[Freelance] 홈 Home

Home (Sample _ by Aghata Orion)

Ketika Jung Kook kembali ke rumah. Semua tetap dalam keadaan yang sama.

..oOo..
.
.
.
Aghata Orion
Present

One shortshot story (Ficlet?) :
(Home)

With Special Cast  :
Jeong Ye In (Lovelyz)
Jeon Jung Kook (BTS)

The Romance story

For 10+

With 1.276 words

WARNING! OOC, Tidak sesuai EYD

OOC,Amatir, Mungkin tidak sesuai ekspetasi

Special inspiration!
Song & MV –Home , Younha
Film Bollywood Verrazara

Song playing : Home – Younha.

Happy Reading!
.
.
.
..oOo..

Ye In tertawa kecil di sela kegiatannya mengabadikan kegiatan sosial yang di adakan oleh lembaga kemasyarakatan setempat. Berulang kali ia menekan shutter kamera SLR miliknya, untuk mendapatkan hasil terbaik.

Bertempat di sebuah desa kecil yang berada di pesisir pulau Jeju. Perkumpulan sosial yang di ikutinya merupakan salah satu yang bernaung pada lembaga kemasyarakatan cukup terkenal di Korea.

Kurang lebih 6 tahun ia bergelut dalam dunia yang telah mendarah daging, Ye In sudah hafal bagaimana rasa suka duka sebagai seorang relawan.

“Kakak!”

Ye In menghentikan kegiatannya ketika sahutan cukup kerasa terdengar dari belakang tubuhnya. Dan dia berhasil menemukan sosok gadis kecil yang berlari ke arahnya.

“Hae Ri ya~ Bagaimana keadaanmu?” tanya Ye In dengan tubuh merunduk, menyamakan tinggi badannya dengan tubuh mungil gadis berumur 8 tahun di hadapannya.

Hae Ri menampilkan deretan giginya, dia tersenyum lebar. “Lihat!” serunya riang seraya menunjuk salah satu gigi serinya yang tanggal.

“Ini tidak menyakitkan!” kemudian, gadis kecil itu berteriak kegirangan.

Ye In tertawa kecil seraya mengusak rambut Hae Ri. Hae Ri tertawa kecil karena perlukan Ye In.

Kemudian gadis kecil itu memandang Ye In dengan kedua mata bulatnya, “Kakak..”

“Yaa?”

“Aku melihat kakak laki – laki di sana. Dia terus memperhatikan ke arahmu.”

Ye In memandang yang lebih kecil dengan kening mengernyit. “Siapa?” tanyanya.

Hae Ri menggeleng kecil, jari telunjuknya menunjuk ke arah jalan setapak menuju pantai.

“Kakak itu tampan.”

Ye In tertawa kecil dengan kedua mata yang membentuk bulan sabit. “Kau ini.. pria tampan kau menyukainya, huh?”tanya Ye In, kemudian mencubit kecil hidung mungil Hae Ri.

Hae Ri mencebikkan bibirnya. “Kakak~”

Gadis yang lebih besar tertawa kembali.

“Ya sudah. Hae Ri kembali bermain. Bibi Oh sedang membagikan permen manis kepada anak di sana. Hae Ri tidak mau?”

“Tentu saja mau!” seru Hae Ri terlampau bersemangat. “Permen kesukaan Hae Ri!” lanjutnya dengan nada bangga.

Sekali lagi Ye In mengusak rambut Hae Ri. “Hati – hati~”

“Dah~ Kakak~”

Ye In tetap tersenyum sampai Hae Ri menghilang dari pandangannya. Kedua matanya beralih memandang kamera yang tergantung di lehernya. Kemudian beralih menerawang ke arah langit yang beranjak sore.

Sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan senyum samar yang menyakitkan.

“Aku berjanji tidak akan mengingatnya.”

..oOo..
.
.
.
.
.
.
..oOo..

Ye In sudah berjanji tidak akan mengingatnya, bahkan untuk menyebut namanya.

