Merry-Go-Round – Amusement Park [Yein Ver.]

merry go round

Xika Nisha || Yein (Lovelyz) || Jungkook (BTS) || FICLET || romance || pg-13

Disclaimer : fanfiction milik saya! Jika ada kesamaan, mungkin faktor ketidaksengajaan!

Soulful Magician | Baloon | The Calm Manager

..

“Aku hanya ingin merasakan

Takdir yang menyelimuti kita”

Yein tersenyum saat melihat kalender. Tanggal yang terlingkar cantik dengan warna merah muda itu membuatnya menjadi mencolok. Hari ini ulang tahunnya. Yein tepat berumur tujuh belas tahun. Pesan ucapan memenuhi inbox ponselnya. Jangan lupa ucapan selamat ulang tahun dari kedua orangtuanya. Di sekolah pun tak jauh beda. Teman-temannya berbondong-bondong menyelamatinya.

Sweet seventeen.

Gadis itu tersenyum sendiri mengingat fakta tersebut. Ia sudah besar dan memasuki fase dewasa. Mungkin setelah ini orangtuanya tidak perlu repot mengkhawatirkan Yein jika ia kelayapan. Ugh… betapa menyenangkan saat itu.

Tapi bukan itu alasan Yein tidak bisa memendam senyumnya. Ada hal yang penting untuk dilakukan saat ini. menepati janji masa kecilnya.

Di depan komidi putar, Yein meremas tali tas selempangnya. Rasa gugup membuncah saat melihat tempat dimana kenangan sepuluh tahun lalu terjadi. Ia berada di taman bermain sendirian. Dengan memakai kaus putih dan rok biru muda di atas lutut. Rambut panjangnya ia kepang ke samping. Yein terlihat manis dengan penampilannya.

Sepuluh tahun yang lalu. Lebih tepatnya di hari ulang tahunnya, Yein kemari bersama orangtuanya. Di umur tujuh tahun, si kecil Yein sangat bersemangat saat masuk ke taman bermain. Ia ternganga dengan wahana-wahana yang ditampilkan.

Si polos Yein jatuh cinta dengan pemandangan cantik ini.

Terlalu banyak dibacakan dongeng, membuatnya pintar berfantasi. Dan fantasinya semakin menjadi-jadi dengan datangnya ia kemari. Bagi Yein, taman bermain seperti istana. Tempat dimana putri-putri memakai gaun terbaiknya. Ia betah di sini.

Karena tidak ingin terkekang oleh tangan-tangan besar ibu dan ayahnya, Yein melepaskan diri. Menurutnya, ia sudah besar. Tidak perlu penjagaan yang terlalu ketat. Kedua orangtuanya pun mengabulkan keinginan Yein.

Layaknya burung yang keluar dari sarangnya, gadis kecil itu berlari menjauh. Ia ingin sebebas-bebasnya berada di tempat ini. mengabaikan teriakan khawatir kedua orangtuanya untuk tidak lari dan menghilang. Saking bahagianya menikmati pemandangan yang tersaji, ia tidak menyadari jika ayah dan ibunya sudah tidak ada di belakangnya.

Menemukan ia sudah sendirian, membuat Yein jadi panik. Tidak ada orang yang ia kenal. Semua orang dewasa yang melewatinya seperti raksasa yang menyeramkan. Rasa takut menyelimutinya. Yein melihat ke sekeliling, mencari ayah dan ibunya.

Tidak ada.

Tubuh mungil Yein tertabrak orang-orang dewasa yang tidak mengetahui kehadirannya. Dengan susah payah, ia mencoba keluar dari lautan manusia yang seperti akan menghancurkannya. Yein berlari dengan susah payah, hingga ia berhasil keluar.

Nafasnya putus-putus. Gadis kecil itu memegang kedua lututnya. Jika ia  tahu mengumpat, ia pasti akan mengumpat dengan keras kepada seluruh manusia dewasa tidak tahu diri itu. Matanya mulai basah. Ia takut sendirian disini. tempat ini terasa menakutkan sekarang tanpa ayah dan ibunya.

