[Oneshoot] 100 Days

(Poster by Jungleelovely @ Poster Channel)

100 Days

Story by Fanita (woollimstan)

-Lovelyz’ Yein – BTS’ Jungkook-

Romance – School Life – Fluff – Hurt/Comfort

PG-15

[YEIN POV]

***

Yein menyukai seorang kakak kelas yang terkenal dengan kecuekan dan ketampanannya yaitu Jungkook. Banyak para gadis menyatakan perasaannya pada laki-laki itu namun semuanya di tolak oleh Jungkook. Namun nasib berkata lain pada Jeong Yein sebab dia salah seorang yang beruntung karena dapat di terima olehnya. Tapi bagaimana nasib Yein selama 100 hari bersama laki-laki impiannya itu?

.

.

.

Pulang sekolah Yein bergegas membereskan semua peralatan sekolahnya kedalam tas dan buru-buru kedalam kelas. Dia berlari kearah ruang musik sekolahnya. Beberapa meter dekat ruang musik Yein berhenti berlari dan mengatur pernafasannya. Dia mengambil sekotak cokelat yang ada ditasnya dan berkomat-kamit.

“huft.. semoga berhasil! Yein fighting!”ucapnya pada diri sendiri.

Dengan langkah gontai Yein berjalan keruang musik namun sebelum membuka pintu yang terkunci itu dia bertanya pada dirinya sendiri, “hari ini jadwalnya diruang musikkan?”batinnya. Saat Yein mau membuka pintu ruang musik itu seseorang dari dalam membukanya terlebih dahulu. Dengan cepat Yein langsung melepaskan tangannya yang ada digagang pintu dan berdiri sambil menyembunyikan cokelat yang dia bawa dibelakang badannya.

“kau kenapa kesini?”Tanya Sujeong heran saat melihat Yein.

Yein hanya tersenyum positif dan menggelengkan kepalanya.

“Oh ya sudah…”

Saat Sujeong melangkahkan kakinya satu meter Yein pun menghentikannya.

Su-sunbae apa ada Jungkook sunbae di dalam?”tanya Yein.

Sujeong meresponnya hanya dengan anggukan kepala dan langsung melanjutkan langkah kakinya. Setelah mengetahui bahwa Jungkook benar ada di dalam Yein mengatur pernafasaannya dan masuk ke dalam ruangan musik itu dengan hati-hati. Saat masuk kedalam Yein dapat melihat Jungkook yang tengah diam dikursi sambil menyetel gitar yang dia pangku dipahanya.

A-annyeonghaseyo sunbaenim,”sapa Yein.

Jungkook menghentikan aktivitasnya dan menatap datar Yein. Gadis itu berjalan untuk lebih mendekati Jungkook.

Su-sunbae.. aku ingin berbicara sesuatu padamu,”kata Yein malu.

“ada apa?”tanya Jungkook singkat.

Yein yang sedari tadi menyembunyikan cokelat buatannya dibelakang tubuhnya itu langsung memperlihatkan sekotak cokelat itu pada Jungkook dan menundukan kepalanya.

“aku membuatkannya untukmu sunbae. Mohon diterima…”

Jungkook mengambil cokelat itu dan dia letakan dimeja yang ada disampingnya. Dia menatap Yein lagi dengan heran kenapa gadis itu belum pergi juga.

Su-sunbaenim sebenarnya aku ingin… hm.. aduh gimana ya aku harus mengatakannya?”rutuk Yein pada dirinya sendiri.

“kau mau memintaku untuk menjadi pacarmu. Itu pertanyaanmu?”ucap Jungkook tiba-tiba.

Yein membulatkan matanya mendengar Jungkook berkata seperti itu. Dengan polos Yein menganggukan kepalanya.

“Aku dan kau pacaran begitu maksudmu?”tanya Jungkook. Lagi Yein menganggukan kepalanya. “Baiklah kalau itu maumu,”ucap Jungkook.

Yein kaget mendengar ucapan Jungkook barusan. Dia mengedipkan matanya berulang kali untuk memastikan ini bukan mimpi bahkan gadis itu mencubit tangannya sendiri.

“Kau serius sunbae?! Kau mau?!”pekik Yein. Jungkook menganggukan kepalanya. Yein sangat senang sekali saat ini dia pun melompat tidak jelas dengan wajah sumringah.

“Terima kasih banyak Jungkook sunbae kalau begitu aku pulang dulu…”

Yein membalikan badannya dan baru saja beberapa langkah berjalan dia menghentikan langkahnya dan membalikan badannya sebentar, “Jeong Yein itu namaku. Aku anak kelas 2B. Kalau begitu sampai jumpa besok, annyeong sunbae!”riang Yein. Dan Kini Yein pun keluar dari ruang musik itu dengan perasaan bahagia.

.

.

.

Keesokan harinya saat pulang sekolah Yein menunggu seseorang di gerbang sekolahnya dengan gelisah. Ia sangat yakin bahwa orang yang sedang dia tunggu sudah waktunya pulang saat ini. Yein terus melihat satu persatu orang yang keluar dari sekolah dan akhirnya yang dia tunggu sudah muncul batang hidungnya.

Sunbae!”panggil Yein bersemangat.

Tidak bukan yang dipanggil Yein barusan adalah Jungkook. Laki-laki itu sadar bahwa Yein memanggilnya. Tanpa mengeluarkan suaranya Jungkook mengisyaratkan Yein untuk mengikutinya. Tanpa penolakan Yein dengan senang hati mengikuti Jungkook dari belakang.

.

.

.

Yein dan Jungkook sudah berjalan lumayan jauh dari sekolah. Bahkan gang yang mereka lalui sangat sepi dan hanya ada mereka berdua di tempat ini. Yein mengambil kesempatan untuk berjalan lebih dekat dengan pacarnya namun ia terkejut saat Jungkook mengeluarkan suaranya.

“Jangan berjalan di dekatmu. Tetapkan jarak 1 meter dari belakangku,”pesan Jungkook.

Yein terkejut namun dia menuruti permintaan Jungkook barusan. Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat yang dituju oleh Jungkook. Ternyata Jungkook meletakan motornya di depan halaman seseorang. Yein bertanya-tanya dalam benaknya kenapa Jungkook memarkirkan motornya disini.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”tanya Jungkook.

Sunbae.. aku tidak punya nomor ponselmu jadi aku tidak tahu bagaimana bisa menghubungimu,”jawab Yein dengan polosnya.

“Berikan ponselmu,”pinta Jungkook.

Dengan senang hati Yein mengeluarkan ponselnya dari sakunya lalu memberikannya pada Jungkook. Setelah memegang ponsel Yein dia langsung mengetik nomor ponselnya untuk di simpan dalam kontak Yein. Menyimpan nomor tidak membutuhkan waktu lama namun Jungkook sudah memegang ponsel Yein lebih dari 5 menit.

Sunbae apa kau ada kesulitan menyimpan nomorku?”tanya Yein.

“Aku ingin berkaca. Tapi tidak menemukan di mana aplikasi kameramu,”jawab Jungkook.

“Apa boleh aku bantu?”tanya Yein.

Jungkook memberikan kembali ponsel Yein ke pemiliknya. Setelah Yein selesai mencarikan aplikasi kamera di hapenya dia kembali memberikan itu pada Jungkook. Ketika melihat Jungkook berkaca di ponselnya Yein tidak bisa berhenti tersenyum seperti orang bodoh. Perasaannya sungguh senang dan tidak percaya bahwa dia bisa berduaan dengan Jungkook di tempat yang sungguh sepi.

“Kenapa tersenyum seperti orang bodoh?”tanya Jungkook.

“Ah.. maaf aku hanya senang saja bisa melihat sunbae,”jawab Yein malu-malu.

Terdengar suara deheman dari Jungkook yang membuat Yein menjadi was-was jika dia salah berbicara. Jungkook memberikan kembali ponsel Yein kepadanya dan memakai helmnya.

“Aku mau pulang. Apa masih ada yang ingin dibicarakan?”tanya Jungkook.

“Tidak ada lagi. Kalau ada aku akan mengirimkan sunbae pesan kepadamu. Bolehkan?”ujar Yein.

“Ya boleh saja,”kata Jungkook.

“Kalau begitu pulanglah sunbae,”

Ketika melihat Jungkook sudah bersiap-siap untuk naik ke atas motor Yein sadar diri meninggalkan Jungkook duluan.

.

.

.

Di mana-mana tampak sepi bahkan halte bus juga sepi dari orang-orang. Yein merasa karena dia pulang memang sedikit terlambat makanya suasana begitu sunyi di jam seperti ini. Gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya ia menghembuskan nafasnya saat tahu masih tersisa waktu 45 menit sebelum subway tujuannya datang ke halte ini. Maka dari itu Yein memutuskan untuk memainkan ponselnya terlebih dahulu. Yein melihat-lihat isi galerinya dan ia terkejut ketika melihat sebuah foto tersimpan di sana. Foto itu adalah gambar Jungkook dengan ekspresi yang sangat datar. Yein berfikir mungkin Jungkook tidak sengaja menekan tombol sehingga kamera mengabadikan dirinya.

“Jungkook sunbae tampan sekali! Wah beruntungnya ada foto ini hanya aku yang punya lagi!”ucap Yein penuh semangat.

Diam-diam Yein menjadikan foto itu sebagai wallpaper handphonenya. Senyum di bibir Yein tidak pudar setelah menjadikan foto Jungkook sebagai wallpapernya. Untung saja disini hanya ada dia seorang jadi orang lain tidak berfikiran bahwa dia adalah orang gila.

