Reset [Chapter 8]

Standard

Reset

RESET

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Babysoul as Lee Soojung – L as Kim Myungsoo

Romance – Sad – School Life

PG17

 .

.

.

.

“Akhir-akhir ini aku lihat kau jarang bersama Hani. Kenapa?”tanya Soojung.

Ne? Di..dia yang menghindariku,”jawab Myungsoo.

“Apa kau melakukan kesalahan?”tanya Soojung lagi.

“aku tidak tahu. Ya! Yang mana rumahmu?”tanya Myungsoo sambil mengamati rumah yang dia lewati sejak tadi.

“2 rumah lagi itu rumahku,”

Akhirnya Soojung sudah sampai di depan rumahnya Myungsoo memberikan kantung belanjaan Soojung yang dia pegang sejak tadi.

Gomawo..”kata Soojung tulus.

“sama-sama.. eung kalau begitu aku pulang ya,”pamit Myungsoo.

“hati-hati,”

Soojung melangkah masuk ke dalam rumahnya dan Myungsoo berjalan untuk pulang. Myungsoo merasa jantungnya akan meledak menahan semua perasaan yang sedang menyelimuti dirinya saat ini.

.

.

.

Myungsoo baru saja sampai di kelasnya. Dia dapat melihat Hani yang duduk sendirian di tempatnya. Myungsoo menghampiri Hani dan terlihat bahwa yang di hampiri kaget dengan Myungsoo yang tiba-tiba ada di hadapannya.

“Hani-ya..”panggil Myungsoo.

Wae?”tanya Hani.

“Jangan jauhi aku. Kita masih teman bukan?”

Hani tersenyum lirih kepada Myungsoo, “aku ke toilet dulu ya,”

Saat Hani keluar dari kelas dia berpapasan dengan Soojung yang baru saja datang. Hani tersenyum kepada Soojung begitu pula Soojung. Setelah itu keduanya melanjutkan langkah kakinya kembali.

.

.

.

Baro yang baru saja datang langsung menghampiri Soojung dan juga dia memanggil Myungsoo dan juga Hani. Setelah berkumpul Baro membicarakan sesuatu dan mengeluarkan tiket dari tasnya.

“Aku mendapatkan tiket untuk menonton ada 4 tiket bagaimana kalau kita nonton?”ajak Baro.

“kenapa kau tidak ajak Jiae?”tanya Soojung.

“Dia sudah pergi menonton bersama teman-temannya. Bagaimana apa kalian mau?”tanya Baro sambil menatap teman-temannya.

Mian, aku tidak bisa,”kata Hani.

Baro, Soojung dan Myungsoo melihat ke arah Hani.

“aku ada les, mianhae..”sesalnya.

Gwenchana. Bagaimana kalian berdua?”tanya Baro lagi.

“A..aku si bisa,”kata Soojung.

“Myungsoo bagaimana denganmu?”tanya Baro ke Myungsoo.

Ne? Aku bisa..”jawabnya kikuk.

“kalau begitu nanti sore ya kita nonton, jam 5,”

.

.

.

Soojung baru saja keluar dari kelas saat bel keluar main sudah berbunyi dia dikagetkan dengan Minho yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Tanpa mengucapkan sepatah dua kata patah Minho langsung menarik tangan Soojung.

Ya minho-ya!”kaget Soojung.

Myungsoo yang baru saja keluar dari kelas menatap Minho dan Soojung dengan khawatir. Saat dia hendak melangkahkan kakinya ke kantin, Hani keluar dari kelas.

Ya Hani kau tidak ke kantin?”tanya Myungsoo.

Aniya aku harus latihan vocal. Aku duluan, mian..”pamitnya. Myungsoo menghela nafas secara perlahan dan kembali melanjutkan langkahnya.

.

.

.

“Soojung-ah nanti aku mengantarmu pulang ya, aku ingin tahu dimana rumahmu..”pinta Minho.

Ne? Ta..tapi aku di jemput,”

“Umm bilang saja sama supirmu jangan menjemput. Ya..ya…”mohon Minho.

Soojung terkekeh pelan dan kemudian dia menganggukan kepalanya, “tapi dirumahku tidak ada orang. Ibuku pulang malam ada arisan keluarga dan ayahku juga pulang dari kantor malam,”

Gwenchana aku tidak akan merepotkanmu dan melakukan sesuatu yang buruk. Aku janji,”ujar Minho.

Soojung tersenyum mendengarnya. Saat Soojung dan Minho ingin menyuapkan makanan mereka ke dalam mulut seseorang langsung duduk di samping Soojung yaitu Myungsoo.

“Kau kenapa disini Myungsoo?”tanya Minho heran.

“Tidak enak makan sendiri,”jawab Myungsoo cuek.

Myungsoo merasa telinganya memanas mendengar Minho yang selalu mengajak Soojung berbicara dan juga mendengar nada Soojung berbicara dengan Minho terkesan berbeda jika berbicara dengannya.

“Soojung-ah ada noda kuah ramyun di dagumu,”kata Minho.

Minho mengambil tisu dan saat hendak mengulurkan tangannya membersihkan noda yang tertempel di dagu perempuan itu Myungsoo terlebih dahulu membersihkannya memakai ibu jarinya.

“makan jangan belepotan,”tegur Myungsoo.

N..ne..”kata Soojung kikuk. Minho yang melihatnya merasa panas, tidak pernah dia merasakan hal ini sebelumnya.

.

.

.

Soojung dan Myungsoo berdampingan kembali ke kelas. Sepanjang koridor sekolah Soojung hanya diam dan juga Myungsoo. Merasa keadaan sangat aneh Myungsoo pun mencari topik pembicaraan dan mengajak Soojung berbicara.

