Reset [Chapter 6]

RESET

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Babysoul as Lee Soojung – L as Kim Myungsoo

Romance – Sad – School Life

PG17

Semenjak hari itu Soojung mulai sedikit lunak kepada Myungsoo. Dia akan memanggil laki-laki itu dengan namanya bukan ‘ya’ atau ‘ketua kelas’. Namun dia harus mengontrol perasaannya kepada laki-laki itu. dia harus memegang prinsip bahwa mereka hanya teman dan tidak lebih.

“Soojung..”panggil Myungsoo.

“Kenapa?”sahut Soojung.

“Emm temani aku memberikan hadiah untuk seseorang,”kata Myungsoo.

“Memangnya siapa?”

“Perempuan.. aku ingin memberikannya pada adikku, SaeRon, kau ingatkan yang dulu sering aku ceritakan?”

Soojung menganggukan kepalanya, “Ya baiklah..”

“kalau begitu pulang sekolah nanti bagaimana?”

Soojung lagi-lagi menganggukan kepalanya, Myungsoo mengusap rambut Soojung sambil tersenyum dan membuat Soojung tertegun. Tiba-tiba saja Myungsoo di kagetkan dengan suara yang memanggil namanya.

“Myungsoo-ya!”panggil Hani.

Myungsoo langsung menarik tangannya dan melihat ke arah Hani yang duduk di tempatnya.

“Kenapa Hani-ya?”tanya Myungsoo.

“tolong bantu aku mengerjakan soal rumit ini,”pinta Hani.

“Baiklah,”kata Myungsoo tersenyum lalu menghampiri Hani.

Kecewa. Jujur Soojung sangat kecewa seharusnya dia ingat bahwa sikap manis Myungsoo ditunjukan oleh orang lain juga bukan hanya untuk dirinya. Memangnya dia siapa?

Ya Soojung-ah!”sahut Baro tiba-tiba.

Baro berdiri di hadapan Soojung dan langsung menyodorkan ponselnya. Soojung mengambil ponsel itu dan membaca pesan yang di kirimkan oleh Baro.

“Jiae mengajak aku untuk jalan-jalan?”tanya Soojung memastikan.

“Ya, kau maukan?”tanya Baro memastikan.

“Ah nanti aku menjadi obat nyamuk diantara kalian. Tidak mau!”tolak Soojung.

“Tidak akan! Dia juga membawa temannya mana mungkin aku berpacaran diantara orang-orang. Bagaimana kau mau?”kata Baro.

“Baiklah kalau begitu. Kapan?”

“Jiae mengajak besok sepulang sekolah. Kau bisa kan?”

“Ya aku bisa,”

“Baiklah terima kasih..”

.

.

.

Soojung dan Myungsoo baru saja keluar dari toko boneka setelah membeli sebuah boneka cantik yang di pilihkan oleh Soojung tentunya. Soojung yang merasa tugasnya sudah selesai hendak menelpon supirnya namun Myungsoo menahan Soojung untuk menghubunginya.

“Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua. Bagaimana kalau makan es krim? Sudah lama bukan tidak makan es krim bersama?”

Soojung tersenyum tipis, “baiklah.”

.

.

.

Di kedai eksrim keduanya menikmati es krim yang mereka pesan. Sesekali Myungsoo mengajak Soojung berbicara layaknya teman. Sejujurnya ada perasaan gugup dalam benak Soojung mengingat hal ini membuatnya terbayang oleh masa lalu itu.

“Soojung.. hei kau melamun?”kata Myungsoo sambil mengibas tangannya di hadapan Soojung.

Ye? Ah tidak..”kata Soojung tersenyum kikuk.

Myungsoo mengambil sebuah tisu yang ada di atas meja lalu tangannya bergerak mengusap noda eskrim di dagu Soojung. Myungsoo tersenyum, menurutnya Soojung sangat kekanak-kanakan ketika makan es krim, selalu belepotan.

