[Freelance] What Is Your Name?

Standard

WYN

Author          : Lovemejoo

Cast               : Jung Yein, Jeon Jungkook

Length          : 989 words

Also posted here http://www.asianfanfics.com/story/view/966868/1/our-stories-lovelyz

Minggu sore. Waktu yang tepat untuk pergi ke taman kota. Taman yang sejuk dan hijau di tengah-tengah perkotaan yang sesak, padat, dan penuh dengan macet. Bukankah itu hal menyenangkan untuk dilakukan setelah seminggu penuh dengan kesibukan kerja? Sebagian besar sepertinya setuju, karena taman ini tak pernah sepi dari kunjungan orang di waktu weekend. Kebanyakan dari mereka menghabiskan waktunya di sana bersama orang tercinta. Namun tak sedikit juga yang datang sendirian hanya untuk melepas penat. Seperti yang dilakukan gadis itu.

Angin yang meniup rambut panjangnya tak mengganggu konsentrasi. Tangannya sibuk. Pensil yang sedari tadi ia genggam menari dengan lihai di atas sketchbook-nya. Telapak kakinya juga asyik menghentakan bumi, mengiringi suara merdu yang dikeluarkan dari handphone-nya. Sesekali ia menggumam mengikuti.

Sejak tiga minggu yang lalu, ia tidak pernah lupa datang ke taman ini. Sabtu dan Minggu. Ia selalu duduk di tempat yang sama –kursi taman sebelah barat, jika kau menatap ke depan akan terlihat restoran ayam di seberang taman. Ia juga selalu membawa barang yang sama. Melakukan hal yang sama dengan objek yang sama pula. Aneh? Tidak juga.

Gadis itu masih asyik dengan gambarnya . Ia selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan hobinya. Apa lagi ini ada sangkutannya dengan boneka besar yang sedang membagi-bagikan selebaran di depan restoran seberang taman itu. Kenapa, kau tanya? Coba kau tebak saja apa yang terjadi dengan gadis cantik ini dan si boneka besar? Tidak. Ia belum sampai fase mencintainya. Gila saja. Ia baru melihat si boneka besar itu tiga minggu yang lalu. Berkenalan pun tidak pernah. Tahu namanya saja tidak.

Awalnya Yein –nama gadis itu, hanya penasaran dengan orang yang ada di dalam kostum besar dan pengap itu. Ia membayangkan seorang bapak menggunakan kostum tesebut, membagikan selebaran untuk restoran tempat ia bekerja, dan tidak dihargai oleh beberapa orang yang lewat, demi membayar hutang-hutangnya dan menafkahi istri dan anaknya di rumah. Ia sempat merasa kasihan. Namun, ternyata imajinasi liarnya salah.

Hari itu, malam sudah tiba. Ia sudah ditelepon Ibunya untuk segera pulang. Bergegas membereskan barang-barangnya, tanpa sengaja ia melihat restoran di seberang dan terdiam. Apa yang ia bayangkan sedari tadi salah. Di balik boneka besar yang lucu itu adalah seorang pemuda. Walaupun rambut pemuda itu basah karena keringat, malam yang sedikit mengaburkan penglihatannya, dan jarak mereka yang juga cukup jauh, tapi Yein yakin bahwa pemuda itu sangat tampan. Bahkan menurut Yein, pemuda itu cocok menjadi seorang idol –visual wise.

Sejak saat itulah Yein tertarik untuk lebih tahu tentang pemuda itu. Entah kenapa ia ingin sekali berkenalan, bahkan berteman dengannya. Oleh karena itu, keesokan harinya ia datang kembali. Sayangnya ia tak seberani apa yang diharapkannya. Ia hanya bisa duduk di bangku taman hari itu dan menggambar si boneka besar. Menunggu ia membuka kostum kepala bonekanya yang besar lagi. Namun nihil. Hari-hari selanjutnya, Yein mencoba menggambar wajah pemuda yang samar-samar ada di memori otaknya. Sampai saat ini tidak ada kemajuan.

