[Oneshoot] Innocent?

Innocent

Innocent?

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Kei – Seventeen’s Joshua

Cast : Sonamoo’s Nahyun – find by yourself

Genre : School Life – Romance – Hurt/Comfort – Fluff|| Rating : PG-17 || Type : Oneshoot

….

“Pacaran adalah dimana saat sepasang kekasih bisa melakukan skinship,”

Skinship?”

“Ya, mulai sekarang kau adalah pacarku dan lakukanlah skinship bersamaku,”


NB :

Ingat ya ratingnya PG-17.. Jadi jangan protes kalau ngelihat isinya yang begitu!


.

.

.

            Di sebuah kelas suasana begitu sunyi karena semua murid sedang memecahkan soal matematika yang diberikan oleh guru mereka. 5 menit suasana diam itu bertahan sampai akhirnya seorang laki-laki mengangkat tangan kanannya. Guru Kim –guru matematika yang sedang mengajar itu mempersilakan siswanya untuk berbicara.

“Saya sudah mencari jawabannya dan hasilnya adalah pilihan C,”ujarnya.

“Kau memang dapat di handalkan, Jisoo! silakan salin jawabanmu di papan tulis,”kata guru Kim.

Teman sekelas bersorak gembira ketika laki-laki bernama lengkap Hong Jisoo itu berhasil menjawab soal sulit yang diberikan oleh mereka. Kenapa mereka bersorak gembira? Itu berarti Jisoo membuat mereka terbebas dari beban yang ada. Biasanya jika tidak ada murid yang dapat menjawab pertanyaan yang diberikan guru Kim, mereka akan diberikan pekerjaan rumah 3x lipat dari biasanya. Untungnya Jisoo menjawab pertanyaan rumit itu dan mereka semua terhindar dari angka-angka terkutuk dari guru Kim.

“Hong Jisoo keren ya. Tidak salah kalau dia murid berprestasi,”celetuk seorang gadis bernama Kim Nahyun.

“Ya.. Jisoo memang keren,”balas gadis lain dengan senyum malu.

Nahyun menatap sahabatnya yang bernama Kim Jiyeon itu dengan senyum menggoda. Yang ditatap hanya bisa tersenyum malu. Seorang gadis bernama Kim Jiyeon memang memiliki perasaan kepada Jisoo. Bisa dibilang Jisoo adalah cinta pertamanya di SMA. Bagi seorang Kim Jiyeon orang yang dia suka itu begitu menarik di matanya. Hong Jisoo siswa yang pandai dan berprestasi serta kelakuannya sangat baik dan selalu menjadi contoh untuk orang lain. Penampilan Jisoo yang sederhana juga memberikan nilai plus untuk laki-laki yang besar dan lahir di Amerika itu.

“Itu ada Jisoo! Kau bilang mau bertanya soal matematika tadi dengannya,”tegur Nahyun.

“Aku menghampiri Jisoo dulu ya, Nahyun..”

“Kim Jiyeon fighting!”

Nahyun mengepalkan tangannya ke udara begitu juga Jiyeon. Setelah itu barulah Jiyeon berlari menuju tempat duduk Jisoo untuk bertanya mengenai soal sulit dari guru Kim yang tadi mereka pelajari.

“Butuh bantuan, Kim Jiyeon-ssi?”

Jiyeon hanya bisa tersenyum malu ketika Jisoo mengatakan hal itu kepadanya. Dia terlalu sering melakukan modus untuk bertanya mengenai pelajaran kepada Jisoo. Iya si memang dia tidak tahu dan ingin mengerti jawaban dari soal yang dia tanya, namun selain itu dia juga ingin memandangi orang yang dia suka dari jarak yang begitu dekat.

“Baiklah, sekarang lihat baik-baik ya…”

            Saat pulang sekolah Jiyeon menunggu Nahyun di depan gerbang. Nahyun bilang dia meninggalkan dompetnya di kelas maka dari itu dia kembali dan Jiyeon menunggunya di sini. Di saat sedang menunggu Nahyun kembali, Jiyeon yang sendirian merasa ada seseorang di sebelahnya langsung menoleh dan terkejut saat mengetahui siapa yang hadir di sampingnya kini.

“Kau sedang menunggu apa di sini, Jiyeon-ssi?”tanya Hong Jisoo.

“Ou.. Jisoo-ssi… kau mengagetkanku,”jawab Jiyeon spontan.

“Aku mengagetkanmu? Ah.. maaf kalau begitu,”sesal Jisoo.

“Tidak, tidak apa kok! Aku baik-baik saja hehe. Kau sendiri kenapa di sini?”tanya Jiyeon.

“Aku di sini karena penasaran dengan apa yang sedang kau tunggu di sini,”jawab Jisoo.

Ye??”

“Mau pulang bersama?”tanya Jisoo.

“Pu..pulang bersama?!”

            Nahyun memasukan dompetnya ke dalam tas dengan senyum lebar. Saat dia melihat ke depan senyum Nahyun langsung hilang dan kini dia menganga lebar ketika melihat Kim Jiyeon baru saja masuk ke dalam sebuah taksi meninggalkan dirinya. Nahyun langsung berlari mengejar Jiyeon dan berteriak memanggil namanya, “Ya Kim Jiyeon!”. Tapi naas taksi yang ditumpangi Jiyeon telah pergi menjauh dari pandangannya.

“Aku rasa seseorang memanggil namamu,”kata Jisoo.

“Ah? jinjja? Aku tidak dengar hehe..”

Sebetulnya Jiyeon tahu kalau yang berteriak memanggil namanya barusan adalah Nahyun. Namun apa boleh buat dia terpaksa meninggalkan Nahyun sendiri karena tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini.

“Jiyeon-ssi apa kau ada urusan setelah ini?”tanya Jisoo.

“Tidak. Aku tidak ada urusan setelah ini. Memangnya ada apa?”tanya balik Jiyeon.

“Bagaimana kalau kita jalan sebelum pulang?”

            Jisoo meletakan minuman yang dia baru beli di atas meja. Ternyata Jisoo mengajak Jiyeon untuk berjalan-jalan sejenak di kawasan Myeongdong. Dan kini mereka berada di sebuah kafe untuk sekedar hangout dan meminum minuman dingin. Jiyeon mengambil minuman yang ada di depan matanya lalu menyedot minuman itu dengan pipet besar. Jisoo sendiri masih duduk santai dan melepaskan almamater sekolahnya. Setelah itu Jisoo juga membuka seluruh kancing kemajanya sehingga tampaklah kaos hitam yang dia kenakan sebagai dalaman. Melihat Jisoo yang berpenampilan seperti ini membuat Jiyeon terdiam dan berhenti menyedot minuman dinginnya.

“Apa ada sesuatu yang aneh?”tegur Jisoo yang menyadari tatapan Jiyeon.

Heol? Ti..tidak ada,”jawab Jiyeon.

Jisoo tersenyum tipis, “katakan saja.”

“Aku hanya tidak menyangka kalau Jisoo-ssi bisa berpenampilan seperti itu,”ucap Jiyeon pelan namun dapat terdengar di telinga Jisoo.

“Jiyeon-ssi coba lihat aku!”titah Jisoo.

Refleks Jiyeon langsung menatap kedua mata Jisoo. Laki-laki itu membalas tatapan Jiyeon dalam-dalam kemudian tersenyum. Senyum yang terkesan berbeda dari senyum yang Jiyeon lihat selama ini.

“Jiyeon-ssi menyukaiku, kan?”celetuk Jisoo.

“Ba-bagaimana kau tahu?!”kaget Jiyeon.

Jisoo tertawa pelan melihat ekspresi kaget Jiyeon. Setelah tawanya berhenti Jisoo menjawab pertanyaan Jiyeon barusan.

“Tatapan matamu ke aku begitu beda. Jadi itu mudah untuk menebak kalau Jiyeon-ssi menyukaiku..”balas Jisoo.

“Maaf karena menyukaimu,”sesal Jiyeon lalu menundukan kepalanya.

“Tidak, aku yang harusnya minta maaf karena membuat dirimu menyukaiku. Karena orang yang kau suka sebenarnya tidak pernah ada,”

“Maksudmu apa Jisoo-ssi?”tanya Jiyeon dan kembali menatap Jisoo yang ada di depannya.

Jisoo bertopang dagu dan menatap Jiyeon sambil memberikan senyuman mautnya, “Maksudku adalah…”

            Jiyeon meletakkan tasnya di sembarang tempat lalu duduk di kasurnya dengan pandangan kosong. Sejak Jisoo mengatakan sesuatu kepadanya Jiyeon menjadi diam dan syok. Namun ketika Jiyeon sedang melamunkan percakapannya dengan Jisoo tadi bunyi ponselnya membuat Jiyeon tersadar dan tanpa melihat siapa yang menelfonnya dia langsung menerima panggilan itu.

“YA KENAPA MENINGGALKANKU?!”

Telinga Jiyeon terasa pengang akibat teriakan dari sahabatnya yang tadi dia tinggal begitu saja, siapa lagi kalau bukan Kim Nahyun. Jiyeon menghembuskan nafasnya sejenak dan barulah menjawab pertanyaan Nahyun.

“Maaf Nahyun-ah.. Tadi aku pulang bersama Jisoo,”

“Jisoo?! Hong Jisoo? sumpah?!!”

“Ya, Hong Jisoo. Dan aku bersumpah,”

“Heol daebak! Bagaimana bisa dan bagaimana tadi? Apa kalian berbicara panjang lebar di dalam taksi,”

“Aku akan menceritakannya besok. Sudah dulu ya,”

“Ya Kim Jiyeon jangan be—“

Jiyeon langsung mematikan sambungan telfon dan berbaring di kasurnya. Pikirannya kembali melayang ke pembicaraannya bersama Hong Jisoo di kafe tadi.

.

Flashback;

“Aku akan memberitahumu tentang Hong Jisoo yang sebenarnya asalkan kau menerima syarat dariku. Kau juga boleh menentukan untuk terus menyukaiku atau move on jika kau tidak menyukainya,”

“Apa syaratnya?”

Jiyeon harap-harap cemas menanti jawaban yang akan diberikan Jisoo. Tangannya yang berada dibawah meja meremas rok sekolahnya karena merasa takut, kikuk dan cemas akan sikap Jisoo saat ini.

“Jadilah pacarku dan kau bisa tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya,”

“A-apa? Pacar? Aku jadi pacarmu?!”pekik Jiyeon tertahan.

“Ya jadilah pacarku. Di saat itu kau akan tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Saat kau mengetahui ‘the real me’ kau bisa memutuskan akan terus menyukaiku atau berpaling ke lain hati,”balas Jisoo.

“Tapi aku tidak tahu bagaimana pacaran itu,”lirih Jiyeon.

Beginilah nasibnya menjadi jomblo sejak dia dilahirkan. Memang dia menyukai Jisoo tapi dia sama sekali tidak pernah menduga Hong Jisoo akan menawarkan dirinya sebagai kekasihnya.

“Pacaran adalah dimana saat sepasang kekasih bisa melakukan skinship,”celetuk Jisoo.

“Skinship?”ulang Jiyeon.

“Ya, mulai sekarang kau adalah pacarku..”kata Jisoo kemudian dia melanjutkan lagi perkatannya, “—dan lakukan skinship bersamaku,”.

Jiyeon mengedipkan matanya berulang kali. Menjadi pacar Hong Jisoo lalu melakukan skinship bersamanya? Mimpi macam apa ini—oh tidak ini bukan mimpi disiang bolong melainkan kenyataan yang sedang dia hadapi.

“Apa kau mau mencobanya?”Tanya Jisoo.

“Aku….aku mau mengenal dirimu yang sebenarnya,”jawab Jiyeon.

Jisoo tersenyum usai mendengar jawaban dari Jiyeon, “Baiklah sekarang kau milikku,”

            Keesokan harinya Jiyeon yang baru sampai di sekolah melihat Jisoo yang sedang duduk sendiri di tempatnya. Seperti hari-hari sebelumnya Jisoo melakukan aktivitasnya yaitu membaca buku pelajaran. Setelah duduk di tempatnya Jiyeon terus memperhatikan Jisoo yang duduk bangku depan dengan pandangan heran. Bagaimana bisa Jisoo bersikap begitu lemah lembut namun begitu ‘menegangkan’ ketika mereka berbicara di kafe kemarin.

Glap!

