[Oneshoot] What is Friend?

What is Friend

What is Friend?

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Jisoo

Cast :RV’s Seulgi & Wendy – Fx’s Krystal – Kara’s Youngji

Genre : School Life – Friendship – Sad || Rating : PG-17 || Type : Oneshoot

.

Apakah sebuah angka menjadi tolak ukur masa depan kita?

Lalu apakah artinya seorang teman?

.

.

.

“Lagi?”

Seorang gadis berusia 18 tahun itu hanya bisa diam tatkala seorang wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini mengatakan hal barusan. Namanya adalah Lee Mijoo, dia adalah siswi kelas 3 di SMA Woollim. Mijoo sedari tadi hanya bisa diam karena tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan kepada ibunya mengenai laporan hasil pembelajarannya selama 3 bulan ini.

“Lee Mijoo peringkat 2 lagi? Sudah ibu bilang ibu tidak mau melihat nilai lapormu selain dari urutan 1!”bentak sang ibu yang bernama Kang Soyeon.

“Maaf ibu. Aku akan berusaha lebih giat untuk mendapatkan peringkat 1 kembali,”sesal Mijoo.

“Mijoo-ya kau sudah di tingkat akhir. Kau harus bisa masuk ke universitas Harvard atau setidaknya Oxfort! Kau paham?”

Mijoo menganggukan kepalanya dengan penuh keraguan setelah itu ibunya keluar dari kamar Mijoo meninggalkan dirinya sendiri. Setelah benar-benar sendiri di kamar Mijoo berbaring di kasurnya sambil menghela nafas panjang.

            Semenjak naik ke bangku kelas 3 peringkat Mijoo turun. Biasanya dia mendapatkan peringkat satu namun semenjak ada anak pindahan Mijoo menjadi tergeserkan. Semenjak itu juga ibunya menjadi pemarah dan sering membentak Mijoo karena nilai Mijoo dapat dikalahkan oleh orang lain. Mijoo sudah berusaha keras dengan terus belajar tanpa henti di sekolah, rumah bahkan dia ikut akademi sampai larut malam namun tetap saja dia bertahan di peringkat 2. Stres, itu yang Mijoo rasakan setiap pembagian lapor tiba.

           Setelah duduk di tempatnya Mijoo langsung membuka buku untuk membaca buku sejarah karena semalam dia tertidur di saat sedang belajar. Seorang gadis memperhatikan Mijoo sejak tadi. Dia tertarik untuk mengetahui apa yang sedang Mijoo lakukan sehingga ia memilih untuk menghampiri dan menegur Mijoo.

“Mijoo-ya kau sedang baca apa? Memangnya nanti ada kuis ya?”tanyanya.

Mijoo merasa terusik mendengar suaranya. Tanpa Mijoo sadari dia meremuk buku cetak sejarahnya lalu mengeluarkan suaranya.

“Sedang apa kau di hadapanku?”tanya Mijoo.

“Aku hanya ingin mengajakmu berbicara,”jawab Seo Jisoo.

Seo Jisoo. Gadis itu adalah orang yang ingin Mijoo hindari. Dia sangat benci dengan fakta kalau Jisoo adalah teman sekelasnya dan semenjak kepindahannya ke sekolah ini dia menggeser posisi Mijoo sebagai nomor 1 di sekolahnya.

“Selagi aku bisa berbicara baik-baik denganmu lebih baik kau pergi!”usirnya.

Dengan penuh keheranan Jisoo memilih untuk kembali ke tempat duduknya. Sejujurnya dia merasa bingung dengan sikap Mijoo yang begitu dingin terhadapnya. Padahal saat awal dia pindah ke sekolah ini Mijoo terlihat biasa saja namun lambat laun dia begitu ketus dan dingin terhadap Jisoo. Tapi itu tidak membuat Jisoo pantang semangat untuk mengajaknya berteman karena di kelas ini hanya Mijoo yang tidak pernah berinteraksi dengannya.

“Pergilah dari hadapanku!”