Yein mengangkat kepalanya, menatap si boneka besar yang dari tadi masih membagikan selebaran.  Ia menghela nafas panjang. Sampai kapan akan seperti ini, hm? Ia kembali menatap hasil gambarnya hari ini. Tidak buruk juga. Walaupun ia tidak terlalu yakin kalau gambarnya akan sama persis dengan wajah aslinya karena hari itu wajah si pemuda tidak terlalu jelas kelihatan, tapi Yein yakin memori ingatannya tidak salah. Ia mengangkat kembali pensilnya. What’s your name, Big Bear?

Bunyi handphone menghentikan kegiatannya. Nama Ibu muncul di layar. Tanpa pikir panjang, Yein langsung mengangkatnya dan-

“Kau tidak lupa dengan ulang tahun kakakmu kan, Jung Yein?”

Uh oh- ia terkena masalah. Masalah besar.

“T-tidak, Bu. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Hm.. 5 menit lagi aku sampai,” jawabnya sambil terburu-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan sembarang dan bergegas pergi dari taman.

—–

Bodoh. Yein bodoh. Itulah yang sejak tadi ia katakan dalam hatinya. Ia meninggalkan sketchbook kesayangannya di taman. Kalau bukan karena ia lupa ulang tahun Hoseok –kakaknya, ia tidak akan pulang cepat kemarin dan kejadian ini tidak akan terjadi. Sekarang ia harus ke taman lagi untuk mencarinya.

Sudah dua jam lebih ia mengelilingi taman ini tapi tetap saja tidak ketemu. Pasrah, kesal, sedih semuanya campur aduk dirasakan oleh Yein. Ia hanya bisa duduk lemas di kursi biasanya. Sudah tidak tahu harus apa. Mungkin saja buku itu sudah dibuang penjaga kebersihan taman. Atau ditemukan oleh orang lain. Atau jatuh di jalan saat ia berlari pulang kemarin. Atau mungkin sketchbook-nya tidak pernah hilang. Mungkin saja Hoseok menyembunyikannya karena ia lupa memberikan kado untuknya.

“Ughhh!” Yein mengacak-acak rambutnya sebal.

 

 

“Permisi.”

Suara seorang laki-laki menyadarkan Yein dari kekesalannya. Ia mendongakkan kepala untuk melihat orang yang baru saja berbicara kepadanya. Matahari tepat berada diatas kepala laki-laki itu. Sinarnya membuat mata Yein sakit, sampai akhirnya ia harus menghalangi matanya dengan tangan agar dapat melihat jelas wajah asing dihadapannya ini. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Yein tersadar dan bangun dari duduknya.

Big Bear!

“Hai, apa ini milikmu?”

Pemuda itu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Betapa kagetnya Yein saat tahu buku itu adalah sketchbook-nya yang sedari tadi ia cari. Tanpa sadar, Yein segera merebut buku itu darinya.

“Um.. aku menemukannya kemarin, tepat di kursi ini,” ucap pemuda itu sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

“Uh oh- t-terima kasih.”

“Kalau begitu sampai jumpa lagi,” tanpa basa-basi pemuda itu langsung pergi dari hadapan Yein.

Yein yang masih terpesona dengannya masih terdiam. Tidak menyangka akan berhadapan langsung dengannya secepat ini.

 

 

“Nama!!!” Yein berbalik, mengedarkan pandangannya ke sekitar taman, mencari sosok yang baru saja ada dihadapannya. Namun, kini sosok itu sudah jauh.

“Yein bodoh!!! Kenapa tidak mengajak kenalan. Ughh.”

Ia menggerutu kesal. Kesal-kesal-senang sih sebenarnya. Memorinya selama ini tidak salah. Ia sangat sangat sangat tampan dan tinggi. Ditambah pemuda itu lebih tampan dengan gaya casual-nya. Ughh. Aku harus segera menggambarnya.

Dibukanya sketchbook yang baru saja kembali. Tanpa sengaja ia membuka gambar terakhir yang kemarin ia gambar dan melihat ada coretan baru dibawah tulisannya. Jungkook, Jeon Jungkook.

.

.

.

.

Tanpa gadis itu sadari, dibalik kostum besar dan pengapnya, Jungkook juga sering memperhatikannya. Setiap Sabtu dan Minggu. Di kursi taman sebelah barat, seberang restoran tempat ia bekerja.

 

FIN

Advertisements

One thought on “[Freelance] What Is Your Name?

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s