When I’m Afraid.. [Chapter 1]

catsWhen I Afraid..

By Fanita (woollimstan)

Infinite’s Nam Woohyun – Lovelyz’ Lee Mijoo

Genre : Sad – Angst – Romance – Drama || Type : Chapter || Rating : PG-17

.

Masa lalu yang kelam membuatnya memilih untuk menjauh dari cinta. Tapi apakah bisa Lee Mijoo bangkit dari keterpurukan dan masa lalunya yang kelam setelah bertemu dengan Nam Woohyun?

A/N : Cetak tebal adalah flashback.

.

.

.

“Oppa bagaimana ini?”

“Mijoo-ya kau harus bertahan!”

“Oppa aku takut…”

“Sayang bersabarlah aku yakin akan ada yang menolong kita,”

“Oppa..”

“…”

“Oppa bangun!! Oppa!!!”

Seorang gadis baru saja bangun dari mimpi buruknya. Gadis itu mengatur deru nafasnya yang terasa sungguh sesak. Mimpi buruk itu selalu menghampiri hidupnya.

Kring….

Bunyi alarm yang berasal dari ponselnya membuat wanita itu tersadar. Tangannya langsung meraih ponselnya yang ada dibawah bantal. Ia mematikan bunyi tersebut dan langsung berdiri dari ranjang untuk segera bersiap-siap karena dia ada wawancara kerja di pagi hari ini.

.

“Menurutmu pegawai magang kali ini akan bagaimana?”tanya Sungyeol.

“Entahlah.. Memangnya aku ada urusan dengan pegawai magang? Huh kau ini,”cibir lelaki yang diajak Sungyeol berbicara.

“Ya Nam Woohyun jika dia wanita kan bisa kita dekatin dan kalau laki-laki kita bisa menyuruhnya karena mereka junior.”

“Pikiranmu ini… kotor sekali,”cibir Woohyun.

Lelaki yang bernama Woohyun itu langsung pergi meninggalkan rekan kerjanya setelah ia paham bahwa pembicaraan ini tidak penting baginya. Nam Woohyun, seorang pegawai disalah satu perusahaan swasta dan berada dibagian tim yang mengurus mobile shopping.

“Nam Woohyun kenapa meninggalkan aku sendiri? Aish!”oceh Sungyeol.

 .

Mijoo baru saja keluar dari ruangan tempat dia melakukan wawancara kerja. Saat ia hendak meninggalkan gedung tersebut ponselnya yang ada didalam tas berdering membuat Mijoo menghentikan sebentar langkah kakinya. Ia meraba-raba tasnya dan kemudian langsung mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang menghubungi.

“Halo?”

“Mijoo-ya ini aku, Jisoo. Kau sedang apa?”

“Aku? Aku baru saja wawancara kerja sekarang aku ingin sarapan dulu dan menghabiskan waktu sampai siang menunggu hasilnya keluar. Kenapa Jisoo-ya?”

“Ya! Bagaimana bisa kau tidak sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas? Nanti kalau kau tidak ada tenaga dan pingsan tengah jalan bagaimana? Aish kau ini!”

“Kau terlalu berlebihan Jisoo. Tidak ada yang penting bukan? Aku tutup..”

“Tunggu sebentar! Aku mau meminta saran hari ini aku ada kencan dengan Daeyeol Oppa menurutmu hari ini aku pakai baju merah muda atau biru? Cuaca hari ini cukup cerah. Berikan saranmu untuk sahabatmu ini, ya?”

“Tidak dua-duanya.”

“Jadi? Jadi warna apa?”

“Hitam..”

“Lau sedang mengibuliku? Kenapa hitam?”

“Ya sudah jika tidak mau akukan hanya memberikan saran.”

“Iya iya, aku akan pakai! Thank you..”

Setelah panggilan selesai Mijoo meletakan kembali ponselnya didalam tas dan melanjutkan jalan sambil terkekeh pelan. Tidak dia sangka bahwa sahabatnya itu mau saja mengikuti perkataannya. Namun ia memberikan memakai pakaian warna hitam bukan sekedar saran biasa karena suatu alasan untuk melakukannya bahkan dirinya juga memakai pakaian warna hitam dihari ini.

 .

Woohyun menghampiri ketua tim mereka yang sedang duduk ditempatnya sambil membaca beberapa berkas ia yakin bahwa berkas itu adalah data para calon pegawai magang ditempatnya. Setelah sampai ia menarik sebuah kursi untuk duduk disamping ketua timnya.

