[Freelance] Odaeng (Chapter 3)

Poster Odaeng

Odaeng

Author  : inspiritnaya

Cast       : Yoo Jiae (Lovelyz’s Jiae) | Min Yoongi (BTS’s Suga) | Bibi Yoo (OC) | Song Mino (Winner’s Mino) | Bibi Shim (OC)

Genre   : Romance | School life | Family

Length  : Oneshot

Rating   : PG-15

Disclaimer: Ide cerita murni dari inspiritnaya, casts bukan milik penulis. Inspiritnaya cuma pinjam nama. Mohon dimaafkan bila ada salah dalam penulisan kata. This is my first FF tho” ^^ Semoga kalian suka!

Happy Reading chingu!

2 Oktober 2008

Kios Odaeng Bibi Yoo. Selepas senja.

 

Author POV

Malam semakin larut. Antrian pelanggan berangsur habis dan tirai kios mulai ditutup. Dua orang remaja masih terlihat sibuk merapikan bangku-bangku dan peralatan kios. Bagi mereka, senja hari itu terasa cukup panjang. Yoongi, kali ini berada di luar, merapikan bangku dan mengelap meja. Sementara Jiae, berada di dalam, membersihkan dapur dan mencuci peralatan yang dipakai selama berjualan.

Gomawo, Yoongi-ah.” ujar Jiae pelan

Yoongi menengok ke arah dapur. Suara Jiae terdengar olehnya. Ia pun tersenyum dan balas berujar,

“Kalau butuh bantuan, jangan sungkan memanggilku ya”

Ia melihat ke arah Jiae, berharap ada balasan. Namun mata bulat yang dipandangnya malah fokus pada peralatan yang penuh busa sabun. Jiae sedang sibuk membilas semua alat dapur dan menaruhnya pada rak kecil di samping bak cuci piring. Yoongi menggeleng lemah dan tersenyum lagi.

Fokus sekali jika bekerja” batin Yoongi

Sepuluh menit berlalu. Tak ada percakapan antara keduanya. Malam menjadi semakin larut dan angin malam yang dingin sudah mampir. Yoongi merapatkan jaket. Pekerjaannya membereskan bangku dan meja sudah selesai. Ia beranjak menuju dapur sambil membawa alat kebersihan yang telah digunakannya untuk disimpan ke tempat semula.

Hiks

Sesaat setelah masuk dapur, Yoongi mendengar isakan.

Hiks

Isakan itu terdengar lagi. Yoongi kemudian melihat Jiae, berdiri dekat rak piring dan membelakanginya. Kepala Jiae tertunduk dengan tangan yang dilipat ke dada. Isakan yang Yoongi dengar, berasal dari wanita ini.

 

Yoongi POV

Aku masuk ke dapur dan mendapatinya…… menangis?

Kenapa dia menangis?” batinku

Isakannya lirih. Hampir tak terdengar. Tapi bagi siapapun yang berdiri di tempatku -satu setengah meter di belakangnya- isakan itu tertangkap cukup jelas.

.

..

..

Satu menit aku diam. Bergumul dengan pikiranku sendiri,

“Apa yang harus kuperbuat?”

Jujur, aku selalu bingung jika dihadapkan pada wanita yang menangis. Terjebak dalam kepanikan tersendiri untuk membuat wanita tenang. Ini kali ketiga, yang pertama ibuku dan yang kedua teman SDku yang pernah kujahili. Jika lelaki, aku mungkin mampu mengusap punggung atau menepuk pundak. Tapi, yang didepanku kini wanita. Yang.. padanya aku –pribadi- tidak bisa sembarang menenangkan, dengan mengusap punggung atau menepuk pundak.

Hiks. Hiks. Hiks.

Ah, isakannya terdengar lagi. Sebagai lelaki, kelemahanku disini: tidak tega. Wanita terlihat sangat rapuh saat menangis. Sialnya, aku bukan tipe orang yang mampu menenangkan dengan kata-kata atau menyentuh wanita dengan mudah. Jadi, Min Yoongi kali ini merasa tak berguna.. tak mampu bertindak lebih dari memperhatikan dan menunggu tangisnya selesai.

