Reset [Chapter 2]

RESET

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Babysoul as Lee Soojung – L as Kim Myungsoo

Romance – Sad – School Life – Hurt

PG17

[Pernah di publikasikan di sini dengan cast dan judul yang berbeda]

~~

Kisah ini terjadi disaat dia berumur 14 tahun. Gadis itu dapat merasakan hal aneh terjadi pada dirinya. Jantungnya terus berdegup kencang, suatu keindahan tersendiri dapat merasakannya… jatuh cinta.. cinta pertama.. bukankah suatu hal wajar untuk seorang gadis yang dalam masa pubertas? Disinilah awal terjadi kisahnya.. cinta pertama yang terbalaskan.. atau mungkin menyakitkan..

“jangan memberitahu siapapun tentang kita. Kau paham?”kata Myungsoo.

“Maksudnya?”

“maksudku.. hanya kita berdua saja yang tahu hubungan kita. Bagaimana?”

Soojung yang tidak mengerti apa-apa hanya tersenyum dan mengangukan kepalanya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu. Toh orang-orang tahu atau tidak tentang hubungan mereka Myungsoo akan tetap menjadi miliknya bukan?

“kalau begitu masuklah kedalam. Aku akan menghubungimu nanti..”kata Myungsoo.

“ya.. hati-hati di jalan myungsoo-ya,”

Myungsoo tersenyum manis kepada Soojung lalu dia pun mempersilahkan Soojung untuk masuk duluan dan setelah itu dia langsung berlari ke halte bus lagi.

.

.

.

Soojung duduk termenung di tempat duduknya. Ia bahkan tidak memperdulikan Yura dan Ara yang sibuk berbincang bersama. Ara yang merasa Soojung sedaritadi hanya melamun langsung mengajaknya berbicara.

Ya jangan suka melamun.. ayo gabunglah dengan kami berbicara,”kata Ara.

Eoh.. memangnya apa yang sedang kalian bicarakan?”tanya Soojung.

Ara mendadak diam. Yura melirik ke arah Ara lalu kembali melihat Soojung, “Dia patah hati.. Howon memutuskannya,”kata Yura.

“ye? Ya bagaimana bisa kalian.. ya ceritakan padaku!”pinta Soojung.

“sedaritadi aku sudah berbicara tentang itu tapi kau sibuk melamun!”dumel Ara.

Ya aku punya urusan sendiri. Yura-ya ayo ceritakan padaku!”paksa Soojung.

Yura pun menceritakan semuanya kepada Soojung. Soojung sedikit prihatin pasalnya ini pertama kalinya Ara sakit hati ketika hubungannya berakhir dengan seseorang. Biasanya dia memilih untuk mencari yang baru dibandingkan menangisi yang lalu.

“Ya aku akan meminta Howon kembali padamu!”kata Soojung setelah mendengar ceritanya.

“Kau bersungguh-sungguh?”senang Ara. Soojung mengangguk sambil mengeluarkan senyumannya.

“ngomong-ngomong Howon itu sahabatnya Myungsoo bukan? Mereka keluar main sering bersama..”kata Yura.

“Eoh mereka satu ekstrakulikuler. sama-sama suka basket,”kata Ara.

Basket.. Soojung mengingat hal itu baik-baik bahwa kekasihnya menggilai basket dan bersahabat dengan Howon. Disela-sela pembicaraan mereka tiba-tiba saja bell istirahat berbunyi.

“Soojung ayo cepat berbicara dengan Howon!”mohon Ara.

“Eoh.. kau ke kantin saja duluan dengan Yura aku akan mencari Howon di kelasnya”kata Soojung.

“Terima kasih Soojung-ah.. kau yang terbaik,”kata Ara sambil menepuk pundak Soojung.

Ara dan Yura terlebih dahulu pergi ke kantin sementara Soojung masih sibuk membereskan buku-bukunya. Setelah selesai membersihkan semuanya Soojung pun keluar dari kelas hendak pergi mencari Howon. Namun baru saja melangkahkan kakinya keluar dia berpapasan dengan Myungsoo yang ingin masuk ke dalam kelas. Keduanya tampak canggung tidak ada sapaan atau sedikitpun kata-kata keluar dari mulut mereka berdua. Soojung bergerak ke kiri hendak memberikan Myungsoo jalan namun Myungsoo pun juga bergerak ke arah kirinya. Myungsoo mengusap tengkuknya dan mempersilahkan Soojung untuk keluar duluan.