“nanti aku menjemputmu ya dirumah,”ucap Myungsoo.

Ne baiklah..”

.

.

.

“Hei makanlah ini,”kata seorang laki-laki sambil menyodorkan kotak makan.

Hani melihat kotak makan itu dan langsung tersenyum kepada yang memberikannya, Kim MinSeok yang tidak lain adalah temannya bermain musik.

Gomawo Minseok-ah..”

Tanpa basa-basi Hani langsung membuka kotak bekal yang berisikan gimbap tersebut. Hani memakan gimbap yang tampak menggoda seleranya. Minseok hanya tersenyum dan langsung duduk di samping Hani.

“kalau kau sedang berjauhan dengan Myungsoo pasti ada masalah..”celetuk Minseok.

Hani yang awalnya semangat dengan makannya langsung mendadak berhenti makan dan hanya diam.

“Aku salah bicara ya?”Tanya Minseok.

Aniya. Aku tidak boleh terlalu mendekatinya. Tidak boleh,”gumam Hani.

Wae? Kau sudah tidak menyukainya lagi ya?”kata Minseok penasaran.

“Aku menyukainya, sangat menyukainya. Tapi itu tidak mungkin. Sudahlah jangan dibahas,”balas Hani.

“Myungsoo enak ya bisa disukai olehmu. Kau tidak menyukaiku,”lirih Minseok.

Hani melihat Minseok yang memasang tampang seduh. Dia menundukan kepalanya, “mianhae… aku akan mencoba menyukaimu,”kata Hani pelan.

Raut muka Minseok langsung berubah menjadi senang mendengarnya. Entah angin apa yang membuatnya langsung memeluk Hani.

Ya! Ini sekolah!”kata Hani memperingatkan.

Minseok langsung melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Hani membuat perempuan itu menjadi cemberut.

“habiskan makananmu..”titah Minseok setelahnya.

.

.

.

Bell pulang sekolah sudah berbunyi Soojung langsung membereskan buku-bukunya dan memasukan ke dalam tas. Dia keluar dari kelas dan sudah di tunggu oleh Minho. Soojung lantas menepuk pundak Minho yang membelakanginya.

“Ah kau sudah keluar. Kajja!”

Saat hendak berjalan tiba-tiba saja Myungsoo memanggil nama Soojung dengan kerasnya membuat langkah kaki Soojung dan Minho terhenti.

“Soojung aku akan menjemputmu nanti, ingat itu. Baro bilang dia langsung ke bioskopnya. Paham?”kata Myungsoo.

Ne baiklah,”jawab Soojung paham.

Ung.. kenapa kau pulang bersama dia?”tanya Myungsoo sambil menatap Minho dengan selidik.

“dia hanya ingin mengantarku pulang. ya sudah aku pulang ya,”pamit Soojung.

Soojung langsung menarik lengan Minho untuk segera pergi dari hadapan Myungsoo. Laki-laki bermata tajam itu menatap keduanya penuh dengan kekhawatiran.

“Minho benar-benar brengsek,”gumam Myungsoo.

.

.

.

Minho bermain sebentar di rumah Soojung. Soojung menjamunya dengan pizza beku yang dia panaskan. Setelah semuanya matang Soojung langsung membawanya ke ruang tengah dan berbicara dengan Minho yang sejak tadi sibuk menonton televisi.

Ummm Minho-ya kau disini sampai jam berapa? Aku ada janji dengan Myungsoo dan Baro”tanya Soojung.

“sebentar lagi aku pulang. Tenang saja,”jawab Minho tersenyum.

Saat Minho dan Soojung sibuk memakan pizza tiba-tiba saja ponsel Minho berdering. Minho mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di ponselnya.

“Ada apa menelponku?”

“..”

“N.ne? jangan berbohong padaku!”

“..”

“Dimana dia?”

“..”

“aku kesana!”

Telpon terputus dan Minho langsung menyandang tasnya buru-buru. Soojung yang bingung langsung berdiri dan menatap Minho penuh tanpa tanya.

“Minho-ya ada apa?”tanya Soojung.

“Ayahku.. D-dia masuk rumah sakit dan sekarang sedang di operasi,”jawab Minho dengan wajah yang sangat panik.

“Sakit? Sakit apa?”

“liver.. heh itu salahnya sendiri,”lirih Minho.

“Kenapa?”bingung Soojung.

“Ayahku pecandu alkohol karena itulah ibu meninggal dibuatnya,”

Soojung hanya memandang iba Minho, “dia pencandu alkohol dan suka bergonta-ganti pasangan dia selalu membawa wanita malam ke rumah. Ibuku…. karena memikirkan dia terus kesehatan ibuku terus menurun. Ibu meminta cerai dan 1 bulan setelahnya dia meninggal dan itu saat umurku 8 tahun,”terang Minho.

“Ah mian kenapa aku jadi membicarakannya ya. Aku pergi,”kata Minho kikuk.

Minho berjalan terlebih dahulu keluar di susul Soojung dari belakang. Minho kembali berpamitan kepada Soojung saat sudah sampai di teras.

“Aku pergi,”

Saat minho hendak melangkahkan kakinya Soojung menahan lengan Minho. Minho menatap bingung ke arah Soojung dan dia sangat kaget ketika Soojung tiba-tiba memeluknya.

“Jangan berfikir terlalu berat,”pesan Soojung.

.

.

.

“kau sedang dijalan mau ke rumah Soojung untuk menjemputnya menonton?”

“Eoh sebentar lagi aku sampai,”

“Ya kau akan terharu menonton film itu,aku sudah nonton kemarin,”

“Ckckkc kenapa? Ceritakan..”

