Baloon – Amusement Park [Jiae Ver.]

439fc727e62bd6944cd2cedbb2d28422

Author : Xika Nisha

Main cast : Jiae (Lovelyz) | Jin (BTS)

Genre : romance | fluff |

Rating : pg13

Length : ficlet

Soulful Magician |

/\

“Seperti balon yang terlepas ke langit.

Pasrah kemanapun angin membawanya.”

*/\*

Jiae tengah kelimpungan sekarang. Anak-anak kecil mengerumuninya. Ribut meminta balon yang ia pegang. Balon warna-warni beraneka bentuk yang selalu menarik minat anak-anak.

Apa yang menarik dari balon-balon itu? Mereka tidak berguna, mereka tidak bisa dimakan. Apa karena warnanya? Lalu bagaimana dengan lolipop yang penuh warna? Walau membuat sakit gigi, lolipop masih ada sedikit fungsi. Untuk mengenyangkan perut, tentunya. Apa untuk menghias rumah? Mungkin itu alasan paling logis yang bisa diterima.

Tidak jauh berbeda, Jiae juga selalu bertanya-tanya mengenai alasan anak-anak dan cowok itu  menyukai balon. Jiae, sebagai wanita dan penjual balon, tidak pernah tertarik dengan namanya balon. Baginya, balon hanyalah bisnis. Balon hanyalah sumber penghasilannya. Benar-benar hanya sebatas itu.

Tapi, seorang cowok selalu berhasil mematahkan prinsipnya. Cowok penyuka balon dan pelanggan setianya. Yang menghabiskan waktu sabtu-minggunya untuk membeli balon warna merah dari Jiae.

Balon terakhir sudah terjual. Jiae tersenyum ke arah gadis kecil, pembeli terakhirnya. “Terima kasih,” ucap si gadis kecil. Jiae ikut tersenyum. Menggemaskan sekali anak ini. sebelum menemui sang ibu, gadis kecil itu masih sempat melambaikan tangannya pada Jiae.

Ia duduk di tanah. Keringat mengucur di dahinya. Jiae capek, tapi itu adalah resiko bekerja di terik matahari dan keramaian seperti taman bermain. Beruntung jualan hari ini selesai dengan cepat. Jadi dirinya bisa beristirahat lebih banyak untuk mempersiapkan jualan nanti malam.

“Yah… balonku!” suara itu mengalihkan perhatian Jiae. Pandangannya mengarah ke gadis kecil tadi. Ia bersama ibunya melihat balon yang terbang terbawa angin. Terombang-ambing tak tentu arah, dan semakin tinggi menuju langit. Tangisan si gadis terdengar hingga ke telinga Jiae. Ia merasa kasihan dengan gadis itu. ia terlalu ceroboh untuk sekedar memegang tali balon.

“Sudah habis, ya?” sebuah suara berat membuat Jiae terkejut. Ia menoleh dan mendapati seorang cowok berbadan tegap berdiri disampingnya.

“Kau mengagetkanku, Jin-ssi!” Jiae menyentuh dadanya. Jantungnya berdebar kencang karena suara cowok itu. Cowok yang dipanggil Jiae, Jin itu ikut mendudukan diri disampingnya. “Aku terlambat.”

“Ya, kau terlambat.” Cibir Jiae. Ia menyilangkan kedua kakinya, berusaha bersikap nyaman.

“Sayang sekali aku kehabisan.” Jin juga merubah posisi kakinya yang tadi lurus. Ia memeluk kedua kakinya dan ikut-ikutan melihat arah yang tadi menjadi pusat perhatian Jiae. “Apa yang kau lihat tadi?” ia merubah topik pembicaraan.

“Lihatlah ke atas!” tunjuk Jiae ke arah balon yang masih terlihat dan bergumul dengan awan. Jin mendongakan kepalanya, untuk memperjelas apa yang dilihat Jiae. “Balon itu lepas dan terbang ke langit. Ia terlihat bebas, ya!”

Jin tidak lagi melihat ke balon, ia mengubah pandangannya ke wajah Jiae yang terlihat takjub. “Belum tentu balon itu merasa bebas.” Sahut Jin. Raut wajah gadis disampingnya berubah menjadi kebingungan.

“Kenapa seperti itu?” tanyanya.

“Karena…” Jin tersenyum misterius.  “Ia tetap terkekang dengan angin. Saat ia ingin ke kiri, angin menerbangkannya ke kanan. Saat ia ingin ke bawah, angin dan gravitasi membuatnya semakin ke atas.” Lelaki itu mendongakan kepalanya, melihat balon tadi yang sekarang hampir tidak bisa ditangkap mata.

