A Complicated Love Story [Chapter 9]

Standard

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 :

Ponsel Jungkook bergetar, menandakan seseorang tengah menghubunginya. Jungkook mengangkatnya dengan malas, lalu ia segera berbicara. “Ya, halo?”

Air muka Jungkook berubah, menunjukan ekspresi khawatir dan terkejut. Tubuhnya bergetar, perasaannya tak menentu. Ia tak percaya dengan perkataan orang yang menghubunginya itu, “A… Andwae!

Tubuh Jungkook jatuh terduduk, napasnya memburu dan wajahnya memerah. Bibirnya bergetar ketika mengucapkan kata terakhir sebelum ia jatuh pingsan.

“Jeong Yein…”

Jungkook membuka matanya dengan perlahan, rasanya sangat berat. Cahaya putih terang segera menusuk kedua bola matanya sesaat setelah keduanya terbuka lebar. Jungkook mengerjap beberapa kali, mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.

“Jungkook-ah, kau sudah sadar?”

Jungkook menoleh dan mendapati ibu tirinya tersenyum padanya. Jungkook mengerang pelan, lalu memandang berkeliling. “Aku dimana?”

“Kau ada di rumah sakit. Ibu menemukanmu pingsan di kamar, ada apa?” Tanya ibu tirinya. Tiba-tiba, semua hal yang tadi sempat dilupakan oleh Jungkook kini teringat kembali. Sakit kepalanya yang hilang kini muncul kembali, dadanya terasa sesak.

“Jeong Yein…”

Mwo?”

“Yein. Aku harus bertemu dia, aku harus bertemu Yein!” Seru Jungkook tiba-tiba. Ia berusaha memaksakan tubuhnya untuk berdiri, tetapi tidak bisa.

“Jungkook-ah, tenanglah. Kau harus istirahat, kau bisa menemui Yein nanti.” Ujar Ibu tirinya sambil memaksa Jungkook untuk berbaring lagi.

