[Oneshoot] Precious Daughter

cats

Precious Daughter

By Fanita (woollimstan)

Starring by Lovelyz’ Mijoo & Child Actress’ Kang Jiwoo

Genre : Family // Drama // Hurt

PG-13

Baginya Jiwoo adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki.

Baginya Jiwoo adalah alasan dia untuk hidup.

Baginya Jiwoo adalah sumber kebahagiaan.

Yang terpenting, Mijoo sangat bahagia bisa memiliki Jiwoo sebagai anak perempuan yang paling berharga di dalam hidupnya.

.

.

.

Kukuruyuk….

Ayam jantan berkokok dengan lantangnya sehingga membuat seorang wanita cantik yang sedang tertidur lelap langsung terbangun dan menatap silaunya jendela kamar. Sinar matahari sudah meneragi bumi dan memberikan kehangatan bagi maklukdi muka bumi. Lee Mijoo, nama wanita itu. Mijoo buru-buru beranjak dari kasurnya untuk membangunkan seseorang di kamar sebelah.

.

.

.

            Setelah sampai di depan kamar yang ada disamping kamarnya Mijoo langsung menyerukan nama seseorang sambil menggedor pintu kamarnya. Dia berharap orang yang ada di dalam sudah bangun untuk segera melaksanakan rutinitas sehari-hatinya.

“Jiwoo-ya cepat bangun!”panggil Mijoo.

Krek.. Pintu kamar terbuka lebar senyum hangat seorang gadis cilik membuat Mijoo ikut tersenyum. Senyum keibuan…

“Ibu aku bangun sendiri. Aku bisa, kan?”tanya Jiwoo menggebu-gebu.

Mijoo meganggukan kepalanya senang. Ia sangat suka dengan perkembangan Jiwoo yang semakin hari semakin pandai dan mandiri.

“Ibu ayo kita mandi sekarang. Jaein songsaengnim bilang siapa yang datang kesekolah duluan akan dapat susu rasa pisang dari songsaengnim!”seru Jiwoo.

Aigoo anak ibu sangat suka susu pisang, kan? Jiwoo harus dapatkan itu! Ayo kita mandi!”ajak Mijoo.

Jiwoo menautkan jemarinya dengan jari Mijoo lalu dengan penuh semangat Jiwoo langsung menarik Mijoo untuk segera ke kamar mandi. Melihat sikap antusias dari Jiwoo yang begitu bersemangat Mijoo hanya bisa tersenyum meresponnya. Dia beruntung memiliki anak manis seperti Jiwoo.

.

.

.

“Sampai jumpa nanti Jiwoo-ya! Semangat belajar sayang!”

Mijoo melambaikan tangannya kepada Jiwon yang sudah memasuki gerbang sekolahnya. Jiwoo kini mulai sekolah dan menduduki bangku taman bermain. Inilah aktivitas Mijoo setiap harinya, pagi-pagi Mijoo mengantar Jiwoo kesekolah lalu setelah itu Mijoo akan pergi ketempat kerjanya. Lee Mijoo hanyalah seorang wanita berumur 25 tahun dan bekerja sebagai seorang kasir di salah satu swalayan yang cukup besar di pinggiran kota Seoul. Shift kerja Mijoo dari pagi hingga siang sehingga Mijoo bisa menyisihkan waktinya untuk Jiwoo di sore dan malam hari.

.

.

.

“Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini,”

Seluruh karyawan bernafas legah setelah menerima setumpuk uang dalam amplop berwarna cokelat itu. Hari ini Mijoo mendapatkan gajinya. Ia memikirkan sebuah ide untuk mengajak Jiwoo membeli baju baru dan makan malam di luar rumah. Membayangkannya saja sudah membuat Mijoo begitu bahagia.

“Mijoo-ssi kau mau ikut berbelanja dengan kita?”tanya Jisoo, rekan kerjanya.

“Ah maaf Jisoo-ssi aku tidak bisa,”tolak Mijoo tidak enak hati.

“Lee Mijoo sibuk mengurus anaknya. Dia tidak akan pernah ikut dengan kita berpergian,”celetuk Daeyeol, rekannya juga.

“Ah kau benar Daeyeol-ssi. Kasihan sekali kau sudah memiliki anak padahal gaji kita saja pas-pasan untuk hidup sendiri. Yakan Daeyeol-ssi?”

