F4 – Complication #3 [Chapter]

wpid-img1443787682739

F4

♥ Complication ♥

Main Cast : Lovelyz’ Sujeong – Seventeen’s Mingyu – Astro’s Cha Eunwoo

Cast : BTS’ Jungkook – Soloist’s Yoo Seungwoo – DIA’s Yebin – Gfriend’s Yuju – Etc

Genre : School Life – Friendship – Fluff – Romance

Type : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran author. Terinspirasi dari drama populer seperti The Heirs dan Boys Before Flower, namun tetap alur dan cerita murni dari pemikiran author selaku penulis cerita ini!

..

.

.

            Rasanya begitu kaget saat tahu itu benar-benar Yoo Seungwoo. Kini dia mengajakku untuk duduk santai di sebuah kafe. Di depan kami sudah ada dua gelas minuman dingin yang Seungwoo pesankan dengan uangnya. Maksudku, uang hasil mengamen Seungwoo tadi. Tanganku terus berada di bawah meja tidak berani untuk memulai meminum minuman itu walaupun kerongkonganku terasa sangat kering.

“Tidak mau minum?”tegur Seungwoo.

Aku hanya tersenyum kikuk namun wajah Seungwoo begitu tenang. Seungwoo terlebih dahulu mengambil minuman itu dan menyedotnya hingga setengah. Sepertinya Seungwoo juga haus karena bernyanyi di bawah teriknya matahari.

“Bagaimana penampilanku Sujeong-ssi?”tanya Seungwoo.

“Bagus sekali. Kau pandai bernyanyi dan bermain gitar. Kenapa tidak menjadi musisi saja?”tanyaku.

“Haha aku bukan Jungkook yang bisa berdiri di depan panggung dan semua orang mengenaliku,”guraunya.

“Jadi kau lebih suka bermain gitar di pinggir jalan seperti tadi?”

“Iya. Di saat akhir pekan aku selalu ada di sana,”katanya.

“Apa anggota F4 lainnya tahu kau di sana?”

“Tidak ada yang tahu. Kau yang pertama kali melihatku di sana,”

Aku terkejut bukan main. Aku yang pertama kali mengetahui Seungwoo bernyanyi di Myeongdeong? Apa ini termasuk sebuah rahasia yang harus jaga?

“Oh ya,”panggil Seungwoo.

“Ada apa Seungwoo-ssi?”tanyaku.

“Jangan beritahu yang lainnya,”balasnya.

Ternyata benar.. ini adalah rahasia Seungwoo yang harus aku jaga dari orang lain sekalipun orang itu adalah teman dekatnya sendiri, yaitu F4.

            Aaaahhh!! Aku benar-benar kesal pada diriku sendiri. Belum lagi satu minggu aku bersekolah di sini tapi aku sudah merasakan hukuman dari telat akibat terlambat! Iya, hari ini aku terlambat karena semalam aku tidur terlalu larut. Aku menyalin semua catatan milik Yebin yang harus aku selesaikan hari ini juga maka dari itu aku terjaga semalaman dan telat untuk pergi ke sekolah. Wakil kesiswaan menyuruhku untuk membersihkan ruang olahraga indoor selama 1 jam kedepan. Ngomong-ngomong aku tidak tahu dimana ruangan itu sehingga aku harus bersusah payah mencarinya hanya dengan mengandalkan papan petunjuk arah.

..

            Aku membuka pintu ruangan olahraga lalu mendengar langkah kaki seseorang dan juga suara bola yang dipantulkan. Aku mengerutkan keningku heran, siapa si orang yang bermain basket di saat pelajaran sedang berlangsung? Padahal tadi aku lihat kelas yang sedang melaksanakan olahraga berkumpul di lapangan outdoor. Tungkaiku terus berjalan ke depan untuk segera membersihkan ruangan ini dan juga mencari tahu jawaban dari pertanyaanku barusan.

..

            Seorang laki-laki bertubuh tinggi kini membelakangiku. Dia sedang fokus untuk memasukan sebuah bola ke dalam ring. Ternyata usahanya membuahkan hasil karena orang itu berhasil memasukan bola ke dalam ring dengan sempurna. Kalau aku tidak sedang memegang perlengkapan bersih-bersih mungkin aku sudah memberikan tepuk tangan untuknya. Tiba-tiba saja laki-laki itu berbalik badan. Aku… aku terkejut saat mengetahui siapa dia.

“Sedang apa di sini Ryu?”tanya Mingyu.

Iya, dia adalah Mingyu. Laki-laki yang pandai bermain basket itu Kim Mingyu namanya. Aku hanya diam seribu bahasa sampai akhirnya Mingyu menghampiriku terlebih dahulu. Saat sudah berada di depanku dia melirik apa yang sedang aku pegang setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha dihukum membersihkan ruangan ini? Kau terlambat?”tanya Mingyu.

“Sudah tahu masih juga bertanya,”cibirku.

“Ya sudah bersihkanlah. Sudah 1 minggu ruangan ini tidak disapu,”katanya.

“Tanpa kau bilang aku juga akan membersihkannya,”

Aku langsung melangkahkan kakiku bahkan aku sengaja menyenggol baju Mingyu. Eh? Bukan bahu, aku hanya menyenggol lengannya karena si karena Mingyu terlalu tinggi untuk aku menyenggol bahunya.