.

.

.

Hari demi hari Yein lalui dengan status sebagai pacar Jungkook. Walau tidak diketahui oleh orang lain –Jungkook meminta Yein merahasiakannya itu tidak membuat Yein tertekan atau sedih. Yein setiap hari melewati harinya dengan penuh semangat. Kali ini Yein sudah memiliki janji bersama Jungkook saat pulang sekolah. Saat memastikan bahwa semua orang sudah pulang ke rumah Yein berjalan penuh hati-hati ke ruang musik karena dia ingin bertemu dengan Jungkook disana. Hari ini memang tidak ada jadwal latihan yang resmi untuk Jungkook yang notabenenya adalah anak sangsar seni khususnya dalam bidang vocal tetapi karena sebentar lagi ada festival Jungkook setiap hari berlatih dengan giat di sekolah ataupun di rumah.

Sunbae apa aku boleh masuk?”tanya Yein dari balik pintu.

“Iya!”seru Jungkook.

Klekk…

Yein membuka pintu ruangan musik dan sedang melihat Jungkook menulis sesuatu di buku. Dengan senyum yang mengembang Yein menghampiri Jungkook dan duduk disebelahnya.

“Jungkook sunbae apa kau lapar? Aku menyiapkan gimbap buatanku sendiri untukmu. Aku membuatnya pagi sekali,”oceh Yein.

“Hmm kebetulan aku lapar,”balas Jungkook.

Assa! Yein langsung mengeluarkan bekal makanan dari dalam tasnya. Ia membuka tutup makanan itu dan memberikan Jungkook sumpit yang sudah dia siapkan dari rumah. Karena perut Jungkook yang keroncongan sejak tadi tanpa pandang bulu ia mengambil sumpit sekaligus kotak makanan itu dan mulai mencicipi gimbap buatan Yein. Saat melihat Jungkook memasukan gimpab itu sekaligus kedalam mulutnya Yein berharap-harap cemas agar rasanya tidak seburuk yang dia bayangkan. Maklum ini adalah kali pertamanya dia membuat makanan untuk orang lain. Yein merasa makanan buatannya tidak terlalu enak namun karena dia memasak untuk diri sendiri selama ini Yein merasa nyaman-nyaman saja.

“Lumayan juga..”komentar Jungkook.

Yein langsung mengepalkan tangannya ke udara. Rasa cemasnya kini terlewati setelah mendengar ucapan Jungkook barusan. Kebahagian Yein juga semakin bertambah saat melihat Jungkook begitu lahap menyantap gimbap buatannya. Tidak sengaja pandangan mata Yein tertuju pada buku yang ada disamping tempat duduk Jungkook. Ia iseng bertanya padanya apa yang tadi dilakukan oleh Jungkook.

Sunbae tadi kau sedang apa?”tanya Yein.

“Mengerjakan sesuatu untuk festival musik nanti,”jawab Jungkook.

“Festivalnya kapan? Aku pasti akan melihat sunbae. Apa sunbae akan bermain gitar?” Yein penasaran.

“Aku akan bernyanyi juga. Berhubung vokalis kami akan pergi ke luar negeri untuk pertukaran pelajaran saat itu maka mereka meminta aku yang menggantikannya,”kata Jungkook.

“Aku jadi tidak sabaran untuk melihatnya. Aku akan menonton sunbae di barisan paling depan. Aku janji!”ucap Yein menggebu-gebu.

“Hmm… apa aku boleh meminta minuman?”tanya Jungkook.

“Tunggu sebentar…”

Yein memberikan minumannya pada Jungkook. Setelah meneguk air masuk ke dalam kerongkongannya Jungkook memberikan itu kembali pada Yein.

“Apa kau bisa membuatkannya lagi untukku? Lusa nanti berikan padaku saat aku latihan,”ucap Jungkook tiba-tiba.

“Apa?! Sunbae.. aku tidak salah dengarkan?”tanya Yein tidak percaya. Jungkook menggelengkan kepalanya, “Sunbae aku akan membuatnya lagi untukmu. Yang banyak!”seru Yein.

“Terima kasih,”balas Jungkook singkat.

Rasa bahagia Yein tidak bisa di tahan. Ia sangat senang untuk membuatkan makanan ini lagi untuk Jungkook. Dia harus bangun pagi untuk menyiapkan ini semua karena jika orangtuanya tahu dia bisa saja di introgasi dengan ribuan pertanyaan.

.

.

.

Jam menunjukan pukul 5 sore namun Jungkook mengatakan padanya bahwa dia masih harus latihan sampai jam 7 di sekolah. Maka dari itu Yein pamit pulang terlebih dahulu. Bisa-bisa dia digantung jika pulang malam-malam. Yein berjalan menuju halte bus walaupun dia yakin bahwa tidak ada lagi ada bus yang bisa mengangkutnya pulang menuju tujuannya. Setidaknya Yein berfikir dia bisa menunggu taksi lewat di sana sambil beristirahat.

.

.

.

Yein membuka kedua matanya yang tadi tertutup rapat karena dia ketiduran. Gadis itu terkejut saat melihat langit sudah menjadi gelap. Dengan keadaan panik Yein langsung melihat jam tangannya ternyata jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Namun kepanikan Yein berubah menjadi rasa heran saat melihat sebuah jaket menyelimuti kakinya.

“Ja..jaket siapa ini?”heran Yein.

Sebuah taksi baru saja lewat di depannya tanpa memikirkan masalah jaket Yein langsung berlari memanggil taksi itu. Karena dia berterima kasih dengan jaket yang menutupi kakinya selama ia tidur Yein juga membawa jaket itu mana tahu dia bisa menemukan pemiliknya lalu mengembalikan jaket itu serta berterimakasih kepadanya.

.

.

.

Cklek..

Yein membuka pintu rumahnya perlahan-lahan karena takut jika ketahuan oleh orang tuanya dia bisa saja di omelin panjang lebar. Namun saat membuka pintu lebar-lebar dia terkejut dengan keluarganya yang sedang berkumpul bersama di ruang tengah melihat kedatangannya dengan pandangan datar.

“Aku….pulang,”kata Yein dengan kikuknya.

Uri Yein baru pulang. Ya sudah cepat masuk dan bersihkan dirimu. Lalu makan makanan yang sudah ayah beli tadi sebelum dingin,”ucap ibunya.

Ye?”kaget Yein.

“Kenapa bengong disana? Cepat sebelum makanannya dingin kami sudah menunggumu dari tadi,”titah ayah.

“Ba..baiklah,”

Dengan penuh keheranan Yein berlari ke kamarnya untuk segera membersihkan dirinya sebelum menyantap makan malam. Tidak biasa sikap orangtua Yein begitu baik ketika dia pulang terlambat. Yein ingat sekali 4 bulan yang lalu dia pulang tidak tepat waktu dan ia tidak diperbolehkan untuk ikut makan malam. Kejadian yang sangat Yein sesalkan karena dia tidak makan sejak jam makan siang jadinya Yein menahan lapar sampai keesokan paginya.

.

.

.

Saat jam makan siang Yein makan di kantin bersama teman sekelasnya. Untuk masalah makan Yein termasuk orang yang tidak pernah berbicara saat sedang menyantap makanan maka dari itu dia hanya mendengar percakapan teman-temannya saja.

“Kau tahu anak baru yang ada di kelas Jungkook sunbae? Orang-orang bilang dia dekat sama Jungkook sunbae. Ah beruntungnya,”oceh Halla.

“Kau serius? Bagaimana bisa? Ini tidak bisa dibiarkan!”kesal Shinae.

“Mingyu Oppa sekelas dengan Jungkook sunbae dia memang sering bilang di kalau Jungkook sunbae yang pendiam itu hanya bisa dekat dengan anak baru itu,”sahut Youngyoo.

“Ah…. beruntungnya gadis itu. Gadis paling beruntung yang bisa dekat dengan Jungkook sunbae! Aku penasaran apa eonnie itu cantik? Mana tahu mereka serasi,”seru Halla.

Yein panas mendengar pembicaraan teman-temannya barusan. Gadis itu merasa cemburu dengan ucapan mereka semua. Ia menghela nafas panjang dan memilih untuk meninggalkan teman-temannya tanpa pamit lagi.

“Ada apa dengannya?”heran teman-teman Yein.

.

.

.

Dengan langkah gontai Yein berjalan ke kelasnya. Dia sudah merasa kenyang mendengar semua ucapan Halla, Shinae dan Youngyoo barusan. Yein terus menundukan kepalanya saat berjalan menuju kelasnya. Tanpa memperhatikan jalanan Yein tiada henti melangkahkan kakinya untuk segera sampai ke kelas namun lajur jalannya di hentikan oleh seseorang. Yein yang sedari tadi melihat ke bawah merasa heran ketika sepasang kaki seseorang terus berdiri di hadapannya. Yein menatap ke atas lalu terkejut saat tahu yang berdiri di hadapannya adalah Jeon Jungkook! Walaupun begitu entah kenapa saat ini Yein tidak bisa tersenyum pada kekasihnya itu. Biasanya selelah apapun harinya Yein akan terus tersenyum ketika bertukar pandang dengan Jungkook di sekolah. Tidak ada satupun ucapan yang keluar dari keduanya sampai akhirnya seseorang menyerukan nama Jungkook. Yein dan Jungkook menoleh ke sumber suara kemudian seorang gadis dengan penuh senyuman menghampiri Jungkook.