“kau keluar duluan saja,”kata Myungsoo.

“Terimakasih..”bisik Soojung.

Dengan buru-buru perempuan itu meninggalkan kelas dan Myungsoo yang melihat kegugupan Soojung hanya tersenyum tipis dan masuk ke dalam kelasnya. Soojung kini sudah berada di depan kelas 1C, kelas Howon. Soojung bertanya pada seseorang yang dia kenal apakah ada Howon di dalam dan orang itu mengangukan kepalanya. Soojung dengan hati-hati masuk ke dalam kelas Howon dan matanya kini tertuju pada sosok laki-laki yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Soojung dekati Howon dan ia pun berbicara padanya.

“bisa kita bicara?”tanya Soojung.

Howon yang semulanya duduk di atas meja langsung turun dan berbicara pada Soojung, “tentu.. apa masalah Ara?”

Soojung tersenyum malu kepada laki-laki itu. Howon ikut tersenyum dan langsung mengajak Soojung untuk pergi berbicara.

.

.

.

“ada apa dengan perempuan itu?”Tanya Howon.

“kenapa kau memutuskan hubungan kalian?”tanya balik Soojung.

“Aku merasa tidak nyaman dengannya.. semua orang menyukainya dan itu membuatku risih,”jawab Howon.

“kalau begitu kenapa kau memintanya menjadi pacarmu?”tanya Soojung lagi.

“hanya ingin mencoba lagi pula aku punya pacar yang lain dan aku menyukai orang lain lebih dari aku menyukainya,”jawab Howon enteng.

“Apa?”pekik Soojung.

Soojung tak bisa menahan suara lengkingannya lagi. Bagaimana tidak.. Howon adalah seorang playboy sementara Ara adalah playgirl. Pantas saja mereka tidak dapat bersatu walaupun mereka termasuk ke dalam kelompok yang sama.

“Hmm aku lapar.. apa kau masih ingin berbicara padaku?”tanya Howon. Soojung menganggukan kepalanya dengan polos. Howon lantas langsung menadahkan tangannya, “mana ponselmu?”pintanya.

Soojung mengeluarkan ponselnya yang ada di saku jasnya. Howon langsung mengambilnya, menekan nomor ponselnya, menyimpan dan juga memanggil dirinya sendiri.

“aku sudah menyimpan nomormu di kontak ku jadi hubungi aku!”kata Howon.

“Baiklah..”kata Soojung.

“aku pergi dulu manis,”pamit Howon.

Soojung masih terdiam di tempatnya. Dia tidak salah dengar bukan bahwa Howon memanggilnya manis? Soojung terkekeh pelan kemudian ia pun berjalan kembali untu menyusul Ara dan Yura yang ada di kantin.

.

.

.

Sampainya di kantin sambil menenteng nampan makannya Soojung mencari tempat duduk Ara dan Yura. Setelah melihat mereka Soojung langsung berjalan tergesah-gesah menghampiri mereka namun karena tidak hati-hati Soojung pun tersandung dan akibatnya seluruh makanan dan juga minumannya berserakan di lantas. Soojung yang malu langsung berdiri dan membersihkan tangannya yang sedikit kotor dan tidak sengaja manik matanya menangkap sosok Myungsoo yang tidak jauh darinya. Namun Soojung segera sadar saat mendengar suara tawa dari orang-orang. Soojung melihat semua penjuru kantin yang sedang mentertawakannya karena dia malu Soojung lantas langsung pergi meninggalkan tempat kejadian.

.

.

.

Soojung duduk sendiri di kelas. Ia bahkan menahan lapar dan dahaganya. karena merasa tubuhnya lemas Soojung langsung membaringkan kepalanya di meja tidak memperdulikan langkah kaki seseorang masuk ke dalam kelas.

Ya..”sahut seseorang.

Soojung mengangkat kepalanya dan sangat terkejut saat melihat orang yang ada di hadapannya kini.

“Soojung-ah.. ini untukmu,”kata orang itu.

Soojung melihat sebungkus roti dan juga susu kotak yang terletak di hadapannya. Perempuan itu tersenyum tipis dan langsung mengambil roti itu dan membukanya.

“Terimakasih Howon-ya..”kata Soojung.

“Sama-sama aku tahu pasti kau lapar dan juga sangat malu,”kata Howon.

“Kau benarsekali lagi terima kasih untuk bantuanmu ini.”