            Mula-mula aku menyapu permukaan lantai agar saat di pel debunya tidak menempel. Hmm kalau difikir ruangan sebenar ini hanya aku yang membereskannya terkesan sangat kejam. Bagaimana bisa aku dihukum seperti ini hanya karena telat? Di Jepang paling aku hanya disuruh untuk berdiri di bawah terik matahari selama 30 menit tapi di sini aku diperintahkan untuk membersihkan ruang olahraga yang sebesar ini seorang diri? Keterlaluan!

Duk..duk…duk..

Aku mendengar suara bola dipantulkan lagi. Kulihat Mingyu masih bermain di sana. Aku jadi ingat beberapa waktu lalu orang-orang di kantin mengatakan Mingyu akan melakukan turnamen basket minggu depan. Apa dia berlatih dengan keras karena perlombaan itu?

Ya Mingyu!”

Mingyu menghentikan permainannya lalu melihatku dan berteriak, “Apa?”

Aish tidak perlu berteriak aku juga bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

“Apa kau berlatih untuk lomba?”tanyaku.

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku tidak tahu makanya aku bertanya,”kataku.

“Ooh..”

Mulut Mingyu membentuk huruf O sehingga dia terlihat begitu lucu di mataku. Kini aku kembali fokus untuk menyapu bagian sudut terlebih dahulu. Ryu Sujeong fighting!

            Aku terus menyapu lantai ini agar segera bersih namun apa kalian tahu apa yang terjadi? Kim Mingyu seenaknya saja kembali menginjak lantai yang sudah aku bersihkan tanpa memikirkan perasaanku. Kurang ajar sekali dia!

Ya aku sudah capek membersihkannya!”pekikku.

“Aw… Sawry!”

“Eh? Sawry?”

Dia baru saja menyebutkan ‘Sawry’. Apa itu—aish dasar anak ini tidak bisa berbahasa Inggris tapi sok untuk menjawab dengan bahasa asing.

“Iya maaf. Kau tidak lihat kalau aku sedang latihan?”tanyanya.

“Aku yang harusnya bertanya. Apa kau tidak lihat kalau aku sedang membersihkan tempat ini?”

Mingyu hanya diam, malahan dia terus menghentakan kakinya sehingga pasir-pasir kembali bertebaran di lantai. APA DIA CARI MATI DENGANKU?!

..

“Ryu sudah! Ampun Ryu maaf!!”

Aku tidak akan memberikan kata maaf kepadanya. Biar dia tahu rasa karena sudah menghancurkan pekerjaanku. Biarkan rasa sakit dari pukulan gagang sapu ini menghantuinya. Kau tahukan akibatnya karena telah mencari masalah denganku, Kim Mingyu?

“Aaaa appo!”rengeknya.

Haaa? Apa dia sedang beraegyo di depanku? Kenapa dia mendadak mengeluaran suaranya dengan imut?

Assa! Akhirnya berhenti juga!”pekiknya riang.

Kali ini aku biarkan kau bebas, kalau masih juga melakukannya mungkin aku akan mematahkan kakimu, Kim Mingyu!

            Kini tugasku adalah mengepel lantai. Akhirnya aku tidak mendengar lagi suara bola yang ditimbulkan oleh Mingyu. Aku mencoba meliriknya dan aku lihat Mingyu sedang meneguk air mineral. Tubuhnya kini sudah berkeringat dan itu terlihat keren di mataku. Apa aku baru saja mengatakan Kim Mingyu keren? Sulit untuk mengakuinya namun itu benar kalau dia sangat keren saat ini!

“Butuh bantuan?”

Mingyu meletakan minumannya di samping setelah itu berdiri dan menghampiriku. Dia baru saja menawaran bantuan? Apa ini benar Kim Mingyu? Soalnya yang aku amatin darinya Mingyu adalah tipikal anak manja yang tidak akan mau membantu orang lain. Buktinya di kantin dia tidak membantuku dan malah pura-pura tidak mengerti dengan arti tatapanku kepadanya.

“Kau ambil lagi sana kain pelnya!”titahnya.

Entah kenapa aku langsung menuruti apa perkataannya barusan. Aku membuang begitu saja pel yang aku pegang ke lantai lalu Mingyu mengambil alih pel tersebut.

            Walaupun dibantu entah kenapa masih terasa berat. Aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan seberat ini sebelumnya. Biasanya aku hanya membersihkan kamar pribadiku, mana pernah aku mengepel seluruh rumah yang begitu luas. Aku lihat dari sini Mingyu mengerjakan pekerjaannya dengan tenang. Bahkan dia tidak mengeluh sedikit pun. Apa dia tidak lelah, ya? Padahal tadi dia bermain basket hingga berkeringat kini keringat itu bertambah banyak karena membantuku. Aku jadi tidak enak melihatnya.

“Kenapa si lihat-lihat? Lanjutkan pekerjaanmu!”celetuknya.

Aku mencibir pelan lalu melanjutkan lagi pekerjaanku walaupun rasanya punggungku ini terasa sudah mau patah rasa.

Ya Ryu Sujeong aku kira mengepel dengan cara seperti ini lebih efektif!”teriak Mingyu.

