A Complicated Love Story [Chapter 11 – END]

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 :

“Tapi, bagaimana caranya?” Tanya Jungkook lagi.

“Pikirkan itu sendiri.” Minjae menghela napas berat, ia menegakan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Jungkook. Ia sudah tak mampu lagi menatap mata Jungkook, hatinya terasa sakit.

Minjae berjalan meninggalkan Jungkook dengan berat hati. Ia menyebrang untuk sampai di sisi jalan lainnya dan ketika ia sampai di tengah jalan, ia berbalik dan menatap Jungkook sendu.

Mian…”

BRAK!

“Lee Minjae!”

Ponsel Yein bergetar ketika yeoja itu sedang sangat malasnya untuk beranjak dari ranjangnya. Bayangan Jungkook yang menciumnya masih menari-nari di dalam pikirannya, hal itu membuat Yein merasa sedikit canggung dan bersalah kepada Minjae. Yein mencintai Jungkook dan ia sangat menikmati ciuman yang diberikan Jungkook padanya, tetapi hubungannya dengan Jungkook membuat hubungannya dengan Minjae menjadi lebih buruk.

Dengan sangat terpaksa, ia menerima panggil telepon dari Jungkook. Jungkook lagi.

Anyeong haseyeo, ada apa, Jungkook-ah?”

Yein mendengarkan perkataan Jungkook dengan bingung, namun lututnya tiba-tiba terasa lemas ketika Jungkook mengakhiri ceritanya. Tubuhnya jatuh ke lantai kamar yang dingin dan keras, pelupuk matanya kini terasa basah.

