[Ficlet] Happy Ending

Standard

HAPPY ENDINGHappy Ending

By Fanita

Lovelyz’ Jiae – Infinite’s Sungjong

Fluff – Romance || PG-15 || Ficlet

“Aku benci akhir yang sedih.

Datanglah kepadaku dengan senyuman”

–Jiae’s line from Shooting Star

.

.

.

“Heh…”

Semua orang menghela nafas setelah menyaksikan pertandingan futsal antar kelas yang diadakan setiap tahun. Salah satu penontonnya adalah Yoo Jiae. Raut wajahnya begitu murung ketika mengetahui tim futsal kekasihnya kalah di pertandingan ini.

            Semua pemain keluar dari lapangan sambil menyekah keringat yang bercucuran di kening mereka. Lee Sungjong sejak tadi hanya bisa menghela nafas karena kecerobohannya tim kelasnya kalah. Dia merasa bersalah kepada dirinya, temannya dan termasuk kekasihnya yang bernama Jiae. Setelah keluar dari lapangan futsal Sungjong berjalan ke bangku penonton untuk beristirahat, tidak memperdulikan kekasihnya yang sejak tadi menunggunya di ujung sana.

“Jiae sunbae coba lihat pacarmu! Sepertinya Sungjong sunbae sedih karena kalah,”celetuk Mijoo.

“Ya sepertinya si begitu,”balas Jiae.

“Hibur dia sana,”kata Mijoo.

“Kau benar. Aku pergi dulu Mijoo-ya,”pamit Jiae.

Jiae langsung pergi meninggalkan Mijoo dan berlari ke tempat orang menjual minuman. Ya setidaknya dia ingin memberikan perhatian kepada kekasihnya yang mungkin saja haus setelah bertanding. Setelah selesai barulah Jiae berlari kembali untuk menghampiri Sungjong.

“Mau minum?”

Sungjong yang menundukan kepala langsung mendongkak kepalanya. Dia dapat melihat senyum Jiae yang membuat hatinya berdebar. Namun bukannya menerima tawaran Jiae dia malah memperlihatkan minuman miliknya yang sejak tadi ada di sampingnya. Melihat reaksi yang diberikan Sungjong, Jiae mendongkol dalam hatinya. Dia kan berniat baik apa salahnya menerima minuman itu walaupun dia sudah punya minuman sendiri? Urgh..

“Permainanmu bagus,”celetuk Jiae.

“Bagus katamu? Kalau bagus kelas kita pasti menang,”kata Sungjong.

Ya yang bermain di situkan bukan kau saja. Yang lain juga ada jadi ini bukan sepenuhnya salahmu,”

“Heh terserah kau saja. Aku mau pulang, bagaimana denganmu?”tanya Sungjong.

“Ayo pulang bersama!”seru Jiae.

            Sungjong dan Jiae pulang bersama berjalan kaki untuk sampai ke halte bus yang jaraknya sedikit jauh dari tempat perlombaan futsal tadi. Sepanjang jalan keadaan begitu kikuk. Sungjong terlihat begitu murung dan itu membuat Jiae kesal. Dia tidak suka dengan akhir yang menyedihkan seperti ini, dia ingin Sungjong datang dengan senyuman bukan dengan tampang kusut seperti itu. Saat Jiae melihat ke arah kanannya dia melihat sebuah tempat yang tiba-tiba menimbulkan sebuah ide di benaknya. Otomatis Jiae langsung menyikut Sungjong dan mengatakan, “Ayo ke sana!”.

            Setelah sampai ke tempat yang Jiae maksud Sungjong menatap kekasihnya itu penuh tanda tanya. Untuk apa Yoo Jiae mengajaknya ke sebuah lapangan bola seperti ini, pikir Sungjong. Belum sempat mengeluarkan suaranya untuk bertanya, Jiae lebih dulu angkat bicara.

“Aku mau bertanding bola denganmu. Bagaimana Sungjong-ah?”tanya Jiae.

“Bertanding bola? Huh jangan bercanda,”cibir Sungjong sambil mendorong kepala Jiae dengan jari telunjuknya.

Jiae mencibir kesal karena ucapannya dianggap sebagai sebuah canda bagi Sungjong. Namun Jiae tetap pada pendiriannya untuk mengajak Sungjong bertanding bola.

“Mau tidak mau kau harus tanding denganku. Keluarkan bola dari tasmu!”titah Jiae.

Walaupun tidak mengerti dengan maksud kekasihnya Sungjong mengeluarkan bola futsal yang sejak tadi berada di dalam tas hitam miliknya. Setelah bola itu diberikan kepada Jiae, perempuan itu langsung meletakan bola itu ke tanah dan menendangnya sekuat tenaga.

“Mulai!”

            Di tengah lapangan berukuran besar ini Jiae dan Sungjong sibuk berlari bermain bola. Hanya ada mereka berdua di dalam permainan ini. Sesekali Jiae menjaga gawang dan Sungjong menendang bola itu ke arah Jiae dan….

“GOAL!!!”teriak Sungjong.

Jiae menghela nafas secara kasar ketika bola yang ditendang Sungjong berhasil melewatinya sebagai penjaga gawang. Di lihatnya Sungjong tengah loncat seperti anak kecil dan tertawa melihat ekspresi Jiae yang kusut. Walaupun kesal jauh di dalam lubuk hati Jiae dia tersenyum saat ini. Ini memang yang diinginkan Jiae.

