Reset [Chapter 9]

ResetRESET

Scripwriter : Fanita (woollimstan)

Babysoul as Lee Soojung – L as Kim Myungsoo

Romance – Sad – School Life

PG17

.

.

.

“Soojung nanti kita jalan ya..”ajak Minho. Soojung menatap Minho tanpa jawaban malahan perempuan itu melihat sosok laki-laki yang baru saja melewatinya, Kim Myungsoo membuat dirinya terbayang kejadian semalam.

“jangan menolak ajakanku ya,”pinta Minho.

Entah kenapa Soojung menggelengkan kepalanya dan membuat Minho mengartikan bahwa Soojung menerima ajakan dia untuk jalan.

“Baiklah kau tidak menolak kan? Kalau begitu nanti aku hubungi kau,”

Heol?”

Soojung menatap bingung Minho karena tadi sdia belum sepenuhnya sadar. Minho hanya tersenyum manis dan mengacak poni Soojung.

.

.

.

Saat dikelas pelajaran sedang berlangsung namun Soojung tidak fokus kepada apa yang sedang diajarkan oleh gurunya. Myungsoo yang menyadari tingkah Soojung melemparkan sebuah penghapus dan menggenai punggung perempuan tersebut. Soojung melirik kebelakang dan mencari siapa yang melemparkan penghapus itu kepadanya.

Waeyo?”gumam Myungsoo.

Mata Soojung membulat dia langsung menggelengkan kepalanya dan berusaha memperhatikan pelajaran kembali.

Kring…

Bel istirahat sudah berbunyi Soojung yang baru saja ingin pergi ke kantin langsung mengurungkan niatnya saat Myungsoo menghampirinya dan menyapanya.

Annyeong..”sapa Myungsoo.

Soojung hanya diam dan malah memperhatikan bibir Myungsoo yang tipis nan seksi tersebut. Myungsoo yang sadar bahwa Soojung tidak fokus kepadanya melainkan pada bagian wajahnya langsung menyunggingkan senyuman nakal dan mendekatkan wajahnya ke wajah Soojung.

“kau mengingat yang semalam ya?”bisik Myungsoo.

Soojung langsung menjauhkan wajahnya dari Myungsoo dan berlari pergi meninggalkan laki-laki yang sedang terkekeh itu.

Aigoo.. semalamkan hanya refleks,”kata Myungsoo sambil mengusap tengkuknya.

.

.

.

Soojung dan Baro tidak makan di kantin mereka memilih untuk makan di dekat ruang musik. Soojung yang merasa bingung harus bagaimana lantas menceritakan kepada Soojung apa yang harus dia lakukan dan apa maksud Myungsoo semalam.

Ya aku ingin bercerita padamu,”bisik Soojung.

Mwoya?”tanya Baro sambil mengigit roti.

“….”

Soojung menceritakan semuanya secara rinci kepada Baro. Laki-laki itu tersenyum penuh arti dan menatap Soojung dengan tatapan menggoda.

“Umm bisa saja myungsoo menyukaimu makanya dia menciummu. Ya.. kebanyakan laki-laki begitu si,”kata Baro.

Hei maldo andwae dia tidak akan pernah menyukaiku,”lirih Soojung.

Tanpa keduanya sadari sejak tadi ada seseorang yang mendengar percakapan mereka dari dalam ruang musik yaitu Hani.. Hani tersenyum senang mendengarnya karena mengingat percakapan Myungsoo tempo lalu.

“Hmm jika aku benar-benar sudah menyukai seorang perempuan aku akan memberikan ciuman pertamaku padanya,”kata Myungsoo.

“Jinjja? Hmmm kau seperti perempuan saja,”gumam Hani.

“Ya! Aku ini bukan laki-laki jahat yang sembarangan mencium perempuan.. jika aku mencium perempuan itu positif aku menyukainya. Hmmm..”

“Benarkah.. aku penasaran siapa orangnya,”

“Molla… kita lihat kedepannya siapa. Bisa saja kau kekeke,”

“YA!”

“Haha aku hanya bercanda,”

.

.

.

Myungsoo melihat isi dompetnya yang cukup tebal. Uang bulannya banyak tersisa bisa dibilang bulan ini bisa dikatakan dia cukup hemat. Tidak tahu kenapa tiba-tiba dia memikirkan untuk membelikan sebuah hadiah kepada perempuan yang dia sukai, Soojung. Lantas Myungsoo berjalan menuju halte bus untuk mencari bus tapi dia sangat bingung untuk memberikan apa kepada Soojung karena dia tidak mengetahui apa yang Soojung sukai dan apa yang dia benci. Sebuah ide muncul di benak Myungsoo, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seorang perempuan yang dapat membantunya. Myungsoo menghubungi Yoo Ara.

“Yeoboseyo Ara-ya,”

“Yeoboseyo. Ada apa Myungsoo?”

“Hmm aku meminta bantuanmu. Bisa kau temui aku di ……..”

“Arasseo aku juga di dekat daerah itu. sampai jumpa,”

Bus dengan tempat tujuan yang dikehendaki Myungsoo akhirnya tiba dan laki-laki itu langsung naik ke bus dan pergi untuk menemui Ara.

.

.

.

“Simple saja Soojung menyukai boneka berbentuk lucu, nah seperti itu!”

Ara menunjuk boneka yang terletak paling atas. Boneka berwara biru, berbulu tebal dan berupa anjing yang sangat lucu. Myungsoo mengambil boneka tersebut dan memperlihatkan kepada Ara.

“yang ini? apa Soojung suka anjing?”gumam Myungsoo.

Ne dulu dia punya anjing tidak tahu sekarang masih atau tidak. ini saja bagus!”

