Chasing Love [Chapter 4]

Standard

Chasing Love copy

Chasing Love

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Lovelyz’s Lee Mijoo | Infinite’s Nam Woohyun

Infinite’s L | Lovelyz’s Seo Jisoo | etc

PG-15

Siapa sangka bahwa kita akan dipertemukan takdir dengan cara seperti ini?

Berterimakasihlah pada takdir yang membuatku bertekat untuk memburu cintamu.

.

.

.

“Heol…”

Woohyun melemparkan tas yang dia bawa kesembarang arah. Dia melihat kesekelilingnya. Kamar hotel bernuansa putih ini membuat Woohyun merasa nyaman walaupun baru saja beberapa detik masuk ke dalam ruangan ini. Pagi ini Woohyun buru-buru pergi ke Incheon karena memiliki tugas dadakan disini. Woohyun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekarang sudah pukul 1 siang sementara sejak tadi pagi dia tidak sempat untuk sarapan.

“Aku harus makan siang dulu,”gumamnya.

.

.

.

Setelah sampai di restauran hotel tempat dia menginap Woohyun langsung duduk dan pelayan datang menghampirinya. Setelah menyebutkan semua pesanannya pelayan langsung pergi untuk menyiapkan santap siang Woohyun. Sementara menunggu makanan datang Woohyun mengecek pesan yang masuk ke dalam e-mailnya satu persatu. Seandainya saja dia kemari bisa untuk liburan, batin Woohyun. Sudah sejak lama laki-laki itu ingin pergi berjalan-jalan di Incheon namun karena kesibukanya Woohyun tidak bisa memenuhi keinginannya sendiri.

.

.

.

Di sisi yang berbeda dua orang perempuan berjalan dengan santainya ke meja yang sejak tadi mereka pesan. Mereka adalah Mijoo dan Jisoo. Mijoo baru saja menyelesaikan wawancara bersama media dari Jepang menyangkut masalah brand yang saat ini dia bintangin.

“Apa makanannya masih lama?”tanya Mijoo.

“Mana aku tahu. Kita baru saja memesannya 20 menit yang lalu mungkin sebentar lagi baru selesai dimasak,”jawab Jisoo acuh.

Mijoo merengut karena merasa perutnya sudah sangat keroncongan. Selagi menunggu makanannya yang tidak tahu kapan bisa dia santap Mijoo melihat tamu-tamu lain satu persatu. Merasa tidak ada yang menarik Mijoo menjadi bosan. Dia ingin mengajak Jisoo berbicara namun tidak bisa karena Jisoo sedang sibuk mengurus jadwal yang harus dia kerjakan untuk satu minggu kedepan.

“Pelayan aku butuh sesuatu lagi!”ucap seorang lelaki.

Mijoo terdiam mendengar suara yang menurutnya tidak asing itu. Namun merasa hal itu mustahil Mijoo menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Jisoo yang lagi melihat ke arahnya Mijoo terheran-heran.

“Hei kau kenapa?”tanya Jisoo.

“Eo? Bukan apa-apa hehe,”jawab Mijoo dengan kikuk.

Walaupun berusaha untuk tidak memikirkannya namun hal itu selalu terbayangkan dibenaknya. Tetapi Mijoo merasa itu karena efek kerinduannya terhadap laki-laki itu saja.

.

.

.

Tidak Woohyun sangka bahwa pekerjaannya disini akan bertambah dua kali lipat dibandingkan dengan pekerjaannya yang di Seoul. Jam menunjukan pukul 9 malam dan Woohyun baru sampai di hotel. Saat dia hendak masuk ke dalam lift rombongan orang keluar dari lift sambil berbincang-bincang dan membuat Woohyun bingung. Seseorang tidak sengaja menyenggol Woohyun dan ia meminta maaf.

“Maaf tuan,”kata gadis yang menyenggol Woohyun.

“Ah tidak apa,”balas Woohyun.

“Kalau begitu saya duluan,”pamitnya.

“Tunggu sebentar! Kalau boleh tahu kenapa banyak yang pergi ke arah aula?”tanya Woohyun.

“Oh kami ingin menyaksikan fashion show yang lagi diselenggarakan disana. Pengunjung hotel ini boleh menontonnya,”jawabnya.

Woohyun berfikir sejenak. Karena dia tidak ada lagi pekerjaan sepertinya menyaksikan pertunjukan bukanlah hal yang buruk.

