Reset [Chapter 4]

Reset

RESET

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Babysoul as Lee Soojung – L as Kim Myungsoo

Romance – Sad – School Life

PG17

 .

.

.

.

.

Masih ada sisa waktu 5 menit sebelum bell berbunyi dan Soojung memilih untuk mendengarkan sebuah lagu terlebih dahulu memakai earphonenya. Saat sedang asik mendengar alunan nada yang berasal dari ponselnya itu dia dikagetkan dengan seseorang yang menyeret sebuah kursi ke depan tempat duduknya,

“Heol kau siapa?”tanya Soojung kaget.

Soojung melepaskan earphonenya dan menatap laki-laki –yang menurutnya aneh—ini dengan pandangan bingung. Laki-laki itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Kenalkan aku Baro,”sapanya.

Perempuan itu menerima uluran tangan Baro dan kini mereka saling berjabat tangan. Setelah jabatan tangan terlepaskan Baro mengajak Soojung untuk berbicara lagi.

“Kalau butuh bantuan kau boleh memintanya padaku,”tawar Baro.

“Terima kasih Baro-ya aku cukup senang dapat bertemu teman sebaikmu dihari pertamaku sekolah,”kata Soojung.

Baro tersenyum kepada Soojung begitu pula perempuan itu. Tiba-tiba saja Myungsoo masuk ke dalam kelas dan menatap aneh Soojung dan Baro.

Ya jangan merubah letak kursi.. sebentar lagi guru Kim masuk,”oceh Myungsoo.

Baro langsung berdiri dari duduknya dan meletakan kursi ke tempat semulanya.

“Aku mengertyi jangan terlalu sensitif,”kata Baro.

Myungsoo hanya mengangkat kedua bahunya dan berjalan ke tempat duduknya. Tak lama kemudian Hani masuk ke dalam kelas. Myungsoo berteriak memanggil Hani dan menyuruhnya untuk menghampiri dirinya. Soojung menatap Myungsoo dan Hani bergantian, Baro yang sadar akan tatapan Soojung langsung menyaut.

“ada gosip yang bilang Myungsoo suka dengannya,”bisik Baro.

“Baro-ya kau suka bergosip? hahaha,”kekeh Soojung.

Baro mengusap tengkuknya dengan muka yang kini sudah merah padam, “Maaf.. itulah alasan kenapa laki-laki dikelas ini tidak mau berteman denganku,”

“Sungguh? Kasihan sekali kau.. kalau begitu kau bisa menjadi teman dekat dan kita bergosip bersama haha,”tawa Soojung. Baro pun kini ikut tertawa mendengar perkataan Soojung.

.

.

.

Soojung bersama Baro berjalan ke depan untuk menunggu jemputan dari supir mereka. Tampaknya Soojung sangat suka berada di dekat Baro begitu pula laki-laki itu walaupun mereka baru kenal beberapa jam. Saat sedang putih mendekat Baro langsung berpamitan kepada Soojung.

“Soojung-ah aku sudah di jemput.. kalau begitu aku pulang. sampai jumpa besok,”pamit Baro.

“ya sampai jumpa,”ujar Soojung.

Baro menepuk pelan bahu Soojung lalu dia pun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh supirnya. Kini Soojung berdiri sendirian walaupun kini banyak anak-anak yang juga menunggu jemputan mereka. Tiba-tiba saja seseorang berdiri disamping Soojung saat melihat siapa orang itu Soojung langsung memasang tampak cuek dengan kikuk.

“kau belum di jemput?”tanya Myungsoo.

“bukan urusanmu,”jawab Soojung sambil mengalihkan pandangan.

“Kau tidak pulang naik bus lagi biar aku bi—“

“aku sudah dijemput. Sampai jumpa,”potong Soojung.

Soojung buru-buru masuk ke dalam mobil yang baru saja berhenti di depannya dan pastinya mobil itu adalah mobil jemputannya. Kebetulan sekali.

.

.

.

