F4 – Old Friend & Heart Attrack #2 [Chapter]

Standard

F4 2

F4

 Old Friend & Heart Attrack?! 

Main Cast : Lovelyz’ Sujeong – Seventeen’s Mingyu – Astro’s Cha Eunwoo

Cast : BTS’ Jungkook – Soloist’s Yoo Seungwoo – DIA’s Yebin – Gfriend’s Yuju – Etc

Genre : School Life – Friendship – Fluff – Romance

Type : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran author. Terinspirasi dari drama populer seperti The Heirs dan Boys Before Flower, namun tetap alur dan cerita murni dari pemikiran author selaku penulis cerita ini!

..

Kali ini aku mengetahui sisi lain dari F4.

.

.

.

.

            Yebin tidak masuk hari ini jadi aku menjalani hari-hariku sendiri di sekolah. Katanya dia pergi ikut dengan ibunya ke Paris untuk melihat fashion show yang diadakan di sana. Yebin bilang dia ingin menjadi desginer seperti ibunya makanya sejak dini dia mengikuti ibunya jika ada event besar seperti itu untuk lebih memahami bagaimana dunia fashion.

Kini aku berjalan sendiri ke kantin. Suasana kantin cukup ramai. Oh, apa aku sudah memberitahu kalian bagaimana suasana kantinku? Kantin sekolahku sangatlah keren! Bagaikan restauran di hotel bintang 5. Ini benar-benar menakjubkan! Makanannya juga berganti menu setiap hari. Ketua koki adalah pemegang juara Master Chef Korea dan juga pernah menjadi juru masak untuk Presiden Korea. Maka dari itu makanan di sini sangat lezat dan terjamin mutunya. Benar-benar sekolah yang menakjubkan!

Aku mencari tempat duduk namun sepertinya tidak ada lagi bangku kosong di tempat ini. Saat aku melihat sebuah tempat duduk yang tidak terisi, instingku menyuruhku untuk pergi ke sana. Oh.. ternyata yang duduk di situ adalah Yuju, anak bos ayahku. Dia sedang bersama teman-temannya dan memainkan ponsel mereka. Sepertinya mereka ke kantin bukan untuk makan siang melainkan untuk berbincang-bincang. Bukankah ini namanya membuat orang lain rugi? Orang lain seperti aku membutuhkan tempat duduk ini tapi mereka malah seenaknya duduk di sini untuk memainkan ponsel mereka.

“Permisi apa aku boleh duduk di sini?”tanyaku.

Yuju mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan kini melihatku dari atas hingga bawah. Dia tersenyum namun entah mengapa senyuman itu membuatku merinding.

“Di sini ada orang,”katanya.

“O—oh aku fikir masih kosong,”kataku.

“Itu orangnya!”

Aku melihat kebelakang dan dapat aku lihat seseorang membawa nampan makanan sedang berjalan ke arah tempat ini. Gadis itu terlihat begitu polos dan cantik. Kini dia sudah berada di dekatku, dia meletakan nampan makanan yang dia bawa lalu meletakannya di depan Yuju. Setelah selesai dia berlari kembali ke barisan dan mengambil nampan baru. Ada apa ini?

“Kau sudah lihatkan kalau disini ada orang. Kenapa masih diam di sana?”tegur Yuju.

“Maaf. Kalau begitu aku permisi,”pamitku.

Aku menghembuskan nafas karena tidak kunjung mendapatkan kursi kosong. Tiba-tiba saja segerombolan gadis berdiri dan pergi dari kantin, aku tersenyum legah akhirnya aku memiliki tempat untuk duduk. Namun saat aku berjalan ke tempat itu, gadis lain berdiri juga lalu mereka berlari sambil menjeritkan nama ‘F4’. Aku memutar bola mataku karena heran apa si istimewanya melihat mereka. Mungkin iya istimewa melihat si Jungkook itu karena dia seorang idol tapi bagaimana dengan yang lain? Dengan masa bodohnya aku tetap berjalan ke meja kosong namun—

Brug!!!

Seseorang menambrakku begitu saja sehingga aku tersandung dan terjatuh ke lantai. Makananku tumpah dan berserakan di lantai. Aku memekik tertahan. Gila!! Makanan itukan mahal dan kini semuanya terbuang sia-sia! Aku menatap geram orang-orang yang berlari tanpa memperdulikan kalau aku sedang jatuh. Orang-orang sinting!

“Cha Eunwoo biar aku saja yang mengambilkan makananmu,”

“Jungkook oppa nanti aku akan datang ke konsermu!”

“Seungwoo-ya ayo bermain gitar bersama!”

“Mingyu-ya semangat untuk turnamen basketmu minggu depan!”

Aku hanya bisa menggeleng kepala mendengar teriakan mereka. Memangnya laki-laki itu akan peduli? Apa si untungnya memperhatikan mereka sampai begitunya.

“Hey Ryu apa kau butuh bantuan?”

Aku mendongkak kepalaku ke atas dan terkejut saat melihat Mingyu ada di depanku. Dia mengulurkan tangannya dan otomatis aku menerima uluran tangannya.

“YA!!!!!!!!”

Suara teriakan menggema di kantin ketika aku baru saja berdiri. Aku melihat ke segala arah dan orang-orang sedang menatapku tajam bahkan ada orang yang merekamku. Ku lihat di belakangku sudah ada Eunwoo, Seungwoo dan Jungkook.

“A—apa? Pergi sana! Terima kasih sudah menolongku,”ketusku.