“Jungkook-ah seseorang bilang aku dipanggil oleh guru yang bernama Yoon Jisung. Aku tidak tahu yang mana guru itu bisa kau antarkan aku?”pinta gadis itu tanpa mempedulikan Yein.

“Baiklah akan aku antar ke kantor guru. Ayo Eunha-ya,”kata Jungkook.

Jungkook dan gadis bernama Eunha itu berjalan berdampingan. Semua orang menatap iri kepada gadis yang panggil Eunha oleh Jungkook barusan. Rasa penasaran Yein tadi sudah terhapuskan karena ia dengan matanya sendiri sudah melihat gadis yang dimaksudkan oleh teman-temannya tadi di kantin. Tapi setelah melihat Eunha hati Yein terasa lebih panas seakan-akan ada api kebakaran yang sedang menyelimuti dirinya.

.

.

.

Pandangan kosong Yein membuat teman-temannya penasaran apa yang terjadi dengan sahabatnya yang terkenal ceria. Yein sendiri dengan pandangan datar melihat kalender yang tertera di ponselnya. Hari ini sudah terhitung 1 bulan semenjak Yein dan Jungkook menjadi sepasang kekasih. Harusnya dia merasa bahagia hari ini namun karena kejadian tadi membuatnya dongkol.

“Yein kau sedang apa?”tanya Youngyoo sambil mengintip layar ponsel Yein.

Yein langsung menyembunyikan ponselnya agar tidak ketahuan. Bisa mampus dia jika Youngyoo tahu kalau wallpaper ponselnya itu foto Jungkook!

“Bukan apa-apa aku hanya sakit perut,”dusta Yein.

“Kalau sakit lebih baik ke UKS. Mau aku antar Yein-ah?”tawar Youngyoo.

“Tidak usah aku mau tidur saja kalau ada guru tolong bangunkan aku,”kata Yein.

“Baiklah…”

Yein membaringkan wajahnya di atas meja. Ia menutupi seluruh wajahnya sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa diam-diam gadis ini sedang menangis.

.

.

.

Saat pulang sekolah Yein berjalan menuju halte. Hembusan angin begitu kencang sehingga rambutnya menjadi berantakan. Langit tampak mendung sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Bahkan langit tahu tentang suasana hatinya, batin Yein.

“1..2…3..”

Yein berjalan sambil menghitung langkah kakinya. Setidaknya dengan begitu dia dapat hiburan sendiri.

Tsh..tsh..tsh..

Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Yein melihat ke atas dan air hujan kini sudah mulai lebat. Dalam hitungan ketiga Yein sudah berlari untuk segera sampai ke halte bus tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang mengikutinya.

“Berhenti!”teriak seseorang.

Langkah kaki Yein terhenti ketika mendengar suara familiar terdengar oleh telinganya. Seketika ia terlindungi oleh air hujan karena seseorang sedang memanyunginya. Yein menoleh ke samping dan sangat terkejut bahwa tahu orang yang melindunginya adalah Jungkook.

Sunbae…”bisik Yein.

“Ayo jalan,”ajak Jungkook.

Keduanya berjalan dengan langkah pelan. Tidak ada suara terdengar dari keduanya karena disatu sisi Jungkook memasang ekspresi yang sangat canggung sementara Yein sendiri masih terkejut dengan hal ini. Yein tidak pernah membayangkan bahwa Jungkook akan memberikannya tumpangan payung untuk sampai ke halte.

Sunbae,”

“Kau..”

Mereka saling pandang saat Yein dan Jungkook mengeluarkan suaranya serentak.

“Bicaralah duluan,”

Lagi dan lagi mereka berbicara bersamaan. Yein mengepalan tangannya karena dengan situasi dia menjadi sangat gugup.

“Tidak bawa payung?”tanya Jungkook.

“Aku lupa karena aku fikir nanti bakalan panas terik,”jawab Yein.

“Ah begitu…”

Sunbae sendiri tumben lewat sini? Bukannya hari ini latihan untuk festival?”tanya balik Yein.

“Aku mau mampir ke mini market tapi saat aku lihat perempuan sepertimu berlari karena kehujanan makanya aku menghampirimu,”balas Jungkook.

Blush..

Pipi Yein memerah mendengar ucapan Jungkook barusan. Seperti terkena sihir rasa cemburunya disekolah tadi telah sirna. Diam-diam Yein tersenyum karena ucapan Jungkook barusan. Ucapan itu membuat hati Yein semakin sejuk di tengah-tengah dinginnya hujan yang sedang menghampiri Seoul siang ini.

.

.

.

Festival band yang di tunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Hari ini Jungkook akan tampil menjadi band pembuka bersama anggota bandnya dan sesuai dengan janjinya Yein akan menonton di barisan paling bertama. Seperti orang bodoh Yein datang ke sekolah sejak pukul setengah 7 pagi agar tidak terlambat padahal acara akan di mulai pukul 8 pagi. Tujuan Yein datang pagi sendiri karena dia sudah memiliki janji bersama Jungkook untuk berbicara terlebih dahulu sebelum acara di mulai.

“…….”

Sunbae aku sudah sampai di sekolah. Apa sunbae ada disini? Sunbae dimana?”

“…….”

“Dibelakang perpustakaan? Baiklah aku akan kesana sekarang,”

Sambungan telfon terputus dengan hati yang gembira Yein berlari menuju belakang perpustakaan agar segera menemui Jungkook disana!

.

.

.

Sunbae!”

Jungkook yang sedang melamun langsung tersadarkan ketika suara Yein memanggil namanya. Jungkook yang semulanya sedang bersandar di dinding langsung membetulkan posisi tegak untuk menyambut kedatangan Yein.

“Ada apa ingin menemuiku?”tanya Jungkook.

Sunbae semoga semua kerja kerasmu akan terbayarkan hari ini! Sesuai janji aku akan menontonmu di barisan paling depan!”seru Yein.

“Hmm baiklah,”gumam Jungkook.

“Jungkook sunbae apa kau permen?”kata Yein.

Ye?”

“Sini tanganmu!”

Yein mengeluarkan beberapa permen mint dari sakunya. Ia meminta Jungkook memberikan tangannya kepada Yein. Dengan kikuk Jungkook menadahkan tangannya dihadapan Yein. Tanpa Jungkook sangka Yein memegang tangannya untuk pertama kali sejak mereka berpacaran. Setelah meletakan 5 butir permen di telapak tangan Jungkook ia langsung tersenyum sehingga matanya menghilang.

“T…terima kasih,”ucap Jungkook.

“Ah ini bukan apa-apa kok sunbae. Sunbae fighting!”seru Yein sambil mengepalkan tangannya.

“Y..ya fighting…”balas Jungkook. Dengan malu-malu dia ikut mengepalkan tangannya ke udara mengikuti apa yang barusan Yein lakukan.

.

.

.

Doegopa neoui oppa
(Aku ingin, menjadi ‘oppa’ mu)
Neoui sarangi nan neomu gopa
(Aku sangat lapar untuk cintamu)
Doegopa neoui oppa
(Aku ingin, menjadi ‘oppa’ mu)
Neol gatgo mal geoya dugo bwa
(Aku dapat memilikimu , coba lihat…)

“Jungkook sunbae!! Hwaaa sunbae!!!”

Semua siswi perempuan menjerit ketika mendengar Jungkook menyanyikan lagu ciptaannya. Sebelum band Jungkook menampilkan lagu yang akan mereka bawakan Jungkook mengatakan bahwa dia menciptakan sebuah lagu khusus untuk festival seni ini. Dia berusaha keras untuk menciptakan lagu bagus yang membuat orang lain suka mendengarnya. Sebagai kekasih Yein tentu bangga dengan hal itu. Dia tidak menyangka bahwa seorang Jeon Jungkook bisa menciptakan lagu yang terdengar bagus di telinganya. Yein terus memperhatikan Jungkook dan mendengarkan dengan seksama suaranya yang merdu. Tiba-tiba saja Jungkook mengeluarkan senyumannya, tidak pernah Jungkook seperti itu dan wajar saja gadis-gadis kembali berteriak histeris. Jeong Yein melihat arah tatapan mata Jungkook dan dia terkejut saat tahu bahwa Jungkook sedang melihat ke arah Eunha. Badan Yein terasa begitu lemas sampai-sampai dia hampir terjatuh saat seseorang tidak sengaja menjolaknya.

Ya kalau sakit jangan menonton pertunjukan,”oceh salah satu senior Yein.

“Maaf sunbae…”

Yein memilih untuk keluar dari kerumungan tanpa menyelesaikan melihat pertunjukan Jungkook dan teman-teman. Dia merasa kecewa ia fikir saat memberitahu Jungkook dia akan menonton di barisan paling depan Jungkook bisa melihatnya tetapi dia salah sangkah dan kekecewaan yang malah dia dapatkan.

.

.

.

“Yein-ah kau mau kemana?”tanya Halla saat melihat Yein yang pergi menjauh dari pertunjukan.

“Aku ingin ke toilet Halla-ya,”jawab yein bohong.

“Mau aku temanin?”

“Tidak usah. Pergi saja nonton sama yang lainnya,”ucap Yein setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Halla sendiri.