Jiae diam, mencoba menyerap maksud ucapan Jin. “Jadi maksudmu, balon itu hanya pasrah?”

“Mungkin.” Ia mengangkat kedua bahunya, cuek.

“Berarti balon itu seperti aku.” sahut Jiae. Ia mendongak, matanya melihat awan putih dan langit biru yang cantik diatas sana.

“Kenapa?” tanya Jin penasaran. Nada perkataan Jiae terdengar sendu dan janggal, membuatnya heran dengan kelakuan gadis ini.

“Bukannya tadi kau yang mengatakan balon itu terkekang oleh angin?” Jin mengangguk. “Aku juga sama. Aku terkekang oleh perasaan aneh ini. Ingin kubiarkan, tapi semakin menjadi-jadi. Ingin kulupakan, tapi malah menginvasi seluruh memoriku. Jadi aku pasrah dengan kehendak Tuhan nanti. Seperti balon yang membiarkan dirinya terbawa angin.”

Kalimat-kalimat panjang itu seakan mengisyaratkan sesuatu terjadi pada Jiae. Sesuatu yang ia pahami, tapi tak ingin ia mengerti. Sederhana, tapi terkesan rumit.

“Perasaan macam apa itu?” pertanyaan Jin membuat Jiae beradu tatapan dengannya. Seulas senyum kecil ia tampilkan, seakan bertanda kalau dirinya malas untuk menjelaskan. “Bukan apa-apa,” jawabnya singkat. Jawaban itu tidak berarti apa-apa bagi Jin. Raut wajahnya masih kebingungan. Ia ingin bertanya sekali lagi untuk menemukan jawaban yang jelas.

Tiba-tiba gadis itu berdiri, membersihkan celananya yang kotor. “Sekarang waktunya aku pulang. Jika ingin membeli balon, kau bisa menunggu nanti malam.” Jiae bersiap-siap untuk membereskan barang-barangnya. Tapi, pegangan tangan yang erat dari Jin seakan mampu membuat tubuh gadis itu menjadi kaku.

Matanya membesar, terkejut dengan sentuhan tiba-tiba itu. Sentuhan pertama setelah mengenal Jin, orang baru dalam hidupnya. Jiae ingin melepaskan tautan tangan mereka, tapi tubuhnya tidak bekerja dengan apa yang diperintahkan otaknya. Tubuhnya memilih bekerja sama dengan hati kecil Jiae.

Hati kecilnya tidak ingin melepaskan tautan itu.

“A-ada apa?” tanyanya gugup. Jiae tidak pernah mengira kalau ia akan merasakan momen super canggung seperti saat ini.

“Duduklah! Ada yang ingin kukatakan,” pinta Jin. Ia menarik Jiae untuk kembali disampingnya. Nadanya terdengar serius, hingga Jiae tidak berani untuk menolak. Makanya ia segera duduk seperti tadi.

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Sesuatu yang penting.” Jawabnya. Jiae memandang lama wajah Jin yang tersenyum lebar. “Apa itu?”

“Sudah berapa lama kita berkenalan?” gadis itu memutar matanya, baginya ini pertanyaan bodoh. “Apakah ini termasuk ‘sesuatu yang penting’?” sindirnya.

“Jawab saja!”

“Enam bulan, puas?”

“Jadi, sudah enam bulan, ya balon itu terbang tak tentu arah.” Jin berkata aneh, yang membuat Jiae tidak bisa menangkap maksud lelaki itu.

“Balon… apa?” entah sudah keberapa kali Jiae bertanya.

“Menurutmu kau adalah balon. Tapi tidak bagiku!”

Apa Jin tengah melantur?

“Bagiku… kau adalah angin dan aku balonnya.”

“Kenapa aku angin dan kau balon?” potong Jiae cepat. Ia masih belum mengerti maksud ucapan Jin yang terkesan berputar-putar dan aneh. Cowok ini kenapa tidak langsung ke intinya sih?

“Karena kau mengekang perasaanku hingga tidak bisa pindah ke lain hati.” Jiae tersentak. Ia sudah mengerti maksud Jin. Ia mengerti maksud perumpaan itu. Karena mereka punya rasa yang sama.

Perlahan-lahan sudut bibir Jiae terangkat. Ia tersenyum bahagia. Perasaan lancangnya tidak bertepuk sebelah tangan. Semua berjalan seperti maunya.

“Lihatlah ke atas!”

“Hah?”

Kepalanya langsung terangkat tinggi. Pandangannya menabrak langit biru yang dipenuhi warna merah. Bahkan awan putih dan kuningnya sinar matahari, hampir ditutupi oleh balon bentuk hati berwarna merah. mereka memenuhi langit.

