Someday For You (Oneshoot)

Standard

someday for you

Title    :  Someday For You

Story by : 29Megumi / Megumi (@0729yes)

Cast : Jeon Jungkook (BTS), Jeong Yein (Lovelyz)

Support Cast : Lee Mijoo (Lovelyz) Ryu Sujeong  (Lovelyz)

Genre : Romance, sad, Drama, Angst

Length : Oneshoot

Rate : PG – 16

Summary :

.

.

Suatu hari, aku akan melakukan yang terbaik untukmu

Suatu hari, aku akan memberikan sesuatu padamu

Suatu hari nanti, aku janji aku akan membalas semua yang kau berikan padaku.

Suatu hari, aku yang akan membantumu

Suatu hari,

 

 

 

Bisakah kau tidak mengatakan suatu hari dan suatu hari lagi? Aku tidak butuh itu. Apa kau tidak pernah mengerti apa itu kata tulus?

.

.

.

.

.

Cerita ini murni karangan author semata, yang tadinya mau dibuat spesial kookie birthday, eh tapi malah jadi begini.. aduh maapken.. . So lets read, and Don’t Be silent readers, gomapta chingudeul ^^

Sound recommended pas baca nih ff

BTS – For You, IU – Someday, Suzy Miss A – Winter Child

 

.

.

.

.

.

.

-o0o- Someday For You –o0o-

 

Terik matahari begitu menyiksa siapapun yang terjebak dibawahnya. Pasalnya, matahari seperti hanya berada beberapa meter dari kepala setiap pengguna jalan padat penduduk dan produktif seperti cheondamdong.

Hilir mudik orang-orang bergantian melewati jalan umum ini, dan hampir setiap orang memberikan kesan yang sama. Mereka menghindari panas dengan menggunakan payung, mengibas-ibaskan tangan keseluk wajah agar sedikit mendapat oksigen. Menjadikan telapak tangan menjadi tempat berlindung. Atau, berlari secepat yang dibisa agar sampai ditempat yang lebih teduh.

Sangat kontras dengan apa yang dilakukan pemuda yang sebentar lagi genap berusia 19 tahun. Jeon Jungkook.

Pemuda itu, masih setia menahan hawa panas yang ia rasakan, dikala baju badut kebesaran serta kepala badut yang besar dan pengap yang harus ia kenakan, demi mendapat sedikit upah.

Jungkook menghela napas, ia pun menghentikan aktifitasnya dan memilih beristirahat sebentar. Saat ia membuka kepala badut yang ia kenakan, nampak jelas bulir-bulir keringat lelah itu membasahi wajah juga bagian lehernya.

Drrtttt..

Atensi pemuda itu tiba-tiba beralih pada ponselnya yang bergetar.

“Apa yang sedang kau lakukan? Udara hari ini cerah sekali, kau tahu. Aku sampai suda mencuci baju dua kali”

Kurva manis itu pun tertarik dari sudut bibir Jungkook, jari jemarinya dengan begitu mengalir membalas setiap pesan yang dikirim oleh Yein.

“Aku masih bekerja, hei.. jangan terlalu bekerja keras, memangnya tidak ada yang bisa mencuci baju selain kau. Suruh, Mijoo noona membantumu”

Tak butuh waktu lama untuk Jungkook mendapat pesan balasan kembali dari Yein.

“Bukankah ini hari libur? Apa kau menambah kerja paruh waktumu? Cihh seharusnya kau menggunakan kata-kata itu untukmu. Jangan bekerja terlalu keras Jungkookie. Ingat Tiga hari lagi, ulang tahunmu. Bersenang-senanglah”

Ulang tahun?

Ahh pemuda itu ingat. Tentu sangat ingat, karena hari ulang tahun. Adalah hari yang sangat ia tunggu setiap waktu. Hari dimana ia menemukan Yein, menemukan sumber dari segala hal tentang kekuatan dan alasannya hidup sampai sekarang.

“Aku tahu, aku hanya bekerja sampai siang hari. Setelah ini, aku pulang. Ahh sampai kan salamku pada semua disana”

Jungkook menghembuskan napas lega, rasanya kelelahan yang ia derita tadi sudah luntur entah kemana, berbalas pesan dengan Yein benar-benar menjadi stimulus tersendiri untuknya.