“kisah cinta tragis. Kasihan pemeran utamanya sakit hati,”

“Ya Howon aku baru tahu kau menonton film begitu haha,”

“kalau di Busan mana mungkin aku menonton film begitu bisa hancur repotasiku mumpung aku di Seoul kan tidak ada yang kenal aku,”

“Ara..ara.. memangnya sakit hati itu apa?”

“sakit hati.. ung.. saat kau merasakan sesak di dadamu melihat perempuan yang kau suka bersama orang lain kurang lebih begitu. Kau bisa saja menangis karena sakit hati,”

“…”

Myungsoo tidak mengeluarkan suaranya lagi. Dia menatap pemandangan yang ada di hadapannya dengan sayu. Dadanya terasa sesak dan tidak suka melihat Soojung yang tertangkap oleh matanya sedang berpelukan.

“Oy Myungsoo..”

Pik… Myungsoo memutuskan telponnya dengan Howon dan berbalik badan serta berjalan kembali dan tidak jadi menghampiri Soojung.

Maldo andwae…”kata Myungsoo dalam hatinya.

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul 5 kurang tidak ada tanda-tanda Myungsoo akan menjemputnya. Soojung mendesah pelan dan dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Baro tadi tiba-tiba bell berbunyi. Soojung berlari untuk membuka pintu dan senyumnya mengembang saat melihat Myungsoo berdiri di hadapannya.

“kau datang aku kira tidak,”ujar Soojung.

“tentunya aku datang. Kau sudah siap bukan?”tanya Myungsoo.

Soojung menganggukan kepalanya dan langsung masuk kembali untuk mengambil tasnya setelah itu dia dan Myungsoo berjalan keluar.

.

.

.

Sampainya di bioskop Soojung dan Myungsoo menghampiri Baro yang sudah duduk di dekat teater sambil membawa 3 gelas minuman dan 1 popcorn ukuran sedang dan 1 ukuran besar.

“kalian lama sekali untung saja belum dimulai,”dumel Baro.

Mianhae Baro-ah..”kata Soojung.

“Hmm gwenchana ini ambil yang besar untuk kalian, minumannya akan aku bagikan di dalam,”

Kini mereka sudah masuk di dalam teater. Soojung duduk di tengah-tengah Baro dan Myungsoo. 45 menit awal semua tampak lancar sampai akhirnya Baro mendapatkan telpon terus menerus dari kakanya. Baro menjawab telpon secara perlahan agar tidak mengganggu penonton yang lain.

“yeoboseyo. Waeyo noona?”

“Ya eoddiga? Kau tahu aku terkunci diluar! Ya! Kalau kau pulang malam tinggalkan kunci di bawah karpet!”

“Ne? Aa aku lupa. Aku kira ibu dan ayah akan pulang lebih awal. Baiklah aku pulang,”

“ppali!”

“Tidak sabar sekali tsk,”

Baro menekan tombol merah dan memasukan kembali ponselnya di saku jaketnya. Dia berbicara yang ada di samping kanannya.

“Soojung-ah aku pulang sekarang ya. Miannoona ku tidak bisa masuk karena kunci rumah aku bawa,”sesal Baro.

Ne? Ja..jadi tinggal aku dengan Myungsoo?”tanya Soojung sambil melirik Myungsoo yang sibuk dengan layar besar dihadapannya.

Ne.. gwenchana?”

Soojung menganggukan kepalanya. Baro langsung berdiri dan pergi meninggalkan teater. Myungsoo yang bingung lantas bertanya pada Soojung.

Ya dia mau kemana?”tanya Myungsoo.

“Dia harus pulang..”jawab Soojung.

“oh.. Boleh aku bertanya sesuatu?”tanya Myungsoo lagi.

Mwoya?”

“Tadi aku melihatmu….”

Myungsoo berhenti berbicara, Soojung hanya bingung dengan Myungsoo yang tidak melanjutkan omongannya kembali.

“melihatku kenapa?”bingung Soojung.

“Ne? Ah ani.. abaikan,”

Myungsoo menghela nafas untung saja dia bisa mengontrol mulutnya untuk tidak bertanya masalah pemandangan yang dia lihat tadi saat Soojung dan Minho berpelukan. Soojung bakalan tahu bahwa seharusnya dia akan menjemput gadis itu lebih awal.

.

.

.

Tidak lama setelah itu sebuah adegan membuat mata Myungsoo membulat dan dia pun tercengang. Adegan kissing yang sedang dijalankan dalam film tersebut membuat Myungsoo teringat akan masalah insiden bus itu. untuk menghilangkan kegugupannya Myungsoo mengambil popcorn namun tidak sengaja dia menggenggam tangan Soojung yang hendak mengambil popcorn juga.

Mi..mian..”ucap Myungsoo.

Soojung langsung menarik tangannya dan langsung meminum minumannya. Hal yang cukup menggugupkan, kata Soojung dalam hatinya. Myungsoo yang merasa gugup juga langsung memasukan segenggam popcorn ke mulutnya dan mendumel di dalam hatinya, bagaimana bisa saat dia tidak sengaja menyentuh tangan Soojung rasanya seperti tersengat listrik.

.

.

.

Myungsoo baru saja mengantar Soojung pulang saat berada di halte bus dekat rumah Soojung selagi menunggu bus datang Myungsoo mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.

“Yeoboseyo. Eoddi?”

“Aku di rumah sakit. Wae? Kau ingin kesini?”

“Eoh.. aku.. aku ingin bertanya sesuatu padamu. tunggu aku,”

“Ok.. nanti aku kirimkan pesan nomor kamarnya,”

Myungsoo mematikan telponnya dan saat melihat taksi lewat dia langsung memberhentikannya dan masuk ke dalam taksi untuk sampai di tempat tujuannya.