“Apa aku boleh ikut denganmu?”Tanya Woohyun.

“Tentu. Ayo!”ajaknya.

.

.

.

Woohyun berjalan bersama rombongan gadis tersebut. Ketika sudah masuk kedalam ruangan Woohyun memisahkan diri dan mencari tempat. Saat melihat sebuah bangku di depan ada yang kosong untuk satu orang Woohyun langsung bergegas kesana. Tanpa berlama-lama Woohyun langsung duduk dan mulai menyaksikan acara yang sejak tadi sudah di mulai.

.

.

.

Dibelakang panggung Mijoo sedang menunggu bagiannya untuk kembali keluar memperlihatkan baju yang dia kenakan. Jisoo memberikan semangat untuk Mijoo karena baju yang dipakainya saat ini cukup berat apalagi dibagian kepalanya. Ya, Mijoo memang maskot utama dari acara ini makanya dia dipercaya membawakan baju-baju yang memang menjadi topik utama untuk fashion show hari ini. Setelah menunggu akhirnya Mijoo keluar dari belakang panggung. Senyumnya terus bersinar dan pandangan matanya terus kedepan. Dia fokus untuk menampilkan yang terbaik agar hasil foto yang di abadikan oleh jurnalis akan tampak lebih cantik. Setelah sampai di bagian depan Mijoo berhenti sejenak dan melihat kesana kemari seperti biasanya. Kemudian Mijoo yang sudah merasa cukup untuk berhenti langsung membalikan badannya namun dia dikagetkan saat melihat sosok seseorang yang sangat dia rindukan saat ini berada disana sambil melihatnya dengan pandangan kaget juga.

“Woohyun-ssi?”batinnya.

Mijoo menggelengkan kepalanya karena merasa pikirannya sedang kacau. Dengan penuh rasa profesional Mijoo kembali fokus untuk segera menyelesaikan pertunjukannya.

.

.

.

Woohyun berdiri di depan pintu keluar tanpa tujuan yang jelas. Dia sangat yakin yang dilihatnya adalah Mijoo maka dari itu dia menunggu di sini. Satu persatu orang yang keluar dia amatin mana tahu dia akan bertemu Mijoo atau Jisoo. Setelah menunggu lama seperti orang gila akhirnya seseorang yang dia tunggu keluar juga. Karena Mijoo berjalan tanpa melihat kesamping dia tidak bisa tahu disana ada Woohyun maka pria itu berjalan menghampiri Mijoo dan menahan tangannya. Awalnya Mijoo sangat kaget namun saat tahu orang itu adalah Woohyun dia tertegun. Ternyata sejak tadi dia tidak berhalusinasi, Woohyun benar ada disini!

“Mijoo-ssi kau disini juga?”Tanya Woohyun.

“Oh Nam Woohyun-ssi kau di hotel ini juga?”tanya Jisoo.

Woohyun menganggukan kepalanya dan kembali memfokuskan pandangannya ke Mijoo, “tidak aku sangka kita bertemu disini,”kata Woohyun.

“A..apa yang kau lakukan ditempat ini?”tanya Mijoo heran.

“Aku ada tugas di kota ini. Apa kau sedang sibuk? Jika tidak aku ingin mengajakmu berbicara…”balas Woohyun.

“Jisoo-ya kau kembali ke hotel saja duluan aku mau berbicara dengan Woohyun-ssi. Apa boleh?”Tanya Mijoo sambil menatap Jisoo.

Jisoo tersenyum dan mengacuhkan jempolnya ke Mijoo lalu dia pergi meninggalkan kedua orang itu bersama. Setelah kepergian Jisoo tampak jika Woohyun bingung apa yang harus dia lakukan sampai akhirnya Mijoo lah yang pertama kali berbicara.

“Kita mau berbicara dimana?”tanya Mijoo.

“Bagaimana kalau jalan-jalan diluar hotel saja?”usul Woohyun.

Call!”

.

.

.

Angin malam yang berhembus kencang tidak menyurutkan niat orang-orang untuk berjalan. Terbukti jam sudah menunjukan pukul setengah 10 malam namun jalanan masih ramai di penuhi pejalan kaki yang berjalan berpasangan termasuk Woohyun dan Mijoo.

“Apa kau kedinginan?”tanya Woohyun.