“Kau makan seperti anak kecil,”kata Myungsoo.

“Maaf..”kata Soojung.

“tidak apa aku sudah hapal dengan sifatmu itu,”

“Myungsoo lebih baik kita pulang sekarang,”ajak Soojung.

“Hmm baiklah ini sudah sore. Ayo,”

.

.

.

Esok Harinya..

Baro dan Soojung sudah tiba di tempat mereka janjian bersama Soojung, sebuah restauran yang berada di pusat kota. Baro menelpon Soojung untuk menanyakan dimana keberadaanya setelah itu Baro langsung mengajak Soojung untuk pergi ke tempat yang di maksud oleh Soojung.

“Disana!”tunjuk Baro saat melihat 2 orang perempuan yang memunggungi mereka.

“Ya kau benar,”gumam Soojung.

Baro langsung menarik tangan Soojung untuk ke tempat duduk itu dan setelah sampai mereka langsung duduk di hadapannya. Jiae menyambut mereka dengan bahagia dan Baro membalas sapaan kekasihnya namun berbeda dengan Soojung dia hanya diam mematung.

“eish kau tidak sopan tak membalas sapaanku,”dumel Jiae.

Soojung masih diam begitu pula gadis yang ada di samping Jiae, Baro yang sadar akan suatu hal langsung berseru.

“Ya bukannya kau yang tidak sengaja aku tabrak di Lotte World?”tanya Baro.

“Ah betul. Namaku Yoo Ara,”kata Ara sambil melirik Soojung.

“Soojung kenalkan dia Yoo Ara sahabatku di sekolah. Ara kenalkan dia Soojung temanku di Singapura dulu dan laki-laki itu yang sering ku ceritakan, Baro pacarku itu,”kata Jiae.

“Salam kenal,”lirih Ara.

.

.

.

Karena tidak tahu hendak kemana Jiae memutuskan untuk jalan-jalan di mall saja. Suasana tampak canggung untuk Ara dan Soojung yang sejak tadi hanya diam tidak seperti Jiae dan Baro yang cerewet. Jiae mempercepat langkahnya karena melihat sebuah sale dan Baro ikut mempercepat jalannya. Tinggalah Soojung dan Ara di belakang.

“Soojung-ah..”panggil Ara.

“Hm…”gumam Soojung.

“Kau masih marah denganku? maaf aku sungguh menyesal Soojung,”sesal Ara.

“penyesalanmu sudah terlambat Ara-ssi,”sinis Soojung.

“Aku tahu. Aku bukan sahabat yang baik untukmu, aku menyadarinya selama 4 tahun ini. Soojung-ah aku merindukanmu,”aku Ara.

Ara menghentikan langkah kakinya begitu pula Soojung. Soojung menatap Ara dengan pandangan muak sedangkan Ara memasang ekspresi senduh.

“aku tidak merindukanmu dan jangan pernah menganggap kita pernah berteman anggaplah kita tidak pernah bertemu sebelumnya,”ujar Soojung.

Soojung langsung berjalan menghampiri Baro dan melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu dan membuat Jiae kaget dan berhenti berjalan.

“Ya dia pacarku!”seru Jiae.

“Aku tidak peduli! Tidak ada kencan untuk kalian hari ini, Baro teman kencanku!”oceh Soojung.

Baro yang di sangkut pautkan hanya bingung dan menoleh kebelakang melihat ekspresi Jiae yang menatap mereka dengan bingung.

“Ara-ya maklumi saja sifat Soojung ya. Aish dia itu, Ah Baro-ku,”rengek Jiae.

Ara hanya tersenyum tipis dan mengajak Soojung untuk melanjutkan perjalannya.

.

.

.

Tidak terasa langit sudah mulai gelap mereka pun berencana untuk pulang. Baro dan Jiae sibuk mengabadikan momen dengan berselca ria sementara Soojung hanya duduk dan menatap langit. Tiba-tiba saja ponsel Jiae berdering dan dia mendapatkan pesan dari orangtuanya untu cepat pulang.