“Ketua tim Anda sedang apa?”Tanya Woohyun.

“Bukan apa-apa, hanya saja aku menilai antara dua orang ini menurutmu dari pengalaman mereka siapa yang lebih bisa dihandalkan?”tanya Bora, ketua tim Woohyun dan anggota yang lainnya.

“Lee Mijoo dan Alice Song.. Hmm dari usia menurutku lebih dapat diandalkan nona Song tapi untuk nona Lee ia juga memiliki pengalaman yang lumayan wow,”balas Woohyun.

“Iya. Saat wawancara tadi nona Song lebih ceria sementara nona Lee sedikit murung bahkan dia memakai pakaian hitam. Kenapa ada orang yang melamar pekerjaan dengan penampilan begitu, coba?”oceh Bora.

“Ketua tim bagaimana bisa aku menilai seseorang hanya karena suasana hatinya? Mana tahu Lee Mijoo itu sedang sedih atau bagaimana, sementara suasana hati Alice Song sedang bahagia. Siapa yang lebih cekatan tadi saat menjawab pertanyaan kalian?”

“Lee Mijoo.. dia menjawab dengan sungguh lancar sementara Alice Song dia lebih tampak menghapal karena ia menjawab pertanyaan kami tadi seperti seorang murid yang sedang menghadap gurunya untuk hapalan,”

“Nah! Anda sudah mendapatkan jawabannya bukan?”

Bora menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu ia menatap Woohyun dan menepuk pundak pria itu.

“Terima kasih Woohyun-ssi.” Woohyun hanya bisa tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

 .

Setelah sarapan jam masih menunjukan pukul 11 siang. Mijoo berdiri dipinggir jalan dan memberhentikan sebuah taksi. Setelah masuk kedalamnya Mijoo langsung meminta sang supir untuk membawanya kesuatu tempat.

 .

Tidak butuh waktu lama Mijoo sudah sampai ditempat yang dia inginkan. Sebelumnya ia menghampiri sebuah lapak yang menjual bunga setelah selesai ia langsung melanjutkan kembali langkah kakinya. Butuh waktu 5 menit untuk sampai ketempat tujuan karena jalan yang dia lewati cukup menanjak. Ketika ia sudah berada didepan tempat yang dia maksud Mijoo langsung meletakan bunga yang ia beli diatas gundukan tanah. Ya, Mijoo kini berada di tempat pemakaman umum.

“Oppa ini aku Mijoo. Maaf aku jarang datang kemari,”lirih Mijoo.

Mijoo berjongkok disamping makam itu dan mengusap batu nisan bertuliskan nama seorang laki-laki yaitu Kim Myungsoo.

“Myungsoo Oppa ini sudah dua tahun sejak kejadian itu, kan? Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana saat ini. Oppa, hari ini aku ikut test wawancara kerja doakan aku semoga aku diterima karena perusahaan yang aku masuki ini begitu terkenal di Korea akhir-akhir ini.”

“Aku berharap bisa bekerja dengan baik disana dan mendapatkan uang yang banyak aku sudah banyak merepotkan Jisoo dan Daeyeol oppa aku tidak mau lagi merepotkan mereka. Semenjak kejadian itu… mereka bahkan tidak mau tahu tentang kabarku lagi.”

Mijoo berhenti berbicara saat ia rasakan airmatanya sudah keluar dari pelupuk matanya. Ia mengingat lagi kenyataan pahit didalam hidupnya. “Oppa Aku mencintaimu.. Aku harus pergi lain kali aku akan menemuimu lagi. Sampai jumpa,”

Mijoo berdiri dan memberikan salam terlebih dahulu kepada Woohyun setelah itu dia pergi dari sana untuk segera kembali keperusahaan melihat hasil dari wawancaranya tadi.

 .

“Ketua tim kenapa harus aku yang menjadi mentor mereka?”rutuk Woohyun pada Bora.

“Kenapa memangnya? Kau lebih memperhatikan mereka bahkan saat belum melihatnya jadi aku bisa mempercayakan kedua orang itu padamu,”balas Bora.

“Ketua tim…”rengek Woohyun.

“Nam Woohyun!”tegas Bora.

