Chasing Love [Chapter 6]

Chasing Love copy

Chasing Love

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Lovelyz’s Lee Mijoo | Infinite’s Nam Woohyun

Infinite’s L | Lovelyz’s Seo Jisoo | etc

PG-15

Siapa sangka bahwa kita akan dipertemukan takdir dengan cara seperti ini?

Berterimakasihlah pada takdir yang membuatku bertekat untuk memburu cintamu.

.

 .

.

.

“Lee Mijoo sadarlah. Mijoo ayo bangun!”

Perlahan gadis bernama lengkap Lee Mijoo itu membuka matanya. Ia dapat melihat bahwa Jisoo dan beberapa orang lainnya yang bekerja untuknya sedang memperhatikannya. Mijoo menatap Jisoo dan berbicara dengan suara yang sangat lemah, “Itu semua tidak benar. Percaya padaku Jisoo-ya,”bisik Mijoo. Jisoo menganggukan kepalanya, “Aku percaya padamu sekarang istirahatlah. Untuk saat ini aku akan memegang ponselmu,”kata Jisoo.

.

.

.

Pikirannya sangat kacau sampai-sampai tidak dapat fokus dengan kerjaan yang ada di laptopnya. Nam Woohyun masih terbayang-bayang oleh skandal kencan Myungsoo dan Mijoo. Di saat ia ingin melupakan hal itu teman sekantornya sibuk membicarakan mereka. Wajar karena rata-rata para wanita adalah penggemar drama Myungsoo. Akhirnya laptop miliknya menjadi sasaran empuk untuk meluapkan emosinya. Woohyun menutup layar laptop dengan kasar lalu mengacak rambutnya secara kasar.

.

.

.

Di sisi lain Myungsoo yang masih berada di rumah sakit merasa senang dengan skandal yang sedang di alaminya. Di anggap sebagai kekasih Mijoo terasa seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya. Tetapi saat mengingat kejadian semalam Myungsoo membeku dan mengepalkan erat tangannya.

“Jawabanku masih sama. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu,”

“Tidak bisa? Kenapa?”

“Aku hanya ingin menikmati hidupku yang bebas,”

“Maksudmu jika kau berpacaran denganku kau tidak akan bebas? Mijoo-ya aku tidak akan mengekangmu. Percaya padaku,”

“Myungsoo sunbae maaf pendirianku tetap teguh dan aku tidak bisa bersamamu.”

Myungsoo berteriak memanggil Sungjong yang sedang tertidur di sofa. Karena teriakan Myungsoo managernya itu terbangun bahkan terjatuh dari sofa dikarenakan terkejut dengan teriakan Myungsoo.

“Cepat kesini!”titah Myungsoo.

Tanpa basa-basi Sungjong langsung menghampiri Myungsoo dan menanyakan apa yang Myungsoo perlukan. Myungsoo menadahkan tangannya kepada Sungjong lalu memintanya untuk mengeluarkan ponsel milik Sungjong. Karena bingung Sungjong menuruti saja permintaan Myungsoo dan mengeluarkan ponsel pribadinya kepada Myungsoo. Aktor itu mencari sebuah nama di kontak Sungjong lalu menghubunginya.

“Presdir ini aku, Kim Myungsoo. Jangan membantah bahwa aku dan Mijoo tidak pacaran. Konfirmasi saja aku dan Mijoo memiliki sebuah hubungan,”

“Apa yang kau katakan? Ya kau gila?”

“Lakukan saja!”

“Kau membentakku? Ya kau mau aku dikulitin oleh tuan Kim?”

“Aku tidak peduli buat saja pernyataan resmi kalau ada hubungan antara aku dan Mijoo,”

“Kau gila Myungsoo-ssi!”

“Aku memiliki banyak bukti yang bisa menguatkan aku dan Mijoo memiliki hubungan. Sebelum aku menyebarkannya itu sendiri ke SNS lebih baik turutin permintaanku,”

“Kau mengancamku? Baiklah aku akan pikiran itu!”

“Jangan di fikirkan, cepat dilakukan!”

“Cerewet sekali!”

Myungsoo langsung mematikan sambungan telfon dan memberikannya kembali pada managernya. Sungjong yang sejak tadi hanya mendengar percakapan sedikit terkejut dengan permintaan Myungsoo barusan.

“Hyeong kenapa kau lakukan itu? Nanti semua semakin memburuk lalu populari—“

“Aku tidak peduli,”potong Myungsoo.