.

..

..

Sepuluh menit berlalu dan aku masih berdiri, diam, menunggu.

“Yoo Jiae, berhentilah menangis..” batinku. Sedetik kemudian,

Yoongi-ah jangan bodoh..  dia tak akan berhenti kalau kau berujar dalam batin” pikirku sambil mengetukkan jari ke dahi. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 22.00. Sudah hampir larut. Akupun memberanikan diri untuk berdiri di sampingnya. Ku pikir, semakin cepat membuatnya berhenti menangis, semakin cepat pula ia pulang dan beristirahat.

 

Jiae POV.

Plop

Sebuah kain mendarat di kepala dan menutup pandanganku.

“Jiae-ssi, sudah malam..” Yoongi berkata lirih. Aku sedikit terkejut dan langsung tersadar bahwa sedari tadi Yoongi menungguku berhenti menangis di belakang. Segera kuusap pipi dan mataku selagi tertutupi oleh kain.

Ah.. ne, Yoongi-ssi. Jeoesonghamnida..

Suaraku menjadi serak dan bergetar. Ah, tumpahan air mata kali ini, mengapa harus disini? Dengan sedikit menyesal, kuusap sekali lagi wajahku dan kuangkat kain yang tadi menutupi kepala. Yoo Jiae, kamu kuat! Aku mencoba menyemangati diriku sendiri. Menarik nafas dan membuangnya perlahan.

“Yoo Jiae kamu kuat!”

Eh? Aku menengok ke kanan, ke asal suara. Yoongi ternyata berdiri di sampingku. Ia melengkungkan senyum sembari mengambil kain yang ku pegang. Jujur, aku canggung. Dengan tidak menatap wajahnya, senyum Yoongi ku balas, tipis.

 

(Time skip)

 

Yoongi POV

Aku melihat ke langit. Walau dingin, ini malam yang terang. Cahaya bulan mampu menggantikan lampu-lampu jalan bahkan saat dimatikan. Kuhembuskan udara dari mulut ke telapak tangan untuk membuat tubuhku hangat. Di depanku, seorang wanita juga melakukan hal yang sama. Melihat ke langit dan mengulas sesimpul senyum. Aku tergagap. Memalingkan muka. Mencoba untuk tidak melihatnya supaya tidak… jatuh? Ahaha. Iya, jatuh. Jatuh apa? Fisik? Psikis? Ah, sudahlah. Haha, bodohnya. Aku tertawa kecil. Kusingkirkan obrolan batinku dengan mengacak rambut. Wanita itu berdiri tepat satu meter di depan. Ku buat langkah yang seirama, dengan memelankan atau mempercepat ketukan kaki. Min Yoongi malam ini akhirnya berguna.

“Jiae-ssi, kau sudah lebih membaik?” Kuberanikan diri bertanya dari belakang. Wanita itu berbalik dan menghentikan langkahnya sebelum menjawab tepat saat aku berjalan di sampingnya.

“Hem, sudah” Ia berkata sambil tersenyum kecil

“Syukurlah..

Hm.. eomma-mu.. sakit.. apa..kah?” ku lanjutkan pertanyaanku. Kali ini, kuatur ritmenya dengan hati-hati. Wanita akan lebih sensitif bukan setelah menangis?

“Oh, haha. Eomma typhus Yoongi-ssi. Sudah tiga hari, demamnya belum juga turun.. Aku.. khawatir. Heu.” Ia menjawab dengan hati-hati pula. Sepertinya, ia berkata sembari menahan supaya air matanya tak terjatuh lagi.

“Hm… eomma.. dirawat?” tanyaku.

“Belum.. Tiga hari ini baru diberi obat dari dokter saat periksa pertama. Rencananya, jika esok demamnya masih tinggi, akan ku bawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lanjutan”

“Hm.. baiklah” kutahan diriku untuk tidak bertanya lagi.