“Noona aku mohon jangan aku kau bisa menyuruh Sungyeol dia begitu semangat saat tahu hari ini akan ada pegawai baru!”

“Noona..noona! Aku ini sekarang ketua tim-mu jangan sembarangan memanggilku begitu! Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus menjadi mentor mereka ini sudah keputusanku, tidak bisa diganggu gugat!”

Bora membereskan berkas-berkasnya kemudian berdiri meninggalkan Woohyun untuk pergi kesuatu tempat. Sementara itu Woohyun masih saja menggerutu karena keputusan Bora yang tidak bisa diganggu gugat kalau boleh dibilang kini ia menyesal sudah menghampiri Bora dan memberikan masukannya mengenai siapa yang akan ia pilih menjadi anggota baru mereka.

“Ah bisa gila aku!”pekik Woohyun frustasi.

 .

Ini sudah jam 1 siang dan hasil dari wawancara pun telah diumumkan. Mijoo langsung berjalan menghampiri kerumunan orang yang sedang melihat kertas yang tertempel dipapan pengumuman. Setelah sampai dengan cara berdesakan dia berusaha melihat apakah namanya ada atau tidak dan hasilnya tentu saja ia lulus. Mijoo sangat bahagia dan ia langsung meninggalkan keramaian tersebut lalu berusaha menghubungi seseorang.

“Halo.. Mijoo-ya. Kenapa?”

“Aku lulus!!”

“Sungguh? Heol… selamat Mijoo-ya! Aku sungguh bangga padamu! kau harus mentraktirku, ok?”

“Baiklah! Kau belum pergi kencan dengan Daeyeol oppa?”

“Belum jam 2 kami akan pergi, ini aku baru saja mengeringkan rambutku dan bersiap untuk make up,”

“Ya sudah aku tidak akan menganggumu. Selamat kencan!”

Saat Mijoo hendak keluar dari gedung seseorang menyerukan namanya membuat ia menghentikan langkahnya. Matanya meyipit saat menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Yoon Bora.

“Mijoo-ssi selamat karena kau lulus. Besok aku harapkan kehadiranmu kekantor ini pukul 9 pagi,”pesan Bora.

“Baiklah aku mengerti,”kata Mijoo.

“Baiklah kalau begitu aku duluan,”

Bora membungkukan badannya begitu pula Mijoo setelah punggung Bora menjauh darinya Mijoo pun langsung melanjutkan jalannya tanpa menyadari sepasang mata sejak tadi memperhatikannya.

“Jadi itu pegawai magangnya? Cukup cantik…”gumam Woohyun dari depan pintu ruangan mereka.

 .

“Lee Mijoo.. Dia adalah Nam Woohyun yang akan menjadi mentor kalian. Dan Woohyun dia Mijoo dan yang satunya Lee Sungjong,”kata Bora memperkenalkan kedua anggota barunya.

“Perkenalkan namaku Lee Mijoo. Senang berkenalan dengan kalian semua, senior..”kata Mijoo sambil membungkukan badannya.

“Perkenalkanku Lee Sungjong,”ucap Sungjong mengikuti langkah rekan kerjanya, Mijoo.

“Ah baiklah. Namaku Nam Woohyun aku yang akan membimbing kalian selama 3 bulan ini,”kata Woohyun.

“Baiklah senior dimohon bantuannya,”kata Mijoo dan Sungjong serentak.

“Kalau begitu aku tinggal dulu. Woohyun-ssi beritahu mereka dimana meja kerjanya,”titah Bora.

Woohyun membungkukan badannya kemudian Bora pun pergi ketempat duduknya untuk melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk. Belum ada tanda-tanda Woohyun untuk bergerak dari tempat itu yang dia lakukan saat ini hanyalah memandang dua juniornya terutama Sungjong.

“Apa kau… laki-laki?”tanya Woohyun.

Mijoo dan Sungjong saling menatap satu sama lain, Sungjong menganggukan kepalanya dengan tenang ia sudah mengerti maksud Woohyun. begitulah nasibnya menjadi lelaki cantik alias flower boy semua orang meragukan bahwa ia adalah seorang laki-laki. Huh… betul-betul hidup yang rumit baginya.

“Aku laki-laki sunbaenim,”jawab Sungjong.

“Ah begitu ya sudah Mijoo-ssi dan Sungjong-ssi ikuti aku!”

 .

