[Freelance] Odaeng (Chapter 2)

Poster Odaeng

Odaeng (Chapter 2)

Author  : inspiritnaya

Cast       : Yoo Jiae (Lovelyz’s Jiae) | Min Yoongi (BTS’s Suga) | Bibi Yoo (OC)

Genre   : Romance | School life | Family

Length  : Chapter

Rating   : PG-15

Disclaimer: Ide cerita murni dari inspiritnaya, casts bukan milik penulis. Inspiritnaya cuma pinjam nama. Mohon dimaafkan bila ada salah dalam penulisan kata. This is my first FF tho’ ^^ Semoga kalian suka!

Happy Reading chingu!

***

28 September 2008

Sehari setelah hujan deras sore hari –kemarin-

 

Jiae POV

‘Hatchhi.’ Aku mengelap hidung dengan tisu. Sejak malam, aku bersin-bersin. Hidungku tak bisa bernafas dengan benar dan kepalaku terasa sedikit berat. Sepertinya aku terserang flu akibat kehujanan bersama orang itu. ‘Srrst’ Hidungku meler lagi. Ku usap lagi hidungku dengan tisu. Ah, aku baru ingat, aku lupa memakai masker. Aish.. . Suaraku juga sedikit berubah. Suara khas orang flu –bindeng-.

 

Kulirik jam tanganku, sudah pukul 10. Itu berarti aku telah berdiri di depan kelasnya selama 5 menit. ‘Hoahm’ Membosankan. Waktu istirahat sekolah sebenarnya pukul 10. Kelasku keluar lebih awal karena Min-ssaem –guru matematikaku- mendadak dipanggil oleh kepala sekolah.

 

‘Krrrriiiiing’ bel istirahat berbunyi.

 

Huft, akhirnya. Segera ku tegakkan lagi badanku dan bersiap mencari orang itu. Kulihat satu per satu murid yang keluar dari 10-3…

Bukan.. bukan.. bukan yang ini.. bukan.. hm.. bukan.. bukan. Aish, mana orang itu.’ batinku

Aku tidak menemukannya di sekumpulan orang melewati pintu kelas. Tak kutemukan wajah laki-laki bermata sipit dengan sorot mata yang sedikit tidak ramah, plus kulit seputih susu –bahkan lebih putih dari kulitku-. ‘Sepertinya dia tidak keluar kelas’ pikirku

Dengan sedikit kesal, ku beranikan diri untuk menengok ke dalam kelasnya, ku edarkan pandangan dan.. ketemu! Orang yang kucari sedang duduk dengan menelungkupkan kepala. Ia juga.. memakai jaket.

Apa ia sakit?…..’ aku bertanya dalam hati

‘Ah, mengapa aku jadi mendetil tentangnya?’ buru-buru kuhapuskan pikiranku yang tadi.

Bangkunya di baris kelima sisi sebelah kanan, agak jauh dari pintu kelas. Sebenarnya aku agak kurang suka jika memasuki kelas yang orang-orangnya tak ada yang ku kenal. Hm, rasanya asing. Tapi mau tak mau, bekal dari eomma harus disampaikan pada tujuannya. Huft.. Kulangkahkan kakiku selangkah, selangkah… lalu berhenti. Ragu.

Tak apa Jiae.. Kau hanya mengantarkan bekal dari eomma-mu.

Tapi, dia sendirian di kelas. Nanti jika ada yang melihat kalian, kalian akan disangka…

Hush.

Pikiranku mulai berdebat sendiri. Aish, mengapa susah sekali untuk hanya mengantarkan bekal? Aku lalu menarik nafas. Mengumpulkan niat dan memberanikan diri melangkah. Hosh. Perlahan aku menghampiri bangkunya sembari tetap waspada dengan sekeliling. Aku khawatir jika ada yang melihat tingkah anehku saat ini.

Tok Tok.