“Jangan lupa makan”

 

 

 

“Jangan lupa istirahat”

 

 

 

“Kau tidak boleh terlalu lelah”

 

 

 

“Jeon Jungkook! Sekolahmu itu lebih penting”

 

Jungkook kembali mengulas sebuah senyum. Ya, Yein tetaplah Yein. Gadis bertubuh kecil dan wajah yang sedikit mirip dengannya itu tak pernah berubah sekalipun. Celotehnya bagai melodi indah untuk Jungkook. Terlalu Drama memang. Tapi, kenyataannya Jungkook mengakui itu.

–o0o–

“YAAA EONNII”

Yein berteriak dan berjungkat-jungkat tak jelas dari kursinya. Ponselnya secara tiba-tiba diambil alih oleh Mijoo. Dan tentu saja, hal itu membuatnya panik. Karena sudah bisa dipastikan, Mijoo akan membaca semua pesan-pesannya dengan Jungkook.

“EONNI KEMBALIKANN”

Yein berteriak dan merengek seperti anak kecil, ia masih duduk diatas kursi khususnya dan bergerak-gerak kesal.

“Heii Jeong Yein. Kau bilang, kau ingin melakukan sesuatu untuk ulang tahun Jungkook. Untuk itu, aku menyita ponselmu”

Yein menatap bingung tidak mengerti perkataan Mijoo, “mwo? Kenapa harus ponsel disita?”

“Tentu saja, karena ini akan menganggumu berkonsentrasi pada semua bumbu dan bahan makanan yang harus kau pelajari itu” Mijoo menunjuk tegas benda-benda perlatan dan bahan masakan diatas meja dapur.

Yein memerkan gigi-giginya mengerti. Sebelumnya, gadis itu memang sedang ingin belajar membuat makanan serta kue spesial untuk menyambut ulang tahun Jungkook. Tapi, saat melihat ponsel, tangannya sangat amat gatal untuk mengirim pesan pada Jungkook. Hingga akhirnya, ia lupa kalau bahan-bahan masakan tadi sama sekali belum tersentuh.

“Jadi, selesaikan pekerjaanmu itu dengan cepat! Sebelum Imo Jung datang”

Mata Yein, membola kala mendengar nama ‘Imo Jung’ bayangan wanita berbadan besar dan gempal serta mata melotot yang nyaris keluar membuatnya bergidik ngeri. Mijoo eonni benar, ia harus secepatnya menyelesaikan masakan ini. Agar. Imo Jung tidak curiga dan menuduh Mijoo menghambur hamburkan uang belanja. Padahal, Mijoo sendiri ikhlas merelakan uang tabungannya untuk membantu Yein.

Yein sedikit mencoba memutar tubuhnya, Juga kursi yang ia duduki. Saatnya Belajar membuat kue spesial untuk Jungkookie

Batin gadis itu senang. Tak peduli lagi dengan ponselnya yang disita oleh Mijoo.

–o0o–

“Bahagia itu, adalah ketika kau mampu membahagiakan orang yang kau sayang, meski hanya dengan hal sederhana”

Jungkook mengingat betul. Bagaimana ucapan bocah kecil beberapa tahun silam. Bocah kecil. Yang kini sudah lebih dewasa, dan tentu saja, telah banyak yang mereka lewati bersama. Hingga mereka harus berpisah tempat tinggal. Tapi mereka tak pernah memutus kontak pertemanan mereka.

“Karena aku tidak ingin kehilangan lagi temanku, jangan berubah kookie. Jangan lupakan aku ditempat barumu nanti”

Ya, ucapan yang Jungkook selalu tanamkan baik-baik didalam hati dan pikirannya. Ia berjanji, ia tidak akan pernah berubah. Walau dalam hal apapun.

“Karena aku janji. ‘Suatu hari’ yang selama ini kujanjikan padamu. Pasti akan kuberikan. Aku janji”

Kini, Jungkook terkekeh sendiri, raut wajah polos bocah kecil itu membuat Jungkook lebih mendapatkan rasa damai. Dan perasaan tenang, lebih dari apapun.