Myungsoo berjalan kaki untuk pulang karena rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Saat dijalan dia melihat seorang bibi yang sedang berjualan dilapak sederhana miliknya. Karena penasaran laki-laki itu pun menghampirinya.

“bibi apa yang kau jual?”tanya Myungsoo sambil melihat-lihat.

“aksesoris perempuan.. Nak belilah untuk kekasihmu ini sedang promo beli 2 hanya 2500 won jika beli satu 1400 won,”kata si bibi.

“kenapa beli satu mahal sekali bi,”oceh Myungsoo.

“Ya maka dari itu belikan 2.. lebih murah bukan?”

“baiklah aku akan beli tapi aku bingung yang mana,”celetuk Myungsoo.

Penjual aksesoris itu memilihkan dua buah jepit rambut untuk Myungsoo. yang satu berbentuk bunga dan yang satu berbentuk hati.

“Nah berikan ini untuk kekasihmu. Cantik bukan?”

Myungsoo menganggukan kepalanya dengan cepat dia langsung mengeluarkan uangnya dari saku dan membayar untuk jepit rambut itu.

“Terima kasih banyak bi,”kata Myungsoo setelah menerima bungkusan tersebut.

“Sama-sama sering-seringlah kemari,”

Myungsoo hanya tersenyum tipis dan lantas dia langsung berjalan kembali untuk pulang ke rumahnya. Saat dijalan dia terus bersenandung pelan, “semoga dia menyukainya..”gumam Myungsoo.

.

.

.

Soojung masuk ke dalam rumahnya dengan lesuh dan diapun langsung disambut oleh Nara, “Sayang bagaimana hari pertama sekolahnya?”. Soojung langsung duduk di sofa dan memejamkan matanya lalu dia menjawab pertanyaan ibunya.

“Huft begitulah bu..”keluh Soojung.

“kalau kau tidak suka biar ibu bilang ke ayahmu agar cari sekolah lain,”tawar Nara.

“Jangan bu! Aku suka disana hanya saja ada sesuatu hehe..”tolak Soojung.

“Ada apa? Apa kau bertemu dengan teman SMP-mu dulu di sini? Mana tahu kau masih mengingat salah satu dari mereka,”tanya Nara.

“Aku tidak ingat siapapun disini,”dusta Soojung.

“kau harus mencintai Korea.. jangan merengek kembali ke Singapura,”

“Aku tahu bu bagaimana pun darah yang mengalir ditubuhku ini dari keturunan Korea,”oceh Soojung.

Nara hanya terkekeh mendengar jawaban anaknya ia pun berjalan menuju dapur.

“ibu sudah buatkan makan siang untukmu. Kalau mau makan cepat ke dapur!”seru Nara

“Baiklah aku ganti baju dulu..”

Soojung berjalan menuju kamarnya dan setelah mengganti pakaian dia berjalan ke dapur untuk menikmati makan siangan buatan ibunya yang tercinta.

.

.

.

Kring..kring..kring..

Alarm di pagi buta itu sukses membuat tidur seorang laki-laki terganggu. Laki-laki itu pun langsung menekan tombol tunda. Setelah 5 menit kemudian alarm berbunyi kembali karena masih ngantuk laki-laki itu pun langsung menekan tombol matikan tanpa dia sadari kini ia telah melakukan kecerobohan. 30 menit kemudian laki-laki itu bangun dari tidurnya. Ia duduk di atas tempat duduknya dengan mata masih terpejam.

“Kim Myungsoo kau libur ya?”teriak seseorang.

Saat mendengar teriakan dari luar kamarnya ia membuka matanya dengan terpaksa. Diliriknya jam dinding yang tertempel di kamarnya, tepat di hadapannya. Mata sipit Myungsoo membesar pasalnya ini sudah pukul 8.45 menit dan dia masuk sekolah jam 9 pagi!

“Ibu!!!!! Kenapa tidak membangunkanku!”pekik Myungsoo.