Howon hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Howon tersenyum saat melihat Soojung yang makan dengan lahapnya, “aku kembali ke kelasku. Jika ada yang lihat kita disini itu akan aneh. Oh ya aku menunggumu untuk menghubungiku. Jangan lupa,”pesan Howon.

Soojung menganggukan kepalanya setelah itu Howon langsung pergi meninggalkan ruang kelasnya.

.

.

.

Saat pulang sekolah Soojung duduk sendiri di halte bus. Dia menggenggam ponselnya di tangan. Tiba-tiba saja dia di kagetkan dengan seseorang yang duduk di sampingnya bahkan juga memanggil namanya.

“Soojung,”sahut orang itu.

Soojung melihat ke arah samping senyumnya langsung mengembang saat tahu dia dalah Myungsoo, “Ada apa Myungsoo?”tanya Soojung.

“Kau baik-baik saja?”tanya balik Myungsoo. Soojung mengerutkan keningnya dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Myungsoo, “itu yang di kantin tadi apa kau terluka atau apa?”Tanya Myungsoo.

“aku tidak apa,”jawab Soojung singkat.

“Kau sungguhan? Maaf aku tidak bisa membantumu,”sesal Myungsoo.

Soojung menepuk bahu Myungsoo. Ia menggelengkan kepalanya dan juga tersenyum, “Hei itu hal biasa aku memang perempuan yang ceroboh.”seru Soojung.

“be-benarkah? Sekali lagi maafkan aku dan sebagai tanda permohonan maafku aku akan mengantarkanmu sampai pulang,”ujar Myungsoo.

“tidak perlu jarak rumahku dan rumahmu sangat jauh,”tolak Soojung.

“Ah jangan protes!”

Soojung memalingkan pandangannya dan ia pun tersenyum tipis, “baiklah kalau kau memaksa..”

.

.

.

Saat Soojung dan Myungsoo sudah berada di depan rumahnya ponsel Soojung tiba-tiba saja berdering. Soojung membulatkan matanya saat melihat siapa yang menghubungi. Myungsoo yang penasaran juga memilih untuk mengintip namun dengan cepat Soojung langsung memasukan ponselnya kembali ke sakunya.

“siapa yang menghubungimu?”tanya Myungsoo.

“Ibuku menelponku,”jawab Soojung berdusta.

“benarkah? sepertinya ibumu sudah menunggu kepulanganmu sejak tadi. Segeralah masuk ke dalam rumah,”kata Myungsoo.

“Baiklah terima kasih banyak sudah mengantarkanku pulang. Hati-hati dijalan Myungsoo,”ucap Soojung.

“sama-sama Soojung,”balas Myungsoo.

Sebelum beranjak dari tempatnya perempuan itu membungkukan badannya kepada Myungsoo lalu berlari dengan cepat masuk ke dalam rumah. Myungsoo yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan untuk pulang.

.

.

.

Sampai di kamar Soojung langsung mengecek kembali ponselnya. Kebetulan sekali panggilan masuk kembali datang sehingga dengan sigap perempuan itu langsung mengangkatnya.

“Halo?”sapa Soojung.

“Halo kenapa lama sekali kau mengangkatnya? Dan kenapa jadi aku yang menghubungimu dahulu?”

“Howon-ah maaf aku baru sampai rumah,”sesal Soojung.

“Benarkah? Kalau gitu maaf aku tidak tahu..”

“Tidak masalah ada apa?”

“itu… ah tidak ada.. apa kau sudah makan?”

“belum.. bahkan aku belum sempat mengganti pakaianku. Kau sendiri?”

“Ah belum ya.. aku sedang makan. Apa kau mau?”

“tidak terima kasih.. aku akan makan masakan ibuku sendiri hehe,”

“ya sudah kalau begitu. Maaf menganggumu,”

“tidak menganggu kok..”

“sampai nanti,”

Pik.. telpon terputus Soojung hanya menggeleng kepalanya heran dan dia pun langsung mengganti pakaiannya dengan baju rumah

.

.

.

Beberapa hari kemudian

 

Cangung, sunyi dan datar. Kata-kata itu cocok untuk mendeskripsikan hubungan Soojung dan Myungsoo akhir-akhir ini. Tidak ada sapaan seperti dulu, tidak ada pembicaraan bersama di kelas. Keduanya tampak menjaga jarak satu sama lain dan juga oleh karena itu Soojung sedikit gusar. Cinta… seperti virus baginya. Keadaan kelas sedang ramai karena guru yang mengajar berhalangan hadir. Soojung sibuk duduk kursinya sambil menatap datar papan tulis yang penuh coretan gambar yang dibuat oleh teman sekelasnya. Yura yang sadar bahwa Soojung akhir-akhir ini lebih banyak diam langsung menghampiri dan menyapanya.