“Minjae-yamianhe…”

~~~

“Apa yang sesungguhnya terjadi?”

Seokjin mengangkat kerah Jungkook agak tinggi, namja itu bahkan sampai terangkat sedikit. Ia memojokan Jungkook di dinding dan menatapnya tajam. Sementara Jungkook, namja itu hanya diam dan tak berani mengucapkan sepatah katapun.

“Jawab aku, Jeon Jungkook!”

Mian.”

Buagh!

Seokjin melayangkan tinjunya di perut Jungkook dengan keras, bibir dan tangannya bergetar menahan amarah. “Maaf? Kau bilang maaf? Aku menanyakan penjelasanmu, bukan maafmu. Jawab aku, Jeon Jungkook!”

“Aku tidak melakukannya-“

Buagh!

Seokjin meninju perut Jungkook lagi, membuat namja itu meringis karena rasa sakit di perutnya. Seokjin menatap Jungkook marah, “Lalu siapa yang melakukannya, hah?”

“Minjae melakukannya sendiri. Dia berhenti di tengah jalan dan meminta maaf padaku, lalu ia… tertabrak.” Balas Jungkook kaku.

“Jadi kau hendak menyalahkan Minjae lagi? Baik, jika Minjae memang melakukannya, mungkin kaulah penyebab ia melakukan hal itu. Kau selalu menyakitinya, kau selalu memaksanya untuk melakukan apapun yang kau mau, setelah itu kau meninggalkannya. Kau pengecut, Jeon Jungkook!” Seru Seokjin tajam.

Jungkook hanya diam, lututnya terasa lemas dan ia sangat tak berdaya di hadapan Seokjin sekarang. Jungkook menatap Seokjin nanar, bibirnya terbuka tapi tak ada sepatah katapun yang meluncur keluar.

“Aku tidak berbohong…”

Seokjin menatap Jungkook kesal, namun ia segera melepaskan kerah baju Jungkook dari tangannya. Hal itu membuat Jungkook langsung jatuh dan terbatuk-batuk, Seokjin menatapnya dingin. Lalu, tanpa berkata apapun, ia pergi meninggalkan Jungkook.

Jungkook bangkit dan duduk di kursi lorong, ia menghela napas pelan. Segalanya berubah menjadi lebih rumit lagi, keputusan untuk meminta maaf dan berbicara dengan Minjae adalah salah, hal itu malah membuat yeoja itu celakanya. Tak hanya itu, jika terjadi sesuatu dengan Minjae, maka Yein juga akan tersakiti. Lagi.

“Jungkook-ah?”

Jungkook menoleh dan mendapati Yein berdiri tak jauh darinya. Pelupuk mata yeoja itu terlihat basah dan wajahnya pucat. Yein berjalan ke arah Jungkook, duduk di sampingnya dan terdiam.

“Apa Minjae baik-baik saja?”

Jungkook hanya diam tak menjawab. Ia benar-benar tak tahu bagaimana keadaan Minjae sekarang.

“Jungkook-ah.”

Ne?”

“Apa yang kau lakukan pada Minjae?”

Jungkook terdiam. Sungguh, ia benci ketika Yein menanyakan hal itu. Tapi tunggu, apakah ia yang membuat Minjae berani menabrakan dirinya sendiri?

“Aku… tidak melakukan apapun.” Jawab Jungkook kaku.

Yein menatapnya tak percaya, “Bohong.”

“Aku tidak berbohong!”

“Kalau begitu, jelaskan padaku, apa yang terjadi?” Seru Yein kesal sambil berdiri dari duduknya.

Jungkook menoleh, menatap Yein nanar. Apa yang dikatakan Seokjin memang benar, dia pengecut. Benar-benar pengecut. Yang bisa ia lakukan adalah mendapatkan hati seorang yeoja, lalu meninggalkannya. Jika sudah begini, Jungkook tak tahu harus berkata apa.

Mian…”

“Maaf tidak cukup untuk ini semua!” Kilah Yein. Tubuh yeoja itu gemetar hebat, ditatapnya Jungkook dengan tatapan marah dan sedih. Air matanya kembali mengalir. “Kau pikir siapa Minjae, hah? Orang yang bisa dengan mudah kau dapatkan, lalu kau tinggalkan? Jeon Jungkook, kau sungguh namja pengecut! Kau hanya memanfaatkan yeoja lain untuk kepuasanmu sendiri, aku membencimu!”

Jungkook berdiri. Mendengar Yein berkata seperti itu, hatinya terasa sakit. Ditatapnya Yein tajam, tapi, Jungkook tiba-tiba memeluknya. Membiarkan Yein bersandar pada dadanya dan menangis sepuasnya. Jungkook dapat mendengar Yein menyebut-nyebut nama Minjae dan menyalahkannya. Jungkook tak peduli. Ia tahu ia salah dan ia sangat ingin memperbaiki kesalahannya itu. Ia menyesal.

“Dengar, tenanglah dan aku akan menceritakan segalanya.”

~~~

Yein sudah tahu semuanya. Yein sudah tahu bahwa Minjae melakukan percobaan bunuh diri, Yein tahu. Hal itu membuat hati Yein sakit, Minjae tak pernah seperti ini. Yang Yein tahu, Minjae adalah seorang yeoja yang kuat dan selalu tersenyum. Untuk pertama kalinya, hanya karena seorang Jeon Jungkook, Minjae berani menabrakan dirinya sendiri.

Mian, mianhe. Kumohon, sadarlah…”

Yein menggenggam lengan sahabatnya itu. Minjae, sahabatnya, kini terbaring lemah di rumah sakit. Sudah 3 hari ia berada disini, tapi yeoja itu tak kunjung sadar. Dokter berkata bahwa lukanya cukup parah, hal itu membuat Yein merasa sangat khawatir.

Sejak 3 hari yang lalu, hubungannya dengan Jungkook semakin menjauh. Yein membenci Jungkook, tapi ia juga sangat mencintai namja itu. Jika seandainya terjadi sesuatu pada Minjae, Yein tak akan pernah memaafkan Jungkook.

“Yein-ah.”