Laki-laki itu dengan cepat langsung menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia hanya mencuci muka dan menyikat giginya setelah selesai dia keluar dari kamar mandi dan mengganti piyamanya dengan baju seragam sekolah. Setelah itu dengan tergesah-gesah laki-laki itu memakai minyak rambut dan parfum. Untung saja dia sudah menyusun buku untuk besok Myungsoo langsung menyandang tasnya dan keluar. BRAG..pintu kamar laki-laki itu ia tutup dengan kencang namun tak lama kemudian Myungsoo masuk ke dalam kamarnya lagi dan mencari sesuatu didalamnya.

“Dimana..dimana….”gumamnya.

Mata tajamnya akhirnya menemukan benda yang dia cari. Jepit rambut yang dia beli kemarin. Myungsoo mengambil benda tersebut namun karena terlalu tergesah-gesah dia menjatuhkan sebuah jepitnya. Saat sudah menghadap ibunya yang sedang membersihkan rumah Myungsoo langsung pamit.

“Ibu aku pergi!”pamit Myungsoo.

“Sarapan..mu..”

Namun telat Myungsoo telah menghilang dari hadapannya. Nyonya Kim menggelengkan kepalanya dan langsung melanjutkan aktivitasnya menyedot debu.

.

.

.

Ting..tong..ting..tong..

Myungsoo menghela nafas legah karena dia datang tepat waktu walaupun tanpa mandi. Myungsoo langsung duduk di tempatnya dan mengatur pernafasannya. Hani yang kebetulan memang duduk di depannya langsung memutar posisi badannya sambil menatap Myungsoo bingung.

“Myungsoo.. gwenchana?”Tanya Hani.

“Aku baik-baik saja Ha…ni-ya,”jawab Myungsoo tersengal.

Hani hanya terkekeh pelan melihat Myungsoo. Hani mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan kepada Myungsoo. Sebotol minuman.

“Minumlah pasti kau haus,”kata Hani

gomawo..”

Myungsoo langsung membuka botol minuman itu dan meneguknya. Legah.. perasannya agak tenang. Myungsoo menghebuskan nafas legah lalu tersenyum kepada Hani.

Gomawo Hani-ya..”kata Myungsoo.

“Sama-sama..”

Bunyi pintu terbuka membuat Myungsoo dengan sigap berdiri dan Hani pun menghadap ke depan.

“beri hormat..”

“selamat pagi songsaengnim..”

.

.

.

Saat keluar main Baro langsung datang menghampiri Soojung yang duduk sendiri di tempatnya. Baro tersenyum kepada Soojung begitu pula Soojung.

“mau makan?”tanya Baro.

Soojung menganggukan kepalanya dan dia pun langsung berdiri. Hani dan Myungsoo hendak ke kantin juga. Hani langsung memanggil Soojung dan Baro agar pergi bersama.

“kalian mau ke kantinkan? Ayo sama-sama”ajak Hani.

“Oke Hani-ya,”kata Baro dan kini mereka berempat pergi bersama ke kantin.

Baro dan Hani memimpin jalan sementara Soojung dan Myungsoo dibelakang. Soojung merasakan efek itu kembali setelah sekian lama tidak dia rasakan. Masih menyukai Myungsoo? Ah tidak dapat dipercaya, pikir Soojung. Myungsoo berdehem sebentar kemudian diapun langsung mengajak Soojung berbicara.

“kau sangat dekat dengan Baro..”kata Myungsoo.

Soojung memilih untuk mempercepat langkahnya sehingga dia kini berada di kanan Baro. Myungsoo yang melihat Soojung menghindarinya hanya menghela nafas. Kini dia sangat merasa bersalah akan kejadian yang lalu itu walaupun semua terjadi karena sebuah alasan yang terbaik untuknya walaupun sedikit menyakitkan untuk dirinya sendiri.

.

.

.

Semua memakan makan siangnya dengan lahap begitu pula Soojung. Tiba-tiba saja seorang laki-laki datang menghampiri mereja yang sedang di tempati 4 orang itu.

Ya apa kau murid baru?”tanya laki-laki itu.

“Choi Minho jangan harap kau bisa mengencaninya,”dumel Baro.