Krikkkkkkk.. Semua orang mendadak diam. Apa aku melakukan kesalahan dengan ucapanku? Kalau iya kenapa jadi mereka yang sewot harusnya Mingyu yang tidak terima.

Ya kau beraninya berkata seperti itu kepada Mingyu! Dasar tidak tahu sopan santun!”pekik seseorang.

Kini aku menatap Mingyu untuk memohon pertolongan. Mingyu menatapku seakan tidak terjadi apa-apa. Aku mengumpat dalam hatiku. Sial! Harusnya aku tidak usah menerima pertolongannya tadi kalau begini.

“Jangan berkata kasar kepadanya. Dia teman kami sewaktu kecil, jadi tolong hormati dia juga!”celetuk seseorang.

Aku menoleh ke belakang dan terkejut saat mengetahui seorang Cha Eunwoo mengatakan hal seperti itu dengan lantang. Gadis-gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah lalu kembali ke tempat duduk mereka. Entah kenapa aku merasa darahku berdesir hebat saat ini. Cha Eunwoo membelaku? Apa ini kenyataan? Aku mencubit tanganku sendiri dan—

“Au!!”

Itu sakit!

Aku hanya bisa menatap takjub ruangan ini. Setelah insiden di kantin tadi Mingyu memaksaku ikut dengannya untuk ikut bersamanya dan teman-temannya ke sebuah tempat. Dan inilah tempat yang dimaksud oleh mereka, sebuah tempat di mana F4 beristirahat. Aku tidak tahu bagaimana bisa mereka memiliki tempat ini bahkan di dalam tempat ini ada pantry yang menakjubkan! Gila!

Chogi—ini ruangan apa?”tanyaku ke Mingyu.

“Ini ruangan di mana kami bisa bolos,”jawabnya.

Aku lihat Eunwoo kini sudah duduk di sebuah sofa dan menghidupkan televisi yang ada di depannya. Sementara Jungkook tengah membuka sebuah botol minuman dan meneguk minuman itu dengan seksinya. Eh? Apa yang baru saja aku katakan?!

“Kau pasti belum makan. Ambil saja makanan di sana kalau kau lapar,”katanya Mingyu.

“Oh terima kasih!”seruku.

Kebetulan aku sangat lapar jadi aku langsung berlari ke pantry untuk mengambil makanan tanpa malu-malu. Toh Mingyu yang menyuruhku terlebih dahulu, jadi untuk apa sungkan-sungkan hehe.

Setelah mengambil jajanan yang aku pilih dari pantry itu aku kembali menghampiri Mingyu yang sedang memainkan mobil-mobilan yang ada di atas meja. Aku bertanya kepada Mingyu di mana aku harus duduk untuk menghabiskan makanan ini lalu apa kalian tahu apa jawaban Mingyu? Dia mengatakan aku bisa duduk di sebelah Cha Eunwoo!

“Aish kau tidak lihat dia sedang menonton televisi. Nanti aku mengganggunya,”tolakku.

“Tidak apa. Eunwoo itu baik kok!”

Mingyu menyeretku begitu saja seakan-akan aku ini barang yang dapat dipindahan semaunya. Urgh! Dan kini dia berhasil menghempaskan tubuhku ke sofa sehingga Eunwoo melirikku. Aku hanya bisa meneguk salivaku, ucapan Eunwoo kemarin yang mengancam untuk menendang kursinya yang aku duduki membuatku tegang. Aku takut apa lagi ancaman yang akan diberikan olehnya kali ini.

“Jadi dia?”tanya Eunwoo.

Eunwoo melirik Mingyu yang masih berdiri. Kulihat Mingyu menganggukan kepalanya. Apa yang sedang mereka bicarakan si?

“Jadi dia teman semasa kecilmu yang kau bilang tiba-tiba saja menghilang?”celetuk Jungkook.

Teman… semasa kecilmu???

Rasanya tidak berselerah untuk menyantap makanan yang sudah aku ambil. Setelah mendengar cerita dari Mingyu aku baru teingat akan suatu hal. Sebelum aku pindah ke Jepang, saat itu aku berumur 6 tahun. Aku ingat pernah bermain dengan dua anak laki-laki dan ternyata orang itu adalah Mingyu. Aku—aku tidak pernah sadar atau menduga kalau aku bisa bertemu dengannya lagi. Lagi pula saat itu aku hanya beberapa kali bertemu dengannya dan Seokmin.

“Kau sudah ingat?”tanya Mingyu.

“Ya aku ingat tapi bagaimana bisa kau mengetahui kalau orang itu adalah aku?”tanyaku heran.

“Saat kau mengatakan namamu Ryu Sujeong dan kau berasal dari Tokyo membuatku teringat dengan seseorang. Setelah menelisir lebh jauh ternyata dugaanku benar kalau kau adalah temanku dulu. Senang bertemu denganmu lagi Ryu Sujeong!”oceh Mingyu panjang lebar.

“Eoh.. Padahal kita hanya bertemu beberapa kali saat ayahku mengantarkan bosnya ke acara kantor. Hebat rasanya mendengar kau masih dapat mengenaliku. Bagaimana dengan Seokmin?”tanyaku.

“Seokmin? Ah.. dia meninggal beberapa tahun yang lalu,”

Ya ampun. Aku turut berduka mendengarnya. Padahal dia anak yang riang dan lucu tapi Tuhan memiliki takdir lain untuknya. Yoo Seungwoo yang sejak tadi berada di pantry kembali dengan membawa sebuah panci ramyeon yang lumayan besar. Dia meletakan panci itu di atas meja dan membagikan sumpit kepada teman-temannya termasuk aku.