Mijoo memandang gadis bernama Seulgi yang ada didepannya saat ini dengan tatapan datar. Dia benar-benar malas berhadapan dengan ratu sekolah yang selalu saja menganggunya.

“Teman. Kau butuh teman maka dari itu bergabunglah denganku!”kata Seulgi.

Kali ini Mijoo tidak dapat membendung tawanya. Dia tertawa mendengar Seulgi mengatakan teman. Teman? Apa itu teman? Kenapa dia harus berteman dengan Seulgi yang sangat membuatnya muak?

“Kau fikir kau siapa? Apa kau fikir aku tidak tahu kenapa kau mengajakku untuk berteman? Ya! Kau hanya ingin memanfaatkan nilaiku saja, kan?!”pekik Mijoo sehingga orang-orang memperhatikannya kini.

Seulgi yang tidak terima dengan ucapan Mijoo barusan langsung menarik rambut panjang siswi itu sehingga Mijoo berteriak kesakitan. Karena kesal dan terbawa emosi Mijoo membalas menjambak rambut Seulgi namun dia ditahan oleh dua orang teman Seulgi yaitu Wendy dan Krystal. Semua orang mengelilingi keempat gadis itu tanpa berniat untuk memanggil guru, bahkan mereka mengabadikan momen langkah barusan dengan cara merekamnya.

Ya lepaskan rambutku!”pekik Seulgi.

Mijoo tidak peduli bahkan terus menjambak rambut Seulgi tanpa memperdulikan bahwa kedua teman Seulgi sedang mencakar atau bahkan menjambak rambutnya juga. Yang terpenting kini Mijoo puas dapat merontokan rambut Seulgi sehingga gadis itu meringis kesakitan dan menahan tangisannya.

“Berhenti!”

            Jisoo menghampiri Mijoo yang sedang berdiri dengan penampilan acak-acakan. Nafas Mijoo berderu sangat kencang karena emosi yang ada di dalam hatinya sangat menggebu-gebu. Begitu pula Seulgi dan teman-temannya. Jisoo memandang Mijoo dengan iba pasalnya wajah cantik gadis itu berdarah akibat cakaran kuku macan yang menggores wajahnya.

“Mijoo-ya ikuti aku,”

Seo Jisoo menarik tangan Mijoo untuk mengajaknya pergi dari tempat ini namun Mijoo tidak bergeming dan masih berdiri di tempatnya. Kali ini Jisoo tidak peduli jika Mijoo akan marah kepadanya yang terpenting dia harus mengeluarkan teman sekelasnya dulu dari keributan yang mereka timbulkan.

“Pasti sangat sakit, iya kan?”

Mijoo diam dan tidak menjawab pertanyaan Jisoo sejak tadi. Bahkan sangat Jisoo mengobati luka di tubuhnya Mijoo hanya diam seribu bahasa walaupun rasanya begitu sakit. Sial, hari ini dia jadi babak beluk hanya karena Kang Seulgi itu. Pasti dia akan mendapatkan poin dan ibunya akan marah lagi kepadanya. Dan ini pasti berdampak pada nilainya kelak.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu berkelahi tapi pasti—“

Ya berhentilah! Aku tidak mau menjadi temanmu jadi jangan coba-coba untuk mendekatiku atau bahkan berbicara denganku!”potong Mijoo.

“Apa yang membuatmu jadi tidak suka dengan—“

“Aku bilang berhenti!”pekik Mijoo.

“Baik, aku akan berhenti. Tapi tolong jawab pertanyaanku terlebih dahulu, apa yang membuatmu membenci diriku?”tanya Jisoo.

Mijoo langsung berdiri berniat meninggalkan Jisoo namun siapa sangka kalau Jisoo langsung memegang pergelangan tangan Mijoo dan menahannya agar tidak pergi. Walaupun sudah menghempaskan tangannya berulang kali tetap saja cengkraman tangan Jisoo tidak bisa membuat Mijoo terbebaskan.

