[A Stepping Stone] Warna

Warna - cover

Warna

Author: azeleza

Cast : Yoo Jiae [Lovelyz] || Min Yoongi [BTS]

Genre : School Life – Romance – Fluff

Length : 3000 words ++

Rating : PG-13

Sequel of Serakah

◊◊◊ A/N ◊◊◊

Hai, semoga tidak bosan dan mau bersabar membaca sampai mereka jadian :”)

◊◊◊ W ◊◊◊

“Tidak mau tahu! Terserah. Pokoknya besok pagi aku mau pulang!” teriak Jiae pada laki-laki di sebrang sambungan.

Yoo Jerim gagal menyelesaikan urusan dengan klien secepat yang ia janjikan. Sedangkan Yoo Inna –yang memang tidak pernah bilang bisa datang– sedang di luar kota untuk mengurus proses pembangunan cabang rumah sakit YooungLife yang ketiga.

Lalu bagaimana dengan orang tua Jiae? Sedang honeymoon yang keseratus lima ke gurun Sahara.

Sebenarnya ini biasa. Di rumah sakit sendirian tanpa ada yang menemani.

Jiae sudah berkali-kali berpikir bahwa kelahirannya adalah sebuah kesalahan. Terjadi begitu saja tanpa rencana ketika honeymoon yang keenam puluh, mungkin? Ia sendiri bahkan sudah bosan sok sedih dengan berpikir bahwa tidak ada yang sayang padanya, seharusnya ia tidak dilahirkan di dunia, atau apalah –semua itu yang sejenis dengan pemikiran bocah-bocah kaya raya ala drama.

Baiklah, tapi Jiae memangnya bisa apa selain bersyukur? Kehidupannya memang datar. Ia memiliki dua kakak yang terpaut umur jauh dengannya. Yang sudah terlalu sibuk menata kehidupan masing-masing untuk sekedar menemani Jiae bermain boneka. Bermain boneka, ya? Bukan membelikan Jiae boneka baru dengan bulu lebih lembut dibandingkan boneka yang sebelumnya.

Sedangkan orang tua Jiae termasuk ke dalam golongan orang tua yang mengikuti perkembangan jaman, traveler sejati –karena urusan pekerjaan maupun kemauan pribadi. Ibu dan Ayah yang baik, meskipun dalam tiga bulan, jumlah hari temu ketiganya bisa dihitung dengan jari.

Tapi, tetap saja. Sekeras apapun Jiae mencoba dewasa, hati kecilnya menginginkan perhatian. Bukan sekedar dimanja dan dibuai dengan kekayaan. Tidak pernahkah keempat orang tersebut memirkan sebuah kemungkinan bahwa penyebab kambuhnya penyakit Jiae adalah kekurangan kasih sayang keluarga? Belum lagi dengan fakta bahwa Jiae tidak sepintar Yoo Jerim dan Yoo Inna. Entahlah, Jiae selalu meringis tiap kali memikirkan posisinya di dalam keluarga Yoo.

Berada di rumah sakit membuat perasaan Jiae begitu campur aduk. Sekarang otaknya malah memutar ulang beberapa kejadian lucu di ruang OSIS. Saat Mark Tuan diceramahi anak-anak OSIS karena membuat notulensi dengan campuran bahasa Inggris, atau Lee Sungjong yang tidak pernah bosan menjelaskan kepada semua orang tentang pentingnya makan-makanan bergizi dan hidup sehat bagi anak remaja demi masa depan Korea, atau Jung Eunji –dan dirinya, yang selalu kena tagih denda dua puluh ribu won oleh Kim Dasom karena selalu datang lima menit setelah rapat dimulai.

Jingga. Keceriaan yang hangat dan menyegarkan.

Ketika Jiae menolak untuk mengingat saat-saat sibuk dan melelahkan, otaknya menyuguhkan kejadian dimana Jiae nyaris terjungkal dari tempat duduk ketika melihat namanya menjadi salah satu nominasi Ketua OSIS.  Itu ulah Lee Nari, teman sekelasnya yang selalu berusaha menjatuhkan Jiae, berharap Jiae dipermalukan karena berlagak keren dengan mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS. Ah, Lee Nari…, Jiae tersenyum tipis. Orang semacam ini entah kenapa selalu saja ada dimana-mana.

Jiae tentu segera berlari ke ruang pemilihan setelahnya, ingin menarik kembali pencalonannya sebagai Ketua OSIS. Lalu di sanalah Jiae pertama kali bertemu laki-laki bermata kecil itu, Min Yoongi.

Kesan pertama terhadap Yoongi cukup dengan satu kata. Ramah. Beberapa menit setelah Kim Seokjin –senior yang mengurus pemilihan ketua OSIS yang baru– meninggalkan mereka berdua, Jiae langsung ingin muntah-muntah karena tatapan Yoongi berhasil membuat perutnya keram.