Yein terdiam, ia sama sekali tak menoleh ketika mendengar suara seseorang yang dikenalnya itu. Tapi, orang itu tak menyerah dan terus memanggilnya, “Yein-ah…”

N-ne?”

“Kumohon, dengarkan aku.”

Yein berdiri dari duduknya, berbalik dan menatap orang yang memanggilnya tersebut. Jeon Jungkook, namja itu kini tengah berdiri di ambang pintu. Menatap Yein dengan tatapan memohon.

“Apa yang harus kuketahui?” Tanya Yein pelan. Ia berusaha bersikap dingin, tapi ketika ia menatap mata Jungkook, semua sikap dinginnya itu hilang begitu saja.

Mian, jeongmal mianhe, Yein-ah. Maafkan aku, kumohon jangan membenciku.” Pinta Jungkook.

Yein terdiam, tak mampu mengucapkan apapun. Walau bagaimanapun, Minjae adalah sahabatnya. Ia mencinta Jungkook, tapi ia tak bisa membiarkan sahabatnya disakiti oleh orang lain.

“Kumohon, tinggalkan aku sendiri. Aku tak bisa menjawab permintaanmu sekarang, jadi pergilah.” Ujar Yein.

Jungkook nenghela napas, menatap Yein dengan tatapan memohon. Tapi Yein tetap teguh pada pendiriannya, ia tak ingin menyakiti Minjae lagi.

“Pergi.”

Jungkook nenghela napas, lalu ia berbalik. Rasanya berat, namun ia harus tahu dimana letak kesalahannya. Untuk pertama kalinya, ia mengerti bagaimana persaan Minjae dan Yein ketika ia menyakiti mereka.

“Tunggu!”

Napas Yein tercekat, sementara Jungkook menghentikan langkahnya. Baik Yein dan Jungkook tak dapat mempercayai apa yang mereka dengar, suara yang sangat mereka kenali. Suara itu…

“Kumohon, berbaliklah.”

Suara Minjae.

Jungkook dan Yein berbalik, menatap Minjae dengan tatapan tak percaya. Sementara Minjae, yeoja itu hanya tersenyum tipis sambil memandang kedua temannya itu.

Ya, jangan menatapku seperti itu.”

“Minjae, kau…”

Yein segera menghambur ke dalam pelukan Minjae, tangisnya pecah seketika. Minjae hanya terdiam, tangannya bergerak dan membalas pelukan Yein dengan lembut. “Jangan menangis.”

Gwaechana?” Tanya Jungkook pelan, sementara Yein melepas pelukannya.

“Maaf, maafkan aku.” Ujar Minjae tanpa menjawab pertanyaan Jungkook, “Aku tak ingin hubungan kalian hancur. Aku merasa sangat bersalah, benar-benar bersalah.”

“Itu bukan salahmu.” Ujar Yein pelan.

“Itu bukan salah siapapun.” Tambah Jungkook, “Itu sudah takdir. Semua yang kita alami selama ini, semua ini adalah takdir. Tidak ada yang perlu disalahkan, kita hanya perlu memulainya dari awal.”

Jungkook menghela napas berat. Keheningan kembali menyelimuti mereka, hingga akhirnya, Minjae membuka suara.

“Kita akan memulainya dari awal, tapi kita juga akan melangkah maju. Bukan, bukan kita, maksudku adalah kau dan Yein.” Ujar Minjae pelan.

Yein terdiam, menatap Minjae dengan tatapan bingung. “Mwo? Apa maksudmu?”

Minjae meraih lengan Yein dengan sisa kekuatannya, napasnya terasa sesak, tapi ia mencoba untuk kuat. “Maafkan aku. Terima kasih atas segalanya, kalian semua menjadikan hidupku jauh lebih bearti. Sekali lagi, maaf.”

“Tidak! Jangan ucapkan hal itu!”