“Aku baik-baik saja,”dusta Mijoo. Padahal tangannya sudah terasa akan membeku karena kedinginan. Dia tidak memakai pakaian yang tebal karena pertemuannya dengan Woohyun benar-benar tidak di duga.

“Baiklah kalau begitu,”balas Woohyun.

Woohyun sadar bahwa Mijoo tidak baik-baik saja saat ini karena dia melihat sedari tadi Mijoo terus menggosokan kedua telapak tangannya. Pasti kedinginan, batin Woohyun.

“Mijoo-ssi lihat disana,”tunjuk Woohyun ke arah timur.

Seperti di sugesti Mijoo langsung melihat ke arah yang di tunjuk oleh Woohyun namun Mijoo tidak melihat apapun. Saat hendak melihat Woohyun dia dikagetkan oleh Woohyun yang mendadak menggenggam tangannya.

“Woohyun-ssi….”

“kau berbohong rasakan tanganmu ini begitu dingin seperti es batu,”potong Woohyun.

“Maaf..”sesal Mijoo.

“Sepertinya kita harus cari tempat menghangatkan diri dulu,”ujar Woohyun.

“Dimana?”tanya Mijoo heran.

“Aku melihat sesuatu saat berjalan pulang ke hotel. Ayo aku tunjukan!”

Kedunya berjalan ke tempat yang akan ditunjukan oleh Woohyun dengan bergandengan tangan. Mijoo menundukan kepalanya agar Woohyun tidak melihat pipinya yang kini memerah akibat perbuatannya.

.

.

.

Di Seoul seorang lelaki berpakaian tertutup berjalan dengan penuh hati-hati waspada jika seseorang dapat mengenalinya. Kim Myungsoo tanpa di temani oleh manager pribadinya berjalan seorang diri di pinggir jalan untuk pergi kesuatu tempat. Kini Myungsoo sudah berdiri di depan toko perhiasan yang sudah di tutup namun karena sudah membuat janji dengan pemilik toko dia dengan mudah masuk kedalam toko yang belum sepenuhnya di tutup.

“Kau sudah datang Myungsoo-ssi,”kata Lee Soojung.

“Ah ya aku bisa datangnya malam. Maaf karena telat Soojung-ssi dan membuatmu menungguku,”sesal Myungsoo.

“Aigoo tidak masalah sebagai teman satu sekolah dulu sangat senang aku bisa membantumu apalagi aktor terkenal sepertimu,”kekeh Soojung.

“Jangan berbicara seperti itu aku menjadi malu. Ngomong-ngomong mana pesananku?”tanya Myungsoo.

Soojung langsung mengeluaran pesanan spesial Myungsoo dari laci dan menunjukannya pada Myungsoo. Setelah itu Soojung bertanya pada Myungsoo bagaimana pendapatnya tentang cincin khusus itu.

“Ini seperti dugaanku. Terima kasih banyak atas bantuanmu,”kata Myungsoo.

“Sudah sepatutnya aku membantumu. Ngomong-ngomong mengenai ukuran apa kau yakini tu cocok untuk orang itu?”tanya Soojung.

“Entahlah sepertinya bisa,”jawab Myungsoo dengan entengnya.

“Hmm aku mengerti,”gumam Soojung.

“Kalau begitu aku pulang dulu dan tolong jangan beritahu siapapun tentang kedatanganku kemari untuk membeli cincin wanita!”titah Myungsoo.

“Tenang saja aku bisa menutup rapat mulutku,”

Setelah menyimpan dengan benar di dalam saku jaketnya Myungsoo keluar dari toko dengan terburu-buru untuk segera sampai di mobilnya. Walaupun tertutupi oleh syal Myungsoo mengembangkan senyumnya tiada henti membayangkan bagaimana reaksi Mijoo saat dia memberikan cincin ini kepadanya.

.

.

.

Udara yang semulanya terasa sangat dingin menjadi terasa hangat ketika mereka berada di dekat penjual ubi bakar. Uap panas yang keluar dari kompor membuat rasa dingin hilang begitu saja. Mijoo tersenyum bahagia saat ubi manis pesanannya sudah matang. Woohyun membelah dua ubi itu dan memberikannya untuk Mijoo.

“Makan pelan-pelan karena ini begitu panas,”ujar Woohyun.

“Aku mengerti,”balas Mijoo.

