F4 – My First Day #1 [Chapter]

F4F4

-My First Day-

Main Cast : Lovelyz’ Sujeong – Seventeen’s Mingyu – Astro’s Cha Eunwoo

Cast : BTS’ Jungkook – Soloist’s Yoo Seungwoo – DIA’s Yebin – Gfriend’s Yuju – Etc

Genre : School Life – Friendship – Fluff – Romance

Type : Chapter

Rating : PG-15 / Teen

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran author. Terinspirasi dari drama populer seperti The Heirs dan Boys Before Flower, namun tetap alur dan cerita murni dari pemikiran author selaku penulis cerita ini!

..

Aku menemukan hal baru di tempat ini.

.

.

.

            Halo! Perkenalkan namaku adalah Ryu Sujeong. Aku hanya seorang gadis biasa yang baru saja pindah ke sekolah baruku. Selama ini aku tinggal di Jepang dan kini aku kembali ke tanah airku. Hari pertama sekolah membuatku begitu semangat karena aku ingin melihat seluruh murid yang berkebangsaan sama sepertiku. Tidak seperti aku di Jepang, saat aku sekolah di sana siswa-siswinya adalah murid campuran. Iya campuran karena aku sekolah di sekolah international. Lima puluh persen siswa-siswi di sana orang asing sepertiku. Dan kini aku akan pindah ke sekolah yang siswanya berasal dari rumpun yang sama denganku!

            Pak Jang—supir pribadi keluarku menghentikan mobil di depan pintu masuk sekolahan. Bukan hanya aku saja si, tetapi siswa yang lain juga seperti itu. Sekolah baruku memang tempat yang elit, hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sini. Entah aku harus bersyukur atau—apa karena bisa menjadi siswi di tempat ini. Soal fasilitas aku yang sempat datang ke sekolah tempo hari yang lalu mengakui kalau sekolah ini 11—12 dengan sekolahku di Jepang. Tipikal sekolah yang kalian dapat bayangkan seperti yang ada di drama-drama Korea seperti The Heirs atau Boys Before Flower hehe.

            Saat aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam gedung sekolah aku dapat merasakan hawa sejuk dari pendingin ruangan yang terletak di setiap sudut ruangan. Padahal ini hanya koridor sekolah tetapi mereka juga memasang AC di tempat ini. Bukankah ini pemborosan—ah aku rasa sekolah ini tidak akan peduli karena biaya perbulan siswa di sini sangatlah mahal. Aku kadang masih tidak percaya ayahku begitu saja mau menghamburkan uangnya untuk aku bisa bersekolah di tempat ini padahal di tempat biasa saja kan tidak apa.

            Sepanjang jalan aku memperhatikan seluruh orang yang sedang berada di koridor sekolahanku. Mereka memang bukan orang biasa karena aksesoris serta tas, sepatu dan perhiasan yang mereka pakai betul-betul mahal! Pasti mereka anak chaebol, yakan? Aku yang sebelumnya sudah diberitahu untuk langsung masuk ke dalam kelasku yang terletak di kelas 12—2 langsung menuju ke sana tanpa ditemani oleh guru atau pendamping. Hanya bermodalkan papan petunjuk arah aku mencari dimana kelasku berada.

            Saat akan menaiki anak tangga aku melihat banyak para gadis berlari turun dari tangga tanpa memikirkan keselamatan mereka. Mereka juga bersorak-sorai meneriaki ‘F4! F4!’. What the.. apa-apaan ini? Memangnya kita sedang berada di sekolah Geum Jandi? F4? Kenapa aku jadi merasa seperti di dorama atau drama-drama Korea?!

“Mereka akan lewat tangga sebentar lagi!”

“Oh tidak! apa make up-ku terlihat cantik?”

“Jantungku berdebar sangat kencang!”

Aku hanya bisa mengerutkan keningku heran. Kini dapat aku lihat gadis-gadis yang tadi sibuk menuruni tangga sudah berkumpul dengan siswi yang memang sejak awal ada di bawah. Hanya aku yang ada di tangga sendiri.