Setelah Woohyun memberitahu kepada Mijoo dan Sungjong mengenai tugasnya ia langsung menghampiri Sungyeol yang sejak tadi sudah mengisyaratkannya untuk segera mendekat.

“Ya! Woohyun-ah keduanya benar-benar cantik,”ucap Sungyeol.

“Aku tahu. Bahkan Sungjong lebih cantik daripada Mijoo yaampun kenapa dunia seperti ini ya? Disaat banyak perempuan diluar sana melakukan operasi plastik untuk mendapatkan wajah cantik si Lee Sungjong malah cantik sempurna seperti itu sebagai seorang lelaki, benar-benar tidak adil.”gerutu Woohyun.

“Woohyun-ah kenalkan aku dengan Mijoo. Ya? Ya??”kata Sungyeol sambil mengeluarkan aegyo-nya.

“Ya! Hentikan aegyo-mu itu aku mau muntah! Aish sudahlah aku sibuk kalau kau mau kenalan hampiri saja mereka apa susahnya,”oceh Woohyun.

“Ide bagus!”

Sungyeol langsung beranjak dari tempatnya menghampiri kedua pegawai magang yang baru tersebut. Woohyun yang melihat Sungyeol menatap Mijoo dengan genit menepuk dahinya frustasi.

“Dia terlalu banyak bergaul dengan Howon,”gumamnya.

 .

“Lee Sungyeol. Aku senior kalian jika ada yang dibutuhkan minta saja bantuan denganku,”kata Sungyeol sambil mengulurkan tangannya pada Mijoo.

Mijoo yang mengerti maksud Sungyeol langsung menjabat tangan laki-laki itu dengan kikuk.

“Lee Mijoo. Mohon bantuannya, senior.”ucap Mijoo.

Mijoo hendak melepaskan jabatan tangannya dari Sungyeol namun laki-laki itu masih saja menggenggam tangannya untuk sekian lama.

“Sungyeol-ssi..”tegur Mijoo.

Sadar akan maksud Mijoo Sungyeol langsung melepaskan tangannya dan tertawa kikuk kepada Mijoo.

“Haha maaf. Tanganmu begitu lembut Mijoo-ssi kau memakai produk apa? Aku akan membelikannya untuk ibuku karena dia terlalu banyak bekerja jadi tangannya begitu kasar seperti kuli bangunan haha,”kata Sungyeol dengan kikuk.

“Aku tidak memakai apa-apa,”balas Sungyeol.

Sadar masih ada orang yang lain Sungyeol langsung mengalihkan pandangannya kepada Sungjong dan memperkenalkan dirinya. Setelah berkenalan Sungyeol, Mijoo dan Sungjong sedikit bercakap-cakap sampai akhirnya..

“LEE SUNGYEOL!”pekik Bora saat melihat Sungyeol malah mengajak juniornya bercerita.

“Ya ketua tim.. Maafkan aku,” Sungyeol pun langsung lari terbirit-birit menuju kursinya dan itu membuat Woohyun yang sejak tadi memperhatikannya terkekeh seperti orang gila.

 .

Saat jam makan siang tim mobile shopping berkumpul bersama seperti biasa apalagi kini mereka mendapatkan anggota baru. Bora memperkenalkan Mijoo dan Sungjong kepada anggota lain yang belum mengenal mereka berdua. Woohyun duduk dibelakang Mijoo, ia pun mencolek punggung Mijoo mau tak mau Mijoo membalikan badannya.

“Nanti kau harus mengerjakan tugas pertamamu dan segera kau kumpulkan padaku. Aku akan memberikannya padamu nanti,”kata Woohyun.

“Maaf Woohyun-ssi, apa tidak bisa membicarakan masalah pekerjaan disaat jam kerja saja? Ini jam istirahat,”tegur Mijoo.

Woohyun mendadak kehilangan kata-kata dan menoleh kebelakang sambil mencibir Mijoo. Beraninya seorang hoobae menegur sunbae, batin Woohyun.

“Oke, aku hanya ingin memberitahu itu. Silakan lanjutkan makan siangmu,”kata Woohyun. Mijoo mengangguk dan langsung memakan makanannya.

 .

“malam ini kita harus bertemu, Lee Mijoo!”

“ada angin apa memintaku bertemu?”

“Eng… Bukan apa-apa hanya saja kau menagih traktiranmu. Bagaimana kalau kita minum? Bagaimana?”