Jiyeon tertangkap basah sedang memperhatikan Jisoo ketika tiba-tiba saja Jisoo menoleh ke belakang. Jisoo melambaikan tangannya ke Jiyeon kemudian memberikan sinyal pada Jiyeon untuk menghampirinya. Jiyeon perlahan berdiri dari kursinya untuk menghampiri Jisoo.

“Ada apa?”tanya Jiyeon.

“Istirahat nanti temui aku di atap sekolah,”jawab Jisoo.

“Untuk apa Jisoo-ssi?”Tanya Jiyeon heran.

“Pokoknya datang saja ke atap sekolahan. Kau bisa sebut ini adalah salah satu cara untuk mengetahui aku yang sebenarnya,”kata Jisoo.

Jiyeon mengangguk lemah, “Baiklah nanti aku ke sana..”

            Perlahan Jiyeon membuka pintu untuk keluar. Angin berhembus membuat rambut Jiyeon menjadi sedikit berantakan. Di sisi lain Jisoo yang sedang bersender di balkon memperhatikan Jiyeon yang hanya berdiam diri di tempatnya.

“Kemarilah!”teriak Jisoo.

Buru-buru Jiyeon berlari untuk menghampiri Jisoo. Setelah berada tepat di hadapannya, Jisoo tersenyum tipis melihat Jiyeon yang benar-benar menghampirinya di tempat ini.

“Selamat datang di surgaku,”kata Jisoo.

“Surga?”heran Jiyeon.

“Ya aku menyebut tempat ini surga karena dapat melakukan apapun yang aku mau disini tanpa ada mata yang mengawasiku,”

“Memangnya apa yang Jisoo-ssi lakukan di tempat ini?”tanya Jiyeon.

“Merokok,”celetuk Jisoo.

“Apa?!”pekik Jiyeon.

Jisoo terkekeh, “Tidak aku hanya bercanda. Namun ya… aku melakukannya di saat sedang stres saja,”balas Jisoo.

Deg! Jiyeon merasa jantungnya tertusuk ribuan jarum saat ini setelah mendengar pengakuan Jisoo kalau dia merokok! Pikiran Jiyeon menjadi kosong saat ini namun suara jentikan jari menyadarkannya.

“Aku sudah bilang kalau kau bisa berhenti menyukaiku atau—“

“Tidak, aku masih belum tahu bagaimana Hong Jisoo yang sebenarnya,”potong Jiyeon.

“Baiklah kalau begitu sekarang duduk di lantai berlapis koran itu,”

Jisoo menunjuk lantai yang telah dia lapisi dengan koran. Jiyeon dengan santainya duduk di tempat itu. Dia memandang Jisoo heran lalu bertanya kepadanya.

“Untuk apa memangnya?”

“Bolehkah aku meminjam pahamu sebagai bantal?”

            Jisoo memandang langit biru yang begitu cerah setelah kepalanya menggunakan paha Jiyeon sebagai bantalnya. Jisoo merasa nyaman saat ini, biasanya dia berbaring di tempat ini tanpa memakai ganjalan yang membuat kepalanya menjadi sakit serta lehernya pegal. Namun kali ini tidak, dia bisa tidur dengan nyaman karena ada Jiyeon di sini.

“Apa Jisoo-ssi menghabiskan waktu istirahat di sini terus?”Tanya Jiyeon.

“Ya.. Aku selalu disini,”jawab Jisoo.

“Pantas saja kau tidak pernah terlihat di kantin,”celetuk Jiyeon.

Jisoo hanya membalas ucapan Jiyeon dengan sebuah senyuman. Karena awan bergerak ditiup dengan angin, cahaya matahari kini terasa begitu terik sehingga Jisoo secara otomatis menutup kedua matanya.

“Bisa kau tutupi wajahku? Begitu silau…”pinta Jisoo.

Jiyeon langsung menundukan kepalanya untuk melindungi Jisoo dari teriknya matahari. Melihat wajah Jisoo yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya membuat detak jantung Jiyeon berdetak begitu kencang.

“Kau cantik,”celetuk Jisoo.

Blush~ Kedua pipi Jiyeon memerah mendengar Jisoo memujinya cantik. Apa dia tidak salah dengar? Jiyeon tidak dapat melakukan apapun saat ini selain diam. Tiba-tiba saja Jisoo tersenyum pada Jiyeon sehingga gadis itu menjadi heran.

“Ada apa Jisoo-ssi—“

Chu~ Tiba-tiba saja Jiyeon merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Tidak lebih dari 5 detik Jisoo langsung menjauhkan lagi wajahnya dari Jiyeon. Refleks Jiyeon mengangkat kepalanya dan menutup mulutnya. Melihat reaksi Jiyeon barusan membuat Jisoo langsung bangkit dan memposisikan dirinya dengan benar kemudian menatap Jiyeon yang saat ini sedang membulatkan matanya tidak percaya.

“Ciuman pertama?”tanya Jisoo.

Jiyeon spontan menganggukan kepalanya, membuat Jisoo tersenyum kecil.

“Kita akan sering melakukannya jadi—” Jisoo menarik tangan Jiyeon yang menutupi mulutnya, “—persiapkan dirimu untuk itu,”lanjutnya.

Kini sepasang kekasih itu saling bertatapan satu sama lain. Perlahan Jisoo memajukan wajahnya untuk mendekati wajah Jiyeon. Melihat Jisoo begitu Jiyeon hanya bisa menutup kedua matanya dan bibir mereka kembali bersentuhan. Jiyeon yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam sementara Jisoo kini mencium Jiyeon dengan lembut. Entah bagaimana caranya Jiyeon tiba-tiba saja membalas ciuman Jisoo dan—

KRINGGGGG!!!

Bell masuk telah berbunyi. Jiyeon langsung menjauhkan bibirnya dari Jisoo dan berdiri lalu merapikan segaram sekolahnya. Jisoo juga berdiri dan juga merapikan seragamnya–apalagi dia membuka kancing atas kemejanya dan dasi sekolahnya longgar.

“Kau ke kelas saja duluan, jika ada yang lihat kita berdua keluar dari tempat ini akan ada yang curiga,”kata Jisoo.

“Kau benar. Kalau begitu aku duluan, annyeong..”

Jiyeon berlari dengan kencang untuk segera meninggalkan atap. Dia begitu malu saat ini karena ciumannya barusan bersama Jisoo. Sementara Jisoo yang masih berdiri ditempatnya tersenyum miring, “Tipikal cewek polos sekali,”batin Jisoo.

“Jiyeon-ssi?”

“Kim Jiyeon-ssi!!”

Tak!! Jiyeon tersadar ketika kepalanya terasa sakit akibat dipukul oleh gurunya menggunakan spidol. Jiyeon mengusap kepalanya lalu menatap wajah gurunya yang kini sudah merah padam karena terpancing emosi Kim Jiyeon tidak memperhatikan pelajarannya sejak tadi.

“Di mana pikiranmu, Kim Jiyeon-ssi?”tanya guru Lee.

“Maafkan saya, pak..”sesal Jiyeon.

“Berdiri di luar kelas dan angkat kedua tanganmu. Segera!”titah guru Lee.

Jiyeon berdiri dari tempat duduknya dan segera keluar kelas. Sebelum keluar dari pintu dia sempat melirik kekasihnya yang kini tengah menatapnya datar. Namun tiba-tiba saja Jiyeon dikagetkan dengan Jisoo yang memberikan smirk kepadanya. Urgh! Kalau bukan karena kehilangan nyawa akibat ciumannya bersama Jisoo tadi, dia tidak akan termenung memikirkan peristiwa di atap!

            Pulang sekolah Jiyeon pulang sendiri karena hari ini Nahyun ada ekstrakulikuler yang harus dia hadiri. Memang sudah tradisinya dihari Kamis Jiyeon akan pulang sendiri. Karena pikirannya masih kacau akibat ciuman itu, Jiyeon memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak menyegarkan pikirannya yang ternodai akibat Jisoo barusan. Dia tidak pernah menduga kalau anak yang terlihat polos seperti Jisoo bisa melakukan hal itu…

“Kenapa sendiri?”

Jiyeon menoleh ke samping dan terkejut ketika sosok Hong Jisoo sudah berada disampingnya. Bagaimana bisa tiba-tiba saja Jisoo berada disebelahnya? Dan kenapa Jisoo tidak pulang?

“Ji…jisoo-ssi—“

Belum lagi Jiyeon menyelesaikan ucapannya Jiyeon kembali dikagetkan dengan Jisoo yang kini memegang lengannya. Dia memperhatikan kedua tangannya dan bertanya kepada Jiyeon.

“Apa kau baik-baik saja? Tidak pegal karena dihukum tadi?”tanya Jisoo.

“Agak pegal si tapi sekarang sudah memba—“

Tiba-tiba saja Jisoo mencium tangan Jiyeon. Sambil melihat kekasihnya yang tengah membulatkan matanya Jisoo tetap santai dan terus mecium kedua tangan Jiyeon bergantian.

“Apa yang kau lakukan?”tanya Jiyeon.

“Aku harap dengan ini pegalnya menjadi hilang,”jawab Jisoo santai.

Blush… Pipi Jiyeon memerah karena ucapan Jisoo barusan. Konyol memang, mana ada pegal menjadi hilang hanya karena dicium oleh kekasih mereka tapi tetap saja itu membuat Jiyeon malu dan semburat merah muncul di kedua pipinya. Melihat tingkah Jiyeon saat ini Jisoo melepaskan tangannya lalu mengusap rambut Jiyeon dan mengacaknya.

“Ah.. Kau ini sangat lucu,”kata Jisoo.

Jinjja?”tanya Jiyeon polos.

Jisoo mengangguk lalu tangannya kini bergerak memegang pipi Jiyeon dan mencubitnya dengan gemas.

“Ya kau sangat lucu Jiyeon-ssi. Aku akan mentraktirmu es krim karena kau begitu lucu,”ucap Jisoo.

Mendengar ucapan Jisoo barusan membuat Jiyeon tersenyum senang. Sadar akan ekspresi Jiyeon yang tampak begitu jelas kalau dia bahagia membuat Jisoo tanpa pikir panjang langsung menggandeng tangan Jiyeon untuk membawanya ke kedai es krim.

“Strawberry untukmu dan vanila untukku,”

Jisoo meletakan es krim yang baru saja dia pesan di atas meja dan kini dia duduk tepat di depan Jiyeon.

“Terima kasih Jisoo-ssi,”kata Jiyeon.

Tanpa malu-malu Jiyeon langsung mengambil es krim stawberry miliknya dan menyuapkan es krim itu ke dalam mulutnya. Sensasi dingin yang datang tiba-tiba membuat Jiyeon menutup kedua matanya dan bergidik. Melihat Jiyeon yang begitu lucu di matanya, Jisoo terkekeh pelan.

“Kenapa tertawa si?”tanya Jiyeon setelah semua sensasi itu hilang.

“Kau benar-benar lucu,”jawab Jisoo.

“Terima kasih,”balas Jiyeon.

“Bagaimana es krimnya? Apa enak?”tanya Jisoo.

“Ya sangat enak,”jawab Jiyeon.

“Lalu bagaimana ketika mendapatkan hukuman dari guru Lee?”tanya Jisoo lagi.

“Sangat tidak enak,”rutuk Jiyeon.

“Lalu.. bagaimana dengan ciuman kita?”

“Itu sanga—“

Jiyeon langsung menutup bibirnya rapat-rapat saat dia hampir saja mengatakan apa perasaannya tentang itu semua. Jisoo mengerutkan keningnya menanti kelanjutan dari jawaban Jiyeon. Namun bukannya Jiyeon melanjutkan ucapannya melainkan dia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa si?”tanya Jisoo.

Tangan Jisoo terulurkan untuk mengusap noda es krim yang menempel di sudut bibir Jiyeon. Rasanya bagaikan tersengat listrik dan membuat kepala Jiyeon berhenti menggeleng!

“Sepertinya aku tahu apa kelemahanmu,”celetuk Jisoo.

“A-apa?”tanya Jiyeon.

“Aku!”

“Hong Jisoo-ssi!!”pekik Jiyeon.

Melihat protes dari Jiyeon, Jisoo hanya bisa tertawa lepas. Hahaha benar-benar asik menggoda pacarnya.