.

.

.

Annyeonghaseyo eommoni,”sapa Myungsoo.

Aigoo Kim Myungsoo. ini kau? Orimaneyo Myungsoo-ya,”sapa nyonya Lee, ibu Howon.

Ne eommoni. Jongsonghamnida aku baru bisa menjengukmu,”

Ne gwenchana. Senangnya kau bisa disini,”

Myungsoo tersenyum kepada ibu Howon. Howon yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri ibunya juga.

“ibu aku lapar,”adu Howon.

“makanlah.. ajak juga Myungsoo makan. Kau belum makan malam bukan Myungsoo-ya?”tanya nyonya Lee.

Ne? Ah ne aku belum sempat makan malam. Apa tidak apa jika eommoni ditinggal sendiri?”

Gwenchana.. nanti kalian kelaparan,”

“Kajja myung!”ajak Howon.

.

.

.

Di kafetaria kantin Myungsoo memakan santapannya dengan lahap begitu pula Howon. Howon yang teringat tentang Myungsoo ingin menayakan sesuatu kepadanya langsung menanyakannya kepada Myungsoo.

“tadi kau ingin menayakan apa?”tanya Howon.

Myungsoo menelan sebentar makannya lalu menjawab pertanyaan Howon.

“eung.. masalah perasaan,”jawab Myungsoo.

“perasaan? Apa bayarannya untukku?”kata Howon bersemangat,

Myungsoo mencibir pelan hanya masalah begitu Howon ingin meminta bayaran.

“terserah apa yang kau mau,”ujar Myungsoo.

“Aku ingin bertemu dengan Soojung. Bisa?”

Mwoya..”desis Myungsoo.

“bisa atau tidak? kalau tidak ya ti—“

“baiklah..baiklah aku atur kau untuk bertemu dengannya,”potong Myungsoo.

“baiklah apa yang ingin kau tanyakan?”

“Itu….”

.

.

.

Esok harinya…

Soojung baru sampai di gerbang sekolah tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan Minho yang mendatanginya dengan wajah berseri-seri. Yang membuat Soojung lebih kaget Minho hendak memeluknya namun Soojung segera menghindar karena semua mata kini berpusat padanya dan Minho.

“S….Soojung operasi ayahku berhasil!”kata Minho dengan bahagia.

Soojung tersenyum legah mendengarnya, “baiklah kalau begitu kau harus menjaga ayahmu..”

Ne.. gomawo Soojung-ah..”ucap Minho.

Gomawo? Untuk apa?”heran Soojung.

“menenangkan hatiku kemarin..”jawab Minho.

Soojung mengulum senyumannya, “Hm kalau begitu aku duluan,”pamit Soojung.

Selepas Soojung pergi Minho yang hendak masuk ke kelas dicegat oleh Jiyeon yang menahan lengannya dari belakang. Jiyeon menatap garang Minho dan mengeluarkan suaranya.

“Ayo kita berbicara!”

.

.

.

Minho dan Jiyeon berbicara di halaman belakang sekolahan karena tempat ini sangat sepi. Jiyeon tiba-tiba berteriak kepada Minho dan membuat laki-laki itu geram dan bingung.

“Apa-apaan kau ini,”dumel Minho sambil menutup telinganya.

“berhentilah mendekati Soojung! Lagian apa perempuan itu tidak puas dengan perbuatanku untuknya!”kesal Jiyeon.

“Aku menyukainya wajar saja aku mendekatinya!”aku Minho yang membuat mata Jiyeon membulat, “dan lagi.. apa yang kau lakukan terhadapnya tanpa sepengetahuanku?”lanjut Minho.

“oh jadi perempuan itu tidak cerita. Baguslah. Aku peringatkan lagi jangan dekati dia!”kata Jiyeon sinis.

“kau bukan siapa-siapaku lagi Park Jiyeon! Tidak seharusnya kau mengaturku!”bentak Minho.

“Ta..tapi aku begini karena aku menyukaimu!”

“aku tidak menyukaimu. Aku menyukai Soojung. Kau harus ingat itu!”

“Heh kau selalu bilang suka sama semua perempuan!”

ani.. kali ini berbeda,”kata Minho.

DEG.. jantung Jiyeon terasa berhenti berdetak mendengar pengakuan Minho. Bukan ini yang ingin dia dengar..

“aku menyukainya. Dia gadis yang berbeda, dia sangat mirip dengan ibuku gadis seperti itulah yang aku cari,”aku Minho.

“tidak… tidak bisa. Kau tidak pantas dengan gadis seperti itu. Dia tidak cocok dengan laki-laki sepertimu,”kata Jiyeon tak percaya.

“lalu aku harus bersama siapa. Kau siapaku berani mengatur siapa yang bisa menjadi pacarku huh?”ucap Minho skeptis.

Air mata Jiyeon mulai berjatuhan di pipinya, “karena kau menyukaimu.. sangat menyukaimu. Saranghae..”lirih Jiyeon.

Minho menghela nafas dan langsung pergi meninggalkan Jiyeon sendiri. Isak tangis Jiyeon semakin kuat terdengar, “Minho-ya.. hikshiks, saranghae minho-ya..”

.

.

.

Soojung baru saja sampai di kelasnya. Myungsoo langsung menyapa Soojung penuh hangat dan membuat Soojung kaget, “Annyeong Soojung-ah..”. walaupun bingung Soojung juga membalas sapaan Myungsoo dia langsung duduk di bangkunya dan menatap Myungsoo bingung, yang ditatap olehnya hanya tersenyum manis. Tanpa mereka sadari sejak tadi Hani melihat mereka.