Aku melihat apa yang maksud dan mataku membulat saat melihat si jerapa itu membuang air yang ada di dalam ember ke lantai sehingga lantai lapangan itu menjadi becek.

Ya Kim Mingyu!!”

Author POV

            Ryu Sujeong buru-buru berlari menghampiri Mingyu untuk segera menghentikan aksi konyolnya itu. Padahal tadi Mingyu sudah bersikap normal namun kenapa sekarang dia menjadi aneh kembali. Mingyu yang sudah selesai membuang seluruh isi air bertepuk tangan dan hanya bisa tertawa melihat Sujeong yang murka kepadanya. Kini Sujeong sudah mulai mendekat ke tempat Mingyu berdiri dan dia langsung berteriak kepada Mingyu.

“Kau ini bodoh atau apa si—“

“Ryu hati-hati!”pekik Mingyu.

Brug~

Sujeong menutup kedua matanya saat tubuhnya ambruk akibat terpeleset. Namun dia tidak merasa sakit. Perlahan Sujeong membuka kedua matanya dan dia terkejut setengah mati saat tahu apa penyebab dia tidak merasakan sakit karena terjatuh barusan. Ternyata seorang Ryu Sujeong berada di atas tubuh Mingyu yang tengah memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit.

“Min—Mingyu,”lirih Sujeong.

“Ah—appo..”

Kali ini Mingyu benar-benar meringis tidak seperti saat Sujeong memukulnya menggunakan sapu tadi. Sujeong tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini karena pikirannya benar-benar kosong saat ini.

“Kau baik-baik saja?”tanya Mingyu.

Sujeong terkejut mendengar pertanyaan Mingyu barusan. Bukankah dia yang seharusnya bertanya apakah Mingyu baik-baik saja?

“Kalau kau baik-baik saja segeralah menyingkir,”usir Mingyu.

Tanpa pikir panjang Sujeong langsung beranjak dari tubuh Mingyu dan duduk di sampingnya. Namun beberapa detik kemudian dia tersadar kalau rok sekolahnya sudah basah akibat becek yang ditimbulkan oleh Mingyu. Sujeong pun berteriak frustasi karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan seragam sekolahnya kalau seperti ini jadinya.

            1 jam masa hukuman Sujeong telah habis namun perempuan itu tidak berada di dalam kelasnya. Kini dia dan Mingyu berada di ruangan F4 untuk bolos di pelajaran ke 3 dan 4. Mingyu yang masih sakit karena terjatuh hanya bisa duduk di sofa sementara Sujeong yang baru saja selesai mengganti pakaiannya langsung menghampiri Sujeong. Bersyukurlah karena Yebin memiliki baju olahraga cadangan di dalam lokernya sehingga Sujeong bisa meminjamnya untuk sementara waktu sebelum rok sekolahnya kering kembali.

Author POV END

..

“Apa masih sakit?”tanyaku.

Aku benar-benar tidak enak hati melihat Mingyu menjadi seperti ini. Salah dia sendiri si karena membuat lantai itu menjadi becek tapi karena aku tidak berhati-hati jadi Mingyu menolongku dan akhirnya dialah yang terluka. Merespon pertanyaanku Mingyu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku baik-baik saja. Tapi tubuhku sulit digerakkan,”katanya.

“Apa ada yang bisa aku bantu?”tanyaku.

Dia tampak berfikir sejenak, oh ayolah beri permohonan agar aku merasa tidak bersalah lagi Kim Mingyu!

“Lapar,”

Lapar? Apa maksudnya?

“Aku lapar. Buatkan aku makanan dan suapin aku!”

Ye??? Kim Mingyu baru saja memerintahku untuk memasak dan menyuapkannya nanti??

            Aku sudah menolak dengan keras tapi tetap saja Mingyu memaksa untuk memintaku membuat makanan. Bukannya aku tidak mau hanya saja aku tidak pernah memasak. Aku tidak ingin mengambil resiko kalau dia memakan makanan tidak enak, nanti kalau perutnya yang sakit akibat makanan buatanku bisa-bisa aku dituntut oleh orangtuanya. Dan pada akhirnya akulah yang harus mengalah dan berhadapan dengan kompor yang ada di pantry. Melihat kompor itu bayangku sudah melayang entah-kemana-entah. Huh jangan sampai bayangan burukku menjadi kenyataan!

“Aku bisa menebak kalau kau belum melakukan apapun di sana!”

Bagaimana dia bisa tahu si? Apa dia cenayang? Aish dasar membuat repot—tapi yang membuat kau menjadi repot seperti itukan aku juga penyebabnya. Sial sekali hari ini sudah bangun terlambat, datang telat, menyapu dan mengepel lapangan basket, rok basah dan kali ini terjebak di dapur untuk membuatkan makanan untuk Kim Mingyu. Oh, Ryu Sujeong yang malang.

            Tampaknya laki-laki yang ada di depanku ini sedang kerasukan karena dia makan seperti orang yang tidak pernah makan selama 1 minggu. Iya, orang yang aku maksud adalah Mingyu. Dia begitu lahap menyantap ramyeon buatanku padahal rasanya belum tentu enak. Karena ingin makan dengan cepat aku bahkan tidak diizinkannya lagi untuk menyuapkan ramyeon untuknya.

