Reset [Chapter 5]

Reset

RESET

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Babysoul as Lee Soojung – L as Kim Myungsoo

Romance – Sad – School Life

PG17

 .

.

.

“Ya Kim Myungsoo kau pergi kencankan dengan Hani kemarin!”celetuk Baro.

Myungsoo yang sedang menulis itu lantas langsung menghentik aktivitasnya dan menyekap mulut lebos milik Baro.

Ya kau! Bagaimana kau bisa tahu..”bisik Myungsoo.

Baro terus memberontak dan akhirnya Myungsoo melepaskan sekapannya. Mata tajam myungsoo menatap Baro dengan pandangan menusuk sehingga laki-laki yang ada di depannya hanya tersenyum kikuk.

“Aku kemarin melihatmu di mall saat sedang pergi bersama Soojung..”celetuk Baro.

“Su..Soojung?”ulang Myungsoo.

Myungsoo terdiam saat Baro menganggukan kepalanya. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman jika perempuan itu mengetahuinya. Apa dia masih memiliki rasa bersalah? Atau dia masih merasa bahwa perempuan itu menyukainya? Ah untuk apa dia ambil pusing dengan semua ini.

Ya jangan beritahu siapa-siapa aku sudah tahu sifat burukmu, tukang gosip..”cibir Myungsoo.

Baro hanya mengangkat kedua bahunya sehingga Myungsoo semakin kesal dibuatnya. Soojung baru saja masuk ke dalam kelas itu tak sengaja tatapan matanya bertemu dengan Myungsoo dengan kikuk Soojung lantas langsung memalingkan wajahnya dan duduk ditempat duduknya.

.

.

.

Soojung berjalan sendiri sambil memakan es krim di pinggir lapangan sambil melihat anak-anak yang sedang bermain basket. Satu orang disana membuatnya berhenti dan menyaksikan pertandingan itu. Kim Myungsoo.. sudah lama dia tidak melihat laki-laki itu memainkan basket terakhir dia lihat saat pelajaraan olahraga sebelum dia pindah. Soojung duduk di kursi yang tersedia di pinggir lapangan tiba-tiba saja seseorang duduk di sampingnya.

Ya kau kesini untuk melihat Minho eoh!”dumel Jiyeon.

Soojung melihat ke arah lapangan lagi.. ah ada sosok minho juga disana sebagai lawan Myungsoo. Dengan tatapan datar perempuan itu melihat kearah Jiyeon dan menggelengkan kepalanya.

“Is kalau bukan Minho siapa lagi. Ya! Jangan pernah coba untuk dekat dengannya,”

Ya Park Jiyeon aku tidak menyukai pacarmu bodoh! Sudahlah jangan usik aku!”

Akhirnya Soojung memilih untuk meninggalkan lapangan. Myungsoo yang sedang bermain itu tidak sengaja melihat ke pinggir lapangan tepat Soojung dan Jiyeon yang tadi sedang duduk bersama. Karena tidak memperhatikan permainan.. Brug…. bola basket itu mengenai wajahnya dan darah segar mengalir dari hidungnya. Myungsoo langsung menyeka darahnya sambil meringis perih.

“Ah sial..”dumelnya.

Ya Kim Myungsoo maaf aku tidak sengaja,”sesal Minho yang melempar bola.

“Tidak apa. Aku berhenti,”

Dengan langkah tertatih laki-laki itu meninggalkan lapangan dan pergi menuju UKS. Setelah selesai dari UKS Myungsoo beranjak ingin kembali ke kelasnya namun langkah itu dia hentikan saat mendengarkan suara seseorang. Laki-laki itu mengikuti arah dimana suara tersebut berasal dan saat sudah mendekati ruangan musik Myungsoo membuka sedikit pintu untuk melihat ke dalam. Matanya menjadi takjub saat melihat seorang gadis sedang bernyanyi namun sayangnya gadis itu memunggunginya sehingga Myungsoo tidak dapat melihat siapa dirinya. Myungsoo memutuskan untuk membuka pintu dan berjalan ke arah perempuan itu. Mata sipit laki-laki itu membulat saat mengetahui siapa perempuan yang ada di hadapanya kini namun perempuan itu sendiri tidak tahu bahwa Myungsoo ada didepannya karena ia memejamkan kedua matanya.