“baguslah sepertinya dia sudah sadar,”lirih Hani sambil tersenyum sedih.

.

.

.

Saat pelajaran olahraga Baro dan Myungsoo istirahat sejenak di pinggir lapangan sambil berbincang-bincang. Karena kehabisan kata-kata Baro mencari lagi topik pembicaraan dan dia memilih untuk membicarakan masalah Myungsoo dan Hani.

“Kau sudah meminta Hani untuk menjadi pacarmu?”tanya Baro.

“sudah.. tapi dia menolak,”jawab Myungsoo.

Mwo? Apa kau tidak sakit hati Hani menolakmu padahal kalian dekat dan saling berkencan,”bingung Baro.

Aniyo.. aku hanya bingung saja saat itu tidak ada perasaan sakit. Entahlah aku tidak tahu kenapa dia menolak aku yang jelas dia menyuruhku untuk menyadari perasaan seseorang,”heran Myungsoo.

“Seseorang? Siapa?”tanya Baro bingung.

“Entahlah aku rasa itu dia..”jawab Myungsoo.

“Dia?”

Eoh.. aku baru sadar apa yang ku rasa sama Hani selama ini hanyalah rasa kagum saja bukan mencintainya. Aku salah mengartikan semuanya,”

Baro melihat Myungsoo dengan pandangan bingung.

.

.

.

“itu.. aku beberapa hari yang lalu menembak cewek yang ku suka. Tapi dia menolakku. Aku tidak tahu kenapa dia menolakku,”

“Jinjja? Kau patah hati sekarang?”

Myungsoo memegang dadanya dia merasa biasa saja sejak kemarin, “ani, tidak sama sekali merasakan sakit hati seperti yang kau dibilang di telfon tadi.. tapi… aku merasakan hal itu saat melihat Soojung berpelukan dengan cowok lain,”lirih Myungsoo.

“Ne? Kenapa kau menyukai perempuan yang kau tembak itu?”

“oh dia baik, manis, sabar, hmm pengertian, pintar juga. Banyaklah dia sangat mendekati kata sempurna,”

“Jinjja? Kau menyukainya karena itu?”

Myungsoo menganggukan kepalanya dengan pasti.

“Bagaimana dengan Soojung kenapa kau bisa merasakan hal yang ku bilang itu?”

“…..”

“ya kenapa tidak menjawab?”

Myungsoo meminum tehnya. Dia tidak bisa menjawab sama sekali pertanyaan Howon.

“begini.. umm kau hanya sebatas mengagumi perempuan yang kau bilang itu tapi hatimu sebenarnya menyukai Soojung. Yah walaupun playboy aku ini tahu masalah hati, cinta itu tidak perlu alasan, ingat itu!”kata Howon dengan bangga.

“Jinjja? Eotteoke?”

“kau bertanya padaku? Ya! Harus bertindak, dekati dia lagi tapi jangan mengulangi kesalahan yang lalu. Arasseo?”

Myungsoo menganggukan kepalanya dan tersenyum, “gomawo-yo…”

.

.

.

Soojung hendak mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah karena baju olahraganya penuh dengan keringat. Saat hendak masuk ke ruangan ganti tidak sengaja dia berpapasan dengan Jiyeon yang berjalan sendiri. Soojung hanya menundukan kepalanya dan Jiyeon menatapnya dengan datar setelah itu Jiyeon pergi meninggalkan Soojung sendiri.

.

.

.

Soojung terus menguap karena tidak ada yang bisa dia lakukan di rumah. Sungguh membosankan, dia butuh refreshing. Merasa tidak ada pilihan lain Soojung memutuskan untuk tidur namun saat hendak memejamkan matanya dia mendengar suara bell rumah yang terus berbunyi dengan terpaksa dia beranjak dari kasurnya dan membukakan pintu untuk tamunya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat dua orang tamu yang sedang tersenyum ramah padanya.

Annyeong Soojung-ah..”sapa Minho dan Myungsoo.

“Ka..kalian kenapa kesini?”tanya Soojung bingung.

“Ayo kita jalan,”ajak Myungsoo.

“aku ingin mengajakmu makan,”kata Minho.

“pergi bersamaku saja Soojung jangan dia!”celetuk myungsoo.

A..aniya pergi samamku saja dijamin enak. Ayo siap-siaplah!”

“Aku Soojung!”

“denganku saja!”

“jangan sama dia. Aku!”

“Aku!”

SHIREO!!!”pekik Soojung.

Myungsoo dan Minho tercenggang ketika Soojung berteriak dengan muka yang sanggar. Soojung langsung masuk kembali ke dalam rumah dan BRAG!!! Dia menutup pintu rumah dengan kencang. Minho mengetuk pintu dan Myungsoo berteriak memanggil nama Soojung namun tetap saja hasilnya nihil.

“Eish gara-gara kau!”dumel Myungsoo.

“sudah ku bilang harusnya kau mengalah padaku. Gara-gara kau aku tidak bisa mengajak Soojung makan,”oceh Minho.

Ya! Jangan dekati Soojung, aku memperingatimu!”titah Myungsoo.

“siapa kau?”kata Minho sinis.

“aku? Aku menyukainya. Aku tidak mau orang sepertimu mendekati Soojung,”jawab Myungsoo tegas.

“Cih kita lihat siapa. Aku atau kau yang akan dipilih Soojung,”

Arasseo.. siapa yang kalah harus mengaku kalah secara jantan,”

“baiklah!”

Minho dan Myungsoo saling berjabat tangan setelah itu keduanya kembali pulang dengan jalur masing-masing.

.

.

.

Esok harinya..

