[Oneshoot] But, Hahahaha.

PicsArt_12-17-08.56.02.jpg

But,Hahahaha.

***

Cast:

Jeong Yein

Jeon Jungkook

 

Genre:

Fluff

 

Rating:
Teen

 

Leght:
1.548 (Oneshoot)

 

Disclamer:
Hati-hati mual,ini ff ter-ter-norak yang pernah ada. Ah,aku juga ngepost di wp pribadi jdi jangan bilang ini ff copas atau plagiat oke^^

 

Hari itu Yein baru saja patah hati. Dia harus mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan segalanya.

 

***

 

“Putus?”

 

“Iya,putus.”

 

Yein meneguk susu dinginnya lalu membelenggu mencerna tiap-tiap ucapan dari seorang laki-laki di depannya.

 

“Memangnya kenapa?”

 

“Aku bosan.”

 

“Hanya itu?”

 

“Hanya itu.”

 

Begini,Yein bukan tipe gadis yang akan meraung seperti orang gila saat di putuskan oleh kekasihnya. Yah,setidaknya dia cuma butuh beberapa lembar tisu. Tapi,ini maksudnya apa? Mereka baru pacaran dua minggu kemudian mau putus begitu saja karena bosan? Baiklah,cuma laki-laki itu yang bosan dan Yein tidak. Tapi–(oke tapi lagi) Yein sudah terlanjur suka dengan hubungan mereka sekali pun selalu dia yang membayar tiket bioskop saat kencan.

 

“Memangnya aku kurang cantik?”

 

“Kau,lumayan.”

 

“Lalu?”

 

“Aku bosan Yein. Kau tidak tuli kan?”

 

Tenang saja,telinga Yein masih bagus beberapa menit lalu sebelum di mintai putus. Kalau saat ini,barangkali dia sedang tuli.

 

“Kau serius mau putus denganku?”

 

Laki-laki itu mengangguk dengan enteng.

 

“Ngomong-ngomong aku cukup populer,kau tidak menyesal?”

 

“Jeong Yein,aku juga tak kalah populer.”

 

Suara pintu kafe yang di buka membuat Yein mengalihkan perhatiannya. Seorang laki-laki yang membawa gitar,jangan sampai ini terjadi.

 

“Aku boleh bernyanyi?”

 

Sial. Yein menyumpah dengan tatapan menusuknya. Kenapa penyanyi jalanan boleh masuk ke dalam tempat mahal ini dan mencoba merayu orang-orang dengan suara murahannya. Hidup memang busuk.

 

“Jadi?”

 

“Jadi apa?”

 

“Kita,putus?”

 

“Tentu,akhirnya kau sadar.”

 

Petikan gitar bergema di kafe itu. Netra Yein melirik ke samping dan haruskah ia melempari susu dinginnya ke arah laki-laki pembawa gitar itu? Dia sedang dalam situasi yang tidak cocok untuk mendengar lagu penuh cinta ala western.

 

“Tapi–”

 

Yein mencoba masuk ke dalam hati laki-laki itu namun dia kembali di dorong keluar saat laki-laki tersebut menggeleng.

 

“Ku mohon.”

 

Sudah bertahun-tahun Yein tak mengemis cinta,lalu kini dia malah melakukannya di depan seorang penyanyi jalanan yang sibuk bersenandung. Bisakah dia pergi?

 

“Tidak.”

 

“Berfikirlah baik-baik,atau kau ingin minum susu dinginku?”

 

“Tidak.”

 

Bagus sekali,Yein hampir membelalakkan matanya saat laki-laki itu mengeluarkan dompet dari saku celana. Sejak kapan dia sekaya ini demi membayar susu dingin Yein? Bertambah satu hal yang membuat Yein enggan melepaskan kekasihnya itu. Kini dia bukan pengangguran lagi.

 

“Berapa harga susu dinginmu?”

 

“10 juta won.”

 

“Ambil ini.”

 

Bercanda kan? Uang seikat itu mendatangi Yein dengan manisnya. Gadis itu cuma bercanda,tapi–(sekali lagi) tidak pernah ada susu dingin yang seharga 10 juta won! Lihatkan betapa berduitnya laki-laki itu. Semisal ada orang lain yang menemukan laki-laki itu bisa berbahaya. Yein lupa kapan dia terakhir kali jadi mata duitan.

 

“Oh,aku lupa. Ini untukmu.”

 

“Terimakasih.”