Wae?”tanya Minho.

Minho menggeser posisi duduk kedua laki-laki itu sehingga kini dia ada di hadapan Soojung yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak peduli.

“Hi namaku Minho anak kelas 2B. Kau anak baru ya? Kau cantik..”puji Minho.

Soojung hanya menatap Minho datar sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Minho menjadi kikuk sementara kedua laki-laki lainnya –myungsoo dan Baro—berusaha menahan tawanya. Hani yang melihatnya hanya tersenyum.

Ya!”

Suara nyaring seorang perempuan membuat Minho, Myungsoo, Soojung, Baro dan Hani mengalihkan pandangannya ke orang tersebut. Perempuan bermata kucing itu menatap sinis ke mereka selain Minho.

“kenapa kau disini bukankah kau janji akan ke kelasku saat istirahat,”dumel perempuan bernama Jiyeon.

Mian aku hanya menyapa mereka dan kenalkan dia anak baru,”

Jiyeon melihat ke arah Soojung karena hanya satu-satunya orang yang menurutnya asing ya Soojung. Jiyeon mengendus kesal dan langsung menarik tangan Minho.

“kodok jangan beraninya ingin mendekatinya. Kau hanya bisa menjadi milikku. Kajja!”kata Jiyeon sambil menarik Minho.

Minho hanya menyegir kepada teman-temannya itu. Myungsoo tak kuasa menahan tawanya lagi sehingga kini dia tertawa terbahak-bahak begitu pula Baro. Soojung hanya menatap datar sementara Hani berusaha menahan tawanya.

Ya bukankah dia bodoh memiliki pikiran untuk mengencani Jiyeon?”tanya Baro.

Molla.. playboy bersama perempuan cerewet hahaha.. aku sungguh tak habis fikir!”tawa Myungsoo.

“Ya kalian tidak boleh menjadi laki-laki seperti itu,”pesan Hani.

Arasseo..”kata Baro dan Myungsoo..

“laki-laki…”

Soojung mengeluarkan suaranya kini Hani, Baro dan Myungsoo memandang ke arah Soojung yang sedang menatap pandangan kosong ke depan.

“semua laki-laki itu brengsek.. apalagi tipe seperti Choi Minho itu dan lebih menakutkan lagi tipe laki-laki pemberi harapan palsu,”lanjut Soojung.

Baro menganggukan kepalanya setuju begitu pula Hani namun Myungsoo hanya diam seperti patung. Soojung menatap Myungsoo untuk melihat ekspresinya apakah dia tersindir atau tidak. Namun hasilnya tidak seperti yang dia inginkan laki-laki itu hanya diam tanpa Soojung dapat ketahui apa yang dia pikirkan.

“aku sudah selesai.. aku ke kelas duluan. Annyeong..”pamit Soojung.

“Soojung tunggu aku!”kata Baro.

Dan kini di kantin hanya tinggal Hani dan Myungsoo. Myungsoo menggelengkan kepalanya, Hani melihat Myungsoo dengan pandangan aneh.

“Myungsoo-ya kau baik-baik saja?”tanya Hani khawatir.

“Oh.. aku baik-baik saja. Oh iya ada yang ingin aku berikan padamu,”kata Myungsoo.

Hani hanya diam namun raut mukanya menandangan rasa penasaran. Melihat mimik wajah Hani laki-laki bermata sipit itu mengulum senyumannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. Tangan Myungsoo yang semula tergenggam itu dia renggangkan dan..

“Tada!”kata Myungsoo.

Matanya kini membulat saat sadar bahwa hanya ada satu jepit. Pikirannya melayang saat beberapa jam yang lalu. Hani yang tidak tahu apa-apa menatap takjub jepit itu lalu mengambilnya.

“Soo.. gomawo.”kata Hani senang.

“Sama-sama. Semoga itu cocok untukmu,”kata Myungsoo.

Lantas Hani langsung memakai jepit itu di rambutnya. Cantik.. itu pendapat myungsoo tentang Hani karena sesungguhnya laki-laki itu sejak lama mengaguminya, Ahn Hani.