“Ryu kau harus cicipi ramyeon masakan Seungwoo! Dia sangat hebat loh memasak ramyeon!”kata Mingyu.

“Ryu Sujeong-ssi makanlah,”tegur Jungkook. Oh, si muka datar itu ternyata bisa juga menawarkan aku untuk memakan ramyeon ini.

“Hahaha ini ramyeon biasa kok. Makanlah Sujeong-ssi!”celetuk Seungwoo.

Aku melihat Eunwoo sudah membelah sumpitnya menjadi dua lalu mulai mengaduk ramyeon itu. Tampaknya dia sadar sedang aku pandangin. Dia tersenyum tipis padaku lalu—

Ladies first!”kata Eunwoo.

Oh… dia manis juga. Sebenarnya bagaimana kepribadian Eunwoo yang sebenarnya. Kemarin dia tampak begitu dingin dan kini dia tersenyum padaku. Aku menjadi penasaran dengannya—

Tak!!

Au! Kim Mingyu sialan, beraninya dia memukul kepalaku dengan sumpit yang dia pegang! Arg!!

Ya Ryu! Aku menyuruhmu untuk segera makan. Cepat makan aku juga sudah lapar!’gerutu Mingyu.

“Iya, iya!”kesalku.

Karena kelamaan berada di ruangan F4 aku jadi terlambat masuk. Kini aku berjalan menuju kelas dengan santai. Iya aku berjalan santai karena bukan hanya aku saja yang telat tapi ada Eunwoo di sampingku. Aku merasa gerogi karena berjalan dengannya. Untung saja tidak ada orang lagi di koridor sekolah bisa-bisa mereka kembali menatapku dengan tatapan tajam itu.

“Hmm Cha Eunwoo-ssi,”

“Kenapa?”tanyanya.

“Terima kasih untuk yang di kantin,”

Aku menahan senyumku mengingat dia membelaku saat di kantin tadi. Namun Eunwoo merespon ucapanku barusan sehingga jawabannya membuatku berhenti tersenyum.

“Berterima kasihlah pada Mingyu. Kalau kau bukan temannya aku tidak akan membelamu seperti itu,”kata dingin.

Eunwoo langsung masuk ke dalam kelas sementara aku diam membeku di tempat. Rasanya ada ribuan jarum yang menusuk di dadaku ketika mendengar dia mengatakan hal itu. Tidak mungkin! Jangan katakan aku menaruh hati kepadanya! Tapi kalau tidak—kenapa aku merasakan nyeri di dadaku hanya karena dia berbicara dengan nada dingin seperti itu?

Tidak aku sangka kalau Yebin sudah pulang ke Korea sehingga hari ini dia kembali masuk ke sekolah. Apa dia tidak merasa lelah ya karena perjalanan panjang dari Seoul—Paris? Hmm aku salut dengan Yebin! Dia tahan jet-lag!

“Sujeong ini aku bawakan oleh-oleh untukmu. Bagaimana? Cantik, kan?”

Aku menerima cindra mata pemberian Yebin dengan hati yang senang. Wah! phone case pemberian Yebin begitu indah! Ada manik-manik lucu menghiasi permukaannya. Betul-betul cantik!

“Terima kasih, Yebin-ah.”ujarku.

“Dengan senang hati!”

Berhubung sudah jam istirahat aku dan Yebin langsung pergi ke kantin untuk mengisi perut kami yang keroncongan. Sepanjang jalan menuju kantin orang-orang memandangi kami—eh aku maksud memandangiku. Iya, tatapan horor terus menghantuiku semenjak kejadian di kantin kemarin. Apa ucapan Eunwoo kemarin tidak mempan ya?

“Hey anak baru!”

Aku yang hendak memasukan sesuap nasi ke dalam mulutku langsung mengurungkan niatku ketika Yuju memanggil namaku. Yebin menyenggol sikutku karena heran apa gerangan Yuju bisa memanggilku.

“Iya, ada apa?”tanyaku.

“Apa kau benar berteman dengan F4 sejak kecil?”tanyanya lagi.

“Uh?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apa aku harus meneruskan sandiwara ini? Namun bagaimana kalau F4 tidak terima lagipula aku tidak mau tersangkut dengan nama F4 lagi walaupun Kim Mingyu adalah temanku saat kecil.

“Dia memang temanku, Choi Yuju.”celetuk seseorang.

Author POV

Mingyu muncul dari belakang Yuju sehingga gadis itu menoleh. Kali ini hanya ada Mingyu dan Jungkook, mereka tidak bersama Eunwoo dan Seungwoo. Sujeong menatap Yuju dan Mingyu secara bergantian. Dapat Sujeong lihat kalau saat ini Yuju memutar bola matanya mendengar celetukan Mingyu barusan.

“Jangan berbohong. Kau fikir aku tidak mengenal kalian?”tanya Yuju.

“Iya kita saling kenal sejak dulu. Tapi itu tak berarti kau tahu segalanya tentang kami, kan?”celetuk Mingyu.

“Jeon Jungkook apa benar kalian berteman dengan anak baru itu sejak kecil?”tanya Yuju kembali mengabaikan celotehan Mingyu barusan.