Sebuah  kotak persegi berisi sebuah dress dan sepatu kets berwarna pastel dan amat manis membuatnya tersenyum dan hatinya juga rasanya ingin berteriak karena tidak sabar merayakan ulang tahunnya dengan Yein.

“Jungkook?”

Suara lembut khas wanita dewasa yang sudah hampir 9 tahun belakangan ini mengisi kehidupannya, terdengar dari arah pintu kamar yang memang ia tidak menutupnya.

“Eomma?” Jungkook membalas sapaan wanita itu dengan senyumnya.

Wanita yang masih bertubuh ramping dan tetap terlihat anggun, meski sebenarnya sudah tidak muda lagi itu memasuki kamar Jungkook.

Matanya tak henti menelusuri setiap sudut kamar, yang tidak pernah berubah sejak pertama kali Jungkook datang dan mengisi kamar ini. Semua masih sama, tidak ada yang berubah. Ornamen dan berbagai minatur pahlawan super masih bertengger manis dirak nya masing-masing.

Lemari pakaian kayu yang kecil, serta meja belajar yang sederhana. Tak lupa, tempat tidur tunggal yang tertata rapi. Hingga akhirnya. Mata nya tertuju pada sebuah kotak diatas tempat tidur Jungkook itu.

“Apa itu?” Tanya eomma Jungkook penasaran.

Jungkook sedikit kikuk, kemudian dengan berbagai macam cara. Ia menghalangi kotak yang sudah ia siapkan untuk Yein.

Ibu Jungkook berhenti mencari tahu, ia kemudian menatap puteranya dan menghembuskan napas.

“Kau akan ke panti?”

Jungkook mengangguk yakin dan nampak sangat bersemangat, sampai-sampai iris mata ibu Jungkook tak kuat menatap pada kenyataan yang sesungguhnya, dan membiarkan Jungkook tetap dalam keadaan seperti itu, bahagia.

“Apa sakit dikepalamu sudah berkurang?”

–o0o–

Aroma harum manis menyeruak disekitar dapur minimalis sebuah panti asuhan. Lee Mijoo, dengan penuh cekatan menghias sebuah cake berukuran sedang yang baru saja selesai dioven.

Perhatiannya, juga tak pernah teralihkan dari secarik kertas diatas meja dapur. Kertas yang berisi resep-resep membuat kue.

Peluh dan panas nya udara didapur, tak menghalangi dirinya untuk tetap melanjutkan kegiatannya. Meski pada akhirnya, tangannya terkulai lemah. Batinnya seperti tersayat benda tajam. Miris, kenapa ia harus terjebak didalam situasi seperti ini.

Drrrrrrrtttt

Mijoo melirik lemah dan tak bersemangat kearah sebuah ponsel yang ia letakkan tak jauh dari tempatnya sekarang. Gadis itu pun, meraih ponsel yang bukan miliknya itu.

“Aku akan datang hari ini. Aku penasaran, apa yang sudah kau siapkan untuk ulang tahunku? Aku juga sudah menyiapkan sesuatu untukmu, jadi Yein. Tunggu aku eoh?”

–o0o–

“Suatu hari, aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Suatu hari, aku akan memberikan sesuatu padamu. Suatu hari nanti, aku janji aku akan membalas semua yang kau berikan padaku. Suatu hari, aku yang akan membantumu. Suatu hari-”

“Bisakah kau tidak mengatakan suatu hari dan suatu hari lagi? Aku tidak butuh itu. Apa kau tidak pernah mengerti apa itu kata tulus? “

“Tapi, Jungkook-”

“Yein, bagiku, membahagiakan dirimu itu adalah kebahagianku. Jadi, kita sama-sama bahagia. Untuk itu, tak usah pikirkan hal hal selain nikmati saja kesederhanaan ini”

 

Kepala gadis yang duduk diatas kursinya itu mengangguk, “tapi, aku juga mau membuatkan sesuatu untukmu, jadi tidak hanya kau yang selalu memberiku ini dan itu. Aku juga mau melakukan hal itu”

 

Surai kecokelatan yang lembut itu menatap intens gadis disampingnya. ‘Kenapa Yein? Kau sudah memberikan segalanya untukku. Kau masih bertahan hidup sampai sekarang saja, aku sudah sangat bersyukur’ . Batin pemuda itu.