“Soojung…”panggil Myungsoo.

Merasa seseorang memanggilnya perempuan yang tidak lain adalah Soojung langsung membuka matanya dan kaget saat melihat sosok Myungsoo di depannya.

Ya bagaimana bisa kau disini?”tanya Soojung.

“Suara merdumu yang membuatku kemari,”jawab Myungsoo.

Blush.. semburat merah di pipi Soojung mendadak keluar dengan sendirinya. Perempuan itu langsung berdiri dan pergi meninggalkan Myungsoo sendiri.

Ya kau mau ke kelas bukan. Kita jalan bersama!”teriak Myungsoo.

.

.

.

Myungsoo dan Soojung kini berjalan bersama ke kelas dengan canggung. Tidak ada yang mengeluarkan suaranya apalagi Soojung yang terus menerus mempercepat langkahnya dari Myungsoo. Karena merasa aneh dengan suasananya akhirnya Myungsoo mengeluarkan suaranya.

“Ehem.. aku tidak tahu kau pintar bernyanyi,”kata Myungsoo.

“Oh.. apa yang kau tentang aku memangnya?”tanya Soojung sarkastis.

Myungsoo terdiam sejenak lalu menyunggingkan senyuman lirih, “Maaf..”

“tidak ada yang perlu dimaafkan. Oh ya permainan basketmu sungguh keren. Dari dulu kau menekuni basket,”puji Soojung.

“A-ah.. kau tahu aku menyukai basket hehe,”

“semua orang tahu itu bodoh!”

Soojung mempercepat langkahnya meninggalkan Myungsoo yang beberapa meter di belakangnya. Entah kenapa setelah mendengar pertanyaan Soojung tadi dia merasa tidak nyaman dan aneh.

.

.

.

Saat Soojung dan Baro sedang menghabiskan makan siangnya tiba-tiba saja mereka kedatangan tamu tak diundang. Myungsoo dan Hani langsung duduk di tempat mereka.

“Hmm maaf ganggu karena tidak ada kursi kosong lagi,”kata Hani.

“Tidak apa Hani-ya,”kata Baro.

Soojung hanya diam sambil memakan ramyunnya. Di tengah-tengah makan siang mereka tiba-tiba saja Myungsoo membuka mulutnya dan bertanya kepada Soojung.

“Eng.. Soojung aku ingin menanyakan sesuatu padamu,”kata Myungsoo.

“Apa?”tanya Soojung.

“apa kau tidak rindu teman SMP-mu? Kau tidak merindukan Eunji atau mungkin.. Ara?”

BRAG!! Soojung menghentak kasar meja itu sehingga orang-orang melihat ke arah mereka. Di tatapnya tajam laki-laki itu dengan tatapan pembunuh miliknya.

“jangan pernah menyebut nama pengkhianat itu di depanku!!”pekik Soojung.

Baro, Hani dan tentunya Myungsoo langsung takut melihat Soojung yang sedang marah tersebut.

“Ma…maaf,”sesal Myungsoo.

Soojung langsung pergi meninggalkan kantin tanpa berbicara sepatah kata pun dan Baro beserta Hani yang penasaran langsung bertanya padanya.

Ya apa kau lakukan pada dia? Siapa Eunji dan Ara? Ya apa kalian satu sekolah dulu.. ta-tapi Soojung bukankah dia sekolah di Singa—“

“dia dulu sempat sekolah di Korea dan kami satu sekolahan. Eunji dan Ara adalah sahabatnya tapi… karena aku mereka menjadi bermusuhan,”lirih Myungsoo.

“apa yang terjadi?”Tanya Hani.

Myungsoo menatap perempuan yang ada di depannya itu lalu dia tersenyum lirih dan juga menggelengkan kepalanya.

“aku tidak bisa memberitahumu. Maaf..”kata Myungsoo. Hani yang mengerti hanya menganggukan kepalanya.