 

Laki-laki pembawa gitar itu segera berlalu. Semua orang memang butuh uang,semuanya termasuk Yein.

 

“Kau mau apa dengan 10 juta won hah?”

 

“Tagihan listrikmu sudah beranak.”

 

“Brengsek.”

 

“Jam berapa ini? Aku harus bertemu orang lain.”

 

“Enyah saja kau dari dunia ini!”

 

Dan laki-laki itu benar-benar pergi dari hidup Yein,ada gadis berambut coklat menunggu di depan kafe. Yein benci tahu hal itu.

 

Kafe tetap ramai sekali pun laki-laki tadi sudah pergi. Tapi–(kali ini saja) kenapa harus Yein yang duduk sendirian di sana? Siapapun itu,bisa tidak duduk di meja Yein lalu menghiburnya yang sedang patah hati.

 

Yein ingin menangis hanya saja dia malu. Ada uang di depannya,sangat tidak etis kalau dia menangis tersedu-sedu dan menjadi pusat perhatian. Akan sangat memalukan.

 

Tapi–(ini terakhir) Yein juga manusia,dia butuh menangis walau tidak perlu tersedu-sedu. Cukup teteskan air mata dengan gaya keren maka semua selesai. Dengan ide begitu Yein langsung meneteskan air matanya.

 

“Dasar laki-laki keparat!”

 

Oke,Yein menangis dengan muka sembab dan hidung yang merah. Orang-orang di kafe berbisik ke arahnya. Biarlah,toh dia juga sudah mempatenkan telinganya menjadi tuli. Yein ingin berteriak,melempar barang-barang serta melakukan hal gila lainnya. Namun dia ingat ini kafe bukan kamarnya.

 

“Aku gadis cantik dan sudah menolak jutaan laki-laki,dan dia memutuskanku semudah ini? Terkutuklah kau.”

 

Yein tahu ini berlebihan,kelewat tahu malah. Tapi–(huhuhu) namanya juga patah hati,siapa yang peduli dengan sikap berlebihan. Untung-untung Yein tidak bunuh diri dengan mengikat lehernya di dalam kamar mandi.

 

“Aku bahkan membelikannya sepatu baru. Aku juga mencuci gorden rumahnya. Semalam aku tetap menyapu kamarnya,lalu kini balasannya? Arrghh!”

 

Andai hukum tidak di tegakkan di dunua ini,mungkin Yein akan berlari ke mantan kekasih kurang ajarnya itu dan menikam tepat di dadanya lalu melemparkan mayatnya ke lautan hingga di makan ikan-ikan kemudian ada berita di televisi pagi kalau di temukan tulang belulang orang tak di kenal dalam keadaan mengenaskan.

 

Hanya saja Yein masih muda,dia tak mau menghabiskan masa-masa itu untuk berdiam diri di jeruji besi yang dingin. Bagaimana jika tidak ada pengering rambut atau majalah fashion di sana? Yein tak mampu membayangkannya. Terlalu mengerikan.

 

“Permisi.”

 

“Pergi.”

 

“Aku hanya–”

 

“Pergi.”

 

Yein tidak punya tenaga lagi untuk mengusir orang yang tiba-tiba muncul di sebelah kanannya. Raganya sudah lelah.

 

“Aku ingin bernyanyi.”

 

“Aku ini tuli,kau cari orang lain saja.”

 

Entah bagaiman ceritanya atau siapa yang mengizinkannya,laki-laki yang membawa gitar sambil menyanyikan lagu balada saat Yein di putuskan mantan kekasihnya telah duduk manis dengan senyum lebar di depan Yein.

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

“Aku mau bernyanyi,tapi nona tidak menghiraukanku.”

 

“Aku tuli,tuli,tuli! Puas?”

 

“Puas.”

 

Yein menangis lagi,di temani laki-laki asing pembawa gitar. Perasaanya belum stabil.

 

“Menangis saja.”

 

“Diam kau.”

 

Laki-laki asing itu memetik gitarnya,membunyikan kunci-kunci secara acak.

 

“Kau tahu kenapa manusia di ciptakan dengan dua mata?”

 

“Tidak.”

 

Bunyi petikan gitar acak itu terasa mengalun lembut untuk Yein.

 

“Karena Tuhan memberikan rasa senang dan sedih untuk mereka. Senang untuk melihat berbagai indahnya dunia lalu sedih untuk melihat berbagai keburukan dunia. Maka itu kita di wajibkan menangis.”