“Ahh!! Kenyang!”

Kini Mingyu mengelap sisa kuah yang menempel di dagunya dengan menggunakan tangannya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dia masih seperti anak kecil yang aku temui beberapa tahun silam. Aku mengambil sebuah tisu yang ada di meja lalu mengusap dagu Mingyu yang masih ada noda. Kubersihkan sampai tidak ada lagi kuah atau potongan kecil mie yang menempel, setelah selesai aku melihat ada yang aneh dari Mingyu.

Author POV

            Mingyu tertegun ketika Sujeong mengusap dagunya barusan. Dia hanya bisa menatap Sujeong dengan pandangan kosong bahkan tidak sadar kalau saat ini Sujeong sedang menatapnya dengan pandangan tanda tanya besar.

“Kau kenapa?”Tanya Sujeong.

Masih tidak ada jawaban dari Mingyu karena dia tidak mendengar apapun yang baru saja diucapkan oleh Sujeong.

Ya! Kau ini kenapa?”tanya Sujeong.

Sujeong mendorong jidat Mingyu sehingga laki-laki itu kembali ke alam sadarnya lalu Mingyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Melihat tingkah Mingyu yang menurutnya begitu aneh membuat Sujeong memilih untuk menyalakan televisi selagi menunggu rok sekolahnya kering kembali.

Hahaha Ryu bukankah itu lucu?”

Mingyu tertawa terbahak-bahak ketika melihat tayangan yang baru saja dia saksikan di televisi bersama Sujeong. Namun Sujeong tidak merespon ucapannya sehingga Mingyu heran dan mengalihkan pandangannya ke samping. Mingyu terdiam saat melihat Sujeong terkantuk-kantuk maka Mingyu langsung menyandarkan kepala Sujeong di bahunya. Lelaki itu memandangi Sujeong yang tengah tertidur polos sambil tersenyum.

“Tidurlah kau pasti lelah,”bisik Mingyu.

Author Pov END

            Aku membuka kedua mataku dan alangkah terkejutnya diriku saat aku sadar kalau aku ketiduran di ruangan ini! Aku segera bangun lalu melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari Mingyu namun dia sudah tidak ada. Eh? Aku merasakan sesuatu yang aneh di keningku. Saat aku lihat ternyata ada kertas yang melengket di poniku. Aku mengutuk keras orang yang melakukan ini, siapa lagi kalau bukan Kim Mingyu. Yang ada di tempat ini tadi hanya aku dan dia, kan? Aku menarik kertas itu dengan kasar sehingga beberapa anak rambutku tercabut. Ini sangat sakit!! Saat aku mau mengambil ancang-ancang untuk meremuk kertas itu dan membuangnya ke tong sampah, aku merungungkan niatku ketika melihat tinta hitam tertulis di kertas itu.

“Ryu jangan tidur saja!

Kembalilah ke kelas, Oh ya! rok-mu sudah aku setrika.

Lihat saja di atas meja”

Otomatis pandanganku langsung terarah ke rok sekolahku yang ada di atas meja—yang dimaksud oleh Mingyu melalui pesannya. Heol~ Dia melipat rok sekolahku dengan sangat rapi bahkan aku tidak pernah melipat rok sekolah serapi itu. Aku langsung berdiri untuk mengambil rok itu lalu mengganti pakaian olahraga milik Yebin dengan rokku di toilet.

“Aku bilang ke ssaem kalau kau ada di UKS jadi jangan khawatir ya,”

Aku tersenyum mendengar Yebin mengatakan hal barusan. Wah, dia memang teman yang baik padahal aku tidak memintanya untuk mengizinkanku ke guru yang mengajar. Kini kami berdua sedang berbicara di kelas. Sudah 5 menit sejak bell masuk tapi guru yang mengajar belum datang ke kelas.

“Aku dengar akan ada rapat guru,”celetuk ketua kelas yang bernama Yogyeom.

“Paling dia akan datang dan memberi tugas,”balas Yuju.

Ternyata benar! Baru saja Yuju mengatakan hal itu guru kesenian yang mengajar kami sudah sudah ke kelas. Semua siswa duduk di rapi di tempatnya dan Yogyeom menyiapkan seluruh isi kelas.

“Karena akan ada rapat guru saya akan memberikan tugas kelompok untuk kalian. Bentuklah kelompok dengan 4 anggota lalu siapkan vocal kalian. Untuk lagunya hmmmm—kalian bisa lihat di buku kalian halaman 54,”

Aku melihat semua murid mendesah ketika mendengar tugas kelompok. Aku terkekeh pelan, iya orang yang lebih menyukai individualitas seperti mereka mana mungkin bisa bekerja kelompok. Tapi diam-diam aku khawatir juga yang aku kenal dekat di kelas ini hanya Yebin. Kini aku dan Yebin sudah mendekatkan diri satu sama lain, kami memikirkan siapa lagi yang bergabung di kelompok kami.

“Aku ikut kelompok kalian,”celetuk seseorang.

Author POV

            Sujeong dan Yebin tercenggang ketika Eunwoo mengajukan dirinya untuk masuk ke kelompok mereka. Cha Eunwoo? Di kelompok mereka? Benar-benar tidak diduga oleh Sujeong apalagi Yebin.