“Kau tidak perlu repot-repot menarik pencalonan dirimu. Kau tidak akan menang.”

Itu saja? Iya, itu saja. Namun, kalimat yang dilontarkan dengan nada mengejek dan merendahkan itu sukses membangunkan jiwa kompetitif Yoo Jiae yang sudah tertidur terlalu lama.

Merah. Jiae tidak pernah merasa begitu bersemangat.

Proses pemilihan berlangsung begitu cepat, Jiae bahkan tidak mengerti apa saja yang sudah ia lakukan. Apa itu proyek kerja? Apa itu visi misi? Jiae tidak paham semuanya. Pun akhirnya ia tetap memenangkan voting dari teman-temannya. Tentu saja belum cukup sampai di sana. Ada wawancara dengan Ketua OSIS dan Wakilnya yang terdahulu, guru, serta kepala sekolah. Hasilnya jelas-jelas Jiae kalah telak. Sehingga dinobatkanlah Yoo Jiae menjadi Wakil Ketua dari Min Yoongi.

Satu bulan pertama tidak pernah Jiae lewati tanpa lupa menggunjing betapa menyebalkannya sang ketua dan kemampuannya dalam bermuka dua. Bukan hanya itu, setiap perkataan yang Yoongi lontarkan selalu memiliki alasan yang jelas –dan sering sekali benar, membuat Jiae tidak bisa menyela dan akhirnya harus menelan pahit-pahit kenyataan bahwa Yoo Jiae memang tidak bisa apa-apa.

Lima minggu dan Jiae sudah siap dengan surat pengunduran dirinya. Sama seperti siapa yang membuat Jiae tidak jadi membatalkan pencalonannya sebagai Ketua OSIS,  Yoongi jugalah yang membuat Jiae membakar surat pengunduran diri di belakang gudang sekolah –sambil menyumpahserapahi Min Yoongi, tentu saja.

“Kau tidak perlu repot-repot mengundurkan diri. Aku yang akan mengeluarkanmu dari jabatan Wakil Ketua OSIS. Tunggu saja sampai kau pantas untuk dikeluarkan.”

Itu saja? Iya, itu saja. Namun, lagi-lagi, kalimat yang dilontarkan dengan nada mengejek dan merendahkan itulah yang membuat Jiae berani keluar dari rasa nyamannya ketidaktahuan.  Setelah itu adalah masa-masa kerja rodi. Dipenuhi revisi laporan sana sini, rapat nyaris tiap hari, ditambah tugas akademis yang jahatnya seperti ibu tiri, belum lagi kepala sekolah yang acap kali membuat peraturan serumit untaian mie.

Kuning keemasan. Aktif dan begitu dinamis, ini pertama kalinya Jiae terlalu produktif sampai ia bahkan tidak memiliki waktu untuk mengeluh.

Ketika rasa lelah terlupakan begitu saja melihat acara pertama yang mereka selenggarakan –Pameran Klub, berakhir meriah, Jiae hanya bisa tertegun. Mencari sosok Yoongi kemudian untuk menemukan laki-laki itu tertidur bersandar pohon, kelelahan.

Abu-abu. Yoongi yang tertidur terlihat begitu tenang, seketika memberikan Jiae ketentraman yang serupa bersama dengan keteduhan yang diciptakan dedaunan pohon yang kemudian melindungi tidur keduanya kala itu. Menurut Jiae, Yoongi memang cocok dengan warna abu-abu. Misterius bagai hitam, namun seperti putih yang sempurna. Begitu unik meskipun ambigu.

Sambil bersandar pada sandaran kasur, memeluk bantal, dan menenggelamkan sebagian wajahnya di sana, kini Jiae meloloskan air dari pelupuk mata. Ia mulai sadar bahwa kehidupan Yoo Jiae tidak lagi bertemakan monokromatik. Ada biru yang setia ketika Mark, Eunji, Sungjong, dan Dasom datang berkunjung menemani kesendiriannya di rumah sakit sore tadi. Ditambah dengan hijau positif kala Jiae membaca satu per satu pesan ‘semoga cepat sembuh’ dari teman-temannya yang lain.

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin Jiae bisa melupakan sosok yang telah membuat hidupnya begitu berwarna. Tanpa peduli atas fakta bahwa kemarin Jiae tidak sengaja mencuri dengar percakapan orang itu dengan Mister Nam –wali kelas mereka.

“Baiklah. Semoga sukses belajar di Amerika.”

.

..

“Kalau sakit, panggil suster. Ini malah nangis. Kau terlihat bodoh.” Jiae langsung menoleh ke sumber suara.