 

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita wujudkan itu bersama?” Kali ini, ucapan pemuda bermarga Jeon itu menarik perhatian Yein.

 

“Maksudnya?”

 

“Hmm.. kita bisa melakukan hal yang disebut memberi dan menerima itu secara bersamaan. Kau memberikanku sesuatu, dan aku juga akan memberikanmu sesuatu. Bukankah begitu adil?”

 

Yein memainkan wajahnya, mengerucutkan bibirnya keatas lalu menariknya kembali seolah berpikir keras sepeti sedang menyelesaikan soal matematika.

 

 

“Boleh juga”

 

Dua kata itu membuat Jungkook tersenyum lega, dengan gemas. Pemuda itu meletakkan tangannya dan mengacak pelan puncak kepala Yein. “Bagus”

 

“Lalu kapan kita akan melakukan itu?”

 

Kini, Jungkook yang nampak tengah berpikir.

 

“Ahhh.. bagaimana saat ulang tahunmu saja, iya benar. Ulang tahunmu kan dua bulan lagi. Momen yang pas, benar begitu kan?”

 

Jungkook menyambut baik usul Yein, ia mengangguk. Dan mengulurkan tangannya.

 

 

“Setuju”

 

 

 

Yein menyambut juga uluran tangan Jungkook

 

“Setuju”

 

–o0o–

“eonniii.. apa ini semua untuk ulang tahun Jungkook? Kupikir kita tidak jadi merayakan ulang tahunnya? Apa dia akan datang? Bukankah Yein-”

“Biarkan Sujeong , biarkan begini saja”

Mijoo lantas pergi kembali kedapur, meninggalkan Sujeong dalam diam. Gadis itu menghembuskan napas berat.

“Melankolis sekali drama ini”

–o0o–

Suara apron kereta yang begitu nyaring, membuat Jungkook berdiri, dan dengan semangat memasuki kereta yang sudah ia tunggu sedari tadi, kereta yang akan membawanya ketempat ia akan merayakan hari ulang tahunnya. Dengan Yein tentunya.

Saat Jungkook memasuki gerbong kereta dan mencari tempat untuk mendudukkan diri, beban berat tiba-tiba seperti menimpa kepalanya. Rasanya pusing. Pandangannya juga mulai kabur, tangannya memegang tiang penyangga untuk menahan tubuhnya agar tidak benar-benar jatuh.

Kenapa kepalanya tiba-tiba pusing? Apa ini efek karena ia bekerja paruh waktu setiap hari 24 jam untuk memberikan sebuah hadiah istimewa yang sudah ia kirim via pos kepanti untuk Yein?

–o0o–

Lupus?

Sujeong  menatap miris sahabatnya yang terbaring lemah diatas tempat tidur kayu bertingkat ini.

“Kenapa ini bisa terjadi?”

Mijoo yang sebelumnya tengah sibuk merombak isi lemari Yein langsung menghentikan gerakannya. Satu tetes air mata menetes dari pelupuknya. Tapi, gadis yang lebih tua dibanding Yein atau Sujeong  itu secepat mungkin menyeka air mata itu.

“Jika kau tidak bisa membantuku membersihkan Yein, pergi bersihkan halaman untuk makan malam Yein dan Jungkook”

Sujeong  secepat kilat keluar dari kamar itu, tangisannya sudah tak terbendung lagi. Ia kesal, kenapa semua kenyataan selalu tak semulus yang orang bayangkan.  Gadis itu membanting pintu kamar Yein, berlari menuju halaman panti. Dan menangis sejadinya disana sendiri.

Masih ingat dalam benak Sujeong . Bagaimana Yein yang bahagia karena menceritakan segala keinginannya yang akan ia lakukan dengan Jungkook dihari ulang tahun Jungkook. Bagaimana Yein yang berusaha keras belajar memasak meski dengan keadaan susah karena lumpuh yang ia derita dan mengharuskannya hanya duduk dikursi roda yang sudah tua.

Tapi, semua itu, semua rencana ‘suatu hari’ seorang Jeong Yein harus pupus, kala pagi dua hari yang lalu, ia terbangun dan tidak bisa menggerakan seluruh tubuhnya.

Penyakit lupus yang ia derita telah menjalar keseluruh persendiannya. Kulitnya juga sudah memunculkan bintik dan bercak merah acap kali sinar matahari tidak sengaja mengena padanya.