“Yein-ah, kita harus menghadapi semua ini. Jika aku memang harus berakhir disini, aku merasa sangat bahagia memiliki kalian semua.” Ujar Minjae lagi, kali ini sambil tersenyum tipis.

“Tidak, kumohon, bertahanlah. Kau harus bertahan, Minjae-ya! Kau harus!” Seru Yein sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau menyayangiku, bukan?”

Yein mengangguk cepat.

“Persahabatan akan ada selamanya, biarpun sahabatmu itu telah pergi meninggalkanmu. Kalian berdua harus melanjutkan kehidupan kalian, percayalah, semuanya akan baik-baik saja.” Bisik Minjae lagi.

“Kumohon…”

“Yein-ah, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Manusia pasti akan meninggalkan kehidupan yang mereka jalani, semua itu adalah takdir. Kita tak dapat mengelak darinya, kita tak dapat mencegahnya. Kau harus sembuh dari penyakitmu, aku tahu kau bisa sembuh. Kau, Jungkook dan Seokjin harus terus melangkah maju, mengerti? Berjanjilah untukku.” Pinta Minjae sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Yein terdiam sesaat, lalu ia mengangguk. Jarinya gemetar ketika ia mengaitkannya dengan jari kelingking Minjae, “Aku janji…”

Minjae tersenyum tipis. Bayangan Yein dan Jungkook mulai kabur, tapi Minjae merasakan bahwa ketenangan kini menyelimutinya. Bibirnya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, tapi telinganya masih dapat mendengar Yein meneriakan namanya. Teriakan Yein semakin lama semakin mengecil, sehingga ia tak dapat mendengar apapun. Cahaya putih mengelilinginya, bersamaan dengan memudarnya senyuman Minjae dan matanya yang menutup.

“LEE MINJAE!”

Minjae pergi dengan tenang, menyisakan kenangan dan kesedihan yang mendalam.

2 years later

Yein menatap peti kecoklatan itu dengan tatapan sendu. Peti itu, tempat dimana abu Minjae disemayamkan. Sudah dua tahun sejak kepergian sahabatnya itu, tapi Yein masih tidak dapat merelakannya.

Kondisi Yein mulai membaik, lebih tepatnya, kankernya sudah hilang. Ia sehat, sembuh dan tidak menderita apapun lagi. Yein menjalani kehidupannya dengan normal. Begitupun dengan kedua temannya. Jungkook, hubungannya dengan keluarganya mulai membaik. Sementara Seokjin, namja itu mulai bisa menerima semua yang terjadi pada dirinya. Semuanya menjadi lebih baik.

Yein melonjak kaget ketika seseorang menyentuh bahunya, ia menoleh dan mendapati Jungkook dan Seokjin tersenyum kepadanya. Yein membalas senyuman tersebut.

“Jangan terlalu larut dalam kesedihan.” Pinta Jungkook, Yein hanya terdiam. “Biarkan Minjae beristirahat dengan tenang. Semua perjuangannya telah berakhir, kau harus merelakannya. Ingatlah janjimu kepadanya, kau harus melangkah maju dan tidak terjebak dengan masa lalu.”

Yein terdiam, ia menatap peti coklat itu. Pandangannya tertuju ke arah bingkai yang terpampang di atas peti itu, bingkai yang berisi foto Minjae. Yein bersyukur karena Minjae terlihat bahagia di saat-saat terakhirnya.

“Kuatkan hatimu.” Bisik Seokjin menambahkan. Yein tersenyum tipis, ia segera berdiri dari duduknya. Seokjin dan Jungkook ikut berdiri, menatap yeoja itu dengan penuh arti.

“Aku tak akan mengingkari janjiku.”

Sebuah senyuman terlukis di bibir ketiganya. Segala hal yang mereka hadapi kini menjadi lebih berarti, seakan-akan mereka menemukan titik terang dalam kehidupan mereka masing-masing.