Lima menit kemudian, hanya langkah kaki ku dan wanita ini yang terdengar. Sepertinya kami sama-sama menikmati suasana malam. Merefleksikan apa yang terjadi belakangan. Rasanya damai. Tentram. Meski hawa dingin dari angin malam musim gugur belum juga berhenti berhembus. Pikiranku tak jauh dari apa yang kualami malam ini. Tentang wanita yang kini berjalan di sampingku. Sepertinya, ia tidak hanya lelah fisik –karena bekerja membuka kios sepulang sekolah-, tapi juga batin. Jika aku berada di posisinya, mungkin akan mengalami hal yang sama. Apalagi ia wanita, seusiaku pula. Ah, aku bahkan tak tahu seberapa dewasa diriku dibandingkan dengan wanita ini.

Kulirik sekali lagi wanita di sebelahku. Pandangannya lurus ke depan dan tatapannya hampir kosong. Entah mengapa, tiba-tiba dalam hati aku berjanji pada diriku sendiri, berhari-hari ke depan.. aku ingin meringankan bebannya. Setidaknya.. sampai Bibi Yoo beraktivitas normal lagi.

“Yoongi-ssi. Rumahku disini. Kita sudah sampai” suaranya membuyarkan pikiranku.

“Ah… Disini rupanya….”

“Terima kasih atas bantuannya hari ini. Ku harap kau tidak perlu repot-repot lagi membantuku.” sambung Jiae dengan sedikit menunduk.

“Haha. Aniyeo.. Senang bisa punya pengalaman berjualan. Terima kasih kembali…” balasku sambil membungkukkan badan.

“Selamat malam.” Jiae juga membungkukkan badan

“Selamat malam. Selamat beristirahat” jawabku sambil melambaikan tangan.

Jiae lalu beranjak ke depan rumahnya. Tanpa melihatku lagi, ia merapatkan pintu. Wanita itu masih saja ingin terlihat kuat. Jiae-ssi, aku tidak pernah kau repotkan, seruku dalam hati.

 

**

3 Oktober 2008

Sepulang sekolah

 

Author POV

Yoongi kegirangan ketika mendengar bel pulang sekolah. Ia langsung membereskan buku dan tempat pensilnya ke dalam tas.

“Mino-ya, tolong sampaikan izinku pada Jin-sunbae. Hari ini aku tidak ikut latihan rutin. Ada urusan yang harus ku selesaikan” Yoongi menepuk pundak teman sebangkunya,

“Oke?” lanjut Yoongi sambil mengedipkan mata. Sesaat setelahnya, ia langsung berlari keluar kelas. Meninggalkan teman sebangkunya yang keheranan.

Tsk.. Cham.. Ya! MIN YOONGI! IZIN TAK BOLEH DIWAKILKAN!” Mino berteriak. Tapi percuma, Yoongi sudah pergi menjauh.

***

Song Mino.

Teman baik Yoongi sedari SD. Teman sebangku, 6 tahun berturut-turut. –sekian- ^^v

***

                Yoongi akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Apalagi kalau bukan.. kios Bibi Yoo. Ia berjalan pelan-pelan melewati bagian depan kios dan mencuri pandang. Tap. Sekilas ia melihat seorang wanita sedang melayani pelanggan. Wanita itu.. agak berbeda dengan ekspektasinya.

“Itu.. Jiae?” batin Yoongi tidak yakin. Dari penglihatannya, Jiae terlihat agak berbeda.

Yoongi pun berputar balik. Masih dengan berjalan perlahan melewati dengan kios dan.. Tap. Matanya menangkap sosok wanita usia 30 tahun. Wajahnya serupa dengan Jiae dan Bibi Yoo. Tapi yang jelas, itu bukan Jiae. Tsk. Confirmed. Setelah meyakini yang dilihatnya bukan Jiae, Yoongi mengurungkan niat awalnya. Semula, ia ingin mengejutkan Jiae dengan kehadirannya di dapur kios. Yoongi semacam ingin menunjukkan, bahwa apapun yang Jiae katakan -supaya tidak repot-repot membantunya- takkan mempan bagi seorang Min Yoongi.

“Ish…” Yoongi sedikit kesal. Langkahnya diseret menjauh dari kios itu.

