama aku tidak di sini, apa kekasihku tercinta ini selingkuh?”

“Ya, aku selingkuh,” jawabnya santai. Minho melotot, “Lihat, siapa yang selingkuh!”

“Tapi tidak ada yang sama sepertimu.”

“Tentu. Aku kan limited edison!” narsis Minho. Jiae menatapnya dengan remeh, “Tapi tetap saja rasanya sama.”

Sindir-menyindir terjadi. Mereka melakukan kebiasaan lama yang dirindukan mereka dulu. Saling menghina satu sama lain dan tertawa J .

……….

Seluruh cintaku untukmu

Tidak ada yang tersisa

Aku mencintaimu lebih dari apapun

Dan kau izinkan aku menunjukannya

..

Malam yang dingin ni dihabiskan Minho dan Jiae menikmati teh panas dan biskuit di beranda apartement Jiae. Karena baru pulang hari ini, Minho tidak sempat memesan kamar hotel untuk tempat tinggal sementara, jadi ia terpaksa menginap di rumah Jiae.

“Apa yang kau lakukan selama menjadi pengajar?” tanya Minho saat mendengar cerita Jiae jadi relawan.

“Aku hanya mempraktekan apa yang kupelajari,” jawabnya singkat. Ia mengambil biskuit lagi dan memakannya.

“Lalu bagaimana anak-anak itu, mereka menyusahkanmu?” Minho masih heran dengan Jiae, ia bukan gadis yang dekat dengan anak kecil. Minho masih ingat saat Jiae diganggu anak balita.

Gadis itu menggeleng. “Sepertinya malah aku yang diajari mereka. Anak-anak gelandangan itu sangat mandiri. Walau mereka bukan orang yang berada, tapi oleh orangtuanya diajarkan jika mereka harus punya harga diri yang tinggi agar tidak diremehkan. Itu membuat mereka tidak menjadi pengemis yang meminta-minta di jalan. Anak-anak itu bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang agar bisa makan. Yang mengejutkanku, saat makan mereka membaca doa sebelum dan sesudah makan. Kebiasaan yang sudah kutinggalkan sejak dulu.

Minho tersenyum tipis. Sudah tiga tahun tidak bertemu, gadis ini semakin dewasa. Jiae dulu egois dan keras kepala, membuatnya tidak memiliki teman. Awalnya Minho ingin memperbaiki sikap buruk Jiae sebagai ketua murid di sekolah mereka dulu, tapi keterusan jatuh cinta.

“Setidaknya kau belajar dari mereka.” Komentar Mino dibenarkan Jiae. “Bahkan seluruh perkataanmu selalu terngiang. Aku kira kalimat-kalimat bodoh itu tidak berguna.”

“Kalimat tidak berguna?” Jiae tertawa. Ia menyentuh pipi Minho, menggumamkan kalimat kesukaannya, “Aku merindukanmu.”

“Aku juga rindu kamu.”

“Kau tidak akan pergi lagi, kan? Jika kau pergi, aku akan berbalik membencimu.” Jiae memberi ultimatum. Minho mengangguk paham. “Dua atau tiga tahun lagi aku akan melamarmu.”

“Aku tidak butuh janji, tapi bukti.”

“Tunggu saja, aku akan menepatinya. Karena seluruh cintaku hanya untukmu.

……….

Bahkan di masa depan

Aku akan tetap memegang tanganmu

..

Minho gugup sekali hari ini. Di depan altar gereja dengan pendeta di hadapannya, dan para tamu undangan yang duduk manis menunggu mempelai wanita. Tepat hari ini, Minho dan Jiae akan menikah. Dengan saksi Tuhan, keluarga, teman, bahkan siswa-siswa dari sekolah yang dibangun Mino dan Jiae untuk anak kurang mampu.

Kaos tangannya sedikit basah karena keringat. Di kepalanya berputar-putar rencana masa depan yang ia susun tadi malam. Banyak hal yang akan ia lakukan bersama Jiae setelah menikah. Sebenarnya ia menyesal membuat Jiae menunggu lebih lama dari perjanjian. Ia butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Menikah bukanlah hal-hal yang main-main.

Tiba-tiba perhatian Minho dan tamu undangan terpaku pada pintu gereja yang sudah dibuka. Tepat di sana, Yoo Ji Ae bersama sang ayah menarik perhatian banyak orang. Jiae sangat cantik dengan gaun pengantin warna putih yang menyelimuti badannya hingga ke kaki. Rambut panjangnya di gelung rapi, dengan tambahan jepit bunga warna putih yang menambah anggun Jiae hari ini.

Saat Jiae dan ayahnya berjalan menuju altar, para tamu undangan berdiri. Mereka tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Jiae yang menarik. Bahkan Minho sekalipun.

Ayah Jiae menyerahkan anaknya ke Minho. Pandangannya menunjukan kebahagiaan dan sedih. Bahagia karena sekarang anaknya akan menikah, sedih karena beliau sebagai orangtua akan melepas tanggung jawab pada Jiae. Tatapan ayah Jiae yang ditunjukan kepada Minho berisi peringatan untuk menjaga anaknya dengan baik. Dia mengerti arti tatapan itu dan mengangguk pelan, berusah menyakinkan.

Sekarang Minho dan Jiae saling berhadapan. Senyum malu-malu tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka membungkuk hampir sembilan puluh derajat untuk menghormati satu sama lain.

Dan saat inilah upacara janji pernikahan mereka dimulai! Kondisi keduanya tidak jauh berbeda. Cemas dan tidak percaya semua ini terjadi. Mimpi mereka empat tahun yang lalu terwujud hari ini. Mendengar pendeta membaca janji pernikahan, saat keduanya mengatakan bersedia, sampai pemasangan cincin, rasa bahagia dan haru tidak pernah padam di hati mereka.

Jiae menitikan air mata bahagia. Minho resmi menjadi suaminya. Sisa hidupnya akan selalu bersama lelaki ini. Melihat air mata itu turun, dengan sigap Minho menghapusnya. Ia tersenyum lebar, tanda kebahagiaannya.

Minho meraih tangan Jiae. Mereka saling berpeganan tanga. Mimpi mereka, cinta mereka, kesetiaan mereka, terbukti pada hari ini.

……….

Meski jika aku pergi terlalu jauh

Kau akan terus bersinar untukku

Teruslah berjalan

Tak perlu takut

Aku mencintaimu lebih dari siapapun

Dan kau izinkan aku untuk menunjukannya

.

Aku akan ada dalam hatimu…

END


Akhirnya publish juga ff ini.

baru sempet update karena sempat sibuk sama berbagai ujian di bulan maret. sebenarnya mau hiatus selama bulan maret, tapi gak jadi.

oke, silakan membacanya!

semoga kalian suka ^^

oh, iya… mau ngucapin selamat ulang tahun buat Kei yang udah gede. hehehe

cr. terjemahan : Evogeneration.blogspot.com

Advertisements

2 thoughts on “[ONESHOOT] All My Love Is For You

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s