Y-ya Cha Eunwoo kau serius?”tanya Yebin.

“Ya. Memangnya tidak boleh?”tanya balik Eunwoo.

“Bu—bukan tidak boleh! Tentu saja kau boleh gabung di dalam kelompokku!”seru Yebin.

“Kenapa harus kelompok kami?”celetuk Sujeong.

Bbangdduck kau tidak membolehkan aku bergabung dengan kelompokmu?”

Sujeong mencibir ketika Eunwoo memanggilnya Bbangdduck seperti kemarin. Setelah itu dia kembali berbicara, “Boleh saja. Tapi kita butuh 1 anggota lagi, kan? kira-kira siapa ya?”gumam Sujeong.

“Aku!”

“Hah??? Choi Yuju???”pekik Yebin.

Author POV END

            Heol. Apa ini mimpi? Aku sekelompok dengan Eunwoo dan kini Yuju juga mengajukan dirinya untuk masuk ke dalam kelompokku? Kini kami berempat sudah duduk di taman yang pernah aku kunjungi bersama Jungkook—atau lebih tepatnya tidak sengaja bertemu dengan Jungkook di sana. Masing-masing kami membaca dan menghapal lirik lagu lawas yang ada di buku. Kudengar Yuju sedang mencoba menyanyikan lagu itu dan ya—suaranya sangat merdu.

“Apa kita harus memainkan sebuah alat sambil menyanyikan ini?”tanyaku.

“Cha Eunwoo bisa memainkan piano, biola dan gitar,”celetuk Yuju.

“Sungguh?”pekikku.

Aku tidak tahu kalau dia memiliki bakat seperti itu. Bisa memainkan gitar saja sudah hebat dan ini juga menguasai piano dan biola? Si tampan yang menyebalkan itu benar-benar keren, ya.

“Baiklah,”kata Eunwoo.

“Aku sedang malas untuk latihan jadi lebih baik lain waktu saja,”kata Yuju lalu pergi meninggalkan kami bertiga.

Kini di tempat ini hanya ada aku, Yebin dan Eunwoo. Ketika kami sedang melanjutkan latihan masing-masing tiba-tiba saja Yebin berteriak karena merasa perutnya sakit. Dia buru-buru pergi meninggalkan tempat ini untuk pergi ke toilet meninggalkan aku sendiri bersama dengan Eunwoo.

Bbangdduck apa sudah kering?”

“Ye?”

Tiba-tiba saja Eunwoo menanyakan hal yang tidak aku mengerti. Aku memasang raut wajah heran. Eunwoo tiba-tiba saja menunjuk rok sekolahku yang menandakan kalau dia tadi bertanya soal rok sekolahku sudah kering atau belum.

“Sudah. Memangnya kau tahu dari mana?”tanyaku.

“Mingyu menitipkan pesan kepadaku. Dia minta tolong untuk mengizinkanmu ke guru jika ditanya,”

“Oh dia. Ngomong-ngomong apa kau bertemu dengannya tadi? Apa dia baik-baik saja?”tanyaku.

“Baik-baik saja? Memangnya ada apa dengannya?”heran Eunwoo.

“Bukan apa-apa si hanya saja tadi ada indisen—Ah pokoknya ada masalah!”

Eunwoo mengangkatkan kedua bahunya, “Tadi waktu dia ke kelas dia terlihat baik-baik saja,”balas Eunwoo.

Ah untunglah kalau dia sudah membaik. Aku fikir dia terluka, bisa gawat kalau dia cidera karena tertimpa oleh tubuhku tadi. Dia kan ada turnamen basket minggu depan jadi dia harus menjaga tubuhnya baik-baik.

Author POV

            Seorang laki-laki duduk sendiri di tangga darurat yang tidak pernah di lewati oleh orang lain. Saat ini Kim Mingyu—laki-laki itu tengah terdiam memikirkan sesuatu. Sejak tadi dia menahan rasa nyeri yang ada di bahunya. Dia menghembuskan nafasnya sejenak lalu memejamkan kedua matanya.

“1 minggu lagi. Bersabarlah Kim Mingyu!”gumamnya.

Sudah 1 bulan ini Mingyu mengalami Overuse Injury akibat terlalu sering bermain basket tanpa henti. Namun karena dia mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen basket yang akan menjadi perlombaan terakhirnya di sekolah ini Mingyu mencoba menahan rasa sakit itu. Tidak ada yang tahu tentang sakit yang sedang dia alami selain dirinya dan asisten pribadinya yang mengantarkan Mingyu ke rumah sakit saat itu. Dokter sudah menyuruh Mingyu untuk beristirahat total demi kebaikannya namun Mingyu tetap ingin bermain di permainan nanti. 1 minggu lomba akan dimulai mana mungkin dia menyerah ketika 80% perjalanannya telah dilalui bersusah payah.

Ya Kim Mingyu!”

Mingyu kembali memasang raut wajah seperti semula ketika mendengar suara Seungwoo memanggil namanya. Dia berdiri lalu menghampiri Seungwoo yang menunggunya di depan pintu.

“Eunwoo dan Jungkook menunggumu dari tadi kenapa kau malah di sini,”heran Seungwoo.

“Hanya ingin menikmati hembusan angin,”lirih Mingyu.