“kau punya masalah?”tanya Yura.

“Tidak punya. Aku baik-baik saja”jawab Soojung.

“kau berbohong.. ayo katakan padaku mana tahu kau akan lebih membaik,”bujuk Yura.

“tidak ada.. eng.. aku sedang memikirkan solusi untuk kakak sepupuku. Dia bercerita padaku masalah dirinya dan pacarnya.. menurutmu jika kau memiliki pacar namun orang lain tidak tahu itu.. apa itu wajar?”

“ah.. masalah cinta.. kenapa kau tidak menanyakannya kepada Ara?”kata Yura sambil melirik Ara yang sedang berbicara dengan myungsoo.

“tidak.. aku tidak mengerti dengannya. Ini masalah yang berbeda. Menurutmu bagaimana? Ayo tolong jelaskan padaku Yura-ya!”rengek Soojung.

“aku tidak ingin memberi solusi untukmu sebelum kau mengatakan yang sejujurnya,”

“Yura-ya ayolah?”

Yura hanya menggumam. Soojung menghela nafas berat dan ia memutuskan untuk menceritakan masalahnya kepada Yura, “Aku menyukai seseorang..”

Mulut Yura membentuk huruf O yang sangat sempurna. Baru kali ini dia mendengar bahwa Soojung menyukai seorang laki-laki.. ah bukan berarti ia bermaksud bilang Soojung abnormal, hanya saja Soojung tidak sepertinya dan Ara yang selalu terbuka untuk menceritakan hal tersebut.

“Siapa dia? Apa aku mengenalnya?”tanya Yura begitu penasaran.

“Kau sangat mengenalnya,”jawab Soojung.

Yura mengerutkan keningnya. Soojung mendekatkan bibirnya ketelinga Yura dan membisikan kepadanya, “aku… berpacaran dengan sepupumu,”

“Tidak dapat dipercaya!!”pekik Yura refleks.

Soojung langsung membungkam mulut Yura dengan tangannya dan semua murid di kelas menatap aneh ke arahnya begitu pula Ara dan Myungsoo yang sedang berbicara bersama.

Ya diam..”desis Soojung.

“le-pas-kan,”gumam Yura.

Soojung langsung melepaskan bungkaman tangannya dan mengelap tangannya dengan roknya sendiri.

“Lee Soojung jangan berbohong!”geretak Yura.

“tidak aku tidak berbohong,”kata Soojung dengan nada polos.

Pada akhirnya dengan suara yang amat pelan Soojung berusaha untuk menceritakan semuanya kepada Yura. Perempuan tersebut sangat kaget. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui hal itu? Rahasia antara teman dekatnya dan juga sepupunya sendiri.

“Bagaimana menurutmu? Kami renggang..”rengek Soojung.

“tidak masalah tapi coba tanyakan padanya apa dia menyayangimu. Seperti Ara yang selalu bertanya kepada pacar-pacarnya,”

“apa itu membantu?”tanya Soojung.

“mungkin aku akan mendoakanmu. Kau dan Myungsoo tidak buruk,”kata Yura.

“Baiklah kalau begitu..”balas Soojung.

.

.

.

Saat istrahat telah tiba Soojung langsung pergi meninggalkan kelas tanpa mengajak Ara ataupun Yura. Keduanya tampak bingung dan karena tidak ingin memperdulikan hal itu mereka berjalan ke kantin beriringan. Soojung kini sudah sampai di belakang atap gedung sekolahan mereka tampak seorang laki-laki kini sedang memunggunginya. Soojung berjalan terus sampai berada di belakang laki-laki itu dan sang laki-laki yang merasakan ada orang dibelakangnya langsung membalikan badan dan tersenyum padanya.

“kau datang aku kira tidak,”kata Howon.

“aku tentu datang bukankah kau bilang ada hal penting yang ingin di bicarakan. Apa itu?”tanya Soojung.

“Hm kau.. aku tahu kau adalah pacarnya Myungsoo—“

“Bagaimana? Bagaimana bisa..”potong Soojung.