Kuketuk mejanya dengan jari. Tapi tak ada respon. Kucoba ketuk sekali lagi,

Tok Tok.

Tak ada respon pula.

Mungkin perlu lebih keras’ pikirku

Brakk.

Kupukulkan telapak tanganku dengan agak kencang, dan badan manusia didepanku terperanjat.

 

Yoongi POV

Hah.

Aku terperanjat. Ada yang menggebrak mejaku.

‘Selamat siang, Yoongi-ssi. Mohon maaf mengganggu tidur siangmu. Ini kubawakan titipan eomma untukmu, sebagai rasa terima kasih katanya. Aku juga tidak tahu rasa terima kasih apa. Haha. Eung.. oke. Aku pamit. Annyeong

Seseorang di depanku berkata panjang lebar dan mengakhiri kalimatnya dengan membungkukkan badan, lalu pergi. Aku yang masih setengah sadar heran dengan tingkahnya. Beberapa saat kemudian -saat pikiranku mulai bekerja- aku baru sadar bahwa itu Jiae yang membawa bekal untukku dari Bibi Yoo. Segera ku buka kotak bekal biru muda di depanku dan.. aku tersenyum sambil mengusap tengkukku.

‘Bibi Yoo pasti sepenuh hati membuatkan bekal ini’ pikirku senang.

Author POV

Yoongi tersenyum, melihat beberapa potong kimbap dan odaeng di kotak bekal dari Bibi Yoo. Yang membuatnya tersenyum selain odaeng kesukaannya, juga kertas yang tertaruh di atas makanan-makanan tadi. Bertuliskan..

‘Yoongi-ah, terima kasih sudah menjadi anak tampan yang mengantar Jiae-ku kemarin.. –Bibi Yoo’

Flu Yoongi mendadak hilang dan ia merasa sudah sangat baikan.

28 September 2008

Sepulang sekolah.

 

Author POV

Yoongi mempercepat langkahnya menuju halte bus. Ia berharap dapat bertemu Jiae dan mengucapkan terima kasih karena sudah mengantar bekal ke kelasnya. Beberapa saat kemudian ia sampai di halte bus. Tapi Yoongi tidak menemukan Jiae di antara orang-orang yang menunggu.

Mungkin Jiae sudah pulang lebih awal’ pikirnya

Ia lalu memutuskan untuk mencarinya ke kios Bibi Yoo.

 

(time skip)

 

Yoongi POV

Annyeonghaseyo Bibi Yoo..’ ujarku sambil melongokkan kepala. Bibi Yoo yang kala itu sedang memanaskan saus odaeng, langsung mematikan kompornya setelah melihatku.

Aigoo.. annyeonghaseyo Yoongi-ah.. Duduk, duduk.. Silahkan duduk. Disini.. Sebentar, ku ambilkan minum’ Bibi Yoo buru-buru keluar dari dapurnya dan menyodorkan kursi kios padaku. Ia lalu kembali ke dapur dan menyiapkan gelas teh. Segera saja ku tahan untuk tidak menyediakan minum.

‘Ah, tidak usah bibi. Aku tak berlama-lama disini. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Untuk Bibi dan juga Jiae. Bekalnya enak. Enaak sekali. Maaf merepotkanmu dan Jiae’ ujarku sembari tersenyum. Mataku pasti terlihat hanya satu garis.

‘Ash.. anieyeo.. Itu tidak seberapa Yoongi-ah.. Gwenchana.. Aku justru yang harus berterima kasih padamu.. Senang jika kau suka dengan bekalnya. Bekal sederhana padahal.’ ujar Bibi Yoo sambil tertawa kecil. Aku juga ikut tertawa. Sesaat kemudian, aku terpikir satu hal..

‘Oh ya Bi.. Eung.. eum.. Jiae.. tidak ada disini?’ tanyaku hati-hati. Sedari tadi, aku tak melihatnya di sekitar kios. Bukan apa-apa.. aku hanya ingin mengucapkan terima kasihku secara langsung. Tak enak jika menyampaikan terima kasih melalui eomma-nya.