Emosi yang labil, tubuh yang lemah, dan kehadiran Min Yoongi.

Apa Tuhan sedang menghukumnya karena kurang bersyukur?

Biarin. Gak peduli. ” Jiae kembali menenggelamkan kepalanya di dalam bantal. Kali ini sampai menutupi semua wajahnya.

“Galak.”

Ngaca, dong! Nyebelin,” balas Jiae. “Pulang sana!”

“Kau sedang balas dendam?” Yoongi menarik kursi ke samping kasur Jiae, lalu duduk setelah menghela napas panjang. “Mau aku buatkan bubur juga supaya kita impas?”

Gak. Udah kenyang.

Jiae bisa mendengar Yoongi menggumam –sarkastik, karena laki-laki itu pasti sudah melihat nampan makan malam Jiae yang masih ditutupi plastik. “Aku ke sini bukan untuk menjengukmu. Ada pertanyaan yang harus kau jawab.”

Seharusnya Jiae paham itu. Memangnya hantu baik mana yang bisa merasuki Min Yoongi sampai laki-laki itu mau datang malam-malam ke rumah sakit  yang berjarak dua puluh lima kilo meter lebih dari apartemennya hanya untuk menjenguk seorang perempuan pengidap asma yang suka menggerutu?

Kesal karena tujuan Yoongi yang tidak sesuai ekspektasi malah membuat Jiae berhasil menghapus air mata. “Apa?”

“Siapa yang mengizinkanmu jalan berdua dengan Kim Myungsoo?”

Ah, tentu saja Min Yoongi tahu tentang gosip yang sedang heboh di sekolah. Si Barbie Yoo Jiae berduaan dengan Ken dari kelas tiga, Kim Myungsoo.

“Jawab aku.”

Bibir Jiae lantas berkedut gugup ketika menatap Yoongi bersandar pada kursi. Dengan posisi tegap namun rileks, tangan mendarat di puncak lutut dengan kaki menyilang. Laki-laki itu duduk persis seperti ketika ia sedang…serius. Tatapan tajam yang tidak menerima alasan murahan, apalagi penolakkan.

Jika sekarang sedang rapat harian dan yang Yoongi tanyakan ada kaitannya dengan pekerjaan yang Jiae lakukan, maka Jiae tahu respon yang sepatutnya ia berikan adalah menjawab dengan jujur tanpa basa-basi. Tapi ini, masalah pribadi.

Memangnya Jiae harus minta izin siapa? Jerim oppa? Inna unnie? Orang tuanya? Mana mereka peduli.

Min Yonggi?

“Bukan urusanmu,” jawab Jiae, lalu merutuki diri sendiri ketika ia bisa mendengar suaranya bergetar.

“Kenapa kalian jalan berdua?” Yoongi beranjak dari tempat duduknya untuk berjalan mendekati Jiae. Ini tingkat kedua dari fase serius Min Yoongi. Berjalan mendekat, suara tegas dan berat, dengan tatapan mengunci.

“Ke-kenapa? Kami hanya ja-jalan-jalan. Nonton pertandingan. Memangnya itu bu-butuh alasan?” Jiae ingin sekali memalingkan matanya dari Yoongi, sayangnya tidak bisa. Min Yoongi dan karismanya bisa membuat orang beku. Dan Jiae lebih dari mengerti akan hal itu. Betapa tidak puasnya Yoongi dengan jawaban barusanpun, Jiae sangat paham. Terlihat dari mengecilnya bola mata laki-laki itu. Sejurus kemudian sebelah sudut bibirnya naik sepersekian senti.

Jiae membasahi kerongkongan, menahan kalimat “Myungsoo sunbae mengajakku kencan karena kemarin dia telah membantuku berbicara dengan anak-anak kelas tiga terkait dana pekan olahraga” untuk keluar dari bibirnya.

“Kau menyembunyikan sesuatu.”

Engga, kok!!” balas Jiae cepat. Terlalu cepat. Intensitas kerja jantungnya semakin meningkat.

Mungkinkah ini perasaan takut yang dirasakan pencuri ketika kepergok sedang melaksanakan aksi? Hei, tapi Jiae bukan pencuri. Lagipula tidak ada dijelaskan di Kode Etik Pengurus OSIS bahwa Jiae tidak boleh jalan-jalan kencan dengan anak kelas tiga yang paling tampan satu angkatan setelah orang tersebut membantunya menyelesaikan masalah. Jadi, Jiae tidak salah, kan? Ia seharusnya tidak perlu merasa terintimidasi.

Jiae berhasil mendengus kesal, memutar badan sebagian. “Lebih baik jalan-jalan dengan senior tampan daripada harus melihat seorang laki-laki menyebalkan menyerahkan dokumen pengunduran dirinya di ruang guru.”