“baiklah aku akan mengikuti perkataan perempuan,”

Myungsoo membawa boneka itu ke kasir dan membayarnya setelahnya dia berterimakasih kepada Ara.

Gomawo sudah menemaniku. Mian masih belum ada perkembangan untukmu berbaikan dengan Soojung,”

gwenchana aku akan sabar,”

“kalau begitu kau mau aku antar pulang?”

Ne? Tidak usah merepotkan saja,”

gwenchana. Kajja!”

.

.

.

Matahari bersinar cukup terik untung saja sekarang sudah pukul 3 sehingga sudut matahari sudah mencondong tidak tepat berada di atas kepala manusia. Walaupun panas Soojung dan Minho cukup menikmati berada di pinggir sungai Han ini, merasakan hembusan angin sepoi-sepoi membuat mereka cukup bersenang hati.

“aku sudah lama tidak kemari,”gumam Soojung.

Jinjja? Kalau begitu ini ide yang baik bukan mengajakmu ke sungai Han?”

Soojung menganggukan kepalanya dengan atusias. Tidak sengaja Soojung memandang sebuah hal yang unik. Ada banyak orang yang menempelkan gembok seperti di menara Namsam.

“Oh kenapa mereka memasang itu ya?”tanya Soojung ke Minho.

“Ah itu? untuk menandakan mereka pernah kemari. Kau mau? Kajja!”

“Eh!”

Minho tanpa basa-basi langsung mengajak Soojung kesana dan mengeluarkan gembok yang sedari tadi sudah dia siapkan di tasnya. Minho menulis pesan-pesan digembok itu dan Soojung yang membacanya hanya terkekeh pelan. Minho membuat pesan seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.

“jangan di gembok!”pinta Soojung.

Waeyo?”bingung Minho.

“kata-katamu sangat aneh. Tidak usah ya haha,”mohon Soojung.

gwenchana..”

Soojung memanyunkan bibirnya saat melihat gembok tersebut sudah terpasang di tempatnya, “kau ini susah sekali diperingatkan!”dumel Soojung. Bukannya takut atau khawatir Minho malah tertawa dan merangkul Soojung untuk menikmati lagi keindahan sungai Han yang kini sudah ramai dikunjungi muda-mudi seperti mereka.

“Soojung bagaimana kalau aku mengajakmu berkunjung ke rumah sakit tempat ayahku di rawat?”tanya Minho sambil meneguk teh botol.

Ne? Baiklah kalau begitu,”terima Soojung.

.

.

.

Di rumah sakit Soojung dan Minho menelusuri lorong-lorong rumah sakit untuk sampai di ruangan sang ayah. Nomor rawat 034 adalah kamar tuan Choi, ayah Minho. Keduanya kini sudah berada diruangan tersebut dan keduanya memberikan hotmat kepada tuan Choi.

Annyeong haseyo. Choneun Lee Soojung imnida,”kata Soojung sopan.

Aigoo neomu yeoppo,”puji tuan Choi. Soojung hanya mengulum senyumannya.

Setelah menjengkuk ayah Minho, Soojung hendak pamit pulang. seorang laki-laki baru saja keluar dari ruangan yang tidak jauh dari ruang inap ayah Minho. Laki-laki itu menatap tajam keduanya, dia adalah Howon. Howon membulatkan matanya saat melihat Minho mengusap kepala Soojung dengan hangat. Howon lantas masuk kembali ke ruangan yang tidak bukan adalah ruang inap ibunya. Dengan cepat Howon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Myungsoo.

“Yeobo—“

“Ya! Su..Soojung aku lihat dia dengan seorang laki-laki bermata belo!”

“Mi..minho maksudmu?”

“Molla! Ya tatapan laki-laki belo itu sungguh hangat kepada Soojung. Jangan membuatnya bisa meluluhkan hati Soojung! Aku juga lihat dia mengelus rambut Soojung,a aigoo”

“Arasseo! Terima kasih infonya!”

.

.

.

Setelah menerima telpon dari Howon laki-laki bermata elang itu membuang ponselnya kesembarang arah. Dia mengacak rambutnya frustasi dan perasaannya mendadak kalut.

“Ah jinjja. Eotteoke!”racau Myungsoo.

.

.

.

Soojung baru saja sampai disekolah saat hendak duduk ditempatnya dia di datangi oleh Myungsoo yang melihatnya dengan mata berapi-api. Soojung duduk di tempatnya dengan gugup dan hanya diam saat Myungsoo menatapnya terus menerus tanpa mengeluarkan suaranya.

“Soojung..”ucap Myungsoo pada akhirnya.

Waeyo?”sahut Soojung.

“Aku….”

Soojung mengerutkan keningnya saat Myungsoo menghentikan perkataannya.

Waeyo?”tanya Soojung lagi.

“Aku tidak suka melihatmu dekat dengan laki-laki lain,”jawab Myungsoo dingin lalu pergi meninggalkan Soojung yang kini diam mematung.

“Apa maksudnya?”bingung Soojung.

.

.

.

Mata kucing perempuan itu berubah menjadi senduh. Matanya cukup berair namun dia berusaha agar airmata tersebut jatuh dari pelupuk matanya. Park Jiyeon, perempuan itu harus menahan sesak di dadanya melihat senyuman manis Minho untuk Soojung. Gadis itu sengaja mengintip keduanya dari atas gedung untuk melihat kedua anak manusia yang sedang berbicara di lapangan. Seseorang menepuk pundak Jiyeon dan membuat perempuan itu menoleh kebelakang. Seorang laki-laki tampan langsung berdiri di samping Jiyeon dan melihat ke arah yang dipandang Jiyeon sejak tadi.

“Hei kau sungguh menyukainya?”tanya Im Jaebum.

“Eoh…”gumam Jiyeon.

Mianhae,”sesal Jaebum.

gwenchana.. karma itu memang berlaku,”lirih Jiyeon.