Jungkook mengangkat kedua bajunya, “Entahlah. Tapi aku rasa yang Mingyu katakan itu benar, walaupun kita saling kenal sejak lama bukan berarti kau tahu segalanya tentang kami,”

Yuju memasang wajah datar lalu dia melirik Sujeong yang sejak tadi hanya bisa bengong mendengar percakapan Mingyu, Yuju maupun Jungkook. Bibir Yuju kembali bergerak untuk mengatakan sesuatu.

“Baiklah kalau begitu. Aku hanya bertanya saja apa benar kalian berteman dengan dia sejak dulu atau tidak, soalnya banyak yang menanyakannya kepadaku. Aku kan jadi risih,”ocehnya lalu pergi meninggalkan kantin.

Author POV END

“Aku paling malas kalau dia sudah berbunyi,”celetuk Yebin.

Aku kembali menunda untuk memakan makan siangku ketika mendengar Yebin berkata seperti itu. Sepertinya dia tidak menyukai Yuju, dapatku baca dari ekspresi wajahnya.

“Memangnya ada apa?”tanyaku.

“Tidak—hanya saja aku tidak suka dengannya,”jawab Yebin.

“Hm kalau kau tidak suka dengannya pasti ada alasankan?”

“Sebetulnya dulu aku pernah dipermalukan olehnya. Sial! Ini semua karena koneksi itu—urgh!”

“Kenapa? Kau memintanya menjadi koneksimu?”ujarku mulai penasaran.

“Ya seperti itulah. Saat itu aku baru masuk sekolah dan ibu bilang dia itu gadis yang cocok untuk menjadi temanku. Cocok apanya malah dia membuatku keki,”oceh Yebin.

Aku hanya bisa tertawa mendengar ocehan Yebin. Syukurlah kalau sekarang dia sudah sadar kalau berteman tidak butuh ‘koneksi’ atau apalah itu namanya. Saat aku sedang menguyah brokoli yang ada di dalam mulutku tiba-tiba saja di sampingku sudah ada Mingyu dan Jungkook.

“Meja ini masih banyak kosong, kan? Untuk 2 orang lagi pasti muat,”katanya.

“Apa? Dua orang lagi? Siapa?”tanyaku.

“Itu!”

Alangkah terkejutnya aku ketika Eunwoo dan Seungwoo sedang berjalan ke tempat duduk kami. Ya Tuhan, detak jantungku berdetak tidak normal lagi. Ini pasti karena Eunwoo. Jauhkan Eunwoo dariku, please!

Heol daebak! A—aku makan di meja yang sama dengan F4. Unbelieavable!”pekik Yebin tertahan.

F4 langsung melihat Yebin yang memberian reaksi yang terlalu berlebihan. Aku juga si melihat Yebin dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Saat aku melihat ke arah lain dapat aku tangkap bahwa orang-orang sedang menatapku dan Yebin dengan iri karena makan semeja dengan F4.

“Kalau kalian makan di sini itu akan membawa masalah untukku. Tidak bisakah kita bersikap seolah-olah tidak saling mengenal?”Tanyaku.

Ya kau ini berbicara apa!”celetuk Yebin.

Aku mencibir pelan, dia tidak tahu saja bagaimana aku diperhatikan oleh gadis-gadis di sekolah ini.

“Kau dengar sendirikan Mingyu apa yang baru saja bbangdduck itu katakan? Mending aku dan Seungwoo mencari meja lain saja,”celetuk Eunwoo.

bbangdduck? Siapa?”tanyaku heran.

“Kau,”kata Eunwoo dengan santainya.

“Apa kau bilang? Ya kenapa harus bbangdduck?!”protesku.

“Mungkin karena pipimu,”sambung Mingyu.

Apa kedua laki-laki ini sedang menghina pipiku yang chubby ini? Seenaknya saja menghina pipi chubby-ku! Rasa kesalnya terasa sampai keubun-ubun. Tidak bisa dibiarkan!

“Kalian mau mati?”ancamku sambil mengarahkan pisau stik milik Yebin.

Aku mengarahkannya pisau itu ke Mingyu maupun Eunwoo namun aku melihat Mingyu meresponku dengan tawa sementara Eunwoo tetap diam seperti manekin. Aku kembali menarik tanganku lalu meletakan kembali pisau itu dan langsung mengambil sendok makanku. Karena kesal aku menyendokan sesendok penuh nasi ke dalam mulutku.

Bbangdduck,”celetuk Eunwoo.

Uhuk…uhuk!! Mingyu tertawa terbahak-bahak saat mengetahui aku tersedak. Seungwoo juga menahan ketawanya sementara Eunwoo dan Jungkook tetap memasang tampang datar. Yebin yang panik langsung memberikan orange juice-nya kepadaku. Aku menghabiskan orange juice itu sampai habis lalu menatap tajam ke arah Eunwoo! Aish dasar si tampan yang menyebalkan!

Jemputanku sampai sekarang belum juga tiba. Beberapa menit yang lalu aku baru mendapatkan pesan dari Pak Jang. Pak Jang bilang dia terkena macet karena ada kecelakaan lalu lintas. Sampai kini Pak Jang belum sampai juga padahal sekolahan sudah sepi. Aku si mau pulang naik taksi tapi Pak Jang bilang karena aku baru sampai di Seoul takutnya terjadi hal yang bukan-bukan saat pulang. Jadi terpaksalah aku menunggunya di sini.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan tempat aku berdiri. Aku memandang mobil itu heran, pasalnya ini bukan mobil keluargaku. Aku berusaha mengabaikan mobil itu mana tahu saja supirnya sedang menunggu jemputan anak lain yang tapi tiba-tiba saja—

Bbangdduck kau tidak pulang?”

