[Freelance] Odaeng (Chapter 1)

Poster Odaeng

Odaeng

Author  : inspiritnaya

Cast       : Yoo Jiae (Lovelyz’s Jiae) | Min Yoongi (BTS’s Suga) | Bibi Yoo (OC)

Genre   : Romance | School life | Family

Length  : Chapter

Rating   : PG-15

Disclaimer: Ide cerita murni dari inspiritnaya, casts bukan milik penulis. Inspiritnaya cuma pinjam nama. Mohon dimaafkan bila ada salah dalam penulisan kata. This is my first FF tho’ ^^ Semoga kalian suka!

Happy Reading chingu!

***

September 2008

 

Ahjumma, saya beli odaeng-nya sepuluh tusuk,’

 

Yoongi memesan sambil membungkukkan badan. Kios odaeng dekat rumahnya itu terlalu rendah untuk ukuran tubuh Yoongi. Ahjumma penjual odaeng dengan cekatan membungkuskan sepuluh odaeng pesanan Yoongi.

 

‘Cha… Ini anak muda tampan..’

 

Yoongi tersenyum.

 

‘Ah, ahjumma terlalu berlebihan.’ elak Yoongi sambil memberikan uang.

 

‘Hahaha. Aku tidak berlebihan, kau memang tampan. Untuk pemuda seusiamu, kau pasti populer ya di sekolah? Aigoo.. siapa yang tidak tertarik dengan senyummu itu’

 

Yoongi kembali tersenyum, tertawa kecil sambil menggaruk kepala –walau tak gatal-. Dibungkukkan badannya sembari berujar terima kasih atas pujian ahjumma itu. Menurut Yoongi, orang-orang terkadang berlebihan memujinya. Ia rasa, senyumnya tak ada bedanya dengan orang kebanyakan.

 

‘Jiae, tolong tukarkan uang ini ke warung Paman Lee. Tidak ada pecahan yang lebih kecil ternyata disini.’

 

Ahjumma penjual odaeng tadi menyuruh anaknya -seorang gadis yang sedari tadi duduk membaca buku di samping kios-. Jiae.

 

 

Jiae. Seorang gadis yang sangat suka membaca. Meski ia penyuka buku, Jiae tidak terlihat seperti kutu buku. Wajahnya manis, rambutnya hitam tergerai. Tanpa tersenyum, wajah Jiae sudah terlihat ramah. Mungkin karena sorot matanya yang teduh dan bibir mungil diantara dua pipi tembamnya. Sore itu, Jiae menggunakan turtle neck lengkap dengan jaket -penghalau angin dingin-, celana jeans, kaos kaki dan sepatu. Penampilan yang sempurna untuk gadis seusianya di musim gugur. Suhu musim gugur di Seoul kali ini cukup rendah sehingga memaksa penduduknya menggunakan baju berlapis dan jaket, untuk menghalau angin musim gugur yang dingin.

 

Gadis yang bernama Jiae tadi langsung menghampiri eomma-nya,

 

Ne, eomma..’ ujar Jiae

 

Gadis itu segera mengambil uang dari tangan eomma-nya dan tersenyum ke pelanggan di depan kios. Ia sedikit berlari menuju warung Paman Lee.

 

‘Ey, sebentar ya anak tampan. Anakku sedang menukarkan uang untuk kembalianmu’ lanjut Ahjumma penjual odaeng

 

Yoongi mengangguk. Dari jauh ia memperhatikan gadis itu. Sebenarnya, Yoongi agak terkesiap ketika gadis bernama Jiae tadi tersenyum kepadanya.

 

Manis’ pikir Yoongi

 

‘Anakku sepertinya seumuran denganmu. Kau sudah SMA kan?’ pertanyaan ahjumma membuyarkan pikirannya

 

‘Ah,.. ne ahjumma.. saya baru masuk SMA di Gyoungdae High School.’ jawab Yoongi gelagapan

 

‘OH? Aigoo.. sekolahmu sama berarti dengan Jiae! Siapa namamu?’ lanjut ahjumma

 

Ye? Jiae..? Euh eoh.. Nama saya Yoongi. Min Yoongi. Biasa dipanggil Yoongi, Ahjumma’ Yoongi menjawab ramah

 

‘Ya.. Yoongi-ah.. Nama yang bagus..