Jungkook menatap ibu tirinya dengan lemah, lalu membisikan sesuatu dengan parau. “Aku harus bertemu Yein…”

~~~

“Sebenarnya, apa yang terjadi?”

Seokjin menghela napas ketika pertanyaan Minjae sampai pada telinganya, ia hanya mengangkat bahu. “Nado molla. Aku dan Yein berbicara sebentar di taman sekolah, lalu ia memutuskan untuk pergi. Ketika aku hendak menyusulnya, ia sudah tergeltak tak sadarkan diri.”

Minjae menggigit bibir cemas, “Apa dia akan baik-baik saja?”

Seokjin hanya mengangkat bahu, lalu ia duduk di bangku ruang tunggu dengan santai. “Santai saja.”

“Santai? Kau pikir aku bisa bersantai ketika sahabatku sendiri menderita disana, eoh?!” Seru Minjae kesal.

Seokjin menatap Minjae sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruang ICU yang tertutup. “Jika kau terlalu tegang dan memikirkannya setiap hari, kondisi kesehatanmu mungkin akan menjadi buruk juga.”

Mwo?”

“Kau boleh mengkhawatirkan Yein, itu wajar. Tetapi kau tidak boleh terlalu cemas dan terus menerus mengkhawatirkannya, kondisi kesehatanmu juga harus diperhatikan.” Gumam Seokjin.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi perhatian seperti ini?” Tanya Minjae, Seokjin hanya menggigit bibir. Pipinya memerah, tapi ia segera memasang ekspresi datar.

“Memang, masalah jika aku mengkhawatirkan seorang teman?”

Minjae terdiam, lalu menggeleng. “Kita… teman?”

Seokjin segera mengangguk, Minjae hanya tersenyum tipis. Kata teman yang meluncur keluar dari bibir Seokjin dengan mudahnya adalah langka, hal itu sendiri membuat Minjae merasa tenang mendengarnya. Minjae pun merasa heran, mengapa ia sulit sekali mendengar kata teman dari bibir orang lain.

“Oh ya, kau sudah mengabari Jungkook?” Tanya Seokjin, Minjae mengangguk. Seokjin segera bertanya kembali, “Apa yang ia katakan?”

Minjae terdiam ketika ia mengingat reaksi Jungkook saat namja itu mendengar kabar bahwa penyakit Yein kambuh kembali. “Eh, di-dia… dia berteriak dan berkata bahwa itu tidak mungkin. Lalu… sambungan telepon kami terputus.”

Seokjin menatap Minjae cemas, ia menarik lengan Minjae untuk duduk di sampingnya. “Aku rasa terjadi sesuatu pada Jungkook.”

Mwo?”

“Jungkook… mungkin keadaannya tak jauh lebih baik daripada Yein sekarang.” Balas Seokjin.

Y-ya! Jangan bicara sembarangan!” Kilah Minjae cemas, tapi Seokjin menggeleng.

“Jungkook menyukai Yein. Ketika kau menceritakaan keadaan Yein padanya, ia berkata bahwa itu tidak mungkin. Lalu, sambungan telepon kalian terputus, bukan?” Jeda sebentar, yang diikuti oleh anggukan Minjae. “Kurasa Jungkook-lah yang mematikan sambung telepon kalian, pasti terjadi sesuatu padanya.”

“Maksudmu, keadaan Jungkook saat ini… tidak begitu baik?” Tanya Minjae pelan.

Seokjin mengangguk. Tiba-tiba, ia terkesiap ketika ia mengingat sesuatu. “Kita harus mengetahui keadaan Jungkook sekarang…”

Minjae menatap Seokjin heran, tidak biasanya namja itu peduli pada Jungkook. Yah, siapapun tahu bahwa Seokjin dan Jungkook saling membenci. Tapi kali ini, mengapa Seokjin tiba-tiba menjadi begitu khawatir kepada Jungkook?

“Ba-bagaimana caranya? Dan kenapa?” Tanya Minjae cemas.

“Jungkook, dia…” Seokjin menghela napas, merasakan ada perasaan berat hati ketika ia harus mengatakan ini kepada Minjae. “Aku baru mengetahui, bahwa Jungkook akhir-akhir ini mengkonsumsi obat-obatan terlarang.”

Pupil Minjae melebar, ditatapnya Seokjin tak percaya. “Jangan berbohong padaku!”

“Aku tidak berbohong!” Seru Seokjin, Minjae menatap namja itu dengan perasaan khawatir. “Lanjutkan.”

“Aku datang ke apartement pribadi Jungkook beberapa hari yang lalu. Ketika aku masuk ke kamarnya, aku mendapati bahwa kamar Jungkook begitu berantakan. Dan aku juga menemukan beberapa pil ekstasi dan juga beberapa botol heroin…”

MWO?!” Minjae segera menyela ucapan Seokjin, yeoja itu berdiri dan menatap Seokjin dengan napas terengah-engah.

Seokjin menatap Minjae, lalu ia menarik lengan yeoja itu untuk duduk kembali. “Yein sedang dalam pemeriksaan sekarang, kita masih memiliki banyak waktu. Ayolah, kita harus segera menemui Jungkook.”

~~~

Yein membuka matanya dengan perlahan, ia menatap sekeliling ruangan dengan perasaan bingung. Lalu ia menatap wajah ibunya yang tersenyum lemah ke arahnya, Yein hanya terdiam. Ia tak mampu berbicara.

“Yein-ah, kau sudah sadar?”

Yein hanya mengangguk pelan, lalu ia menatap ibunya dalam. Ibunya tersenyum tipis dan meraih lengan Yein, menggenggamnya dengan hangat. “Gwaechanayeo?”

Yein mengangguk lagi. Bibirnya bergerak hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Ibunya menatap Yein prihatin, lalu ia membelai kepala yeoja itu lembut. “Katakan sesuatu, Yein-ah…”

“Jungkook-ah…”

Kata pertama yang keluar dari bibir Yein. Setelah itu, Yein merasa bibirnya mati rasa. “Jungkook-ah…” Bisik Yein lagi, kali ini dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.

“Yein-ah, waeyeo?” Tanya ibunya dengan sedikit terkejut, ia menghapus air mata Yein dengan kedua ibu jarinya.

“Ak-aku… aku harus menemui… Jungkook…” Bisiknya lagi.

“Yein-ah, kau bisa menemui Jungkook nanti. Sekarang, kau harus beristirahat.” Ujar ibunya sambil tersenyum, lalu ia membenarkan letak selimut Yein. “Tidurlah.”

Yein berusaha untuk tidur, tetapi ia tidak bisa. Ia sangat mengkhawatirkan Jungkook, ia sangat membutuhkan namja itu sekarang. Sekalipun ia mencoba, tetapi bibirnya tak pernah berhenti memanggil-manggil nama Jungkook.