“Hyeong kau tidak boleh begi—“

“Aku bilang aku tidak peduli. Apa urusannya denganmu Lee Sungjong?”bentak Myungsoo.

“Aku hanya tidak ingin nona Mijoo mendapatkan masalah,”gumam Sungjong dengan penuh ketakutan.

.

.

.

“Mereka masih belum pergi dari sini?”tanya Mijoo lemah.

“masih belum. Aku akan menemanimu disini jadi kau diam saja. Oh ya apa kau lapar? Kau mau makan sesuatu?”tanya Jisoo. Mijoo menganggukan kepalanya, “Baiklah aku akan ambilkan makanan untukmu. Tunggu sebentar,”kata Jisoo.

Jisoo keluar dari kamar Mijoo meninggalkan gadis itu sendirian. Setelah merasa aman Mijoo langsung meraih tas milik Jisoo dan mencari ponselnya. Untung saja Mijoo hafal kata sandi manager sekaligus sahabatnya itu. Mijoo membuka situs naver dan mengetik kata kunci namanya dan Myungsoo. Mata Mijoo membulat saat melihat artikel terbaru tentang mereka. Dada Mijoo terasa sesak karena dia sangat kesal setelah melihat artikel itu. Tidak mau ketahuan oleh Jisoo dia mengembalikan ponsel Mijoo ke tempat semula. Tidak lama kemudian Jisoo sudah kembali sambil membawa piring dan gelas berisikan air putih untuk Mijoo. Ia memberikan piring kepada Mijoo dan meletakan gelas di atas meja. Dengan kikuk Mijoo memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Jisoo. Sebuah ponsel dari dalam tas Jisoo berdering Jisoo langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Sunggyu.

“…..”

“A-apa? Tapi kenyataannya kan bukan seperti itu,”

“…..”

“Presdir…”

“…..”

“A-aku mengerti. Sampai jumpa,”

Mijoo menatap Jisoo penuh tanda tanya. Jisoo pun hanya tersenyum kikuk dan menggelengkan kepalanya. Perempuan yang lebih tua beberapa bulan dari Mijoo itu memalingkan wajahnya dari Mijoo dan meringis amarahnya setelah mendengar ucapan Sunggyu di telfon. Mijoo yang memperhatikan Jisoo hanya bisa menghela nafasnya karena dia tahu apa yang terjadi.

.

.

.

Di saat jam makan siang Woohyun yang sangat malas untuk makan diluar memilih untuk makan di kafetaria kantornya. Ia memesan sebuah makanan setelah itu memilih tempat duduk yang kosong. Karena sedang istirahat keadaan kafetaria sangat ramai di kunjungi oleh para pegawai di kantor ini. Di dalam kafetaria itu memiliki beberapa televisi yang di letakan di beberapa sudut. Karena otomatis semua saluran pun sama. Woohyun hanya menatap kosong berita yang sedang di siarkan. Berita yang membuat perasaannya semakin jatuh saat tahu bahwa hubungan Mijoo dan Myungsoo sudah di konfirmasi oleh agensi mereka.

“Mereka cocok si tapi kenapa Myungsoo harus memilih gadis itu,”

“Diakan hanya model padahal banyak sekali artis dan idol terkenal yang memilihnya sebagai tipe ideal kenapa harus dia?”

“Mungkin gadis itu menggodanya. Mereka satu agensikan?”

“Ya kau benar. Mungkin saja begitu,”

BRAGG!!

Seketika keadaan menjadi sunyi setelah mendengar suara hentakan meja dari Woohyun. Semua orang yang semulanya sibuk kini memperhatikan Woohyun dengan bingung. Woohyun menahan emosinya lalu pergi dari kafetaria meninggalkan rasa penasaran dari semua orang yang ada di sana.

.

.

.

Sudah beberapa hari Mijoo tidak bisa tidur karena memikirkan masalahnya. Semua wartawan masih memburunya tanpa beristirahat. Gara-gara itu dia terjebak di dalam rumahnya sendiri. Berhubung Jisoo harus menemui adiknya ia kini di tinggal sendiri di rumah. Mijoo menutup sekujur tubuhnya dengan selimut saat dia hendak memejamkan matanya ia teringat akan sesuatu hal. Mijoo refleks bangkit dari kasur dan mencari-cari sesuatu yaitu ponselnya. Setelah merombak seluruh isi laci dia baru ingat bahwa ponselnya di pegang Jisoo. Mijoo mengacak rambutnya kesal ia kini di penuhi oleh rasa takut dan bersalah pada Woohyun.