.

.

.

Pulang sekolah Soojung memutuskan untuk berjalan-jalan di sebuah mall. pikirannya sejak tadi terus membayangkan gadis tersebut, pengkhianat yang dibenci Soojung selama 4 tahun belakangan ini. Saat hendak masuk ke kedai eskrim tidak sengaja dia bertabrakan dengan seorang siswi dari sekolah lain.

“Maaf tidak senga—“

Ucapan Soojung terhenti saat melihat siapa yang ada di depannya kini. Tangannya terulur menujuk perempuan itu dengan tatapan tidak percaya.

“Soojung-ah..”

“Eunji-ya..”

Mereka bahkan mengeluarkan suaranya serentak. Setelah menyadari satu sama lain mereka saling terkekeh pelan.

“Lama tidak bertemu Soojung-ah,”kata Eunji.

“Ya lama tidak bertemu,”ucap Soojung.

Kini mereka berdua duduk santai di dalam kedai eskrim sambil menikmati eskrim cokelat miliknya. Suatu kebetulan bertemu dengannya disini dan Soojung sedikit beruntung karena yang ditemuinya adalah Eunji bukan gadis itu.

“Soojung kau dari SMA Empire? Bukankah berarti kau bertemu dengannya?”tanya Eunji hati-hati.

Soojung tampak tenang dia menganggukan kepala sambil memakan eskrimnya.

“Terus bagaimana?”tanya Eunji penasaran.

“kami bahkan sekelas..”jawab Soojung dengan santai.

Mata Eunji membulat, “bagaimana dengannya apa kau sudah bertemu dengannya?”

Seakan tahu maksud dari pertanyaan Eunji Soojung menjawabanya hanya dengan gelengan.

“apa kau mau bertemu dengannya?”tanya Eunji.

“Tidak mau..”jawab Soojung dengan cepat.

Eunji hanya mengangguk paham sambil menjilati eskrimnya yang sedikit mencair itu.

.

.

.

Minggu ini Soojung sudah ada janji untuk pergi bersama Baro bertemu dengan seseorang. Soojung telah berada di tempat mereka janjian lalu Soojung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Baro.

“Ya dimana?”

“tunggu.. aku sedang menemani dia membeli minuman dulu katanya dia haus tidak tahan jika menunggu minuman di restauran nanti,”

“baiklah kalau begitu aku akan mencari meja terlebih dahulu,”

“Ne aku serahkan padamu. Pai..”

Setelah menunggu lama akhirnya sosok Baro muncul juga dan yang lebih mengejutkannya bahwa orang yang dimaksud Baro adalah seseorang yang dia kenal juga. Soojung langsung berdiri dan memeluk perempuan yang di bawa oleh Baro tampaknya perempuan itu juga senang bertemu dengan Soojung.

“Jiae-ya aku merindukanmu!”pekik Soojung.

“Aku juga! Soojung aku sudah lama tidak melihatmu!”pekik Jiae balik.

Ya jangan berteriak tidak enak dilihat orang,”

Akhirnya Soojung dan Jiae menjelaskan hubungan mereka kepada Baro. Tak di bayangkan bahwa Soojung dan Jiae adalah teman SMP saat di singapura. Kini mereka bertiga menghabiskan waku bersama layaknya teman yang sedang berkumpul –tidak menganggap bahwa Jiae dan Baro sedang berkencan.

.

.

.

Soojung merutuk didalam hatinya. Pasalnya semua orang meninggalkannya sendiri untuk melaksanakan piket. Banyak yang beralasan untuk segera pergi les, ada acara dan sebagainya dengan terpaksa Soojung membersihkan kelas sendiri karena dia tidak ingin dibilang lepas dari tanggung jawab.

“Menyebalkan!”rutuk Soojung.

Soojung memilih untuk membersihkan kaca terlebih dahulu. Mula-mula dia membersihkan debunya terlebih dahulu menggunakan kemonceng kemudian dia memilih untuk mengelap kaca dengan pembersih. Namun sayangnya Soojung tak cukup tinggi dibandingkan kaca kelasnya sehingga ia pun terpaksa melompat untuk membersihkannya apalagi dia melakukan dengan cara manual –menggunakan kain.