Gomawo Soo..”ucap Hani lagi.

.

.

.

Tidak terasa sudah lama Soojung bersekolah di SMA tersebut. Soojung juga semakin dekat dengan Baro sebagai sahabat tentunya. Jam pelajaran sedang kosong karena guru yang mengajar sedang berhalangan hadir. Sebagai siswa yang teladan murid kelas 2A pun menghabiskan waktu dengan belajar jadi keadaan kelas menjadi sunyi. Tiba-tiba saja Soojung merasa ingin membuang air kecil lantas dia langsung meminta izin kepada Myungsoo.

“ketua kelas aku ingin ke wc,”kata Soojung.

“eoh pergilah Soojung-ah..”

Setelah Soojung pergi Myungsoo hanya menatap datar kertas yang ada di hadapannya. Ketua kelas.. ketua kelas.. ketua kelas.. sejak masuk sekolah Soojung tidak pernah memanggil namanya. Perempuan itu lebih memilih untuk memanggilnya dengan ‘Ya’ atau seperti tadi ‘ketua kelas’. Hani membalikan badannya kebelakang dia juga membawa bukunya.

“Myungsoo.. bisa ajarkan aku soal yang ini? ini sulit..”rengek Hani.

Mendadak laki-laki itu mengukir senyuman kembali di bibirnya lalu dengan senang hati dia mengajarkan perempuan itu.

“yang mana.. aku akan mengajarimu,”kata Myungsoo.

Hani menunjuk soal nomor 5 dan Myungsoo dengan lihai menunjukan cara mendapatkan hasil dari soal matematika tersebut.

.

.

.

Setelah mengeluarkan urine-nya Soojung langsung berkaca sebentar dan hendak membasuh tangannya. Saat hendak memutar kran sebuah tangan menghentikan aktivitasnya itu. Soojung melihat ke arah kaca dan menatap datar perempuan yang akhir-akhir menghantui hidupnya.

Ya jangan berikan nomormu pada Minho!”titah Jiyeon.

Arra..”kata Soojung cuek.

“Is!! Kau dengar atau tidak?”geram Jiyeon.

Ye..”ucap Soojung malas

Ya kau ini ! jangan pernah memberi nomormu pada Minho dan jangan pernah berbicara dengannya. Arasseo!”pekik Jiyeon.

Soojung menganggukan kepalanya dengan malas niat untuk membilas tanganpun dia urungkan dan Soojung memilih untuk keluar dari toilet. Jiyeon mengendus kesal namun saat melihat kaca ada dihadapannya perempuan itu kini sibuk membenahi letak rambutnya yang berantakan.

“Huh aku lebih cantik bukan?”gumamnya.

.

.

.

Saat Soojung hendak masuk ke dalam kelas jam belajar sudah usai dan semua murid berburu untuk keluar dari kelas dan mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Baro langsung mengajak Soojung untuk ke kantin dan Soojung menyetujuinya. Myungsoo yang masih di dalam kelas hanya menatap keduanya penuh tanda tanya. Hani yang merasa Myungsoo sedang melamun langsung memukul pelan pundak Myungsoo.

“Heol kenapa Hani-ya?”tanya Myungsoo.

“kenapa melamun? Kau tidak ingin ke kantin?”tanya balik Hani.

“Oh tentu aku sudah lapar. Kajja..”

.

.

.

Siang ini Soojung hanya pergi menikmati roti gandum karena dia ingin menjaga bentuk tubuhnya. Baro sesekali menyuapkan nasi punyanya ke Soojung sehingga mereka saling suap menyuap. Di sisi lain Hani yang menyadari Myungsoo sedang melihat ke arah Baro dan Soojung hanya diam memperhatikan Myungsoo.

“Kim Myungsoo..”sahut Hani. Tidak ada jawaban dari laki-laki itu, “Kim Myungsoo..”panggil Hani kembali.

Myungsoo langsung memandang Hani yang ada di depannya dan ia langsung tersenyum, “ada apa?”tanya Myungsoo.