“Jungkook-ah…”

~~~

“Kau yakin Jungkook ada disini?” Tanya Minjae ketika ia dan Seokjin sampai di sebuah ruang rawat, tempat dimana Jungkook mungkin berada.

Seokjin mengangguk pasti, “Percayalah padaku. Ayolah, jangan membuang waktu.”

Minjae menghela napas, lalu ia membuka pintu ruang rawat tersebut dengan perlahan. Ketika ia melihat Jungkook berbaring dan menatap keduanya, Minjae merasa bersyukur.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Jungkook pelan.

“Kuharap kau sudah mendengar tentang keadaan Yein.” Ujar Seokjin tanpa menjawab pertanyaan Jungkook, Jungkook mengangguk pelan.

Neon… gwaechana?” Minjae membuka suara dengan ragu, Jungkook menatap Minjae dalam. Namja itu lalu mengangguk pelan.

Gwaechana.”

“Jika aku diperbolehkan, aku ingin bicara denganmu. Berdua saja.” Ujar Minjae sambil melirik ke arah Seokjin. Seokjin menghela napas, entah mengapa ada perasaan berat dalam hatinya. Tetapi, ia mengangguk.

“Bicaralah berdua. Aku akan keluar.” Ujarnya, lalu ia segera keluar dari ruangan tersebut.

Setelah Seokjin menutup pintu ruangan itu, Minjae duduk di samping ranjang Jungkook. Ia menghela napas dan mulai berbicara, “Aku tahu bahwa kau tertekan. Tetapi, beralih pada obat-obatan terlarang bukanlah jalan pintas bagimu. Hal itu malah akan membuatmu semakin menderita.”

Jungkook menatap Minjae lemah. Minjae sudah mengetahui semuanya, hatinya membatin. Ia ingin berbicara, tapi lidahnya terasa kelu.

Mian…”

Minjae tersenyum tipis, “Jangan lakukan itu lagi. Kau tak hanya menyakiti dirimu sendiri, tetapi kau juga menyakiti orang lain. Orang tuamu, keluargamu, teman-temanmu, aku, Seokjin, juga… Yein. Kau harus segera pulih. Dengan begitu, kau bisa menemui Yein. Disaat-saat seperti ini, Yein sangat membutuhkanmu.”

“Aku… tidak bisa.” Ujar Jungkook putus asa.

“Kau harus bisa.” Kilah Minjae. “Aku akan membantumu. Yang terpenting, kau juga telah berusaha untuk menjauhkan dirimu dari segala hal yang buruk. Jangan menghancurkan hidupmu yang sudah hancur, Jungkook-ah.”

Jungkook tersenyum lemah, “Gomawo.”

~~~

“Yein?”

Yein menghentikan langkahnya dengan perasaan sedikit terkejut, ia menoleh dan tersenyum tipis.

“Ah, k-kau… kau sudah pulang?” Tanya orang itu sambil tersenyum tipis.

“Kau siapa?” Tanya Yein, orang itu terdiam.

“A… aku…”

Yein tersenyum tipis dan berjalan mendekati orang itu. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberiku gaun dan topeng itu, serta telah menemaniku di pesta dansa sekolah. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini.”

Orang itu, seorang ‘pangeran tak dikenal’ yang telah menemani Yein selama pesta dansa sekolah, tersenyum, “Bukan masalah.”

“Oh ya, jika aku boleh tahu… siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memilihku? Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa aku telah pulang? Apa maksud dari ‘kau sudah pulang’ itu?” Yein membanjiri ‘pangeran’-nya dengan berbagai pertanyaan.

Namja itu tersenyum tipis, “Rahasia.”

“Kalau begitu, bagaimana aku bisa memanggilmu?” Tanya Yein.

“Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanmu.” Jawab namja itu, Yein tersenyum.

“Kalau begitu, kau pantas kusebut ‘pangeran.'”

“Ti-tidak juga…”

Yein memandang wajah namja yang matanya tertutup topeng dansa itu. Yein mengenali bibir dan hidup orang itu, tapi mengapa ia tak mengingat siapa pemilik bibir dan hidung itu? Yein menghela napas, lalu berujar, “Aku harus pergi. Terima kasih karena telah membantuku, pangeran.”