“baiklah aku pulang kantor jam 8 jadi kau bisa duluan kesana,”

“Call..”

“Aku merasa ada yang tidak beres denganmu,”

“Apa? Bukan apa apa kok.. pokoknya sehabis kau pulang kerja harus segera kesana. Okay?”

“Baiklah nona Seo,”

Mijoo langsung meletakan ponselnya diatas meja dan kembali memfokuskan dirinya dengan komputer yang ada dihadapannya namun tiba-tiba saja dia mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang tengah berbicara dengannya.

“Hari pertama berkerja tapi kau memperlihatkan sisi burukmu padaku, Lee Mijoo-ssi. Kenapa menelpon disaat sedang bekerja?”tegur Woohyun sambil melihat Mijoo dengan tajam.

“Kenapa? Memang ada aturan tidak boleh menerima telpon? Ketua tim saja sibuk tertawa dengan ponselnya,”kata Mijoo sembari melihat Bora yang tengah tersenyum malu memainkan ponselnya.

“Eng… itu.. tapi kaukan junior. Hanya senior yang baru boleh bertindak semaunya,”oceh Woohyun.

“Memangnya ini sekolah,”gumam Mijoo.

“Apa yang kau bicarakan?”tanya Woohyun.

“Bukan apa-apa..”balas Mijoo ketus.

“Jangan mengulangi lagi, mengerti?”

“Ngerti..”

“Ya! Siapa yang menyuruhmu berbicara tidak formal padaku?”

“Heh… Nam Woohyun-ssi kau cerewet sekali untuk ukuran seorang laki-laki. Kenapa hanya mengurusiku? Coba kau memeriksa urusan Sungjong,”

“Ok baiklah.. tapi kau harus mengambil beberapa dokumen digudang, ini cari semuanya dan berikan padaku,”

Mijoo mengambil kertas yang diberikan Woohyun dan menyeritkan dahinya melihat begitu banyak daftar dokumen yang harus dia ambil.

“Senior Nam apa kau gila? Aku mengambil ini seorang diri? Kau menindasku eoh!”ucap Mijoo sedikit berteriak.

Semua orang langsung menoleh pada mereka berdua dan Woohyun yang merasa bersalah langsung meminta maaf pada rekan kerjanya.

“Kecilkan volume suaramu itu hoobaenim,”desis Woohyun. Mijoo memasang raut wajah yang begitu dingin, “Dan lakukan perintahku. Se-ge-ra!”lanjutnya.

Mijoo langsung berdiri meninggalkan Woohyun yang kini menatapnya kesal Woohyun pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ia kini langsung bergeser untuk memperhatikan kinerja Sungjong.

 .

“suasana hati PD-nim sedang buruk,”

“Iya aku dengar si begitu katanya tadi pagi raut mukanya sungguh menyeramkan. Ya Tuhan, kenapa PD-nim bisa memiliki sifat seperti itu eoh? Berbeda dengan almarhum ayahnya,”

“Benar! Benar!”

Mijoo hanya menggelengkan kepalanya mendengar karyawan-karyawan itu menggosipi atasannya sendiri. Ngomong-ngomong atasan Mijoo sendiri belum pernah melihatnya langsung, ia hanya pernah melihat beliau di poster saat melihat lowongan kerja. Direktur utama diperusahaan ini adalah seorang yang jenius karena setiap bulannya bisa menghasilkan penemuan terbaru entah itu permainan baru atau hanya sekedar meng-upgrade layanan messager yang menjadi kebangga perusahaan ini.

 .

Kini Mijoo sudah sampai di depan gudang ia langsung masuk kedalam dan mencari puluhan dokumen yang Woohyun pinta. Setelah selesai dia dengan susah payah membawa semuanya untuk keluar bahkan untuk melihat jalan pun Mijoo tidak bisa karena tumpukannya begitu tinggi! Saat Mijoo berjalan didekat lift tanpa ia ketahui disisi lain ada seseorang yang tengah berjalan dekat dengannya.

 .

“aku sedang pusing saat ini jadi tolong jangan membuat semuanya jadi kacau. Jangan ada yang menggangguku dan tolong suruh semua pegawai untuk mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh! Ya Tuhan, siapa yang beraninya membobol aplikasiku,”oceh Kim Sunggyu, direktur utama diperusahaan ini.

“Baiklah PD-nim saya akan memberitahu kepada yang lain,”kata sekretaris pribadi Sunggyu, Lee Howon.