Sujeong  tahu, Yein menangis. Yein sedih, karena ia tidak bisa merayakan ulang tahun Jungkook sesuai dengan apa yang sudah ia angankan.

Berjalan keliling panti dan taman sekitar, memakan bekal makanan yang sudah ia buat. Serta memberikan surprise kue serta kembang api untuk Jungkook.

Semua kini, hanya angan. Karena nyatanya. Yein saja sudah tidak mampu bergerak sedikitpun

–o0o–

Malam itu akhirnya tiba,

31 Agustus 2015

Jeon Jungkook tiba di panti asuhan tempatnya dulu tinggal sebelum ia diadopsi, tempat ia bertemu Yein. Gadis penyemangat hidupnya. Gadis yang selalu ia lindungi. Meski, jarak mereka tidak lagi dekat.

“Mana Yein?”

Jungkook menyuarakan pertanyaannya. Sudah dua jam sejak ia tiba, ia tidak melihat Yein. Hanya beberapa anak panti yang menghampiri dan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun untukknya.

Sujeong  berdiri dan cepat pergi dari ruang tengah itu, membuat Jungkook menatap bingung.

“Kenapa dengan Sujeong ?”

Mijoo mencari celah untuk menjawab “mungkin dia sedang PMS”

“Benarkah? Ahh.. lalu dimana Yein? Kenapa dia tidak menyambutku?”

Lagi-lagi Mijoo gelagapan bingung harus menjawab bagaimana,

“Ahh.. dia sedang bersiap-siap”

Jungkook tersenyum “lalu, apa Yein sudah menerima hadiahku yang kukirim lewat pos?”

Mijoo tertegun, tentu Yein sudah melihatnya. Bahkan Yein sampai menangis melihat hadiah yang diberikan Jungkook. Sebuah kursi roda otomatis yang memiliki tombol untuk mengatur arah jalan. Jauh lebih bagus ketimbang kursi roda lapuk yang Yein gunakan selama ini.

“Tentu saja, dia suka” Mijoo bergetar menjawabnya.

“Syukurlah, aku bekerja siang malam untuk membeli itu”

Ya,  Mijoo tahu itu, ibu Jungkook saja bicara padanya kalau Jungkook sampai sempat masuk rumah sakit karena tekanan darahnya yang menurun akibat kelelahan.

“Kenapa Yein lama sekali? Ini sudah hampir tengah malam, tidak baik jika aku pergi dengannya malam-malam kesehatannya bisa terganggu”

Mijoo memainkan ujung jarinya dan berkali-kali mengatur napas.

“Jeon Jungkook”

Seruan Sujeong  membuat Mijoo dan Jungkook menoleh.

Sujeong  menghembuskan napas sebelum akhirnya ia menyuruh Jungkook masuk kedalam kamar Yein.

“Masuklah, Yein ingin kau masuk”

“Apa?”

“Sudah masuk saja sana”

“Sujeong -ahh” Mijoo menghalang Sujeong melakukan itu.

“Kenapa eonni? Bukankah itu lebih baik, agat Jungkook tahu bagaimana kondiai Yein sekarang. Toh lama kelamaan juga dia akan tahu”

“Sebenarnya ada apa ini?” Jungkook mulai jengah dengan semua hal aneh dan terkesan ditutup tutupi.

Rasa penasarannya juga makin membuncah saat matanya menatap pintu kamar Yein. Dengan sigap, pemuda itu segera masuk menuju kamar Yein, tak mengindahkan halauan Mijoo yang menghalanginya.

–o0o–

Kyeoure taeeonan areumdaun dangsineun

Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Gyeoure taeeonan sarangseureon dangsineun

Nuncheoreom malgeun namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul

Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan areumdaun dangsineun

Nunchereom kkaekkeuthan namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, kyeoul

Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeona areumdaun dangsineun

Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida

Saengil chukhahamnida. Dangsinui saengireul

Happy Birthday To You

(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You

(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You

(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You

(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

Happy Birthday To You

 

Lantunan melodi serta nada suara yang merdu menyambangi telinga Jungkook. Ia baru saja menginjakkan kakinya dikamar Yein. Kamar sederhana yang hanya memiliki dua tempat tidur tingkat.