Perlahan Mijoo mencicipi ubi itu. Rasanya benar-benar manis dan sudah lama dia tidak memakan ubi seperti ini di pinggir jalan. Terakhir kali dia pergi disaat dia masih menjadi seorang trainee.

“Wah ini sangat enak dan tentunya membuatku terasa hangat. Terima kasih Woohyun-ssi,”kata Mijoo.

“iya sama-sama selama kau senang aku juga senang,”balas Woohyun sambil tersenyum.

“Tapi ngomong-ngomong pertemuan kita disini sangat tidak di duga, bukan? Aku tidak menyangka kalau kau akan pergi ke tempat ini juga dan berada di hotel yang sama denganku,”oceh Mijoo.

“Mungkin itu sudah takdir kita,”celetuk Woohyun.

“Heol maksudmu?”heran Mijoo.

“Maksudku Tuhan sudah menggariskan takdir seseorang untuk saling bertemu satu sama lain dan mungkin itu sebuah pertanda,”ucap Woohyun malu-malu.

“Hmm begitu tapi aku tidak mengerti,”gumam Mijoo sambil menyantap ubinya.

“Apa kau pernah menyukai seseorang? Atau mungkin sedang menyukai seseorang,”tanya Woohyun.

“Aku pernah menyukai seseorang namun sekarang tidak lagi. Dan sekarang sepertinya aku sedang menyukai orang lain,”jawab Mijoo tersipu malu sembari melirik Woohyun yang sedang melihat ke tanah.

“Ah begitu ngomong-ngomong kenapa tidak suka lagi dengannya?”tanya Woohyun dengan nada cemburu?

“Aku terlalu takut untuk itu. Banyak orang yang melihat ke arahnya dia tidak pantas untukku,”

“ah begitu…”gumam Woohyun.

“Ya begitulah Woohyun-ssi,”

“Kalau ada yang menyukaimu apa yang akan kau lakukan?”tanya Woohyun penasaran.

“Aku menyimpan perasaan untuk seseorang saat ini mungkin aku akan menolaknya atau memberikan kesempatan kepadanya,”

Suasana terasa sunyi setelah Mijoo menjawab pertanyaan Woohyun. Seharusnya Woohyun tidak perlu menanyakan pertanyaan bodoh itu. Rasa cemburu membuatnya tidak ingin berbicara lagi begitu pula Mijoo yang sudah kehabisan kata-kata dan terlalu asik untuk memakan ubi manis itu.

.

.

.

Beberapa hari kemudian Woohyun memutuskan untuk segera pulang karena dia masih memilki banyak pekerjaan di Seoul. Saat akan check out tidak segaja dia bertemu dengan Mijoo yang hendak keluar dari hotel. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu karena Woohyun sendiri yang memilih untuk menghindari Mijoo.

“Woohyun-ssi kau kembali ke Seoul hari ini?”tanya Mijoo.

“Ah ya aku harus segera kembali,”jawab Woohyun.

“Sayang sekali kalau begitu,”kata Mijoo dengan nada putus asa.

“Aku harus cepat kalau begitu aku duluan karena rental mobil yang aku pesan sudah di depan,”balas Woohyun.

“Ayo bertemu ketika aku kembali ke Seoul,”ajak Mijoo.

“Kau bersungguh-sungguh?”tanya Woohyun tidak percaya.

“Tentu aku akan menghubungimu setelah aku kembali,”jawab Mijoo.

Mijoo melambaikan tangannya untuk Woohyun. Laki-laki yang sejak tadi diam langsung mengembangkan senyumannya dan melambaikan tangan kembali untuk Mijoo setelah itu Woohyun langsung pergi meninggalkan Mijoo. Melihat perkataan Mijoo barusan membuat Woohyun membangkitkan semangatnya untuk kembali mendekati Mijoo. Setidaknya dia harus berusaha mengatakan perasaannya untuk wanita idamannya itu.

.

.

.

Akhirnya semua acara di Incheon sudah Mijoo selesaikan dengan baik dan sukses. Mijoo kini sudah kembali ke rumahnya tepat 1 minggu setelah acara selesai. Baru saja Mijoo hendak memejamkan matanya beritirahat sejenak ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk ke dalam kotak masuk ponsel Mijoo lantas gadis itu membacanya.

Aku tahu hari ini kau pulang.

Kau tahu? rating dramaku bahkan melebihi 30%!