Yein takut.

Ia mencoba berdiri, walau dadanya masih terasa sesak. Saat itulah pandangan matanya menangkap komidi putar yang cantik. Karena hari sudah semakin sore, lampu-lampunya mulai dinyalakan. Warna oranye memendar cantik di sekitarnya. Kuda, kereta kencana, dan patung hewan aneh lainnya berputar-putar dengan perlahan.

Yein terpesona dengan pemandangan dihadapannya. Rasa menyiksa di dada tadi seakan hilang tak berbekas. Ini pertama kalinya Yein melihat komidi putar. Ugh… ingin sekali ia naik dan merasakan keseruannya.

“Cantik, ya?!” tiba-tiba suara anak laki-laki mengagetkannya. Bahkan Yein sampai melompat. “Ugh… aku ingin naik.” Anak kecil asing itu kembali berbicara. Mata kecil Yein mengamati anak laki-laki asing itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Yein kembali terkejut saat anak itu mendadak melihatnya. Pandangan mata yang polos dan terkesan nakal terpancar jelas disana. Ia menatap lekat-lekat Yein, membuat gadis itu gugup. Senyum merekah begitu saja di wajahnya.

“Hai! Namaku Jeon Jungkook.”

Satu dua kali Yein berkedip. Speechless. Lelaki kecil ini aneh. Tidak ada yang mengajaknya kenalan, ia tiba-tiba menyebutkan namanya. Bukankah makhluk ini sangat aneh.

“Namamu siapa?” Yein kembali terkejut. Astaga, sudah berapa kali ia terkejut karena kelakuan anak lelaki bernama ‘Jeon Jungkook’ ini. “Jika ada orang yang bertanya, harusnya dijawab. Jangan buat aku mati penasaran.”

Memangnya penasaran bisa buat mati?

Ragu-ragu Yein menjawab, “Ju-jung… Yein.”

“Nama yang bagus,” komentarnya. Tanpa Yein sadari, ia merona. Pujian yang mampu membuatnya terbang tinggi. Itu berlebihan.

Jungkook merogoh kantung celananya. Tidak mendapatkan di bagian yang kanan, ia merogoh lagi yang kiri. Susah payah ia mengambil benda yang ada di sakunya, hingga lidahnya terkeluar sedikit.

Sebenarnya apa, sih, yang dia ambil?

“Ah, disini kau!” Jungkook langsung menarik sehelai sapu tangan warna merah marun dari saku kirinya. Bertambah lagi keanehan yang didapat Yein pada Jungkook. Ia bertanya-tanya, apakah Jungkook itu waras.

“Nah!” ia menyodorkan sapu tangan itu ke Yein.

“Hah?” tanpa sadar gadis kecil itu mengeluarkan keheranannya. Alisnya tertekuk sempurna. Semakin heran dengan tingkah laku Jungkook. “Buat apa?!”

“Untuk menghapus bekas tangisanmu. Lalu buat apa lagi? Kau jelek sekali dengan wajah seperti itu.” jelasnya. orang aneh ini punya tingkat perhatian yang tinggi rupanya, membuat Yein jadi terharu.

Tanpa sungkan-sungkan ia mengambil sapu tangan itu. menghapus bekas-bekas lelehan air mata yang menghiasi wajahnya. “Terima kasih.” Yein bicara sambil menangis. Ia kembali menangis karena perhatian Jungkook padanya. Sedangkan Jungkook cuma nyengir melihat kelakuan gadis itu.

Gadis yang menarik perhatiannya sejak pandangan pertama.

Yein mengembalikan sapu tangan itu setelah ia menggunakannya. Tapi Jungkook menolak. “Kembalikan sepuluh tahun lagi.”

“Kok gitu?” protes Yein.

“Pokoknya kembalikan sepuluh tahun lagi!” Jungkook mulai keras kepala.

“Kenapa harus sepuluh tahun lagi?”