Jiae itu, anakku yang tadi menukar uang.

Aigoo, aku tidak menyangka teman sekolah anakku setampan kau..

Omong-omong, panggil aku Bibi Yoo saja ya’ ujar Bibi Yoo sembari tersenyum

 

‘Oh.. haha.. mungkin aku belum pernah melihatnya, Ahjumma.. eh, Bibi Yoo.. haha’ Yoongi tertawa bingung. Matanya dipaksa melengkung mengikuti raut senyumnya.

 

Seingat Yoongi, ia memang belum pernah melihat wajah Jiae di sekolah. Yoongi baru saja masuk SMA dua minggu lalu, jadi cukup wajar jika ia belum mengenali wajah teman satu sekolahnya. Lagipula, rasanya tidak mungkin untuk mengenali seluruh wajah teman satu angkatan. Apalagi yang terpisah kelas.

 

Yoongi menggaruk kepalanya lagi.

 

Tak lama berselang Jiae datang, memberikan pecahan uang kepada eomma-nya.

 

‘Ini eomma.. Maaf membuatmu menunggu lama’ ujar Jiae sambil membungkukkan badan.

 

Gadis itu langsung duduk kembali membaca buku, tanpa memperhatikan respon pelanggan dan eomma-nya. Jiae jika sudah memegang buku akan sangat susah diganggu dan sikap Jiae memang terkadang cuek pada orang yang baru dikenal. Bibi Yoo yang melihat tingkah laku anaknya itu hanya menggeleng, lalu meminta maaf pada Yoongi.

 

‘Ini, kembalianmu. Maafkan anakku yang terkadang cuek ya. Kuharap kalian bisa bertemu dan berteman di sekolah.’ ujar bibi Yoo sambil tersenyum,.

 

‘Wajah bibi Yoo terlihat berharap sekali’ batin Yoongi

 

‘Ah, ne.. Bibi. Gamsahamnida.’ Yoongi membalas senyum Bibi Yoo dan berpamitan setelah mengambil uang kembalian.

 

 

September 2008

 

Sore itu langit Seoul mendung. Latihan klub sepakbola -yang diikuti Yoongi- dihentikan. Ia lalu bergegas menuju loker, mengganti baju, dan memakai jaket. Digenggamnya payung berwarna hijau sebagai persiapan sebelum hujan dan dipercepat langkahnya keluar sekolah menuju halte bus.

 

Langit mendung Seoul semakin pekat dan tak berselang lama hujan yang sedari tadi tertahan, turun. Yoongi yang masih setengah jalan dari sekolah menuju halte, langsung membuka payung hijaunya. Pejalan kaki lain -yang tidak membawa payung- berlarian mencari tempat berteduh. Ia meminggirkan badan ke sisi kanan untuk menghindari lalu lalang orang.

 

‘Permisi, permisi’, dari kejauhan terdengar suara.

 

Seorang perempuan dari arah berlawanan hampir menabrak Yoongi. Untung saja Yoongi dengan cepat memiringkan badan dan menghindar. Perempuan itu terburu-buru menuju teras toko di belakang Yoongi. Sesaat Yoongi berpikir, wajah perempuan tadi sepertinya ia kenali. Ia pun mencoba mengingat.

 

‘Ah, itu Jiae.’ batinnya

 

Yoongi menghentikan langkah dan berbalik.

 

‘Jiae-ssi!’ teriak Yoongi.

 

Jiae menoleh. Wajah Jiae bingung, karena tak melihat orang yang ia kenal. Jiae kemudian menggeleng pelan, tak yakin asal panggilan itu.

 

‘Hai, Jiae-ssi!’ Yoongi kembali memanggil.

 

Jiae menoleh lagi. Kali ini ia menyadari ada yang melambaikan tangan kepadanya. Jiae kemudian memfokuskan pandangan, berusaha mengenali wajah si pemanggil.

 

‘Siapa?’ batin Jiae

 

Yoongi berjalan cepat mendekati tempat Jiae berteduh. Payungnya kemudian ia turunkan setelah menginjak teras toko. Beberapa saat kemudian ia sudah berdiri disamping Jiae.