Kini Yein melangkahkan kakinya kebelakang perpustakaan dan duduk disana sendirian. Ia memegangi ponselnya lalu memperhatikan wallpaper Jungkook yang dia pasang. Jungkook tidak pernah tersenyum seperti itu padanya, disaat dia tersenyum menawan seperti itu dihadapan orang banyak dia malah menatap gadis bernama Eunha. Tanpa sadar air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Yein dia berfikir apa harus berhenti sampai disini? Bahkan Jungkook tidak pernah berjuang untuk hubungan mereka. Hanya Yein yang berusaha.

“Kau sedang apa?”tegur seseorang.

Yein langsung berdiri dan mengusap air matanya. Ia terkejut saat melihat Jungkook ada di hadapannya lalu melangkah lebih dekat ke arahnya. Namun tetap saja air mata Yein terus menerus jatuh karena saat ini perasaannya begitu sedih untuk melihat Jungkook.

“Kau kenapa disini bukannya sudah janji mau menonton pertunjukanku di barisan paling depan?”tanya Jungkook.

“Sudah selesai tampil ya sunbae?”ucap Yein mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa menangis disini bukannya menikmati acara? Kau datang dari pagi,”kata Jungkook.

“A..aku hanya sedih karena kehilangan uangku,”dusta Yein.

“Kau kehilangan uangmu? Lalu bagaimana kau makan nanti?”tanya Jungkook.

Ye? E..entahlah,”

Yein merasa bingung karena terjebak dengan kebohongannya sendiri.

“Apa menurutmu ini acara membosankan?”tanya Jungkook. Tidak biasanya dia banyak tanya.

“Entahlah.. Sepertinya kalau yang tampil sunbae tidak akan membosankan. Semua orang menikmatinya,”jawab Yein.

“Kau bilang tidak menonton pertunjukanku bagaimana bisa tahu kalau itu tidak akan membosankan?”cerocos Jungkook.

Su..sunbae aku harus pergi dari sini,”

Yein melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat ini namun saat ia berjalan disamping Jungkook gadis itu sungguh terkejut karena Jungkook menahan pergelangan tangannya untuk berhenti berjalan.

“Aku belum sarapan. Mau menemaniku untuk makan?”tanya Jungkook.

Ye?!!”

.

.

.

Di sebuah cafe yang terlihat sepi karena masih belum banyak pengunjung yang datang di pagi hari Yein dan Jungkook bersama menyantap sarapan mereka. Berhubung Yein sudah makan sebelum pergi ia hanya memesan pancake cokelat sementara Jungkook memakan bimbimbap. Selama ini Yein tidak pernah berharap bisa pergi bersama Jungkook ke tempat di luar sekolah namun ini di luar dugaannya karena sekarang dia berada di tempat ini bersama Jungkook!

“Kenapa melihatiku? Makan pancake itu,”tegur Jungkook.

Ne sunbae,”

Sesekali Jungkook terlihat memainkan ponselnya dan itu membuat Yein penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Jungkook. Seakan tahu pertanyaan yang ada dibenak Yein dengan santainya Jungkook memainkan sebuah musik dari ponselnya. Ketika mendengar lagu yang sedang di putar Yein mengerutkan keningnya karena dia tahu lagu ini adalah lagu yang tadi Jungkook nyanyikan di atas pentas.

“Bagaimana menurutmu?”tanya Jungkook.

“Ini lagu siapa?”ucap Yein pura-pura tak tahu.

“Aku menciptakannya. Bagaimana?”

“Itu bagus sunbae. Kau memiliki banyak bakat ya,”puji Yein.

“Hmm sepertinya,”gumam Jungkook.

Sunbae dapat inspirasi dari mana?”heran Yein.

“Hmm inspirasi itu datang dari mana saja tapi tetap saja ada alasan utama untuk menciptakannya,”balas Jungkook sambil tersenyum tipis.

Seketika Yein membayangkan senyuman Jungkook di panggung tadi sambil menatap Eunha. Tanpa alasan tertentu Yein sangat yakin bahwa inspirasi Jungkook datang dari Eunha. Maka dari itu dia diam saja tak membalas lagi ucapan Jongkook barusan.

“Kau sudah selesai makan? Kalau begitu ayo kita pergi,”ajak Jungkook.

.

.

.

“Terima kasih banyak sudah mengantarkanku pulang, sunbae.”ucap Yein sambil membungkukan badannya.

“Hmmm.. tidak masalah,”kata Jungkook.

“Kalau begitu aku masuk duluan. Sampai jumpa,”pamit Yein.

Yein membalikan badannya untuk segera masuk ke dalam rumah. Tetapi saat dia akan membuka pagar rumahnya suara Jungkook menghentikan Yein melakukan hal tersebut, “Jeong Yein…. kau jelek saat menangis,”celetuk Jungkook. Saat Yein membalikan badannya Jungkook sudah melaju pergi dengan motor gedenya meninggalkan Yein yang sedang terkejut setengah mati. Hari ini pertama kalinya untuk Jungkook memanggil Yein dengan namanya bahkan menggunakan nama lengkap. Perasaannya hari ini campur aduk dibikin oleh Jungkook. Yein terheran sendiri bagaimana bisa seorang laki-laki sepertinya melakukan hal ini padanya.

.

.

.

Dari jendela kelasnya seorang gadis menatap bawah lapangan dan memperhatikan kakak kelasnya sedang berolahraga. Gadis itu adalah Jeong Yein yang kini sedang memperhatikan Jungkook berolahraga. Yein merasa tidak ada kekurangan dalam diri Jungkook karena dia bagus dalam segala hal. Wajar saja jika banyak perempuan yang menyukai dan menyatakan cinta kepada Jungkook termasuk dirinya. Mata Yein membulat ketika melihat Eunha tiba-tiba saja terjatuh ketika sedang berlari mengelilingi lapangan untuk pemanasan dan yang lebih mengejutkan Jungkook menghampiri Eunha dan langsung menggendongnya pergi. Teman sekelas Yein yang juga memperhatikan lapangan bersorak kaget melihat kejadian barusan.

“Ternyata Jungkook sunbae dan Eunha sunbae benaran dekat!”

“Eunha sunbae kenapa hebat sekali sih bisa dekat dengan Jungkook sunbae padahal mereka baru saja kenal,”

“Aku tidak suka dengan Eunha sunbae!”

Mendengar ucapan teman-temannya membuat Yein menjadi pusing. Ia memilih untuk kembali ke tempat duduknya dan bermalas-malasan disana. Menangis saja dia tak sanggup lagi karena ini sudah ketiga kalinya terjadi.

.

.

.

Sepanjang pelajaran matematika sedang berlangsung Yein terlihat begitu lesu. Ibu Seo yang memperhatikan hal itu langsung menghampiri Yein dan bertanya padanya apa yang terjadi. Yein hanya menggelengkan kepalanya karena tidak ingin menjawab pertanyaan guru. Bisa dibilang gila dia jika semua orang tahu dia seperti ini karena perasaan cemburu yang sedang menyelimutinya.

“Sepertinya kau sakit untuk saat ini beristirahatlah dulu di UKS. Shinae tolong antar Yein ke UKS,”

“Baik bu,”

Shinae mengampiri Yein dan membopong tubuh Yein untuk pergi ke UKS. Sepanjang perjalanan menuju UKS Yein terus diam sehingga sikapnya membuat Shinae penasaran apa yang terjadi pada sahabatnya.

“Yein akhir-akhir ini kau lesu tidak seperti biasanya. Apa kau punya masalah?”tanya Shinae.

“Tidak ada aku hanya ingin diam saja,”jawab Yein.

“Aku rindu Yein yang dulu,”aku Shinae.

“Aku masih Yein yang dulu, Shinae-ya. Sampai sini saja mengantarkanku, aku bisa masuk sendiri,”

Mereka yang sudah sampai di depan UKS langsung berpisah karena permintaan Yein barusan. Yein masuk ke dalam UKS secara perlahan dan mendapatkan bahwa ada seseorang yang sedang tertidur di sana. Tidak lain orang itu adalah Eunha. Tanpa fikir panjang Yein langsung berjalan ke kasur yang ada disamping Eunha dan tidur disana. Karena Yein sejak awal tidak berniat tidur dia hanya berbaring dengan perasaan gelisah. Sesekali dia memperhatikan Eunha yang ada disampingnya. Rasanya begitu kikuk untuk berada diruangan yang sama dengan orang yang tidak dia suka.

“Matamu bisa keluar dari tempatnya jika terus melihatku seperti itu,”tegur Eunha.

Eunha membuka kedua matanya lalu melihat Yein yang tertangkap basah sedang memperhatiannya. Perlahan Eunha membetulkan posisi duduknya dan menatap intens Yein yang sedang panik itu.

“Ada yang ingin di bicarakan?”tanya Eunha.

“a..aku punya 1 pertanyaan,”jawab Yein.

“Apa?”kata Eunha.

“Hubungan sunbae dengan Jungkook sunbae apa? Kalian begitu dekat,”

“Apa perlu aku memberitahu hubunganku dengannya? Hubungan kami begitu dekat. Sudah terjawabkan? Kalau begitu jangan melihatku dengan tatapan seperti itu,”ucap Eunha dengan tegas.

Glek.. Yein menelan salivanya karena takut melihat Eunha. Dia tidak berfikir bahwa Eunha orang yang seperti itu padahal tempo hari dia begitu manis saat bicara pada Jungkook. Karena takut ditegur lagi Yein membalikan posisi badannya menghadap dinding dibandingkan menghadap ke Eunha lagi.

.

.

.