“jika aku tidak mengajakmu untuk melakukan taruhan bodoh itu pasti tidak akan begini.. mian Jiyeon-ah,”maaf Jaebum.

gwenchana.. nan gwenchana,”kata Jiyeon berusaha tegar.

Jaebum menepuk punggung Jiyeon, menatap miris kearah sahabatnya itu yang ternyata benar-benar menyukai seorang Choi Minho.

.

.

.

Soojung baru saja menyelesaikan piketnya. Dia membereskan buku-bukunya sendiri dikelas karena teman yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Setelah semuanya beres Soojung keluar dari kelasnya. Saat berjalan di koridor sekolah tidak sengaja dia berpapasan dengan Myungsoo yang ternyata belum pulang. Soojung melawati Myungsoo begitu saja namun dia –Soojung—mendadak menghentikan langkahnya saat Myungsoo mengeluarkan suaranya.

“apa kau belum mengerti perkataanku tadi?”tanya Myungsoo.

“…”

“jika aku memintamu kembali padaku, apa kau mau?”kata Myungsoo.

Myungsoo dan Soojung serentak membalikan badannya sehingga mereka saling menatap satu sama lain. Soojung tidak dapat mengeluarkan suaranya saat Myungsoo hendak membuka suaranya lagi Soojung langsung berbalik badan dan berlari meninggalkan myungsoo sendiri. Laki-laki itu menatap senduh ke arah yang dilewati Soojung, dia takut bahwa perempuan itu tidak menyukainya lagi…

.

.

.

“masing-masing orang ambil 1 undian didepan untuk menentukan siapa pasangan kalian dalam mengerjakan tugas ini,”titah Yoo songsaengnim.

Satu persatu murid kelas 2A mengambil undian yang dimaksud oleh Yoo songsaengnim dan mereka membuka undian tersebut untuk melihat nomor yang tertera setelah itu mereka mencocokan nomor mereka dengan teman sekelas.

“siapa pasanganku?”gumam Soojung sambil mencoba melihat nomor teman-teman sekelasnya.

Myungsoo berteriak, “Ya siapa yang memiliki nomor 6? Kemari!”

Soojung membulatkan matanya dia melihat kembali nomor yang tertera dikertasnya, 6. Dengan langkah berat Soojung langsung mendatangi tempat Myungsoo. senyum laki-laki itu langsung mengembang saat mengetahui dia sekelompok dengan Soojung.

“kebetulan yang bagus,”tanya Myungsoo.

Ne,”jawab Soojung kikuk.

“kalau begitu kita cari bahan dan membuat presentasenya dirumahku saja ya,”kata Myungsoo.

Ne baiklah..”

.

.

.

Myungsoo membuka pintu rumahnya dan mengizinkan Soojung untuk masuk. Seorang perempuan berumur 14 tahun menghampiri Myungsoo yang baru saja pulang itu dan menatap bingung Soojung yang ada dibelakang laki-laki tersebut.

Oppa nuguya?”tanya saeron sambil menunjuk Soojung.

“Hus tidak baik menunjuk seseorang begitu. Kenalkan dia Lee Soojung,”kata Myungsoo.

Annyeong eonnie, choneun Kim Sae Ron imnida,”sapa Saeron sopan.

Annyeong Soojung imnida,”sapa balik Soojung ramah.

Saeron masuk ke dalam untuk membawakan minuman untuk Soojung dan Oppa-nya setelah dia tahu bahwa mereka akan kerja kelompok.

“jadi itu Saeron?”tanya Soojung saat baru saja duduk di kursi.

Ne dia Saeronie,”jawab Myungsoo.

Soojung mengangguk ngerti. Saat sedang mengerjakan tugasnya seorang perempuan parubayah menghampiri Myungsoo dan Soojung dengan membawa sebuah nampan. Orang itu adalah ibu Myungsoo.

“kalian pasti capek pulang sekolah harus mengerjakan tugas lagi,”kata So Ra.

Animida eommoni,”ucap Soojung sopan.

Aigoo kau sopan sekali. Siapa namamu?”Tanya Sora.

“Lee Soojung imnida,”jawab Soojung.

“Kalau begitu kalian nikmati cake buatanku ini ya, Myungsoo suruh Soojung untuk memakannya. Jangan malu-malu, ok!?”titah Sora.

Ne eomma..”kata Myungsoo sambil mencomot kue.

.

.

.

Myungsoo merenggangkan kedua tangannya setelah berupayah menyelesaikan tugasnya. Diliriknya Soojung ternyata gadis itu tengah tidur. Myungsoo berdecak pelan ternyata Soojung orang yang mudah sekali tertidur dimana pun. Bahaya..!!

“Soojung.. bangun..”bisik Myungsoo.

Namun Soojung tetap saja terlelap dan pada akhirnya laki-laki itu memilih untuk memindahkan Soojung kedalam kamarnya. Sampai dikamarnya Myungsoo langsung membaringkan Soojung diatas ranjangnya dan menyelimuti Soojung agar tidak kedinginan dan Myungsoo langsung keluar dari kamarnya.

Oppa.. Soojung eonnie dimana?”tanya Saeron saat melihat Myungsoo keluar dari kamar.

“dia tidur.. biarkan saja pasti lelah,”jawab Myungsoo.

“Oh aku lihat ponselnya berdering terus dari tasnya,”adu Saeron.

jinjja?”

Saeron menganggukan kepalanya, “Gomawo,”ujar Myungsoo yang langsung pergi meninggalkan Saeron.

.

.

.

Gadis itu membuka matanya perlahan-lahan. Dia duduk di tepi ranjang dan merenggangkan badannya. Soojung melihat ke arah sekelilingnya, tempat asing. Namun tiba-tiba saja dia langsung berdiri dengan cepat dan menatap kamar itu, tempat yang dia sebut asing tadi.