“F4!!!”

Semua orang berteriak memanggil nama F4 itu lagi dan aku dapat melihat mendengar jelas ada 4 laki-laki sedang berjalan ke arahku—oh maksudku berjalan ke arah tangga. Semua siswi berteriak girang hanya karena mereka. Apa mereka selebritis? Aku tidak terlalu update dengan K-pop karena di Jepang aku lebih menggemari J-pop. Wajah mereka memang tampan si kalau menjadi idol-idol seperti yang ada di luar sana. Dan kini keempat laki-laki itu berjalan menaiki tangga sementara aku hanya bisa terdiam memperhatikan mereka.

Ya kau tidak lihat kalau F4 mau lewat? Kenapa kau malah berdiri di sana!”pekik seseorang.

Aku melihat seorang gadis sedang menatapku sinis—oh no.. bukan seorang tapi puluhan mata kini sedang mengintiminasiku! A—apa aku melakukan kesalahan?! Saat aku melihat kembali ke para pria yang disebut F4 mereka menatapku dengan berbagai pandangan. Laki-laki yang paling tinggi memandangku dengan tatapan agak ramah, lalu ada laki-laki berwajah kalem namun tatapannya begitu mengintimidasiku, kemudian ada juga laki-laki yang memasang wajah datar saat melihatku dan yang terakhir seorang laki-laki tersenyum padaku. Aku hanya bisa tersenyum kikuk lalu—KABUR!!! Iya aku harus kabur dari sini. Rasanya begitu merinding. Huh sekolah macam apa ini!

            Akhirnya aku menemukan juga di mana kelasku berada. Saat aku masuk ke dalam kelas aku melihat hanya ada 19 bangku tersedia. Sekolah ini memang membatasi murid-muridnya sehingga dalam satu kelas hanya ada 20 siswa. Mungkin kelas ini kekurangan siswi jadi mereka memasukanku ke dalam kelas ini. Aku memandangi orang-orang di kelas ini. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sibuk berdandan, ada yang sibuk memainkan gadget mereka, dan beberapa ada yang membaca buku-buku tebal. Aku heran apa mereka tidak penasaran denganku? Maksudku, bukannya aku ingin menjadi pusat perhatian hanya saja harusnya mereka bingung dong kenapa tiba-tiba ada orang asing masuk ke dalam kelas mereka. Bahkan aku yang sudah mengambil tempat dudukku, entah sudah ada penunggunya atau belum. Toh mereka tidak ada yang protes itu berarti kursi itu kosong, kan?

“Di sekolah ini tidak ada yang namanya teman. Hanya ada koneksi jadi jangan heran kalau mereka mengabaikanmu,”celetuk seseorang.

Aku menoleh kesamping dan melihat seorang gadis cantik sedang tersenyum padaku. Akhirnya ada juga yang menegurku di sekolah ini!!

“Begitukah? Kenapa koneksi? lalu apa beda koneksi dan teman?”tanyaku.

“Orang akan mendekat denganmu jika kau memenuhi syarat untuk menjadi ‘teman’ mereka. Ingat ya bukan teman sesungguhnya tapi teman yang akan dijadikan koneksi untuk mereka,”jawabnya.

“Syaratnya apa saja?”

“Hmm syaratnya bisa beragam, tergantung kepentingan mereka. Biasanya jika orangtuamu pemilik sebuah perusahaan atau menjadi orang penting untuk negara ini orang-orang akan menghargaimu dan berharap kau bisa menjadi koneksi untuk mereka. Tapi semua tergantung dengan orang yang berstatus paling tinggi mau menerima sebagai koneksi atau tidak,”ocehnya panjang lebar.

“Lalu kau bagaimana? Apa kau mencoba menjadikanku sebagai koneksimu?”tanyaku heran.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan orang-orang yang ada di tempat ini!