Eh?! Cha Eunwoo membuka kaca jendela di belakang dan bertanya kepadaku. Dia terus memandangi wajahku dengan muka datarnya, membuat aku jadi nervous.

“Kau tidak lihat kalau aku masih berdiri di sini?”kataku sewot.

“Oh kau menunggu jemputan,”gumamnya.

“Iya, sedang menunggu jemputan. Huh,”

Aku mendesah karena kakiku sudah lelah berdiri menunggu jemputan. Kalau aku masuk ke dalam nanti Pak Jang akan kesulitan mencariku maka dari itu aku tetap berdiri di tempat ini.

“Kalau lama menunggu kenapa tidak naik kendaraan umu—oh iya aku lupa kau baru pindah ke sini pasti tidak tahu jalan,”

Tidak tahu jalan?! Hei aku sudah hapal jalan dari rumah menuju sekolahku hanya saja aku tidak dibolehkan untuk pulang sendiri menggunakan kendaraan umum. Apa kau tidak tahu itu Cha Eunwoo?!

“Naiklah,”katanya.

Ye?”

“Aku memberikanmu tumpangan,”

Cha Eunwoo menawarkan tumpangan untukku?!! Apa ini nyata?

Aku terus memainkan tanganku yang saat ini berkeringat dingin. Bukan, ini bukan karena aku sakit! Tapi karena aku berada di mobil yang sama dengan Cha Eunwoo. Aku begitu gugup dan menjadi salah tingkah. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana harus mengontrol perasaanku saat ini.

“Kenapa pindah ke Korea?”tanya Eunwoo tiba-tiba.

“Uh? Ayahku dipindahkan tugas ke Korea lagi,”jawabku.

“Apa pekerjaan orangtuamu?”tanya Eunwoo lagi.

Mendadak aku diam. Aku takut kalau reaksi Eunwoo lebih buruk dibandingkan Yebin. Tempo hari ketika aku berbicara dengan Mingyu di tangga Mingyu mengatakan padaku bahwa kakek Eunwoo adalah mantan perdana menteri Korea Selatan, sementara kedua orangtuanya adalah orang terpandang di negeri ini. Yayasan sekolah tempat aku menimbah ilmu ternyata milik keluarga besar ibunya Eunwoo! Keluarganya benar-benar menakjubkan, ya. Aku jadi minder untuk mengatakan pekerjaan ayahku.

Bbangdduck aku bertanya,”

“Ryu Sujeong,”

“Apa?”

Eunwoo mengerutkan keningnya heran ketika aku menyebutkan namaku. Maksudku mengatakan namaku itu karena aku ingin dia memanggilku dengan nama panggilanku bukannya bbangdduck!

“Panggil namaku. Ryu Sujeong.”ujarku.

“Tidak mau. Entah kenapa lebih enak memanggil bbangdduck,”

Blush~ Entah kenapa tiba-tiba pipiku memanas. Oh, apa ini panggilan spesial Eunwoo untukku? Hehe. Entah kenapa dipanggil bbangdduck terasa jadi istimewa padahal aku tidak suka.

“Pak Lee tolong besarkan AC-nya. Sepertinya temanku kepanasan sehingga pipinya memerah,”celetuk Eunwoo.

“Aku tidak kepana—“

Aku menghentikan ucapanku. Kalau aku bilang tidak kepanasan pasti Eunwoo akan heran kenapa tiba-tiba pipiku memerah seperti penglihatannya barusan. Jadi aku rasa diam adalah pilihan yang aman agar dia tidak tahu kalau barusan aku memikirkan hal yang bukan-bukan.

Bbangdduck kau belum jawab pertanyaanku,”katanya.

“Ayahku—ayahku seorang CEO di perusahaan milik ayah Yuju,”ucapku ragu-ragu.

“Wow… Aku dengar Tuan Choi hanya mempercayakan orang terbaik untuk menjabat sebagai CEO di perusahaan milikknya. Ayahmu hebat,”

Spontan aku melihat ke samping saat Eunwoo mengatakan hal barusan. Aku tidak salah dengarkan kalau dia memuji ayahku? Seakan sadar aku memandanginya Eunwoo melihatku juga dan memasang wajah heran.

“Ada apa?”tanyanya.

“Bu—bukan aku fikir kau akan mengatakan hal yang lain,”celetukku.

“Hal lain? Hal lain apa?”

“Mungkin mengatakan kalau aku tidak pantas bisa satu mobil denganmu,”gumamku lalu menundukan kepala.

Author POV

            Walaupun Sujeong bergumam Eunwoo dapat mendengar dengan sangat jelas apa yang baru saja dia katakan. Eunwoo tersenyum tipis melihat Sujeong yang tertunduk malu seperti itu.

“Oh jadi kau sudah dengar dengan sistem kasta yang ada di sekolah kita?”tanya Eunwoo.

“I—iya. Ada Yebin yang mau berteman denganku saja sudah bersyukur sekali. Aku dikelilingi oleh orang-orang menakjubkan,”kata Sujeong.

“Orang-orang menakjubkan? Siapa? Tidak ada yang menakjubkan di sekolah itu selain orang yang bisa menghasilkan uang sendiri seperti Jungkook karena dia seorang idol,”

Sujeong kembali menatap Eunwoo. Netra Eunwoo juga membalas tatapan Sujeong barusan. Eunwoo menghembuskan nafas lalu melanjutkan lagi ucapannya.