Dengan satu gerakan cepat, Yoongi menarik lengan Jiae, mengembalikan fokus perempuan itu padanya. “Apa kau menyukai laki-laki itu? Jawab aku, Yoo Jiae.”

Fase ketiga. Tidak ada kejadian baik jika Min Yoongi sudah memanggil nama lengkap seseorang dengan perlahan. Pengalihan topik bukanlah yang ia inginkan. Yoongi hanya ingin jawaban.

Sedangkan Jiae hanya ingin laki-laki itu tetap ada di kehidupannya. Pergi ke Amerika? Lalu bagaimana dengan Jiae? Bagaimana dengan perasaannya?

“Tidak.” Jiae menyerah. “Kau tahu siapa yang aku sukai.”

Tatapan Jiae nanar membalas milik Min Yoongi –laki-laki  yang selalu sukses memberinya pengetahuan baru, pengalaman baru, warna-warna yang baru. Kehidupan yang lebih berwarna walaupun abu-abu adalah warna yang cocok untuk mendeskripsikan laki-laki itu. Emosi Jiae sudah benar-benar di luar kendali. Lagi, air mata keluar tanpa ia minta. Ini akan sulit dihentikan. Sejauh mana Yoongi ingin memaksanya?

“Kau juga tahu siapa yang aku sukai, Yoo Jiae.” Kalimat itu keluar begitu pelan. Begitu lembut di telinga sampai Jiae takut untuk menaruh bahkan sejengkal harapan. Takut kelembutkan itu hanyalah buaian palsu agar efek dari kenyataan akan semakin lebih menyakitkan.

Terlebih ketika tangan Yoongi yang hangat membawa tubuh Jiae mendekat. Mengistirahatkan kepala Jiae di pelukan Yoongi, sedangkan laki-laki itu mendaratkan miliknya di pucuk kepala sang gadis. Dalam tangis yang semakin deras, Jiae masih bisa mendengar hatinya menyemangati.

Berharaplah sekali lagi, Yoo Jiae.

Tangan Yoongi yang satunya mengudara, berhenti sebelum membelai kepala Jiae seketika logika lagi-lagi ingin diikutsertakan. Satu penyataan yang terlontar dari bibir Jiae berhasil memberikan sebuah keputusan, menghancurkan penghalang bernama rasionalisme.

“Aku menyukaimu, Min Yoongi. Sangat.”

◊◊◊

Tiga puluh menit? Atau lebih? Mungkin nyaris sejam? Entahlah, otak Jiae sudah tidak peduli dengan tiap detik yang berganti. Yang ia paham sekarang adalah matanya yang mulai lelah. Adapun berada di pelukan Yoongi memberikannya rasa nyaman yang sama seperti saat Jiae meminum susu hangat di perapian, membuatnya mengantuk.

“Mau tiduran?” Jiae mengangguk kecil setelah berpikir lama. Berharap tidak menyesal kemudian karena lebih memilih bantal ketimbang pelukan Min Yoongi –laki-laki yang selalu membuat mata Jiae berlari-lari mencari sosoknya setiap hari.

Ketika kepala Jiae menyentuh bantal, ada dorongan tiba-tiba untuk menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan kalau bisa, Jiae ingin menghilang sekarang juga. Berubah menjadi debu lalu menari-nari di udara.

“BOHONG. TADI AKU BILANG APA? SUKA YOONGI? BOHOOOONG. AGH, YOO JIAE!!”

“Apa yang kau lakukan?”

“Diam. Yoo Jiae sedang mati.”

Suara tawa samar-samar masuk ke dalam telinga Jiae. “Jangan tertawa di depan orang mati!” teriak Jiae.

Malu.

Apa lagi memangnya yang bisa membuat Jiae lebih memilih berubah menjadi butiran debu ketimbang perempuan cantik kaya raya?

“Lalu apa yang bisa membuat Yoo Jiae hidup lagi?”

“…”

A love confession, maybe?” Kalimat itu sukses membuat Jiae membuka selimutnya. Secepat kilat ia mencari sosok Yoongi, mengonfirmasi kalimat tersebut lewat ekspresi laki-laki itu.

Or not?” Yoongi menggeleng.

“Ih. Cepat-cepat sana kau pergi ke Amerika.” Jiae kembali menyembunyikan dirinya di balik selimut.

“Besok.”

“BOHONG?!” Kali ini Jiae duduk sembilan puluh derajat. “Trus, aku sia-sia dong bilang suka? Memangnya kau jadi tidak kasihan denganku yang sudah nangis-nangis dari tadi?”