“Apa pekerjaan ayahmu?”tanyanya lagi.

“Ayahku? Ayahku CEO di perusahaan Sinhwa!”seruku.

Bolehkan aku berseru? Toh aku bangga dengan ayahku yang bisa menduduki jabatan sebagai CEO dimulai dari jabatan paling bawah hingga menjadi direktur utama di tempat itu?

“Hahahaha,”

Gadis itu tertawa—Oh! lebih tepatnya dia menertawakan jawabanku barusan. Ada yang salah dengan pekerjaan ayahku? Itukan pekerjaan baik.

“Kau lihat gadis yang disana,”

Dia menunjuk seseorang yang tengah berdiri di dekat jendela sambil melihat pemandangan yang ada di bawah sana. Ada apa dengan gadis itu? Seakan tahu apa yang aku tanyakan di dalam benakku dia melanjutkan kembali ucapannya.

“Dia adalah anak pemilik perusahaan tempat ayahmu bekerja. Bahkan saham terbesar yang ada di sana akan jatuh ketangannya setelah dia lulus dari sekolah!”serunya.

APA?!!!!!! DIA TIDAK BERCANDAKAN?!!!

            Gadis yang sejak tadi berceloteh denganku namanya adalah Baek Yebin. Ayahnya adalah pemilik salah satu Mall terbesar di negara ini dan ibunya adalah designer terkenal yang brandnya sering diborong oleh ibuku. Aku benar-benar merinding mengetahui semua kenyataan ini. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

“Tapi aku berbeda,”celetuk Yebin.

“Maksudmu?”Tanyaku.

“Maksudku—aku tidak akan memandang temanku dari hartanya. Namamu Ryu Sujeong, kan? Apa kau mau menjadi temanku?”tanya Yebin.

“Kau serius?”

Entah kenapa aku merasa tersanjung mendengarnya. Hey sebetulnya diajak berteman atau berkenalan dengan orang lain tidak ada istimewahnya bagiku tapi semenjak aku menginjakan kaki ke sekolah ini entah mengapa terasa begitu spesial! Disaat orang lain tidak menghiraukan keberadaanku, ada Yebin yang mengajakku berbicara bahkan menawarkan diriku sebagai temannya. Bukankah dia gadis yang baik? Bahkan dia terlihat cantik dan aku iri dengan kulitnya yang putih bersih serta pipinya yang tirus itu—tidak chubby seperti milikku.

“Tentu saja. Aku sungguh mengajakmu berteman, ini bukan soal koneksi atau apalah itu namanya,”oceh Yebin.

Aku tersenyum dan menganggukan kepalaku. Yebin yang tampak kegirangan langsung memelukku begitu saja. Huh! Untuk orang yang ada di sini tidak memperhatikannya, kalau mereka lihat aku kan malu di peluk seperti ini!

            Seorang guru masuk ke dalam kelas dan pelajaran telah di mulai. Aku mengeluarkan buku catatan baruku untuk merangkum semua tugas dan pelajaran yang akan diterangkan oleh guru baruku. Namanya adalah Kim ssaem, dia guru pelajaran Bahasa Korea. Kata Yebin dia itu galak, mendengarnya aku jadi gugup karena aku tidak terlalu lancar menulis dalam hangul. Selama 12 tahun aku terbiasa dengan huruf katakana maupun hiragana, namun tidak dengan hangul. Aku memang berbicara menggunakan Bahasa Korea kalau di rumah tapi menulisnya jarang sekali.

Tok..tok..tok..

            Seseorang mengetok pintu ketika pelajaran sedang berlangsung. Belum lagi Kim ssaem menjawab orang itu terlebih dahulu membuka pintu dan tanpa pamit segera berjalan. Oh! Laki-laki itu adalah orang berwajah kalem yang tadi pagi aku temui di tangga, iya dia! Ternyata aku sekelas denganya. Orang itu dengan wajah datar berjalan menghampiriku—

“Kau!”

