[Freelance] Good Night

Standard

Goodnight

Author: P_Hwayoung

Title: Goodnight (굿나잇)

Main cast: Park Myung Eun (Jin ‘Lovelyz’), Kim Jin Woo (Jinwoo ‘WINNER’)

Support Cast: Nam Tae Hyun (Taehyun ‘WINNER’), Bae Joo Hyun (Irene ‘Red Velvet’) Nam Ji Hyun (OC), Kim Hyun Woo (OC)

Genre: Angst, sad, family-life.

Length: Ficlet

Rate: General

Backsound: Lovelyz – Goodnight Like Yesterday, WINNER – Color Ring.

Summary: Dia tidak akan pernah bisa berkata selamat tinggal,

.

.

Hujan rintik-rintik turun membasahi seluruh sudut provinsi Gyeonggi malam itu. Hujan musim semi yang membuat kepik terpaksa sembunyi di balik dedaunan. Sembunyi hanya untuk menyaksikan 2 insan yang tengah bercakap serius.

“Kim Jin Woo, mianhae..”

Tangan Jin Woo terkepal erat di balik saku mantel coklatnya. Wajahnya membelakangi lawan bicara, namun sudut matanya terlihat melirik sesekali ke belakang.

“Aku pulang dulu. Selamat sore,” ujar Jin Woo sembari mengangkat pantatnya dari kursi itu. Hendak meninggalkan gadis di sebelahnya.

Tangan gadis itu dengan cepat menahan lengan Jin Woo agar tidak pergi dari sisinya, “Jin Woo-ya,”

“Park Myung Eun, lepaskan aku,”

“Tidak bisakah kau mendengarkanku dulu?” Park Myung Eun, gadis itu menatap Jin Woo sendu.

Jin Woo melepaskan tangan Myung Eun dari lengannya secara perlahan. Seolah tidak ingin menyakiti tangan gadis itu. Lupa pada kenyataan bahwa Jin Woo telah menyakiti hatinya.

“Kita sudah selesai,”

Myung Eun menunduk. Tanpa izin, beberapa kristal bening meluncur dari matanya, membuat  alis Jin Woo berkerut, “Uljima,” ujarnya sembari mengusap pelan titik air di pipi Myung Eun.

Gadis itu terlihat rapuh. Bahunya bergetar menahan tangis yang sudah terlanjur keluar begitu saja. Jin Woo menyerah. Pecundang kalau ia membiarkan seorang gadis menangis di hadapannya. Ditariknya gadis itu kedalam pelukannya.

“Bukankah kau sudah tidak mencintaiku?” bibir mungil Jin Woo mengutarakan serentetan kalimat yang sangat berlawanan dari wajah manisnya. Kata-kata itu terlalu menyakitkan bagi Myung Eun.

Tangis Myung Eun semakin menjadi-jadi. Hatinya sesak, “Aku mencintaimu,”

“Jangan begini. Jangan mempermainkan hatiku,” jujur saja, Jin Woo sudah terlalu lelah dengan semua permainan Myung Eun meskipun pria itu sangat mencintainya.

“Aku tidak pernah mempermainkanmu. Aku hanya mencintaimu,”

“Kau mencintaiku tapi kau mencium Tae Hyun?” Jin Woo tersenyum kecut setelah mengucapkan serentetan kata yang terasa seperti rentetan peluru menembus hatinya.

“Aku tidak—“

Jin Woo melepaskan dekapannya begitu saja, membuat Myung Eun tersentak.

“Hentikan sikap kekanak-kanakanmu Park Myung Eun! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri,”

Myung Eun menatap wajah Jin Woo, “Beri aku waktu, Kim Jin Woo..”

“Sampai kapan? Sudah berapa lama kita seperti ini? Kau menyukaiku tapi media menyorotmu sebagai kekasih seorang Nam Tae Hyun,”

Myung Eun bangkit dan memeluk tubuh pria itu dari belakang. Rasanya selalu sama, nyaman.