“Maksudku yang menakjubkan itu orangtua kita. Bukan kita. Kita masih dalam proses untuk menuju masa depan jadi tidak sepatutnya kita terlalu sombongan dengan uang yang orangtua kita berikan,”lanjut Eunwoo.

Mulut Sujeong membentuk huruf O karena dia terkesima dengan jawaban Eunwoo barusan. Dia tidak menyangka kalau seseorang yang menyebalkan seperti Cha Eunwoo bisa berkata bijak seperti itu. Pasti orangtuanya mendidik Eunwoo dengan sangat baik, batin Sujeong.

Author POV END

Aku berdiam diri di kamar sambil mencerna kata-kata dari Eunwoo di mobil tadi. Tidak kusangka si tampan yang menyebalkan itu bisa berkata seperti itu. Keluarganya selain menakjubkan juga memiliki kepribadian yang sangat baik. Eunwoo beruntung sekali terlahir di keluarga itu.

“Sujeong-ah!”

Oh itu suara ibuku. Aku buru-buru keluar saat mendengar ibuku memanggil namaku. Setelah aku membuka pintu aku lihat ada ibu yang menyambutku dengan senyuman. Aku pun bertanya ada apa memanggilku.

“Ada apa bu?”tanyaku.

“Ayahmu menyuruh ibu memanggilmu. Dia ingin mengenalkanmu kepada seseorang,”kata ibuku.

“Siapa?”

Baru saja memasuki ruang tamu aku melihat ayahku sedang berbicara dengan seorang pria tampan nan berkarisma. Kalau aku lihat penampilannya orang yang sedang berbicara dengan ayahku bukanlah orang biasa. Apa dia rekan kerja ayah? Kalau iya kenapa ayah mau mengenalkanku kepadanya?

“Oh Sujeong-ah cepat ke sini!”

Aku langsung berlari ketika ayah menyuruhku untuk bergerak cepat dan kini aku sudah berdiri di samping ayahku.

“Beri hormat kepada Tuan Choi,”titah ayahku.

Annyeong haseyo Ryu Sujeong imnida,”

Aku membungkukan badanku 90 derajat setelah itu aku berdiri dengan tampang kebingungan. Ayahku menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Setelah duduk ayah merangkul bahuku dan memberitahu sesuatu kepadaku.

“Sujeong-ah Tuan Choi ini adalah pemilik perusahaan tempat ayah bekerja. Dia yang membantumu untuk bisa masuk ke sekolah itu, kebetulan putrinya juga bersekolah di sana,”

Hah?? Jadi ayahku dibantu oleh Tuan Choi makanya aku bisa sekolah di situ—Tunggu sebentar! Kalau Tuan Choi adalah pemilik perusahaan Shinhwa itu berarti dia ayahnya Yuju dong?!

“Ah.. Choi Yuju? Dia sekelas denganku,”kataku.

“Sungguh? Wah kebetulan sekali. Kalau begitu kalian bisa menjadi teman ya hahaha,”kekeh Tuan Choi.

Ayahku ikut tertawa bersama Tuan Choi. Sementara aku di sini hanya bisa tersenyum kecut. Berteman? Dengan Choi Yuju? Yang benar saja. Itu mustahil, sama saja seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami!

“Hei anak baru,”

Aku yang sedang menyalin catatan milik Yebin langsung menghentikan aktivitasku saat seseorang memanggilku. Iya walaupun bukan namaku yang mereka sebut tapi tetap saja kata-kata anak baru itu hanya tertuju padaku.

“Ada apa Yuju-ssi?”tanyaku.

“Ayahku mengatakan hal aneh kepadaku. Dia bilang aku harus berteman dengan anak bernama Ryu Sujeong. Hah, yang benar saja,”ocehnya.

Oh…tidak.. Apa Tuan Choi mengatakan hal-hal aneh kepada Yuju? Aku jadi merinding dan takut apa yang akan dilakukan Yuju kepadaku. Kalau Yebin yang seperti itu saja bisa dia permalukan apalagi aku? Bisa-bisa dia menginjak mukaku di depan umum!

“Ayahmu kemarin ke rumahku dan ayahku menyuruhku berkenalan dengan beliau. Itu hanya gurauan jadi jangan di ambil pusing ya hehe,”kataku sambil tertawa.

Namun Yuju tetap memandangiku dengan datar. Wajahnya terbuat dari triplek kah sehingga datar? Betul-betul versi perempuan dari Eunwoo! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini sehingga aku salah tingkah.

“Ki—kita tidak bisa jadi temankan? Ya sudah kalau begitu lebih baik kita mengurusi urusan masing-masing. Betulkan?”

“Tentunya kita tidak bisa berteman. Kau ada 2 level dibawahku jadi aku dan kau tidak bisa disatukan dengan kata teman,”kata Yuju dingin.

Aku meremas rok sekolahku setelah mendengar ucapan Yuju yang betul-betul menyinggung harga diriku. Semua orang di dalam kelas kini memandangiku begitu juga dengan Yebin. Aku melirik Yebin yang kebingungan, sepertinya dia tidak tahu harus melakukan apa untuk membelaku. Heh.. apa boleh buat.

Ya Choi Yuju kau berbicara apa si?”

Suara Mingyu tiba-tiba terdengar digendang telingaku. Mingyu datang bersama anggota F4 yang lain. Mingyu mendekat kepadaku dan Yuju lalu dia bertanya lagi kepada Yuju apa yang terjadi.

“Ucapanmu itu kasar sekali,”tegur Mingyu.