D—dia ada di dekatku. Kenapa jantungku seakan-akan hendak meloncat dari tempatnya? Dia mendekatkan wajahnya dengan mukaku dan—

“Enyah dari tempat dudukku sebelum aku menendang kursimu!”

DEG!! Ucapannya kenapa kejam sekali si? Bibirku langsung melengkung ke bawah dan aku melihat Yebin yang ada di sampingku. Dapat aku lihat bibirnya bergerak dan mengatakan “Pergilah!”. Buru-buru aku berdiri lalu merapikan semua buku-buku yang aku keluarkan dan setelah aku selesai dengan urusanku dia dengan enaknya duduk dan menyumbat telinganya dengan headset.

“Hei anak baru, kenapa masih berdiri? Cari tempat dudukmu!”titah Kim ssaem.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kelas tapi aku tidak menemukan bangku kosong lagi. Bagaimana aku belajar kalau seperti ini caranya?!

Srkkkkkk!

            Ternyata beginilah caraku belajar di kelas yaitu mengambil sendiri bangku dan kursi untukku belajar di gudang yang jaraknya jauh dari kelasku. Aku meniup poniku untuk melampiaskan semua rasa kesal yang sedang aku rasakan. Katanya sekolah ini sekolah bagus tetapi kenapa masih membiarkan muridnya melakukan hal ini? Percuma saja ayahku membayar biaya mahal-mahal tapi kenyataannya malah begini. Aku kelelahan karena mendorong meja yang lumayan berat ini, ku putuskan untuk beristirahat sejenak toh saat ini koridor sedang sepi karena semua sedang belajar di kelas. Aku meratapi nasibku di sekolah aneh ini, hari pertamaku yang menyebalkan, sistem pertemanan yang menimbulkan kesenjangan sosial dan laki-laki tampan—hey! Apa aku baru saja mengatakannya tampan? I-iya dia tampan tapi dia menyebalkan!

“Nona apa yang sedang kau lakukan di lantai?”

Suara seseorang membuatku otomatis berdiri kembali. Ku lihat laki-laki jangkung yang ada di depanku. Dia adalah cowok yang tadi di tangga itu berarti dia berteman dengan si teman sekelasku yang-tampan-tapi-menyebalkan-itu.

“Kau tidak lihat aku sedang apa?”kataku sewot. Mengingat temannya membuatku jadi emosi sendiri.

“Mendorong meja ya? Oh! Kau gadis di tangga itu, apa kau anak baru?”tanyanya.

Aku menganggukan kepalaku dengan malas, sudah tahu tapi masih juga bertanya.

“Aku Kim Mingyu. Semua orang di sekolah ini mengenalku. Apa kau butuh bantuanku?”tanya laki-laki yang bernama Mingyu itu.

“Tidak perlu,”balasku.

Tidak mau berbicara banyak dengan orang ini aku kembali mendorong meja belajarku dengan sisa tenaga yang aku punya. Sejak tadi aku mendorong tapi tidak kunjung bergerak. Saat aku mencoba untuk melihat apa yang terjadi ternyata laki-laki yang memiliki nama Kim Mingyu itu menahan mejaku dari depan dan dia dengan polosnya tersenyum kepadaku.

Ya!!”pekikku.

            Aku berjalan di belakang Mingyu sambil melipat kedua tanganku di dada. Entah kenapa laki-laki ini menawarkan diri untuk membantuku. Saat aku menolak dia bilang “aku harus bersikap baik dengan anak baru”, “Aku tidak tega melihat perempuan mendorong meja berat”, “Aku sudah menjahilimu tadi jadi aku merasa bersalah” itu lah yang dia katakan padaku. Sebenarnya tidak ada ruginya si kalau aku dia membantuku.

“Siapa namamu?”tanya Mingyu.

“Ryu Sujeong,”jawabku singkat.

“Pindahan dari mana?”tanyanya lagi.

“Tokyo,”

“Oh.. kau orang Jepang?”