Mijoo hanya bisa tersenyum pahit mendengar percakapan kedua rekan kerjanya. Karena tidak sanggup lagi mendengar ucapan mereka Mijoo memilih untuk segera pergi menjemput Jiwoo yang mungkin saja sudah menunggunya dari tadi.

.

.

.

Mijoo sampai di Taman Bermain tempat Jiwoo sekolah. Ia bisa melihat anaknya kini sedang duduk sendirian di ayunan sambil menundukan kepalanya. Mijoo buru-buru menyusul Jiwoo, tampaknya dia telat menjemput anaknya karena sekolah sudah tampak sepi.

“Jiwoo-ya apa ibu telat? Jiwoo baik-baik sajakan?”tanya Mijoo panik.

Jiwoo menatap Mijoo yang sudah ada di depannya dengan murung. Semakin membuat Mijoo bingung apa yang telah terjadi pada Jiwoo.

“Jiwoo-ya ada apa?”tanya Mijoo lagi.

“Ibu… Yuee bilang sepatuku sudah jelek. Yuee punya sepatu baru,”adu Jiwoo.

“Ye? Yuee melakukan apa pada Jiwoo?”

“Yuee bilang sepatu Jiwoo jelek karena ibu tidak bisa beli sepatu bagus seperti Yuee untuk Jiwoo,”ucap Jiwoo.

Mijoo terdiam sejenak mendengar pengakuan Jiwoo barusan. Ia merasa dadanya terasa sesak mengetahui anaknya di perlakukan seperti itu oleh orang lain. Mijoo lantas mengusap rambut Jiwoo dengan penuh kasih sayang dan tersenyum padanya.

“Kalau begitu kita beli sepatu baru untuk Jiwoo yang lebih cantik daripada punya Yuee,”

“Jinjja?!”pekik Jiwoo histeris.

Mijoo menganggukan kepalanya, “Iya. Ayo kita jalan ibu baru saja dapat uang yang banyak nanti kita juga makan di luar. Jiwoo mau?”tanya Mijoo.

“Mau!! Ayo ibu cepat pergi beli sepatu baru!”

Karean terlalu berbahagia Jiwoo langsung beranjak dari ayunan dan berlari untuk segera pergi ke toko sepatu. Melihat anaknya yang sedang berbahagia dengan sikap polosnya membuat Mijoo kembali bersemangat. Takut terjadi apa-apa dengan Jiwoo karena berjalan sendiri Mijoo berjalan dengan langkah besar untuk menyusul Jiwoo. Anak kecil tidak boleh dibiarkan jalan sendiri di pinggir jalan.

.

.

.

“Cantik sekali!!”

Jiwoo menunjuk sebuah sepatu berwarna merah muda yang terpajang di sebuah toko yang baru saja mereka lewati. Dengan penuh senyuman Mijoo mengajak Jiwoo untuk masuk ke dalam toko tersebut. Saat pelayan menghampiri mereka Mijoo langsung mengatakan bahwa ia ingin melihat sepatu yang di taksir oleh Jiwoo. Tak membutuhkan waktu lama pelayan itu kembali dengan sepatu tersebut dan langsung mencobakannya ke kaki Jiwoo.

“Jiwoo suka?”tanya Mijoo.

Dengan penuh semangat Jiwoo menganggukan kepalanya.

“Jiwoo mau yang ini? Tidak mau lihat yang lain?”tanya Mijoo lagi.

Shireo! Mau yang ini saja bu,”mohon Jiwoo.

“Baiklah kalau Jiwoo maunya ini ibu akan belikan. Tolong bungkuskan yang ini,”

Sampai di kasir Mijoo mengeluarkan dompetnya. Saat mendengar kasir mengatakan bahwa total pembelanjaannya adalah 500.000 won Mijoo terkejut ia mengigit bibirnya karena tidak menduga akan semahal itu. Tetapi saat melihat kesamping yang mana Jiwoo sedang tersenyum bahagia Mijoo ikut tersenyum lalu mengeluarkan uang 500.000 won miliknya ke penjaga kasir. Seberapapun mahalnya sepatu itu kebahagiaan Jiwoo lebih berarti untuknya.

.

.

.

Sepanjang jalan menuju restauran yang akan mereka tuju Mijoo dan Jiwoo menyanyikan lagu anak-anak. Jiwoo sangat suka bernyanyi sejak kecil jika Jiwoo bercita-cita menjadi idol seperti Yoona dari Girls Generation pasti Mijoo akan sangat mendukungnya!

“Ibu kita mau makan dimana?”tanya Jiwoo tiba-tiba.