“Apakah nanti kau menikah denganku tapi menulis kartu nikah dengan Tae Hyun? Apakah kau akan menamai anakmu Nam dan bukan Kim? Jawab aku Park Myung Eun!”

“Kim Jin Woo..”

“Ayo kita akhiri saja,”

Pelukan Myun Eun mengendur perlahan-lahan. Tubuhnya terasa lemas bahkan hanya untuk berdiri.

“Baiklah,” tenggorokan Myung Eun bahkan terasa sakit hanya untuk mengucapkan satu kata itu. Sangat menyakitkan dan terasa tertohok di dalam rahangnya.

“Selamat malam,”

Myung Eun tersenyum kecut. Selamat malam jauh lebih baik daripada selamat tinggal. Bukankah mereka hanya akan berpisah satu malam? Esok pagi semuanya pasti akan baik-baik saja.

“Selamat malam juga,”

**

8 years later

Malam hari itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Langit Seoul terlihat sangat jernih sehingga bintang-bintang berpendar disana dan disini.

“Apakah semuanya sudah siap?”

Aneka softdrink dan makanan ringan tergeletak secara menggemaskan di atas meja kotak di sudut taman. Satu set panggangan dan aneka daging serta bumbu-bumbunya juga sudah siap di sudut lainnya. Hadirnya tikar besar di tengah taman semakin memeriahkan tempat itu.

“Sudah,”

Pesta barbekyu adalah salah satu alternatif untuk merayakan datangnya liburan musim panas. Harumnya hanwoo dengan saus dan potongan paprika tidak pernah membosankan untuk dikunyah.

“Aku akan meneleponnya dulu,” salah seorang beranjak masuk ke dalam rumah sementara seorang yang lain masih berkutat dengan potongan paprika di depannya.

Hatinya berdegup keras. Ini pertama kalinya sejak 8 tahun yang lalu. Gadis itu tersenyum miris. Ternyata ia memang belum bisa melupakannya.

“Eomma!” seorang gadis kecil berumur sekitar 6 tahunan berlari ringan membuat kucir kudanya bergoyang-goyang.

Aigoo.. uri-Jihyunnie lapar?” gadis itu mengangkat seorang yang memanggilnya eomma.

Ji Hyun mengangguk, “Tetapi aku ingin menunggu Hyun Woo. Selama ini kami hanya bertemu via skype,”

“Hmm.. sabarlah sebentar lagi mereka pasti datang,”

“Chagi-ya! Ayo kemari!” suara seorang pria terdengar dari dalam rumah.

Kedua gadis di taman terlonjak senang, “Nah, dengar. Ayo kita ke depan!”

“Annyeonghaseyo!”

“Eomma, appa! Ayo kita sapa mereka,” Ji Hyun dengan cepat berlari ke arah pintu depan.

Annyeonghaseyo ahjussi, agasshi, Hyun Woo-ssi!”

“Aigoo.. uri-Jihyunnie cantik sekali..” gadis yang berdiri di depan pintu mengacak rambut Ji Hyun gemas.

“Terima kasih Joo Hyun-aggashi. Ayo masuk. Eomma dan appa sudah menunggu!”

“Apa kabar Jin Woo-ssi? Joo Hyun-ssi?”

Jin Woo dan Joo Hyun berpandangan, “Baik.. Wah, Park Myung Eun kau semakin cantik saja,” gurau Joo Hyun.

Myung Eun hanya tersenyum manis. Matanya masih menatap Jin Woo sendu.

**

Acara pesta barbekyu berlangsung sempurna. Mereka membakar dan makan banyak daging hari itu. Anak-anak tengah terlelap di kamar tengah. Sementara yang lainnya di kamar utama dan kamar tamu.

Rasa haus yang menyerang tenggorokan Myung Eun tiba-tiba membuatnya terpaksa turun dari ranjang dan berjalan pelan ke arah kulkas. Setelah selesai meneguk air untuk melegakan tenggorokannya, ia bermaksud kembali ke kamar tetapi matanya menangkap sesosok bayangan yang memasuki balkon.