“Hei apa kau lupa aku dan Myungsoo sahabatan? Dia memberitahu padaku,”

Mendengar perkataan Howon perempuan itu hanya menganggukan kepalanya dengan paham.

“Soojung.. kalau aku menyukaimu bagaimana?”ucap Howon.

Soojung mundur 1 langkah kebelakang. Di tatapnya laki-laki yang ada di hadapannya kini dengan pandangan tidak percaya. Soojung menggelengkan kepalanya. Howon tampak kecewa dengan reaksi Soojung.

“Kau menyukai myungsoo sungguhan?”tanya Howon.

Dengan anggukan kepala Soojung dapat menjawabnya. Howon mengusap hidungnya dan langsung berbicara dengan Soojung dengan nada lebih serius.

“kalau Myungsoo tidak menyukaimu bagaimana?”tanya Howon dengan sorot mata tajam.

Soojung kembali. melangkah mundur menjauh dari Howon, “aku tidak percaya. Dia bilang suka padaku,”jawab Soojung.

“Soojung-ah kau sangat polos. Mana mungkin dia menyukaimu,”ujar Howon.

“Kau berbicara omong kosong. Aku suka dia dan dia juga menyukaiku,”kata Soojung.

“Apa itu cinta pertama?”

Cinta pertama, bahkan Howon dapat menebaknya begitu. Apa Soojung sangat polos sehingga dapat terlihat sangat bodoh di hadapan Howon.

“kau mempercayai hal itu? Dan kau mempercayainya lagi jika itu adalah Myungsoo.. Lee Soojung putus saja dengan Myungsoo,”desak Howon.

“Howon-ssi kau temannya mana boleh begitu..”kata Soojung dengan nada tegas.

“Soojung.. kau mau jadi pacarku tidak?”

“kau hanya boleh jadi pacar Ara!”

“Ara?”

Howon mengendus kesal lantas dia melangkahkan kakinya dekat dengan Soojung. Soojung yang malas berhadapan lagi dengannya langsung membalikan badan dan pergi dari tempat itu.

“kau akan menyesal jika tahu semuanya,”lirih Howon.

.

.

.

Di dalam toilet sekolah gadis itu menangis sesegukan. Dia merasakan sangat sesak di dadanya setelah mendengar omongan Howon. Dia tidak tahu jelas apa nama sakit itu namun jika mendengar dari curahan hati Ara dia bisa merasakan bahwa yang dia rasakan kini adalah patah hati. Soojung terus menangis sambil memegang dadanya sesekali dia memukul dadanya sendiri karena rasa sakit itu tidak kunjung menghilang dari dirinya.

“Sakit..”isaknya.

Masih dengan tangisan Soojung berusaha meyakinkan dirinya bahwa omongan Howon adalah bualan. Oh ayolah gadis ini memang mudah tergoda oleh ucapan orang lain namun dia tidak akan percaya sampai semua itu benar dan memiliki bukti.

“tenanglah Soojung-ah. Howon berbohong padamu.. tidak mungkin..”

Setelah merasa tenang Soojung langsung mengusap airmatanya dengan tisu yang tersedia di toilet sekolahnya setelah itu dia kembali ke kelas.

.

.

.

Setelah Soojung sampai didepan kelas dia menghela nafas karena guru yang mengajar sudah berdiri di depan kelas sambil berbicara kepada teman-temannya. Soojung menghembuskan nafas lalu mengetuk pintu.

“Maafkan saya pak,”sesal Soojung.

“Duduklah tapi apa kau baik-baik saja? Kenapa matamu bengkak?”tanya bapak Ahn.

“Tadi kelilipan debu jadi saya mengucek kedua mataku. Maafkan saya,”bohong Soojung.

“baiklah silakan duduk,”kata bapak Ahn mengerti.

Soojung membungkukan badannya lalu ia kembali ke tempat duduknya. Tidak sengaja dia melihat ke arah Myungsoo yang menatapnya heran namun Soojung langsung mengalihkan perhatiannya dan duduk di tempatnya dengan tenang.

.

.

.

Saat pulang sekolah Soojung berjalan keluar dari gerbang sekolahnya namun tiba-tiba dari belakang seseorang menahan tangannya. Soojung lantas langsung melihat orang itu dan saat tahu itu Myungsoo dia melanjutkan langkah kakinya mengabaikan Myungsoo.

“Soojung-ah kau kenapa? Apa ada masalah?”tanya Myungsoo.