Yak! Min Yoongi, apa yang kau lakukan..! Kau izin dari latihan rutin sepak bolamu, tergesa menuju kios itu dan pada akhirnya kau mendapatinya tidak ada kan? Tch..”  Yoongi mulai membatin. Ia sedikit menyesal.

 

Yoongi POV

“Mengapa tiba-tiba aku jadi perhatian?”

                Deg. Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak.

“Ah, tidak-tidak, ini hanya karena Bibi Yoo sedang sakit. Kau tahu sendiri kan aku tidak tega melihatnya kemarin menangis. Lagipula.. aku sudah berjanji untuk membalas kebaikan Bibi Yoo”

                Aku segera menepis pertanyaan bodoh itu. Ku rasa, aku hanya emosional.

                “Eyy.. tidak tega tipis bedanya dengan perhatian..”

Tiba-tiba batinku bersuara lagi. Arrgh..

“Kemarin kan dia bilang bahwa Ibunya akan dirawat.. jadi mungkin dia sedang….”

Belum sempat pikiranku menyelesaikan kalimatnya. Badanku langsung berputar balik. Aku berlari sekencangnya.

***

                “Annye-ong Ha-se-yo.. Ma-af.. a..pa-kah an-da.. Bibinya…. Ji-ae?” ujarku dengan nafas tersengal. Wanita di depanku mengernyitkan dahi. Heran dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Untungnya saat itu tak ada pelanggan lain.

Annyeong.. Ne.. Mohon maaf dengan siapa?” balasnya sambil tersenyum. Ku atur nafasku sebelum menjawab pertanyaannya.

“Oh, Bibi, saya.. namja chingu……..,”

Namja chingu?!”

                Belum selesai kukatakan, kalimatku terpotong. Bibi muda di hadapanku ini sedikit terkejut dan seketika tatapannya menyelidik sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Ah.. ani ani Bibi. Chingu. Chingu.. Ne, Chingu.. Teman biasa. Hehe..” aku tergagap dan segera menepis pertanyaan darinya. Tanganku ikut melambat, menunjukkan gesture ‘tidak’ untuk lebih meyakinkan pernyataanku dan mengelak dari prasangka Bibi ini. Segera ku konfirmasi maksud kedatanganku,

“Saya pelanggan setia kios Odaeng Bibi Yoo sekaligus teman sekolahnya Jiae.  Hehe. Kebetulan.. sore ini saya lewat dan melihat kios ini, ternyata yang berjualan bukan Bibi Yoo atau Jiae tapi Bibi…..…”

“Bibi Shim” sambungnya sambil tersenyum kecil. Senyum bibi Shim masih sama: senyum yang menyangkaku namja chi……. ah sudahlah.

“Ah iya, Bibi Shim.. Lalu.. eung.. eung.. Hehe.. eung..” Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Malah tertawa kecil, meringis dan melengkungkan mata. Kulakukan itu berulang sebagai sebuah kode. Berharap Bibi Shim menangkap maksudku.

Sedetik.. dua detik.. Bibi Shim menautkan alis.

Sedetik.. dua detik.. Pupil matanya membesar,

Clik. Bibi Shim mengentikkan jari.

“Ah! Mereka sedang di Rumah Sakit daerah Yangcheon. Tanyakan saja pada perawat disana, pasien bernama Yoo Hye Rin”

Gotcha! Kodeku pada Bibi Shim berhasil.

“Gamsahamnida Bibi” ujarku sambil tersenyum senang dan menjabat tangannya. Bibi Shim terkekeh dan menggeleng kecil melihat tingkahku. Aku pun bersiap, tapi langkahku tertahan,

“Sebentar, kau mau kesana?” tanyanya yang diikuti anggukanku.

“Ini, tolong antarkan pada Jiae. Lumayan sebagai camilan malam hari” sambung Bibi Shim sambil menyodorkan bungkusan berisi tujuh tusuk odaeng. Kuterima dengan segera,

Ne Bibi, akan ku sampaikan. Gamsahamnida.. Gamsahamnida..” Aku pun langsung berpamitan dan segera berlari menuju halte bus terdekat.

 

(time skip)

 

Yoongi POV

Kamar

102..