“Karena kehadiranmu membuat aku tertekan. Puas kau sekarang?”kata Mijoo dingin.

Badan Jisoo terasa lemas saat mendengar jawaban Mijoo. Tangannya perlahan melepas Mijoo sehingga gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi dari hadapan Jisoo. Yang ditinggal hanya bisa terdiam karena bertanya-tanya apa yang membuat Mijoo tertekan karena kehadirannya.

            Jisoo baru saja berniat untuk pulang namun seseorang menghadangnya. Ternyata orang itu adalah Heo Youngji, teman sekelasnya. Kini Jisoo dan Youngji duduk di taman sekolah mereka karena Youngji bilang dia memiliki sebuah hal yang ingin disampaikan.

“Bagaimana kesanmu selama pindah ke sekolah ini?”tanya Youngji basa-basi.

“Aku suka di sini. Sangat enak dan nyaman,”jawab Jisoo.

“Hmm Jisoo-ya ngomong-ngomong apa kau benar-benar ingin berteman dengan Lee Mijoo? Aa—maksudku aku lihat kau selalu mendekatinya bahkan kejadian siang tadi kau juga ikut campur,”kata Youngji.

“Aku hanya ingin memisahkan teman sekelasku yang berkelahi Youngji-ya,”balas Jisoo.

Sasil—aku dan Mijoo adalah teman baik saat SMP tapi semenjak SMA dia berubah. Dia tidak mempedulikan teman lagi jadi aku rasa kau tidak perlu memiliki rasa ketertarikan untuk berteman dengannya,”

“Bagaimana Mijoo dulu? Apa dia baik?”tanya Jisoo penasaran.

“Iya dia anak yang baik, riang dan suka sekali bermain bersama kami. Walaupun begitu dialah yang terpintar. Di keluarganya dia juga yang menjadi harapan besar bagi kedua orangtuanya karena kakaknya meninggal akibat bunuh diri beberapa tahun yang lalu…”

Suara Youngji semakin memelan di akhir kata karena dia merasa tidak enak untuk menceritakan apa yang terjadi. Jisoo malah dibuat semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Lee Mijoo. Makanya dia terus mendesak Youngji untuk menceritakan yang sebenarnya.

“Kakak Mijoo bunuh diri karena gagal untuk masuk ke universitas yang diinginkan orangtuanya, oleh sebab itu orangtua Mijoo menjadi terobsesi agar Mijoo bisa lulus bahkan memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari apa yang sudah mereka rencanakan untuk kakak Mijoo. Karena Mijoo kini adalah anak tunggal mereka,”terang Youngji.

Kini Jisoo mengerti kenapa Mijoo mengatakan kalau dia menjadi beban baginya. Pasti karena kehadirannya peringkat Mijoo menjadi turun. Dia mendengar dari anak-anak kalau dulu Mijoo lah yang paling pintar di sekolah ini namun semenjak kehadirannya si pandai Mijoo tergeserkan.

“Aku iba kepadanya. Itu pasti berat untuknya,”lirihku.

“Hmm aku juga begitu tapi aku pernah mencoba untuk memberhentikannya namun semuanya gagal bahkan itu merusak pertemanan kami,”

“Terima kasih sudah menceritakan masalah ini kepadaku Youngji-ya,”kata Jisoo.

“Sama-sama,”

            Mijoo hanya bisa menangis dalam diam ketika Soyeon menoyornya akibat masalah yang dia hadapi. Apalagi Seulgi adalah orang yang selama ini Soyeon paksa agar Mijoo mendekati dan menjadikannya sebagai koneksi kelak. Namun dengan semua yang terjadi Soyeon ditegur oleh pihak sekolah dan juga orangtua Seulgi padahal yang menyerang Mijoo terlebih dahulu adalah Seulgi.

“Kau bodoh! Benar-benar bodoh Lee Mijoo!”bentak Soyeon.

Sejak tadi Soyeon hanya memarahinya tanpa bertanya apakah dia baik-baik saja. Bahkan Soyeon tidak berkomentar mengenai mengenai bekas luka yang ada di wajah dan tangannya.