Lift yang dinaiki oleh Sunggyu dan Howon begitu juga karyawan yang lain sudah berhenti dilantai dasar. Mereka berjalan dan juga karyawan yang melihat direktur utama mereka keluar dari ruang kerjanya memberikan hormat, tidak untuk salah satu pegawai magang yang kini sibuk dengan dokumennya. Tanpa Mijoo sadari ia berjalan begitu pula Sunggyu dan….

BRUG…

Keduanya menjadi jatuh. Semua dokumen yang Mijoo bawa jatuh berantakan. Howon yang melihat Sunggyu jatuh langsung membantunya untuk bangun sementara itu Mijoo sibuk membereskan dokumen-dokumen itu.

“Kau!”kata Sunggyu dingin sambil menatap Mijoo yang masih duduk.

Mijoo yang merasa dipanggil langsung berdiri dengan bersusah payah dan menatap sengit Sunggyu.

“Paman apa kau tidak tahu kalau aku sedang kesusahan kenapa kau malah menabrakku?”oceh Mijoo. semua orang yang ada disana langsung membulatkan matanya mendengar perkataan yang keluar dari Mijoo.

“Kau makin membuat moodku buruk! Lee Howon bereskan kekacauan ini!”pekik Sunggyu dan kembali melanjutkan jalan dengan kesal.

Mijoo yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap Howon yang sedang melihatnya dengan pandangan miris dengan polosnya.

 .

Woohyun terus mengorek kupingnya yang pengang akibat ocehan dari Bora sejak 1 jam yang lalu. Tidak henti-hentinya Bora berteriak frustasi padanya hanya karena masalah antara Mijoo dan Sunggyu, atasan terhormat mereka.

“Kau yang bertanggung jawab atas Mijoo! jangan membuat tim kita buruk dimata PD-nim. Kau mengerti huh?”kesal Bora.

“Iya, aku minta maaf ketua tim..”kata Woohyun terus membungukan badannya.

“Pergi! Aku pusing melihatmu Woohyun-ssi,”sindir Bora.

Woohyun langsung pergi meninggalkan Bora dan segera membuka ponselnya menghubungi seseorang. 1 kali… 2 kali… telfon juga tidak tersambung dan saat Woohyun mencoba panggilan ketiga akhirnya tersambung juga.

“hyung dimana?”

“Tempat biasa. Ada apa?”

“Aku kesana ya…”

“Apa? Kau mau membolos kerja?!”

“Bukannya kau juga bolos?”

“Aish ya aku tunggu kau disini. Cepat!”

Woohyun langsung menutup ponselnya dan berlari. Bora yang melihat Woohyun hendak keluar kembali berteriak.

“Woohyun-ssi mau kemana?!”pekiknya.

“Aku izin keluar sebentar ketua tim!”balas Woohyun sambil berteriak.

Bora mengusap wajahnya dengan kasar terlalu stres mengurusi Woohyun. tiba-tiba saja dihadapan Bora sudah muncul Sungyeol yang tengah menyodorkan sebotol minuman pada Bora.

“Untuk menenangkan hatimu ketua tim,”

“Terima kasih…”

 .

“Hyung jangan marah pada cewek itu, ini salahku..”kata Woohyun sambil berlutut pada Sunggyu, kakak tirinya. Ia disuruh berlutut oleh Sunggyu saat tahu bahwa yang berganggung jawab atas Mijoo adalah dirinya.

“Suasana hatiku sedang memburuk dan gara-gara tadi juga menjadi lebih buruk. Kau tahu bisa-bisa saja kepalaku ini meledak Woohyun-ah….”geram Sunggyu.

”Maaf hyung.. Aku hanya ingin bermain-main saja dengannya. Aku janji tidak akan mengulanginya,”sesal Woohyun.

“Aku tidak bisa memegang omonganmu,”

“Hyung…”

Woohyun terus meregek pada Sunggyu sementara Howon yang melihatnya hanya tertawa geli sejak tadi.

“Ya Lee Howon! Kau tidak ada hak untuk tertawa,”desis Woohyun.

“Haha maaf,”ucap Howon sambi menutup mulutnya dengan tangan.

Sunggyu terus menatap sinis Woohyun dengan mata sipitnya sementara adiknya melihat Sunggyu dengan pandangan memohon.