“I..ini kamar Myungsoo?”gumamnya saat melihat foto keluarga Myungsoo.

Soojung keluar dari kamar Myungsoo berhati-hati. Bau makanan baru saja tercium dari hidungnya membuatnya mengikuti arah dari sumber tersebut dan berhentilah Soojung di ruang makan. Semua yang ada dimeja makan menatap Soojung, Myungsoo langsung menghampiri perempuan itu dan mengajaknya makan bersama.

“kau harus ikut makan malam dengan kami,”kata Myungsoo.

Myungsoo menyuruh Soojung untuk duduk disampingnya dengan canggung Soojung pun duduk. Tuan Kim yang sejak tadi melihat Soojung dengan pandangan asing langsung disadarkan oleh Sora.

“Dia teman Myungsoo. Soojung namanya,”ujar Sora.

“Aigoo ini baru pertama kali uri Myungsoo membawa perempuan ke rumah,”gumam tuan Kim.

Ne majayo,”celetuk saeron.

“Sudahlah jangan berbicara yang tidak-tidak,”kata Myungsoo.

“Soojung-ssi ayo dimakan,”kata Sora.

Eonnie makan yang banyak!”sahut saeron.

N..ne gamsahamnida,”

.

.

.

Supir keluarga Lee baru saja menjemput Soojung dirumah Myungsoo. Teringat akan kado yang tertunda untuk dia berikan Myungsoo langsung masuk ke kamarnya dan langsung memberikan kado tersebut di teras.

Ige mwoya?”bingung Soojung.

“hanya iseng saja membelikannya untukmu,”kata Myungsoo.

Go..gomawo Myungsoo. kalau begitu aku pulang,”

Myungsoo menganggukan kepalanya dan Soojung langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Soojung menatap kado tersebut dengan penasaran dan Soojung langsung membuka kadonya. Matanya berbinar-binar saat melihat itu adalah sebuah boneka.

Kyeopta!”gumam Soojung sambil tersenyum tipis.

.

.

.

Sampai di rumah Soojung menghampiri ibunya yang ada di kamarnya. Soojung berniat untuk meminta maaf karena pulang telat tanpa memberi kabar namun nyonya Lee bilang bahwa teman Soojung yang bernama Myungsoo sudah meminta izin.

Ne? Myungsoo menelponmu eomma?”tanya Soojung kaget.

Aniya dia mengangkat telponku saat ibu menelponmu, chagi.. dia anak yang baik,”puji nyonya Bae.

“O..oh kalau begitu aku harus membersihkan diriku eomma. Jalja,”kata Soojung.

.

.

.

Di sekolah Minho sudah membulatkan keputusannya untuk mengungkapkan perasannya kepada Soojung dia tidak peduli dengan jawaban Soojung yang terpenting dia ingin mengungkapkan semuanya agar tidak didahului oleh Myungsoo. Mana tahu dewi fortuna sedang berpihak kepadanya bukan?

“Soojung.. nanti kita jalan ya ada yang ingin aku bicarakan padamu,”kata Minho.

Ne? Arasseo..”jawab Soojung.

“kalau begitu nanti aku menjemputmu dirumah jam 4. ok?”

Soojung menganggukan kepalanya dan Minho tersenyum puas.

.

.

.

Saat dikelas Myungsoo menghampiri tempat duduk Soojung dan memintanya untuk melanjutkan kerja kelompok dirumahnya sepulang sekolah namun Soojung menolaknya dengan terpaksa, toh dia sudah punya janji dengan Minho kan?

Mian Myungsoo aku ada janji dengan Minho,”kata Soojung.

“Mi..minho?”

Raut muka Myungsoo berubah menjadi merah padam. Bukankah dia sudah bilang kepada gadis ini dia tidak suka melihat Soojung dengan laki-laki lain selainnya?

Ne mian Myungsoo. besok saja ya,”

Arasseo..”jawab Myungsoo cuek.

.

.

.

Minho mengajak Soojung ke taman yang sebelumnya mereka sering kunjungi. Sebelum mengungkapkan perasaannya Soojung dia mengajak gadis itu untuk bersenang-senang terlebih dahulu dengan mengajaknya memberikan makan kepada burung-burung merpati yang berterbangan di taman tersebut.

“Kau suka?”tanya Minho sambil menaburkan pangan burung ke tanah.

“Iya aku sungguh senang. Gomawo Minho-ya,”kata Soojung tersenyum.

“Soojung.. aku ingin membicarakan sesuatu padamu. serius dan empat mata,”kata Minho dengan nada tegas.

Soojung langsung mengalihkan perhatiannya ke Minho dan menatap laki-laki itu dengan pandangan yang penuh tanda tanya.

“Soojung.. kau.. apa kau mau jadi pacarku?”tanya Minho tulus.

Mwo?”pekik Soojung.

.

.

.

Myungsoo bertopang dagu sambil menatap Soojung dengan pandangan penasaran. Laki-laki itu terus menerus memikirkan apa yang Soojung dan Minho lakukan kemarin. Apakah kencan? Atau apa? Pikiran buruk selalu melayang dibenaknya sejak kemarin.

“Eoh.. Soojung-ah..”sahut Myungsoo.

Soojung yang sejak tadi sibuk dengan tugasnya langsung melirik ke arah Myungsoo.

Mwoya?”tanya Soojung.

“kau dan Minho.. hmm apa yang kau lakukan dengannya?”tanya Myungsoo.

“Minho memintaku menjadi pacarnya,”jawab Soojung enteng.

Mata Myungsoo seakan-akan hendak keluar dari sarangnya. betul bukan dugaan buruknya? Dengan terburu-buru dia memberikan pertanyaan lagi untuk Soojung.