“Aku baik-baik saja Myungsoo. Aku lelah aku mau pulang cepat. Permisi,”pamit Soojung.

Soojung langsung berlari kecil ke halte bus sementara Myungsoo yang melihatnya pun menjadi gelisah.

.

.

.

Seperti perkataan Yura tadi Soojung langsung mengirimkan pesan kepada Myungsoo. Bukankah dia perempuan bodoh? Bukankah tadi myungsoo mengajaknya bicara tapi kenapa dia malah menghindar? Ah entahlah.. perempuan itu hanya merasakan gugup sekaligus resah berada di dekat pacarnya itu. Jemari Soojung dengan lihai menari di atas keypad ponselnya. Hanya pesan sederhana yang menanyakan apakah laki-laki itu mencintainya. Soojung berharap banyak bahwa Myungsoo akan membalasnya namun setelah 5 menit tidak ada balasan darinya. Waktu terus berjalan setelah 1 jam kemudian juga tak kunjung ada balasan. Soojung hanya menghela nafas dan berusaha menenangkan dirinya namun tetap saja air matanya terus. Perempuan itu menangis terisak dalam kesunyian di kamarnya. Menangis hanya karena cinta. Mungkin benar kata orang bilang bahwa cinta itu tidaklah selalu indah namun juga berujung kepedihan..

.

.

.

Ulangan matematika itu benar-benar membuat perempuan tersebut terus menerus menjambak rambutnya. Dia lupa untuk belajar ditambah ini adalah matematika. Matematika adalah titik kelemahannya, dia tidak pandai menghitung dan juga menghapal rumus. Namun saat melihat ke arah kanannya Soojung dapat melihat seorang laki-laki yang sedang tenang mengerjakan ulangan ini. Orang itu adalah Myungsoo, ia hanya tersenyum lirih jika mengingat kemarin. Lalu Soojung menghadap ke arah kirinya Soojung dapat melihat Ara yang sedang tersenyum sendiri saat melihat ke arahnya. Namun yang dilihat Ara bukanlah dirinya bahkan perempuan itu tidak sadar bahwa Soojung kini tengah melihat ke arahnya.

“Ada apa..”gumamnya.

.

.

.

Saat keluar main Soojung hendak ke kantin sendiri karena Ara sudah pergi terlebih dahulu. Tidak sengaja dia berpapasan dengan Myungsoo. Saat bersampingan Myungsoo membisikan sesuatu.

“Maafkan aku..”katanya.

Myungsoo masih terus berjalan sementara Soojung menghentikan langkahnya. Soojung melihat kebelakang dan menatap punggung Myungsoo yang semakin menjauh darinya. Perempuan itu menghela nafasnya kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

.

.

.

Soojung meletakan nampan di atas meja. Tanpa berkata-kata ia langsung memakan makan siangnya sementara Ara dan Yura hanya menatapnya dengan bingung. Saat sedang menyuapkan makanannya Soojung yang sadar sedang ditatap oleh temannya langsung bertanya dengan mulut yang penuh makanan.

“Kenapa melihatku?”tanya Soojung. Soojung menelan makannya setelah itu dia langsung memperhatikan kembali kedua temannya.

“Soojung kau agak aneh akhir-akhir ini. Kau kenapa?”Tanya Ara.

“Aku baik-baik saja,”kata Soojung.

“Apa masalah My—“

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir!”potong Soojung.

Yura menepuk mulutnya sendiri karena hampir saja keceplosan. Tiba-tiba saja Ara tersenyum senang dan meletakan sumpit makannya di atas mangkuk dengan rapi.

Ya.. aku menyukai seorang laki-laki,”kata Ara.

Yura dan Soojung bertukar pandangan, “Siapa lagi? Bukankah kau masih suka dengan Howon?”tanya Soojung.

“Howon.. ya aku masih menyukainya tapi dia menghindariku dia bilang dia menyukai seseorang di kelas kita. Aku juga tidak boleh kalah bukan?”

Soojung hanya menganggukan kepalanya dengan malas begitu pula Yura.

“lalu siapa yang kau suka?”tanya Yura.

“Myungsoo..”kata Ara dengan lantang.

Soojung langsung terbatuk mendengar pengakuan Ara. Matanya bahkan memerah sadar dengan keadaan Soojung lantas Yura langsung menjitak kepala Ara dan mengomel padanya.

“kau mana boleh menyukai sahabat pacarmu bodoh!”cibirnya.