“Hyung aku capek. Aku berdiri y—“

“Tidak boleh!”potong Sunggyu.

Woohyun pun mendongkol didalam hatinya sambil mengumpat kesal untuk Sunggyu. Heh… harusnya dia tidak memilih untuk pergi kesini jika tahu akan mendapatkan hukuman sialan dari Sunggyu.

 .

Hari sudah malam dan saatnya Mijoo untuk pulang. Setelah membereskan semua berkas yang dia gunakan hari ini ia pun langsung melesat untuk menghampiri Jisoo yang sudah menunggunya dikedai minuman tempat mereka sering mampir. Mijoo memilih pergi kesana menggunakan taksi untuk tak membuat sahabatnya itu menunggu lebih lama.

 .

Sampai disana Mijoo sudah melihat Jisoo tengah meminum segelas soju. Ia langsung menghampiri Jisoo dan duduk disana. Baru saja datang Mijoo pun dihadiahkan pukulan maut oleh Jisoo.

“Ya!!”pekik Mijoo.

“Aish.. Kau tahu? Aku dibilang seperti orang ingin melayat ke kuburan! Mana disana ada Daeyeol Oppa!”kesal Jisoo.

“Haha… Kau lupa Jisoo-ya kemarin hari apa?”tanya Mijoo. ia menatap lekat sahabatnya itu yang masih sadar.

Pandangan kesal Jisoo berubah menjadi senduh saat mengingat hari itu. Hari dimana 2 tahun kematian Myungsoo dan juga suatu hal yang menyakitkan Mijoo.

“Mi..Mijoo-ya.. Aku melupakan itu, maaf..”lirih Jisoo.

“Tidak apa..”ucap Mijoo.

Ia menuangkan soju kedalam sebuah gelas dan langsung meneguknya tanpa jeda. Lagi dan lagi ia meminum soju itu tanpa sadar sudah menghabiskan satu botol. Jisoo yang niatnya ingin mabuk langsung mengurungkan niatnya dan menatap Mijoo yang frustasi.

“Aku merindukannya Jisoo-ya…”lirih Mijoo.

“Harusnya kemarin harus menjadi hari bahagia untuk kami tapi kenyataannya hari itu menjadi hari terburuk dalam hidupku. Jisoo-ya, aku merindukan Myungsoo oppa,”isak Mijoo.

Jisoo langsung mendekat pada Mijoo dan merangkul dirinya, mencoba menenangkan sahabatnya.

“Menangislah jika itu dapat meluapkan kesedihanmu Mijoo-ya…”

“Oppa..”isaknya.

“Kau harus maju untuk kedepannya Mijoo-ya. Masa lalu hanyalah masa lalu, tidak dapat kau ubah atau kembali kemasa itu. Carilah kebahagiaanmu aku yakin Myungsoo oppa senang jika kau melakukan itu bahkan dia akan sedih jika kau terus bersedih seperti ini,”nasehat Jisoo.

“Tidak.. tidak ada yang sama seperti Myungsoo oppa.”

“Jangan mencari yang sepertinya Mijoo. Itu sama saja membuatmu semakin sakit untuk membandingkan dia dengan orang baru itu,”

Namun percuma saja Jisoo berkata seperti itu, Mijoo menganggapnya seperti angin lalu dan malah sibuk menambah minumannya.

“Bibi 1 botol lagi!”pekik Mijoo.

 .

“Aigoo harusnya diet,”oceh Jisoo yang keberatan membopong badan Mijoo. Jisoo terus berusaha menghentikan sebuah taksi namun nihil tidak ada taksi yang kosong.

“Taksi!!”kata Jisoo. Lagi.. taksi itu melewatinya.

Namun tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti didepan Jisoo dan Mijoo yang tidak sadarkan diri itu. Keluarlah sosok seorang lelaki tampan yang tidak lain adalah Woohyun. Ia memperhatikan Mijoo dan Jisoo bergantian.

“Nona dia Lee Mijoo bukan? Ada apa dengannya?”tanya Woohyun.

“Dia mabuk terlalu banyak minum. Anda siapa?”tanya balik Jisoo karena merasa tidak mengenal Woohyun.

“Ah aku seniornya dikantor. Kenalkan Nam Woohyun,”balas Woohyun.

“Ah begitu.. Namaku Seo Jisoo, aku sahabatnya Mijoo.”terang Jisoo.