Ya kau menerimanya? Bagaimana caranya dia bisa menembakmu? Apa yang kau lakukan? Soojung!”kata Myungsoo

“Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaanmu itu…”gumam Soojung sangat pelan.

“Soojung.. kau masih menyukaikukan?”tanya Myungsoo dengan nada frustasi. Soojung hanya menatap Myungsoo dengan bingung.

.

.

.

“Soojung.. kau.. apa kau mau jadi pacarku?”tanya Minho tulus.

“Mwo?”pekik Soojung.

“Aku serius.. aku menyukaimu ah ani aku jatuh cinta padamu Soojung-ah…”

“Minho-ya…”

“apa jawabanmu?”

“Untuk saat ini aku tidak bisa. Mianhae-yo..”

“Ah.. aku tahu ini terlalu cepat. Kalau begitu apa aku masih bisa mendapatkan hatimu?”

“ne?”

“Bisa?”

“Oh.. ya mungkin,”

 

Myungsoo berteriak bahagia setelah mendengar semuanya! Untung saja Soojung menolak cowok itu. Tangan Myungsoo terulur mencubit kedua pipi Soojung mengggunakan tangannya.

Kyeopta! Baguslah kau menolaknya,”kata Myungsoo senang.

Ya! Sakit,”dumel Soojung bersusah payah.

“A..ah mian,”ujar Myungsoo.

Myungsoo berhenti mencubit Soojung dan tersenyum manis kepada Soojung membuat perempuan itu bingung sendiri, “ah aku sungguh gemas denganmu!”ucap Myungsoo. Soojung hanya bergumam tidak jelas melihat tingkah aneh Myungsoo.

.

.

.

Myungsoo berjalan ke pinggir lapangan dan melihat anak-anak yang sedang bermain basket. Disana juga ada Minho yang sedang memimpin permainan. Minho yang hendak memasukan bola kedalam ring tiba-tiba berhenti dan langsung membuang bola kesembarang arah. Minho menghampiri Myungsoo yang sedang tersenyum remeh kepadanya.

Ya kau disini untuk mentertawakanku eoh!”kesal Minho.

Aniya.. aku hanya ingin melihat kalian bermain basket, salah?”tanya Myungsoo terkekeh.

“jangan tertawa atau aku mematahkan gigimu,”ancam Minho.

“kau kira aku takut? A-ni-ya,”ucap Myungsoo sambil mengeja kata ‘aniya’

“Cih! Soojung akan jadi milikku. Aku harus mendekatinya lagi,”

“aku juga tidak ingin kalah,”

“cobalah..”

Arasseo, aku pergi..”kata Myungsoo sambil menepuk bahu Minho. Cowok bermata belo itu haya mendesis pelan dan langsung pergi meninggalkan lapangan.

.

.

.

Ya Hani kau mau kemana?”Tanya Myungsoo saat melihat Hani berjalan sendiri.

“Oh Myungsoo. aku ingin menemui Minseok. Wae?”tanya balik Hani.

“aku lihat akhir-akhir ini kau sering dekat dengannya. Ada apa hm?”goda Myungsoo.

YA!”dumel Hani.

Myungsoo hanya tertawa dan ia langsung melanjutkan langkah kakinya ke kelas sambil bersenandung.

“pasti suasana hatinya sedang membaik,”gumam Hani.

Dikelas Myungsoo langsung menghampiri Soojung yang sedang duduk sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone. Myungsoo langsung menyeret sebuah kursi dan duduk dihadapan Soojung dan perempuan itu langsung melepas earphonenya dan bertanya pada Myungsoo.

Mwoya?”tanya Soojung.

“bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita nonton?”ajak Myungsoo.

“bukankah beberapa hari yang lalu baru kesana ya?”bingung Soojung.

“Ada film bagus.. ayolah,”kata Myungsoo sambil mengedipkan sebelah matanya.

N..ne baiklah,”kata Soojung sambil terheran-heran.

Assa!!”pekik Myungsoo.

Baro yang memperhatikan Myungsoo sejak tadi hanya terheran-heran, “mwoya… ternyata begitu kalau dia jatuh cinta ckckck,”kekeh Baro pelan.

.

.

.

Soojung dan Myungsoo sudah berada di dalam bioskop dan hendak mengantri untuk membeli tiket. Soojung menatap Myungsoo bingung karena tidak tahu film apa yang hendak mereka tonton.

“Myungsoo.. film apa yang bagus?”tanya Soojung.

“Hmm.. i..itu… nah itu!”tunjuk Myungsoo pada film di nomor urut 4. Jujur saja sebenarnya dia hanya asal bicara tentang film bagus itu.

“kau yakin ingin menonton film tersebut?”tanya Soojung ragu.

“tentu. Kenapa tidak? ayo antre tiketnya!”ajak Myungsoo.

Setelah teater dibuka Myungsoo dan Soojung masuk kedalamnya dan mencari tempat duduk mereka. Tidak lama kemudian film pun diputar.

.

.

.

Soojung menatap layar raksasa dihadapannya dengan datar menurutnya film ini biasa-biasa saja dan makanannya sehari-hari. Berbeda dengan Myungsoo yang menontonnya penuh was-was dan muka pucat pasalnya film itu adalah film horor!

Y..ya Soojung lihat matanya dicabut. Omo! Sesange!”pekik Myungsoo tertahan.

“Myungsoo diamlah kau membuat orang lain tergangu,”bisik Soojung.

Myungsoo memakan popcornnya dengan gerogi bahkan popcorn tersebut sampai tumpah dibajunya.

Aigoo apa masih lama durasinya?”rutuk Myungsoo namun Soojung terus menonton film itu dengan nikmat.

“Soojung ayo kita keluar dari teater,”rengek Myungsoo.