“Aaahh!”kesal Soojung. Dilemparkannya sembarang kain tersebut setelah itu ia jongkok sambil menenggelamkan mukanya. Tiba-tiba saja suara kaki melangkah mendekati Soojung tapi gadis itu tidak menghiraukannya. Namun saat merasakan sebuah kain –jas—seseorang menutupi kepalanya dia langsung berdiri. Matanya membulat saat melihat Myungsoo ada di hadapannya.

“Kenapa?”Tanya Soojung.

Ya perempuan mana boleh duduk sembarangan apa kau tidak sadar jika celana dalammu bisa terlihat?”kata Myungsoo.

“Dasar mesum!”pekik Soojung histeris.

Myungsoo menutup kedua telinga dengan tangannya sendiri saat mendengar suara lengkingan Soojung, “Ya aku tidak mengintipnya aku kan hanya berbicara saja! Mana mungkin aku mesum. Is..”dumel Myungsoo.

“Huhu..”

Soojung meniup poninya geram kemudian dia meletakan sembarang jas Myungsoo di atas meja yang ada di dekatnya. Soojung menunduk sedikit untuk meraih kain lap itu dan kini dia melanjutkan aktivitasnya. Soojung terus berjinjit sesekali dia melompat untuk membersihkan kaca paling atas, “Sial!”dumelnya. tiba-tiba saja sebuah tangan memegang tangannya yang sedang membersihkan kaca itu. Soojung tahu bahwa itu Myungsoo, siapa lagi memangnya orang yang ada di ruangan ini?

“apa kau tidak bisa meminta tolong padaku?”tanya Myungsoo.

Badan Soojung menegang saat merasakan deru nafas Myungsoo berada di dekat daun telinganya. Soojung langsung menarik tangannya namun masih dengan posisi memunggunginya.

Ya kenapa? Aku ingin membantumu sebagai ketua kelas yang ba—“

“pergilah!”potong Soojung.

Myungsoo mengerutkan keningnya diputarkan balik badan Soojung sehingga dia dapat melihat jelas wajah perempuan tersebut.

“apa aku salah?”tanya Myungsoo bingung.

“kau bodoh atau apa.. kau membuat aku…”Soojung menghentikan pembicarannya.

“Aku? Aku apa?”bingung Myungsoo.

“Ah sudahlah aku pusing!”

Soojung langsung berjalan menyenggol bahu Myungsoo dan menarik paksa tasnya lalu dia pun keluar dari ruangan kelas sehingga Myungsoo tinggal sendiri. Myungsoo masih berfikir apa kesalahan yang dia perbuatan sehingga perempuan itu tiba-tiba saja meninggalkannya.

“eish kenapa aku jadi disini? Harusnya aku kan pulang!”dumelnya setelah sadar.

Myungsoo membuang kasar lap yang dia pegang lalu membawa jasnya dan pergi dari kelas.

.

.

.

Ya Lee Soojung kenapa kau mengajakku berakhir pekan disini? Kalau tahu begitu mending aku mengajak Jiae kemari,”rutuk Baro.

Ya jika kau mengajak Soojung itu namanya bukan jalan-jalan biasa tapi kencan!”kata Soojung.

Baro hanya mencibir pelan dari belakang. Sementara Soojung berjalan sambil menatap kagum taman bermain yang sudah lama tidak ia kunjungi, terakhir kemari mungkin saat dia liburan kelulusan sekolah dasar. Soojung dan Baro menghabiskan akhir pekan di lotte world, Amusement Park. Soojung ingin sekali menghabiskan waktunya di taman rekreasi dan berhubung dia hanya memiliki Baro yang terdekat dengannya maka dari itu Soojung meminta laki-laki tersebut menemaninya untuk bermain. Soojung menoleh kebelakang dia dapat melihat dengan jelas bahwa Baro berjalan dengan langkah gontai. Soojung buru-buru menarik tangan Baro sehingga laki-laki itupun tertarik dengan paksa.