            Sepanjang jalan pulang menuju halte bus Jiyeon dan Jisoo saling bergandeng tangan. Semua siswi dari sekolah lain yang lewat memperhatikan penampilan Jisoo saat ini. Seperti kemarin dia membuat dirinya berbeda total dari Hong Jisoo yang selalu ada di sekolah. Jujur saja Jiyeon juga merasa Hong Jisoo menjadi lebih keren namun entah kenapa dia merasa ganjal dengan kepribadian ganda Jisoo.

“Kenapa melamun?”tegur Jisoo.

“Oh bukan apa-apa..”gumam Jiyeon.

“Coba lihat, disana ada kucing mandi!”tunjuk Jisoo ke ujung jalan.

Spontan Jiyeon memperhatikan arah yang di tunjuk oleh Jisoo barusan. Nihil. Dia tidak melihat kucing seekorpun apalagi kucing mandi. Memangnya ada kucing yang mau mandi? Saat Jiyeon hendak protes dia dikagetkan saat Jisoo tiba-tiba saja mencium pipinya.

“Apaan si,”lirih Jiyeon.

Dia tertunduk malu saat ini karena Jisoo menciumnya di keramaian.

“Hmmmmm entah kenapa pipimu terlihat begitu chubby dilihat dari samping. Itu menggoda jadi jangan salahkan aku,”celetuk Jisoo.

Saat Jiyeon hendak berkomentar Jisoo tiba-tiba saja mencubit bibir Jiyeon untuk tidak berbicara apapun. Tangan Jiyeon yang bebas berusaha melepaskan tangan Jisoo dari bibirnya namun apa daya tangan Jisoo yang kosong menghalangi niatnya.

“Stt jangan protes! Lebih baik kita segera sampai di halte. Apa kau mau ketinggalan bus?”

Jiyeon yang mulutnya terkunci hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jisoo tersenyum lalu melepas tangannya dan mengusap kepala Jiyeon sebentar.

“Kalau begitu ayo lanjutkan perjalanan kita!”ajak Jisoo sambil mengulurkan tangannya.

Jiyeon memperhatikan tangan Jisoo yang memberikan sinyal untuknya menggenggam tangan itu. Perlahan Jiyeon menggenggam tangan Jisoo lalu mereka melanjutkan perjalanan untuk sampai ke halte bus.

“Hong Jisoo-ssi apa boleh aku bertanya padamu?”tanya Jiyeon.

Sure!”

“Apa Jisoo-ssi orang yang jahat?”

Mendengar pertanyaan Jiyeon barusan membuat Jisoo terdiam. Jahat? Hmm.. dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Apa benar dia orang yang jahat?

“Pasti ada alasan kenapa kau memiliki dua kepribadian seperti ini, ya kan?”

Jisoo tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jiyeon barusan. Ya tentu, pasti ada alasan. Waktu Jiyeon ingin bertanya lagi bus tujuannya sudah tiba. Jisoo mempersilakan Jiyeon untuk segera masuk. Setelah berpamitan Jiyeon masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang nyaman. Dapat dia lihat kini Hong Jisoo tengah melihat ke arahnya, Jiyeon hanya bisa tersenyum tipis dan memberikan lambaian tangan kepadanya. Melihat Jiyeon melambaikan tangan Jisoo membalasnya dan bus pun mulai berjalan.

“Apa kau dan Hong Jisoo berpacaran?!”

“Ya… pacaran. Benar kami berpacaran,”

“heol.. bagaimana bisa? Aku tidak menyangka kalau Hong Jisoo yang polos bisa berpacaran juga kekeke,”

Jiyeon bergumam, dia awalnya juga tidak menyangka kalau Jisoo akan memintanya menjadi pacarnya namun siapa sangka kalau Jisoo tidak sepolos yang orang lain bayangkan. Bahkan dia… telah mencium seorang Kim Jiyeon dihari pertama mereka jadian, bagaimana bisa itu dikataan sebagai cowok yang polos?

“Sudah dulu ya Nahyun. Ibu memintaku untuk membantunya membuat makan malam,”

“Baiklah. Sampai jumpa besok Jiyeon-ah!”

“Enak sekali!”

Jiyeon tersenyum ketika mendengar Jisoo memuji masakannya. Hari ini dia sengaja memasak nasi goreng dipagi hari untuk makan siang bersama Jisoo di jam istirahat, tentunya makan bersama di atap. Jisoo memakan makanannya dengan lahap dan sesekali dia menyuapi kekasihnya, si chef pembuat nasi goreng itu.

“Aku sangat kenyang. Terima kasih untuk makan siangnya,”kata Jisoo.

“Sama-sama. Berbaringlah,”

Jiyeon menepuk pahanya menandakan kalau dia memperbolehkan Jisoo untuk meminjam pahanya sebagai bantal. Tanpa penolakan Jisoo langsung membaringkan kepalanya di atas paha Jiyeon. Dia meraba sebuah komik yang dia sisipkan di saku jas dan membacanya. Sementara Jisoo membaca komiknya dengan serius, Jiyeon sendiri sibuk mengamati wajah tampan milik Jisoo. Tanpa dia sadari tangannya bergerak menyentuh wajah Jisoo dan jarinya menari-nari untuk mengamati bentuk wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?”Tanya Jisoo.

“Maaf..”

Jiyeon langsung menarik tangannya dan menyembunyikan dibalik badannya. Jisoo tersenyum miring melihat reaksi yang diberikan oleh Jiyeon.

“Lakukanlah kalau kau mau. Itu salah satu bagian dari skinship, bagaimana menurutmu?”

Jinjja?”

Tangan Jiyeon kembali mencoba untuk menyentuh wajah Jisoo. Kedua mata Jisoo tertutup rapat seakan-akan dia menikmati sentuhan itu. Jiyeon sendiri menggerakan tangannya untuk merasakan bentuk wajah kekasihnya. Mulai dari mata, hidung, pipi dan…. hmm… bibirnya!

“Apa kau menyesal memberikan ciuman pertamamu kepadaku?”Tanya Jisoo tiba-tiba.

“Hmm… tidak,”jawab Jiyeon.

“Sungguh?”

Jisoo membuka kedua matanya dan menatap Jiyeon dengan lekat. Tidak ada kebohongan yang terpancar dari kedua bola mata Jiyeon. Jisoo tersenyum lalu ia merubah posisinya menjadi duduk.

“Apa kau boleh keluar malam?”

Keluar malam? Jiyeon mengerutkan keningnya. Selama ini dia tidak pernah meminta izin untuk keluar malam kecuali ada pesta ulang tahun teman yang dirayakan pada malam hari, itu saja kalau dia menunjukan kartu undangan kepada orangtuanya barulah dia diizinkan.

“Tidak boleh. Ada apa?”tanya balik Jiyeon.

“Aku ingin menunjukan bagaimana duniaku kepadamu,”jawab Jisoo.

“Apa… apa ini untuk mengujiku?”tanya Jiyeon yang diberi anggukan oleh Jisoo, “Memangnya kau mau mengajakku kemana?”lanjutnya.

“Ke suatu tempat. Kalau suatu saat kau boleh keluar beritahu aku, aku akan mengajakmu keluar!”

“Baiklah..”

            Sampai di rumah Jiyeon membuka pintu dan melepaskan sepatu sekolahnya. Setelah selesai bertelanjang kaki Jiyeon berjalan masuk untuk segera sampai di dalam kamarnya. Namun ketika Jiyeon akan memutar knop pintu kamarnya suara berisik mengalihkan perhatian Jiyeon.

“Jiyeon-ah kau sudah pulang?”tanya ibu Jiyeon.

“Ya bu. Ada apa memangnya? Dan ibu mau kemana?”tanya balik Jiyeon.

Penampilan ibu Jiyeon memang sangat rapi saat ini, dan ini juga membuat Jiyeon bingung karena tidak biasanya jam segini ibunya ada di rumah.

“Ibu ada urusan di luar kota Jiyeon-ah. Ibu pulang tengah malam jadi kau jaga diri baik-baik di rumah ya. Jangan lupa kunci seluruh pintu dan jendela saat malam!”

“Baiklah bu. Semoga menikmati perjalanan yang menyenangan!”seru iyeon.

“Kau.. kau tampak senang sekali ibu pergi?”heran ibu Jiyeon.

“Bukan, maksudku.. aku mau memberikan semangat ke ibu. Ibu fighting!”

Ibu Jiyeon menganggukan kepalanya mengerti lalu dia langsung pamit ke Jiyeon untuk segera pergi. Setelah ibunya pergi Jiyeon masuk ke dalam kamarnya dan berteriak sekencang-kencangnya!

“Yeoboseyo Jiyeon?”

“Jisoo-ssi.. Ayo jalan malam ini!”

“Kau serius?”

“Ya, kebetulan aku sendirian di rumah malam ini..”

“Kabar bagus. Kalau begitu aku akan menjemputmu jam 7 nanti. Sampai jumpa nanti malam Jiyeon-ssi,”

“Sampai jumpa Jisoo-ssi..”

Setelah panggilan telfon terputus Jiyeon langsung berlari ke lemari pakaiannya untuk mencari pakaian mana yang harus dia kenakan nanti malam. Padahal waktu masih panjang tapi Jiyeon begitu bersemangat untuk jalan bersama Jisoo nanti malam. Ya… walaupun dia tidak tahu mau di bawa kemana oleh Jisoo nantinya.

            Jiyeon meneguk salivanya ketika dia dan Jisoo berhenti disebuah gang sempit yang tampak begitu seram namun terdengar suara dentuman musik yang sangat keras. Jiyeon pikir Jisoo akan mengajaknya ke suatu tempat yang begitu romantis—atau setidaknya tempat itu nyaman dan indah. Jisoo menoleh ke Jiyeon yang menatap datar ke gang sempit itu dan menyenggolnya.

“Jiyeon-ssi bilang mau mengenal Hong Jisoo yang nyata tapi sepertinya Jiyeon-ssi tidak tertarik,”celetuk Jisoo.

“Uh? Bukan begitu.. hanya saja apa yang akan kita lakukan disini? Aku takut,”lirih Jiyeon.

Tiba-tiba saja Jiyeon merasakan seseorang mengenggam tangannya. Siapa lagi kalau bukan Jisoo, toh yang ada di tempat ini sekarang hanya dia dan Hong Jisoo.

“Untuk apa takut? Aku ada di sini. Kalau terjadi sesuatu aku yang akan melindungimu,”balas Jisoo.

Deg..deg..deg.. Debar jantung Jiyeon berdetak sangat kencang mendengar ucapan Jisoo barusan. Aku akan melindungimu, ya siapa lagi yang Jisoo lindungi kalau bukan dirinya—Kim Jiyeon!

“Lebih baik sekarang kita masuk ke sana. Akan aku kenalkan kau dengan duniaku,”

            Keduanya telah sampai di dalam gang. Ternyata tempat ini tidak sekecil yang orang bayangkan. Di dalam gang itu ternyata sangat lebar. Suasana di tempat ini begitu gelap dan bunyi musik menyala dengan sangat kencang. Di setiap ujung tempat ini banyak sekali pasangan muda mudi yang bermesraan. Di tengah-tengah ada orang yang tengah menari dengan lihainya. Ada juga orang berpenampilan hip-hop tengah berlatih rap.

“Tempat apa ini?”tanya Jiyeon.

“Selamat datang di tempat nongkrongku!”seru Jisoo.

            Jiyeon duduk sendiri di salah satu sudut ruangan–atau lebih tepatnya tempat terisolasi ini. Dari sini dia dapat melihat kekasihnya tengah berbicara dengan beberapa gadis yang berpakaian minim bahkan sesekali gadis itu menyentuh Hong Jisoo. Ada rasa sesak di dalam dada Jiyeon melihat gadis-gadis itu menggoda kekasihnya dan dia juga kesal dengan Jisoo yang meninggalkannya sendiri di tempat asing.

“Kau datang dengan Hong Jisoo?”tanya seseorang.

Di sebelah Jiyeon sudah ada seorang laki-laki yang tidak dia kenalnya. Jiyeon hanya bisa menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan orang itu.

Heol Hong Jisoo sudah punya kekasih ternyata. Kenalkan namaku Choi Seungcheol,”ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya.

Jiyeon membalas jabat tangan Seungcheol dengan ragu-ragu. Saat Jiyeon mau melepaskan jabat tangan itu Seungcheol malah mengenggam tangannya lebih erat membuat Jiyeon jadi ketakutan.

Ya! Pergi sana,”teriak seseorang.