Namja itu tersenyum, “Cheonma.”

~~~

“Kau sudah pulang?” Tanya Jungkook ketika melihat Yein berjalan menuju ke kelas, Yein menoleh dan mengangguk. Jungkook mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum, “Itu bagus.”

“Aku mendengar dari Minjae tentang keadaanmu, gwaechana?” Tanya Yein balik, Jungkook hanya mengangguk.

Setelah itu, keduanya berjalan menuju kelas dalam diam. Ketika Yein hendak duduk di bangkunya, Jungkook menggenggam lengan Yein. “Kau ada waktu sebentar?”

“Oh? Ah, tentu.”

Jungkook mengajak Yein pergi ke Rooftop, Yein duduk di samping Jungkook dengan perasaan bingung. “Ada apa?”

“Aku hanya… ah, bel masuk masih cukup lama. Jadi, kurasa kita bisa… entahlah, berbincang-bincang sebentar?” Balas Jungkook.

Yein mendorong bahu Jungkook pelan, “Ya, bilang saja kau ingin mengucapkan sesuatu.”

Jungkook menatap Yein, lalu ia menghela napas. “Jeong Yein…” Bisiknya pelan.

“Hm?”

“Apa yang sesungguhnya terjadi padamu beberapa hari yang lalu?” Tanya Jungkook.

“Ah, aku hanya… kambuh. Yah, seperti biasa.” Jawab Yein.

Jungkook menatap Yein dengan sedikit tatapan tak percaya, ia tahu pasti bahwa sesuatu terjadi pada Yein. “Apa penyakitmu bertambah parah?”

Yein terkesiap, ia menatap wajah Jungkook dan menggeleng. “Ani…”

“Bohong!”

Yein menunduk, bibirnya bergetar. “Ku-kurasa, ya.”

Jungkook menghela napas, lalu ia menarik Yein ke dalam pelukannya. Baik Yein maupun Jungkook merasa sedikit canggung dengan keadaan ini, tapi mereka hanya diam.

“Kau akan baik-baik saja, bukan?” Tanya Jungkook pelan, Yein mengangkat bahu. Ia melepaskan pelukan Jungkook dan menatap mata namja itu, “Molla.”

“Yein…”

Ne?”

Jungkook mendekat ke arah Yein, ia menarik lengan yeoja itu agar posisi keduanya semakin dekat. Jungkook dapat merasakan napas Yein yang menderu. Pipi Yein memerah, “A… apa yang akan kau lakukan?”

Jungkook tak menjawab, ia tetap menatap Yein dalam. Lalu ia menangkupkan satu tangannya di satu pipi Yein, lalu ia tersenyum tipis. “Yein-ah…”

N-ne?”

Jungkook semakin mendekatkan posisinya kepada Yein, lalu ia berujar. “Saranghae…”

Sebelum Yein sempat menjawab, posisi mereka semakin dekat. Tak lama kemudian, bibir keduanya bertemu.

-TBC-

Anyeong 🙂

Maafkan aku kalau lama & Chapter ini pendek pake banget ><

Agak susah bikin Chapter ini, tadinya mau menyerah sih hehehe… tapi gara-gara aku lihat Top Searches, pasti selalu aja ‘A Complicated Love Story’ hahaha 😀

Tinggal beberapa Chapter lagi, ditunggu komen & like-nya 🙂

Advertisements

21 thoughts on “A Complicated Love Story [Chapter 9]

  1. NIIIII~

    Aw, pendek banget thor 😦
    Jungkook dan Yein kasian.. Jungkook nyium Yein yaaaa??? Aaaa,,, aku seneng banget 😀
    Ditunggu lanjutannya thor

    Like

  2. Nabila27

    Tunggu… Jungkook… nyium… Yein ya?
    Author, makasih banyak karena momen di akhir tbc itu ya ^^. Tapi tbc-nya cepet banget nih
    Chapter berikutnya dipanjangin ya, ditunggu lanjutannya 🙂

    Like

  3. Jungkook mengkonsumsi obat-obatan terlarang? Ya ampun nggak nyangka banget. Entah kenapa aku malah semakin punya feeling, ini akan sedikit sad ya, entah kenapa gitu 😀 Ada cast baru? Pangeran yang nolong Yein siapa? Chanwoo? Anggota BTS lain? Apa anggota Got7? Penasaraan deh aku 😀
    Nah akhirnya ada momen Jungkook sama Yein. Kissing lagi. Well, entah lanjutannya gimana, aku nggak punya bayangan entah kenapa. Tapi lagi-lagi entah kenapa aku merasa Minjae ada apa-apa gitu sama Seokjin. Ini fast update juga loh, aku sangat menunggu kelanjutnya, keep writing~

    Like

  4. adelia herawati

    aku dilema liat Seokjin serba salah, Min jae apa lagi .. Yein jungkook sama” menderita ..

    feel banget dalam hati . 😍

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s