Jungkook menatap Yein dalam, seakan ingin mengatakan sesuatu. Seokjin menangkap tatapan itu dan tersenyum, sudah waktunya bagi Jungkook dan Yein untuk bersatu.

“Aku harus pergi. Sepertinya kalian harus bicara tentang sesuatu, selama tinggal!” Ujar Seokjin, lalu ia berlari meninggalkan Jungkook dan Yein sambil tersenyum tipis.

Yein menatap Seokjin bingung, tak mengerti apa maksud perkataan Seokjin. Yein mengalihkan pandangannya ke arah Jungkook, pandangan keduanya saling bertemu.

“Ada apa?”

“Aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi milikku.”

Perkataan Jungkook membuat Yein terkejut. Pipi Yein memerah, ia tak berani menatap mata Jungkook lagi. Jungkook menatapnya sambil berharap-harap cemas, Yein menghela napas.

“Yah, ada seseorang yang selama ini sudah menarik hatiku.” Ujar Yein, hal itu membuat Jungkook menatap Yein putus asa. Tapi Yein tersenyum, “Seseorang dengan topeng, aku tidak tahu siapa. Aku dan Minjae menyebutnya ‘pangeran berkuda putih.’ Memang terdengar sedikit aneh, tapi itu adalah kenyataan. Ia selalu ada ketika aku membutuhkan pertolongan, ia selalu membantuku.”

“Ah, ya, aku ingat kau pernah menceritakan hal itu padaku. Kau berkata padaku bahwa kau akan memberikan apapun pada ‘pangeran’-mu itu, bukan?” Tanya Jungkook.

Ne.”

Jungkook mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah topeng. Yein terkejut, ia mengenali topeng tersebut. Jungkook tersenyum simpul ketika ia melihat perubahan ekspresi Yein, topeng itu…

“K-kau… apakah kau orang yang selama ini kupanggil ‘pangeran berkuda putih’?” Tanya Yein tak percaya, Jungkook mengangguk.

“Kau bilang akan memberikan apapun, maka, berikan aku cintamu. Jadikan aku milikmu, Jeong Yein.” Pinta Jungkook.

Yein terdiam, tak berani mengucapkan apapun. Pipinya memanas dan perutnya terasa geli, entah perasaan apa yang menguasai Yein saat ini. Menatap mata Jungkook saja, Yein tak sanggup.

“Aku… aku juga mencintaimu.”

Jungkook tersenyum, ditariknya lengan Yein sehingga posisi keduanya semakin dekat. Tatapan mata keduanya kembali bertemu, Yein dapat merasakan jantungnya yang berdetak tak terkendali.

“Terimalah aku, jadikan aku milikmu, Jeong Yein.”

Yein tersenyum tipis, lalu ia mengangguk. Jungkook menyentuh pipi Yein dan menangkupkan kedua tangannya di pipi yeoja itu. Yein tahu apa yang akan Jungkook lakukan, tapi ia tidak tahu apakah ia siap ataukah tidak. Sebelum Yein sempat mengelak, Jungkook sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya pada bibir Yein.

Yein masih mengingat dengan jelas perasaan yang ia dapat ketika Jungkook menciumnya, masih sama seperti ciuman pertama mereka beberapa waktu yang lalu. Yein tahu ciuman itu tulus, Yein bersyukur karenanya.

Baik Jungkook, Yein dan Seokjin sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi mereka berjanji, untuk terus melangkah maju. Dan mereka yakin, jika mereka percaya pada diri mereka sendiri, semuanya akan baik-baik saja.

Memilih antara cinta dan persahabatan sesungguhnya sangat sulit. Tapi jika kau percaya akan cinta dan persahabatan, kau tak perlu memilih satupun diantara keduanya – Jeong Yein.

END

#HelaNapas

AKHIRNYA, SELESAI JUGAAA!!!