“makananmu masih penuh. Kau tidak makan?”

Myungsoo melihat ke mangkuk makanannya. Ya, sedari tadi belum ia sentuh mangkuk tersebut. Myungsoo langsung mengambil makannya memakai sumpit.

“Aku makan..”kata Myungsoo.

.

.

.

“Soojung-ah..”panggil Baro.

“Em..?”gumam Soojung.

“aku ingin meminta bantuanmu,”kata Baro.

“bantuan apa?”tanya Soojung.

“tolong bantu aku memilihkan kado untuk seseorang..”

nuguya?”

“Hmmm aku akan mengenalkannya padamu nanti. Apa bisa pulang sekolah nanti?”

“Baiklah.. pulang sekolah nanti,”

Baro langsung tersenyum mendengar jawaban Soojung bahkan dia mencubit pipi Soojung sehingga perempuan itu merengut kesal. Myungsoo yang sedang melahap makannya langsung tersedak dan Hani memberikan minuman ke Myungsoo.

Ya makan itu hati-hati..”oceh Hani.

Myungsoo meminum minuman yang diberikan Hani lalu dia menyegir kepada perempuan yang ada di hadapannya.

Mianhae hehe..”kata myungsoo.

“lain kali jangan di ulangi,”

Algeuseumnida songsaengnim hehehe.. Hani-ya nanti pulang sekolah jadi?”tanya Myungsoo.

“Apa?”

“Kencan.. jadi bukan?”

“Oh itu.. ya aku bisa,”

Gomawo..”

Hani hanya membalas senyuman kepada laki-laki itu. Bell pun berbunyi tanda waktu keluar main telah habis keduanya pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke kelas mereka.

.

.

.

Pulang sekolah seperti perkataan Baro tadi dia dan Soojung pergi kesuatu tempat. Baro mengajak Soojung untuk jalan ke sebuah mall dan mencari sesuatu.

“Kau ingin aku mencarikan sepatu perempuan?”tanya Soojung.

“Eoh.. aku tidak tahu selera perempuan jadi aku serahkan padamu.. ukuran kakinya segini,”kata Baro sambil memberikan gambaran menggunakan tangannya.

“Oh itu toko sepatu yang kata orang bagus. Kajja!”ajak Soojung.

Kini mereka berada di dalam toko tersebut. Soojung terus mencari-cari sepatu yang bagus sementara Baro mengekori Soojung dibelakanngya. Akhirnya setelah 30 menit sibuk di dalam toko tersebut mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kini Soojung dan Baro berjalan ke sebuah kedai untuk membeli minuman namun pandangan Baro langsung dikagetkan dengan pemandangan yang ada di depannya.

Ya Soojung lihat itu..”kata Baro sambil menepuk pelan pundak Soojung.

Soojung langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang Baro tuju. DEG.. efek itu lagi, efek yang dibenci oleh Soojung. Bibirnya bergetar tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Baro yang hendak menghampiri mereka langsung ditahan oleh Soojung.

Kajima.. aku haus..”katanya lirih.

Baro melihat ke arah Soojung dan arah sebelumnya secara bergantian dan akhirnya iapun mengikuti perkataan Soojung.

.

.

.

“aku kira semuanya hanya bualan ternyata mereka benar berkencan. Aigoo tidak kusangka,”kata Baro sambil meminum bubble teanya.

Soojung hanya diam sambil mengaduk-aduk jus alvokadonya. Yang mereka lihat tadi adalah Hani dan Myungsoo yang berkencan ditempat ini bahkan mereka saling bertautan tangan. Cemburu.. bolehkan gadis itu cemburu padanya? Perasaan yang sekian lama itu ternyata masih terpendam ternyata keputusan pergi jauh selama 4 tahun lamanya ini tidak mempan.

eotteoke..”kata Soojung dalam hatinya.

.

.

.

TBC

Advertisements

3 thoughts on “Reset [Chapter 4]

  1. Pingback: Chapter / Series | Secret Journey

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s