Shireo lagi seru,”tolak Soojung sambil menyeruput minumannya.

Myungsoo hanya memejamkan matanya dan sesekali menutup telinganya jika suara horor sedang diputar sebagai soundtracknya.

.

.

.

Jinjja film tadi seru! Gomawo Myungsoo sudah mengajakku menonton film itu,”kata Soojung dengan wajah berseri-seri.

“seru apa jantungan malah iya,”dumel Myungsoo.

“Hmmm.. aku lapar,”gumam Soojung.

“kau lapar? Nado! Ayo kita cari tempat makan!”ajak Myungsoo sambil menarik lengan Soojung.

.

.

.

Keduanya kini sedang menikmati nasi goreng pesanan mereka dengan hikmat. Sesekali Myungsoo menyuapkan makannya ke Soojung membiarkan perempuan itu menikmati pesanannya.

“Enak bukan?”tanya Myungsoo.

Soojung menganggukan kepalanya dengan semangat dan membuat Myungsoo tersenyum. Soojung yang tidak mau kalah juga menyuapkan makannya ke Myungsoo.

“Sangat enak!”puji Myungsoo.

geurom inikan makanan favoritku!”kata Soojung.

“Soojung.. besok aku ke rumahmu ya,”kata Myungsoo.

“untuk apa?”bingung Soojung.

“melanjutkan tugas kemarin. Kita hanya perlu membuat ppt-nya saja,”

“Oh arasseo,”

.

.

.

Eomma aku pulang!”teriak Soojung.

Myungsoo masuk ke dalam rumahnya dan memperhatikan isi-isi dirumah Soojung ini. ibunya punya selera yang baik, batin Myungsoo. Nyonya Lee keluar dari kamarnya dan menyambut Soojung beserta Myungsoo.

“kau sudah pulang chagi? Apa kau ingin mengerjakan tugas dengan temanmu?”tanya nyonya Lee.

Ne eomma,”jawab Soojung.

Annyeong haseyo, Kim Myungsoo imnida,”kata Myungsoo.

Ne annyeong haseyo Myungsoo-ssi,”

Eomma aku mengerjakan tugas diatas. Tolong bawakan minum untukku dan Myungsoo, ne?”pinta Soojung sambil mengedipkan matanya.

Arasseo,”jawab nyonya Lee.

Keduanya kini sudah berada di lantai 2. Soojung meminta izin sebentar untuk mengganti pakaiannya dengan baju rumah setelah selesai dia kembali menghampiri Myungsoo.

“buka laptopmu!”titah Soojung.

“Eoh..”

Myungsoo membuka laptopnya dan melihat wallpaper yang ditampilkan, foto Myungsoo dan Hani.

“kau suka berfoto dengan Hani eoh?”tanya Soojung.

Ne aku sering berfoto dengannya. Nanti aku akan menganti wallpapernya,”

“mengganti? Waeyo?”

“aku akan mengganti fotonya dengan gambarku dan kau,”kata Myungsoo sambil menunjuk Soojung. Yang ditunjuk hanya bingung.

“aku tidak ingin mengambil selca denganmu,”tolak Soojung.

“Ya sudah..”kata Myungsoo merajuk.

Setelah 1 jam berkutat dengan laptop yang ada di hadapannya kini semua tugas telah selesai. Saat hendak menyimpan folder Myungsoo lupa membawa flashdisk.

“Soojung kau sedang apa?”Tanya Myungsoo.

naega? Aku sibuk memainkan flappy bird,”kata Soojung fokus pada ponselnya.

Mwoya… ya aku pinjam flashdiskmu. Aku tidak bisa menyimpan foldernya di laptop ini,”

“Ambil saja dikamarku, dilaci meja belajar,”titah Soojung.

Gwenchana? Biasanya perempuan sensitif jika ada yang masuk ke kamarnya apalagi mencari barang,”

Gwenchana.. kau mengganggu konsentrasiku,”

Myungsoo menatap datar Soojung dan tidak lama dia bangkit dari duduk dan masuk ke kamar Soojung. Di dalam kamar cowok itu langsung menghampiri meja belajar Soojung namun sesekali melihat isi kamar Soojung yang cukup berantakan.

Tsk berantakan… apa itu,”kata Myungsoo sambil menyipitkan matanya melihat sebuah celana dalam yang tergeletak di lantai.

“kenapa aku memikirkannya,”ucap Myungsoo saat sadar akan tujuannya.

Myungsoo membuka laci satu persatu dan diapun menemukan flashdisk tersebut tapi bukannya mengambil flashdisk tangan Myungsoo malah meraih sebuah foto yang tidak lain adalah gambar Soojung bersama Ara.

“sudah ku duga pasti dia tidak membencinya,”kata Myungsoo sambil mengulum senyumannya.

Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari luar, “Kim Myungsoo kenapa lama sekali!”

Myungsoo meletakan kembali foto itu ditempat semula dan langsung mengambil flashdisk dan kemudian keluar dari kamar Soojung.

“Nah sudah selesai!”kata Myungsoo.

“Sudah? Baguslah,”ujar Soojung.

“Hmm Soojung.. weekend ini kau mau ya jalan denganku?”ajak Myungsoo.

“jalan? Kemana?”

“aku akan mengajakmu jalan-jalan bisa dibilang…. ken..can..”

“Ke..kencan?”

Myungsoo menganggukan kepalanya dengan pasti, “iya kencan. Kau mau ya?”

A..arasseo..”

“baguslah kau tidak menolak kalau begitu aku pulang ya,”

.

.

.

“Huh aku mengajakku jalan-jalan ditaman?”Tanya Soojung.

“jangan terlalu banyak kehendak. Bukannya wajar jika orang berkencan di taman? Kau lihat mereka juga seumuran dengan kita,”oceh Myungsoo sambil menunjuk beberapa pasangan.