Aku gak tau akhirnya tuh Happy Ending atau Sad Ending. Aku juga sama sekali gak ngerti sama akhirnya /loh?/ jadi, aku minta maaf kalau akhirnya tuh GaJe yaaa 😦

Jujur, susah banget nyari ending yang tepat, makanya aku lama banget update-nya -__-

Oh ya, aku sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin walaupun terlambat. Terutama, buat para readers, maafin aku karena suka update ACLS lama banget 😦

Satu lagi, aku mau bikin FF Chaptered lagi nih. Ada yang setuju gak? Hahaha… Aku udah ada preview posternya, plot-nya juga udah ada. Tapi, aku gak janji bisa update cepet-cepet per Chapter-nya, ada yang setuju?

(Preview poster)

Poster by Aqueera @ Poster Channel

Poster by Aqueera @ Poster Channel

Btw, apa cuman aku yang ngerasa kalau Yein & Jisoo itu mirip?

Setuju gak? Kalau setuju, aku langsung buat teaser-nya xD

Oke deh, semoga suka ya sama ending-nya huahaha…
Makasih juga buat readers yang selama ini mau comment, nge-like atau yang cuman nge-read tanpa comment/like doang. Aku menghargai sekali /eaa… bahasanya…./

Jangan lupa comment & like-nya ya, makasih banyak 🙂

Advertisements

18 thoughts on “A Complicated Love Story [Chapter 11 – END]

  1. Setuju thor, Yein sama Jisoo lumayan mirip hehehe…
    Ending-nya menyedihkan, FF ini sukses bikin aku nangis T_T ditunggu FF selanjutnya ya, yang ‘Flahsback’ itu kayaknya seru deh /padahal gak tau apa-apa/plak!/
    Fighthing, thor!

    Like

    • Iya, Jisoo sama Yein mirip, ternyata bukan aku doang yang ngerasa^^
      Masa sih, sampai nangis? kayaknya gak mungkin deh, kukira ini sad-nya fail 😦 tapi makasih banyak lho
      Kalau banyak yang setuju, aku bakal buatin FF selanjutnya, tapi aku gak tau bakal seru atau enggak /nah, loh?/
      Makasih udah ngikutin ACLS dari awal sampai akhir 🙂 makasih juga udah baca & komen

      Like

  2. THOR, KENAPA MINJAE HARUS MATI?
    Sumpah, aku nagis lho huhuhu 😦 lah, kalau Minjae mati dan Jungkook sama Yein, Seokjin gimana? Nista banget sumpah huahaha xD
    Aku setuju banget kalau Author mau bikin FF Jeong-In lagi, diriku mendukung kok ^^. Semangat nulisnya ya thor, ditunggu FF selanjutnya

    Like

    • Aku gak tau, mungkin itu sudah takdir /apaan sih/lebay/
      Seriusan nih, kamu nangis? Kayaknya gak mungkin deh xD sad-nya fail huhuhu…
      Buat ‘Flashback’ kalau banyak yang setuju, nanti aku buatin. Jadi, ditunggu aja ya^^
      Makasih udah ngikutin ACLS dari awal sampai akhir 🙂 makasih juga udah baca & komen

      Like

  3. Endingnya bagus, bikin nangis T_T
    Menurutku sih, happy ending buat Jeong-In, Sad ending buat Minjae (Karena dia mati T_T), dan Ending yang tidak aku ketahui(?) buat Seokjin /ini apa coba/
    Jisoo sama Yein mirip kok, tapi Jisoo lebih mirip sama Halla.. Aku tunggu banget loh thor FF barunya, suka banget sama FF Author ><

    Ditunggu FF Selanjutnya, fighthing!