Sudah berhari-hari Yein memikirkan ucapan Eunha waktu itu. Dia sangat penasaran hubungan dekat macam apa yang dimaksud oleh Eunha. Ingin sekali rasanya Yein bertanya pada Jungkook namun dia menahan rasa penasaran itu karena takut menyebabkan konflik di dalam hubungannya.

Drt….drrttt….

Ponsel Yein bergetar ia langsung mengambilnya dalam tas lalu melihat ID pemanggil. Yein mengerutkan keningnya heran saat tahu bahwa Jungkook menghubunginya duluan. Dia langsung menerima panggilan itu dan meletakan ponselnya ke dekat telinga.

Yeoboseyo.. Ada apa Jungkook sunbae?”

“Temui aku di ruang musik sekarang,”

“Ba..baiklah sunbae,”

Setelah mendapatkan panggilan itu Yein buru-buru pergi ke ruangan musik. Dia penasaran apa yang ingin Jongkook lakukan karena tidak biasanya Jungkook seperti ini.

.

.

.

Annyeong haseyo..”

Jongkook memberikan sinyal pada Yein untuk cepat menghampirinya. Tanpa canggung Yein duduk disamping Jungkook seperti biasanya. Saat Yein sudah duduk disampingnya Jungkook memainkan lagu ciptaannya menggunakan gitar. Seakan terbawa suasana Yein mendengarkan itu penuh seksama dan ikut menyanyikannya. Wajar saja jika dia hapal karena Yein diam-diam mengirimkan video penampilan band Jungkook yang di rekam oleh Halla ke ponselnya.

“Kau hafal laguku?”tanya Jongkook seudai memainkan gitarnya.

Jongkook meletakan gitarnya disamping lalu merenggangkan tubuhnya.

“I…iya.. teman sekelas banyak yang merekam penampilan sunbae jadi aku sering mendengarkannya,”kata Yein.

“Ah… kau memperhatikanku rupanya,”celetuk Jongkook.

Yein hanya bisa tersenyum kikuk mendengarnya

“Kau penasarankan kenapa aku memanggilmu?”tanya Jungkook yang di balas anggukan oleh Yein, “Tanggal 27 April aku mendapatkan 2 tiket gratis untuk menonton. Sepupuku memberikannya untukku. Kau bisa pergi di hari itu?”lanjut Jungkook.

Tanpa ragu Yein menganggukan kepalanya yang menandakan bahwa dia setuju dengan hal itu.

“Baguslah. Jangan lupa tanggal 27 April. Aku akan menghubungimu lebih lanjut kalau begitu,”ujar Jungkook.

27 April.. Saat ingat apa yang akan terjadi di hari itu Yein sangat terkejut. 27 April… hari jadi mereka yang ke 100! Haruskah Yein berterima kasih kepada sepupu Jongkook itu karena memberikan mereka tiket gratis di hari itu?

“Kau masih mau disini? Kalau kau mau pergi boleh saja karena aku sudah selesai berbicara,”tegur Jungkook.

“A..aku mau disini melihat sunbae latihan!”kata Yein.

“Boleh saja..”

Jongkook kembali memainkan gitarnya seperti biasanya dan Yein sendiri hanya duduk diam sambil memperhatikan kekasihnya itu memainkan alat musik tersebut.

.

.

.

Hari ini Youngyoo merayakan hari ulang tahunnya. Sebagai tanda berterimakasih sudah diberikan hidup yang panjang Youngyoo mengajak sahabat-sahabatnya yaitu Yein, Shinae dan Halla untuk makan bersama. Karena Youngyoo berulang tahun dialah yang mentraktir makanannya. Di mall tempat mereka makan bersama anak remaja itu berkeliling untuk melihat-lihat toko yang mereka lewati. Sesekali mereka masuk ke dalam toko baju namun keluar tanpa membeli apa-apa. Walaupun begitu tidak ada rasa malu dari keempat remaja itu karena mereka melakukannya bersama-sama. Lalu saat ini mereka berhenti di depan toko kosmetik Youngyoo mengajak teman-temannya untuk mampir sebentar karena dia harus memberi BB Cream-nya yang sudah habis sejak 1 minggu yang lalu.

“Ayo masuk dulu!”ajak Youngyoo.

Setelah berada di dalam toko Youngyoo mengajak Halla untuk menemainya sementara Yein dan Shinae memilih untuk melihat-lihat barang yang berbeda. Yein berjalan menuju bagian lipstick. Awalnya Yein tidak tertarik untuk menyentuhnya namun saat melihat sebuah liptint berwarna pink entah kenapa dia mengambil itu. Yein tersipu malu lalu membayangkan jika dia memakai ini saat pergi bersama Jungkook.

“Jeong Yein kau mau yang itu? Cepat bawa kemari aku akan membayarnya karena ini hari ulang tahunku!”ucap Youngyoo.

“Ti..tidak usah,”tolak Yein.

“Woaaa Jeong Yein sudah bisa memakai itu eoh,”goda Halla.

Aniyo.. ini tidak seperti yang kau bayangkan,”kata Yein.

“Cepat bawa itu ke sini!”titah Youngyoo.

Dengan terpaksa Yein langsung membawa liptint itu ke kasir untuk segera dibayar. Ah…. tidak dia sangka bahwa dia akan membeli kosmetik pertamanya karena paksaan sahabatnya.

.

.

.

Hari demi hari Yein terus menanti tanggal 27. Sekarang sudah tanggal 24 itu berarti 3 hari lagi sebelum Yein bisa menonton bersama Jungkook. Sepulang sekolah Jungkook bilang dia ingin menemui Yein untuk membicarakan sesuatu tentang pergi ke bioskop 3 hari lagi. Maka dari itu setelah bell berbunyi Yein langsung pergi ke tempat biasa Jungkook memarkirkan motornya.

.

.

.

Sunbae aku sudah datang,”sapa Yein.

Yein menghampiri Jungkook yang sedang duduk di atas motornya. Sambil tersenyum dia kini sudah berdiri di hadapan Jungkook. Jungkook sendiri membetulkan posisi duduknya dan berdehem.

“Kau sudah datang? Apa tidak ada orang lain yang pergi kesini?”tanya Jungkook.

“Tidak ada satupun. Sangat sepi seperti biasanya,”jawab Yein.

“Baguslah kalau begitu. Aku ingin bilang nanti aku saja yang menjemputmu di rumah,”kata Jungkook.

“Ye?? Sunbae menjemputku?”kaget Yein.

“Iya. Kenapa? Apa orangtuamu galak jika tahu ada orang menjemputmu kau bisa digantung?”heran Jungkook.

“Bu..bukan begitu aku hanya terkejut hehe.. kalau begitu kau bisa menjemputku,”

“Oke kalau gitu sekarang kita pulang,”

Yein mengangguk paham dan memberikan salam pada Jungkook. Ia membalikan badannya untuk segera pergi dari tempat itu. Namun baru beberapa langkah Yein berjalan suara Jungkook memanggil namanya.

“Yein…”panggilnya.

Lantas Yein langsung membalikan badannya dan bertanya pada Jungkook ada apa.

“Ayo pulang bersama,”ajak Jungkook.

“Pu..pulang ber…bersama?”tanya Yein terbata-bata.

Jungkook menganggukan kepalanya lalu memberikan tanda untuk Yein segera naik ke atas motornya. Dengan perasaan campur aduk Yein kembali menghampiri Jungkook dan naik ke motornya.

“Rokmu tidak apakan?”tanya Jungkook.

“Tidak ada masalah. Aku sudah siap sunbae,”jawab Yein.

Setelah Yein berkata seperti itu Jungkook mulai menjalankan motornya untuk mengantarkan Yein sampai ke rumah.

.

.

.

Walaupun ini kali keduanya di bonceng oleh Jungkook tetap saja Yein merasa deg-degan apalagi kini Jungkook mengendarain motornya dengan sangat kencang. Karena Jungkook mengerem terlalu mendadak Yein spontan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Jungkook.

Deg..deg…deg..

Debar jantung Yein berdetak sangat kencang. Sekujur tubuhnya terasa begitu kaku dan tidak bisa digerakan. Tidak ada ucapan yang keluar dari bibir Jungkook karena merasa takut akan menganggu Jungkook dia langsung melepaskan pelukannya dari Jungkook.

Sunbae ma—“

“Tetaplah seperti itu. Aku membawa motor dengan kecepatan penuh daripada kau terjatuh lebih baik berpegangan seperti itu,”

Fikiran Yein menjadi sangat kosong saat itu. Raut wajahnya menunjukan ekspresi tidak percayaan dengan apa yang baru saja dia dengar. Merasa Yein terlalu lama Jungkook sendirilah yang menarik tangan Yein untuk kembali memeluknya. Perlahan senyum mengambang di bibir Yein karena dia merasa seperti di alam mimpinya. Tanpa ia sadari Yein bahkan menyandarkan kepalanya dipunggung Jungkook.

.

.

.

Sunbae mampir ke rumah dulu. Hujannya deras sekali,”

Cuaca memang tidak dapat di prediksi dengan sendirinya. Saat mereka hampir sampai di rumah Yein tiba-tiba saja hujan turun membasahi bumi. Maka dari itu Yein meminta Jungkook untuk berteduh sementara waktu di rumahnya. Jungkook menggelengkan kepalanya menolak tawaran Yein barusan.

Sunbae kau nanti akan sakit jika terkena hujan. Lebih baik masuk dulu dan minum teh hangat,”

Jungkook tidak bisa menolak lagi tawaran Yein akhirnya dia mengalah dan turun dari motornya. Karena hujan sudah sangat lebat mereka berlari untuk masuk ke dalam rumah Yein.