.

.

.

Mereka baru saja menaiki sebuah wahana yang menegangkan yaitu roller coaster tanpa Soojung ketahui Baro takut untuk menaikinya. Setelah turun Baro langsung berjongkok di tengah-tengah jalan karena mual. Soojung menjadi bingung dengannya.

“Ada apa?”tanya Soojung.

“Aaa mulai lagi… Gara-gara kau Soojung-ah,”oceh Baro.

“Kau menyalahkanku? Menyebalkan,”desis Soojung.

Soojung langsung pergi meninggalkan Baro sendiri karena khawatir dengan temannya Baro langsung berdiri dengan kepala berat.

“Soojung-ah!!”panggil Baro.

Brug.. Tidak sengaja Baro menabrak seseorang. Dengan cepat Baro langsung meminta maaf.

“Maaf nona aku tidak sengaja,”sesal Baro.

“Ah.. tidak apa,”balas gadis itu dengan tersenyum.

Soojung yang merasa Baro tidak mengikutinya lagi langsung membalikan badan. Diam-diam Soojung merasa takut akan kesasar di tempat ini. Soojung menyipitkan matanya saat melihat Baro sedang berbicara dengan seorang perempuan.

“Eish laki-laki itu beraninya dia mendekati perempuan lain selain Jiae,”desis Soojung.

Dengan langkah dipercepat akhirnya Soojung berhasil menyusul Baro.

Ya kenapa kau berbicara dengan perempuan lain?”tanya Soojung.

“ini semua gara-gara kau Soojung bodoh,”dumel Baro.

Perempuan yang ada di dekat mereka seketika langsung memandang Soojung dengan tatapan tak percaya begitu pula Soojung. Badan Soojung menegang terasa tidak dapat di gerakan. Tatapan pembunuh itu lagi-lagi muncul.

“Su..Soojung-ah,”kata orang itu.

“Ara-ssi lama tidak bertemu,”kata Soojung dengan sinis.

“E..eoh kau sudah kembali dari Singapura ya?”tanya Ara penuh kaget.

Tanpa menjawab pertanyaan Ara, Soojung langsung menarik tangan Baro untuk pergi dari hadapan Ara. Soojung merasakan sesak di dadanya saat melihat perempuan itu kembali. Rasa bencinya terhadap Ara masih dia pendam selama bertahun-tahun lamanya.

Ya kau kenal dengan perempuan itu?”tanya Baro sambil berjalan.

Eoh..”jawab Soojung singkat.

“Siapa memangnya?”tanya Baro lagi.

“orang yang paling aku benci,”balas Soojung dengan sinis.

Merasa suasana hati Soojung sedang memburuk Baro langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

.

.

.

Soojung mendesah pelan karena apa yang dia kerjakan tidak berjalan dengan lancar. Prakarya buatannya tidak sesuai dengan harapannya. Soojung hanya berdiam diri di mejanya dan menatap tumpukan kertas-kertas bekas di atas mejanya dengan datar. Tanpa Soojung sadari seseorang sejak tadi sudah memperhatikan kekesalannya. Orang itu berdiri dan mejanya dan menghampiri Soojung tepat di depannya.

“Soojung butuh bantuan?”tanya Myungsoo.

Soojung menatap Myungsoo dan prakaryanya bergantian. Ada rasa gengsi menyelimuti hatinya namun mau bagaimana lagi dia sungguh frustasi mengerjakannya.

“tolong aku..”kata Soojung dengan suara memelan.

Myungsoo mengembangkan senyumannya dan mulai merangkai kertas-kertas itu menjadi bunga sesuai petunjuk yang ada di kertas. Selama 5 menit menunggu akhirnya Myungsoo telah membuat sebuah bunga dan dia pertunjukan bunga itu tepat di hadapan Soojung.

“Cantik bukan?”tanya Myungsoo.

Omo! Bagaimaa bisa kau membuatnya secantik ini?”pekik Soojung tertahan. Dia terkejut dengan hasil karya Myungsoo yang begitu baik dibandingkan dia.