“Aigoo ibuku sudah ngomel aku harus pulang. aku cari taksi ya,”sahut Jiae.

Ya kenapa harus naik taksi aku kan bawa motor,”celetuk Baro.

“Ta..tapi Soojung?”tanya Jiae sambil melirik Soojung. Yang dilirik hanya tersenyum.

“pulanglah yang pacarnya Baro kan kau bukan aku. Aku bisa naik taksi atau minta jemput,”kata Soojung.

Jinjja?”tanya Jiae. Soojung menganggukan kepalanya, “Baiklah kalau begitu sampai jumpa Soojung-ah, Ara-ya! Lain kali kita hang out bareng ya, pai-pai annyeong!”pamit Jiae.

annyeong”pamit Baro.

Tinggalah Soojung dan Ara yang masih berada di pintu masuk mall itu. Keduanya tidak ada yang membuka suara mereka.

“Soojung..”akhrinya Ara bersuara namun Soojung tidak menyaut sama sekali.

“Soojung-ah…”panggil Ara lagi.

Sebuah taksi berhenti tepat di depan Soojung, gadis itu langsung masuk ke dalam taksi dan Ara menatap mobil yang telah jalan itu dengan senduh, “Maafkan aku,”lirih Ara.

.

.

.

“perempuan tadi teman baikmu?”tanya Baro sambil mengendarai motornya.

“Ya. Ada apa?”jawab Jiae sambil memeluk erat Baro agar tidak terjatuh.

“Bukan apa apa aku hanya bingung saja dengan Soojung. Waktu itu aku pernah bertemu dengan Ara, dia bilang Ara adalah cewek yang paling dia benci. Apa kau tahu bahwa Ara dan Soojung saling mengenal?”

“Heol? Ti..tida Ara tidak pernah bercerita tentangku. Hmm apa dia teman sebelum pindah dulu ke Singapura ya?”tanya Jiae heran.

“Mungkin saja. Satu lagi, saat itu Soojung pernah marah besar dengan Myungsoo saat laki-laki itu mengungkit masa lalu mereka,”balas Baro.

“Eish kau ini! kenapa suka sekali bergosip um?”dumel Jiae.

Jiae mencubit pinggang Baro pelan sehingga laki-laki tersebut menggeliat. Jiae terkekeh pelan dan menyandarkan kepalanya di punggung laki-lakinya. Namun terlihat dari keningnya yang mengerut Jiae tampak memikirkan sesuatu.

.

.

.

Keesokan Harinya..

Soojung mendesah pelan ponselnya tiba-tiba saja habis baterai. Di lihatnya Baro yang sedang mendengarkan lagu melalui Ipod-nya itu dan langsung menghampirinya.

“Baro-ya aku pinjam ponselmu,”kata Soojung sambil menadahkan tangannya dihadapan Baro.

Baro langsung mengeluarkan ponselnya dan meletakan di atas telapak tangannya. Soojung langsung kembali di tempatnya dan membuka akun sosial media Baro karena dia ingin mengecek profile temannya di Singapura. Namun tiba-tiba saja saat hendak menekan tombol ‘search’ mata Soojung di kagetkan dengan pembaruan dari Hani. Hani baru saja mengungah sebuah foto karena penasaran Soojung langsung membuka foto itu. DEG!! Tangan Soojung menjadi dingin seketika, sesak. Hani mengunggah foto dirinya bersama sebuah boneka yang tidak asing bagi Soojung, boneka yang tempo hari dia beli bersama Myungsoo, “pembohong!”lirih Soojung dengan mata berair. Sedih, pastinya Soojung sangat sedih. Kenapa tidak dari awal dia bilang bahwa itu untuk Hani kenapa dia malah berbohong membelikan itu untuk adiknya?

.

.

.