.

.

.

Aigoo tampannya. Apa kau pacar uri Yein?”

Ibu Yein meletakan dua cangkir teh hangat di meja tamu. Sementara Yein sedang mengganti pakaiannya Jungkook menunggu di ruang tamu. Mendengar pertanyaan ibu Yein barusan Jungkook hanya bisa tersenyum kikuk. Walaupun jawaban Jungkook hanya berupa senyuman ibu Yein menjadi gila sendiri.

“Hahaha dia mewarisi sifatku ternyata. Selera yang baik. Siapa namamu, nak?”tanya ibu Yein.

“Jeon Jungkook,”jawab Jungkook.

“Santai ya dan minum tehnya. Jika ada yang ingin ditanyakan jangan sungkan bilang saja ke bibi. Oke?”

Jungkook menganggukan kepalanya lalu ibu Yein pun meninggalkan Jungkook sendiri. Tidak lama setelah ibu Yein kembali masuk ke dalam kamar Yein menghampiri Jungkook dengan pakaian santai.

Sunbae di minum tehnya,”sahut Yein.

“Baiklah. Ngomong-ngomong apa kau sering memakai baju seperti itu?”tanya Jungkook setelah memperhatikan Yein dari atas hingga bawah.

Seperti hari-harinya di rumah Yein selalu mamakai celana yang sangat pendek dan baju kaos. Yein menanggapi pertanyaan Jungkook dengan menganggukan kepalanya.

“Jangan pakai baju seperti itu saat jalan denganku,”ujar Jungkook.

“Kenapa?”tanya Yein dengan polosnya.

“Pakailah baju yang tertutup,”balas Jungkook.

“Memangnya ada apa?”

“Kalau kau tidak mau ya terserah,”kata Jungkook.

“Baiklah! Aku akan turutin ucapan sunbae!”ucap Yein dengan cepat.

Jungkook menganggukan kepalanya setelah mendengar jawaban Yein barusan. Baguslah jika dia menurutin ucapannya, pikir Jungkook.

.

.

.

Satu hari menjelang hari ke-100 mereka membuat Yein sangat bersemangat. Hari ini Yein ingin memberikan oleh-oleh untuk Jungkook yang diberikan oleh ibu Yein. Kemarin ayah Yein baru pulang kerja dari keluar kota karena membawakan banyak oleh-oleh ibu Yein yang sudah tergila-gila oleh ketampanan Yein menyuruhnya untuk memberikan oleh-oleh ini pada Jungkook.

“Sunbae pulang sekolah nanti

aku ingin memberikan sesuatu padamu.

Apa bisa bertemu?”

–From : Yein

To : Jungkook–

Tidak membutuhkan waktu lama Yein mendapatkan balasan dari Jungkook.

“Temui saja di ruang musik”

–To : Yein

From : Jungkook–

Yein tersenyum legah lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku lalu segera masuk ke dalam kelasnya,

.

.

.

“Jungkook sunbae?”

Yein tersenyum tipis ketika melihat Jungkook sedang berbaring di sofa yang ada di ruang musik itu. Cewek itu langsung menghampiri Jungkook lalu menyentuh tangannya. Namun Yein kaget ketika Jungkook malah menghempaskan tangannya dengan kasar.

Sunbae…”

Dengan terpaksa Jungkook matanya dan menatap sinis Yein. Tatapan membunuh itu membuat Yein terkejut. Selama dia mengenal Jungkook tidak pernah ia merasa Jungkook sesinis itu dengan orang lain.

“Apa aku menganggumu?”tanya Yein.

“Sangat menganggu! Lebih baik pergi karena aku sedang ingin sendiri,”kata Jungkook.

Sunbae apa aku punya salah denganmu?”tanya Yein lagi. Suaranya melemah karena ia merasa tertekan saat ini.

“Aku bilang pergi! Aku tidak ingin diganggu saat ini. Kka!”usirnya.

Tsh..

Cairan bening dari mata Yein keluar tanpa ia perintah. Yein terburu-buru langsung pergi meninggalkan ruangan musik dengan perasaan yang sangat kecewa dan sedih.

.

.

.

“Hiks..hiks..hiks…”

Yein tidak henti-hentinya menangis karena perlakuan Jungkook tadi siang. Sampai di rumah dia masih memikirkan hal itu yang mengakibatkan kamarnya banjir dengan tisu-tisu yang dia dunakan untuk menelap air mata dan hingusnya.

“Ya Jeong Yein kau tidak mau makan?!”

Sama sekali Yein tidak memiliki niat untuk menyaut panggilan ibunya. Walaupun sekarang sudah masuk jam makan malam Yein tetap saja tidak merasa lapar yang ada di benaknya hanyalah Jungkook. Yein menatap miris ponselnya karena panggilan dan pesan yang Yein kirim tidak di gubris oleh Jungkook. Karena terlalu lelah Yein pun ketiduran dengan mata yang sangat sembab.

.

.

.

Hari ini sudah tiba. Hari ke-100 yang sangat di nantikan oleh Yein. Berhubung hari ini adalah hari Minggu Yein hanya berdiam diri di rumah. Sisa-sisa tisu masih berserakan di lantai dia sungguh malas untuk bergerak dari kasurnya. Hari ke-100 tidak lagi di pedulikan oleh Yein karena dia memilih untuk tetap diam di rumah hari ini.

Omo!! Jeong Yein apa kau perbuat?”pekik ibunya saat membuka pintu kamar Yein.

Beliau sungguh berkejut dengan apa yang dilakukan oleh anak gadisnya. Dengan rasa jengkel ibu Yein menghampirinya sambil menjewer telinga Yein untuk membuatnya jerah.

Auu ibu sakit,”rintih Yein.

“Dasar anak pemalas. Jam segini kau masih berdiam diri di rumah padahal mau jalan bersama pacarmu!”oceh ibu Yein.

“Bu bilang padanya pulang saja. Aku tidak mau pergi,”tolak Yein.

“Kau mau dijewer lebih keras lagi?”ancam ibunya.

“Tidak! Baiklah aku akan pergi!”

Setelah puas dengan jawaban anaknya barulah ibu Yein melepaskan jeweran dari telinga anaknya. Seperti tidak terjadi apa-apa ibu Yein terseyum manis pada anaknya dan menyuruh Yein untuk segera main sementara dia sendiri menyiapkan baju untuk Yein berkencan dengan kekasihnya yang tampan.

.

.

.

Masih menggunakan handuk Yein melihat pakaian yang ada di atas kasurnya. Ibunya menyiapkan dress pendek untuknya. Teringat akan pesan Jungkook kemarin Yein berniat untuk mencari baju yang lain. Namun baru saja membuka lemari Yein yang mengingat kekasaran Jungkook padanya menutup rapat lagi lemari itu dan memakai baju yang di siapkan ibunya. Setelah selesai memakai baju tersebut Yein menyisir rambutnya di depan kaca. Tidak sengaja dia melihat bungkusan yang dia beli tempo hari yaitu liptint yang dibelikan oleh Youngyoo. Perlahan Yein mengambil itu lalu menggunakannya. Yein menatap kaca dengan rasa canggung pasalnya ini pertama kali dia memakai make up hanya untuk seseorang. Lalu setelah selesai Yein berdiri untuk merapikan bajunya dari bayangan kaca dress yang dia pakai terlalu pendek. Yein dengan penuh rasa terpaksa memutuskan untuk mengganti pakaiannya.

.

.

.

Jungkook menatap Yein dari ujung rambut hingga kakinya. Ia cukup puas dengan dandanan Yein yang menggunakan celana jeans 7/8 dan kaos putih yang dilapisi oleh jaket jeans yang membuat Yein tampak klasik.

“Bibi kami pergi dulu,”pamit Jungkook.

“Hati-hati di jalan Jungkook-ssi tolong jaga anak bibi yang pemalas ini!”sindir ibu Yein pada anaknya sendiri.

Yein hanya mengedus mendengar ucapan ibunya. Saat Yein keluar dari rumahnya dia heran ketika tidak melihat motor Jungkook terparkir di halaman rumahnya. Seakan tahu keheranan Yein tiba-tiba Jungkook mengeluarkan suaranya.

“Motorku dibengkel jadi lebih baik kita pergi dengan busway saja,”

Setelah mendengar ucapan Jungkook barusan Yein berjalan terlebih dahulu karena masih kesal dengan Jungkook. Jungkook sendiri hanya bisa mengikuti Yein dari belakang.

.

.

.

“Aish jinjja,”

Tidak di duga bahwa bus sangat penuh di naiki oleh mereka sungguh sesak bahkan keduanya tidak mendapatkan kursi. Jungkook memaksa untuk masuk karena jika menunggu bus berikutnya butuh waktu lama. Yein sendiri merasa tidak nyaman berdesak-gesakan seperti ini.

Aw!!”pekik Yein saat seseorang tidak menginjak kakinya.

Mendengar jeritan pacarnya Jungkook menjadi kaget dan mencengkram kerah baju cowok yang menginjak kaki Yein dan menatapnya tajam.

Ya perhatikan kakimu. Kau baru saja menginjak kaki kekasihku,”tegur Jungkook.

Kau baru saja menginjak kaki kekasihku… Yein membulatkan matanya saat mendengar Jungkook menyebutkan kata-kata barusan. Ini pertama kalinya Jungkook mengakui bahwa mereka berpacaran. Yein yang terbengong bahkan tidak sadar bahwa saat ini Jungkook sudah melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Yein.