    Like

    • Uwaaa… makasih banyak ya 😀
      Endingnya memang rada aneh, mohon maaf ya 😦
      Iya, menurutku sih Jisoo, Yein sama Halla mirip satu sama lain (Berarti mereka mirip sama Jungkook juga, menurutku yaaa). Aduh, makasih banyak lho, kalau banyak yang setuju, aku bikinin FF-nya deh^^
      Makasih udah ngikutin ACLS dari awal sampai akhir 🙂 makasih juga udah baca & komen

      Like

  4. Aaaa 😢 akhirnya ending nya sesuai dengan harapanku. Yein sembuh dan mereka bersatu 😂. Thanks thor,ff nya emang bagus bangettt 👍. Dan buat ff selanjutnya ditunggu ya.. tapi kadang aku suka mikir kalo Yein-Jisoo-Halla itukan mirip,tapi yang mirip Jungkook cuma Yein doang 😅,matanya memang Jungkook-Yein doang yang mirip. Dan asalkan couple utamanya Jungkook-Yein di ff itu aku pasti SETUJU 😉. Fighting ya 💪❤

    Like

    • Iya, Yein, Jisoo sam Halla menurutku memang mirip. Jisoo sama Halla mirip banget, kalau Jungkook sama Yein udah ketahuan /jadi bingung../
      Couple utamanya memang Jungkook dan Yein kok ^^. Ditunggu aja FF-ku yang selanjutnya ya
      Makasih udah ngikutin ACLS dari awal sampai akhir 🙂 makasih juga udah baca & komen

      Like

  5. iyaa, dulu waktu bedain yein sama jisoo agak sulit. matanya sama, aku bedain dari bibirnyaaa ..

    tapi jangan cinta segitiga lagi dong thor, bikin yang fluff aja hehe

    Like

  6. Well, ini menurutku happy ending. Dibalik semua happy ending, harus ada pengorbanan yang ngerasain sad ending di mana-mana. Contohnya siapa yang jadi peran antagonis pasti sad ending pas ada happy ending bagi protagonisnya meskipun kadang sedikit ada happy ending buat mereka. Abaikan, ini mulai sok tahu
    Tuh kan tebakanku benar, kalo pangeran di pesta dansa pasti Jungkook, makanya rada nggak mungkin kalo ada cast baru di akhir.
    Minjae meninggal, Seokjin stres ya? 😀 Beneran deh, sampai akhir pandanganku itu Seokjin sayang banget sama Minjae, entah sebagai sahabat atau yang lain. Makasih atas ACLS seriesnya yang bikin aku jadi mendayu-dayu dalam genre sad 😉
    Untuk ff barunya diatas, aku tunggu. Yein sama Jisoo memang mirip, apalagi di candy jelly love mv, kalp di foto atau apa sih mungkin nggak terlalu ya. Well, aku sih berharap ff ini sadnya berkurang dari ACLS, kalo bisa sih fluff aja 😀 Tapi terserah sih, ditunggu ff lainnya, keep writing~ ❤

    Like

    • Sebenarnya ya, yang antagonis itu Jungkook & Seokjin(?) cuman ditengah-tengah sikap mereka berubah jadi gak jelas /abaikan/
      Kayaknya udah ketahuan banget kalau pangerannya itu Jungkook, hahaha 😀
      Seokjin gak stress, dia cuma merasa kehilangan /sok tahu lu, thor/ tapi iya, Seokjin emang sayang banget sama Minjae. Sebenarnya aku juga gak tau Seokjin tuh cinta atau enggak sama Minjae /slapped/
      Untuk FF barunya, aku udah selesai bikin teaser-nya, mungkin akan aku post setelah ini ^^. Yein sama Jisoo emang mirip di MV CJL
      Wah, aku gak bisa bikin fluff 😦 bisanya bikin yang sad mulu hahaha… tapi kita berharap aja ya, semoga FF baruku gak terlalu sad ^^
      Makasih udah ngikutin ACLS dari awal sampai akhir 🙂 makasih juga udah baca & komen

      Like

  7. Ini sih happy ending ya thor 😀
    setelah sekian lama dibuat baper ama ni ff, selesai juga pada chapter ini dan sangat memuaskan :* 😀

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s