Soojung baru saja selesai piket dan hendak pulang namun tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dari belakang. Kim Myungsoo. Soojung menghela nafas, dia sungguh muak untuk melihat laki-laki itu sekarang. Soojung mengabaikan panggilan Myungsoo dan berjalan namun Myungsoo yang sudah berada dibelakangnya langsung menahan pergelangan tangan Soojung dan membuat cewek itu menghadap dirinya.

“Hei nilaimu sangat tinggi di pelajaran Geografi. Bisakan kau mengajariku?”tanya Myungsoo.

Soojung hanya diam dan menatap tajam Myungsoo dengan pandangan menusuk.

“Ya bisakan? Ayolah luangkan waktumu untuk mengajari aku!”pinta Myungsoo.

“Tidak! Aku membencimu!”kesal Soojung.

“Eung? a..apa aku memiliki salah lagi padamu?”bingung Myungsoo.

“kau pembohong! Aku membenci pembohong sepertimu Kim Myungsoo! kau bilang itu untuk adikmu nyatanya kau berikan itu pada Hani! Apa kau sadar dengan perbuatanmu itu? aku masih menyukaimu tapi kau memperlakukan aku seperti ini! kau benar-benar jahat Myungsoo.. aku.. membencimu.. hikshiks, kau sama sekali tidak pernah bisa mengerti perasaanku, hikshiks..”oceh soojung panjang lebar membiarkan ia meluapkan seluruh emosinya pada mantan kekasihnya itu.

Soojung menangis sambil menundukan kepalanya dan rambut menutupi wajahnya. Myungsoo tidak bisa mengeluarkan suaranya untuk membalas omongan Soojung. Entah apa yang merasukinya Myungsoo langsung membawa Soojung kepelukannya. Soojung terus menangis dan Myungsoo sendiri mengusap punggung Soojung untuk menenangkannya, “Maaf..”lirih Myungsoo.

.

.

.

Esok harinya..

Sepasang kekasih berada di halaman belakang sekolahnya untuk membicarakan sesuatu. Si cewek yang sejak tadi kesal karena pacarnya tidak berbicara apapun langsung menghentakan kakinya dan berbicara padanya.

“Choi Minho apa yang mau kau bicarakan! Aku lapar, kau tahu?!”dumel Jiyeon.

“Maaf.. kita putus saja,”kata Minho singkat.

“Heol?”

Jiyeon membulatkan matanya dan menatap Minho tidak percaya. Dia menunjuk wajah Minho dengan jari telunjuknya.

“Aku bilang kita putus. Aku sudah bosan denganmu jadi maaf,”ucap Minho enteng.

PLAK!! Jiyeon menampar Minho sekuat tenaganya, yang di tampar hanya tersenyum sinis sambil memegang pipinya.

“Kau! Ya Minho aku sudah menyukaimu!”pekik Jiyeon.

“maaf.. aku tidak suka lagi denganmu. Kau tahukan aku biasanya hanya bisa tahan 3 minggu dengan 1 cewek. Dan sekarang waktunya aku mencari yang lain, aku terlalu lama bersamamu, itu membuatku bosan,”

“Brengsek! laki-laki jahat! Awas kau Choi Minho. Siapapun perempuan barumu nanti aku akan membuatnya tidak tenang. Kau mengerti!”bentak Jiyeon.

Minho berlalu dan meninggalkan Jiyeon sendiri tanpa sekata patah pun. Jiyeon mengamuk tidak jelas dan menendang kaleng ke sembarang arah. Dia menjambak sendiri rambutnya layaknya orang benar-benar frustasi.

“Aish kodok!!!’rengek Jiyeon.

.

.

.

Minho berjalan di koridor sekolah sambil menebarkan pesonanya. Walaupun dia terkenal playboy namun banyak senior dan adik kelas yang jatuh hati padanya dan tentunya itu membuat Minho menjadi tinggi hati.

“Siapa gadis selanjutnya,”gumamnya.

Seorang perempuan baru saja berjalan melewatinya sambil memainkan ponsel yang terus dia tatap sepanjang jalan. Senyuman terukir di bibir Minho saat melihat perempuan itu.