“Apa yang harus ku lakukan?”bisik Mijoo.

.

.

.

Tepat Jam 12 malam Mijoo keluar dari rumahnya secara perlahan. Pasalnya dia tahu masih ada beberapa wartawan yang berkeinginan keras untuk mendengar pernyataan langsung dari mulutnya sendiri. Mijoo tidak membawa kendaraan pribadinya takut bahwa itu membuat wartawan yang sedang bersembunyi langsung mengetahui keberadaannya. Maka dari itu Mijoo berjalan ke depan dan mencari taksi di tengah malam untuk membawanya ke suatu tempat.

.

.

.

Tok…tok..tok…

Woohyun yang tengah tertidur lelap terbangun ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan mata yang masih kabur Woohyun melihat jam di ponselnya. Jam menunjukan pukul setengah 1 dia bertanya dalam benaknya ada apa seseorang membangunkannya di tengah malam.

“Tuan maaf mengganggu tapi ada seseorang yang menunggu tuan di depan,”adu pembantu Woohyun.

“Apa aku tidak salah dengar? Tamu di tengah malam ini? Memangnya siapa bertamu di jam seperti ini,”ucap woohyun heran.

“Seorang gadis berambut panjang yang ada di majalah yang tuan pernah beli itu,”katanya.

Pria itu tertegun mendengar ucapan pembantunya barusan. Dia sudah tahu siapa yang dimaksud oleh pembantunya, “suruh saja dia untuk pulang,”kata Woohyun. Setelah berkata seperti itu Woohyun langsung menutup pintu kamarnya dan kembali berbaring di kasurnya.

.

.

.

Udara malam hari begitu menusuk di kulitnya. Mijoo sangat kedinginan saat ini dan sendiri berdiri di depan pagar rumah Woohyun menunggu laki-laki itu keluar untuk menemuinya. Mijoo terus menggosok kedua telapak tangannya untuk merasakan kehangatan. Saat melihat pembantu Woohyun keluar dari rumahnya Mijoo tampak bersemangat dan memasang senyumnya.

“Apa bisa bertemu dengan Woohyun-ssi?”tanya Mijoo semangat.

“Tuan bilang dia tidak bisa diganggu saat ini. Maaf nona,”sesal pembantunya.

Semangat Mijoo menjadi luntur seketika. Senyum yang dia tunjukan sejak tadi berubah menjadi senyuman lirih.

“Dia bilang begitu?”Tanya Mijoo tidak percaya.

“Iya nona. Kalau begitu saya permisi masuk,”jawabnya.

“Bilang padanya kalau aku akan menunggunya sampai dia bisa diganggu,”kata Mijoo.

“Ye???”kaget pembantu itu.

“Bilang saja seperti itu,”pinta Mijoo.

“Ba-baiklah..”

Pembantu itu masuk lagi ke dalam rumah meninggalkan Mijoo sendirian di depan. Mijoo menghela nafas dan bertanya-tanya dalam benaknya apa yang terjadi sebenarnya. Apakah Woohyun marah padanya atau memang dia tidak bisa diganggu saat ini.

.

.

.

Sudah 1 jam Woohyun mencoba untuk kembali tertidur tetapi tidak bisa. Pikirannya terus melayang pada ucapan pembantunya tadi yang mengatakan bahwa Mijoo akan menunggunya.Woohyun mengacak rambutnya secara kasar karena merasa tertekan dengan ini semua. Ia memutuskan untuk beranjak dari kasur untuk melihat ke jendela. Saat Woohyun membuka tirai jendela kamarnya ia terkejut melihat Mijoo yang masih berada di depan rumahnya. Tampak Mijoo menahan hawa dingin dari luar sana sambil berbolak-balik di depan pagar rumahnya. Tangan Woohyun bergetar melihat itu semua. Fikiran dan hatinya bertolak belakang menanggapi itu semua. Dalam benaknya dia mengatakan untuk membiarkan saja tapi di sisi lain jauh di dalam lubuk hatinya woohyun tidak bisa membiarkan Mijoo seperti itu, “AHH SUDAHLAH!”pekiknya karena terlalu pusing menanggapi ini sendiri. Woohyun memilih untuk mengambil laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya yang masih tersisa di kantor tadi. Menurutnya ini adalah cara untuk melupakan semua kejadian yang barusan saja dia dapatkan.

.

.

.

“Di…ngin….”