Seungcheol maupun Jiyeon langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata yang baru saja berteriak adalah Jisoo. Jiyeon menghembuskan nafasnya legah karena Jisoo datang juga akhirnya. Ketika Jisoo sudah mendekat ia langsung menarik tangan Seungcheol secara paksa untuk melepaskan jabat tangannya dengan Jiyeon.

“Pergi sana, jangan ganggu kekasihku!”usir Jisoo.

“Santai bro! Aku hanya ingin berkenalan dengannya. Ngomong-ngomong kekasihmu sangat cantik,”celetuk Seungcheol.

Saat hendak melayangkan pukulannya ke Seungcheol laki-laki itu langsung berlari sambil tertawa cekikikan. Melihat tingkah teman bermainnya Jisoo menggelengkan kepala dan kini duduk di sebelah Jiyeon.

“Jangan khawatir dia itu temanku,”kata Jisoo.

“Temanmu?”ulang Jiyeon.

“Ya dia itu temanku. Tapi dia tidak akan berani dengan aku jadi kau tidak usah khawatir,”

“Kenapa tidak berani?”tanya Jiyeon.

“Apa kau kedinginan?”kata Jisoo mengalihan pembicaraan.

Jisoo memegang tangan Jiyeon dan merasakan tangan kekasihnya sangat dingin. Wajar saja kalau Jiyeon kedinginan. Angin berhembus begitu kencang malam ini, dia tidak memakai jaket ditambah lagi karena rasa ketakutannya saat bersalaman dengan Seungcheol tadi.

“Sedikit,”jawab Jiyeon kikuk.

Mendengar jawaban kekasihnya Jisoo langsung melepaskan tangannya yang memegang Jiyeon lalu membuka jaket kuliet berwarna hitam yang dia kenakan. Kemudian Jisoo langsung meletakan jaket itu di pundak Jiyeon untuk melindunginya dari hawa dingin.

“Jisoo-ssi terima kasih,”ucap Jiyeon sambil tersenyum

“Hmmm…”

Jisoo hanya bergumam dan menatap Jiyeon dengan lekat. Senyum di wajah Jiyeon memudar ketika dia melihat tatapan Jisoo yang begitu dalam kepadanya. Perlahan Jisoo mengangkat tangannya lalu mengusap pipi Jiyeon. Hal ini membuat perasaan Jiyeon menjadi sangat kacau. Entah kenapa detak jantungnya berdetak kencang dari biasanya. Melihat Hong Jisoo di kegelapan malam bahkan dia kini mengusap pipinya membuat perasaan Jiyeon jadi terombang-ambing. Tidak pernah dia merasakan perasaan ini sebelumnya, namun Hong Jisoo membuatnya merasakan itu.

“Jisoo-ssi,”bisik Jiyeon.

Jisoo mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon. Otomatis Jiyeon langsung memejamkan kedua matanya. Ketika hidung mereka saling bersentuhan dan Jiyeon dapat merasakan dengan jelas hembusan nafas Jisoo, Jiyeon langsung meletakan kedua tangannya di pundak kekasihnya.

Chu…

Kedua bibir itu kini sudah saling bersentuhan. Tangan Jisoo kini sudah berpindah ke tengkuk Jiyeon. Tanpa memikirkan orang lain yang ada di sana Jisoo dan Jiyeon saling berciuman untuk menyalurkan perasaan mereka masing-masing melalui skinship tersebut. Jisoo pun terus menekan tengkuk Jiyeon untuk memperdalam ciuman mereka.

“Huaaa Hong Jisoo!!”

“Jisoo-ya kau?? Kau sudah punya pacar??”

“Jisoo jangan!!”

Suara jeritan dari perempuan yang naksir dengan Jisoo tidak membuat sepasang kekasih itu menghentikan aktivitasnya. Jiyeon tahu bahwa dia sangat gila namun dia merasa senang saat Jisoo menciumnya dengan lembut seperti ini. Jisoo sendiri makin memperdalam ciumannya tanpa memperdulikan gadis-gadis itu akan marah atau berteriak padanya.

            Karena ciuman mereka tadi Kim Jiyeon menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang ada di sana, terutama dari penggemar Jisoo. Tatapan mata yang menusuk itu membuat Jiyeon risih makanya dia meminta Jisoo untuk membawanya pergi dari tempat ini. Kini Jisoo dan Jiyeon sudah berada di sebuah kedai makan pinggir jalan untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.

“Jisoo-ssi apa kau selalu ke tempat itu setiap malam?”tanya Jiyeon.

“Hmm tidak juga. Aku masih punya tempat lain yang bisa aku kunjungi di malam hari,”jawab Jisoo santai.

“Sungguh? Apa orangtuamu tidak melarangmu untuk keluar malam?”

Jisoo yang baru saja akan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya mendadak meletakan kembali sendok itu.

“Mereka tidak tahu juga kalau aku pergi di malam hari,”jawab Jisoo.

“Kenapa bisa begitu?”heran Jiyeon.

“Karena mereka tidak peduli denganku,”

            Sepanjang jalan pulang Jiyeon dan Jisoo sama sekali tidak membuka mulut mereka untuk berbicara. Setelah percakapan tadi Jiyeon jadi tidak enak hati untuk bertanya lagi pada Jisoo. Melihat sikap Jisoo yang jadi murung juga membuat Jiyeon jadi gelisah.

“Aku pulang sendiri saja, Jisoo-ssi,”kata Jiyeon membuka pembicaraan.

“Apa katamu?”tanya Jisoo.

“Aku pulang sendiri saja. Antarkan saja aku sampai halte,”jawab Jiyeon.

“Tidak boleh!”

“Ke..kenapa memangnya? Aku tidak ingin membuat repot Jisoo-ssi yang harus mengantarkanku sampai di rumah,”heran Jiyeon.

“Aku tidak mau orang yang aku sayangi pulang sendiri di malam hari. Itu sangat berbahaya, kau tahu?!”

DEG!

Jisoo menyayanginya. Jadi Jisoo benar-benar memiliki perasaannya bukan hanya sekedar memintanya menjadi kekasih tanpa alasan pasti. Tsh.. sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Jiyeon yang tidak dapat membendung rasa bahagianya.

“Kau kenapa menangis? Jiyeon-ssi apa kau baik-baik saja?”tanya Jisoo panik.

Jiyeon langsung berhambur ke dalam pelukan Jisoo dan memeluk kekasihnya dengan erat. Jisoo mengusap punggung Jiyeon untuk menenangkan kekasihnya yang menangis—tanpa dia ketahui alasan pacarnya menangis seperti itu.

“Berhenti menangis. Ada apa si?”tanya Jisoo.

“Aku sangat menyukai Jisoo-ssi. Siapapun Hong Jisoo itu aku tetap menyukaimu,”kata Jiyeon.

Tanpa Jiyeon tahu diam-diam Jisoo tersenyum tipis lalu dia membalas perkataan Jiyeon barusan.

“Aku juga menyukai Jiyeon-ssi jadi berhentilah menangis,”ujar Jisoo.

“Sejak kapan?”

Jisoo yang sedang memperhatikan jalanan dari jendela menoleh ke Jiyeon yang duduk di sampingnya. Dia menaikan aliasnya bertanda kalau dia tidak mengerti dengan pertanyaan Jiyeon barusan.

“Maksudnya sejak kapan kau menyukaiku?”Tanya Jiyeon.

“Ah itu…”gumam Jiyeon yang dibalas anggukan oleh Jiyeon, “Sejak aku pindah ke sekolah kita. Semester 2 saat kita masih kelas 10,”lanjutnya.

Jinjja? Tapi kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”bingung Jiyeon.

“Karena aku merasa Kim Jiyeon tidak pantas memiliki seorang pacar yang nakal sepertiku,”balas Jisoo.

“Tapi kau adalah orang yang baik. Kau tahu itu, kan?”

“Untuk itu aku mengatakan padamu selama kita berpacaran aku akan menunjukan diriku yang sebenarnya. Lalu kalau Jiyeon-ssi tidak menyukai itu kau bisa pergi meninggalkanku sendiri,”ujar Jisoo.

“Baiklah aku akan semakin giat mengenal Jisoo yang sebenarnya. Maka dari itu bantu aku mengenal dirimu,”pinta Jiyeon.

Jisoo mengangguk lalu dia menarik kepala Jiyeon untuk bersender di bahunya. Hong Jisoo merasa sangat beruntung karena orang yang dia suka juga menyukainya namun karena itu juga dia menjadi gundah karena takut akan memberikan contoh buruk bagi kekasihnya.

            Pada pukul 9 malam Jiyeon merasa tidak bisa tidur karena akhir-akhir ini mereka memiliki banyak tugas. Jiyeon membaringkan kepalanya di atas meja belajar sambil menatap deretan angka-angka yang tertulis di buku cetaknya. Sigh.. Jiyeon tidak pandai dalam matematika apalagi melihat gurunya yang begitu kejam memberikan tugas-tugas yang banyak padahal muridnya belum pada mengerti. Di saat sedang melamun tiba-tiba saja Jiyeon teringat dengan Jisoo, kekasihnya. Jiyeon heran pada dirinya sendiri kenapa dia bisa lupa kalau dia memiliki kekasih yang pandai! Buru-buru Jiyeon membalikan posisi duduknya seperti semula dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu mencari nomor Hong Jisoo dan menghubunginya.

            Sekali, Jiyeon mencoba menghubungi Jisoo namun gagal. Tidak biasanya Jisoo tidak mengangkat telfonnya maka dari itu Jiyeon tidak pantang semangat untuk menelpon Jisoo. setelah menunggu seseorang akan menjawab panggilannya dari sana akhirnya kesampaian juga. Hong Jisoo telah mengangkat panggilannya.

“Yeoboseyo Jiyeon-ssi?”

“Jisoo-ssi apa aku menganggu?”

“Tidak, ada apa menelponku malam-malam? Kau belum tidur?”

“Belum aku masih mengerjakan tugasku,”

“Apa kau memiliki kesulitan dalam PR-mu?”

“Ya ada beberapa soal matematika yang tidak aku menger—”

“YA HONG JISOO AKU AKAN MEMBALAS PERBUATAN—AARGHH!”

Jiyeon terdiam ketika mendengar suara teriakan dari sebrang sana—yang jelas orang lain yang berteriak bukan Jisoo. Seketika Jiyeon merasa panik dan penasaran apa yang sedang Jisoo lakukan. Sedang di mana kekasihnya saat ini?

“Jisoo-ssi kau lagi di mana dan itu tadi apa?”

“Maaf Jiyeon-ssi nanti aku akan menghubungimu lagi dan aku akan mengirimkan jawaban PR kita setelah sampai di rumah. Saranghae,”

“Tapi Jisoo—“

Sial. Jisoo sudah mematikan telpon dari sebrang sana. Kini keringat dingin menjalar keseluruh tubuh Jiyeon. Apa tadi itu? Siapa yang berteriak? Apa yang sedang Jisoo lakukan? Kenapa dia menjadi khawatir dan memiliki firasat buruk seperti ini. Oh… Kim Jiyeon berharap semua baik-baik saja dan Jisoo terhindar dari marabahaya.

“Semalam apa yang kau lakukan?”

Pertanyaan Jiyeon membuat Jisoo yang semulanya sedang tersenyum mengamati kekasihnya dari jarak dekat menjadi terdiam seribu bahasa. Jiyeon mengamati gerak-gerik Jisoo yang begitu gelisah saat ini. Dia jadi tambah penasaran apa yang telah kekasihnya lakukan semalam sampai-sampai seseorang menghardiknya seperti itu.

“Bukan apa-apa. Tidak ada urusannya denganmu kok,”jawab Jisoo santai.

“Tentu saja itu ada!”sela Jiyeon.

Jisoo mengerutkan keningnya, “Apa urusannya denganmu Jiyeon-ssi?”tanya Jisoo.

“Kau bilang aku harus mengenalmu selama kita pacaran dan kau bilang akan memberitahu segalanya tapi kenapa kali ini kau menyembunyikannya dariku?”cerocos Jiyeon.

“Aku menghabisi seseorang,”celetuk Jisoo.

“Apa?”

Jiyeon menatap kekasihnya tidak habis pikir. Bahkan kini setelah mengatakan hal itu Jisoo terlihat begitu santai. Jiyeon menghembuskan nafasnya secara kasar lalu menunjuk Jisoo dengan jari telunjuknya.