Soojung menunggu jemputannya yang belum tiba sejak tadi. Dia terus menerus melihat jam tangannya waktu sudah berjalan 20 menit lebih namun belum juga ia di jemput. Tiba-tiba saja seseorang menutup mata Soojung dari belakang dan mendorong Soojung untuk berjalan. Soojung berusaha meronta namun dia tidak bisa.

Ya siapa! Ini tidak lucu!”pekik Soojung.

Namun sang penculik jadi-jadian hanya diam tak mengeluarkan suaranya sama sekali. Soojung terus menerus berteriak tidak sadar bahwa kini dia menjadi pusat perhatian sementara orang yang ada dibelakangnya hanya tersenyum manis kepada semua orang.

“Wah kau seperti penculik Myungsoo!”kata Howon saat melihat Myungsoo sudah membawa Soojung dihadapannya.

Myungsoo melepaskan tangannya yang sejak tadi menutupi mata Soojung. Soojung membulatkan matanya melihat Howon yang ada di hadapanya.

“K-kau!”pekik Soojung tertahan.

Soojung melihat kebelakang dan terkejut bahwa orang yang ‘menculik’nya adalah Myungsoo.

“kalian ini apa-apaan!”bingung Soojung.

“Ayo kita jalan. Long time no see, right?”

Soojung menganggukan kepalanya dengan polos dan Howon langsung menarik tangan Soojung dan mengajaknya masuk ke dalam taksi. Myungsoo yang merasa urusannya sudah selesai lantas ingin pulang namun dia dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depannya. Seorang gadis baru saja turun dari taksi, gadis yang sudah lama tidak dia temui, Yoo Ara. Mata Ara menyipit saat melihat Myungsoo dan akhirnya mereka saling berjalan untuk mendekatkan diri mereka ke suatu tempat.

“lama tidak bertemu. Ada apa kesini?”tanya Myungsoo kikuk.

“Um… aku ingin bertemu dengan Soojung. Apa dia sudah pulang?”tanya balik Ara.

“Soojung? Ah dia baru saja pergi dengan Howon. Ada apa ingin bertemu dengannya?”tanya Myungsoo.

Hani baru saja keluar dari gerbang dan tidak sengaja melihat ke arah Myungsoo dan Ara, perempuan yang tentunya tidak dia kenal. Entah kenapa langkah kaki Hani sendirinya mendekati Ara dan langsung menyapa mereka.

Annyeonghaseyo…”sapa Hani.

Annyeong kau belum pulang Hani-ah?”tanya Myungsoo.

“Aku harus latihan vocal bersama Minseok. Hmm dia—“

“oh kenalkan dia Ara…”kata Myungsoo.

“Yoo Ara imnida,”kata Ara sambil mengulurkan tangannya.

“Hani imnida,”kata Hani sambil menjawab tangan Ara.

“kau cantik, sama seperti Soojung..”puji Hani.

Myungsoo dan Ara hanya tersenyum kikuk, “aku duluan ya aku mau ke cafe depan untuk membeli minuman, annyeong..”

.

.

.

Howon mengajak Soojung berjalan-jalan mengitari tempat yang mereka kunjungi sekarang. Karena merasa kehabisan tenaga akibat berjalan terus menerus mereka memutuskan untuk makan. Sampai di restauran Soojung dan Howon memesan makanan mereka masing-masing. Ketika menunggu pesanan datang telpon Howon berbunyi dan namja itu langsung mengangkatnya.

“Ne chagiya.. eoh aku baik-baik saja di Seoul,”

“..”

“Merindukanku? Nado.. aku akan membelikanmu oleh-oleh tenang saja,”

“..”

“Ne aku lagi makan dengan temanku dulu di Seoul. Kalau begitu sudah ya,”

Telpon terputus namun belum ada 5 menit ponsel Howon kembali berbunyi dan cowok itu mengangkatnya.

“Yeoboseyo noona,”

“…”

“Aigoo mian noona aku tidak menelponmu, aku sibuk mengurus ibuku,”

“..”

“aku merindukanmu noona. Jinjja..”

“..”

“ne.. aku akan hati-hati di seoul kau juga jaga diri di Busan,”

“..”

“Ne saranghae noona..”

Soojung hanya bisa memasang tampang bengong karena bingung, sifat Howon yang dulu masih belum berubah.

jinjja daebak..kau masih menjadi playboy,”kata Soojung berdecak kagum.

“Ya begitulah.. selagi aku bisa hehe,”kata Howon malu-malu.

Aigoo kepalaku pusing,”ujar Soojung.

Howon yang melihatnya hanya terkekeh pelan dan pelayan pun datang menghampiri meja mereka lengkap dengan pesanan Soojung dan Howon.

.

.

.

Setelah makan Soojung dan Howon duduk sebentar untuk menurunkan makannya ke perut. Howon berbicara kepada Soojung untuk meminta maaf masalah yang telah lalu.

Mianhae…”kata Howon.

Mian?”bingung Soojung.

“yang lalu.. mian…”sesal Howon.

“Oh.. gwenchana kau sudah memperingati aku tapi aku sendiri yang bodoh. Tenang saja jangan merasa bersalah,”kata Soojung.

Mianhada….”

“jangan meminta maaf lagi. Sudahlah mending lanjut pergi jalan. Kajja!”

.

.

.

Myungsoo dan Ara memutuskan untuk berbicara di taman. Ara memakan es krimnya yang sangat menggiurkan itu sementara Myungsoo hanya melihati mantan kekasihnya tersebut. Melihat Ara membuat Myungsoo teringat masa-masa setelah kepergian Soojung saat itu.