“Mudah saja kau harus mengerjakannya dengan hati-hati dan perlahan. Jangan dengan emosi dan dongkol,”kata Myungsoo.

Soojung hanya mencibir pelan. Diambilnya bunga yang di pegang oleh Myungsoo. Entah kenapa Soojung merasakan hatinya ikut berbunga-bunga. Dia merasa myungsoo memberikan bunga itu spesial untuknya padahal itu hanyalah sebatas karya biasa.

“Aku bantu lagi ya,”kata Myungsoo.

Ne? Ya bukannya kau sedang mengerjakan tugasmu sendiri?”tanya Soojung.

“aku sudah selesai,”kata Myungsoo.

“bagaimana punya Hani?”

Myungsoo terdiam saat Soojung menyebut nama Hani. Diintipnya perempuan yang sedang mengerjakan tugasnya dengan tenang.

“dia bisa mengerjakan punyanya sendiri,”ucap Myungsoo.

Kini Soojung dan Myungsoo pun sibuk berkutat dengan kertas-kertas. Sesekali Myungsoo mengajari Soojung bagaimana cara yang benar untuk membuat semuanya dan untunglah Soojung bisa belajar dengan cepat. Akhrinya mereka sudah menyelesaikan semua bunga itu dan Soojung bertepuk tangan dengan senang.

“Terima kasih..”refleks Soojung dengan bahagia.

Deg.. Myungsoo merasa ada yang aneh di dalam dirinya melihat tatapan bahagia Soojung dan juga berterimakasih. Tidak seperti biasanya yang mana Soojung selalu ketus terhadapnya. Kedua sudut bibir Myungsoo membentuk senyuman manis untuk perempuan itu.

“Sama-sama itu gunanya teman bukan?”

Mendadak Soojung menjadi diam saat mendengar kata teman. Hanya teman? Bukan lebih. Seharusnya aku menyadarinya jika aku bukan siapa-siapa, pikir Soojung. Hani sedari tadi memperhatikan gerak-gerak Myungsoo dari tempat duduknya. Dia tertegun saat melihat senyuman Myungsoo yang berada dari biasanya. Merasa tidak terlalu penting Hani pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai.

.

.

.

Soojung hendak keluar dari kelasnya menyusul Baro yang terlebih dahulu berada di kantin namun tiba-tiba saja dia di panggil oleh guru yang baru saja selesai mengajar di kelasnya.

“Soojung-ssi bisa kau membantuku?”tanya guru Han.

“Ya songsaengnim,”jawab Soojung.

“tolong bawakan buku-buku ini ke perpustakaan,”

Soojung menahan suara lengkingnya yang akan keluar dari mulutnya itu saat melihat tumpukan buku tebal di atas meja. Sial, umpat Soojung. Seharusnya dia lebih cepat keluar ditambah dikelas ini hanya tinggal dia sendiri. Dengan senyum palsu Soojung menuruti perintah guru Han dan berusaha mengangkat buku-buku tebal tersebut setelah guru Han keluar dari kelas. Seseorang masuk ke dalam kelas dan Soojung langsung melihat siapa itu dan dia adalah Hani. Hani tersenyum kepada Soojung dan menghampiri.

“pasti guru Han yang menyuruhmu,”kata Hani.

“E..eoh menyebalkan,”dumel Soojung.

“aku bantu bawakan setengah ke perpus. Ayo,”ajak Hani.

Hani mengangkat beberapa buku yang dia bagi sama rata dengan Soojung setelah itu Hani memimpin jalan menuju perpustakaan. Setelah sampai di perpustakaan Hani dan Soojung langsung meletakan buku-buku itu di hadapan librarian dan mereka berjalan menuju kantin.

“Soojung-ah..”panggil Hani.

“Ne?”kata Soojung.

“apa kau dekat dengannya saat SMP dulu? Apa kau tahu siapa saja mantan pacarnya disana?”tanya Hani.

“Oh… aku tidak tahu,”kata Soojung gugup.

“benarkah? dia tidak pernah mau menceritakan padaku. Yang aku tahu hanya Bo Ah yang katanya dia menangis saat putus,”gumam Hani.