Dan terdapat sebuah layar proyektor dihadapannya yang menampilkan Yein bernyanyi untuknya. Bernyanyi nyanyian ulang tahun untuknya diulang tahunnya yang ke 8, sebelas tahun silam, pertama kalinya mereka bertemu.

Mata Jungkook lantas menoleh perlahan kearah sebuah tempat tidur yang Yein berada diatasnya dengan lemah. Tapi, mata mereka saling memancarkan kata dan rasa.

“Yein”

Sebuah gerakan pintu terbuka terdengar, Sujeong  melangkah masuk. Diiringi Mijoo yang membawa serta kue ulang tahun dengan lilin berangka 19 diatasnya.

“Lupus yang diderita Yein makin parah Jungkook, dua hari lalu, ia terbangun dan tak bisa bergerak. Ia hanya bisa tertidur tanpa melakukan apapun, aku ingin memberi tahumu, tapi saat aku meneleponmu, eommamu yang mengangkatnya dan mengatakan kalau kau juga sedang sakit dan masih dirawat dirumah sakit. Aku tidak tega, jadi aku-”

Mijoo menghentikan ucapannya, ia menutup mulutnya sendiri menahan isakan yang hendak keluar.

“Jadi, kami membiarkan ini terjadi, awalnya aku tidak setuju, tapi aku tahu, ulang tahun adalah hal terpenti g untuk kalian, karena ulang tahun adalah momen pertama kali kalian bertemu” lanjut Sujeong  yang mencoba tegar

Jungkook melemas, ia mendengar ucapan tiap ucapan yang keluar dari bibir Mijoo maupun Sujeong , tapi matanya tak pernah lepas memandang Yein. Menatap bola mata cokelat Yein yang kini kian semakin sayu,, Yein bicara, bicara lewat tatapannya.

“Bisa tinggalkan kami?”

Sujeong  menangguk, kemudian pergi lebih dulu, dan diikuti oleh Mijoo. Meninggalkan Jungkook dan Yein didalam kamar Yein. Masih dengan instrumen lagu winter child yang menayala mengiringi setiap tatapan penuh kata mereka.

Jungkook tidak pernah tahu, jika lupus bisa begitu cepat memakan setiap anggota tubuh penderitanya

Jungkook juga tidak pernah tahu, jika ia harus melihat Yein terbujur kaku tak bisa mekakukan apapun karena lupus yang kini membuat gadisnya itu lumpuh total.

Begitu juga Yein,

Yein tidak pernah tahu, kalau ia bisa terkena penyakit semacam ini.

Yein juga tidak pernah tahu, kalau penyakit ini semakin parah disaat-saat penting seperti sekarang.

Padahal, Yein ingin membuat surprise menyenangkan untuk ulang tahun Jungkook. Membalas semua yang telah Jungkook berikan padanya, perhatian, kasih sayang dan segalanya. Tak peduli keadaanya, Jungkook tetap menyayanginya.

Tapi, justru Yein memberikan surprise yang menyakitkan, dan ia sendiri juga benci itu.

Tapi mau bagaimana lagi,

Semua sudah terjadi.

‘Suatu hari’ yang dimaksud Yein tidak dapat terwujud.

Karena ‘suatu hari’ yang lain

Datang tanpa diduga

Yein meninggalkan Jungkook bersama penyakitnya

1 september 2015

diHari kelahiran Jungkook.

Dihari mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Dan dihari mereka dipertemukan jua untuk terakhir kalinya.

—FIN— 

 

 

 

 

 

 

A/N : Anyeonggg…….. Megumi Here… setelah sekian lama gak posting disini.. mianahamida

Tapi maaf ceritanya sad, aku juga gak tahu kenapa pas nulis malah jadi mengalir kaya gini.

Maaf ya kalo ff ini masih banyak kekurangannya.

Intinya happy reading ^^

Advertisements

8 thoughts on “Someday For You (Oneshoot)

  1. Uchiha Yoona^^

    kasihan Yein eonnie pada hal jungkook oppa uda kerja keras sampai masuk rumah sakit 😥 tapi ffnya keren kok eonn 🙂 ditunggu karya eonnie lainnya
    keep writing ^_^

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s