“Hush! Kau bilang tidak baik menunjuk orang kau sendiri melakukannya,”dumel Soojung.

Keduanya kini berjalan disekitaran taman itu. Soojung yang melihat pedagang permen kapas langsung menunjuknya dan mengajak Myungsoo kesana dengan cara menyeretnya.

Ya kau mengajakku kemana?”tanya Myungsoo.

“Aku mau permen kapas!”jawab Soojung.

Myungsoo memesankan sebuah permen kapas untuk Soojung yang ukurannya sangat besar.

“Ini haksaeng,”kata penjual sambil menyerahkan permen kapas yang sudah dibalut plastik itu.

Gamsahamnida ahjussi,”kata Myungsoo.

Myungsoo memberikan permen kapas itu ke Soojung dengan mata yang berbinar perempuan itu langsung membuka bungkusnya dan memakan permen itu.

“Sebaiknya kita cari tempat duduk,”ajak Myungsoo.

.

.

.

“Ini terlalu besar. Kenapa kau memesankan yang sangat besar,”dumel Soojung sambil memakan permennya.

“Aku bantu,”celetuk Myungsoo.

Soojung melihat Myungsoo dengan bingung dan kini mata perempuan itu membulat saat Myungsoo menempelkan bibirnya di permen kapas itu juga. Mata Myungsoo dan Soojung saling menatap satu sama lain membuat Soojung canggung namun tidak dengan Myungsoo yang merasa nyaman. Karena tidak tahan lagi Soojung menjauhkan wajahnya dari permen itu dan melihat ke arah lain untuk menghilangkan kegugupan.

Ya kenapa kau berhenti memakan permannya?”Tanya Myungsoo bingung.

“Aku.. aku sudah tidak selera lagi. Kau saja yang makan,”jawab Soojung ketus.

Soojung langsung berdiri dari duduk dan meninggalkan Myungsoo sendirian. Sambil memakan permennya Myungsoo berlari mengejar Soojung yang menjauh darinya.

Ya ini masih banyak. Bantu aku,”pinta Myungsoo.

Shireo!”jawab Soojung.

Myungsoo mencubit permen itu dan langsung mengarahkanya ke mulut Soojung, “Ayo makan. Aaaaa..”kata Myungsoo sambil memperagakan agar Soojung membuka mulutnya. Soojung menghela nafasnya kemudian terpaksa ia membuka mulut dan memakan permen itu.

.

.

.

Hari sudah gelap dan kedua pasang muda-mudi itu berjalan dari halte bus ke rumah Soojung. Setelah 15 menit berjalan kaki kini mereka sudah sampai di kediaman rumah Bae. Myungsoo dan Soojung berhenti sejenak di depan pagar.

Gomawo Myungsoo,”kata Soojung.

Cheonma.. aku senang sekali,”ujar Myungsoo sambil tersenyum.

Nado..”

“Soojung-ah.. kau belum menjawab pertanyaanku,”kata Myungsoo.

“pertanyaan yang mana?”tanya Soojung.

“jika aku memintamu kembali padaku. Apa kau mau?”

Soojung diam kembali. Myungsoo menatapnya dengan harap-harap cemas.

“Bisa saja.. tapi aku tidak bisa menentukan perasaanku saat ini. kau datang disaat yang tidak tepat. Aku suka berada di dekat Minho,”

“kau menyukai Minho?”lirih Myungsoo.

“Aku menyukainya sebagai teman, tidak lebih dari itu,”

“aku ada kesempatan?”

“kesempatan? Mo..molla.”

“aku berharap aku masih ada dihatimu,”

Soojung menganggukan kepalanya dengan ragu. Tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan bibir Myungsoo yang terasa dingin menempel di pipinya. Myungsoo menjauhkan bibirnya dari pipi Soojung dan tersenyum kepada perempuan itu.

“kalau begitu aku pulang,”pamit Myungsoo.

Myungsoo membalikan badannya dan melambaikan tangannya. Soojung memperhatikan Myungsoo yang semakin menjauh dari jangkauannya, tangannya terulur untuk meraba pipinya yang baru saja dikecup oleh Myungsoo. senyum terukir dibibir Soojung. Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka.

.

.

.

Saat istirahat sedang berlangsung Soojung pergi makan dengan Baro seperti biasanya. Dia memakan ramyun favoritnya di kantin. Ponselnya berdering dan Soojung langsung melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.

“Baro-ya aku pergi duluan ne..”kata Soojung.

“Kemana?”tanya Baro sambil meminum kuah ramyun-nya.

“Ke gedung olahraga,”jawab Soojung.

“Disanakan sepi. Ada perlu apa kau kesana?”Tanya Baro.

Opsoyo, hanya sebentar kok.. aku pergi ya. Annyeong..”

Soojung langsung berlari meninggalkan Baro sendiri. Tidak lama kemudian Myungsoo menghampiri meja Baro dan duduk ditempat Soojung tadi.

“Soojung dimana?”tanya Myungsoo.

“gedung olahraga sekolah. Jangan bertanya padaku untuk apa dia tidak mau jawab,”

“Eoh.. kenapa dia kesana eoh?”bingung Myungsoo.

“Oy Myungsoo.. apa kau benar-benar menyukainya?”Tanya Baro.

Dengan pasti Myungsoo menganggukan kepalanya, “aku jatuh cinta padanya,”

“Heh sikapmu itu jika jatuh cinta sangat aneh,”

Jinjja? Aku merasa biasa saja,”gumam Myungsoo.

“orang jatuh cinta memang aneh aku bisa memaklumi itu,”

YA!”

Baro hanya mengerucutkan bibirnya dan pergi meninggalkan Myungsoo sendiri.

.

.