“Maaf ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku membuat ibu marah. Maaf bu,”sesal Mijoo.

“Argh sudahlah!!”kesal Soyeon.

Soyeon memilih keluar dari kamar Mijoo untuk menenangkan pikirannya sejenak. Mijoo yang sendirian hanya bisa menangis di tempatnya. Dia melihat ke dinding dan melihat foto keluarganya masih dengan anggota yang lengkap. Mijoo mengambil sebuah parfum yang ada di atas meja riasnya lalu membanting parfum itu ke bingkai kaca foto tersebut sehingga banyak sekali pecahan kaca berserakan di lantai. Mijoo menangis terisak lalu berjongkok dan menenggelamkan wajahnya. Dia benar-benar tertekan saat ini.

            Sepulang les Jisoo teringat kalau dia meninggalkan buku cetak matematikanya di loker sehingga dia mampir ke sekolah untuk mengambilnya. Buku itu sangat penting karena ada PR yang harus dikumpul besok. Saat masuk ke dalam gerbang Jisoo berjalan dengan santai bahkan bersenandung sampai akhirnya dia mendengar sesuatu jatuh dari atap. Jisoo mengerutkan keningnya melihat sebuah sepatu sekolah dari atas lalu dia melihat ke atas dan terkejut saat sosok yang dia kenal sedang berdiri di pinggiran sambil memejamkan matanya. Mata belo Jisoo semakin membulat lebar saat menyadari orang itu dan dia berlari untuk menghentikan tindakan berbahayanya.

Ya Lee Mijoo menjauh dari sana!”pekik Jisoo.

Mijoo tersenyum miring mendengar teriakan Jisoo barusan. Dengan santainya Mijoo membalikan badannya menghadap Jisoo dan melipat kedua tangannya di dada.

“Jangan ikut campur urusanku,”ketus Mijoo.

“Itu berbahaya jadi turunlah Mijoo,”pinta Jisoo.

Jisoo melangkahkan kakinya mendekati Mijoo namun gadis itu berteriak menyuruh Jisoo untuk berhenti di tempatnya. Air mata tidak dapat dibendung oleh Mijoo sehingga dia menangis di depan Jisoo untuk pertama kalinya.

“Aku..tidak sanggup lagi untuk hidup. Aku rasa aku lebih baik mengikuti jalan perempuan terkutuk itu. Karena dialah aku menjadi tersiksa! Aku benci kau Mira eonnie!”pekik Mijoo.

Mira adalah kakak Mijoo yang meninggal 2,5 tahun yang lalu. Karena Mira meninggal dunia segala rasa obsesi Soyeon dilanjutkan kepadanya. Karena itu Mijoo tertekan dan tidak pernah memikirkan apapun selain angka-angka agar Soyeon merasa puas. Sering kali Mijoo bertanya pada dirinya sendiri apa angka itu yang menentukan masa depannya kelak? Apa angka itu yang nantinya menjamin bahwa kelak dia akan menjadi orang sukses yang kaya raya seperti yang diharapkan oleh ibunya?

“Mijoo-ya sadarlah! Apa yang kau fikirkan itu adalah salah. Jangan coba berfikiran untuk menyakiti dirimu Mijoo. Aku mohon,”pinta Jisoo.

“Apa pedulimu hah? Kau juga yang membuatku harus berdiri di sini. Karena kehadiranmu aku jadi tersingkirkan. Dia selalu membentakku dan mengatakan kalau aku tidak belajar sungguh-sungguh padahal aku sudah menghabiskan seluruh waktuku untuk membaca tulisan-tulisan menjijikan itu Seo Jisoo!”pekik Mijoo.

Jisoo meremuk roknya dan berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Dengan dada yang terasa sesak Jisoo memberanikan diri untuk kembali berbicara.

“Mulai besok kau tidak akan terbebani lagi dengan kehadiranku. Aku menjaminnya jadi tolong turun dan jangan pernah melukai dirimu,”kata Jisoo.