Deg..deg..deg…

Jantung Yein berdetak sangat kencang. Dia tidak munafik untuk mengakui bahwa saat ini dia begitu gerogi. Yein memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya saat ini.

“Buka matamu.. duduk disana,”kata Jungkook.

Yein langsung membuka matanya dan kembali terkejut saat jarak wajahnya begitu dekat dengan Jungkook. Lalu Yein menggelengkan kepalanya lalu duduk di tempat yang dimaksud oleh Jungkook. Sementara Yein duduk dengan tenang Jungkook terus berdiri dan menggantungkan tangannya ke atas. Jujur, Yein merasa sedikit tersentuh dengan ini semua.

.

.

.

“Maaf tapi tiket ini untuk jam tayang sebelumnya,”sesal seorang pelayan.

Jungkook dan Yein bertukar pandang jadi perjuangannya untuk menonton tidak bisa karena tiket ini memiliki jam tayang. Dia fikir kapanpun tiket ini dipakai asalkan tidak melewati hari tertentu tidak akan menjadi malasah. Jungkook mengusap tengkunya karena salah tingkah bahkan kupingnya kini memerah menahan malu. Yein yang sadar akan hal itu langsung meminta maaf pada penjaga teater dan mengajak Jungkook untuk segera pergi dari tempat itu.

“Maaf apa masih mau menonton? Aku akan beli tiket untuk kita,”tanya Jungkook.

“Tidak usah lebih baik kita ke tempat lain saja,”jawab Yein.

“Ya sudah kita pergi saja,”ajak Jungkook.

Ketika sepasang kekasih itu ingin melangkahkan kaki mereka pergi dari bioskop ini seseorang memanggil nama Jungkook. Mau tak mau Jungkook dan Yein mengurungkan niatnya dan menoleh pada sumber suara. Yein meneguk salivanya karena takut saat melihat Eunha. Ya, yang memanggil Jungkook barusan adalah Eunha.

“Jongkook-ya kau sudah menonton filmnya?”tanya Eunha.

Are you stupid? Kau tidak bilang kalau tiket gratis ini ada jam tayangnya,”jawab Jungkook.

Ya santai tanpa aku bilang harusnya kau baca dulu. Aku memberikan tiket itukan sudah lama pasti punya banyak waktu untukmu membaca tanggal dan jam tayangnya,”oceh Eunha.

“Aish..”desis Jongkook.

“Kau benar-benar mengajak pacarmu ini,”celetuk Yein.

Yein terkesiap dengan ucapan Eunha barusan. Jadi selama ini Eunha tahu bahwa dia dan Jungkook adalah sepasang kekasih. Lalu kenapa sikap Eunha begitu padanya saat di UKS?

“Yein kenalkan dia Eunha. Sepupuku yang memberikan tiket ini untuk kita. Kau pasti pernah melihatnya disekolah, kan? Eunha pindahan dari Singapura tidak ada yang tahu kami adalah sepupu,”terang Jongkook.

A..annyeong haseyo Eunha sunbae. Namaku Jeong Yein,”kata Yein memperkenalkan dirinya.

“Aku sudah sangat mengenalmu dari sepupuku ini. Panggil saja aku Eunha eonnie. Maaf atas ucapanku waktu itu tapi aku tidak sepenuhnya salah karena aku dan Jungkook memang sangat dekat,”Yein tersenyum kikuk mendengar ucapan Eunha barusan.

.

.

.

Beban Yein berkurang setengah. Ternyata dia salah paham tentang hubungan Jongkook dan Yein. Seandainya dia bertanya sejak awal pasti dia perlu merasa khawatir dengan hal bodoh seperti itu. Walaupun masalah Eunha sudah selesai Yein masih mengingat jelas prilaku kasar Jongkook kemarin makanya sepanjang jalan Yein hanya terbengong sampai akhirnya dia tersandung dan jatuh.

Brugg…

“Jeong Yein kau baik-baik saja?!”

Yein bersusah payah untuk berdiri namun karena lututnya terbentur dia merasa sangat sakit saat ini. Raut wajah Jungkook begitu panik melihat kaki Yein yang bercucuran berdarah.

Ya apa yang kau fikirkan?!”tanya Jungkook.

“Tidak ada apa-apa,”bohong Yein.

Jungkook berjongkok di depan Yein sehingga membuat pacarnya itu bingung, “Cepat naik ke punggungku!”kata Jongkook. Yein mengigit bibirnya dengan tidak enak hati dia naik ke punggung Yein. Gadis itu memejamkan matanya takut-takut jika Jungkook tidak sanggup membopong tubuhnya yang besar itu.

“Hah.. kau berat juga,”komentar Jungkook setelah berhasil berdiri.

Yein mencibir pelan mendengar ucapan barusan namun ia juga sangat kagum dengan Jungkook yang bisa menggendong cewek sendiri seperti dirinya saat ini dan Eunha waktu itu.

“Jeong Yein.. kau tidur?”tanya Jungkook.

“Tidak memangnya kenapa sunbae?”balas Yein.

“Kau diam saja tidak banyak bicara seperti biasanya,”ucap Jungkook.

“Be..benarkah? aku tidak merasa seperti itu,”kata Yein tak mau mengaku.

“Yein-ah aku mau minta maaf untuk kemarin. Aku sudah kasar padamu karena aku punya banyak masalah. Maaf juga tidak membalas pesan dan panggilanmu waktu itu ponselku mati total karena masuk ke dalam air,”sesal Jungkook.

Sunbae.. apa yang membuat sunbae seperti itu? Aku takut.. kau sangat menyeramkan,”lirih Yein.

“Aku sedang ada masalah dengan sekolah. Aku pusing memikirkan ujian untuk masuk universitas nanti maka dari itu aku stres dan terbawa emosi. Maafkan aku,”kata Jungkook.

“Aku mengerti.. Aku mohon jangan diulangi lagi,”pinta Yein.

“Aku janji,”

.

.

.

Di taman Jongkook dengan telitih membersihkan luka di lutut Yein. Mulai dari membersihkan kotorannya dengan alkohol sampai dengan menempelkan plester. Setelah selesai Jungkook duduk disamping Yein. Semua pasangan yang sedang menikmati kencan mereka saling bergandengan tangan dan saling berpelukan hal itu membuat Yein menjadi kikuk. Mungkin pasangan paling canggung di taman ini hanya dia dan Jungkook. Yein melirik ke samping dan mendapati Jungkook sedang merentangkan tangannya. Mungkin ia lelah, fikir Yein. Setelah merentangkan tangannya Jungkook meletakan tangannya di belakang Yein tanpa gadis itu sadarin.

“Apa kau pintar di pelajaran?”tanya Jungkook.

“Kenapa sunbae bertanya seperti itu?”ucap Yein terheran-heran.

“Aku hanya bertanya. Kau terlihat sangat santai,”kata Jungkook.

“Ah… aku biasa saja tidak baik dan tidak buruk. Aku cukup puas,”balas Yein.

“Ngomong-ngomong sejak kapan kau menyukaiku?”celetuk Jungkook.

Sunbae kenapa kau menanyakan itu?”kata Yein dengan wajah yang memerah.

“Apa aku salah bertanya padamu? Baiklah aku tidak akan bertanya lagi,”

“Bukan seperti itu maksudku sunbae! Aku… aku hanya malu menjawab pertanyaan itu,”gumam Yein.

Jungkook menghembuskan nafasnya lalu ia bersiyul karena tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan. Namun tiba-tiba saja Yein menjawab pertanyaan Jungkook barusan.

“Sejak awal masuk sekolah ini. Aku mengintip seorang senior di ruang musik aku fikir sunbae orang yang biasa-biasa saja di sekolah ini namun semua orang kenal sunbae dan semua cewek menyukai Jungkook sunbae,”oceh Yein.

“Ah…. begitu ternyata,”paham Jungkook.

Sunbae apa boleh aku bertanya sesuatu?”tanya Yein menatap mata Jungkook dalam.

“Tanyakanlah. Akan aku jawab semampuku,”izin Jungkook.

“Jungkook sunbae… Apa alasan Jungkook sunbae menerimaku? Apa semua yang kita lalui sunbae anggap serius?”tanya Yein harap-harap cemas.

Bibir Jungkook tertutup rapat mendengar pertanyaan Yein barusan. Dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Melihat reaksi Jungkook membuat Yein menjadi down dan menyesal menanyakan pertanyaan itu padanya. Harusnya dia tidak perlu membuat suasana seperti ini. Harusnya dia menikmati apa yang sedang terjadi bukan malah memperkeruh suasananya.

“Abaikan saja pertanyaanku it—“

“Karena aku menyukai Jeong Yein,”potong Jungkook.

Sunbae…”ucap Yein tidak percaya.

Grab~~

Yein semakin terkejut ketika Jungkook membawa dirinya ke dalam pelukannya. Jungkook memeluk Yein dengan begitu erat sampai-sampai Yein merasa dadanya terasa begitu sesak untuk bernafas.

Sunbae.. aku tidak bisa bernafas,”ujar Yein.

“Aku akan melepaskan pelukan ini setelah mengatakan semuanya,”kata Jungkook.

“A…apa? Apa yang sunbae mau katakan?”tanya Yein.