Huh???? Sudah jelas aku menyebutkan namaku lengkapku dan dia masih bertanya lagi kalau aku orang Jepang?

“Pertanyaanmu tidak penting,”kataku.

“Oh maaf-maaf. Kau kelas berapa?”tanyanya.

“12—2,”

“Aha! Kau sekelas dengan Eunwoo ternyata!”serunya.

Eunwoo? Siapa lagi Eunwoo? Yang aku kenal hanya Yebin di kelas itu.

“Kau tahu laki-laki yang berdiri disampingku tadikan? Dia sekelas denganmu. Masa kau tidak kenal,”ocehnya.

Oh! Laki-laki tampan-yang-menyebalkan itu namanya Eunwoo. Hmmm baiklah.

“Apa aku boleh tertanya?”kataku.

“Tentu,”

Baru saja aku ingin memberikan pertanyaan kepadanya tanpa kami sadari aku dan Mingyu sudah berada di depan kelasku. Sepertinya aku harus menunda pertanyaanku.

“Masuklah ke kelasmu. Kalau kau mau bertanya sesuatu padaku temui saja aku di tangga darurat lantai 3 saat istirahat nanti. Sampai jumpa Ryu!”

Mingyu pergi begitu saja tanpa membiarkan aku berterima kasih kepadanya. Sebal si iya dengannya tapi tetap saja aku harus berterima kasih dengan orang yang sudah membantuku.

“Hei anak baru cepat masuk!”tegur Kim ssaem yang melihat aku termenung di depan pintu.

Buru-buru aku mendorong kembali mejaku dan menempatkannya di belakang tempat duduk si Eunwoo itu. Hanya di sana ruas kosong untuk meletakan mejaku. Masih keki si dengan Eunwoo itu tapi setidaknya aku bisa duduk di dekat Yebin, kan?

            Yebin mengajakku mengitari sekolahan. Semua orang melewati kami begitu saja tanpa ada yang menegur kami—atau setidaknya menegur Yebin. Saat berada di persimpangan Yebin mengajakku untuk mengecek lokernya dulu. Hmm ngomong-ngomong loker aku lupa untuk mengecek di mana loker pribadiku berada.

“Lokerku nomor 97 apa kau tahu di mana itu?”tanyaku.

“Kita sudah melewatinya tadi. Nanti aku beritahu di mana lokermu berada,”

Yebin membuka lokernya dan WOW!! Isinya benar-benar cantik. Seluruh isi lokernya berwarna merah jambu bahkan dia menggantung beberapa jaket dan baju olahraga di sana. Aku juga ingin lokerku seperti itu!

“Aku menyimpan baju olahraga untuk cadangan. Mata tahu saja ada terjadi hal-hal darurat aku bisa menggunakannya,”celoteh Yebin.

“Lokermu cantik,”pujiku.

“Semua loker di sini memang cantik. Tergantung bagaimana kau mendekornya. Hey Sujeong coba kau intip loker milik Yuju!”bisik Yebin.

Aku melihat arah tatapan mata Yebin. Pandangannya menuju pada gadis yang ternyata anak pemilik perusahaan tempat ayahku bekerja. Oh, jadi namanya Yuju. Ketika aku mengintip lokernya yang ada di depan kami dapat aku pastikan bahwa yang ku lihat di sana adalah berlian! Iya! Berlian menempel di dinding lokernya yang bernuansa hitam—merah jambu. Aku benar-benar iri melihatnya bahkan ini hmm maaf—ini lebih cantik dibandingkan loker milik Baek Yebin.

Amazing, isn’t it?”tegur Yebin.

“Iya. Sepertinya aku harus mendekor lokerku agar terlihat cantik,”gumamku.

“Aku sudah selesai. Ayo segera ke kantin!”ajak Yebin.

            Usai makan di kantin Yebin memiliki urusan dengan teman satu klubnya, yaitu pacuan kuda. Aku tidak menyangka kalau sekolah ini memiliki klub sekeren itu. Aku jadi teringat dengan formulir ekstrakulikuler yang belum sempat aku sentuh karena sibuk berberes barang seusai pindahan.