“Dia selanjutnya. Lee-Soo-Jung..”kata Minho.

.

.

.

Soojung meneguk susu kotak Baro yang baru saja dia buka. Baro mengendus kesal dan langsung memakan ramyunnya. Tiba-tiba saja Hani datang menghampiri meja mereka dengan senyuman.

“Aku duduk disini ya, tidak ada meja lain,”katanya. Baro dan Soojung menganggukan kepalanya.

“Myungsoo mana? Bisanya kau dengan dia?”tanya Baro.

Soojung hanya diam dan terus meneguk susu kotak itu walaupun sebenarnya itu telah habis, “Dia sedang dipanggil guru Kim. Nanti beliau tidak masuk, dia ada urusan,”jawab Hani sambil melirik Soojung.

“Oh begitu baguslah..”gumam Baro.

.

.

.

Waktu sudah berlalu 30 menit namun jemputan Soojung belum kunjung tiba. Seseorang menepuk pundak Soojung dari belakang dan membuat Soojung terpaksa menoleh.

“kau belum pulang?”tanya Minho.

ye? A..aku?”bingung Soojung.

“Ya siapa lagi kalau bukan kau, Lee Soojung,”kata Minho dengan senyumannya.

“Ah aku belum di jemput hehe,”kata Soojung kikuk.

“Aku temani ya,”

Minho kini berdiri di samping Soojung. Tangannya bergerak mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu dia memberikan ponselnya kepada Soojung dan membuat perempuan itu bingung.

“kenapa ponselmu?”tanya Soojung.

“kau harus memberikan nomormu padaku. Kau selalu menolaknya karena Jiyeon dan kini aku tidak berhubungan lagi dengan dia. Tidak ada alasan untukmu menolak permintaanku,”jawab Minho.

Soojung hanya tersenyum tipis dan memasukan nomornya di kontak Minho setelah itu dia memberikan kembali ponsel itu kepemiliknya. Minho mengepalkan tangannya ke udara karena berhasil mendapatkan nomor Soojung. Tanpa keduanya sadari sejak tadi Jiyeon menatap jengkel kepada mereka. Jiyeon menghentakan kakinya ke lantai.

“awas kau Soojung!”kesal Jiyeon.

.

.

.

Hani mengangkat tangan kanannya sehingga guru yang mengajar langsung bertanya padanya. Ternyata dia ingin permisi ke wc sejak tadi.

“Kau harus menunggu Lee Soojung,”kata Goo songsaengnim.

Saem tapi Soojung belum kembali sejak 15 menit yang lalu. Apa tidak boleh? Please..”mohon Hani.

Goo Songsaengnim tampak berfikir dan akhirnya dia memutuskan untuk memberikan izin kepada Hani. Dengan tergesah-gesah Hani berlari menuju WC namun saat hendak membuka pintu toilet dari dalam dia mendengar suara keributan dari orang yang tampaknya sedang berkelahi.

.

.

.

“sudah aku bilang jangan dekati Minho. Kau paham?”pekik Jiyeon.

“Park Jiyeon aku tidak mendekati Minho. Aku ingin ke kelas, aku sudah lama meninggalkan kelasku. Permisi,”pamit Soojung.

Soojung hendak keluar namun Jiyeon menghadangnya. Tanpa terduga Jiyeon malah menjambak rambut panjang Soojung sehingga membuat perempuan itu berteriak kesakitan.

YA!”

BRAG… pintu terbuka dengan kasar. Hani menatap Jiyeon dan Soojung bergantian. Dengan cepat dia langsung melepaskan Jiyeon yang menjambak rambut Soojung tanpa memperdulikan dia. Setelah bersusah payah akhirnya Jiyeon dapat dipisahkan dari Soojung.

“Park Jiyeon disini sekolah bukan tempat untuk berkelahi!”tegur Hani.