Hubungan mereka bertahan sampai di bulan ke 5. Walaupun cukup lama namun itu semua tidak berjalan lancar, mereka tidak pernah berkomunikasi lagi dan juga berbicara di sekolah. Karena merasa semuanya sia-sia pada akhirnya Myungsoo memilih untuk mengakhiri semuanya.

“Mian sampai disini saja,”sesal Myungsoo.

“arasseo.. tidak ada perkembangan lebih baik mundur. Kkeputusanmu benar,”

“Maafkan aku..”

“gwenchana, kita sama-sama salah..”

“Aku tahu…”

 

Myungsoo tersadar dari lamunannya dan es krim yang dimakan Ara bahkan sudah habis. Ara melambaikan tangannya ke wajah Myungsoo dan cowok itu hanya tersenyum tipis.

“Aku ingin menceritakannya sekarang kenapa aku kesekolahmu..”kata Ara.

“ya, ada apa?”

“aku ingin meminta maaf dengan Soojung masalah yang lalu. Dia belum mau memaafkanku,”ujarnya.

jeongmal? Soojung juga begitu deganku pada awalnya. Tenang saja aku akan membantumu kembali berteman dengan Soojung,”

Jinjja? Kau sungguh ingin membantuku?”kaget Ara.

“tentunya.. ini juga kesalahanku,”balas Myungsoo.

Ara hanya mengulum senyumannya. Setidaknya bertemu dengan Myungsoo menghasilkan sedikit bantuan.

.

.

.

Esok harinya kelas di ramaikan dengan undangan dari Hani. Dua hari lagi perempuan itu akan genap berumur 18 tahun sehingga dia ingin mengadakan acara yang sedikit meriah karena saat ulangtahun ke-17 dia tidak sempat merayakannya.

“kau harus datang ya,”kata Hani saat memberikan undangan ke Soojung.

Ne pastinya,”ujar Soojung sambil tersenyum.

Myungsoo yang baru saja datang langsung menghampiri Hani dan Soojung, “ada apa?”tanya Myungsoo penasaran.

“aku merayakan ulangtahunku. Kau harus datang,”kata Hani sambil memberikan undangan untuk Myungsoo.

“tenang saja aku pasti datang,”jawab Myungsoo. Hani tersenyum legah mendengarnya.

.

.

.

Pulang sekolah Baro meminta Soojung untuk menemaninya mencari pakaian yang cocok untuknya di butik milik kakaknya sendiri. Mereka juga berencana untuk membelikan hadiah ulangtahun Hani. Myungsoo yang melihat Baro dan Soojung berjalan berdampingan langsung menyusul mereka dan bertanya.

“kau mau kemana?”tanya Myungsoo kepada Soojung.

“menemani Baro mencari baju dan juga mencari kado untuk Hani,”

“ke..kenapa harus kau?”tanya Myungsoo pada Baro.

Baro menyeringai. Dia tahu kini Myungsoo pasti cemburu padanya, “Ya kau cem—“

Au!!”jerit Baro setelah Myungsoo menginjak kakinya.

Ya apa yang kau lakukan?”dumel Soojung.

Aniya. Aku mencegah dia berbicara yang tidak-tidak,”balas Myungsoo.

“Aish kami pergi,”kesal Baro sambil menarik tangan Soojung.

Myungsoo menatap punggung keduanya yang semakin menjauh dengan penuh api cemburu. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Myungsoo dari belakang ternyata dia adalah Minho.

Ya Soojung mau kemana?”tanya Minho penasaran.

Myungsoo terdiam sejenak kemudian dia menampilkan senyuman nakalnya lalu dia menjawab pertanyaan Minho.

“Heh.. Baro mengajak Soojung berkencan,”kata Myungsoo dengan nada lemas yang dibuat-buat.

Mwo?! Ya bagaimana bisa ini persaingan kita kenapa Baro juga mengencani Soojung. Maldo andwae!”teriak Minho histeris.

“Molla..”kata Myungsoo yang langsung pergi setelahnya.

.

.

.

Myungsoo mencari kado untuk Hani sekarang di kawasan Myeongdong. Myungsoo yang melihat sebuah toko yang berisikan pernak-pernik perempuan iseng masuk ke dalamnya tanpa rasa malu. Pelayan toko yang seorang noona melayani Myungsoo dengan genitnya namun Myungsoo berusaha menghiraukan orang itu dan mencari sendiri hadiah untuk Hani. Pandangan Myungsoo takjub dengan sebuah bola kristal musik yang cantik. Bola kristal itu berisikan salju-salju yang membuat benda tersebut lebih banyak mengandung undur warna putih, yang membuat Myungsoo terpikat untuk memberikannya kepada Hani.

Chogi.. aku ingin ini, tolong juga di bungkuskan”kata Myungsoo.

Ne haksaeng,”kata pelayan itu sambil tersenyum genit.

Setelah membayar apa yang dia beli Myungsoo langsung pulang dengan senyuman yang mengembang.

.

.

.

Semua anak di kelas mengucapkan dan menyanyikan lagu ulangtahun untuk Hani dan membuat perempuan yang sedang berulangtahun itu tersenyum bahagia. Setelahnya semua orang memberikan selamat untuk Hani termasuk myungsoo dan Soojung.

saengil chukae Hani-ya..”kata Myungsoo.

gomawo Myungsoo-ya,”ucap Hani berterimakasih.

Chukae Hani..”kata Soojung.

gomawo Soojung-ah…”

Teringat akan sesuatu hal yang ingin dia bicarakan dengan Soojung latas Myungsoo langsung mengeluarkan suaranya.

“Soojung nanti aku menjemputmu ya. Ayahku sedang berbaik hati meminjamkan aku mobilnya,”kata Myungsoo.

Ne gomawo..”