‘Eyyy…… kau mencari Jiae-ku, Yoongi-ah..’ Bibi Yoo menggodaku dengan tatapan meledek.

‘Eh, oh. A-AAnieyeo Bibi.. aku hanya tak melihatnya disini. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih.’ aku segera mengelak dari  ledekan Bibi Yoo

‘Haha. kyeo.. Jiae tak disini. Ia pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa peralatan kios. Nanti kusampaikan terima kasihmu padanya ya.’ ujar Bibi Yoo pengertian.

Aku mengulum senyum lalu mengucapakan terima kasih atas kesediaan Bibi Yoo menyampaikan pada Jiae. Hm, sedikit kecewa sebenarnya karena tidak bisa mengatakan langsung. Tapi mau bagaimana lagi jika orang yang dituju memang sedang tidak ada di tempat.

‘Baik kalau begitu, aku pamit dulu ya Bibi..’ ujarku

‘Eh, sebentar..’ Bibi Yoo membungkus dua tusuk odaeng dan..

‘Ini, ambil. Untuk cemilan sore.’ Bibi Yoo menyodorkan bungkusan itu padaku

‘Ho.. gamsahamnida Bibi. Aduh, merepotkan kembali. Aku akan membalas kebaikan Bibi’ ujarku sambil menerima pemberian Odaeng dengan senyum.

‘Ahaha. Kutunggu balasan kebaikanmu anak tampan..’ balas Bibi Yoo

Aku tertawa kecil, lalu membungkukkan badan dan berpamitan. Selama perjalanan, aku menggenggam bungkusan odaeng itu. Hangat. Angin musim gugur bahkan tak terasa dinginnya saat menyentuh tanganku.

 

2 Oktober 2008.

Sepulang sekolah.

 

Jiae POV

Tiga hari ini aku harus pulang lebih awal. Aku bahkan meminta izin ke club paduan suaraku untuk tidak ikut latihan rutin. Untungnya, kakak senior klub berbaik hati mengizinkan.

Aku harus pulang lebih awal karena.. eomma sakit. Beliau terkena typhus. Penyebabnya mungkin karena eomma kelelahan dan makan tidak teratur. Belakangan, eomma memang disibukkan oleh hal-hal ‘perkiosan’. Setiap pagi, eomma menyiapkan adonan odaeng dan segala perlengkapan untuk berjualan. Saat siang menjelang sore eomma membuka kios sendirian –karena aku belum pulang sekolah-, sementara pada sore hingga agak malam eomma tanpa henti melayani pelanggan. Beliau sepertinya terlalu bersemangat hingga tidak sadar bahwa tubuhnya kelelahan. Waktu istirahat eomma juga tidak banyak. Eomma biasa bangun sangat pagi untuk membereskan pekerjaan rumah dan menyiapkan sarapan. Ah, eomma.. sebagai anak tunggal dari seorang single parent, aku jadi merasa bersalah. Terkadang aku hanya membantu pekerjaanya sedikit.. walau sebenarnya aku mencoba untuk mandiri dan segala keperluan ku atur supaya tidak merepotkan eomma.

Saat hari pertama eomma sakit, kios tidak buka. Aku fokus merawat eomma. Aku baru diminta eomma membuka kios setelah hari kedua, setelah diyakinkan olehnya bahwa beliau tidak apa-apa untuk ditinggal sendiri. Eomma waktu itu berkata bahwa aku akan dibantu oleh Bibi Shim -adik eomma yang paling kecil-. Bibi Shim bertugas dari siang hingga sore, sementara aku bertugas dari sore hingga agak malam. Shift Bibi Shim lebih awal, karena beliau harus segera pulang untuk mengurus anaknya yang masih kecil.