“Menjamin? Cih memangnya apa yang bisa membuatmu yakin kalau aku tidak akan terbebani lagi, huh?”tantang Mijoo.

“Aku akan melakukan sesuatu agar aku tidak menjadi sainganmu lagi untuk mendapatkan peringkat 1 di sekolah,”

            Mijoo memainkan penanya lalu memperhatikan sebuah tempat duduk yang kosong. Dia tidak konsen belajar karena Jisoo tidak masuk ke sekolah empat hari ini. Tidak ada yang tahu alasannya kenapa Jisoo tidak hadir, wali kelas juga tidak membicarakannya. Sejak kejadian malam itu, pagi harinya Jisoo tidak datang ke sekolah sampai hari ini. Diam-diam Mijoo mengkhawatirkannya dan penasaran dengan makna dibalik ucapan Jisoo saat itu.

            Karena harus mengambil sebuah formulir test wawancana untuk masuk ke Universitas Harvard Mijoo pergi ke ruang guru seorang diri. Dia menemui guru BK yang memiliki formulir itu. Karena formulirnya sedang dipegang wakil kepala sekolah guru BK pergi sebentar untuk mengambilnya dan meninggalkan Mijoo sendiri di sini.

“Seo Jisoo anak yang baik dan pandai. Saya sangat bangga mendengarnya rela berkorban untuk teman sekelasnya,”

“Jisoo menceritakan kalau dia tidak mau ada orang yang bunuh diri hanya karena nilai. Jisoo belajar dari pengalaman sepupunya yang bunuh diri akibat sekolah. Saya berharap siswi bernama Lee Mijoo itu bisa tegar dan kembali bersemangat untuk belajar,”

“Iya terima kasih banyak. Saya aku mendampinginya dengan baik dan benar seperti apa yang Seo Jisoo katakan”

Deg! Mijoo merasa pasokan oksigen begitu menipis sehingga dia tidak bisa bernafas. Dia tidak salah dengarkan kalau wali kelasnya sedang berbicara dengan seseorang—yang tampak seperti ibu Jisoo dan mengatakan kalau Jisoo pindah sekolah untuk mencegah dirinya tidak melakukan bunuh diri? Tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi Mijoo memilih untuk meninggalkan ruangan guru. Guru BK yang baru saja kembali menjadi heran melihat Mijoo yang kabur begitu saja.

            Mijoo masuk ke dalam kelas lalu berdiri di depan. Dia meminta perhatian teman-teman sekelas dan mengatakan maksud dari berdirinya dia seperti ini. Ternyata Mijoo ingin bertanya apa ada yang memiliki kontak agar bisa menghubungi Jisoo. Youngji menunjuk tangannya ragu-ragu, melihat mantan sahabatnya mengangkat tangan Mijoo langsung menghampirinya.

“Aku minta nomor atau apapun yang bisa membuatku terhubung dengannya!”

Heran melihat sikap Mijoo, Youngji tetap memberikan nomor ponsel Jisoo kepada Mijoo. Setelah mendapatkan nomornya Mijoo langsung menelpon Jisoo dan keluar dari kelas.

            Panggilan pertama tidak ada jawaban dari Jisoo namun Mijoo tidak pantang menyerah dan tetap menghubungi Jisoo. Mijoo benar-benar berdoa kalau Jisoo mau mengangkat panggilan darinya karena saat ini Mijoo ingin mengatakan sesuatu kepadanya—

“Yeoboseyo?”

“Seo Jisoo?”

“Ya ini Seo Jisoo. Anda siapa?”

“Jisoo kau di mana sekarang? Ini aku Lee Mijoo!”

“Mi—mijoo?”

“Aku bertanya kau ada di mana?!”

“Aku ada di parkiran,”

Mijoo langsung mematikan sambungan telfon dan berlari ke parkiran seperti orang gila. Orang-orang banyak memperhatikannya bahkan Seulgi yang baru saja lewat hanya bisa melihat Mijoo penuh dengan kebencian.