Tapi, sekarang dia di sini. Setelah melewati jalan setapak, baru saja beberapa langkah keluar dari jalan setapak.

Berdiam diri memandang punggung pria berambut hitam yang membelakanginya. Jantungnya bekerja lebih cepat.

Hembusan kecil angin pantai menyambut wajahnya. Langit kian berubah, menjadi langit sore menjelang malam. Hamparan laut luas terlihat tenang dengan ombak – ombak kecil yang menyapa bibir pantai.

Ye In masih melihat punggung tegap itu berdiri dengan tegak di sana. Kaos putih dengan kemeja hitam yang sama sekali tidak terkancingi, jangan lupakan celana denim hitamnya.

Semuanya masih terlihat sama, seperti 6 tahun yang lalu.

Laki – laki itu tetap menjadi satu – satunya pria yang menempati ruang kosong dalam hatinya.

Ketika kedua matanya terasa memerah. Ye In memilih untuk segera kembali, sebelum dia menyesal ketika pertahanannya harus runtuh. Detik selanjutnya ketika tubuhnya berbalik–,

“–Ye In.”
.
.
.
.
.
.

Suara itu menghentikan langkahnya, meski tubuhnya enggan berbalik. Suara berat yang sama.

Ye In dapat merasakan langkah itu mendekat, tangan itu menarik tubuhnya untuk berbalik, kemudian memerangkapnya dalam sebuah pelukan.

Grep

“Aku merindukanmu.”

Suara pria itu terdengar bergetar dengan nafas yang memburu.

“Aku merindukanmu–,”

“ –Aku merindukanmu, Jeong Ye In.”

Tanpa suara, Ye In hanya diam dan mulai menangis. Air matanya membasahi kaos milik pria itu.

“Kau harus tahu seberapa besar aku merindukanmu, seberapa besar aku mencintaimu sampai aku gila. Dan seberapa besar rasa benciku pada diriku sendiri sampai – sampai aku ingin melenyapkan diriku.”bisik pria itu tepat pada telinga Ye In.

“Kau harus–“

“Aku membencimu!”

Seruan keras Ye In di sela tangisannya membuat pria itu terhenti. Merenggangkan pelukannya, kemudian kedua tangannya menyentuh bahu Ye In, memaksa si pemilik kedua iris hitam untuk memandang iris teduhnya.

“Teruslah membenciku..” pria itu kembali berbisik.

Ye In kembali menangis lebih keras ketika pandangannya menemukan rasa yang lebih pada pengelihatan si pria.

“Tapi jangan mencoba untuk melupakanku.”

“Teruslah membenciku, sampai kau lupa bahwa kau membenciku.”

“Karena aku akan selalu menunggumu untuk melenyapkan rasa bencimu. Sama seperti ketika kau menungguku untuk menghapuskan penyesalanku.”

Grep

Ketika Ye In memelukan lebih dulu, pria itu tidak bisa menahan untuk tersenyum, sampai – sampai dia harus mengulum senyum lebarnya.

“A –aku..hiks.. Ma –maafkan aku..hiks..Maafkan..hiks..aku Jung Kook..”

Jung Kook. Pria itu membebaskan senyumannya, tersenyum lega seraya mengusap rambut hitam milik Ye In.

“Aku yang bersalah. Aku menghilang. Aku tidak bisa melindungimu. Aku tidak bisa selalu bersamamu, dan aku melanggar janjiku –aku membuatmu kembali menangis.” Ungkap Jung Kook dengan nada seringan angin.

Ye In menggigit bibir bawahnya ketika tangisannya mereda. “Kau..melakukannya karena ku.”

“Jadi, aku yang bersalah di sini. Jika bukan karena ku kau tidak akan melanggar janjimu, kau tidak akan pergi dan pastinya kau akan tetap bersamaku. Seharusnya–,”

“ –tidak.” Jung Kook menyela.

“Aku melakukannya bukan karenamu, sekalipun kau menolaknya aku akan tetap melakukannya. Karena aku mencintaimu.”

Kedua tangan Jung Kook beralih menyentuh kedua pipi milik Ye In. “Hati ini.. ku harapan kau menjaganya.”