“Di sana!”tunjuk Mijoo.

Mulut Jiwoo membulat saat mengetahui dibawa kemana dia oleh sang ibu. Ternyata Mijoo mengajak Jiwoo pergi ke restauran seafood. Makanan laut adalah makanan favorite Jiwoo maka dari itu dia sangat terkejut saat tahu ibunya mengajak dirinya untuk makan di tempat itu.

“Ibu yang terbaik di dunia ini! Saranghae!”puji Jiwoo.

Mijoo terkekeh pelan dan kembali melangkahkan kakinya. Sampai di depan restauran saat Mijoo hendak membuka pintu seseorang dari dalam terlebih dahulu membuka pintu keluar. Ketika Mijoo dan Jiwoo menggeser posisi mereka untuk tidak menghadang orang keluar Mijoo di kejutkan dengan siapa yang baru saja dia lihat.

Heol kau Lee Mijoo, kan?”pekik seorang perempuan.

Mijoo mengedipkan kedua matanya berulang kali karena masih tidak percaya dengan orang yang ada di hadapannya saat ini. Wanita yang baru saja berteriak adalah Nam Chaerin, teman sekelas Mijoo saat SMA dulu. Ah.. tidak, lebih tepat dibilang seseorang yang sangat dia takuti karena Mijoo selalu di jadikan target bully oleh Chaerin.

“Sudah 6 tahun tidak bertemu bukan, Mijoo-ya? Jadi sekarang begini rupamu haha,”seru Chaerin seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.

“Ya.. lama tidak bertemu,”balas Mijoo dengan datar.

“Ibu, bibi ini siapa?”tanya Jiwoo tiba-tiba.

“Mijoo-ya dia anakmu?”kata Chaerin membulatkan matanya.

Mijoo menganggukan kepalanya sambil meggenggam tangan mungil milik Jiwoo.

“Gadis kecil siapa namamu?”Tanya Chaerin dengan ramah namun tetap saja tatapan menusuk masih terpancar dimatanya.

“Namaku Jiwoo, bibi.”jawab Jiwoo.

“Bibi? Ya aku masih muda untuk dipanggil bibi. Panggil saja Chaerin eonnie, ngomong-ngomong berapa umurmu?”tanya Chaerin lagi.

“6 tahun, Chaerin eonnie!”

“6 tahun? Ya Lee Mijoo jadi kau keluar dari sekolah saat itu karena akan melahirkan anak ini? Whoaa jinjja! Apa karena kau dulu dibuang di panti asuhan karena faktanya kau anak haram sehingga kau juga melakukan hal itu juga? Apa kau tidak kasihan dengan anakmu ini yang menjadi anak haram sepertimu?”oceh Chaerin panjang lebar.

Mendengar ucapan kotor Chaerin barusan Mijoo spontan langsung menutup kedua telinga Jiwoo agar tidak mendengar ucapan tidak pantas itu. Dengan mata yang berkaca-kaca Mijoo sekuat mungkin untuk memperingatkan Chaerin atas ucapannya barusan.

“Sudah cukup masa lalu itu. Kau tidak puas dengan apa yang kau lakukan padaku dulu, Chaerin-ah? Apa itu kurang? Dan aku peringatkan padamu kau tidak pantas mengatakan hal tersebut di depan anakku,”geram Mijoo.

“Haha kau marah? Kau bisa marah Lee Mijoo? Daebak!”

“Aku harap kita tidak lagi bertemu setelah ini sampai aku mati juga tidak sudi bertemu denganmu Chaerin-ah. Dan ini terakhir kalinya aku sampaikan padamu jangan beraninya kau membicarakan tentangku seperti itu lagi bahkan aku sendiri tidak tahu asal-usulku bagaimana seenaknya kau berbicara seperti itu? Dan apa kau tidak sadar omonganmu sangat tidak pantas untuk di bicarakan di depan anak kecil yang tidak tahu apa-apa?”ucap Mijoo meluapkan seluruh emosinya.

“Kau…. kau diluar dugaan ternyata,”

Chaerin yang kesal dengan ucapan Mijoo barusan langsung pergi meninggalkan mereka. Tangan Mijoo yang terasa lemas langsung terlepas di telinga Jiwoo lalu Mijoo menghembuskan nafasnya berulang kali.

“Ibu.. ada apa?”tanya Jiwoo polos.

“Bukan apa-apa ayo kita masuk. Jiwoo laparkan?”ucap Mijoo mengalihkan pembicaraan.