“Jangan bohong denganku, Jisoo-ssi! Kau tidak mungkin melakukannya, kan?”tanya Jiyeon lagi.

“Aku menghajarnya semalam bahkan tangannya sampai patah. Aku mungkin melakukannya Jiyeon-ssi bahkan telah aku lakukan,”balas Jisoo.

“Jisoo-ssi!!”pekik Jiyeon.

Gadis berambut panjang yang tidak tahan mendengar seluruh kejujuran dari kekasihnya langsung meninggalkan Jisoo seorang diri di atap sekolahan mereka. Jisoo yang melihat kepergian Jiyeon begitu hanya bisa mengacak rambutnya. Sial! kenapa orang itu harus berteriak si semalam, batin Jisoo.

            Sepulang sekolah Jiyeon menunggu bus di halte seperti biasa. Kali ini dia tidak ditemani oleh Nahyun karena sahabatnya itu ada rapat mendadak untuk persiapan sebuah lomba—Nahyun adalah anggota OSIS di sekolah mereka. Saat bus ke arah tujuannya berhenti tepat di depannya dan pintu bus itu telah terbuka, Jiyeon melangkahkan tungkainya untuk masuk ke dalam bus namun tiba-tiba saja…

“Kau tidak boleh pulang!”

Tangan Jiyeon di tahan oleh seseorang yang sudah pasti Jiyeon tahu orangnya. Siapa lagi kalau bukan Hong Jisoo. Jiyeon mengalihkan pandangannya untuk mengabaikan keberadaan Jisoo lalu dia berusaha melepaskan tangan Jisoo dari tangannya dengan cara menghembaskan tangannya kuat-kuat, namun apa daya Hong Jisoo terlalu kuat untuk di lawan seperti itu.

Ya, ayo berbicara!”tegur Jisoo.

“Aku tidak mau!”tolak Jiyeon.

“Oh ayolah Jiyeon-ssi aku akan menjelaskan baik-baik,”

“Menjelaskan ap—“

Haksaeng jadi naik atau tidak?”celetuk supir bus yang bingung melihat pertikaian Jiyeon dan Jisoo.

Jisoo dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya, “Tidak, paman!”pekik Jisoo.

Ya!!”protes Jiyeon.

Baru saja Jiyeon mau mendorong Jisoo bus—yang harusnya dia tumpangi itu sudah pergi meninggalkannya di halte. Jiyeon menghela nafas secara kasar lalu menatap ke sumber yang membuatnya tidak jadi pulang.

“Aku mau pulang,”kata Jiyeon geram.

“Kau tidak boleh pulang,”kekang Jisoo.

“Aku tidak mau melihatmu Ji—“

Jisoo tiba-tiba saja mendaratkan bibirnya di bibir Jiyeon. Mendapatkan ciuman yang begitu mendadak apalagi di tengah-tengah pertikaian ini membuat Jiyeon tidak senang. Maka dari itu dia mendorong dada bidang Jisoo untuk segera menyingkir darinya namun tangan Hong Jisoo yang sudah berada di tengkuknya menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Air mata tiba-tiba saja membasahi pipi Jiyeon karena diperlakukan seperti ini oleh Jisoo. Ketika Jisoo sadar bahwa kekasihnya sedang menangis dia menghentikan aktivitasnya dan menjauhi wajahnya dari Jiyeon.

“Kau ke—“

Plak!! Jiyeon mendaratkan sebuah tamparan yang keras di pipi kanan Jisoo. Setelah menampar Jisoo dia berlari dari halte untuk meninggalkan orang yang baru saja melukai hatinya. Jisoo yang masih berdiri di tempatnya tadi hanya bisa mematung sambil memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Jiyeon. Terasa sangat nyeri. Rasanya sakit namun bukan bekas tamparan yang membuat Jisoo merasakan sakit itu, melainkan perlakuannya yang telah membuat Jiyeon menangislah yang menyebabkan rasa nyeri itu.

            Gadis itu menangis sesegukan di kamarnya sejak tadi. Sudah dua jam lamanya dia menangis di dalam kamar dan air mata itu tak kunjung mengering. Dia sangat lelah namun air mata jatuh dengan sendirinya membuat Jiyeon tidak bisa berbuat apa-apa. Baru kali ini dia mendapatkan perlakuan seperti tadi dari Jisoo. Jisoo tidak pernah bertindak seperti itu sebelumnya sehingga hal ini benar-benar syok bagi Jiyeon.

Hiks..hiks.. jahat,”isak Jiyeon.

            Seorang pemuda bolak-balik berjalan di depan sebuah rumah. Perasaannya sungguh kalut saat ini karena dia tidak tahu apa yang dapat dia lakukan. Jika dia memanggil orang yang berada di dalam rumah itu dia sudah yakin kalau si pemilik rumah tidak akan membukakan pintu untuknya. Hong Jisoo yang lelah akhirnya memilih untuk duduk di depan pagar rumah Jiyeon, menanti mana tahu saja kekasihnya itu akan keluar dari rumah dan dia bisa menghadang Jiyeon untuk mengajaknya berbicara. Ketika Jisoo menundukan kepalanya untuk memperhatikan semut-semut yang berjalan di dekat kakinya terdengar suara seseorang.

“Apa yang Anda lakukan di depan rumah saya, haksaeng?”tanya seseorang.

            Jisoo tersenyum tipis ketika ibu Jiyeon meletakan secangkir teh di atas meja. Ternyata wanita yang menegurnya tadi adalah ibu Jiyeon, betul-betul kesempatan emas untuknya. Setelah meletakan teh di meja ibu Jiyeon yang bernama Haeyoung duduk bersama Jisoo dan menanyakan apa yang membuat Jisoo menunggu lama di depan rumah.

“Aku membuat sebuah kesalahan ke Jiyeon maka dari itu aku ingin meminta maaf padanya, bibi,”aku Jisoo.

Bukannya marah, Haeyoung malah tersenyum legah mendengarnya. Haeyoung langsung mengusap pucuk kepala Jisoo dengan penuh sayang. Deg! Jisoo tertegun apalagi senyum keibuan itu ditujukan untuknya.

“Kau anak yang baik Jisoo-ssi. Aku senang Jiyeon punya kekasih sepertimu,”kata Haeyoung.

“Terima kasih atas pujiannya bibi,”kikuk Jisoo.

“Kalau begitu tunggulah sebentar bibi akan menyuruh Jiyeon untuk segera keluar. Nikmati tehnya dulu!”

Jisoo mengangguk lalu mengambil cangkir teh itu dan menyeduhnya. Dia berharap Jiyeon akan lunak dan mau berbicara bersamanya.

“Ada apa?”

Suara yang terkesan dingin itu menyadarkan Jisoo yang sejak tadi melihat ke luar. Dia langsung berdiri dan tersenyum lebar ketika melihat Jiyeon mau menemuinya. Namun senyumnya perlahan memudar ketika melihat mata Jiyeon yang bengkak akibat menangis karena dirinya.

“Uhmm… Jiyeon-ssi ayo berbicara!”ajak Jisoo.

“Tidak mau!”tolak Jiyeon.

“Aku mau meminta maaf padamu dan menjelaskan semuanya,”kata Jisoo.

“Aku bilang aku tidak ma—“

“Jiyeon-ah sebaiknya kau selesaikan masalahmu dengan Jisoo. Pergi sana jalan-jalan!”celetuk Haeyoung.

Jisoo langsung menatap ibu Jiyeon dan tersenyum padanya. Matanya mengisyaratkan terima kasih telah membantunya untuk berbicara dengan Jiyeon.

“Ya sudah,”rutuk Jiyeon.

            Di sebuah taman kini Jiyeon dan Jisoo tengah duduk berdua sambil menikmati pemandangan yang ada. Suasana di antara keduanya begitu kikuk karena Jiyeon masih terbawa emosi karenanya. Tidak sengaja Jisoo melihat seorang pedagang permen kapas. Ia tersenyum lalu melirik Jiyeon yang kini tengah acuh tak acuh.

“Kau mau permen kapas?”Tanya Jisoo.

“Tidak,”jawab Jiyeon kikuk.

“Lalu apa yang kau mau?”tanyanya lagi.

“Aku mau pergi dari sini,”ujar Jiyeon.

“Baik kalau kau mau pergi dari sini,”balas Jisoo sehingga Jiyeon menoleh kepadanya, “Tapi kau harus memaafkanku terlebih dahulu,”lanjut Jisoo.

Wajah Jiyeon semakin menekuk karena Jisoo memaksanya untuk memaafkan dirinya. Memaafkan? Dia masih sakit hati karena perbuatan Jisoo ditambah juga pengakuannya yang menghajar anak orang.

“Jiyeon-ssi aku tahu kau marah karena perbuatanku maka dari itu aku mau meminta maaf padamu. Tolong maafkan aku, aku menyesal sudah melukaimu tadi,”Sesal Jisoo.

“Jisoo-ssi begitu jahat tadi,”lirih Jiyeon.

Jisoo langsung membawa Jiyeon ke dalam pelukannya, “Maka dari itu aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Jadi, maafkan aku ya?”pinta Jisoo.

Tanpa di duga Jiyeon menganggukan kepalanya begitu saja. Jisoo pun bernafas legah karena akhirnya Jiyeon mau memaafkannya.

“Untuk ucapanku di sekolah tadi, itu tidak seperti yang kau bayangkan. Jadi jangan berpikir yang bukan-bukan!”kata Jisoo.

Jiyeon mengangguk pelan, perasannya sedikit legah namun tidak tahu kenapa batin Jiyeon masih merasa ada yang mengganjal dari teriakan semalam dan ancaman orang itu kepada kekasihnya.

Cha! Peringkat pertama di dapatkan oleh Hong Jisoo!”

Seluruh siswa bertepuk tangan ketika wali kelas mereka mengumumkan kalau mid semester ini Jisoo kembali mendapatkan peringkat 1. Memang tidak diragukan lagi kalau Jisoo lah yang pantas mendapatkan peringkat pertama di kelas mereka. Kini Jisoo sudah berdiri di depan kelas untuk mengambil lapor hasil belajarnya selama 3 bulan ini setelah itu dia duduk di tempatnya kembali.

“Peringkat kedua ada Yook Sungjae. Kau harus belajar lebih giat untuk menyaingi Jisoo, Sungjae-ssi.”

Laki-laki bernama Sungjae itu berjalan ke depan kelas untuk mengambil hasil pembelajarannya. Setelah selesai dia kembali duduk dan wali kelas mengumumkan peringkat selanjutnya.

“Peringkat selanjutnya adalah Kim Jiyeon. Selamat Jiyeon-ssi prestasimu meningkat tajam selama 3 bulan ini,”

Jiyeon menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Nahyun yang ada di samping Jiyeon langsung mendorong temannya itu untuk mengambil lapornya. Sahabat karib Kim Jiyeon itu juga berbahagia mendengar kabar menyenangkan ini. Jiyeon pun berdiri lalu mengambil hasil laporannya. Saat di depan kelas dia menyempatkan diri untuk melirik kekasihnya, Hong Jisoo. Jisoo memberikan senyuman dan mengacuhkan kedua jempolnya untuk Jiyeon, membuat gadis itu tersenyum malu di depan kelas.

Aigoo Jiyeon-ssi senang sekali melihat nilaimu meningkat seperti ini. Kalau kau giat begini kau akan mendapatkan peringkat dua atau satu mengalahkan Sungjae dan Jisoo. Kau juga bisa masuk ke Seoul Nation University kalau begini,”puji wali kelas.

“Terima kasih atas pujiannya, pak.”ujar Jiyeon.

Kini Jiyeon berjalan kembali ke tempat duduknya. Tanpa Jiyeon sadari sejak tadi seseorang menatapnya dengan pandangan sinis karena tidak senang dengan keberhasilan Jiyeon.

“Aku pulang duluan Nahyun-ah!”

“Pergilah dan nikmati kencanmu!”ledek Nahyun

Jiyeon tersenyum malu kemudian dia melambaikan tangannya untuk Nahyun dan barulah dia pergi dari kelas. Jisoo bilang dia ingin mentraktir Jiyeon makan karena dia mendapatkan peringkat satu dan juga karena prestasi Jiyeon semakin meningkat. Makanya hari ini Jiyeon dan Nahyun tidak bisa pulang bersama. Nahyun mengerti hal itu dan dia mengizinkan Jiyeon untuk berkencan bersama Jisoo.

“Selamat!”