“Eoh aku juga pernah dengar hal itu,”balas Soojung.

“Hmm itu Baro dan Myungsoo. kajja!”ajak gadis itu.

Akhrinya Soojung dan Hani dapat menikmati makan siangnya. Tiba-tiba saja Hani menanyakan sesuatu kepada Myungsoo.

“Myungsoo-ya siapa saja mantan pacarmu saat SMP. Aku penasaran. Soojung bilang dia tidak tahu,”kata Hani.

“O..oh wajar dia tidak tahu dia hanya 7 bulan sekolah disana. Haha betul bukan Soojung?”kata Myungsoo.

Soojung hanya menganggukan kepalanya dengan kikuk, “lalu siapa saja mantanmu? Mana tahu Soojung mengenalinya,”

“A.. a..aku punya satu”jawab Myungsoo.

“bertahan lamakah sama seperti Bo Ah?”

“I..iya aku dan dia berhubungan selama 5 bulan,”

Soojung menghentikan aktivitas makannya. Dia meminum minuman kalengnya sampai habis bahkan tertumpah kebajunya. Baro langsung mengambil tisu dan hendak membersihkan noda yang ada di baju Soojung namun dengan cepat tangan laki-laki itu di tepis oleh Soojung.

“Is tidak sopan!”dumel Soojung.

Ya aku hanya ingin membantumu,”kata Baro.

“Ah sudahlah disini gerah!”kata Soojung.

Mata Soojung memerah karena tidak mau orang melihatnya akan menangis Soojung langsung pergi meninggalkan Hani, Baro dan Myungsoo dan membuat tanda tanya besar untuk semuanya. Namun beberapa detik kemudian Myungsoo tersadar apa penyebab Soojung begitu lantas laki-laki itu langsung berdiri dan meninggalkan Hani dan Baro tanpa pamit.

“ada apa dengan mereka berdua?”Tanya Baro kepada Hani.

Hani hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu harus menjawab apa. Disaat Baro masih asik menyantap rotinya, Hani terdiam dan tampak sedang berfikir karena keningnya kini berkerut.

.

.

.

Myungsoo berlari sampai di kelasnya. Saat sudah dikelas dia tidak dapat menemukan Soojung yang ia cari di kelas hanya ada Soyul yang sedang mengerjakan tugas.

“Soyul-ah apa kau melihat Soojung?”tanya Myungsoo.

“Soojung? Tidak ada aku sendiri dari tadi,”jawab Soyul.

“benarkah? Terima kasih kalau gitu..”

Tidak mau kehabisan waktu Myungsoo mencari Soojung keliling sekolah namun hasilnya nihil. Di ruang musik tidak ada, di lobi juga tidak ada begitu pula di taman. Tiba-tiba saja Myungsoo teringat akan suatu hal. Yang terakhir dia lihat mata Soojung berkaca-kaca. Pasti dia ada disana, pikir Myungsoo.

.

.

.

“Hikshiks..”isak Soojung.

Soojung duduk sendiri di tempat itu yang sepi dari orang-orang. Bajunya bahkan tambah basah akibat airmatanya. Namun Soojung tidak memperdulikan itu yang terpenting sekarang adalah membuat hatinya tenang. Apa begini nasib cinta pertamanya? Orang itu tanpa ada perasaan memintanya menjadi kekasihnya dan ternyata dia menyukai sahabatnya sendiri, ah tidak.. mantan sahabat lebih tepatnya. Dan sekarang kenyataan yang dia terima adalah dia tidak menganggap bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari hidupnya. Perih itu yang Soojung rasakan.

.

.

.

Myungsoo masuk ke dalam ruangan itu dan langsung mencari Soojung yang dia yakini ada di dalamnya. Perpustakaan, itu tempat yang terlintas di benak Myungsoo mengingat percakapnnya bersama Soojung dihari pertama Soojung bersekolah disini. Dengan langkah pelan agar tidak membuat keributan Myungsoo mencari Soojung kepenjuru perpustakaan.

“Hikshiks..”