“Lalu aku harus berkata seperti apa? Aku hanya membicarakan kebenaran kalau dia tidak sebanding denganku,”

“Te—teman-teman jangan berdebat. Mingyu-ssi aku baik-baik saja jadi urus saja urusanmu,”

Aku buru-buru pergi meninggalkan ruang kelas untuk segera pergi ke toilet. Dadaku terasa begitu sesak karena ucapan Yuju tadi yang benar-benar melukai harga diriku. Apa yang salah dengan pekerjaan ayahku? Pekerjaan ayahku begitu bagus dan keren. Aku bangga ayahku seorang CEO di perusahaan terkenal yang memiliki cabang di mana saja. Iya memang perusahaan itu milik ayahnya Yuju dan penghasilan ayahku tidak sebesar keuntungan yang keluarga Choi peroleh. Namun tetap saja dia tidak boleh melukai perasaan orang seperti tadi, kan? Aku jadi mengerti kenapa Yebin betul-betul membenci Yuju. Tapi aku tidak habis fikir bagaimana bisa Tuan Choi yang baik dan ramah memiliki anak seperti Yuju yang dingin bagaikan es di kutub utara?

Karena kehilangan akal sehatku, tanpa sadar tungkaiku membawa aku pergi ke tempat ini. Aku tidak tahu kalau sekolahku memiliki taman yang begitu cantik. Banyak sekali kupu-kupu berterbangan di taman ini dan mereka hinggap di bunga-bunga cantik seperti diriku, hehe.

“Kenapa ada orang di tempat privasiku?”

Aku mendengar suara seseorang tepat dibelakangku. Eh? Dia adalah Jeon Jungkook. Kenapa dia ada di sini—

“Kau kenapa di sini?”tanya Jungkook.

“Tidak boleh? Memangnya ini tempat milikmu sendiri?”tanyaku.

“Memang ini tempat privasiku,”katanya tak mau kalah.

Jeon Jungkook bergerak ke arahku. Kemudian dia duduk di sebelahku. Wah ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku berduaan dengan Jungkook dan berbicara dengannya tanpa ada Eunwoo atau Mingyu di sini. Biasanya jika aku berbicara dengan Mingyu atau Eunwoo dia hanya berdiri di belakang mereka.

“Jangan dipikirkan ucapan cewek sinting itu,”celetuk Jungkook.

“Uh? Maksudmu?”

“Maksudku jangan pikirkan ucapan Yuju tadi. Dia memang seperti itu orangnya, suka berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain,”

Oh, apa dia sedang memberikan sebuah masukan kepadaku?

“Haha tidak kok. Aku di sini bukan karena dia,”dustaku.

“Ryu Sujeong, aktingmu buruk sekali,”celetuk Jungkook.

“Apa?”

“Aku memang menjadi trainee selama 1 tahun di agensiku tapi setidaknya aku belajar banyak hal di sana. Aku juga belajar bagaimana berakting yang benar. Dan kalau aku menilai aktingmu berpura-pura tegar ini—hm sangat buruk,”ocehnya panjang lebar.

Aku hanya melongo digurui oleh Jungkook. Iya si aku berakting tertawa seperti tadi. Tidak kusangka kalau Jungkook akan berbicara seperti itu. Eh! Ngomong-ngomong aku hanya berdua dengannya di tempat ini, kalau ada yang melihat kami bagaimana? Lebih parahnya lagi kalau wartawan! Ini bisa menyebabkan skandal, kan?

“Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Jungkook.

Ye? Bukan apa-apa hehe,”

Mana boleh Jungkook tahu kalau aku memikirkan khayalan anehku. Jungkook mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu jemarinya sibuk mencari-cari sesuatu di galeri. Aku dapat tahu itu galeri karena sempat melirik. Tidak apakan kalau mencuri pandang sebentar? Aku juga penasaran dengan isi ponsel selebritis.

“Coba lihat ini!”

Ia memberikan ponsel mahalnya kepadaku. Sebuah video dimainkan di layar lalu tanpa memberikan komentar aku menontonnya. Sebuah lantunan lagu dengan genre hip-hop begitu asik di telinga sampai-sampai aku menggoyangkan tubuhku. Dan kalian tahu? Aku melihat Jungkook di sana! Mungkin video ini—

“Bagaimana menurutmu? Itu music video dari grupku. Namanya BTS,”

“Huaaa ini keren Jungkook-ssi. Aku menyesal tidak mengetahui grupmu dari awal!”kataku takjub.

“Mingyu bilang kau tidak tahu aku adalah idol. Ini baru pertama kalinya aku mendengar hal seperti itu. Semua orang mengatakan kalau aku populer apalagi dikalangan anak SMA jadi aku agak kaget saat Mingyu bilang kau tidak mengenaliku,”

“Maaf kalau itu melukai perasaanmu,”sesalku. Pasti seorang artis akan sedih jika seseorang tidak bisa mengenalinya. Iya, kan?

“Tidak apa. Aku merasa senang itu artinya aku masih bisa bertindak bebas dihadapan orang yang tidak mengenalku,”celetuknya.

Netraku masih fokus dengan layar ponsel Jungkook dan tiba-tiba saja wajah seseorang si shoot. Ganteng sekali dia!

“Jungkook-ssi dia siapa?”tanyaku.

“Hmm—ah itu V hyeong. Taehyung hyeong nama aslinya,”jawab Jungkook.

“Tolong katakan padanya ya kalau aku kirim salam,”

“Katakan saja sendiri,”

Bibirku langsung melengkung kebawah ketika Jungkook mengatakan hal itu. Namun tidak lama kemudian dia kembali angkat bicara.