Jisoo menoleh ke pacarnya yang baru saja mengatakan ‘selamat’. Sudah berapa kali Jisoo mendengar ucapan selamat dari Jiyeon? Mungkin sudah berpuluh kali sejak jam istirahat tadi.

“Selamat juga untukmu,”kata Jisoo sambil tersenyum manis.

“Aku yang harusnya berterimakasih, semenjak berpacaran denganmu aku jadi lebih semangat untuk belajar. Pasti akan memalukan kalau nilaiku jauh lebih rendah darimu,”rutuk Jiyeon.

Jisoo mengacak rambut Jiyeon karena dia begitu gemas dengan tingkah Jiyeon saat ini. Bagi Jisoo kekasihnya itu akan terlihat imut ketika dia sedang kesal seperti saat ini.

“Kau tidak mau memberikan aku hadiah?”tanya Jisoo tiba-tiba.

“Hadiah? Apa yang kau mau?”tanya balik Jiyeon.

Tiba-tiba saja Jisoo mengetuk bibirnya membuat seorang Kim Jiyeon tercengang lalu diikuti semburat merah muncul di kedua pipinya. Jisoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa permintaannya salah sampai Jiyeon tertunduk malu seperti ini?

“Sekarang?”lirih Jiyeon.

“Ya tentu. Lagi pula tidak ada yang kita kenalkan disini,”

“Hmmm… Baiklah. Tutup matamu dan menunduklah sedikit, kau terlalu tinggi.”oceh Jiyeon.

Hong Jisoo langsung melakukan apa yang Jiyeon perintahkan. Dia tersenyum lalu menutup kedua matanya rapat-rapat. Setelah jarak wajahnya dan Jisoo sejajar Jiyeon memberanikan diri untuk mencium kekasihnya. Ini pertama kalinya dia mencium Jisoo terlebih dahulu, biasanya Jisoo yang memulai tapi entah kenapa itu sulit kalau dia yang memulainya duluan—

“Kenapa lama sekali? Hei Kim Jiyeon apa kau kabur?”tanya Jisoo.

Jiyeon menghembuskan nafasnya secara perlahan kemudian dia merengkuh pipi kekasihnya itu dan ikut memejamkan kedua matanya. Chu~ bibir ranum Jiyeon kini sudah menyentuh bibir kekasihnya, Hong Jisoo. Selama lima detik tidak ada reaksi apapun dari keduanya namun saat Jiyeon hendak menyudahi ciuman itu Jisoo malah menarik tengkuknya dan mulai melumat bibir Jiyeon. Tanpa penolakan Jiyeon tetap memejamkan matanya sembari menahan perasaannya yang kini tidak beraturan. Bahkan secara tidak sadar Jiyeon sudah melingkarkan tangannya di leher Jisoo.

“Tidak dapat dipercaya. Jadi dia menggodanya?”

“Hah.. aku pikir dia benar-benar polos. Nyatanya dia rubah,”

“Memanfaatkan anak polos seperti Jisoo untuk mendapatkan peringkat tinggi!”

Semua murid di dalam kelas tengah bergosip tentang selembaran kertas yang berada di meja mereka masing-masing. Sebuah gambar mengabadikan Jiyeon dan Jisoo yang berciuman sepulang sekolah kemarin. Entah siapa yang membuat ini semua, tiba-tiba saja ketika siswa datang kertas sudah berada di atas meja mereka masing-masing.

Ya Kim Nahyun kau tidak tahu apa-apa tentang ini?”tanya Jini menegur Nahyun yang sejak tadi hanya bisa diam di tempatnya.

“Ini bukan hak-ku untuk berbicara,”jawab Nahyun.

Memang ini bukan hak-nya untuk memberi keterangan tentang semua di foto ini walaupun Nahyun tahu hal ini sangat wajarkan jika dilakukan oleh sepasang kekasih? Tapi Nahyun tidak bisa mengatakan kalau Jiyeon dan Jisoo sebenarnya berpacaran karena itu bukan haknya.

Baru saja dibicarakan Jiyeon masuk ke dalam kelas dengan senyum mengembang di bibirnya. Tetapi senyumnya memudar ketika semua orang yang ada di dalam kelas—kecuali Nahyun—sedang menatap tajam ke arahnya. Jiyeon berusaha untuk kembali tersenyum tetapi seseorang malah menghentakan meja sehingga Kim Jiyeon terkejut setengah mati. Mimi –orang yang menghentak meja berjalan menghampiri Jiyeon.

“Aku pikir kau memang hebat bisa mengambil peringkatku, ternyata caramu curang!”hardik Mimi.

“Ma-maksudmu?”tanya Jiyeon heran.

Ya Mimi jangan membentaknya seperti itu! Kau tidak tahu apa-apa,”pekik Nahyun dari tempatnya.

“Apa yang kau bicarakan?”tanya Jiyeon.

Mimi mengambil sebuah kertas yang ada di salah satu meja lalu meremuknya dan melemparkan kertas itu tepat di depan wajah Jiyeon. Dengan tubuh yang sudah menegang Jiyeon berjongkok untuk mengambil kertas yang dilempar oleh Mimi. Setelah dia berdiri kembali Jiyeon melihat isi kertas itu. Dia tercenggang melihat gambarnya dan Jisoo dipotret oleh seseorang tanpa mereka ketahui.

“Kau menggoda Hong Jisoo untuk mendapatkan peringkat tinggi, kan? Setelah kau menggodanya pasti kau memanfaatkannya. Dasar licik!”pekik Mimi.

“Bukan seperti itu Mimi-ya,”elak Jiyeon.

“Sudahlah mengaku saja Kim Jiyeon. Aku pikir kau gadis paling polos di kelas ini ternyata kau tidak terduga!”sahut teman kelas yang lain.

Semua orang kini menyoraki Jiyeon. Nahyun yang tidak tega langsung menyusul ke depan kelas. Baru saja tiba di depan dia menjambak keras rambut Mimi sehingga orang lain terkejut, termasuk juga Jiyeon.

Ya kau gila! Aku tidak ada urusan denganmu!”pekik Mimi.

“Kau sudah keterlaluan, bodoh! Kau tidak tahu apa-apa jadi jangan mengatakan hal yang bukan-bukan kepada sahabatku!”balas Nahyun.

Jiyeon berusaha melerai perkelahian antara Nahyun dan Mimi namun dia didorong oleh Mimi sehingga keseimbangan tubuh Jiyeon menjadi tidak seimbang. Untungnya seseorang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Ya itu Hong Jisoo sudah datang. Lihatlah dia memegang Jiyeon!”seru Jini.

Keadaan kelas kini menjadi sunyi dari yang semulanya ricuh akibat perkelahian Nahyun dan Mimi. Mereka –Nahyun dan Mimi juga sudah berhenti berkelahi dan kini memperhatikan Jiyeon yang tengah menatap Jisoo dengan pandangan senduh.

“Ada apa?”Tanya Jisoo lembut pada Jiyeon.

“Huaaa Hong Jisoo apa benar kau sudah digoda oleh perempuan itu?”celetuk Jeonghan.

“Apa?”heran Jisoo.

“Ada orang yang meninggalkan kertas ini di kelas kita. Kau dan Jiyeon sedang berciuman—tapi intinya apa benar dia menggodamu?”Tanya Sungyoon.

“Jisoo-ya..”lirih Jiyeon.

Jisoo mengepalkan kedua tangannya. Emosinya kini sudah sampai keubun-ubunnya. Jika dia tidak ingat kalau ini sekolah mungkin saja dia sudah menghajar seluruh orang yang menyudutkan kekasihnya seperti tadi.

“Tenanglah aku akan mengatakan yang sejujurnya pada mereka,”kata Jisoo.

Ia menarik lengan Jiyeon untuk mengajak Jiyeon berdiri di depan kelas dan menghadap keseluruh teman sekelasnya. Jiyeon hendak melepaskan lengannya yang dipegang oleh Jisoo, tetapi Jisoo malah mengenggam tangannya saat ini.

“Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kalian saat ini tetapi apa yang ada dipikiran kalian semua salah. Aku dan Jiyeon memang sepasang kekasih. Tidak ada kata-kata menggoda, Jiyeon tidak pernah menggodaku. Aku yang mengajaknya berkencan sebulan yang lalu,”ucap Jisoo lantang.

“Tapi kalau aku perhatikan gadis itu sering sekali mendekatimu duluan. Kau kan tidak pernah bersosialisasi dengan yang lain apalagi perempuan di kelas ini,”celetuk seseorang.

“Lalu apa aku tidak boleh mengencani Jiyeon hanya karena aku tidak pernah menghampirnya duluan? Selama ini hanya aku, Jiyeon dan Nahyun yang tahu tentang hubungan kami jadi aku harap kalian tidak mengatakan hal-hal bodoh tentang hubunganku dan Jiyeon,”

“Tetap saja Jisoo-ya, semenjak dia pacaran denganmu peringkat dia menjadi tinggi padahal biasanya dia ranking 20-an,”oceh Mimi.

“Itu karena niat dan usahanya maka Jiyeon bisa mendapatkan peringkat 3 di kelas. Kenapa? Kau merasa tertandingi dan tersingkirkan?”

Mimi membungkam mulutnya setelah mendengar ucapan Jisoo yang terdengar begitu sarkastis. Jiyeon sendiri sudah memucat dan tangannya mengeluaran keringat dingin. Jisoo bisa merasakannya maka dari itu dia kembali mengenggam erat tangan Jiyeon.

“Apa ada yang ingin kalian katakan lagi? Ayo bicarakan sekarang jangan hanya di depan Jiyeon kalian berani berbicara. Kenapa tidak mengatakannya ketika aku ada disini?”tantang Jisoo.

“Ya sudah semuanya kembali duduk di tempat masing-masing. 5 menit lagi ibu Lee akan mengajar jadi lebih baik kita semua bersiap-siap,”celetuk ketua kelas mereka.

Semua siswa duduk di tempatnya masing-masing. Jiyeon melepaskan genggaman tangan Jisoo kemudian dia menghampiri Nahyun yang penampilannya begitu berantakan. Dia membantu Nahyun untuk membereskan rambutnya yang kusut.

“Harusnya kau tidak berkelahi hanya karena aku Nahyun,”tegur Jiyeon.

“Kupingku sudah panas sejak tadi Jiyeon-ah. Kau pikir aku tahan mendengar ucapan mereka seperti itu untukmu?”

“Aku tahu. Terima kasih untuk semuanya tapi mohon jangan diulangi lagi,”

“Cola?”

Jiyeon menerima cola dingin pemberian Jisoo. Dia membuka cola itu lalu meneguknya. Harinya benar-benar buruk. Jiyeon merasa sangat ketakutan karena orang-orang membencinya saat ini. Tanpa sadar air mata Jiyeon turun membasahi pipinya. Jisoo tahu kekasihnya menangis saat ini. Dia merasa menyesal karena ini juga ulahnya. Maka dari itu Jisoo langsung membawa Jiyeon ke dalam pelukannya. Tangisan Jiyeon semakin terdengar kencang, Jisoo mengusap punggung Jiyeon untuk menenangkannya.

“Maafkan aku Jiyeon-ssi..”sesal Jisoo.

            Malam harinya saat Jiyeon sedang belajar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas Jiyeon berdiri untuk membukakan pintu. Begitu terkejutnya Jiyeon saat tahu siapa yang baru saja mengetuk pintu. Kalian tahu siapa? Itu adalah pacarnya sendiri!

“Hai Jiyeon-ssi sedang belajar ya?”tanya Jisoo.

“Ji..Jisoo-ssi..”

Jiyeon benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi dengan ini semua. Dia benar-benar kaget kalau Hong Jisoo akan datang ke rumahnya lagi.

“Ayo makan malam dulu!”panggil ibu Jiyeon.

.

            Terjadilah acara makan malam kecil-kecilan di rumah Jiyeon. Hanya ada 3 orang yang makan di rumah ini. Jiyeon, Jisoo dan ibunya Jiyeon. Jiyeon terus tersenyum di depan ibunya karena dia tidak ingin ibunya tahu kalau Jiyeon sedang memiliki masalah hari ini. Saat Jisoo hendak menyumpitkan ikan yang ada di meja, ibu Jiyeon mengambilkannya untuk Jisoo. Sebelum meletakan ke piring Jisoo ibunya Jiyeon memisahkan daging ikan dari tulangnya, setelah itu barulah beliau meletakannya ke piring Jisoo. Melihat perlakuan ibu Jiyeon kepadanya hati Jisoo merasa tersentuh bahkan matanya berkaca-kaca. Dia tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya.