“Biar kita bisa bertemu lagi.” Senyum yang terus tertempel di wajah Jungkook semakin melebar. Ucapan asal-asalannya mampu membuat pipi Yein merona lagi. Wow, hebat sekali lelaki kecil ini. Mampu membuat Yein merasa aneh dari biasanya. Jangan-jangan keanehan Jungkook menular kepadanya?

Tapi pada akhirnya mereka saling mengikatkan jari kelingking dan berjanji sepuluh tahun lagi mereka akan bertemu. Disini.

Sampai sekarang janji itu terus diingat Yein. Ia ingin mengembalikan sapu tangan merah maruh dengan inisial ‘J.K’ yang dijahit dengan benang emas. Gadis itu sudah berjanji, dan ia harus menepatinya. Ada ragu di hatinya mengenai Jungkook ingat atau tidak mengenai janji mereka. Walau masih ada ragu, Yein tetap akan menepati janjinya.

Kakinya sudah kesemutan, tapi Yein tidak ada niat untuk bergerak dari tempatnya. Tepat sepuluh tahun yang lalu, ia berdiri disini. memandang komidi putar yang sama. Perubahan mungkin hanya pada warna cat yang lebih cerah dan modern.

Pukul lima lewat lima puluh sore. Artinya sudah dua setengah jam Yein berdiri disana, seakan menjadi patung hidup. Helaan nafas keluar begitu saja. Yein menyerah. Lelaki kecil itu melupakan janjinya sendiri. Menimbulkan kekecewaan besar di hatinya. Rasa kecewa itu membuat matanya panas, dan tidak kuasa lelehan air mata keluar begitu saja. Yein bukan gadis cengeng, tapi hanya karena hal sederhana ini saja ia menangis.

Tapi bagi Yein ini bukanlah hal yang sederhana.

“Sayang aku tidak punya sapu tangan untuk menghapus tangisanmu.”

Suara itu membuat Yein terkejut. Dengan gerakan kaku ia menolehkan kepala. Disampingnya ada lelaki yang terlihat seperti seumurannya, berpenampilan dengan seragam warna oranye dan hitam. Khas seragam taman bermain ini. snapback warna oranye gelap terpasang pas di kepalanya. Menampilkan sisi keren.

“Halo Jung Yein!” Senyum lebar menghiasi wajah si lelaki. Senyum yang terasa familiar dibenak Yein. Perlahan otaknya menyusun memori sepuluh tahun yang lalu. Memori tentang anak kecil dengan senyum lebar diwajahnya.

“Jeon… Jungkook?”

Setelah dua kata itu terucap, perlahan terdengar musik klasik. Komidi putar itu mulai bergerak. Berputar serasi dengan musiknya. Lampu-lampu berwarna keemasan memancar diantara komidi putar itu. menambah keindahannya. Jangan lupa langit oranye yang akan menggelap sebentar lagi.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Dan saat itu juga, Yein yakin ini adalah kado terhebat yang pernah Tuhan berikan padanya.

END


maaf terlambat update seriesnya. sejak masuk SMA udah sibuk banget, jadi jarang nyempetin buat lanjut.

minta maaf, ya 😛

Advertisements

12 thoughts on “Merry-Go-Round – Amusement Park [Yein Ver.]

  1. uh bisa kasih sequel gak thor? kelanjutan mereka setelahnya gimana? ceritanya sweet banget.. 👍👍👍👍👍👍👍

    Like

  2. baru berkunjung lagi dan langsung baca fic jeong-in itu…. surgahhhh~~~~ ((kemudian disemprot baygon))

    ciedah dari kecil jungkook udah modus aja sama yein, gimana gedenya… enak banget lagi langsung minta dibalikin sepuluh tahun lagi. untung yein ga pikunan jadi inget dan balik lagi ke merry go roundnya ((tepuk tangan sendiri))

    semoga ada progress ceritanya di sekuel gitu misalnya ((ngode)) ((langsung diinjek author))

    Like

  3. Pingback: Ice Cream – Amusement Park Series [Kei Ver.] | Lovelyz Fanfiction Indo

  4. Pingback: Beautiful Song – Amusement Park Series [Sujeong ver.] | Lovelyz Fanfiction Indonesia

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s