“Pasti..” bisik Ye In bahkan hampir tidak terdengar.

“Jangan sampai kau melakukan hal yang sama kedua kalinya.”

“Pasti.” Ye In kembali menjawab dengan bisikan, air matanya mengering cepat dengan bantuan angin yang berhembus di pantai.

“Aku tidak mungkin membuat kau menderita untuk yang kedua kalinya.”

Jung Kook tersenyum, begitu tulus di mata Ye In. “Tempat itu tidak seburuk yang kau pikirkan.”

Ye In memandang Jung Kook dengan pandangan marah. “Maksudmu?”

Jung Kook tersenyum manis, tangannya bermain pada rambut Ye In. Kemudian menyelipkan beberapa helai ke balik telinga Ye In.

“Kau tersiksa selama 6 tahun di penjara itu karenaku! Tidak seharusnya kau seperti itu! Aku merasa berdosa kembali bertemu denganmu setelah apa yang ku lakukan! Jangan ucapkan kau bahagia di sana seolah kau menikmati penderitaanmu karenaku!” tukas gadis itu, dengan nada meninggi.

Jung Kook terkekeh kecil seraya membenturkan keningnya pada kening Ye In. “Aku bahagia.. Kau tahu?”

Ye In enggan menjawab.

“Aku bahagia.. dengan aku berada di sana. Aku bisa mengetahui seberapa besar rasa cintaku padamu. Aku bahagia, meski tempat itu kau anggap neraka sekalipun, ketika hal itu bisa membuatmu bahagia.”

Senyum Jung Kook membuat Ye In terdiam untuk waktu yang cukup lama.

“Karena itu tugasku. Sebagai orang yang mencintaimu.” Kemudian Jung Kook membawa pandangannya pada Ye In yang memandangnya.

“Aku mencintaimu–,”

“–mari kita kembali bersama!” Seru Jung Kook riang, dengan senyum lebar yang membuat kedua matanya menyipit.

Melihatnya, mau tak mau ikut membuat Ye In tersenyum. Perasaannya menjadi lega. Dadanya tidak lagi terhimpit sesak karena persaan bersalah ketika melihat senyum penuh rasa bebas milik Jung Kook.

Jung Kooknya kembali pulang –ke rumah.

“Aku juga –,”

“–ayo kita bersama. Dan kita buat rumah kembali ramai!”

Jung Kook mencubit kecil hidung Ye In ketika gadis itu tertawa. Kemudian kembali memeluk tubuh Ye In, menenggelamkan wajah yang perempuan lebih dalam pada dadanya.

“Aku kembali Ye In  –sembuhkan lukaku”

Ye In menggangguk kecil dalam pelukannya, tersenyum begitu hangat tanpa Jung Kook ketahui.

“Aku tahu. Selamat kembali ke rumah–,”

“ –tentu, Jung Kook –ku. Aku akan menyembuhkannya. Sebanyak yang kau inginkan”

..oOo..

6 tahun yang lalu.

“Berita besar kembali menghebohkan warga Busan. Perampokan berantai yang di lakukan pada rumah pejabat yang berhasil memakan dua korban luka – luka. Baru – baru ini di ketahui bahwa tersangka merupakan seorang wartawan di salah satu kantor berita swasta.”

“ –Baru di ketahui setelah persidangan penyebab di lakukannya perampokan yang meraup habis bermilyar dolar amerika serikat itu adalah untuk operasi yang  akan di lakukan oleh orang terdekat dari tersangka. Atas persidangan yang telah di lakukan 16 januari lalu, tersangka di jatuhkan vonis penjara selama 6 tahun.”
FIN

Advertisements

One thought on “[Freelance] 홈 Home

  1. Whoa, sejenak jd keinget Nice Guy, si Joongki rela di penjara buat cewenya :”)

    Nice author, aku ngeh ada typo seperti yg author bilang di awal. Gak terlalu mengganggu kok aku masih enjoy bgt bacanya :3

    dua jempol ngacung

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s