“Jisoo-ssi kau tidak makan?”tegur Jiyeon.

Jisoo menoleh dan tersenyum kikuk kepada Jiyeon, “Eoh aku makan..”. Dengan sesuap penuh Jisoo memakan nasi beserta ikan yang dipotong oleh ibunya Jiyeon.

.

Di dalam hatinya Jisoo merasa iri dengan Jiyeon yang memiliki ibu sebaik itu. Tidak seperti ibunya yang menelantarkannya begitu saja bahkan tidak pernah mengajaknya untuk berbicara di rumah. Kalau bukan karena keterpaksaan Jisoo pindah ke Korea setelah di keluarkan dari sekolahnya di Amerika berulang kali, mana mau ibunya merawat Jisoo. Sejak dia kecil ibu dan ayahnya telah berpisah. Setelah bercerai ayah Jisoo menikah lagi dengan wanita yang berasal dari Amerika. Sementara ibunya tinggal sendiri di Korea tanpa pernah menghubunginya. Terakhir kalinya ayah Jisoo dan ibu tirinya tidak sanggup mengurus Jisoo yang nakal mengirim Jisoo kembali ke Korea untuk dirawat oleh ibunya.

“Aigoo Jisoo-ssi kalau masih lapar kau bisa tambah lagi,”tegur ibu Jiyeon.

“Te..terima kasih bi,”balas Jisoo.

.

            Jisoo dan Jiyeon pergi berjalan-jalan di malam hari ini. Ibu Jiyeon mengizinkan mereka untuk menghabiskan waktu berdua. Tampaknya ibu Jiyeon benar-benar menyukai Jisoo makanya membolehkan anaknya pergi bersamanya di malam hari. Karena tidak memiliki tujuan Jiyeon dan Jisoo berjalan-jalan bersama.

“Jiyeon-ssi apa kau punya tempat yang ingin kau kunjungi?”tanya Jisoo.

“Sepertinya tidak tapi…”

“Tapi apa?”tanya Jisoo lagi.

“Bisakah kau membawaku ke tempat di mana Jisoo-ssi bisa meredahkan stresmu?”pinta Jiyeon.

.

            Tempat ini benar-benar asing untuk Jiyeon dan seumur hidupnya dia tidak pernah terfikirkan untuk pergi ke tempat ini. Jisoo mengajaknya untuk ke lintasan balap liar. Jisoo bilang kalau dia sedang stres akan pergi melihat balapan liar yang ada di sini. Banyak sekali orang yang berdatangan ke tempat ini namun bukan sembarang orang. Gadis-gadis yang ada di sini berpakaian minim sehingga Jiyeon jadi heran sendiri. Namun tidak mungkin dia mengajak Jisoo untuk kembali karena dialah yang pertama kali memintanya untuk kemari.

“Kenapa Jisoo-ssi suka ke tempat ini?”tanya Jiyeon.

“Sangat asik melihat orang melakukan balapan. Mereka mengendarai motor dengan sangat santai seakan-akan tidak ada beban yang akan mereka hadapi,”jawab Jisoo.

“Oh begitu.. Tapi apa boleh anak SMA seperti kita kemari?”

“Sebenarnya tidak tapi aku kenal seseorang,”

“Siapa?”

“Hong Jisoo, itu kau?”

Jiyeon dan Jisoo menoleh saat seseorang memanggil Jisoo. Melihat siapa yang memanggilnya Jisoo langsung berdiri dan menyambut kenalannya. Orang itulah yang membuat Jisoo bisa masuk ke tempat ini dengan leluasa.

“Daeryung hyung apa kabar?”tanya Jisoo.

“Baik. Kau bagaimana? Ya siapa cewek itu?”tanya Daeryung.

“Aku juga baik.. Kenalkan dia Kim Jiyeon, kekasihku..”

Daeryung tersenyum menggoda ketika Jisoo memperkenalkan Jiyeon sebagai kekasihnya. Melihat Daeryung, Kim Jiyeon sendiri hanya bisa tertunduk. Kenalan Jisoo benar-benar menyeramkan!

“Oh ya sepatumu yang kupinjam sudah kering. Bagaimana kalau kau ambil nanti setelah pertandingan selesai?”

“Baiklah hyung..”

“Aku tinggal dulu ya, nikmati kemesraanmu dengan pacarmu yang cantik itu hahaha..”

Setelah Daeryung pergi Jisoo kembali menghabiskan waktunya bersama Jiyeon. Keduanya duduk di salah satu kursi dan memperhatikan yang ada di depan mereka dengan pandangan datar. Tak sengaja mereka melihat sepasang kekasih tengah bercumbu. Jisoo dan Jiyeon saling memandangi dan perlahan Jisoo memajukan wajahnya untuk mencium Jiyeon. Jiyeon langsung memejamkan matanya dan membalas ciuman dari kekasihnya tanpa mereka sadari seseorang sedang menatap tajam ke arah mereka.

.

            Daeryung mengatakan kepada Jisoo dan Jiyeon untuk menunggunya di depan bar terlebih dahulu karena dia harus mengambil sepatu milik Jisoo yang dia titipkan di bar tersebut. Udara di luar terasa begitu dingin, kini sudah pukul 9 malam. Jisoo sebenarnya ingin mengantarkan Jiyeon pulang terlebih dahulu tapi Jiyeon bilang dia tidak mempermasalahkan bila pulang terlambat. Jiyeon merasa kedinginan, Jisoo yang melihat itu langsung merangkul Jiyeon agar membuatnya merasa lebih hangat.

“Terima kasih Jisoo-ssi,”ujar Jiyeon.

“Sama-sama. Oh ya Jiyeon-ssi..”panggil Jisoo.

“Ya ada apa?”tanya Jiyeon.

“Aku minta maaf untuk kejadian tadi karena aku kau—“

“Bukan salahmu kok. Ini salah orang yang menyebari berita itu. Siapa si yang menyebarkannya,”rutuk Jiyeon.

Jisoo tertawa apalagi melihat ekspresi wajah Jiyeon yang benar-benar geram dengan orang yang menyebarkan selembaran itu ke teman sekelas mereka. Melihat Jisoo tertawa Jiyeon juga tidak dapat membentuk tawanya sehingga sepasang kekasih itu tertawa bersama. Tiba-tiba saja Jiyeon melingkarkan tangannya dipinggang Jisoo. Kim Jiyeon memeluk kekasihnya dengan sangat erat.

“Ada apa?”tanya Jisoo.

“Tidak ada hanya saja aku ingin memelukmu,”jawab Jiyeon.

“Kau sudah pandai melakukan skinship rupanya,”canda Jisoo.

Jiyeon tertawa, “Aniya..”elaknya. Karena terlalu gemas mendengar jawaban Jiyeon yang disertai dengan aegyo Jisoo mengusap pucuk kepala Jiyeon dengan penuh kasih sayang setelah itu mencium keningnya.

“Tanpa aku bilang kau tahu kalau aku selalu menyanyangimu, kan?”tanya Jisoo.

“Aku tahu melebihi siapapun,”jawab Jiyeon.

“Ehemmm…”

Buru-buru Jiyeon melepaskan pelukannya saat mendengar suara seseorang berdehem. Orang itu tentunya Daeryung yang sudah kembali dari dalam. Daeryung memberikan bungkusan sepatu milik Jisoo setelah itu menawarkannya tumpangan.

“Apa kau butuh tumpangan pulang? Hyung-i bisa mengantarkanmu,”ujar Daeryung menawarkan bantuannya.

“Tidak usah hyung. Aku dan Jiyeon akan mencari taksi saja,”tolak Jisoo.

“Oh baiklah. Hati-hati dijalan. Ngomong-ngomong senang bertemu denganmu Kim Jiyeon-ssi,”kata Daeryung.

“Senang bertemu denganmu juga Daeryung-ssi,”balas Jiyeon.

Hyung aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi!”

.

            Pada akhirnya Jiyeon dan Jisoo sampai di rumah Jiyeon pada pukul 10 malam. Jisoo benar-benar merasa bersalah karena membuat Jiyeon pulang semalam ini. Dia ingin meminta maaf kepada orangtua Jiyeon tapi Jiyeon bilang dia yang akan menjelaskannya sendiri.

“Kau yakin baik-baik saja?”tanya Jisoo.

“Iya. Percayalah denganku Jisoo-ssi,”jawab Jiyeon.

“Hmm kalau begitu segera masuklah ke dalam. Tidur dan mimpi indah,”kata Jisoo.

“Jisoo-ssi juga,”

Jisoo menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian Jiyeon masuk ke dalam rumahnya dan barulah Jisoo pergi untuk segera pulang ke rumahnya.

.

            Jiyeon yang baru saja datang ke sekolah merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sejak dia masuk ke gedung sekolahnya orang-orang memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Dia mendesah pelan, “Pasti ini karena hal kemarin.”batinnya. Jiyeon berusaha untuk terus menegakkan kepalanya dan tak memperdulikan tatapan orang-orang. Toh mereka menilai tidak berdasarkan kenyataannya, hanya asumsi mereka semata.

.

            Ketika Jiyeon masuk ke kelasnya orang-orang melihatnya dengan tatapan tajam kecuali Nahyun. Lalu beberapa sekon kemudian mereka semua melempari Jiyeon dengan kertas dan botol minuman sehingga gadis berambut panjang itu syok setengah mati.

“Sekarang apalagi?”tanya Jiyeon dengan suara bergetar.

“Rubah! Kau benar-benar rubah! Gila.. aku tidak percaya kalau orang sepertimu diam-diam suka keluar malam bahkan pergi ke tempat terlarang ckckck,”teriak seseorang.

“Berhentilah berlagak sok polos Kim Jiyeon! Kami sekarang sudah tahu sifat busukmu!”

“Ada apa ini?”

Jiyeon menoleh kebelakang saat mendengar suara kekasihnya. Mimi berjalan menghampiri sepasang kekasih itu dan memberikan selembaran kertas kepada mereka, “Ini semua telah tersebar keseluruh kelas,”katanya. Jiyeon dan Jisoo melihat apa isi dari kertas itu dan tubuh mereka menegang saat sadar semalam ada orang yang diam-diam membuntuti mereka tanpa sepengetahuan keduanya!

“Kalian berdua memang rubah. Berlagak sok polos tapi ternyata..ckckck..”sindir seseorang.

Dada Jisoo terasa begitu sesak saat ini sementara Jiyeon sejak tadi berdiri dengan kaki yang terus bergetar. Tangan Jisoo mengenggam tangan Jiyeon lalu mengajaknya untuk pergi dari kelas. Orang-orang menyoraki keduanya karena merasa jijik dengan Jiyeon maupun Jisoo.

.

“Hiks…hiks..”

Jiyeon menangis sejadi-jadinya di atas gedung sekolahannya sementara Jisoo sibuk menghubungi seseorang. Melihat kekasihnya menangis tentu saja membuat Jisoo khawatir dan takut. Dia tidak takut dengan semua ini namun yang menjadi beban pikirannya adalah Jiyeon. Jiyeon tidak salah tapi dia menanggung semuanya.

“Jiyeon-ssi jangan menangis. Aku sedang mencari tahu siapa yang melakukan ini,”kata Jisoo.

“Hiks.. aku takut,”isak Jiyeon.

Tsh.. Sebulir air mata jatuh di pipi Jisoo karena dia terlalu prihatin dengan kekasihnya. Hong Jisoo, seseorang yang tidak pernah menangis sejak 10 tahun yang lalu kembali mengeluarkan air matanya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dia merasa bersalah karena gagal untuk menjaga orang yang dia cinta.

“Maafkan aku..”sesal Jisoo dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.

.

            Merasa suasana sudah sepi, Jiyeon memberanikan diri untuk pergi ke toilet. Namun baru saja dia mau masuk ke dalam seseorang mencegatnya. Ternyata orang itu adalah Nahyun. Melihat mata Jiyeon yang bengkak akibat menangis Nahyun merasa bersalah.

“Jiyeon-ah.. Wali kelas memintamu untuk pergi menemuinya dan juga Jisoo,”kata Nahyun tak enak hati.

“Eoh baiklah..”

Dengan pasrah Jiyeon melangkankah kakinya untuk pergi menemui wali kelas. Tak berapa lama kemudian Jiyeon kembali mendengar suara Nahyun memanggilnya.