Yoongi menaikkan sebelah alisnya, lalu menggeleng. “Aku berangkat besok un-“

“Agh! Aku tidak peduli. Mau kau berangkat besok, berangkat minggu depan, berangkat bulan depan. Kalau kau jadi berangkat, aku menarik kata-kataku yang tadi.” Laki-laki itu masih sempat mengeluarkan ekspresi sedatar dan semenyebalkan itu setelah semua yang terjadi barusan? Yang benar saja.

“Aku tidak menyukai Min Yoongi. Sangat sangat sangat tidak suka!!” pekiknya sambil melempar bantal kepala ke raut datar Yoongi.

Kekesalan –dan rasa malu– membuat Jiae lupa bahwa laki-laki itu adalah seorang pemain basket andalan di sekolah. Yoongi menangkap bantal tersebut dengan mudah. Kemudian menghadiahi Jiae dengan pukulan pelan di wajah sehingga memaksa Jiae untuk terpejam melindungi matanya.

“Cuma sehari, bodoh.”

Bukan hanya cahaya lampu yang memasuki indera penglihatan ketika Jiae membuka mata. Ada deru napas Yoongi di kulit wajahnya, pun halus bibir laki-laki itu di bibir Jiae.

“Sekolah di Amerikanya tahun depan. Kuliah.” Mata Jiae masih terbuka lebar. Seluruh sel ototnya membatu oleh sihir yang seakan tercipta dari sentuhan bibir Yoongi. Jarak keduanya yang masih dekat –bibir Yoongi sempat menyentuh bibir Jiae lagi saat laki-laki itu bicara– juga kurang membantu Jiae untuk kembali memegang kendali.

Jiae benar-benar ingin berubah menjadi debu. Menari-nari di udara sambil bernyanyi syalalala. Bermacam warna berputar-putar dalam kehidupan Jiae saat ini. Namun, merah muda pertanda cinta begitu dominan dengan segala keindahannya. Ia sudah berhasil menyatakan perasaannya pada Yoongi. Laki-laki itu akan berangkat ke Amerika besok, tapi hanya sehari. Lalu, Jiae tidak pernah mengalami gejala asmanya akan kambuh –susah bernapas– ketika ia sedang bermimpi.

Yang berarti ciuman tadi, dan semuanya, bukanlah mimpi. Ini bukan bohongan. Ini sungguhan!

Ya, kau mati beneran?”

Tapi, tunggu…

“Kuliah di Amerika?” Alis Jiae nyaris bertaut. Ada yang menjanggal di hatinya kala Yoongi mengangguk sebagai jawaban.

“…”

“Masih tidak suka Min Yoongi?”

Jiae membuang muka, lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Entah,” ujarnya pelan.

Alih-alih mendapatkan bujuk rayu karena merajut, Jiae malah mendapati Yoongi hanya mengangkat bahu. Laki-laki itu lalu memainkan ponselnya, beranjak dari kursi dengan earphone terpasang di sebelah telinga.

“Kau mau pulang?” tanya Jiae tidak percaya.

Sejak tadi Jiae memang terlalu banyak berharap. Tapi memangnya Jiae bisa apa? Bukankah Yoongi yang salah karena terlalu memberinya banyak kesempatan untuk berharap? Ah, tidak tahu! Lalu setelah lagi-lagi dibuat menangis, dipeluk, dicium, dan diberi tahu bahwa laki-laki yang ia sukai akan kuliah di luar negeri, Yoongi akan kabur begitu saja?

Pergi saja sana! Cowok menyebalkan. Tidak bertanggung jawab.

Itu yang mau Jiae ucapkan. Kenyataannya yang keluar malah suara bergetar menahan tangis, lagi. “Jangan pergi. Aku tidak suka sendirian di tempat ini.”

Yoongi berhenti tepat di depan pintu, tangannya sudah membuat knop pintu berputar sebagian. Jiae bisa saja meminta bayaran mahal kepada Yoongi karena telah membuat perempuan itu menjadi semelankolis ini. Tapi, Yoongi bisa lebih parah lagi. Ia bisa saja menculik Jiae dari silsilah keluarga Yoo secara legal sekarang juga. Kemudian mendelegasikan seluruh kehidupan Jiae sebagai miliknya. Fisik maupun mental. Semua.

Min Yoongi memang serakah. Namun, jika ada yang ingin membawanya ke kantor polisi atas sikap ini, maka Yoongi akan menyalahkan Jiae. Ia tidak akan keberatan menjelaskan dari awal sampai akhir bagaimana Yoo Jiae patut disalahkan atas rusaknya kinerja otak Yoongi yang selalu berpikir jernih dan beralasan, atau atas anomali yang sering terjadi pada jantung dan paru-paru Yoongi ketika perempuan itu berada di dekatnya.