Hatinya mencelos. Bagaimana kalau itu penjahat? Meskipun begitu, ia melangkah pelan-pelan ke arah balkon hanya sekedar untuk memastikan.

“Kim Jin Woo?” ujarnya lega setelah mengetahui bahwa yang sedang duduk di balkon adalah seorang Kim Jin Woo.

“Euh.. ya,” Jin Woo agak terkejut ketika Myung Eun menyapanya.

Ragu-ragu, Myung Eun duduk di sebelah Jin Woo, “Kau sedang apa?”

“Aku tidak bisa tidur, jadi aku kesini saja,” jawab Jin Woo canggung.

Atmosfer canggung benar-benar terasa di antara keduanya. Setelah 6 tahun lebih mereka tidak bertemu, apalagi setelah pertengkaran itu, yang tidak jelas apakah sudah selesai atau belum.

“Bae Joo Hyun istri yang baik, benar kan?” Myung Eun mencoba mencairkan suasana.

Jin Woo tersenyum, senyum yang selalu Myung Eun rindukan selama beberapa tahun terakhir, “Tentu saja, dia istri dan ibu yang baik,”

“Jin Woo-ya,” lidah Myung Eun terasa pahit ketika ia mengucapkan panggilan itu.

Jin Woo menoleh, tampak dengan jelas bahwa ia terkejut, “Apa?”

“Apakah kau masih mencintaiku?” Myung Eun menoleh ke arah Jin Woo, bertatapan dengan telinga pria itu, “Katakan, apa kau masih mencintaiku?”

Jin Woo tersenyum dan menolehkan wajahnya menghadap Myung Eun. Sorot matanya masih sama seperti dulu, selalu lembut dan menenangkan.

“Kita sudah tidak bersama lagi, kan?”

Alis Myung Eun berkerut, matanya memandang penuh harap ke arah Jin Woo. Berharap pria itu melihat setitik cinta di matanya.

“Tapi, apakah tidak ada rasa yang tersisa sedikitpun untukku?”

Mata Jin Woo kembali mengarah ke depan, “Kau sudah punya Tae Hyun, Park Myung Eun..”

“Kim Jin Woo, aku masih menyukaimu,”

Jin Woo bangkit dari duduknya, “Kau harus belajar mencintai Tae Hyun seperti kau mencintaiku,”

“Maafkan aku atas kejadian dulu,”

Jin Woo tersenyum lagi. Tangannya menyentuh puncak kepala Myung Eun dan membelainya lembut.

“Selamat malam,”

Mata Myung Eun menatap nanar punggung Jin Woo yang bergerak menjauhinya. Ingin ia berlari dan memeluk figur mungil itu lagi.

Myung Eun tersenyum. Selamat malam, lagi.

Ia tak pernah mengucapkan selamat tinggal.

FIN.

Author’s Note: Hello! Ini fanfiction Lovelyz pertamaku. Kenapa pairingnya Jin-Woo? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin karena namanya hampir sama dan mereka adalam biasku. Kekeke~

Please comment after reading. I really really appreciate your words.

Annyeong yeorubun!

One thought on “[Freelance] Good Night

  1. Umm, baiklah. Pertama aku mau muji FF yang indah banget ini. Bahasa yang lembut (?), ringan, dan mudah dimengerti membuat pembaca terlebih aku sendiri nyaman.
    Kedua,aku akan kembali muji FF yang indah banget ini. Jalan ceritanya enak banget buat dibaca.
    Ketiga, aku udah ga tau mau ngomong apa. Pokoknya aku suka deh, kak! FF mu ini feelnya dapat banget. Dan… ga kerasa udah sampe akhir aja.
    Akhir kata, makasih udah mau baca komentar aneh ini. Sampai jumpa di FF lain!

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s