Sekujur tubuh Mijoo mengigil setelah berada di luar rumah selama 6 jam lebih. Ia duduk sambil memeluk lututnya untuk menghilangkan semua rasa dingin yang dia rasakan. Satpam yang menjaga rumah Woohyun sudah memperingatkan Mijoo untuk pulang saja namun tekat Mijoo sangat bulat untuk menunggu Woohyun menhampirinya. Jam sudah menunjukan pukul setengah 6 sudah banyak orang yang keluar dari rumah untuk sekedar membersihkan halaman depan rumah mereka. Orang-orang ini menatap bingung Mijoo yang seperti orang gila berdiri di depan rumah orang lain namun Mijoo tidak peduli. Bibir Mijoo sungguh keluh dan pucat dia sangat berharap bahwa Woohyun akan segera menemuinya. Dia tidak ingin berharap banyak Mijoo hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi pada orang itu lalu pergi tanpa mengharapkan jawaban dari Woohyun.

Tin…tin..

Mijoo terkejut saat sebuah mobil membunyikan klakson berkali-kali. Saat dia melihat ke depan cahaya mobil itu membuat pandangannya silau. Mijoo berdiri untuk segera menggeser posisi duduknya karena ia merasa pemilik mobil ini ingin mengunjungi rumah Woohyun.

“Mijoo-ssi?”

Pemilik mobil itu adalah Nam Jihyun, kakaknya Woohyun. Melihat wanita itu Jihyun langsung menghampirinya. Ia terkejut dengan penampilan Mijoo saat ini berbeda jauh dari penampilan saat pertama kali mereka bertemu.

“Mijoo-ssi apa yang kau lakukan disini? Dan kau sangat pucat,”tanya Jihyun kaget.

“Ah selamat pagi Jihyun—“

Brug…

Mijoo kehilangan kesadarannya dan ambruk ke tanah. Jihyun terkejut lalu mencoba untuk membangunkan Mijoo yang tidak sadarkan diri itu, “Mijoo-ssi bangunlah! Ada apa denganmu?”kata Jihyun. Jihyun menyentuh tangan Mijoo yang terasa sangat dingin lalu ia berteriak memanggil satpam untuk membawa Mijoo ke dalam rumah Woohyun.

“Si bodoh itu apa tahu wanita yang dia suka seperti ini?”batin Jihyun sambil menatap iba Mijoo yang kini di angkat oleh penjaga rumah adiknya.

.

.

.

“NAM WOOHYUN!”

Jihyun membuka pintu kamar adiknya secara paksa dan mendapatkan adiknya kini sedang tertidur di meja kerjanya. Dengan emosi yang menggebu-gebu Jihyun mendatangi Woohyun dan langsung memukul badannya. Sontak Woohyun yang tertidur lelap langsung terkejut mendapatkan serangan yang tidak terduga itu.

Ya berhenti! Apa yang kau lakukan noona? Kenapa baru datang langsung memukulku,”kesal Woohyun.

“Apa orangtua kita pernah mengajarkan untuk menyiksa wanita? Tidak, kan? Nam Woohyun otakmu itu dimana,”geram Jihyun.

“Maksud noona apa bicaralah yang jelas dan dapat di mengerti,”kata Woohyun meminta penjelasan.

“Kenapa kau biarkan Lee Mijoo menunggumu di luar rumah sejak tengah malam tadi? Ya kau tidak tahu betapa dingin tubuhnya saat aku menyentuh tangannya. Jangan gila Woohyun-ah!”pekik Jihyun.

“Di..dia tidak pulang?”tanyanya tidak percaya.

“Dia ada di kamarku,”ucap Jihyun dengan sinisnya.

Jihyun langsung keluar meninggalkan Woohyun sendiri untuk melihat apakah Mijoo sudah sadar atau belum. Niatnya untuk mengajak Woohyun sarapan bersama karena ingin membincangkan sesuatu malah menjadi buruk karena mengetahui perlakuan adiknya yang sungguh parah itu.

.

.

.

“Hei kau sudah sadar?”

Mendengar suara seseorang Mijoo yang sejak tadi pingsan membuka kedua matanya secara perlahan. Dia mengucek matanya saat melihat Jihyun ada di depannya dan saat sadar dia berada di kamar yang sangat asing untuknya Mijoo bertanya-tanya.

“Kau ada dikamarku. Ini di rumah Woohyun,”ucap Jihyun seakan tahu apa pertanyaan Mijoo.

“Aku… bukannya tadi diluar?”herannya.