 

‘Kau memanggilku?’ ujar Jiae

 

‘Ah, iya.. Hai, Jiae-ssi. Aku Min Yoongi. Panggil saja Yoongi.

Kemarin aku membeli odaeng di kiosmu dan eomma-mu bilang kita satu sekolah.’ ujar Yoongi sambil membenarkan baju seragamnya. Ia ingin memperlihatkan bahwa mereka satu sekolah karena memakai seragam yang sama.

 

Jiae melirik wajah Yoongi dengan heran. Ia benar-benar tidak mengenal siapa laki-laki di depannya ini –yang sekarang mencoba mengeringkan rambut juga dengan mengacak-ngacaknya-. Kemarin, pelanggan kios eomma-nya cukup banyak. Mana mungkin ia mengingatnya satu per satu.

 

Lagipula kemarin aku sibuk membaca’ batin Jiae

 

‘Kau benar Jiae kan?’ lanjut Yoongi.

 

‘Ah, iya benar.. aku Jiae.. salam kenal Yoongi-ssi.. Maaf, kemarin tidak memperhatikan pelanggan karena sibuk membaca ’ jawab Jiae

 

‘Ahaha, iya.. Aku melihatnya. Sebelum kau disuruh eomma-mu menukar uang, kau membaca. Setelah menukar uang, kau langsung membaca lagi. Wajar bila tak memperhatikan pelanggan.’ ujar Yoongi setengah menyindir.

 

Jiae hanya tertawa kecil. Beberapa detik kemudian suasana menjadi agak canggung. Yoongi sebenarnya menghampiri Jiae karena terpikir Bibi Yoo. Wajah Bibi Yoo tempo hari sangat mengharapkan Jiae dapat berkenalan dengannya. Dan secara kebetulan, hari ini Yoongi melunasi permintaan itu. Ia merasa lega.

 

‘Lagipula, apa salahnya berkenalan dan berteman? Sepertinya Jiae anak yang baik. Tak ada salah untuk menambah teman dengan orang-orang baik.’ pikir Yoongi

 

Lima menit berlalu, hujan turun semakin deras. Kedua anak berseragam SMA itu masih canggung. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan belum saling bercakap lagi. Yoongi sibuk berpikir bagaimana cara menawarkan payung pada Jiae supaya Jiae dapat lekas pulang dan membantu Bibi Yoo. Sementara Jiae sibuk berpikir bagaimana ia dapat pulang sesegera mungkin untuk membantu eomma.

 

Akhirnya Yoongi memberanikan diri untuk bertanya,

 

‘Kau mau buru-buru pulang? Eomma-mu pasti menunggu.’

 

Lamunan Jiae buyar. Ia agak terkejut dengan pertanyaan Yoongi. Yoongi seolah tahu apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Jiae sebenarnya sedang merasa sangat bersalah karena tidak segera pulang. Ia tadi mengikuti gathering perdana klub paduan suara dan terlambat pulang sampai hujan turun. Sialnya, Jiae juga lupa membawa payung, sehingga harus berteduh menunggu hujan reda.

 

‘Eomma memang pasti kerepotan sekarang’ pikirnya

 

‘Jiae-ssi?’ panggil Yoongi lagi

 

‘Eh, iya. Maaf, sebenarnya sedang buru-buru. Hehe.’ jawab Jiae sambil tersenyum kecil

 

‘Mau menggunakan payungku? Aku bisa menunggu disini sampai hujan reda.’ lanjut Yoongi

 

Jiae terkejut dan segera menolak tawaran Yoongi

 

‘Ah, tidak.. tidak usah Yoongi-ssi. Merepotkanmu nanti. Aku bisa menghubungi eomma, dan mengatakan bahwa aku terjebak hujan’

 

‘Eeyyy.. apa kau tak kasihan pada eomma-mu? Mungkin saja ia menunggumu untuk menjaga kios. Nih, tak apa. Payungnya bisa kau kembalikan besok saat di sekolah. Kelasku di 10-3.’ ujar Yoongi sambil menyodorkan payung.

 

Jiae merasa ragu.