103..

104..

105!

Huft. Akhirnya aku sampai, setelah lima belas menit menyusuri koridor rumah sakit –yang menurutku membingungkan-.  Ku buka pintu dengan perlahan dan melangkah masuk tanpa suara. Ada tiga ruas ruangan yang bersekat tirai disana.

“Perawat di nurse station bilang bahwa bed Bibi Yoo adalah bed yang paling tengah. Berarti yang… ini.” Aku mencoba mengingat-ingat dan melangkah menuju ruas ruangan kedua.

Tirai ruas kedua itu, ku buka sedikit dan terlihat Bibi Yoo sedang tidur. Aku terenyuh. Ah bibi, rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajah ramah beliau. Beliau terlihat agak kurus dari biasanya –pikirku-. Aku kemudian bergerak selangkah sambil membuka tirainya lebih lebar dan pandanganku menangkap bayangan seseorang. Duduk, tertidur beralaskan lipatan tangan di samping Bibi Yoo.

Manis.

Aku tersenyum. Entah mengapa, tapi kali itu aku merasa lega.

 

Jiae POV

Suara dari gesekan rel tirai mengusik gendang telingaku. Walau  sedang tertidur, telingaku selalu sadar dan mampu mendengar suara sekeliling. Sedikit saja ada suara ribut, aku akan terbangun. Dan kali ini.. suara tadi membangunkanku. Hoahm. Aku menguap sedikit. Kukerjapkan mata dan melihat ke arah tirai. Beberapa detik, pikiranku masih mencerna. Samar. Kupandangi lagi seseorang di depan tirai, yang.. beberapa detik terakhir terlihat sedang tersenyum ke arahku. Siapa?

 

TBC~

Author note:

Chapter 3! Hehehe.. Jumpa lagi!

 

Di chapter ini, aku lebih banyak bikin Yoongi’s POV. Gapapa kan ya? Semoga gapapa (^^v) Hehe. Tenang.. di chapter selanjutnya, Jiae’s POV akan dominan dan direncanakan ada perkembangan dari ‘stone’ Jiae. Hehe*spoiler.  Oh iya, izin menambahkan cast Winner’s Mino ya.. yang menurutku sama-sama swag kaya Yoongi. Jadi, cocok aja gitu mereka temenan. *nyengir* Semoga berkenan ya pembaca. (^_^). Oh iya, terima kasih bagi yang sudah bersedia membaca dan memberi masukan. Dukungan kalian sangat berarti *bow*. Semoga suka dengan chapter minggu ini dan.. mohon masukannya lagi. (^,^)

 

Anyway, sebenarnya tokoh awal dari cerita ini Tae dan Ryu. Tapi… entah kenapa jadi pengen pairing Yoongi – Jiae. Hihi. Selain suka sama pairingnya, juga karena FF mereka jarang. Semoga FF ini bisa memperkaya variasi FF banglyz ya.. Hahaha.. #plak.

 

Oke deh, sepertinya author note cukup sekian. Sampai jumpa di chapter berikutnya..

Ps: buat kak azel, ntar ya munculnya. Mau di pair sama Mino ga? :9

Advertisements

5 thoughts on “[Freelance] Odaeng (Chapter 3)

  1. Aahhss Yoongi care banget, sempetin dong care ke aku *eh

    Aku suka banget,sama FF kakak,sebenarnya aku udah baca mulai dari chapt pertama ,tp baru bisa komen sekarang,maapkeun~😂soalnya baru bikin aku hehe😊😊

    Jiae jan nangis eoh/? Untung ada Yoongi yg setia huhu so sweet😘😘
    Maafkan komentar absurdku Thor😂
    Next ya thor,keep writing (^^)9

    Like

    • Hahaha halo izza(?) Atau nabilah (?)
      Makasih sudah suka dan baca dan komen hehe..

      Mau banget diperhatiin min yoongi? Ahaha..
      Iya, jiae jan nangis.. nnti yoongi bingung gmn dieminnya. Haha

      Sip.. terima kasih atau semangatnya ><
      Next chap akan lebih unyu :3 *plak

      Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s