Posted in Fluff, LFI FANFICTION, Misshin017, Oneshot, PG-13

[Oneshoot] Just a Date.

PicsArt_12-12-08.23.10.jpg

 

[Oneshoot] Just a Date.

***

Cast:

Ryu Sujeong

Kim Taehyung

 

Genre:

Fluff

 

Rating:

PG-13

 

Leght:

1.709 words

 

Disclamer : Silahkan di nikmati,di makan,di gigit dan lain-lain ff gaje ini. Aku juga post ini di wp pribadiku^^

 

 

Mari berkencan.

 

Huh?

 

***

 

“Mari berkencan.”

 

“Huh?”

 

Kucing mahal peliharaan sujeong menyelinap masuk di antara obrolan ringannya dengan taehyung yang memakai kaus putih serta jaket coklat. Bulu halus binatang itu menyadarkan sujeong kepada satu hal.

 

“Kau benar-benar kim taehyung kan?”

 

“Iya,memangnya kau kira siapa lagi.”

 

Tidak,ini salah. Yang di depannya itu pasti adalah seorang laki-laki dari tempat yang jauh lalu mengakui dirinya sebagai kim taehyung yang merupakan sahabat karibnya.

 

“Sepertinya aku masih mengantuk—”

 

“Tidak,tidak,kau tidak mengantuk.”

 

“Kalau begitu aku pasti kelelahan karena begadang semalam.”

 

“Tidak ryu sujeong,kau tidak kelelahan karena kau tidak begadang semalam.”

 

“Benarkah? Oh,aku pasti gila.”

 

Taehyung menghela nafas jengkel. Dia rela bangun pagi lalu mandi air yang suhunya di atas rata-rata serta membiarkan jemari lentiknya terkena panas dari setrika karena asal menyetrika. Lalu setelah semua perjuangan penuh pengorbanan itu,ryu sujeong tidak memberikan balasan apapun untuknya? Barangkali sekedar memuji betapa bagusnya rambut taehyung yang menggunakan gel sesendok makan misalnya.

 

“Dengar ryu sujeong,aku tidak peduli kau gila atau sejenis gila atau yang lainnya. Yang penting sekarang kau pergi masuk ke kamar mandi dan bersihkan ketombe pujaanmu itu lalu berdandan yang manis dan kita jalan-jalan.”

 

“Jalan-jalan apanya? Siapa yang mau jalan-jalan denganmu,hari ini aku mau bermalas-malasan di ruang nonton sambil makan roti selai dan setumpuk sosis bakar. Maka dari itu buang jauh-jauh keinginanmu mengajakku berkencan,paham?”

 

Satu gelengan dari taehyung.

 

“Masa bodoh,yang pasti aku mau kita kencan.”

 

“Kau apa-apaan?”

 

Gadis itu menunjukkan reaksi tak terima. Dia sudah mengatur jadwal akhir pekan dengan serapi mungkin,lalu bagaimana bisa taehyung datang dan mengacau balaukan semuanya. Sujeong tak terima.

 

“Lebih baik kau pergi saja tae,aku seratus persen malas meladenimu.”

 

“Aku akan pergi dari sini bersamamu.”

 

“Dan aku tidak mau pergi bersamamu.”

 

“Kalau begitu aku akan tetap di sini.”

 

Dada sujeong terasa membuncah. Berbicara dengan orang seidiot taehyung memang harus memiliki kalori yang melimpah dalam tubuh. Sedangkan dari detik awal dia membuka mata,satu-satunya yang masuk dalam lambung gadis itu hanya segelas kecil air putih.

 

“Jadi sebenarnya apa maumu?”

 

“Aku mau kita kencan sujeong,serius.”

 

Tuh,kan. Ini pasti bukan taehyung,dalam kamus laki-laki itu tak pernah ada kata-kata ‘serius’.

 

“Kenapa aku harus menuruti kemauanmu?”

 

“Ya,pokoknya kita wajib kencan dan kau tak di perbolehkan menolak.”

 

“Apa hakmu?”

 

Sujeong mencibir dengan menjulurkan lidahnya.

 

“Aku berhak melakukan ini karena kau terus mencontek tugas matematikaku kemudian aku juga berhak memaksamu karena kau sudah melenyapkan satu loyang cake kesukaanku. Puas?”

 

Baiklah,sujeong mengaku kalah. Dia tak habis fikir kenapa taehyung bisa mengerjakan seratus soal matematika dalam kurun dua jam limabelas menit. Dia juga tak bisa mengelak kalau insiden hilangnya satu loyang cake milik taehyung adalah kerjaannya. Cake itu ada di kulkas saat taehyung sedang latihan basket di komplek sebelah,sujeong tak bisa menahan dirinya. Bukankah manusia punya hawa nafsu?