Samar-samar suara isak tangis seseorang tertangkap oleh telinga Myungsoo. laki-laki itu mencari sumber suara tersebut sampai akhirnya dia dapat menemukan dimana Soojung. Pelan-pelan Myungsoo mendekati Soojung dan setelah dihadapan perempuan itu Myungsoo berjongkok dan berbisik.

“Soojung-ah..”bisik Soojung.

Soojung melihat Myungsoo dengan terkejut. Dia sangat panik sekarang karena Myungsoo bisa melihatnya dengan kondisi semiris ini.

“Soojung-ah jangan nangis,”kata Myungsoo.

Bukannya berhenti menangis isakan tangis Soojung semakin menjadi-jadi. Myungsoo langsung mengulurkan tangannya untuk mengusap airmata Soojung dan detik itu juga Soojung berhenti menangis. Seperti bayi, pikir Myungsoo.

“Maaf perkataanku terus menyakitimu,”sesal Myungsoo.

“…..”

“Soojung-ah maafkan aku. Sekarang ataupun dulu aku sudah menyesal dengan apa yang ku perbuat itu semua demi kau sendiri tapi malah aku yang menyakitimu. Maaf..”lirih Myungsoo.

Soojung menggenggam tangan Myungsoo yang masih memegang pipinya. Diusapnya pelan tangan kekar milik Myungsoo.

“kebaikan apa?”tanya Soojung penasaran.

“Karena—“

Kring… bell masuk berdering Myungsoo langsung berdiri dan membantu Soojung untuk berdiri juga.

“kau tidak bisa kembali ke kelas dengan keadaan seperti ini,”kata Myungsoo sambil megamati baju Soojung.

“Te-terus bagaimana?”tanya Soojung.

“Mungkin kita bolos pelajaran. Sementara aku mencari baju untukmu,”pikir Myungsoo.

Ye?”

Myungsoo langsung menarik tangan Soojung secara mendadak dan membawa perempuan itu keruangan kosong yang ada di atap gedung.

.

.

.

ya kita mau apa?”tanya Soojung bergetar.

“kau tunggu disini aku mau mencarikan kau baju,”jawab Myungsoo.

“dengan siapa?”heran Soojung.

Myungsoo terdiam sejenak tak lama kemudian dia menyeringai, “dengan seseorang kau tunggu saja,”

Myungsoo mengeluarkan ponselnya dan dia langsung mengirim sms ke seseorang tak lama kemudian ada pesan masuk dari ponselnya dan setelah itu dia tersenyum puas.

“Aku ambil bajumu dulu. Kau tunggu disini,”

Soojung menganggukan kepalanya dengan refleks dan Myungsoo mengacak pelan rambut Soojung.

“aku pergi dulu..”

.

.

.

Myungsoo kembali dengan bungkusan di tangannya. Dia serahkan bungkusan yang berisi baju itu kepada Soojung. Soojung mengeluarkan baju yang ada di dalamnya, sepasang baju olahraga perempuan. Soojung menatap bingung ke arah Myungsoo sadar di tatap demikian Myungsoo mengeluarkan suaranya.

“Itu aku dapatkan dari Son Naeun, anak kelas 1. Yaa bisa dibilang fansku,”kata Myungsoo dengan nada bangga.

“percaya diri sekali kau Kim Myungsoo,”desis Soojung.

“Hei kau menyebut namaku. Biasanya kau akan memanggilku ‘Ya’ atau ‘Ketua kelas’,”

“…..”

Soojung mendadak diam, benar kata Myungsoo ini kali pertama Soojung menyebut namanya setelah sekian lama.

“ya sudah aku akan berbalik ganti bajumu,”

Soojung langsung berbalik badan dan mengganti pakaiannya setelah itu dia langsung memanggil Myungsoo dan menatap laki-laki itu.

“Terima kasih..”lirihnya. Myungsoo menganggukan kepalanya sambil tersenyum kepada Soojung.

.

.

TBC

Advertisements

5 thoughts on “Reset [Chapter 5]

  1. Pingback: Chapter / Series | Secret Journey

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s