Ara hanya diam dan menatap Yura dan Soojung secara bergantian. Dan kini tangannya menunjuk ke arah Soojung yang diam mematung.

“Kau pacar Myungsoo? ba-bagaimana bisa?”tanya Ara.

“apa yang tidak bisa di dunia ini,”jawab Yura.

“Heol tidak dapat dipercaya Myungsoo bilang dia tidak pacaran dengan siapapun..”kata Ara.

Mata Soojung semakin berkaca-kaca. Dia berusaha untuk tidak mengedipkan matanya. Lantas ia langsung berdiri dan pergi dari kedua temannya.

“apa aku salah?”tanya Ara polos.

“Aku tidak tahu.. aku pusing,”jawab Yura kesal.

“tapi kau sepupu myungsoo.. aku tidak percaya dia pacaran dengan myungsoo,”kata Ara dengan santai.

“Ih aku tidak tahu jangan tanya aku!”geram Yura.

Yura juga pergi meninggalkan kantin. Ara sendiri masih duduk di tempatnya sambil melanjutkan makannya dan sedikit berfikir.

.

.

.

Saat pulang sekolah Soojung yang hendak meninggalkan sekolah langsung menghentikan langkahnya saat matanya melihat pandangan yang tidak dapat dia percaya. Dia dapat melihat kedua punggung orang yang sangat dia kenali. Punggung milik Myungsoo dan juga Ara.

“maldo andwae..”lirihnya.

Dengan cepat perempuan itu langsung berlari untuk lebih cepat pulang.

.

.

.

“Kim Myungsoo..”

“Kenapa Lee Soojung?”

“Aku hanya merindukanmu..”

“Rindu? Haha kita selalu bertemu disekolah,”

“Kita dekat namun jauh,”

“Hei aku tidak mengerti kau sedang berbicara apa. Apa kau sedang sakit?”

“tidak, aku baik-baik saja. Kenapa tadi kau pulang bersama Ara?”

“Ada apa? Sepertinya kau tidak suka.. bukankah aku juga sering mengantarkanmu pulang?”

“tapi..”

“jangan cemburu..”

“Myungsoo-ya..”

“Ada apa lagi?”

“kau menyukaiku?”

“…… Soojung maaf aku dipanggil ibuku untuk makan. Nanti aku hubungi lagi,”

Panggilan telfon itu terputus tanpa persetujuan Soojung. Gadis itu menghela nafas kemudian mengacak-acat rambutnya frustasi. Ia tidak tahan dengan semuanya. Kenapa semua terasa berat, pikirnya.

.

.

.

Semenjak hari itu Soojung tidak pernah berhubungan lagi dengan Myungsoo, namun hubungan keduanya masih tetap berjalan atau mungkin bisa dibilang gantung. Hubungan Soojung dan Ara juga canggung namun keduanya masih tetap berjalan bersama. Ara juga sering main ke rumah Soojung dan mereka terkadang membahas PR bersama. Namun hari ini Ara tidak masuk sekolah karena sedang izin keluar kota. Soojung akhirnya menghabiskan waktunya bersama Yura. Yura tampak sedang membicarakan tentang kamarnya yang baru saja di dekorasi ulang, Soojung hanya menganggukan kepalanya menyaut perbincangan Soojung. Tiba-tiba saja Myungsoo duduk di samping Yura. Jantung Soojung berdetak kencang seperti biasanya dia hanya dapat melihati laki-laki itu tanpa berbicara dengannya.

“Ya Yura-ya aku pinjam tugasmu,”kata Myungsoo.

“Aku belum buat. Soojung sudah selesai. Pinjamlah dengan pacarmu,”celetuk Yura.

Myungsoo melihat ke arah Soojung dengan pandangan yang tidak dapat di artikan. Soojung hanya menundukan kepalanya dan mengeluarkan buku PR-nya yang ada di laci. Masih dengan kepala menunduk Soojung langsung memberikan buku itu dan Myungsoo mengambilnya dengan kasar.

“Terima kasih..”kata Myungsoo dingin.

Soojung meniup poninya hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Dia bahkan tidak bisa menangis lagi karena ia paham semua hanya sia-sia.

“ada apa dengannya?”tanya Yura.

“Entahlah..”jawab Soojung seadanya.

.

.

.

1 minggu kemudian

 

Soojung sedang menonton televisi dirumahnya dengan santai dan memakan snack. Tiba-tiba saja ponselnya yang ada di atas meja bergetar. Soojung langsung mengambilnya dan melihat pesan masuk yang ada di ponselnya.