Kau harus datang nanti malam ke restauran Tasty jam 7.

-Myungsoo—

Mijoo menepuk jidatnya karena lupa perkataan Myungsoo pekan lalu. Dia tahu bahwa drama itu memiliki rating yang sangat tinggi tapi dia benar-benar lupa untuk ucapan Mijoo yang mengajaknya untuk makan malam bersama.

Aku akan menunggumu disana.

Awas jika kau tidak datang!

-Myungsoo—

Tiba-tiba Mijoo teringat akan sesuatu hal bahwa dia janji dengan Woohyun akan mengajaknya bertemu ketika dia sampai di Seoul. Sepertinya dengan jalan bersama Woohyun akan menghilangkan –sedikit rasa tidak enak hati karena Mijoo tidak memiliki sedikitpun niat untuk pergi bersama Myungsoo. Maka dari itu Mijoo langsung menghubungi Woohyun.

“Mijoo-ssi apa kau sudah sampai di Seoul?”

“Ya aku baru saja sampai makanya aku menghubungimu.”

“Aku senang kau sampai dengan selamat,”

“Terima kasih. Ngomong-ngomong aku ingin mengajakmu untuk bertemu malam ini bagaimana?”

“kebetulan aku ingin membicarakan sesuatu. Bagaimana aku yang menentukan tempatnya dan menjemputmu nanti malam?”

“baiklah terserah kau saja,”

“Aku akan menjemputmu jam 7,”

“Hmm sampai jumpa nanti Woohyun-ssi,”

“Ya, sampai jumpa nanti..”

.

.

.

Malam harinya Mijoo sudah bersiap dan berdandan cantik untuk menyambut kedatangan Woohyun. Membayangkan Woohyun menghampirinya saja sudah membuat jantungnya berdebar dengan keras. Oh ayolah Mijoo sudah lama tidak merasakan hal ini. Mijoo mungkin tidak dapat percaya bahwa sebenarnya dia sudah jatuh cinta kepada Woohyun karena pertemuan mereka baru beberapa kali namun inilah kenyataannya.

Tin..tin..

Bunyi klakson mobil membuat Mijoo kaget dan degup jantung kembali berdebar. Mijoo menjinjing tasnya dan langsung keluar untuk menghampiri Woohyun.

.

.

.

Diluar Woohyun sudah berdiri di depan mobilnya dan melambaikan tangan saat melihat sosok Mijoo. Buru-buru Mijoo mengunci pintunya kemudian menghampiri Woohyun yang sudah menunggu sejak tadi.

“Apa aku lama?”Tanya Mijoo dengan nada tak enak hati.

“Tidak sama sekali. Ayo segera berangkat karena aku sudah memesan tempatnya dari tadi,”jawab Woohyun.

Woohyun membantu Mijoo untuk membukakan pintu mobilnya lalu menutupnya untuk Mijoo setelah itu Woohyun berjalan ke kemudinya dan mereka segera berangkat ke restauran yang di pesan oleh Woohyun.

.

.

.

Selama perjalanan menuju restauran pilihan Woohyun ada yang terasa aneh di benak Mijoo. Dia merasa familiar dengan jalan menuju kesana. Karena penasaran Mijoo bertanya kepada Woohyun kemana mereka akan pergi.

“Kita mau makan dimana?”Tanya Mijoo.

“Aku memesan tempat di restauran China di daerah Hongdae yang terkenal itu. Kau pasti tahukan restauran yang aku maksud?”tanya balik Woohyun.

Mijoo menganggukan kepalanya tetapi saat sadar akan suatu hal dia tercengang. Restauran China yang dimaksud oleh Woohyun sangat dekat jaraknya dengan restauran Tasty yang dibilang Myungsoo.

“Apa ada yang salah Mijoo-ssi? Kau tidak suka masakan China?”tanya Woohyun.

“ah… bukan apa-apa aku hanya senang kau mengajakku makan disana. Sudah lama aku tidak makan di restauran China,”dusta Mijoo sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Untunglah kau suka. Jika tidak suka aku bisa batalkan dan mencari tempat lain,”ujar Woohyun.

.

.

.

Makan malam ini disantap Mijoo dengan lahap. Selain karena cita rasa makanan memang begitu enak dia senang bisa makan bersama Woohyun. Ruangan yang dipesan Woohyun sangat private sehingga tidak ada yang bisa menganggu privasi mereka.