Yoo Jiae membuatnya gila. Lalu sekarang setelah Yoongi menelantarkan logika, bagaimana mungkin ia bisa kembali menahan keinginan untuk menghukum Jiae dalam kuasanya? Yoongi akan memastikan bahwa hukuman itu akan berlangsung selamanya. Tanpa ampun. Tanpa jalan keluar.

“Jangan manja.”

Yoongi membutuhkan apresiasi kali ini. Siapa yang kira ia berhasil menahan kegilaannya sekali lagi? Ia harus secepatnya menjauh atau hanya Tuhan yang tahu apa yang akan Yoongi lakukan terhadap Jiae. Oh, dan lagipula…

Terima kasih telah datang tepat waktu, Calon Mertua.”

“Kau tidak sendirian.” Yoongi membuka pintu, menampilkan sepasang kekasih yang tidak lekang di makan usia sedang bersiap-siap meraih kenop pintu.

Eomma? Appa?”

“Oh, halo Jiae Sayang,” ucap Tuan Yoo. Berjalan mendekati Jiae sambil merentangkan tangannya yang sudah berubah kecoklatan sejak terakhir kali Jiae ingat.

“Ka-kalian su-sudah pulang?” Jiae membalas pelukan sang ayah. Setengah hati tidak percaya, setengah hati senang bukan main.

Nyonya Yoo menggenggam tangan Jiae. “Kami membaca buku diarymu via email. Maafkan Eomma dan Appa, ya.”

Jiae membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti semua situasi ini. Ketika sosok laki-laki pucat itu hilang dari pandangan Jiae, cepat-cepat ia meraih ponselnya.

Satu pesan masuk.

Kalau kau ingin mendengar sebuah pernyataan cinta, pastikan kau sudah menyiapkan dirimu untuk menjalin hubungan jarak jauh selama paling lama empat tahun karena keputusanku tidak akan berubah walaupun kau merengek minta putus setelah itu. Dan bukankah aku sudah pernah bilang untuk memperbaiki tulisan tanganmu? Jelek banget. Membaca buku diarymu membuatku sakit kepala.

◊◊◊

Jiae tertawa lebar mendengarkan kisah kedua orang tuanya di gurun Sahara –dan tempat-tempat lain yang namanya begitu asing di telinga. Kehangatan ini membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. Ketika malam sudah terlalu larut untuk kembali bertukar cerita, Nyonya Yoo mencium kening Jiae dengan sayang.

“Laki-laki tadi yang namanya Min Yoongi, ya?”

Eoh…” Jiae mengangguk pelan. Intuisinya mulai merasakan hawa-hawa yang kurang menyenangkan.

Sejurus kemudian seulas senyum lebar perlahan muncul di wajah Nyonya Yoo yang masih terlihat kencang dibalik polesan. “Hmm…Laki-laki yang ‘Hitam?  Kurang tepat. Abu-abu? Hampir, tapi masih kurang tepat. Putih. Bersinar begitu sempurna seperti cahaya matahari. Terbiaskan oleh butir-butir air kemudian menjadi pelangi sejuta warna di kehidupanku‘ itu, ya?”

.

..

EOMMA!!!” Jiae memekik lagi ketika Nyonya Yoo bersiap-siap membacakan penggalan diarynya yang lain, yang membahas bagaimana Min Yoongi dapat dijabarkan dengan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, maupun ungu.

“Panggil Jerim dan Inna sekarang. Kita harus segera melakukan sidang terbuka untuk menentukan apakah Si Putih Putih Pelangi Mejikuhibiniu ini masuk kualifikasi untuk menggandeng tangan adik mereka.”

APPA!!!”

.

..

Malam itu begitu penuh dengan warna. Dominan merah muda. Karena kehidupan Jiae yang penuh cinta, pun wajahnya yang merona. Ketika warna-warna tersebut berputar menghasilkan putih yang begitu sempurna, Jiae tersenyum menahan tawa. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Min Yoongi, putih utama dalam kehidupannya.

◊◊◊ fin ◊◊◊

◊◊◊ STB ◊◊◊

“Min Yoongi! Kau bilang apa sih ke Appa dan Eomma?” Jiae membuka pintu kaca ruang baca apartemen Yoongi lebar-lebar. Dengan langkah cepat ia menempatkan diri di sofa, bersebelahan dengan laki-laki itu.

Yoongi melirik Jiae sekilas, lalu kembali mengunci pandangannya pada aplikasi pencatat memo di tablet yang ia pegang. “Aku tidak suka yang kau pakai. Ganti,” kata perintah Yoongi, sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan Jiae.