Author POV END

            Sepulang sekolah aku memiliki janji dengan teman sekelompokku. Siapa lagi kalau bukan Yebin, Eunwoo dan Yuju. Kami memiliki janji untuk berlatih vocal di sebuah studio musik milik kenalan orangtua Yuju. Karena dia yang mengajak untuk latihan maka Yuju jugalah yang mencarikan tempat. Aku sudah berdiri di depan studio musik yang akan menjadi tempatku dan teman-teman lainnya berlatih, kulihat ada Yuju yang berdiri di sana. Aku langsung menghampiri dan menyapanya.

“Yuju-ya annyeong,”

Yuju hanya memandangiku dengan datar dan tatapan seperti itu saja sudah membuatku merinding disko. Kulihat seseorang keluar dari dalam dan ternyata itu adalah Eunwoo.

“Dimana temanmu Bbangdduck?”

Bbangdduck?”heran Yuju.

“Yebin masih di jalan sebentar lagi dia tiba,”

“Anak baru,”tegur Yuju. Aku langsung menoleh ketika dia memanggilku lalu dia kembali berbicara, “Aku heran sehebat apa sih dirimu sampai bisa berteman dengan F4. Tidak biasanya F4 mau berbicara dengan seorang gadis dan kini dia berbicara dengan orang sepertimu,”celoteh Yuju.

Aku juga tidak tahu harus menjawab apa dengan semua situasi ini. Dekat dengan F4 juga bukan kehendakku, kan? Hanya saja ada jalan yang membuat aku bisa berbicara dengan mereka.

“Itu temanmu Bbangdduck. Cepat masuk!”

Eunwoo langsung masuk kembali ke dalam tanpa membantuku menjelaskan apapun ke Yuju. Yuju kini melipat kedua tangannya di dada lalu memutar balik badannya mengikuti langkah Eunwoo. Sementara aku masih berada disini untuk menunggu Yebin yang baru saja turun dari mobil.

            Setelah berdiskusi mengenai bagian mana yang harus kami nyanyikan masing-masing dari kami mulai berlatih untuk menghapal dan menyanyikannya. Eunwoo juga sedang mencoba berlatih menggunakan piano. Ah, wajahnya benar-benar tenang ketika memainkan alat musik itu. Permainannya juga sangat merdu terdengar ditelingaku. Ternyata anggota F4 benar-benar berbakat di bidang seni, tapi entahlah dengan Mingyu karena aku belum pernah mendengarnya bernyanyi atau bermain musik seperti yang lainnya.

“Yeeeeee~”

Aku melihat wajah Yuju memasam ketika mendengar Yebin berusaha mencapai high note-nya. Ini sudah keempat kalinya Yebin berusaha melewati bagiannya yang mengharuskan mencapai nada tinggi tapi tetap saja gagal.

Ya kau bisa nyanyi atau tidak si?”pekik Yuju kesal.

“Aku bisa!”kukuh Yebin.

“Kalau kau tidak bisa melewatinya biar aku saja yang mengambil bagian itu!”kata Yuju.

“Kau? Hah.. Kau merasa hebat?”

“Aku lebih hebat darimu dari segi manapun,”balas Yuju.

“Apa?!”

Yebin sudah mengambil ancang-ancang untuk menghajar Yuju yang ada di depannya namun aku dengan cepat langsung menarik Yebin untuk menjauh dari Yuju. Eunwoo sendiri hanya bisa diam melihat perkelahian dua perempuan yang ada di depannya.

“Sujeong-ah lepaskan aku! Kenapa harus menerimanya di kelompok kita si?”pekik Yebin tidak terima.

“Sudahlah Yebin-ah. Aku rasa Yuju benar kalau kau tidak bisa lebih baik berikan saja kepadanya daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan tenggorokanmu,”kataku.

Tatapan Yebin yang kesal berubah seketika ketika mendengarku mengucapkan hal itu. Bukan, bukan berubah lebih baik melainkan dia menatapku dengan pandangan yang begitu menusuk.

“Kau membelanya, Ryu Sujeong? Aku ini temanmu!”

“Apa yang sedang kalian ributkan si! Dasar wanita semuanya sama saja!”pekik Eunwoo.

Aku, Yebin dan Yuju terdiam mendengar Eunwoo baru saja berteriak kepada kami semua. Setelah melihat kami diam Eunwoo malah pergi keluar dari ruangan bahkan sempat membanting pintu. Kalau begini keadannya keadaan bisa semakin runyam!

“Cola?”

Aku menawarkan Eunwoo yang sedang duduk sendiri di lorong studio ini sebuah cola yang baru saja aku beli menggunakan mesin minuman. Eunwoo menerima cola itu, dia membuka lalu langsung meneguk cola tersebut. Entah karena benar-benar haus atau karena Eunwoo masih kesal dengan kejadian tadi.

“Apa kau masih mau latihan?”Tanyaku.

“Suruh mereka selesaikan masalahnya baru aku kembali ke dalam,”jawab Eunwoo.

“Sudah. Aku yang akan mengambil bagian Yebin dan menggantinya dengan bagianku. Sekarang kembalilah ke dalam kalau tidak kita akan pulang larut malam,”

“Baiklah. Perempuan semuanya sama saja. Berisik dan ribut,”kesal Eunwoo.