“Jiyeon-ah maaf.. Maaf tidak bisa membelamu. Maafkan aku,”sesal Nahyun.

“Kau tidak ada salah Nahyun-ah. Justru aku akan merasa sangat menyesal jika kau ikut campur dalam urusan ini. Lebih baik jaga dirimu ya.. Oh.. aku harus pergi menemui wali kelas kita. Sampai jumpa nanti Nahyun-ah!”

Setelah mengatakan hal itu Jiyeon kembali melanjutkan perjalanannya. Justru Jiyeon tenang karena Nahyun tidak membelanya. Dia tidak ingin orang lain tersakiti karenanya, lebih baik bila Nahyun menghindarinya untuk beberapa saat ini.

.

            Saat sedang duduk termenung Jisoo mendengar ponselnya berdering. Jisoo langsung membaca sebuah pesan yang masuk ke inbox-nya. Saat membaca pesan yang ditujukan untuknya Jisoo mendadak naik pitam. Sialan! Ternyata orang yang menyebarkan privasinya dan Jiyeon adalah Sungjae! Tanpa pikir panjang Jisoo langsung pergi meninggalkan atap sekolah untuk segera menemui si bajingan itu!

.

            Jisoo masuk ke dalam kelasnya tanpa permisi dan dia langsung menghampiri Sungjae yang sedang mencatat pelajaran di papan tulis. Tanpa basa-basi setelah berada di dekatnya Jisoo mencengkram kerah baju Sungjae dan memukul wajahnya dengan sangat keras. Sontak seluruh orang yang ada di kelas terkejut melihat sisi bruntal dari Jisoo, termasuk guru Biologi yang menganak emaskan Jisoo.

“Hong Jisoo apa yang kau lakukan?”pekik guru Choo.

Jisoo tidak peduli, dia terus mencengkram kerah baju Sungjae dengan erat sampai-sampai laki-laki yang selalu berada di nomor dua itu terkecik.

Ya bajingan kenapa kau melakukannya hah?”bentak Jisoo.

Mendengar pertanyaan Jisoo barusan membuat Sungjae tertawa. Dia tertawa terbahak-bahak tanpa memberikan Jisoo sebuah jawaban.

“Oh kau tertawa.. Baik kalau kau tidak memberitahu secara langsung dari mulutmu karena aku sudah tahu kau bekerja sama dengan keparat Honggi untuk menentangku kan!”pekik Jisoo.

Jisoo kembali menghajar Sungjae habis-habisan tanpa mempedulikan teriakan dari orang-orang, “Ya kau boleh saja menyakitiku tapi tidak dengan Jiyeon! Dasar sialan!”geram Jisoo. Anak-anak di kelas berusaha menjauhkan Jisoo dari Sungjae namun usaha mereka tak berhasil karena mereka kalah kuat dari amarah Hong Jisoo, “Hong Jisoo hentikan!”pekik guru Choo histeris saat melihat darah segar banyak keluar dari wajah Sungjae. Dia tidak peduli dan terus menghajar Sungjae yang diam tanpa perlawanan. Sampai akhirnya Sungjae tak sadarkan diri dan jatuh ke lantai. Jisoo merasa tangannya sangat sakit setelah memberikan bogem mentah kepada Sungjae tapi dia tidak peduli, asalkan dia telah memberikan pelajaran kepada orang yang membuat kekasihnya tersiksa Hong Jisoo sudah puas.

“Jisoo-ssi apa yang kau lakukan?”tanya Jiyeon yang syok melihat apa yang ada di depannya.

.

            Perlahan-lahan Jiyeon membantu Jisoo untuk mengobati tangannya yang luka karena menghabisi Sungjae tadi. Saat dipanggil ke kantor Jisoo mendapatkan sanksi dikeluarkan dari sekolah, tak peduli bahwa Jisoo adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Sementara Jiyeon yang juga terlibat di masalah ini mendapatkan sanksi diskors selama 1 minggu.

“Ini pasti sakit, seharusnya kau tidak perlu melakukan itu—“

“Aku melakukan ini untukmu Jiyeon-ssi,”potong Jisoo.

“Tapi aku tidak butuh hal seperti itu. Lihatlah! Karena ini kau dikeluarkan dari sekolah,”kata Jiyeon.

“Dikeluarkan dari sekolah bukan hal baru untukku. Saat di Amerika aku sering drop out karena masalah seperti ini juga,”celetuk Jisoo.

“Jisoo-ssi sebenarnya ada apa dengan Sungjae?”tanya Jiyeon.

Mana mungkin Jisoo bisa menjelaskannya kepada Jiyeon kalau Sungjae bekerja sama dengan Honggi untuk menghancurkannya. Honggi adalah orang yang beberapa waktu lalu sempat dikeroyok oleh Jisoo dan teman-temannya. Karena dia dendam makanya Honggi menyetel semua ini semua untuk membuat Jisoo dikeluarkan dari sekolah. Entah bagaimana caranya Sungjae dan Honggi bisa bersatu untuk melawan Jisoo. Tapi bukan Hong Jisoo kalau dia tidak bisa menemukan siapa orang yang sudah membuat ulah dengannya makanya dengan mudah Jisoo tahu kalau dalang dibalik ini semua adalah Sungjae dan Honggi.

“Jisoo-ssi bagaimana kau menjelaskan semuanya ke orangtuamu?”

“Ini hal mudah kok Jiyeon-ssi jadi lebih baik kita pikirkan cara untuk menjelaskan semua ini ke orangtuamu dulu ya..”

.

            Jisoo pulang ke rumah dan menemukan ibunya sedang menonton televisi. Tanpa menatap wajahnya Jisoo memberikan surat pengeluarannya dari sekolah kepada ibunya. Setelah itu Jisoo masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Baru saja Jisoo mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai, seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan keras. Tentu saja itu ibunya, memangnya siapa lagi yang ada di rumah ini selain Jisoo dan ibunya? Jisoo membuka pintu kamarnya dan..

Prak..

Baru saja membuka pintu dia dihadiahkan tamparan oleh ibunya. Sakit? Tidak. Karena Jisoo sudah sering merasakannya. Jisoo hanya bisa diam untuk menghadapi amarah ibunya, toh tak ada lagi yang bisa dia katakan kepadanya.

“Kemaskan barang-barangmu!”bentak ibunya.

“Hah? Apa?”heran Jisoo.

“Bereskan semua barang-barangmu yang ada di rumah ini! Aku akan mengirimmu kembali ke Amerika atau kemanapun asalkan kau tidak tinggal lagi bersamaku!”

“Ibu!”

“Apa? Bukankah sudah perjanjian kalau kau akan menjadi anak yang baik dan tidak berulah di sekolah maka dari itu aku menampungmu? Sekarang perjanjian itu sudah kau langgar dan kau harus pergi dari rumahku!”

Ibu Jisoo meninggalkan Jisoo seorang diri yang sedang mematung di tempatnya. Tangannya terkepal erat. Kembali ke Amerika? Itu artinya dia akan berpisah dari Jiyeon. Membayangkannya saja sudah membuat Jisoo takut dan marah. Untuk meluapkan kekesalannya dia berteriak sekencang mungkin tanpa mempedulikan orang lain yang dapat terganggu karenanya, “Argghh!!!!!”.

.

“Apa sekarang Jisoo baik-baik saja?”

Jiyeon telah menceritakan semua kejadian yang menimpanya dan Jisoo di sekolah. Bayangan Jiyeon mendapatkan amukan dari ibunya tidak terjadi karena ibunya malah prihatin dengan apa yang menimpanya terutama Jisoo.

“Jisoo belum menghubungiku sejak pulang sekolah bu,”lirih Jiyeon.

“Hmm mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya,”

Tok…tok…tok….

Mendengar seseorang mengetuk pintu ibu Jiyeon langsung beranjak dari kursi untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka ibu Jiyeon terkejut melihat Jisoo berada di depannya.

“Jisoo apa kau baik-baik saja, nak?”tanya ibu Jiyeon yang panik,

“Bi apa ada Jiyeon?”

.

            Suasana di antara Jiyeon dan Jisoo sangat hening setelah Jisoo menceritakan apa yang dia dapatkan di rumah. Hati Jiyeon terasa sangat piluh mengetahui bahwa Jisoo akan pergi jauh darinya. Pergi untuk kembali ke tempat asalnya, yaitu Amerika. Jisoo mengenggam tangan Jiyeon yang dingin dan meminta maaf kepadanya.

“Maafkan aku Jiyeon. Aku sudah membawa pengaruh buruk untukmu dan menyebabkan kekacauan di dalam hidupmu. Aku sungguh minta maaf,”sesal Jisoo.

“Tidak masalah kok. Aku akan pindah sekolah dan semua masalah ini akan hilang jadi jangan khawatirkan aku,”

“Jiyeon-ssi walaupun aku tidak ada di sini bersamamu tapi kau tetap menjadi milikku,”

“Hmm ya.. Walaupun kita terpisahkan jarak namun hati kita tidak dapat dipisahkan Jisoo-ssi..”

Jisoo membawa Jiyeon ke dalam pelukannya. Rasanya dia ingin waktu berhenti detik ini juga. Jisoo tidak ingin berpisah dari Jiyeon, begitu pula Jiyeon yang tidak mau kehilangan Jisoo yang berada di sampingnya.

“Saranghae Jiyeon-ah..”

“Nado saranghae, Jisoo-ya..”

.

1 tahun kemudian

            Jiyeon membereskan rumah karena hari ini tidak ada jadwal untuk kuliah. Berhubung rumahnya sangat jorok karena jarang dibersihkan akibat ibunya yang selalu lembur ketika bekerja, Jiyeon berinisiatif untuk membantunya. Jiyeon mengambil sapu yang ada di dapur lalu mula-mula membersihkan bagian depan. Saat Jiyeon sedang mengelap kaca ponselnya yang ada di meja berdering. Jiyeon menunda pekerjaannya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan. Saat dia membaca pesan yang masuk Jiyeon tidak bisa berhenti tersenyum.

“Mau bertemu? Ayo susul aku ke kafe 1004!”

Well, sepertinya acara untuk membersihkan rumah harus Jiyeon tunda karena dia akan menghabiskan waktu senggangnya bersama seseorang. Jiyeon pun buru-buru mengganti pakaiannya dengan baju pergi untuk menyusul orang yang mengirimkan pesan kepadanya ke kafe 1004. Karena baginya momen bersama orang itu sangat istimewah jadi dia akan menyesal bila di melewatkanya.

.

.

END

Hufft.. Gaje.. Terus aku juga capek ngetik ini kalau aku save aja ntar berbulan-bulan lagi baru aku lanjuti jadi ya endingnya begini.. Untuk yang baca ff ini terima kasih ya untuk menghabiskan waktunya baca cerita panjang yang endingnya malah brrrr hancur ini. Thank you so much kkkkk~ tetap support JoshKei 😛

[[Endingnya Open Ending. Jadi beban kalian mau bayangi itu bagaimana… hahaha]

Advertisements

20 thoughts on “[Oneshoot] Innocent?

  1. Halooo ‘-‘/)
    Saat baca ff ini, aku enggak bisa bayangin muka polos kayak Joshua bertingkah kayak gitu :v :v Kalau Kei sih dia bener-bener polos :v

    Btw, ini PG-17, umurku masih otewe ke 16. Aku sudah membuat pelanggaran(?) :v :v

    Like

    • Sama :v tapi style dia di Mansae era benar-benar semacam anak nakal gitu wkwkw.. terus keingat gaya dia di Adore U yang polosnya minta ampun hahaha><
      .
      Efek tidak ditanggung pembuat cerita ya :v

      Like

  2. Jjang ! Buat fanfic ini :3 , aku suka ide kalo si josh ini sebenernya ga sealim dan sesuci apa yang kita bayangkan wkwk. Tapi yang bikin sedih, tiap aku baca fanfictnya eonni .. Kei sering banget kesiksa ya/? 😂 , udah nasib dia harus begini apa wajah dia yang memelas polos bikin gampang dibully :’D ? But, this fanfic’s still a great fanfic > < !!

    Like

  3. huaaa panjang bgt.. huf hah#tariknafas#keluarkan… daebak ff nya bagus.. sumpah suka bgt ama ni couple di tmbah ama jalan cerita nya yg ng bosanin daebak deh pkoknya
    keep writing

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s