Jiae menggeleng-geleng gundah, kalimat yang baru saja ia dengar memantul menjauh sebelum sempat tercerna. Perempuan itu sedang terlalu bingung untuk mempertimbangkan opini Yoongi tentang perpaduan pakaian yang akan ia kenakan ke reuni SMA mereka.

“Kau tidak serius, kan?” teriak Jiae sambil menarik tepian jaket hitam Yoongi, meminta perhatian laki-laki itu terhadap kehadirannya.

Yoongi melepaskan kacamata berbingkai hitam yang ia kenakan, menjauhkan pandangannya dari layar tablet. Hembusan napas pendek merupakan bentuk penyaluran kekesalan karena Yoo Jiae lagi-lagi berhasil mengganggunya ketika sedang mendapatkan inspirasi. Yoongi mau saja mengabaikan Jiae, tapi ia tidak bisa. Selalu gagal sejak dulu.

Setelah menoleh ke samping, Yoongi lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Jiae. “Serius. Ada yang salah?”

“Ti-tidaaak. Tapi-“

“Aku sudah pernah bilang dari dulu agar kau mempersiapkan diri untuk menjalin hubungan jarak jauh selama empat tahun,” ucap Yoongi tanpa menatap Jiae, sedang sibuk memperhatikan gadisnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Yaaa teruuus? Abis LDRan empat tahun gak langsung nikah juga kali!” Jemari Jiae dengan kuku yang berpoleskan cat merah muda mengilat mencoba mendorong Yoongi menjauh. Ia mulai merasa risih atas tatapan menilai dari laki-laki itu.

“Kausmu terlalu terbuka. Rok itu juga kependekan.” Kali ini Yoongi membalas tatapan Jiae bulat-bulat, “Yang ini tidak masalah,” ucapnya, menarik kerah coat berwarna coklat pastel yang Jiae kenakan untuk menghabiskan jarak di antara bibir keduanya.

Dengan mata membulat Jiae bisa melihat Yoongi terpejam, membuatnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama meskipun masih banyak kalimat kekesalan yang menyangkut di pangkal tenggorokan. Ini jelas-jelas bukan ciuman pertama mereka selama lima tahun menjalin hubungan. Tapi ini memang yang pertama setelah Yoongi resmi kembali ke Korea.

Laki-laki yang kini bersurai pirang pucat itu memberi tidak ada lima detik bagi Jiae untuk memasok oksigen ke dalam paru-paru. Lantas menggigit pelan bibir bagian bawah Jiae sebagai usaha untuk menjelajah lebih jauh dan liar di dalamnya. Dan tentu saja, usahanya berhasil.

“Yoon-“

Yoongi kembali membuat Jiae menelan kalimatnya. Kali ini dengan sapuan singkat bibirnya di kening, lalu kelopak mata, lalu ujung hidung, lalu bibir Jiae untuk kemudian berlama-lama di sana. Ketika akhirnya Yoongi memberi Jiae izin untuk menghirup udara dengan leluasa, perempuan itu sudah kehabisan kata-kata untuk membalas senyum lebar yang terpasang di wajah kekasihanya.

Enggan berhenti sampai sana, Yoongi menyelipkan beberapa helaian rambut lurus Jiae di belakang telinga, jemarinya tak seketika menjauh demi menelusuri pipi sang gadis yang sudah semerah paprika. Sejenak Yoongi menggumam pelan, merasa ada yang kurang di leher Jiae yang senada dengan krim vanila.

Tanda kepemilikan.

Ketika jawaban itu terlintas, Yoongi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeksekusi rencananya. Menuntut kehadiran bibir Jiae kembali di dalam miliknya. Tidak selama sebelumnya, namun memberikan efek lebih mematikan ketika bibirnya beralih ke belakang telinga sang kekasih. Kemudian berjalan terus ke bawah seperti seorang pengembara yang sedang menemukan benua baru, menjelajahi leher Jiae dengan semangat menggebu.

“Yoongi…” Kata apa yang cocok untuk menjelaskan apa yang sedang Jiae lakukan? Mendesah kepanasan berharap langsung dibunuh saja karena tidak tahan atas betapa banyak dan kuatnya getaran yang dihasilkan oleh sentuhan Yoongi?

.

..

Seseorang harus memberikan Yoongi tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi (lagi) karena berhasil berhenti tepat setelah menandai collarbone Jiae dengan sebuah kecupan. Bahkan logikanya yang dulu sempat menjadi penghalang kini sedang mengejek Yoongi dan nalurinya yang masih bisa bertindak jernih dan sok suci. “Aku mencintaimu, Yoo Jiae.”

.

..