“Selagi makan apa boleh aku berbicara?”tanya Woohyun.

“Tentu, apa yang ingin kau bicarakan?”kata Mijoo.

“Begini…. aku memang baru mengenalmu beberapa waktu belakangan ini. Apa menurutmu aku seperti parasit? Maksudku kita sering bertemu hanya berdua tapi—“

“Aku tidak memiliki masalah dengan itu,”potong Mijoo.

“Lalu apa pendapatmu jika tahu kalau ada seseorang yang jatuh cinta padamu bahkan sebelum bertemu?”tanya Woohyun.

“Tidak dapat dipercaya. Apa itu nyata haha?”heran Mijoo sambil tertawa kecil.

“Ini benar dan aku sedang mengalaminya. Lee Mijoo-ssi, aku menyukaimu. Ah tidak aku mencintaimu,”aku Woohyun dengan nada serius.

Mijoo langsung menghentikan aktivitas memakannya dan menatap Woohyun tidak percaya. Dia tidak bermimpikan saat ini mendengar pengakuan cinta dari seseorang yang dia sukai?

“Mijoo-ssi saat di Incheon kau berkata sedang menyukai seseorang dan aku fikir itu adalah penghalangku untuk mendekatimu, awalnya aku ingin menyerah tetapi setelah aku fikir lebih baik mengakuinya padamu walaupun akhirnya akan ditolak,”aku Woohyun.

“Aku…..”

Drrrtttt…

Ucapan Mijoo terhenti saat ponsel Woohyun yang ada di atas meja bergetar. Woohyun melihat siapa yang menghubungi saat tahu itu Jihyun dia langsung meminta izin pada Mijoo untuk mengangkat panggilan itu sebentar.

.

.

.

Senyum Mijoo terus mengembang. Hatinya terasa berbunga-bunga mendengar pengakuan Woohyun barusan. Ini bukanlah hal yang pernah dia bayangkan bahwa Woohyun juga tertarik dengannya. Saat suara pintu terbuka Mijoo langsung menoleh dan tersenyum pada Woohyun. Woohyun kini sudah duduk dihadapannya dan Mijoo bertanya kepadanya.

“Kenapa dengan Jihyun eonnie?”tanya Mijoo.

“Dia bilang sedang sakit dan memintaku mengujunginya,”jawab Woohyun.

“Apa ini tidak apa-apa?”tanya Mijoo tidak enak.

“Tenang saja aku bilang kepadanya aku akan datang walaupun terlembat. Hmm ngomong-ngomong Kim Myungsoo itu teman satu agensimu, kan?”kata Woohyun.

“Myung..myungsoo sunbae? Iya memangnya kenapa?”heran Mijoo.

“Dia menjadi daftar pencarian nomor 1 di internet saat aku lihat beritanya ternyata dia kecelakaan didaerah ini,”balas Woohyun.

“Apa? Kau tidak berbohongkan? Bagaimana bisa…”panik Mijoo.

Keringat bercucuran di dahinya. Tangan Mijoo bergetar hebat mendengar kabar itu. Dia takut bahwa penyebab Myungsoo kecelakaan adalah dirinya. Kebahagiaan yang tadi menyelimuti hatinya menjadi sirna dan digantikan oleh rasa berdosa yang begitu tebal. Apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai Myungsoo bisa kecelakaan.

“Mijoo-ssi kau—“

“Woohyun-ssi lebih baik kita pulang bukannya Jihyun eonnie sedang sakit? Tidak baik kau disini disaat kakakmu sedang sakit,”potong Mijoo.

“Tapi kau belum menjawabnya aku ingin mendengar jawabanmu,”protes Woohyun.

“Masih ada hari esok aku janji akan menjawabnya,”ujar Mijoo.

“Kau berjanji?”tanya Woohyun meminta kepastian.

Mijoo tersenyum sambil menganggukan kepalanya untuk meyakinkan Woohyun. Melihat jawaban Mijoo laki-laki itu langsung menghembuskan nafasnya.

“Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang,”ucap Woohyun mengalah.

Mijoo langsung membereskan tasnya dan segera bangkit dari kursi. Sungguh pikirannya sangat kacau setelah mendengar kabar dari Myungsoo. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.

.

.

.

TBC

Advertisements

4 thoughts on “Chasing Love [Chapter 4]

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s