 

Dahi Yein berkerut.

 

“Kenapa?”

 

“Sebab itu cara berterimakasih kepada Tuhan.”

 

Rentetan jawaban laki-laki membuat Yein terdiam. Dia tahu ini cuma kutipan kecil dari novel atau koran atau drama,tapi–(hmm) ketika diucapkan oleh laki-laki tak di kenal itu semuanya terasa berbeda.

 

Tuhan menciptakan dunia untuk manusia. Tuhan juga menciptakan kedua mata untuk manusia. Dan mata itu berfungsi melihat keindahan dan keburukan. Laki-laki itu benar,menangis memang wajib di lakukan. Menangis untuk keburukan yang telah di ciptakan. Bukankah itu salah satu gunanya mata di berikan kepada kita?

 

“Aku tidak pernah sadar kalau menangis itu ungkapan terimakasih.”

 

“Ketika terharu orang-orang juga menangis.”

 

“Menangis?”

 

“Menangis bahagia,memangnya ada orang yang terharu kalau di sakiti? Berarti dia sinting.”

 

Yein tertawa dan laki-laki asing itu ikut tertawa.

 

“Namaku Jeon Jungkook.”

 

“Aku Jeong Yein.”

 

“Waw,marga kita hampir sama.”

 

“Kebetulan.”

 

Laki-laki bernama Jeon Jungkook itu menggeleng.

 

“Tuhan tidak menciptakan kebetulan,tapi takdir.”

 

“Maksudmu pertemua kita ini takdir?”

 

“Siapa tahu.”

 

Lalu Yein tertawa lagi. Tidak ada yang lucu.

 

“Kau habis di putuskan?”

 

“Iya.”

 

“Dia memberimu uang?”

 

“Iya.”

 

“Laki-laki yang baik.”

 

Susu dingin Yein menjadi teman uang pemberian mantan kekasihnya sekarang. Gadis itu menyingkirkan keduanya ke tepi meja.

 

“Kau sudah berapa lama jadi penyanyi jalanan?”

 

“Sembilan tahun.”

 

“Umurmu sekarang?”

 

“Dua puluh satu.”

 

Jungkook mengelus gitarnya. Sembilan tahun bukanlah waktu yang lama,Yein tahu itu. Gitar Jungkook bahkan sudah usang.

 

“Mau minum?”

 

“Susu dingin.”

 

“Kau juga suka susu dingin?”

 

“Hm,lebih segar.”

 

Demi Tuhan,Yein belum pernah bertemu dengan laki-laki yang suka susu dingin padahal sudah sering berkencan. Setiap laki-laki yang berstatus pacarnya tidak ada yang suka susu dingin,mereka hanya pesan soda,kopi,atau lain-lain.

 

Kini Jungkook yang hanya orang asing muncul dalam hidup Yein ketika dia baru saja patah hati sehabis putus dari mantan kekasihnya,kenapa bisa secocok ini dengan Yein? Kebetulan? Jungkook bilang itu takdir,apa boleh buat.

 

“Pelayan,susu dingin dua!”

 

“Yang itu sudah habis?”

 

Yein melirik ke botol susu di tepi mejanya.

 

“Aku meminumnya saat laki-laki sok kaya itu meminta putus.”

 

“Oh,hahaha.”

 

Seorang pelayan lalu datang membawa dua botol susu dingin untuk Yein dan Jungkook. Mereka berdua membuka tutupnya bersamaan lalu bersulang. Idiot memang mengingat yang mereka lakukan dengan botol susu,misalkan minuman lain boleh-boleh saja. Tapi–(hufftt hahaha) ini susu,yah Yein tak masalah akan itu.

 

“Biar aku yang bayar.”

 

“Dengan uang pemberian mantan kekasihku itu? Dia pasti memberimu dua kali lipat.”

 

“Kau benar.”

 

Yein meminum susunya sambil memperhatikan gitar Jungkook. Bukannya ingin ikut campur,tapi bagi Yein gitar itu sudah sangat tidak layak pakai. Apa dia harus memberitahu laki-laki itu? Lalu bagaimana jika dia tersinggung? Semua orang memang pernah tersinggung,Yein tak perlu repot-repot menanggapinya.

 

“Gitarmu sudah tua.”

 

“Memang.”

 

“Tidak mau beli baru?”

 

Obsidan Jungkook berputar gemas.

 

“Aku punya dua alasan belum membelinya.”