“Apa aku membuat keributan juga? Kalau begitu aku masuk duluan—“

“Tidak. Kau berbeda,”potong Eunwoo.

Berbeda? Eunwoo baru saja mengatakan kalau aku berbeda, iya kan? Eunwoo berdiri lalu pergi meninggalkanku sendiri. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan berbeda itu. Karena Eunwoo sudah kembali masuk ke dalam studio aku juga berdiri untuk menyusulnya.

            Yebin sejak tadi hanya diam. Aku dan Yebin berada di sebuah kedai es krim untuk bersantai. Memang sudah kami rencanakan sejak awal untuk pergi bersama ke tempat ini tapi suara hati Yebin sangat buruk sejak tadi. Aku mendorong es krim cokelat miliknya yang sudah mencair dan menegur Yebin untuk memakannya.

“Yebin-ah maafkan aku. Makanlah es krimnya sebelum benar-benar mencair,”sesalku.

“Aku baik-baik saja,”kata Yebin.

“Makan es krimnya hmm.. please,”

Aku terus memasang wajah memelas di depan Yebin untuk menyuruhnya memakan es krim itu. Setidaknya Yebin harus mencicipi lezatnya es krim dari kedai yang baru saja di buka 1 bulan yang lalu. Kini Yebin telah luluh dan mulai memakan es krimnya.

“Enak, kan?”

Yebin tersenyum tipis kepadaku. Haha sepertinya mood-nya telah kembali seperti semula. Baguslah kalau begitu aku begitu khawatir kalau dia akan terus marah denganku.

            Setelah selesai memakan es krim kami memutuskan untuk pulang. Aku dan Yebin sama-sama menunggu taksi di depan toko. Yebin bilang banyak taksi yang akan lewat jadi lebih baik menunggu di depan toko saja. Ketika sedang menunggu taksi aku melihat jalanan di sekitar untuk mengamati tempat ini. Jalanan Jepang dan Korea hampir mirip jadi aku masih merasa seperti di Jepang.

“Yebin-ah apa kau tahu saat aku di Jepang aku—“

Aku melihat ke samping dan sudah mendapati Yebin diam mematung di tempatnya. Wajahnya merah padam seperti orang yang sedang menahan amarah lalu aku mengikuti arah pandang Yebin dan mengerutkan keningku melihat seorang pria parubaya tengah berbicara dengan mesranya bersama seorang perempuan muda yang ada disampingnya.

“Ayah…”lirih Yebin.

Sulit dipercaya kalau pria itu ayahnya Kang Yebin. Aku hanya bisa menundukan kepalaku dan tidak ingin berbicara apapun tentang apa yang baru saja aku lihat.

Author POV

            Langkah kaki Eunwoo memasuki ruang di mana Mingyu berlatih basket. Ini sudah jam 7 malam namun dia lihat dari pintu sahabatnya itu masih sibuk berlatih basket walaupun peluh sudah membasahi tubuhnya. Eunwoo berjalan mendekati Mingyu dan duduk di pinggir lapangan.

Ya sampai kapan kau mau berlatih?”tanya Eunwoo.

“Sebentar lagi. Kau tahukan perlombaan ini akan menjadi yang terakhir untukku di SMA,”jawab Mingyu.

Shoot dan Mingyu berhasil memasukan sebuah bola ke dalam ring basket. Eunwoo yang tertarik untuk ikut bermain pun berdiri lalu mengambil sebuah bola yang bergelinding di lantai. Dia men-drabble bola itu kemudian mencoba memasukannya ke dalam ring tapi bola yang dilempar Eunwoo tidak masuk. Eunwoo hanya bisa mendesah pelan karena olahraga bukanlah bidangnya, tidak seperti Mingyu yang sangat menggilai basket sampai-sampai tubuhnya tinggi seperti itu.

“Ayo pulang kau menyuruhku ke sini untuk mengajakku makan malam. Aku sengaja tidak makan karena akan makan malam bersamamu,”tegur Eunwoo.

“Hahaha iya. Bantu aku memunguti bolanya dong!”

Kedua sahabat itu sama-sama memasukan bola ke dalam keranjang yang ada dipinggir lapangan. Setelah selesai Mingyu mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum pulang bersama Eunwoo.

            Sepanjang jalan menuju tempat makan favorit mereka, Eunwoo dan Mingyu berbincang banyak hal. Mereka membahas apa saja yang mereka lakukan hari ini. Mingyu menceritakan kepada Eunwoo kalau tadi siang Seungwoo tidak sengaja membuang angin di tengah-tengah keramaian. Eunwoo tertawa terbahak-bahak begitu pula Mingyu. Karena memiliki kebiasaan memukul orang yang ada disampingnya saat sedang tertawa, Eunwoo melakukannya kepada Mingyu saat ini. Namun tiba-tiba saja Mingyu terdiam ketika merasakan bahunya nyeri akibat dipukul Eunwoo barusan.

Ya apa sakit? Maaf kalau terlalu keras hahaha,”kekeh Eunwoo.

Mingyu hanya bisa tersenyum tipis karena saat ini dia sedang meredam rasa sakit yang dia rasakan. Eunwoo merangkul Mingyu yang lebih tinggi 2cm darinya dengan santai tanpa tahu kalau saat ini Mingyu sedang kesakitan.