“aku tidak ada urusan denganmu tapi dengan perempuan itu!”teriak Jiyeon sambil menunjuk Soojung.

Hani langsung menarik tangan Soojung untuk keluar dari WC dan menghiraukan Jiyeon yang kesal karenanya.

“menyebalkan! Iss!”desis Jiyeon.

.

.

.

Dengan terpaksa Soojung dan Hani membolos kelas. Mereka kini duduk di halaman belakang sekolahan. Soojung terus menyisir rambutnya dengan tangan akibat kusut karena serangan Jiyeon. Hani ikut membantu Soojung untuk memperbaiki rambutnya.

“ada apa dengan dia, kenapa dia melakukan hal itu denganmu?”tanya Hani.

Molla. Dia bilang karena aku mendekati Minho padahal tidak. heh,”jawab Soojung sambil menghela nafas kasar.

“maafkan dia ya. Dia memang begitu kasar dan judes,”kata Hani dan Soojung terkekeh pendengarnya.

Akhirnya rambut Soojung kembali normal walaupun berantakan. Soojung melihat arlojinya hanya 15 menit lagi waktu sebelum keluar main dia dan Hani memutuskan untuk tetap membolos. Sunyi, tidak ada suara yang keluar dari masing-masing mereka. Hani berdehem sedikit dan mengeluarkan suaranya.

“Soojung, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”tanya Hani sambil melirik Soojung.

Soojung melihat Hani kembali dan menganggukan kepalanya sambil tersenyum, “geurom..”

“maaf.. bukan maksud untuk menguping pembicaraanmu. Saat pulang sekolah beberapa hari yang lalu aku…. aku melihatmu dengan Myungsoo sedang bertengkar,”kata Hani dengan lirih

Soojung mengigit bibir bawahnya, khawatir dan bingung apa yang harus dia katakan.

“kalau kau tidak mau menjawab tidak apa. Aku hanya bertanya,”lanjut Hani dengan senyuman.

Ne? hanya masalah masa lalu.. aku ingin menceritakan padamu,”

“Kau tidak terpaksa bukan?”tanya Hani sekali lagi.

Soojung menggelengkan kepalanya, “jadi waktu itu…” Soojung menceritakan segalanya dengan rinci. Hani yang mendengarnya terkejut dengan sikap Myungsoo kepada Soojung.

“Aku tidak menyangka Myungsoo begitu,”lirih Hani.

“Hm na-do..”kata Soojung dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku yakin semua ada alasan. Myungsoo orang yang punya alasan dibalik sesuatu hal yang dia kerjakan walaupun tindakannya salah. jadi jangan salah paham dengannya,”

“Aku tahu..”

Hani melirik ke arah Soojung yang telah mengeluarkan airmata. Tangan Hani terulur untuk menyeka airmata Soojung. Tanpa Soojung sadari mata lawan bicaranya sendiri sudah berair dan memerah. Tangisan Soojung semakin terisak jika mengingat semuanya, Hani langsung membawa Soojung kedalam pelukannya dan menepuk pelan punggung Soojung untuk membuatnya berhenti menangis namun dia sendiri malah mengeluarkan airmata tanpa sepengetahuan Soojung tentunya.

“berhentilah menangis, lebih biak kita mempersiapkan untuk pelajaran olahraga,”

“Baiklah..”kata Soojung dengan suara serak.

Soojung melepaskan pelukannya dengan Hani dan langsung mengusap airmatanya begitu juga dengan Hani. Saat melihat mata Hani, Soojung menjadi bingung karena mata perempuan tersebut juga memerah.

“Hani-ya kenapa matamu?”tanya Soojung.

Eung? Ah tadi aku tidak mengedipkan mataku makanya berkaca-kaca. Ayo,”ajak Hani dengan senyuman.

.

.

.