“Dimana ya?”gumamku.

Aku mencari tangga yang di maksud oleh Kim Mingyu tadi. Niatnya tidak mau pergi si tapi berhubung waktu istirahat masih 20 menit lagi jadi lebih baik aku memanfaatkannya untuk berkeliling sekolah dan sekalian menemui Mingyu. Saat berjalan sendiri di koridor aku mendengar teriakan orang-orang.

“Seungwoo-ya annyeong!”

“Seungwoo sunbae!”

Semua orang menyebut nama Seungwoo dan muncullah orang itu di hadapanku. Ternyata dia adalah laki-laki yang tersenyum padaku di tangga tadi. Pasti dia temannya Mingyu dan Eunwoo!

Annyeong haseyo apa aku boleh bertanya padamu?”tanyaku.

Laki-laki itu berhenti dan tersenyum kepadaku. Semua perempuan yang ada di sana berteriak histeris ketika Seungwoo tersenyum.

“Apa kau tahu dimana tangga darurat lantai 3? Soalnya aku mencarinya tidak ketemu dan bertanya dengan orang tidak ada yang me—“

“Tunggu—kau bilang tangga darurat? Untuk apa ke sana?”Tanya Seungwoo.

“Aku mau menemui temanmu, Kim Mingyu.”jawabku.

“Apa kau mau bertemu dengan Mingyu?!”pekiknya.

Krik… Suasana menjadi begitu sunyi setelah Seungwoo berteriak. Orang-orang yang semulanya histeris kini menjadi diam mematung. Aku merasa atmosfir di tempat ini seketika berubah begitu saja. Berubah lebih gelap dan menegangkan. Aku memberanikan diri untuk melihat orang-orang itu—astaga! Mereka kini sedang menatapku dengan mata tajam mereka yang bagaikan pisau belatih. Mengerikan!!

“Y-ya aku mau berbicara dengannya dan dia bilang aku bisa menemuinya di sana,”kataku pelan.

“Hm.. Ya sudah aku antar saja,”katanya.

Seungwoo berjalan terlebih dahulu sementara aku mengekorinya dari belakang. Bulu kudukku meringing ketika orang-orang memperhatikanku sebegitunya. Ini hari pertamaku bersekolah tetapi kenapa aku mendapatkan banyak kesulitan, hmm.

“Itu Mingyu!”

Aku melihat sosok Mingyu yang tengah tertidur di salah satu sudut tangga ini. Setelah selesai mengantarkanku Yoo Seungwoo langsung pergi karena harus menemui temannya yang bernama Jungkook. Tebakanku si Jungkook itu bagian dari F4, laki-laki berwajah datar tadi. Perlahan aku menghampiri Mingyu. Saat sudah berada di depannya dana aku berniat untuk membangunkannya—

“DOORR!!!!!”

Deg..deg…deg… Jantungku rasanya mau copot, ini karena Mingyu tiba-tiba saja berteriak. Aku tidak bisa berkata apapun karena begitu syok. Mingyu sialan! Kenapa Mingyu maupun Eunwoo menyebalkan? Untung saja Yoo Seungwoo baik—tapi ya dia besar mulut. Setidaknya itulah yang aku tangkap dari perkenalanku dengan mereka di hari pertamau sekolah.

“Kau marah?”tanya Mingyu.

“Menurutmu?”aku bertanya balik.

“Hehe aku hanya bercanda. Kau dengan siapa ke sini? Aku dengar tadi ada orang berbicara selainmu,”

“Yoo Seungwoo,”

“Oh bagaimana bisa—“

“Hey Kim Mingyu-ssi aku kemari mau bertanya kepadamu bukan kau yang memberikan pertanyaan kepadaku,”potongku.

“Oh haha maaf. Apa yang mau kau tanyakan?”

“F4 itu apa?”