            Saat menunggu jemputan untuk pulang Eunwoo dan Mingyu memilih untuk berjalan-jalan sejenak di daerah sekitar tempat mereka makan malam. Keringat dingin sudah membanjiri tubuh Mingyu namun dia tetap bertindak seperti tidak terjadi apa-apa. Eunwoo sibuk berceloteh melihat apa saja yang baru dia saksikan baruan.

Ya Mingyu kau lihat bibi penjual tteobeoki itu. Aku dengar dari supirku di sana sangat enak dan laris, apa kita harus mencicipinya?”tanya Eunwoo.

Namun Eunwoo tidak mendengar jawaban dari Mingyu. Dia menoleh kesamping dan kaget saat melihat sahabatnya tidak ada disebelahnya. Eunwoo membalikan badan dan terkejut melihat Mingyu sedang berlutut di tanah sambil memegangi bahunya. Buru-buru Eunwoo menghampiri Mingyu dengan raut wajah yang begitu panik.

“Mingyu-ya kau kenapa?”tanya Eunwoo.

Ap—appo,”lirih Mingyu.

Appo? Apa yang sakit?”Tanya Eunwoo.

Mingyu tidak menjawab namun Eunwoo berusaha mencari tahu jawabannya sendiri. Saat Eunwoo menyadari Mingyu memegang bahunya dia berusaha membopong Mingyu sekuat tenaganya. Kemudian Eunwoo memberhentikan sebuah taksi untuk segera membawa Mingyu ke rumah sakit terdekat.

Author POV END

            Aku duduk di pinggir ranjangku sambil memikirkan permohonan Yebin sore tadi. Raut wajah Yebin yang begitu ketakutan dan memelas membuatku jadi iba. Yebin memintaku untuk tidak memberitahu siapa-siapa kalau ayahnya selingkuh. Tentu saja aku tidak akan membeberkannya karena Yebin adalah teman baikku. Sekali pun dia bukan temanku membicarakan orang lain itu tidak ada manfaatkannya, kan? Wajah Yebin yang menahan tangis membuatku ikutan bersedih. Aku harap dia tidak terluka lebih dalam dan dapat menghadapi masalah ini dengan baik.

“Capeknya,”

Karena merasa tubuhku butuh diistirahatkan aku langsung berbaring di kasurku dan melapisi tubuhku dengan selimut. Mungkin tidur dapat melupakan sejenak beban pikiranku terhadap masalah yang Yebin sedang hadapin. Well, selamat malam semuanya.

.

.

TBC..

Advertisements

6 thoughts on “F4 – Complication #3 [Chapter]

  1. Fanny, aku balik lagi ((di chapter sebelumnya nggak comment soalnya baru bisa komentar sekarang hahaha))
    Kayaknya ini empat-empatnya bakal suka sama Sujeong ya? Soalnya ada scene Sujeong berduaan entah diantara keempat cowok cowok ini hahaha. ((Tapi yang paling menonjol ya tetep Mingyu-Eunwoo ya hahaha))
    Terus Yuju disini cool cool tapi kayaknya suka sama Eunwoo deh, abis sampe ikutan kelomponya Sujeong-Yebin wkwkwkk
    Oiya, sedikit masukan aja sih Fan, kalo abis tanda baca itu pasti ada spasinya kayak “Ap—appo,” lirih Mingyu. gitu harusnya. Selain itu aman kok tulisan kamu, ya paling typo dikit tapi nggak terlalu ganggu lah.
    Okedeh, aku tunggu chapter selanjutnya ya!^^

    Like

  2. Gua kira si Yuju udah tobat eh taunya masih aje sombong –” jan jangan alasan si Yuju gabung ama kelompoknya Sujeong mungkin pengen deket ama Eunwoo XD kalo Yuju pacaran sama Eunwoo pan enak, si Yuju-nya gak sombong lagi :’3 duh, gua kasihan sama si Mingyu, bahunya sakit 😦 gara2 kebanyakan latihan terus sih makanya pas dihimpit Sujeong jadi sakit e.e Duh, gua emosi pas Yuju ngejek Yebin gak bisa high note, Yebin sebenarnya bisa high note kalo banyak mencoba e.e
    Itu beneran si Mingyu nyetrika rok Sujeong? >.< duh, jadi makin lope lope ama si Mingyu hehehe :p e tapi si Mingyu gak buat macem2 kan ama roknya Sujeong? :’v
    .
    Lagi2 aku komen panjaaaaang banget :’v maklum, kalo FF-nya rame semakin panjang aku komen kkkk~
    Btw, author lupa ya kasih read more? Tapi walopun gak dikasih read more, FF-nya tetep oke kok.
    Udah dulu ya thor ‘-‘)/
    Annyeong~

    Like

  3. Kenapa tuh Yuju jadi ikut kelompok Sujeong?
    Mingyu… pasti sakit banget, semoga cepat sembuh, dan penasaran juga gimana reaksi Sujeong kalo udah tau Mingyun cedera gitu
    hmmm untung deh Yebin marahnya ngga lama-lama, kan Sujeong bakal ga enak banget temen deket satu-satunya marahan sama dia 😦
    /lanjut ke next chapter 😀

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s