“Lalian sedang mencari taksi eoh?”Tanya Woohyun.

“Iya cuma tidak ada yang berhenti. Sepertinya tukang taksi itu tidak ingin uang,”oceh Jisoo.

“Bagaimana kalian saya antar?”

“Ye?”

 .

Sepanjang jalan menuju rumah sewa Mijoo suasana dimobil cukup sunyi sampai akhirnya Woohyun yang sedikit penasaran dengan kehidupan Mijoo bertanya kepada Jisoo.

“Kenapa dia mabuk seperti itu?”tanyanya.

“Dia akan meluapkan kekesalannya dengan minum. Dia memang seperti itu sejak 2 tahun belakangan ini. Tolong memaklumi perlakuannya ini,”jawab Jisoo tanpa sadar.

“Kenapa? Memang kenapa hidupnya 2 tahun belakangan ini?”

“Hmmm.. tidak ada yang penting. Aku takut membicarakannya nanti Mijoo akan marah padaku,”

“Sepertinya kalian benar-benar sahabat sejati ya,”

“Tentu saja. Aku dan Mijoo sudah berteman sejak SMP.”

Pada akhirnya Woohyun memberhentikan mobilnya didepan sebuah gang kecil. Woohyun keluar dari mobil membantu Jisoo untuk membopong Mijoo masuk kedalam rumahnya. Sementara Woohyun memegang Mijoo untuk sesaat Jisoo pun berusaha pintu rumahnya, untung saja ia memiliki kunci cadangan tersendiri jadi tidak perlu bersusah payah untuk membongkar tas Mijoo.

“Ayo masuk..”ajak Jisoo dan menunjukan kamar Mijoo.

Setelah selesai mereka berdua keluar dari kamar Mijoo dan langsung berbicara diruang tengah.

“Woohyun-ssi maaf merepotkanmu,”kata Jisoo.

“Tidak masalah untukku, ini tidak merepotkanku. Apa kau dan Mijoo tinggal bersama?”

“Tidak.. aku tinggal sendiri dirumahku tapi malam ini aku akan menginap disini,”

“Kalau begitu aku pamit pulang.”

Jisoo pun mengantarkan Woohyun kedepan dan setelah mobil Woohyun melesat pergi dia kembali masuk kedalam rumah.

 .

“Huaa Mijoo kita begitu cantik. Aku semakin mencintaimu Mijoo-ya.”

“Aku oppa. Kau juga tampan.. Aku juga mencintaimu,”

“Kita akan bersama selamanyakan oppa?”

“Tentu saja. Apapun yang terjadi walaupun aku tahu keluargamu tidak suka padaku..”

“Tenang saja oppa.. aku lebih memilihmu. Karena kau adalah kebahagiaanku dan kau akan selamanya bersamaku, benarkan?”

“Tentu! Kim Myungsoo akan selalu bersama Lee Mijoo.”

“Oppa!!”pekik Mijoo.

Mijoo terbangun dari tidurnya dan merasakan kepalanya pusing. Ia menoleh kesekitarnya mencari sosok yang selalu hadir didalam mimpinya.

“Oppa..”lirih Mijoo.

Jisoo yang terbangun akibat teriakan Mijoo langsung menghampiri sahabatnya itu dan bertanya.

“Mijoo-ya ada apa? Kau mimpi buruk?”tanya Jisoo panik.

“Tidak.. aku mimpi indah bersama Myungsoo oppa,”jawab Mijoo sambil tersenyum lirih dan tak lama kemudian diikuti oleh air mata.

“Jangan menangis! Myungsoo oppa tidak suka kau menangisinya,”

 .

.

.

TBC

 

Advertisements

7 thoughts on “When I’m Afraid.. [Chapter 1]

  1. hai. ini pertama kalinya gw ngunjungin blog ini.gw izn baca ya.

    hahaha.
    gw suka sama cast nya. salah satu bias gw di lovelyz dan bias teratas gw di infinite. wkwkwk.
    makasih udh nulis ff ini.

    lovelyz & infinite plus wollim boys. wah perfect. wollim stan.
    kekeke.

    cuma agak miris aja disini masa si myung udh mati, kasian. jd sedih gw

    gw gak ngerti deh sm woohyun, diawal dy ga tertarik jd mentor magang tp knp malah ngerjain orang. kirain gw dy baik eh gataunya sm aja. hahaha

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s