 

‘Ayolah, nih.’ Yoongi tiba-tiba menarik tangan Jiae dan menaruh payung hijau miliknya di genggaman tangan Jiae.

 

Jiae lagi-lagi terkejut.

 

Gomapseumnida Yoongi-ssi. Aku sebenarnya sangat heran dengan kebaikanmu meminjamkan payung, karena kita baru saja berkenalan.’ ujar Jiae pelan

 

‘Ah, ya ya.. aku lupa memberitahumu. Jangan salah paham. Ini sebagai rasa terima kasihku kemarin. Bibi Yoo sangat ramaaah sekali melayaniku kemarin. Hehe’ Yoongi berkilah.

 

Jiae diam. Ia berpikir sejenak. Lima detik kemudian Jiae menaruh payung hijau milik Yoongi di sampingnya. Kali ini, Yoongi yang ganti keheranan melihat apa yang Jiae lakukan.

 

‘Maaf, Yoongi-ssi, kalau boleh tahu.. dimana rumahmu?’ tanya Jiae

 

‘Eoh? Rumahku? Hm, beda dua komplek dengan kiosmu. Memangnya kenapa?’ ujar Yoongi penasaran.

 

‘Hm.. Kuterima alasanmu membantuku karena eomma. Tapi sejujurnya aku merasa bersalah jika pemilik payung malah pulang terlambat, sementara yang dipinjamkan pulang mendahului. Kalau kau tidak keberatan, kita bisa menuju halte bus itu bersama. Tapi dengan syarat, aku yang memegang payung dan kau berada di depanku.’ Jiae memberikan penawaran.

 

Anak ini lucu sekali tingkahnya. Sengaja kutawarkan payungku saja supaya menghindari untuk pulang bersama. Mengapa sekarang jadi berbalik ia yang mengajakku pulang? Dan kenapa pula dia harus berjalan di belakangku’ pikir Yoongi

 

‘Aku tidak suka jika ada laki-laki yang memayungiku. Aku jadi terlihat manja, dan kau terlihat seperti …’

 

Kata-kata Jiae terpotong oleh Yoongi yang langsung mengambil payung hijaunya, dan berkata,

 

‘Aigoo, Jiae-ssi. Kau itu banyak syarat sekali ya untuk membantu eomma-mu’

 

Yoongi akhirnya menarik pergelangan tangan Jiae dan menyuruhnya untuk berjalan di depan Yoongi.

 

‘Jangan menoleh ke belakang’ ujar Yoongi lagi.

 

Keduanya berjalan dibawah payung melewati hujan

 

Di lain tempat, seorang ahjumma mendekatkan handphone ke telinganya, mencoba menelepon. Tapi lagi-lagi hanya tersambung pada operator, tidak ada jawaban. Selang beberapa menit, dari kejauhan terlihat dua orang berseragam SMA mendekati kiosnya. Perlahan, pandangannya semakin jelas. Senyum ahjumma itu merekah dan langsung menyiapkan teh hangat untuk keduanya.

 TBC

How? Mohon komennya ya semua (>.<) Semoga kalian suka FF ini. Semoga suka juga dengan pairingnya. Hehe. Author suka banget soalnya sama pairingnya. Suga yang terlihat cold padahal warm hearted, sama Jiae yang terlihat unyu padahal ‘baby elephant’. Hehe.

 

Sampai jumpa di chapter berikutnyaaa!

Advertisements

8 thoughts on “[Freelance] Odaeng (Chapter 1)

  1. Yoongi baik banget~~ ngebayangin Min Yoongi yg ‘itu’ sebaik ‘itu’ (apasih tidak jelas wkwkwk) jd ketawa2 sendiri >_< Trus suka sama sikap Jiae yg kayak gitu entah kenapaa~~
    Hm hm, ditunggu perkembangan mereka berdua setelah ini author :3

    Like

    • waaah first komen!
      haha.. iyaa yoongi nya dibuat manis >< walau sangar ky security, tapi hati hello kitty *plak
      jiae-nya kubuat kaya pas YAMO era, baby elephant. hehe
      okee..
      akan ku update asap
      terima kasih sudah suka dengan ceritanya ^^

      Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s