“Kau pingsan. Ya Lee Mijoo-ssi kau orang bodoh seperti apa yang mau menunggu adikku yang jelek dan tidak tahu sopan santun itu selama itu? Bagaimana kalau keadaannya hujan apa kau masih ingin menunggunya?”oceh Jihyun lalu dengan polos Mijoo menganggukan kepalanya membuat Jihyun tercengang tidak percaya, “Hmm sebaiknya kau makan dulu bubur ini agar kau agak enakan,”kata Jihyun.

Jihyun memberikan Mijoo bubur dan susu putih hangat yang sudah di siapkan oleh pembantu Woohyun. Dengan tidak enak hati Mijoo memakan apa yang sudah diberikan untuknya.

“Kau kesini untuk menemui Woohyun, kan? Kenapa bukannya kau sudah memiliki kekasih? Bagaimana kalau pacarmu tahu?”tanya Jihyun beruntun.

“Se-semua itu salah aku tidak ada hubungan dengan Myungsoo sunbae. Pernyataan itu palsu dan itu yang ingin aku jelaskan pada Woohyun,”jawab Mijoo.

“Baiklah habiskan dulu makananmu baru setelah itu kau mandi air panas akan aku siapkan untukmu. Kau bisa pakai bajuku yang ada disini,”katanya.

Setelah Jihyun keluar dari kamar air mata Mijoo tidak bisa dibendung lagi. Dia sangat berterimakasih dengan perlakuan baik Jihyun padanya. Dia fikir Jihyun tidak menyukainya sepenuhnya tetapi dia salah sangkah ternyata seorang Jihyun bisa berbuat baik padanya.

.

.

.

Pagi hari ini Myungsoo sudah diizinkan untuk pulang ke rumah oleh dokter walaupun mereka masi melarang Myungsoo untuk melakukan aktifitas berat selama 1 minggu ini. Akhirnya Myungsoo dapat menghirup udara segar lagi karena menurutnya bau rumah sakit sangatlah tidak enak. Sungjong senantiasa menemani Myungsoo untuk mengantarnya pulang namun saat berada di dalam mobil Myungsoo meminta Sungjong untuk mengantarkannya ke kantor saja.

“Antar saja aku ke kantor. Aku ingin kesana mana tahu aku bisa melihat pacarku,”kata Myungsoo.

“Pa..pacar? Pacar yang mana?”tanya Sungjong polos.

“Lee Mijoo memangnya siapa lagi,”dumel Myungsoo.

“Memangnya hyeong berpacaran dengannya. Itukan hanya status di masyarakat saja,”cibir Sungjong.

“Aku mendengarmu. Cepat antarkan aku kesana!”titah Myungsoo.

“Baiklah..”kata Sungjong menuruti permintaan Myungsoo.

Mendengar jawaban Sungjong barusan membuat lesung pipi Myungsoo terlihat sangat dalam karena Myungsoo tersenyum bahagia. Dia sudah sangat merindukan maka dari itu Myungsoo berharap kalau saat ini Mijoo ada di kantor agensinya.

.

.

.

Klek..

Woohyun masuk ke dalam sebuah kamar lalu berdiri di pintu kamar saat melihat Mijoo sedang tertidur pulas. Jauh di lubuk hatinya dia sangat takut terjadi hal yang tidak-tidak kepadanya. Woohyun menutup pintu kamar lalu berjalan tanpa menimbulkan suara untuk mendekati Mijoo. Woohyun duduk di pinggir kasur dengan berhati-hati agar tidak membangunkan gadis yang dia cintai itu, “Maafkan aku,”bisik Woohyun sambil menatap wajah polos Mijoo yang sedang tertidur pulas. Merasa tidak ada yang bisa dia perbuat untuk berlama-lama di kamar ini Woohyun berdiri untuk segera meninggalkan Mijoo namun dia terkejut ketika tangannya di tahan oleh seseorang.

“Jangan pergi…”ucap Mijoo masih dengan mata yang tertutup.

“Mijoo-ssi…”lirih Woohyun.

“Woohyun-ssi aku tidak mau kau pergi dari hidupku,”kata Mijoo.

Mijoo membuka matanya dan menatap intens Woohyun yang terkejut mendengar ucapannya barusan. Mata Mijoo berkaca-kaca takut jika Woohyun akan mengabaikan ucapannya barusan. Namun ketakutan Mijoo tersingkirkan saat secara tiba-tiba saja bibir Woohyun mendarat di bibirnya!

.

.

.

TBC

Advertisements

4 thoughts on “Chasing Love [Chapter 6]

  1. Pingback: Chapter / Series | Secret Journey

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s