Hani yang mendengarnya hanya tersenyum senang. Sepertinya Myungsoo benar-benar sadar dengan perasaannya walaupun itu sendiri membuat dirinya merasakan sesak namun dia tidak akan menyesal karena yang dilakukannya adalah sebuah kebaikan bukan? Berusaha mempersatukan orang yang diam-diam saling menyukai.

.

.

.

Myungsoo dan Soojung berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah Hani. Sudah ramai yang datang sepertinya Hani juga mengundang anak kelas lain yang dia kenal. Myungsoo mengajak Soojung untuk menghampiri Hani yang sedang berbicara dengan Minseok di pojokan.

“kami sudah datang,”adu Myungsoo.

“aku kira kalian tidak akan datang,”gumam Hani.

Aniya mana mungkin aku tidak datang. Ah iya ini kado untukmu,”kata Myungsoo.

Soojung juga memberikan kadonya untuk Hani. Gadis yang sedang berulang tahun itu pamit sebentar untuk meletakan kadonya.

.

.

.

Acara pemotongan kue baru saja berlangsung Hani diminta untuk menyuapkan orang terkasihnya. Potongan pertama dia berikan untuk ibunya dan dilanjutkan dengan sang ayah. Ketika diminta untuk memberikan potongan kue kepada teman Hani menunjuk Minseok sebagai orang pertama yang memakannya. Tepuk tangan menjadi riuh setelah Hani menyuapi Minseok kue. Entah kenapa tiba-tiba saja Hani memikirkan sesuatu hal, dia memanggil Myungsoo dan Soojung. Ketika keduanya sudah berada didekat Hani perempuan tersebut memberikan sepiring kue untuk mereka berdua.

Mwoya?”bingung Myungsoo.

“kalian saling suap-suapan,”pinta Hani.

Mwo?”pekik Myungsoo, Soojung hanya tercenggang mendengarnya.

Jebal turuti permintaan yang sedang berulang tahun,”bujuk Hani sambil mengeluarkan aegyo nya.

Dengan canggung keduanya saling suap menyuap. Para hadirin bertepuk tangan dengan meriah bahkan Baro yang sejak tadi memperhatikan bersorak-sorai tidak jelas dari tempatnya.

.

.

.

Walaupun merasa lelah akibat pesta yang dia selenggarakan itu tidak membuat Hani merasa ingin cepat-cepat tidur karena dia ingin membuka kado dari teman-temannya. Setelah membuka kado dia meletakan kado tersebut dibawah kembali untuk tidak memenuhi tempat tidurnya. Hani melihat sebuah kotak berukuran sedang berwarna cokelat keemasan. Dia membuka kotak kado itu dan tersenyum melihat sebuah bola kristal musik terisi didalamnya, kado itu adalah pemberian Myungsoo. Di dalam kotak itu juga ada sebuah surat dan Hani langsung membacanya.

Saengil chukae hamnida, Hani..

Aku harap diulangtahun mu kali ini kau akan semakin baik.

Maaf aku memberikanmu kado yang tidak bernilai ini tapi entah kenapa saat melihat kado tersebut aku menjadi teringat denganmu. Teringat dengan hatimu yang putih bersih seperti salju-salju yang ada di dalam bola itu, Hani-ya..

Simpan kadoku baik-baik jika kau berani memecahnya aku akan membunuhmu, kekekke..

Sekali lagi Happy Birthday, sahabatku tersayang.

 

Senyum terus mengembang di bibir Hani. Tentunya, tanpa laki-laki itu suruh dia juga akan menyimpannya dengan baik sama seperti kado tahun kemarin. Setidaknya dia merasa sedikit senang karena myungsoo menganggapnya sebagai sahabat yang dia sayangi. Hani meletakan kado Myungsoo di atas tempat tidurnya dan membuka kembali kado yang lain.

.

.

.

Seorang laki-laki dan perempuan itu baru saja sampai dirumah. Mereka turun dari mobil dan berdiri di depan gerbang. Soojung mengucapkan terimakasih kepada Myungsoo karena sudah menjemput dan mengantarnya pulang dengan selamat.

Gomawo Myungsoo-ya sudah mengantarkan aku pulang,”kata Soojung tulus.

gwenchana aku senang mengantarkanmu,”ujar Myungsoo.

“kalau begitu sampai jumpa, aku masuk dulu,”

Setelah membungkukan badannya Soojung hendak masuk ke dalam rumah namun lengannya tiba-tiba saja di tahan oleh Myungsoo.

Waeyo?”bingung Soojung.

Chu~~

Myungsoo menempelkan bibirnya ke bibir Soojung. Soojung membulatkan matanya dengan syok berbeda dengan Myungsoo yang memejamkan matanya dan memulai melumat bibir Soojung, entah sejak kapan Soojung juga memejamkan matanya dan membalas ciuman Myungsoo. selama beberapa menit kemudian akhirnya mereka melepaskan tautan bibir mereka. Muka Soojung kini sudah merah padam menahan malu berbeda dengan Myungsoo yang tersenyum.

“sebaiknya kau cepat masuk,”titah Myungsoo.

N..ne,”kata Soojung gugup.

Jalja…”ucap Myungsoo.

Soojung membalikan badannya namun langkahnya terhenti ketika Myungsoo kembali mengeluarkan suaranya, “kau cantik sekali malam ini. aku pulang,”

Detak jantung Soojung terasa ingin berhenti berdetak. Dia tidak pernah bermimpi bahwa Myungsoo akan menciumnya. Apakah dia boleh berharap lebih dengan hal yang baru terjadi itu? apakah ini pertanda baik?

.

.

.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “Reset [Chapter 8]

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s