Jiae terpesona oleh keindahan langit hari ini.

Bukan hanya dirinya, balon-balon itu menyita perhatian setiap orang yang berada di taman bermain, dan bahkan mungkin orang-orang diluar taman bermain. Mereka mendongakan kepala, melihat balon-balon itu berterbangan sesukanya. Tak lama kemudian, balon warna lain keluar. Mulai dari hijau, jingga, ungu, merah muda dan warna lainnya. Langit seakan punya warna selain biru.

Ia menoleh ke lelaki disampingnya, lelaki yang selalu punya tempat pertama di hatinya. Jin yang entah kapan sudah berdiri, ikut menatap langit. Ia tersenyum dengan variasi warna yang menghiasi angkasa.

“Terima kasih.” Jiae berbisik tepat di telinga Jin. Tidak ada satu kata yang cocok yang menggambarkan hatinya selain ‘terima kasih’. Bukankah itu sudah cukup?

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jiae mulai menyukai balon.

Balon itu memang pasrah

Tapi ia tetap menyukainya

Karena angin yang membawa balon melihat betapa cantiknya dunia.

END


Semoga gak ngecewain yang versi Jiae 😀

Maaf gak bisa balas setiap komentar kalian, tapi saya baca kok.

dan maaf untuk typo yang memalukan itu (saya lupa nama Rapmonster itu Namjoon bukan Minjoon).

Semoga kalian meninggalkan jejak. Saya suka sedih kalo liat yang nengokin banyak tapi gak ada yang mau ninggalin komentar.

Setiap kata di komentar kalian adalah penghargaan bagi saya, author.

terima kasih ^^

Advertisements

18 thoughts on “Baloon – Amusement Park [Jiae Ver.]

  1. Kyaaaaaa. Manis banget! HahahahaXD
    Dan kamu bawanya cast Jiae-Jin pula hahahaxD Jiae yang terkesan cuek dan malumalu sedangkan Jin…… Jin belajar gombal darimana heh?!
    Suka suka! Enam bulan suka sama orang yang sama, belom move on terus ternyata orang yang sama itu juga suka rasanya itu……… (waduh jadi ngelantur)
    Tapi aku suka cara kamu ngebawain cerita ini. Alurnya pas! Dan bahasanya juga ringan, terus pas dilihat juga nggak ada typo! Hihihi jadi seneng bacanyaXD
    Dan adegan terakhir itu emang so sweet banget astagaXD
    Okedeh, ditunggu series amusement park selanjutnya! Fighting!

    Ines, 97lines

    Like

  2. Maniss :))
    Aku melted bacanya :)) Aku suka gaya nulisnya, pas sama karakter yang dibawakan. Jadi bisa enjoy pas baca 😉
    Keren lha pokoknya XD

    Like

  3. Sayang-sayang, ini Jin! Dia biasku di BTS jadi aku bacanya nggak bayangin nama Jin disini Kim Seokjin itu TT Tapi jujur ini manis sekaliiii>< Aku suka banget sama fluffynya. Untuk karakternya sih oke-oke aja tapi maaf aku nggak bisa bayangin Jin ya, dia milikku TT
    Adegan terakhir itu favoritku jugaa, itu romantis sekali pasti, ah melting Well, aku nunggu banget Amusement Park series yang lain, untuk selanjutnya aku nebak Suga kah? Keep writing~

    Like

  4. Aaaaaa.. suka sama gaya bahasanya, makin penasaran Yein kira-kira dapet amusement park yang mana.. Huwaaaa, keep writing ya 😀

    Like

  5. Keren XD Merinding pas Jiae gelagepan/? sendiri XD Oya, saran aja.. Kata ‘cowok’ diganti sama lelaki/pria deh, terkesan formal banget masalahnya hehe XD Keep writing!^^

    Like

  6. Pingback: The Calm Manager – Amusement Park [Jin ver.] | Lovelyz Fanfiction Indo

  7. Pingback: Merry-Go-Round – Amusement Park [Yein Ver.] | Lovelyz Fanfiction Indo

  8. Pingback: Ice Cream – Amusement Park Series [Kei Ver.] | Lovelyz Fanfiction Indo

  9. Pingback: Beautiful Song – Amusement Park Series [Sujeong ver.] | Lovelyz Fanfiction Indonesia

  10. authorrr! terimakasih karna telah membawakan ff dengan cast ini(?) xD aku suka banget, bahasanya ringan, bikin senyum senyum sendiri jugaa😖 keep writing thor bikin lagi yaa ff cast nya jin-jiae 😂

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s