“Jiwoo sudah sangat lapar. Ayo bu kita makan cumi dan udang!”ajak Jiwoo.

Sebisa mungkin Mijoo usahakan dirinya untuk tersenyum di depan Jiwoo saat ini. Walaupun dia merasa hatinya teriris perih dengan ucapan Chaerin barusan dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya di depan Jiwoo.

.

.

.

Hoamm…

Di dalam pelukan ibunya Jiwoo menguap lebar karena sangat lelah hari ini. Berjalan-jalan seharian bersama ibunya membuat Jiwoo semakin cepat untuk tidur malam hari ini. Seperti biasanya Mijoo selalu menidurkan Jiwoo terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri yang tidur. Tiba-tiba saja Mijoo teringat kejadian di restauran tadi padahal Mijoo sudah berusaha keras untuk tidak mengingatnya. Ucapan Chaerin yang keterlaluan itu membuat Mijoo sangat marah. Sejujurnya Jiwoo bukan anak kandung Mijoo. Kepindahan Mijoo keluar dari sekolah itu juga bukan di dasarkan karena dia hamil diluar pernikahan melainkan karena Mijoo meminta untuk berhenti dari sekolah karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Chaerin dan teman-temannya. Mijoo bukanlah seperti Chaerin yang berasal dari keluarga berada Mijoo hanyalah anak perempuan yang dibesarkan di sebuah panti asuhan dari dia bayi hingga keluar dari sana. Mijoo tidak tahu asal usulnya tetapi ibu asuh Mijoo dulu mengatakan bahwa orangtua Mijoo menitipkan dirinya di tempat itu demi kebaikannya sendiri. Ucapan itu selalu Mijoo ingat sampai saat ini dan Mijoo tidak pernah menyesal dengan keputusan orangtuanya yang bahkan dia sendiri tidak tahu wujudnya. Sementara keadaan Jiwoo tidak seperti yang orang lain bayangkan. Saat Mijoo lulus SMA dan sedang mencari pekerjaan Mijoo melihat seorang anak kecil berumur sekitar 1 tahun di tinggalkan di pinggir jalan dengan diletakan di dalam kardus. Di pesan itu hanya disebutkan bahwa bayi mungil itu bernama ‘Kang Jiwoo’. Teringat dengan masa kecilnya dahulu membuat hati Mijoo tergerak untuk membesarkan Jiwoo sebagai anaknya walaupun dia tahu sulitnya untuk bertahan dihidup di zaman seperti ini.

“Ibu.. Jiwoo sayang ibu,”celetuk Jiwoo.

“Ibu juga sayang Jiwoo. Sudah malam lebih baik Jiwoo cepat tidur,”balas Mijoo.

Ne….”

Mijoo mencium kening Jiwoo penuh kasih sayang. Ia memeluk erat Jiwoo yang ada di dekapannya. Mungkin dengan tidur semua kejadian buruk yang menimpanya akan hilang seketika. Walaupun orang-orang memandangnya rendah itu tidak masalah bagi Mijoo karena selama ini dia merasa hidupnya begitu bahagia apalagi saat ada Jiwoo di sampingnya. Seberapa buruknya ucapan orang tentangnya dan Jiwoo baginya itu hanyalah angin lalu yang akan hilang setelah keluar dari kuping kiri. Yang Mijoo tahu Jiwoo adalah anak perempuan paling berharga untuknya. Mijoo selalu bersyukur karena telah memberikan jalan agar Mijoo dapat merawat Jiwoo walaupun sebagai orang tua tunggal. Bagi Mijoo, Jiwoo adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki.

.

.

.

END

Advertisements

6 thoughts on “[Oneshoot] Precious Daughter

  1. wah, genre gini sekarang lagi tren ya di drama-drama korea sana. dari angry mom sampai school 2015 who are you. well, aku kira jiwoo anak kandung mijoo tapi ternyata nggak toh. temen yang ngebully mijoo jahat banget. nggak sopan bicara kayak gitu di depan anak kecil. tapi ff kayak gini bener-bener keren loh. amanatnya bagus. well, ditunggu ff lainnya, keep writing~

    Liked by 1 person

    • Hehe iya aku sedikit terinspirasi dari Eunbi di School 2015. Pas lagi bosan disekolah kepikiran ide ginian ya catat di kertas terus dijadikan ff. Makasi juga ya sudah baca + komentar 🙂

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s