Kini pelajaran olahraga hendak di mulai. Semua murid sedang melakukan pemanasan dan kini mereka melakukan pemanasan dengan mengelilingi kolam berenang selama tiga putaran. Hampir semua tampak lelah dengan pemanasaran tersebut begitu pula Soojung dan Hani. Hani berhenti sejenak di pinggir kolam setinggi 2 meter. Soojung berlari dengan langkah gontai namun salah seorang temannya tidak sengaja menyenggol Soojung sehingga Soojung yang kini berada di belakang Hani tidak sengaja mendorongnya hingga terjatuh. Semua orang menjadi panik melihatnya begitu juga Soojung, tangan Soojung bergetar hebat. Myungsoo yang baru saja menyelesaikan putarannya menjadi kalang kabut dan refleks langsung menolong Hani yang sejak tadi meminta pertolongan. Sepengetahuan Myungsoo perempuan itu memiliki trauma tersendiri dengan kolam yang lebih tinggi darinya. Akhirnya Myungsoo dapat menyelamatkan Hani. Myungsoo membantu Hani untuk duduk dan guru olahraga memberikan handuk untuk Hani. Soojung langsung berjongkok dan meminta maaf kepada Hani.

“Hani-ah maaf aku..aku tidak sengaja, maafkan aku..”sesal Soojung.

Hani tersenyum, “tidak apa kau tidak salah kok,”

“Hani aku antar kau ke uks. Kajja,”kata Myungsoo dengan suara dingin dan menatap Soojung dengan pandangan yang tidak dapat di artikan.

Soojung menghembuskan nafasnya perlahan. Merasa bersalah pastinya. Bunyi pluit dari guru membuat anak-anak berkumpul kembali termasuk Soojung.

“cepat kembali jangan sampai kejadian tadi terulang, mengerti?”

allgeuseumnida,”kata anak-anak kecuali Soojung yang masih diam.

.

.

.

Saat pulang sekolah Soojung ingin meminta maaf kepada Hani sekali lagi karena masih merasa tidak enakan. Saat hendak masuk ke dalam UKS tiba-tiba saja dari dalam pintu seseorang membukanya dan ternyata itu Myungsoo.

“Myungsoo.. apa Hani baik-baik saja?”tanya Soojung.

Waeyo? Apa kau sengaja mencelakakan dia Soojung-ah? Apa karena masalah tempo hari?”ucap Myungsoo menggebu-gebu.

A..aniya.. seseorang menyenggolku tadi. Myungsoo…”

“Soojung-ah aku kecewa denganmu,”lirih Myungsoo.

Soojung hendak menjelaskan lagi kepada Myungsoo namun dengan cepat Myungsoo langsung pergi meninggalkan Soojung sendiri. Sedih, pastinya. Saat hendak membuka pintu UKS Soojung malah mengurungkan niatnya dan memilih untuk pulang. Soojung berjalan dengan kepala menunduk dan BRUG… dia menabrak seseorang.

Mian…”lirih Soojung.

Tidak ada sahutan dari orang yang ditabrak. Soojung lantas mendongkakan kepalanya dan hendak meminta maaf lagi.

“Hei kau kenapa?”tanya orang itu, Choi Minho.

Soojung menggelengkan kepalanya, “maaf menabrakmu Minho-ya,”kata Soojung.

“apa kau sedang sedih?”tanya Minho lagi mengabaikan permohonan maaf Soojung. Soojung hanya diam dan menatap Minho dengan senduh, “jangan menangis. Air mata seorang perempuan itu sangat berharga..”ucap Minho.

Soojung tersenyum mendengarnya namun tiba-tiba saja dia kaget saat Minho menggandeng tangannya.

“lebih baik menghibur hatimu. Aku punya tempat yang baik untuk menenangkan pikiran, kajja!”

Awalnya Soojung tampak kaget dan bingung namun dia berfikir mungkin akan baik menerima ajakan Minho. Dan Kini mereka berjalan menuju suatu tempat yang di maksud oleh Minho.

.

.

.

TBC

Advertisements

3 thoughts on “Reset [Chapter 6]

  1. Pingback: Chapter / Series | Secret Journey

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s