 

“Tsk,dasar tidak tahu diri. Tunggu di sini,aku mau mandi untuk menghilangkan ketombe dan berdandan agar semua laki-laki bersiul ke arahku saat kita kencan nanti.”

 

“Banyak omong,cepat mandi!”

 

Seandainya sujeong tak membuka pintunya dan menemukan taehyung di balik sana. Seandainya dia menutup pintu saja dan pura-pura tak tahu apapun. Seandainya semua bisa di ulang,sujeong tak perlu merasakan dinginnya kujuran air shower di jam enam pagi minggu.

 

***

 

Sujeong mengunci pintu rumahnya dengan tergesa-gesa. Bisa tidak taehyung jangan meneriakinya seperti itu? Para ibu-ibu tetangga kini memusatkan perhatian padanya.

 

Sepuluh menit dan taehyung sudah mengamuk bagai orang yang penerbangannya di undur lima jam. Sujeong bahkan tidak pakai parfum serta lupa melepas label bajunya,taehyung yang sudah berdiri di ambang pagar rumah terus merecokinya.

 

“Bisakah kau diam idiot?”

 

“Kau benar-benar siput yang lelet,kita bisa ketinggalan bus jika begini.”

 

Mata sujeong membulat sempurna. Telinganya baik-baik saja kan?

 

“Bus? Kita akan pergi kencan dengan naik bus? Taehyung kau keterlaluan sekali.”

 

“Memangnya kenapa? Mobilku sedang rusak.”

 

“Kau mengajakku kencan tanpa mobil?”

 

“Iya,kenapa lagi?”

 

“Taehyung aku akan membunuhmu.”

 

Tawa taehyung membuat perasaan sujeong semakin tak karuan. Siapa gadis yang mau di ajak kencan naik bus? Kalaupun itu ada,sujeong bukan salah satunya. Kencan adalah kencan,semua harus di persiapkan.

 

“Kau tenang saja,busnya hanya untuk kita berdua.”

 

“Maksudmu?”

 

Tangan taehyung menarik pergelangan sujeong,menyentak gadis itu untuk mengekorinya dari belakang. Seharusnya taehyung sadar kalau langkah kakinya lebih panjang dari meteran dalam kelas sujeong.

 

“Tae,aku sedang pakai higheels.”

 

“Terus?”

 

“Bisakan kau memperlambat kakimu itu? Atau kau ingin membuatku terjatuh di jalanan berdebu ini?”

 

“Oke,oke maaf.”

 

Kini langkah kaki mereka berdua sudah seirama. Sujeong rasa higheels 4 centinya tidak ada bandingan ketimbang tingginya badan taehyung. Semua umat laki-laki memang di karuniai tubuh tinggi,sujeong iri akan hal itu.

 

Dari sudut matanya sujeong menatap tangannya yang masih enggan di lepas oleh taehyung. Mereka hanya sebatas teman,jadi perlakuan dari taehyung tak perlu harus di hiraukan. Siapa tahu dia gadis keberapa yang di gandeng taehyung,itu terdengar cukup menyedihkan.

 

“Tae?”

 

“Apa lagi?”

 

“Aku kan cuma ingin bertanya.”

 

“Hm,tanya saja.”

 

Halte bus sudah ada di depan mereka dengan jarak lima puluh kaki. Bus kuning itu sudah terparkir di sana.

 

“Kita mau kemana?”

 

“Lihat saja nanti.”

 

“Memangnya kenapa kau mengajakku berkencan?”

 

“Lihat saja nanti.”

 

Senyum masam tercetak di wajah sujeong. Ini bukan saat yang tepat untuk main tunggu-menunggu,taehyung terus mengatakan hal ini itu dan membuat rasa penasaran sujeong naik ke atas.

 

“Hati-hati.”

 

Secara pelan-pelan sujeong menaiki bus sepi itu. Dia akui taehyung memang kaya hanya untuk menyewa satu bus. Tapi untuk apa? Kalau laki-laki itu hanya ingin berkencan dengannya sampai-sampai melakukan hal ini,yah sujeong sedikit terharu. Menemukan sahabat sebodoh taehyung memang luar biasa.

 

“Kau membuang uang demi bus ini?”

 

“Suka tidak?”

 

“Suka,tapi aku lebih suka mobilmu.”

 

Taehyung memutar matanya.

 

“Kan mobilku rusak,kalau sudah di perbaiki kau bisa duduk di dalamnya sampai kau bosan.”

 

“Aku pegang janjimu.”