 

Susu dingin Yein kembali habis. Dia sudah menikmati dua botol dengan kapasitas satu liter,mudah-mudahan perutnya tak kembung.

 

“Sebutkan.”

 

“Pertama,aku masih sayang dengan gitar ini. Segala sesuatu yang telah lama bersama kita bukankah akan sangat sulit untuk di lepas?”

 

Dia benar lagi,Yein bertepuk tangan. Segala sesuatu yang telah bersama kita memang sangat sulit untuk di lepas. Contoh,mantan kekasih.

 

“Kedua,aku belum punya banyak uang untuk membeli yang baru. Tentu ketika ingin mengganti barang yang sudah rusak kita pasti akan mencari yang baru dan lebih bagus kan? Sudah pasti harganya sangat mahal.”

 

Mengganti. Yein familiar dengan kata-kata itu. Mengganti segala sesuatu dengan yang baru dan lebih bagus pasti menggunakan biaya yang lebih besar. Contohnya,kita ulangi saja yaitu mantan kekasih. Mau menggantinya tentu harus mencari yang lebih baik darinya,dan mencari yang lebih baik itu harganya mahal.

 

“Karena itulah aku masih menyimpan yang lama. Aku butuh waktu untuk meninggalkannya demi yang baru.”

 

Semua ucapan Jungkook benar. Yein memang perlu melupakan mantan kekasihnya dengan mencari yang lain,tapi–(….) bagaimanapun itu dia perlu waktu. Biarkan saja waktu bergulir,akan ada saatnya Yein membuang yang lama dan membeli yang baru. Tidak perlu terburu-buru,semuanya perlu waktu.

 

“Jungkook?”

 

“Iya?”

 

“Kau mau nonton bioskop?”

 

“Kapan?”

 

“Besok,aku yang bayar.”

 

Hari itu Yein baru saja patah hati. Dia harus mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan segalanya.

 

Bersama tiga botol susu dingin dan setumpuk uang di atas meja.

 

Ada Jungkook sebagai orang yang siap menjadi kehidupan barunya.

 

Tapi–(ini lucu hahaha)

 

Yein tetap perlu waktu untuk semuanya.

 

***

END

tettttt>>aku dapat idenya pas mau buat susu eh tau-tau air panas habis,terus karena saking malasnya*huuuuu terpaksa buat susu pakai air dingin dan rasanya amazing wkwkwk

Advertisements

18 thoughts on “[Oneshoot] But, Hahahaha.

  1. Mishiiin ini kiyowo bangeet :”)

    Bingung mah bilang apa wkwkwkwk. Suka si Yein kek anak cewe2 kaya yg sombong gimana gitu deeh xD. Duh, aku mau jg kalo lg nangis disamperinnya sama Kuki… >_<

    Aagh, suka dee pokoknya ❤ cuma sempet bingung2 dikit gitu pas dialog ini lg siapa yg ngomong~ Suka suka ❤

    Like

  2. Aku ngakak baca ini, sedih nya dapet dan berasa drama aja gitu. Yang paling dapet adalah comedy nya itu, tapi ini bukan genre comedy kan? Oh ya susu dingin itu emang amazing, tanda kutip sih amazing nya wkwkwk. Yah top jempol buat ff ini>.<

    Like

  3. Nah, Yein sepertinya udah nemuin pengganti nih
    Jungkook pasti bakal jadi cowo terbaik yang pernah Yein kenal, semoga sukses nontonnya ya XD haha
    Ah, ditunggu sequelnya yaaaa 😀

    P.S. Diperhatikan penggunaan komanya, baiknya kalo setelah koma ada spasi… hehe ^o^

    Like

  4. Woahhhh:0 ngakak aku bacannya thor, pas banget aku habis mimik cucu><, kira kira kalau aku nangis ngeraung raung ditempat umum ada yang nyamperin gak ya>< wkwkwk. Oh ya kamu demen banget ngelakuin hal yang ekstrim?^^. Semangat Thor!!!

    Like

  5. Pingback: [Oneshoot] But,Hahahaha. | misshin017

  6. Kok aku jdi penasaran sama mantannya yein yg kurg ajar itu ‘-‘ pas kencan yein yg bayar semua, dia bosen langsung di putusin, padahal dia punya uang banyak..
    Tpi ada bagusnya jga si dengan begitu–‘ yein tau klo dia bukan org yg pantas buat yein. Dan hanya jungkool lah yg pas buat yein yaeyyy 0)9 Yein-naa FIGHTING!!

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s