.

Soojung membuka pintu gedung olahraga yang sepi itu dan dia dapat melihat seorang cowok tengah membelakanginya yang tidak lain orang itu adalah Minho.

“Minho…”panggil Soojung.

Minho menoleh kebelakang dan berjalan mendekati Soojung, “kau datang. Aku kira tidak,”ujar Minho.

“ada perlu apa?”tanya Soojung.

“aku banyak keperluan denganmu,”jawab Minho.

Soojung mengerutkan keningnya saat mendengar nada bicara Minho yang berbeda dari biasanya. Jika minho biasanya akan berbicara manis kini dia berbicara sambil menekan setiap kata yang ia ucapkan.

.

.

.

Myungsoo menatap gelisah jam tangan yang dia pakai. Sudah 15 menit bel pelajaran dimulai masuk namun Soojung belum kunjung kembali. karena merasa khawatir Myungsoo berniat untuk menyusulnya.

“AU!!”jerit Myungsoo yang membuat seluruh isi kelas menatap heran kepadanya.

Saem.. perutku sakit. Aigoo… aku permisi ke toilet ya sepertinya aku kebanyakan makan sambal,”kata Myungsoo berakting layaknya orang sakit perut.

“keluarlah cepat!”titah guru.

Dengan terbirit-birit Myungsoo langsung keluar dari kelas. Sampainya diluar dia langsung berhenti akting dan berlari menuju gedung olahraga sekolahnya yang lumayan jauh dari gedung untuk belajar.

.

.

.

SHIREO!”pekik seseorang dari dalam ruangan.

Badan Myungsoo menjadi tegang mendengar jeritan Soojung yang terdengar seperti orang yang sedang ketakutan. Myungsoo langsung membuka pintu dengan perlahan dan matanya tercenggang dengan pemandangan yang ada di depannya.

“Minho-ya andwae..”lirih Soojung.

Minho mencengkram kedua pipi Soojung dengan tangannya secara paksa. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Soojung berusaha untuk mencium perempuan itu. dengan hati yang berapi-api Myungsoo mendekati keduanya dan BRUG… cowok itu baru saja memberikan sebuah pukulan menggunakan tangan kanannya. Minho yang tidak terima langsung membalas kembali pukulan dari Myungsoo.

Andwae! Jangan berkelahi jebal!”kata Soojung dengan tangisan.

Namun bukannya berhenti keduanya malah saring menyerang. Soojung hanya duduk sambil membenamkan wajahnya.

.

.

.

“jika kau berani melakukan hal itu lagi dengan Soojung kau akan mati ditanganku. Kau ingat itu Choi Minho!”ancam Myungsoo sambil menginjak perut Minho yang terkapar lemah.

“Hoh Myungsoo.. kau mau berlagak seperti pahlawan eoh?”

“bukankah kita sepakat untuk meraih hati Soojung dengan cara jantan? Kenapa kau menjadi seorang bajingan? Kau menggelikan Minho!”

Myungsoo langsung menghampiri Soojung yang sejak tadi masih menangis tiada henti. Myungsoo berjongkok dan mengangkat kepala Soojung.

Gwenchana??”tanyanya sambil mengusap airmata Soojung.

“Aku takut..”lirih Soojung.

Myungsoo langsung membantu Soojung untuk berdiri dan meninggalkan tempat tersebut. Minho yang sejak tadi melihatnya hanya menatap senduh keduanya. Dia tidak memperdulikan rasa sakit yang ada di badannya melainkan sakit dibantinnya. Membuat Soojung terluka merupakan hal terbodoh yang pernah dia lakukan.

Mian Soojung-ah..”lirih Minho.

.

.

.

Di atap sekolahan Soojung tidak berhenti menangis dan Myungsoo yang duduk disampingnya menjadi frustasi. Myungsoo terus berusaha membuat Soojung untuk berhenti menangis namun tidak bisa.

“Soojung-ah berhentilah menangis. Untuk apa kau menangis karena laki-laki seperti dia eoh?”tanya Myungsoo dengan nada kesal.

“dasar cowok jahat.. dia sangat jahat hikshiks,”isak Soojung.

“apa yang dia lakukan padamu?”tanya Myungsoo dengan nada melemah.

“aku lihat Myungsoo mencium pipimu semalam,”

“M..mwo? kau lihat dimana.. haha mungkin kau salah lihat,”

“aku lihat jelas di depan rumahmu. Soojung-ah kau menyukai Myungsoo?”

“apa tampak jelas aku menyukainya?”

“sangat! Dari tatapanmu semalam padanya kau terlihat menyukainya,”

“Kau benar.. aku menyukainya,”

“kau mau mempermainkan hatikukah?!”

Soojung mundur satu langkah kebelakang saat melihat tatapan Minho yang sangar, tidak seperti biasanya.

“Mian jika aku ada salah denganmu Minho-ya..”lirih Soojung.

Minho mengendus kesal. Dia langsung mendekati Soojung lagi dan mendorong perempuan itu ke dinding membuat Soojung tidak ada ruang untuk bergerak.

“Mi..minho apa yang mau kau lakukan?”

“aku ingin menciummu, Lee Soojung..”bisik Minho tepat ditelinga Soojung.

“SHIREO!”

Soojung berusaha menghindar terus menerus namun Minho malah memaksanya dan untunglah saat itu Myungsoo tepat waktu untuk datang.

 

 

Gwenchana aku akan melindungimu dari cowok gila itu..”janji Myungsoo.

Soojung langsung melebur kedalam pelukan Myungsoo. cowok itu dengan senang hati membalas pelukan Soojung dan menenangkannya.

“jangan menangis lagi.. kau membuatku terluka melihat airmatamu itu,”lirih Myungsoo.

.

.

.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “Reset [Chapter 9]

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s