 

Bus mulai berjalan. Udara segar khas musim semi menyambut sujeong dari jendela tipis sebelah kanannya. Ternyata jalan-jalan di pagi hari tidak seburuk dugaannya. Banyak anak-anak bermain di tepi jalan dengan cerianya,lalu ada juga segerombolan lansia yang saling duduk manis meminum kopi hangat di kursi taman.

 

Ngomong-ngomong sujeong jadi rindu ketika masa-masa dia kecil. Taman di depan toko buku bekas itu menyimpan banyak memori yang ia ukir bersama taehyung. Mulai dari belajar sepeda roda tiga,makan ice cream satu piring jumbo,dan beristirahat di bawah pohon oak sehabis kabur dari sekolah. Tempat itu berisi kenangan indah bersama taehyung,andai laki-laki itu tidak berlainan sekolahnya dengan sujeong sekarang.

 

“Apa yang kau lihat?”

 

“Masa lalu.”

 

“Waw.”

 

Sujeong meletakkan kepalanya di bahu taehyung. Dulu bahu ini juga tempatnya lari dari kerumitan dunia.

 

“Bahumu masih tidak berubah ya.”

 

“Untuk apa berubah? Aku tidak masalah dengan bahu ini.”

 

“Kau benar,bahumu tak boleh berubah.”

 

“Itu perintah?”

 

“Kewajiban.”

 

Aroma taehyung menyerobos masuk dalam indera pembau sujeong. Seharum bunga tulip yang bermekaran,ini aroma yang paling sujeong butuhkan di saat suka maupun duka.

 

Ketika kedua orangtua sujeong di kebumikan,hanya aroma taehyung yang ada di sekitarnya. Hanya ada bahu taehyung yang menopangnya. Hanya taehyung yang ada untuknya. Sujeong tak ingin banyak hal,dia cuma berharap hubungannya dengan taehyung selalu mengalir. Sesederhana itu.

 

“Tae?”

 

“Apa?”

 

“Ingat tidak saat aku di tolak seokjin yang tampan itu?”

 

“Yang kau menangis meraung-raung seperti pengemis itu kan?”

 

“Kau ingat yang itu ternyata.”

 

“Yang itu tak boleh di lupakan.”

 

Tentu taehyung tak akan melupakan betapa memalukannya sujeong saat itu. Di tolak seokjin dan menangis. Semua gadis memang cengeng,namun taehyung tak menyangka kalau sujeong lebih cengeng lagi.

 

“Waktu itu kau terus-menerus datang ke rumahku kan? Kau bilang jika kau khawatir.”

 

“Aku hanya kasihan padamu.”

 

“Eits,kau jelas-jelas khawatir padaku.”

 

“Memangnya kenapa? Sebagai sesama sahabat tidak salah kan?”

 

“Sangat tidak salah.”

 

“Lalu kenapa bertanya?”

 

Sujeong mengulum senyumnya.

 

“Terimakasih untuk itu.”

 

Taehyung mengangguk pelan.

 

“Sama-sama.”

 

Bus itu akhirnya berhenti memberikan efek kepada sujeong yang tak sabar lagi untuk keluar melihat dimanakah tempat kencan mereka. Gadis-gadis muda memang selalu bersemangat.

 

Obsidan sujeong berkedip-kedip ketika sudah keluar dari dalam bus. Sebuah perasaan kesal terlintas dalam dirinya. Taehyung yang idiot itu selalu saja bertindak dan berfikir idiot.

 

Menyadari taehyung sudah turun dari bus tadi,sujeong langsung membalikkan badannya dengan tatapan berapi-api untuk taehyung. Ada yang salahkah dari gadis ini? Bukannya dia kelihatan antusias beberapa saat lalu?

 

“Apa arti ini?”

 

“Arti apa?”

 

Sujeong frustasi,kelewat frustasi.

 

“Ini pasar pagi kim taehyung!”

 

Pasar pagi. Yeah,tidak ada tempat kencan sebaik ini dalam hidup sujeong. Dia sia-sia memakai baju baru demi ke sebuah pasar pagi.

 

“Di sini ada ayam bumbu favoritemu.”

 

“Memangnya aku peduli?!”

 

“Sujeong–”

 

“Lebih baik aku pulang.”

 

Dengan rasa geram yang sudah tak terelakkan sujeong berjalan dengan kecepatan tak main-main. Salahkah dia kalau marah pada taehyung? Dia tahu jika taehyung memang berotak alien,tapi tidak perlu seautis ini kan? Ke pasar pagi. Sujeong benci pada laki-laki itu.