Dan hari ini, hari keduaku menjaga kios. Setelah berganti shift dengan Bibi Shim, aku bersiap melayani pelanggan -yang entah mengapa hari ini terasa lebih ramai-.

 

Author POV

Yoongi memandang ke arah kios Bibi Yoo. Dua hari yang lalu, saat ia berkunjung, kios itu tutup.

‘Tapi hari ini sepertinya sudah buka..’ batin Yoongi setelah melihat antrian pelanggan di kios Bibi Yoo. Ia sumringah dan sedikit berlari menghampiri kios itu. Sudah dua hari, ia tidak mampir kesana.

 

Yoongi POV

Aku tidak ikut dalam antrian pelanggan. Yang kulakukan adalah menghampiri dapur kios. Sudah dua hari aku tak bertemu dengan Bibi Yoo. Aku berniat membantunya. Beliau sepertinya kerepotan dengan antrian pelanggan yang cukup panjang. Lagipula, aku tidak melihat Jiae di kursi samping. Kursi-kursi itu penuh oleh pengunjung.

‘Bibi Yoo pasti senang jika aku dapat membantu’ pikirku.

Kulongokkan kepala ke dalam dapur kios, dan aku sedikit terkejut. Hanya ada Jiae seorang  yang melayani antrian pelanggan.

‘Jiae-ssi, kau sendirian?’ tanyaku sambil memandang wajah gadis di depanku.

‘Eoh, eomma sedang sakit Yoongi-ssi..’ jawab Jiae singkat sambil tetap melayani pelanggan. Tangannya dengan cekatan mengambil beberapa tusuk odaeng, membungkusnya, memberikannya pada pelanggan, mengambil uang, memberikan kembalian dan mengucapkan terima kasih. Itu terus yang ia lakukan dengan tempo yang cepat. Aku masih berdiri. Pandanganku belum beranjak dari wajahnya.

‘Ia kelelahan’, aku menarik kesimpulan.

‘Sudah berapa lama kau seperti ini?’ tanyaku lagi setelah beberapa saat.

….

Lama tak ada respon. Pertanyaanku tak dijawab olehnya. Sepertinya Jiae tidak mendengar. Segera kuletakkan tasku di kolong meja, mencuci tangan, menggulung lengan baju dan memakai apron yang tersedia disana.

‘Antrian bisa dipisah menjadi dua, silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu di sebelah sini..’ aku berdiri di sampingnya dan memberikan pengumuman pada pengunjung. Dari sudut mata, aku dapat melihat Jiae terkejut dengan apa yang kulakukan.

 

Author POV

Antrian pelanggan pun terpisah menjadi dua. Jiae menengok ke arah Yoongi dengan sedikit menautkan alis. Ingin sekali ia menghentikan apa yang Yoongi lakukan, tapi masih banyak pelanggan yang harus ia layani. Waktunya akan habis jika dipakai untuk berdebat dengan Yoongi. Sepengalamannya, jika Yoongi ingin membantu, tak ada yang dapat menghentikan. Ia akan memaksa persis seperti kejadian ‘payung’ saat hujan tempo hari. Jiae akhirnya membiarkan Yoongi melayani pelanggan.

Tanpa terasa, langit sore berubah menjadi senja dan malam mulai menyelimuti Seoul. Pelanggan kembali berdatangan dan memperpanjang antrian. Jiae yang menyadari hal itu, menghela nafas hingga terdengar oleh Yoongi. Yoongi melirik ke arah Jiae dengan sedikit khawatir. Sesaat kemudian Yoongi menarik pergelangan tangan Jiae, dan mendudukkannya pada kursi dekat dapur. Jiae terkejut, melihat ke arah Yoongi dan memberontak.

‘Apa sih maumu? Tak ada yang menyuruhmu membantuku!’ ujar Jiae sembari mencoba melepaskan tangan Yoongi.