Aku besok tidak sekolah.

–Myungsoo—

Soojung langsung membalas pesannya dengan heran.

Kenapa?

Apa kau sakit? Izin atau apa?”

–Soojung—

 

Lihat saja besok.

Hanya itu yang aku ingin bicarakan.

–myungsoo—

Lantas Soojung langsung menutup toples snack-nya dan ia kini duduk menghadap televisi. Namun dia tidak menonton acara yang sedang disiarkan melainkan dia kini sedang memikirkan apa yang terjadi pada pacarnya itu.

.

.

.

Besok harinya di sekolah Soojung yang baru saja datang langsung melihat dimeja guru untuk mencari surat izin. Saat melihat sebuah amplop ia lantas langsung membuka dan membacanya. DEG.. kecelakaan. Myungsoo ternyata izin sakit karena dalam masa pemulihan kecelakaan. Bagaimana Myungsoo bisa tidak memberitahunya. Tiba-tiba saja dari belakang seseorang menepuk pundaknya. Soojung tersenyum saat mengetahui itu adalah Ara.

“Soojung-ah.. kasihan sekali Myungsoo ia mendapatkan 5 jahitan di kakinya karena kecelakaan sore kemarin,”kata Ara.

Kening Soojung mengerut, “dari mana kau tahu?”tanya Soojung.

“Myungsoo. ia memberitahuku kemarin kalau dia kecelakaan bahkan dia menelponku. Ah jangan bilang myungsoo tidak memberitahumu bukankah kau pacarnya? Aku jadi tidak yakin kau adalah pacarnya..”ucap Ara dengan nada yang tidak enak didengar.

“Oh? A.. dia memberitahuku, aku hanya heran saja hehe.. kalau begitu aku mau duduk,”.

.

.

.

Saat keluar main Soojung langsung berlari meninggalkan kelas dan mencari seseorang di kelasnya. Soojung memanggil Howon yang sedang memainkan ponselnya. Saat melihat Soojung memanggilnya dengan cepat laki-laki itu langsung menghampiri Soojung dengan senyuman yang mengembang.

“Apa kau mau menjadi pacarku?”Tanya Howon.

Sinting. Itu yang dipikirkan Soojung tentang Howon.

“Bukan. Kau sahabat myungsoo bukan? Ada apa dengannya? Apa kau sudah menjenguknya?”

“Hahaha kenapa? Dia dirumah sakit Seoul aku sudah menjenguknya kemarin. Hanya luka ringan,”jawab Howon enteng.

“kau gila.. kata Ara dia mendapatkan 5 jahitan!”pekik Soojung.

Howon tertawa sinis, didekatkan mukanya dengan wajah Soojung sehingga jarak keduanya hanya beberapa senti, “kata Ara? Kau mengetahui ini dari Ara bukan dari Myungsoo sendiri. Apa dia benar pacarmu?”

Soojung menelan salivanya, dia membenarkan perkataan Myungsoo dalam hatinya. Bagaimana bisa Myungsoo memberitahunya sedangkan dia saja tidak.

“terima kasih informasinya..”kata Soojung datar.

Soojung berlari meninggalkan Howon. Laki-laki itu melihat Soojung dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

.

.

.

TBC

Advertisements

6 thoughts on “Reset [Chapter 2]

  1. Aigooo… Ini author.a sapa? Apa mungkin aku memang mengenalmu thor??. Ini kenapa ceritanya miripp ah anii, ini malah sama bingge ama kisahku hoh?. Ga ada yang beda semuanya sama, yura yang notabenya sahabat aku itu sepupu myungsoo howon yg suka soul, ara yang playgirl akhirnya suka myungsoo. Hubungan kita yg diem” yg tau bahkan jg temen baik yg disini jd ara sm yura, trs yura yg tau duluan, terus ara baru tau setelah dia bilang dia suka myung. ahhh pokonya sm semuaa!! Yg beda cuma kecelakaan.a aj, kalo yang di aku dia cm sakit, buka kecelakaan. Ini kenapa bisaa sama!! Aigoo.. Daebak, sampe histeris bacanya wweh. Next cepetann!!

    Like

    • Eh?? ini kisah nyata aku juga loh hahahahhahaha wah ternyata bukan aku aja yang mengalamin kejadian NGENES begini XD hihi~~

      Like

  2. Pingback: Chapter / Series | Secret Journey

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s