 

Uh,lihatlah! Taehyung bahkan tidak repot-repot memanggil namanya supaya gadis itu berhenti. Taehyung juga tak berlari lalu menarik sujeong agar bisa menjelaskan semua ini. Kadang kali persahabatan tidak sekonyol ini. Mau mengerjainya jangan separah ini.

 

“Taehyung jelek!”

 

“Taehyung gendut!”

 

“Taehyung bodoh!”

 

“Taehyung—”

 

Brukk…

 

Sujeong meringis dalam hatinya.

 

“Siapa yang membuat lubang ini hah?!”

 

Higheels 4 centinya menempel rapat dengan sebuah lubang kecil. Coba dia tadi tidak pakai higheels. Ini gara-gara taehyung! Kalau laki-laki itu tak bilang akan mengajaknya berkencan di pasar pagi,sujeong tak akan memakai benda itu.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Akhirnya.

 

“Baik-baik saja? Kemana matamu? Kakiku terkilir! Sepatuku tersangkut! Aku benci padamu.”

 

Dahi taehyung berkerut. Gadis itu terlalu cepat berbicara atau otak taehyung yang terlalu lama memprosesnya dalam sebuah pengertian.

 

“Apa kau hobi menyalahkanku? Aku tidak pernah memintamu terkilir dan aku juga tak meminta higheelsmu itu menyangkutkan dirinya ke lubang kecil di jalan raya.”

 

“Tapi–tapi–”

 

“Cih.”

 

Taehyung mensejajarkan badannya dengan sujeong yang terduduk di atas panasnya jalanan.

 

“Jangan menangis.”

 

Sekuat tenaga sujeong menahan isak tangisnya. Dia bersumpah akan menikam perut taehyung kalau ada waktu senggang,laki-laki itu membuat emosionalitasnya berantakan.

 

“Aku benci padamu kim taehyung.”

 

“Aku suka padamu ryu sujeong.”

 

Dan,tangis sujeong pecah di pinggiran ilalang jalan.

 

“Ku bilang jangan menangis kan?”

 

“Diam kau!”

 

Manik taehyung menatap sujeong tak tega. Ia menarik kedua pinggang gadis itu untuk berdiri. Sekujur lutut sujeong di sirami warna merah.

 

“Maaf,aku tak tahu kakimu terluka.”

 

“Kau kan buta.”

 

Di usapnya air mata sujeong. Taehyung belum pernah selembut ini pada seorang gadis. Sujeong jadi urutan pertama.

 

“Kau bisa jalan?”

 

“Kau fikir?”

 

Sujeong kembali menangis dengan suara yang lebih kuat.

 

Taehyung mengangkatnya.

 

“Aku memang jelek,gendut,bodoh,dan lainnya. Aku minta maaf.”

 

“Seharusnya kau sudah minta maaf dari dulu.”

 

“Tapi aku serius kali ini.”

 

Surai taehyung terkena kibasan angin pagi.

 

“Aku serius tentang kencan ini,aku serius tentang perasaan ini.”

 

“Tae–”

 

“Aku suka padamu sujeong.”

 

Gadis itu diam membisu.

 

Membiarkan tepian jalan menjadi saksi dimana sujeong menangis seharian dengan kaki terkilir penuh luka dan dengan taehyung yang mendekapnya.

 

***

END

 

 

Advertisements

14 thoughts on “[Oneshoot] Just a Date.

  1. wah .. apapun ceritanya kalo pairingnya Taejeong pasti aku suka ^^

    Aku sukaaaaa beud hahaha. ff ini menemaniku di saat malam minggu kelabuku baper

    Like

  2. Ini kocak aduh kalo yg main TaeJeong pasti geleng-geleng kepala sih gegara kelakuan abstrak V -___- cuma kurang greget thorrrr endingnya kurang nendang T_T eksekusinya kurang ngegigit gituu. Tapi overall bagus kooo

    Like

  3. Friendship mereka aja bikin greget (kalo mereka udah ribut, lucu banget haha), apalagi setelah Taehyung serius gitu jadi makin greget><
    Pembawaan ceritanya santai jadi nikmatin banget bacanya:3 dan bakal bikin nendang lagi kalo huruf kapital, penggunaan koma, dsbnya lebih diperhatiin, yakin bakal makin nendang/? 😀

    Like

  4. Kerennn… ketawa ngak jelas aku baca ff ini, mereka lucu banget aaaa>< tapi sujeong tega banget sih bilang taehyung idiot, taehyung kan ngak idiot cuma aja kelebihan porsi gizi, vitamin, energi de el el:3. Ditunggu ff selanjutnya ya thor, Semangat!!!

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s