Mingyu terdiam sejenak. Aku melihat reaksinya yang tidak bisa ku artikan. Beberapa detik kemudian Mingyu menampilkan senyumnya kembali dan menjawab pertanyaanku.

“Hmm itu hanya penyebutan untukku, Eunwoo, Seungwoo dan Jungkook. Kebetulkan kami berteman sejak kecil sampai sekarang. Di sekolah orang bilang bahwa kami mirip seperti F4 di drama Korea itu, loh! Kau tahu, kan? tinggal di Jepang tidak membuatmu kudetkan?”

Aku mencibir. Siapa si yang tidak tahu Boys Before Flower. Aku bahkan menontonnya berpuluh-puluh kali. Bukan hanya versi Korea saja yang aku tonton, jauh sebelum Boys Before Flower ada aku menonton Hana Yori Dango dan Meteor Garden.

“Aku tahu. Jadi hanya karena itu kalian di sebut F4? Berlebihan sekali aku pikir kalian itu idol atau apalah,”kataku begitu saja.

“Memang diantara kami ada yang idol,”celetuk Mingyu.

“Ye?! Sungguh?”

“Jungkook adalah idol. Dia itu rising star, kau tidak tahu? Apa Jepang memblokir situs-situs Korea sehingga kau tidak tahu kalau dia adalah seorang idol? Dan kau tahu tidak kalau Eunwoo adalah mantan aktor cilik? Aish pasti kau tidak tahu,”celetuk Mingyu.

Oh…My…God… Aku benar-benar tidak percaya dengan lingkungan baru yang aku temui. Ternyata aku dikelilingi oleh orang-orang menakjubkan. Aku jadi merasa mindir dan ingin kembali ke Jepang. Ternyata walaupun berteman dengan rumpun yang sama tidak menjamin kalau kalian bisa menjadi ‘teman’.

.

.

TBC~

Advertisements

5 thoughts on “F4 – My First Day #1 [Chapter]

  1. Halo halo! Ah senengnya ketemu FF Sujeong disiniXD
    Btw, ayo kita kenalan! Aku Ines dari garis 97 seumuran sama mbak mbak dan mas mas diatas sekaligus Sujeong biased wahahahaha.
    Mungkin garagara itu kali ya aku mampir di FF kamu yang ini ehehehe.
    Tapi tapi…… AAAAA ((abaikan)) ini lucu serius, awalnya aku pikir yang bakal jutek jutek cool gitu Mingyu, secara mukanya senga senga minta ditabok tapi ganteng T,T etapi malah Eunwoo sama Jungkook.
    Eterus itu aku coba tebak……. Yuju antagonis nggak sih disini? Ah, kalo iya sayang banget, soalnya aku biasa ngeship Sujeong-Yuju-Solbin buat jadi temen gituuuu hahaha. ((tapi ya ini pastinya terseraj kamu nge-setting))
    Apa lagi ya….. Mungkin karena baru rilis jadi aku bingung mau bilang apa, belom tau keadaan ceritanya juga, tapi aku excited banget loh kamu bikin FF seputar 97liners! ((Kalo ada apa-apa, mungkin kamu belo terlalu tau 97liners dan misal mau tanya seputar mereka bisa banget, anaknya sering meratiin 97liners soalnya wahahaha))
    Oiya, aku nemu beberapa typo diatas tapi ga terlalu bikin masalah lah~
    Oke, oke keep writting ya! Aku tunggu kelanjutannya hehehe.

    Liked by 1 person

    • Halo kak Ines, Fanny 98er disini 😀
      Iya muka mingyu itu bagaikan anggota geng nakal di sekolahan yang minta di tampol pake ciuman /eh xD
      Ceritanya yuju antagonis si, mirip2 yoo rachel di the heirs /haha
      Nanti kalau butuh bantuan seputar 97er aku langsung meluncur ke kak ines 😀
      Thanks untuk komentar dan petunjuk kesalahannya 😀

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s