            Di parkiran Mijoo melihat Jisoo sedang berdiri di luar mobil. Tanpa basa-basi Mijoo berlari mengampiri Jisoo. Setelah berada di depan gadis itu Mijoo langsung memeluk Jisoo dengan erat sehingga yang dipeluk keheranan.

“Ada apa Mijoo? Apa kau benar Lee Mijoo?”tanya Jisoo.

“Kenapa kau harus pindah sekolah hanya karena aku si,”sedihnya.

Jisoo tersenyum tipis, “Kalau itu satu-satunya cara agar kau tetap menjadi nomor 1 dan tidak tertekan lagi. Aku bisa saja mencari sekolah lain,”

Pelukan terlepas dan kini Mijoo memegang kedua bahu Jisoo dengan sangat erat dan menatap gadis itu lekat.

“Tapi kau menjadi repot dan kesusahan untuk beradaptasi karena—“

“Aku pindah karena itu satu-satunya cara yang ada. Aku ingin menjadi lulusan terbaik di sekolahku tapi aku merasa sedih melihat keadaamu, Mijoo. Maka dari itu lebih baik aku pindah sehingga kita sama-sama diuntungkan, bukan?”

“Jisoo-ya maafkan aku. Aku begitu jahat atau kasar kepadamu tapi kau sangat baik bahkan peduli dengan keadaanku. Jisoo aku benar-benar menyesal dengan perbuatanku,”kata Mijoo sambil menangis.

Jisoo menepuk pundak Mijoo perlahan dan mengusap air mata Mijoo agar dia berhenti menangis.

“Kalau kau menyesal dengarkan ucapanku untuk yang terakhir kalinya,”kata Jisoo.

Mijoo melihat Jisoo dan menunggu apa yang akan Jisoo katakan, “Teman. Kuncinya adalah teman, Mijoo. Kau menjauh dari kata teman selama bertahun-tahun, kan? Teman yang akan membuatmu bangkit ketika kau terjatuh, dengan berteman kau akan merasa lebih bahagia dibandingkan memendam rasa kesedihanmu seorang diri. Carilah teman dan mulailah melunakkan hatimu agar tidak terus belajar hanya karena kau takut dengan orangtuamu, Lee Mijoo.”lanjutnya.

Jisoo benar. Selama ini dia sengaja menahan diri agar tidak berinteraksi dengan siapapun padahal hakikatnya manusia hidup membutuhkan orang lain. Ucapan Jisoo barusan membuat Mijoo tersadar setelah sekian lama hatinya tertutup untuk memiliki atau berfikiran memiliki seorang teman.

“Jisoo apa kau mau menjadi temanku?”Tanya Mijoo.

Dengan mantap Jisoo menganggukan kepalanya. Melihat jawaban Jisoo gadis yang lebih muda 7 bulan darinya itu langsung menangis dengan keras. Jisoo membawa Mijoo ke dalam pelukannya untuk menenangkan hati Mijoo.

Friend, my friend. Don’t cry!”

.

.

THE END

.

Mijoo aku pinjam kata-katamu saat Jisoo nangis di Lovelyz Diary 3 :”)
I adore 94er~~ LVLZ94 fighting haha><
Advertisements

5 thoughts on “[Oneshoot] What is Friend?

  1. Sebenarnya Cupid udah baca FF ini dari kemarin2 tapi ndak sempet komen e.e maap thor TT.TT
    Kak Fanitaaaaaa~
    Aku suka sama karakter Mijoo ama Jisoo .-.
    Rada gedek ama emaknya Mijoo, emak macam apa itu yang nyuruh anaknya harus dapet peringkat satu? Kalo ndak dapat ya disiksa. Kalo di Indo mah, ntu nenek sihir udah dipenjara /kebawa ff
    Udah dulu ya thor ‘-‘
    Cupid mo baca FF author yg lain, buat FF yg ada F4 nya itu ditunggu ya e.e /lupa sama judulnya :’v

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s