‘Kau kelelahan dan menggerutu. Itu bisa memberikan energi negatif pada pelangganmu. Duduk disini sebentar. Lima menit saja. Biar aku yang melayani mereka. Setelah itu, baru kau boleh kembali bekerja. Ok?’ ujar Yoongi menenangkan. Tak lama setelah itu, Yoongi kembali melayani pelanggan.

Jiae hanya bisa diam, memandangi Yoongi dari belakang.

Laki-laki ini…..’ ucapnya dalam hati sambil menggelengkan kepala. Ia lalu memijit tengkuknya yang sedari tadi terasa pegal.

~TBC~

 

Author’s note:

Halo!

Jumpa lagi di update kedua~ Gaya tulisannya sedikit berubah. Semoga masih bisa diterima yuaaa.. hehe 🙂

Mohon masukannya.. ^^

Anyway, teaser comebacknya Lovelyz dan Run-nya BTS bikin nggak sabar. Hehe. Nggak sabar buat…… buat liat mereka di music show bareng *plak. Hehe. Udah dulu deh ya..

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Advertisements

11 thoughts on “[Freelance] Odaeng (Chapter 2)

  1. Kyaaaaa, gak tau mau nge”kyaaaa” aja >.<
    Yoonginya itu loh ya ampun tolong tolong >__< trus Jiae yg sikapnya gitu bikin tambah gemesh. Padahal Yoongi baik gitu loo, nanti aku yg ambil Yoonginya aja baru tau rasa, ehe wkwkwk 😛 Hm, jd menurut Jiae, Yoongi itu agak kurang ramah gitu ya penampilannya hem hem, setuju sih XD

    Udah ah, ditunggu development mereka selanjutnya thor. Untuk gaya Bahasa aku gak ngeh kalo berubah…tapi yg chap ini lebih smooth gitu aku bacanya :3 Nice author, ditunggu chap berikutnya~

    Like

    • wkwkwk.. yoongi mah emang gitu. wajahnya galak, tapi kalau senyum bikin klepek *plak. Iya sih, kalau jiae ga mau, ambil sama kamu aja.. *haha

      yup.. hehe. terima kasih atas evaluasinya.. semoga next chap lebih baik ya.. terima kasih juga sudah setia membaca di dua chapter ini ^^

      Liked by 1 person

      • Iya banget ih, Yoongi kalo senyum kayak bayi minta disayang2 banget :”) Bener ya…nanti di chap berikutnya kalo Jiae masih gak mau sama Yoongi, berarti authornim (yang namanya siapa aku blm kenalan…) harus ngebuat tokoh baru namanya Azel ya :p

        iyaaa, ditunggu perkembangan mereka berdua :3

        Like

      • hihi.. tipe-tipe tsundere gitu..
        haha.. azel jadi bintang tamu aja yah.. jadi pelanggan gitu 😛

        authornim panggilannya naya, kak azel ^^ *paling tua kayanya yang kelahiran 95 ya? 😛

        siip tunggu yaaa

        Like

      • Pelanggan yang berambisi untuk mendapatkan hati Min Yoongi, ya? wkwkwk xD

        Huh, hai Dik Naya :”) Kenapa pada muda2 bgt si ku bingung #nempelKeKeiJimindanTaehyung. Siaaap, semangat terus Naya~ :3

        Like

      • wkwkwk..
        bisa jadi kak. tapi sedih banget keanya yak jadi pelanggan doang. ntar deh kupikirkan apa peran yang cocok untukmu~
        hehe

        btw, odaeng chapter 3 updated di blog-ku~ boleh dicek ^^

        btw lagi, disini ada yang seumuran jiae atau suga ga ya?

        Like

      • Kyaaa, makasih loh, Nay >_<
        Em, temen lama Yoongi yg udh suka dr kecil? Ato calon tunangannya #loooh Yoongi?

        Hooo, oke dee siap2 menuju tkp~
        Hue kurang tau aku jg cuma anak baru nih :”)

        Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s