“Pertama aku ingin bilang jangan lepaskan pelukan ini. Kedua aku ingin meminta maaf padamu atas segala sifatku selama 100 hari ini,”

“Se…seratus hari? Sunbae tahu bahwa hari ini hari i—“

“Aku tahu bagaimana bisa aku melupakan hari penting itu. Maka dari itu aku ingin meminta maaf atas segela kecuekanku selama ini. Yein-ah aku tidak seperti laki-laki lain yang bisa bersikap manis dan memanjakanmu tapi kau harus yakin bahwa aku memiliki perasaan untukmu,”

Sunbae….”ucap Yein terkesima.

“Keempat aku ingin hubungan kita terus seperti ini tanpa ada yang mengetahui. Aku hanya tidak ingin kau mendapatkan masalah karena aku,”lanjut Jungkook.

“Ah… baiklah,”untuk kali ini Yein agak kecewa.

“Kelima kau tahukan lagu yang ku ciptakan itu?”tanya Jungkook.

“Tentunya. Ada apa dengan lagu itu?”tanya balik Yein.

“Kau sumber inspirasiku selama ini. Aku menciptakannya untukmu. Untuk Jeong Yein,”

Tshh..

Air mata Yein mulai berjatuhan. Bukan karena dia merasa sedih melainkan ini adalah air mata kebahagiaan yang tidak terhingga.

“Terakhir dan kau harus lakukan ini… Panggil aku Jungkook Oppa,”pinta Yein.

Jungkook melepaskan pelukannya dan terkejut mendapati kekasihnya sudah berlinang air mata. Lantas dia langsung mengusap air mata Yein dengan ibu jarinya dan bertanya pada Yein dengan penuh kecemasan.

“Yein-ah ada apa? Kau menangis apa ucapanku menyakitimu?”

Aniya.. ucapanmu membuat aku terharu. Sunbae saranghae,”ucap Yein sesegukan.

Ya! Kau lupa dengan permintaanku barusan?”tegur Jungkook.

“Jungkook Oppa saranghae,”ulang Yein dengan benar.

Senyum Jungkook mekar dengan sempurna lalu tanpa memberi tanda-tanda Jungkook langsung menempelkan bibirnya di bibir Yein yang membuat kekasihnya itu terkejut. Ini adalah ciuman pertama Yein dan yang mencurinya adalah Jeon Jungkook! Yein tidak dapat berhenti mengedipkan matanya namun lama kelamaan dia mulai terbiasa, Yein menutup matanya dan membalas ciuman Jungkook.

.

.

.

Ya kau memakai lipstick?”tanya Jungkook setelah selesai.

A..aniyo!”bohong Yein, tidak sepenuhnya berbohong karena yang Yein pakai adalah liptint bukan lipstick.

“Rasa manisnya sangat aneh,”gumam Jungkook.

“Apa? Rasa manis? Sudah berapa gadis yang Oppa cium? Heol..”ucap Yein yang mendadak jengkel mendengar bisikan Jungkook barusan.

Ya apa maksud pertanyaanmu?”tanya balik Jungkook.

“Ah.. kau berkencan dengan banyak gadis rupanya,”sinis Yein.

“Tidak! Aku hanya berkencan dengan 2 gadis seumur hidupku. Kau dan mantanku dulu,”terang Jungkook.

Tsk bahkan membicarakan mantan di hadapanku,”dongkolnya.

Yein langsung berdiri dan meninggalkan Jungkook. Melihat Yein bisa berjalan dengan normal Jungkook langsung kaget lalu menyusul kekasihnya itu karena takut terjadi apa-apa lagi dengannya.

Ya kau bisa berjalan? Kenapa tidak bilang kalau gitu aku tidak perlu berat menggendongmu,”oceh Jungkook.

Oppa tidak bertanya itu sudah jadi resikomu. Wek…”ledek Yein sambil menjulurkan lidahnya.

Tidak dapat di pungkiri bahwa Yein tidak bisa marah lama-lama kepada kekasihnya. Yein berlari setelah mengejek Jungkook, melihat tingkah kekasihnya yang begitu kekanak-kanakan Jungkook tertawa geli dan menyusul Yein. Akhirnya Yein dapat memastikan bahwa dia dapat memiliki hati Jungkook seutuhnya. Dia tidak perlu lagi khawatir mengenai masalah Eunha dan jenis-jenis permasalahan lainnya. Karena dari bibir Jungkook sendiri dia sudah mengatakan bahwa Jungkook juga menyanyanginya. Dia percaya pada Jungkook kalau dia benar-benar mencintai dirinya, Jeong Yein. 100 hari ini disyukuri oleh Yein dengan penuh rasa suka cita yang akan selalu dia ingat di dalam benaknya sampai kapanpun.

.

.

.

END

.

.

.

N/B : Dari awal sampai akhir cerita ini mungkin menurut kalian fokus cerita hanya pada Yein. Sebenarnya si iya XD Aku punya rencana untuk buat sudut pandang dari Jungkook juga tapi aku belum dapat izin untuk ngeposting itu disini. Jadi aku bakalan ngepost versi Jungkook di wordpress pribadiku aja. Thanks =)

Advertisements

45 thoughts on “[Oneshoot] 100 Days

  1. bener-bener long-oneshot.. dan menarik ceritanya^^ ceritanya simple, tapi berhasil bikin perasaan aku campur aduk ga karuan^^ nyesek, so sweet bahkan lucu pas baca ceritanya.. ingin baca yang jungkook vers. nya 😦 bilang-bilang yaa kalo jungkook vers. nya udah rilis ^^

    Like

  2. Kereeen! Aku suka banget jalan ceritanya, alurnya nggak kecepetan lah ini long oneshoot tapi nggak sepanjang itu. Feelnya kerasa banget, aku aja bahkan sempet sebel sendiri sama Eunha yang ternyata sepupu Jungkook. Bener-bener gemes sendiri sama Jungkook, cuek banget. Beruntung, Yein sabar dan baik banget ngehadepin Jungkook. Endingnya sweet dan bener-bener bagus menurutku. Ah ya, kalo udah ngepost versi Jungkooknya, kasih tahu ya. Penasaran banget soalnya sama perasaannya si Jungkook. Ditunggu ff lainnya, keep writing~

    Liked by 1 person

    • Tunggu ada inspiras, mungkin?hehe. Aku kalau buat ff yein-jungkook seringnya yg ngefluff, akhir2 ini lagi banyak inspirasi sad story. Dibaca dulu coba 100 day versi jungkook di wp ku^^

      Like

      • yang versi jungkook aku sudah pasti baca 😀 .
        oh fluff kan juga bagus, sad juga tambah nyentuh.. author banyak post disini atau di blognya author sendiri ??

        Like

      • Sudah ya? Hahah thanks xD Kalau maincastnya lovelyz members aku pasti post disini, kalau selain itu castnya di blog pribadi 😀

        Like

  3. Daebakk 👍 baru pertama kali aku baca ff 2 pov gini. Keren deh thor. Ceritanya juga happy ending,romantis gituu.. apalagi cast nya couple favorite Jeong-In. Kapan nih bikin cast mereka lagi? Hehe 😆

    Like

  4. Lanjutkan dgn cast jeong-in ^0^. Kereenn, cukup panjang juga, smpe greget sendiri baca nya.. Yeinn terlalu lugu.. jungkook cueknya kyk gitu rasanya pen di pites x_x …aku tunggu ff jeong-in/tae-jeong nyaa ^-^

    Ah iyaa. min maaf, aku mau kasih masukan dikit.. sebelum di post mohon untuk di periksa lagii yaa. banyak kesalahn yg lumayan fatal, jdi bingung sendiri bacanya ehehe ^-^)v

    Liked by 1 person

  5. Fannyyyyy aku mampir ke lapakmu nihhh
    dudududuhhh YeongIn shipper here! suka bangetttt, ceritanya simple tapi manis. pokoknya aku mah paling suka sama school life love story.
    keep writing yaaa saengg ^^

    Liked by 1 person

  6. Suka banget sm ff ini ,, ff ini sekali aku liat aku terus terussan di ulang sumpah kak bagus banget ceritannya jadi inget sm pasangan baek seung jo sm oh hani di naughty kiss hahahhaha ,, semangat ya kak bkin ff jeongin fighting!!!

    Liked by 1 person

  7. Kak klo aku boleh saran di banyakkin chapter nya kayanya seru deh ,, d bkin makin gerget misalnya ada orang ketiga ,, terus yeinnya sakit parah, dan orang ketiga itu maksa yein buat ngasih jungkook ke dia ,, nah sifat cewek itu di depan jungkook baik namun di belakang jungkook dia slalu jahat kepada yein , ,, aku smenjak baca ff ini jadi muncul bnyak cerita di otakku buat jeongin ide ide itu g tau kenapa bisa muncul d pikiranku hrhehehehe #justsaran kak ;):)

    Like

  8. keren atuh fanficnya XD

    Yein salah paham cieeeeeeeee~

    Jungkook ama Eunha ternyata sepupu, kirain Eunha selingkuhannya Jungkook /? :’v

    Mantannya Jungkook siapa sih? o.O jangan2 Sujeong #plak ._.

    Like

  9. Iya sipp kak :);) kak klo boleh aku minta pin BBM kakak dong please aku pengen nanya” itu klo boleh sih klo enggak juga g papa :):*

    Like

  10. Kyaaa~ ini FF bikin aku jerit jerit sendirian. Aku tidak berdaya :’v Tanggung jawab hayoo :’v

    Lagi seneng senengnya sama Yein dan JK. Semenjak Comeback BTS FIRE dan Comeback LOVELYZ DESTINY.
    WOAHH DAEBAK

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s