Ya Lee Sungjong!”pekik Jiae.

Sungjong berhenti meloncat lalu dia berlari menghampiri kekasihnya. Sampai di hadapan Jiae dia tersenyum senang.

“Percuma kau mengajakku bermain karena aku akan selalu menang,”kata Sungjong angkuh.

“Iya kau memang selalu menang. Sungjong yang hebat,”balas Jiae serius.

Sungjong mengerutkan keningnya, suaranya Jiae begitu serius saat ini. Apa dia melakukan sebuah kesalahan? Apa Jiae marah karena dia tidak membiarkan dirinya menang dipermainan ini?

Ya kau marah?”tanya Sungjong.

Jiae menggelengkan kepalanya lalu tiba-tiba saja dia memeluk Sungjong dengan erat. Membuat yang dipeluk terkejut setengah mati.

“Ada apa ini? Tiba-tiba sekali haha,”

“Aku tidak suka kau sedih seperti tadi. Aku benci sad ending. Karena kau sudah menang melawanku hilangkan kesedihanmu. Seperti yang kau bilang kau akan selalu menang, jadi jangan pernah sedih hanya karena pertandingan tadi,”

Sungjong melepaskan pelukan Jiae dan menatap kedua manik mata kekasihnya yang menatapnya begitu lekat saat ini. Tanpa Jiae duga Sungjong menganggukan kepalanya lalu tersenyum.

“Kau benar. Awalnya aku sedih karena tidak bisa membuatmu bangga karena kalah dalam pertandingan tapi kalau kau sedih karena kekecewaanku itu sama saja bohong,”ucap Sungjong.

“Sekarang tidak ada lagi sad ending karena yang ada hanyalah happy ending sebab seorang Lee Sungjong berhasil mengalahkan Yoo Jiae!”seru Jiae.

Tiba-tiba saja Sungjong membungkukan badannya. Saat Jiae hendak bertanya apa yang mau Sungjong lakukan, sesuatu yang basah dan lembut kini sudah lengket dengan bibirnya. Sungjong menciumnya! Keduanya saling bertatap mata namun lambat laun sepasang kekasih itu menutup matanya dan tetap dalam posisinya. Langit yang sudah berwarna keorenan dan angin yang bertiup menjadi saksi atas apa yang sedang mereka lakukan. Semenit kemudian Sungjong menjauhkan wajahnya dari Jiae dan menggaruk rambutnya yang tak gatal.

“Sudah sore lebih baik kita pulang!”ajak Sungjong.

Laki-laki itu pergi memungut bola yang menggelinding tidak jauh dari gawang yang tadi di jaga oleh Jiae. Kemudian setelah mendapatkan bola itu Sungjong meletakannya kembali ke dalam tas dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Jiae yang masih mematung di tempatnya.

Ya Lee Sungjong!”

Sungjong menghentikan langkah kakinya dan membalikan badannya. Dia melihat kekasihnya yang berjarak 20 meter darinya itu dengan pandangan heran. Kenapa Jiae masih disana? Itu yang menjadi pertanyaan Sungjong.

“Sungjong-ah aku capek dan tidak bisa jalan sendiri!”pekik Jiae.

Sungjong terkekeh pelan. Dia lupa kalau dia mengencani gadis manja seperti Jiae. Maka dari itu Sungjong berlari untuk menghampiri Jiae. Setelah berada di depan kekasihnya dia berbalik badan dan menundukan badannya.

“Cepat naik mumpung aku lagi berbaik hati jadi aku akan menggendongmu sampai ke halte bus,”kata Sungjong.

“Hanya itu?”tanya Jiae.

“Apa lagi yang kau mau?”tanya balik Sungjong.

“Antarkan aku sampai rumah. Kau mau aku sampai rumah di saat matahari sudah terbenam?”

“Itu si gampang. Cepat naik!”

Jiae meloncat ke punggung Sungjong dan memposisikan dirinya dengan benar. Setelah selesai barulah Sungjong berjalan untuk segera pulang. Walaupun dia sangat lelah karena pertandingan tadi dan bermain dengan Jiae entah kenapa Sungjong masih merasakan dia memiliki kekuatan untuk menggendong Jiae seperti ini. Apa ini karena kekuatan cinta? Kekeke..

Ya Yoo Jiae kau harus diet. Kau berat sekali!”rutuk Sungjong.

“Apa? Ya!”

Jiae memberikan sebuah jitakan keras ke kepala Sungjong sehingga dia terpekik. Huh kalau begini ceritanya dia menyesal telah meledek Jiae seperti ini.

“Apa itu sakit?”tanya Jiae yang panik.

“Iya sangat sakit!”dongkol Sungjong.

Jiae memanyunkan bibirnya lalu mengusap kepala Sungjong yang tadi dia jitak. Ia juga memberikan sebuah kecupan di pipi Sungjong untuk meminta maaf kepada pacarnya itu.

“Jangan marah lagi. Kau si bilang aku berat,”oceh Jiae.

“Iya..iya,”gerutu Sungjong.

Jiae lebih suka suasana seperti ini dibandingkan tadi. Setidaknya atmosfir di antaranya dan Sungjong kini begitu ramah dan lebih mengasikan dibandingkan suaranya kikuk dan sedih seperti tadi. Akhirnya menyenangkan seribu kali lebih baik dibandingkan akhir yang sedih seperti tadi, bukan?

.

.

END

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Happy Ending

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s