“Kalau kau mau datang ke konserku, hubungi saja aku. Aku akan memberikan jalur VVIP untukmu. Kalau kau mau berbicara dengan Taehyung hyeong juga bisa,”

“Sungguh?!!!”

Jungkook mengangguk. Karena durasinya telah habis aku mengembalikan ponsel Jungkook kepadanya. Kemudian dia berdiri lalu menatapku, “Aku kembali ke kelas ya. Kau juga lebih baik kembali ke kelas dan abaikan saja Yuju itu,”. Setelah mengatakan hal itu dia langsung pergi dari hadapanku. Aku tidak menyangka kalau Jungkook bisa asik diajak bicara. Walaupun cuek tapi setidaknya Jungkook tidak moody seperti Eunwoo yang sebentar-sebentar baik tapi bisa saja kembali menyebalkan.

Akhir pekan telah tiba dan aku menghabiskan waktuku di dalam kamar saja. Kalau aku masih di Jepang mungkin aku sudah pergi ke rumah Tomomi atau mungkin pergi ke rumah Sakura untuk sekedar berbicara atau pergi hangout bersama. Tapi di sini aku hanya baru memiliki satu teman yaitu Yebin. Aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku ternyata itu adalah ibu.

“Sujeong-ah kenapa tidak jalan-jalan? Kita sudah 1 minggu di Korea tapi kau belum pernah pergi kemana-mana,”tanya ibu.

“Ayo bu pergi jalan!”seruku.

“Maaf, ibu ada reuni dengan teman kuliah ibu dulu. Bagaimana kalau ibu mengantarkanmu ke Myeongdeong untuk berjalan-jalan? Nanti pulangnya ibu akan jemput,”

Hmmmm bukan ide yang buruk si. Aku sudah besar jadi berjalan-jalan sendiri tidak akan membuatku seperti anak hilang di pasar, kan?

“Aku siap-siap dulu bu,”kataku.

Setelah mengatakan itu ibu langsung keluar dari kamarku. Kini aku beranjak dari kasurku untuk mencari pakaian di lemari. Aku membuka lemari pakaianku dan melihat satu persatu baju yang tergantung di sana. Hmm sepertinya untuk jalan-jalan santai menggunakan dress putih selutut bukanlah pilihan buruk.

Ini pertama kalinya aku ke Myeongdeong! Eh? Mungkin saat aku kecil aku pernah ke sini namun aku tidak pernah ingat apapun. Rasanya begitu menyenangkan walaupun sendiri. Banyak sekali anak muda sepertiku berjalan bersama. Entah mereka bersama teman atau bahkan pacar mereka. Aku melihat sebuah kedai es krim tanpa basa-basi aku langsung berlari ke sana! Cuaca panas seperti ini memang cocok minum yang segar-segar.

Aku keluar dari stan es krim dengan sebuah es krim vanila yang sangat manis. Es krimnya benar-benar enak! Sambil menjilat es krim aku berjalan melihat kesekeliling. Banyak sekali orang berjualan, mulai dari pakaian, kosmetik, dompet, tas dan lain-lain.

“Yeppeoseo, gue eolguli neomu yeppeoseo,”

Aku mendengar suara seseorang bernyanyi diiringi dengan pitikan gitar. Aku melihat orang-orang beramai-ramai mengerumuni sesuatu. Karena penasaran tungkaiku melangkah ke tempat itu. Karena banyak sekali penontonnya itu menjadi penghambat untukku melihat apa yang ada di depan sana. Namun setelah berusaha keras akhirnya aku dapat melihat di barisan pertama—

“Yoo Seungwoo-ssi?!”pekikku.

Petikan gitar yang dimainkan oleh Seungwoo terhenti ketika mendengar teriakanku, begitu pula dengan suaranya. Namun beberapa detik kemudian dia kembali melanjutkan permainannya. Aku tidak salahkan kalau orang yang sedang aku lihat ini adalah Yoo Seungwoo? Bagaimana bisa seorang anggota F4 berada di tempat seperti ini bernyanyi sambil bermain gitar di bawah teriknya matahari?!

.

.

TBC

.

Warning : Ini fanfic tanpa tujuan jadi gak tau bagaimana bakalan kedepan ceritanya.. Romance? Mungkin masih butuh waktu sejenak. Kedepannya bisa jadi ada penambahan karakter XD
Advertisements

7 thoughts on “F4 – Old Friend & Heart Attrack #2 [Chapter]

  1. Cupid

    NEXT THOOR XD
    si Sujeong macem Cha Eun Sang ya XD tapi bedanya Cha Eun Sang anak pembantu, sedangkan si Sujeong anak CEO dari perusahaan orang lain e.e
    si Yuju cocok banget jadi antagonis, dan menurutku sifat dia di FF ini rada mirip Rachel di The Heirs.
    Roman2-nya semua member F4 ini naksir sama si Sujeong deh o.O tapi bisa jadi cuman Eunwoo sama Mingyu yg naksir Sujeong e.e
    Dedek Kookie-nya dipairingin aja sama si Yein, seorang adik kelas yang miskin /? di gamvar
    .
    Oke cukup sekian review-ku yang lebih mirip pidato daripada review e.e

    Liked by 1 person

  2. Aihara

    Sujeong enak nih bisa dekat sama F4, meskipun ada yang moody tuh ya XD
    dan semoga kedepan ada romancenya 😀
    Sujeong yang sabar ya ngehadapin yuju!^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s