Jiae sedang kehabisan napas, oke? Dan pernyataan cinta itu merupakan yang perdana yang Jiae dengar setelah mereka resmi berpacaran. Jika Jiae sedang tidak terbakar oleh suhu tubuhnya sendiri dan napas Yoongi di kulitnya, pasti Jiae sekarang sedang berteriak kepada laki-laki itu. Bertanya sebenarnya apa yang ingin Yoongi lakukan terhadap dirinya. Mengajaknya menikah? Atau membunuhnya sebelum mereka melenggang ke pelaminan?

“Tadi ka-kau…ngomong apa?” Jiae tidak mendapatkan jawaban. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan meskipun sekarang Yoongi sudah beranjak dari sofa.

“Kau bisa mati duluan kalau mendengarnya lagi.”

Tanpa sadar Jiae mengangguk setuju. “Ja-jadi kita beneran akan menikah?”

Yoongi kembali menatap Jiae, mencoba dengan sekuat tenaga agar tidak menggendong Jiae ke kantor kewarganegaraan untuk mengurus surat pernikahan mereka saat ini juga kala ia mendapati sang gadis sedang mengerjap berkali-kali.

“Iya. Setelah itu baru kau boleh mati karena aku akan mengucapkan kalimat yang barusan setiap hari. Oh, dan aku tidak perlu repot-repot lagi menyuruhmu ganti baju.”

Alis mata Jiae naik perlahan, gagal mengerti maksud ucapan Yoongi yang terakhir. “Ha?”

Yoongi menghela napas pendek, kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu. “Aku sendiri yang akan mengganti bajumu, Calon Mrs. Min. Kalau sekarang kau tidak mau memakai baju yang lebih tertutup dan rok yang lebih panjang, maka sekarang aku terpaksa harus melakukan simulasi dan menunjukkan kepadamu bagaimana aku akan melakukannya nanti setelah kita menikah.”

Sekarang yang ada di otak Jiae adalah bagaimana ia bisa tetap hidup setelah berubah nama menjadi Min Jiae. Berhasil mengesampingkan masalah tersebut dan mengambil kendali diri, Jiae melempar batal sofa ke arah Yoongi. Bibirnya berkedut-kedut kesal bersamaan dengan alisnya yang naik turun.

“KAU BELAJAR APA SIH DI AMERIKA? PORNO? DASAR MESUM!!”

Yoongi berhasil menghindar. “Itu sih tidak perlu belajar juga sudah jago.”

“MIN YOONGI!!”

“Jangan teriak-teriak. Aku tidak mau calon pengantinku kehabisan suara saat malam tahun baru.“

Tangan Jiae berhenti ketika ia mengambil satu bantal lagi. “KENAPA MEMANGNYA MALAM TAHUN BARU?”

“Malam pernikahan kita.”

 

◊◊◊ SELAMAT TAHUN BARU ❤ ◊◊◊

◊◊◊ A/N ◊◊◊

Wuiih, panjang sekali heuheu. Kalau boleh jujur, aku sendiri merasa ini mungkin tidak semanis yang aku inginkan #soalnyaMomenYoongiJiaenyaKurangBanyak #halahKamuMaunya makanya ada side story mereka mau nikah :”)

Di Warna, aku emang maunya “Jiae suka sama Yoongi karena Yoongi ngebuat Jiae jadi orang yang lebih baik dengan kehidupan yang lebih baik juga” gitu #halah wkwkwk. Ya karena, siapa sih yang gak mau jadi ‘the best version of me’~ dan itu yg ngebuat Jiae kelepek-kelepek sama Si Putih Putih Pelangi Mejikuhibiniu ini >.<

Yoo Jiae di sini ya tipikal anak orang kaya yang gak tau mau jadi apa, alhasil gak bisa apa-apa dengan benar, trus walaupun keluarganya terlihat baik-baik aja, tapi rasanya masih ada yang janggal yaitu kurangnya kebersamaan dan penyaluran kasih sayang. And, again, Yoongi ngebantu Jiae dalam hal ini dengan ngirim scan-an diarynya Jiae yang ketinggalan di apartemennya ke ortu Jiae #LAHBISAGITU :”) /plis jgn tanya gmn Yoongi bisa tau alamat imel orang tuanya Jiae…/

Sedangkan Min Yoongi di sini…hem, udah dia mah gitu wkwkwk. Logika yang Yoongi kesampingkan adalah fakta bahwa Yoongi gak nemu alasan yang sahih /?/ kenapa dia suka sama Jiae, karena doi orangnya rasional banget gituu. Jadi gitu deh, trus sekalinya udah jadian eh dia mesum /?/ #azelKamuYah

Padahal kalo Yoongi mau nanya ke aku kenapa dia suka Jiae sih ya aku bakal jawab “the reason you love her is because you love her” #trusDigaplak T.T Eh tapi beneran, “love me for a reason, let the reason be the love itself” gitu kalo kata lagu apa gitu yg secara random aku denger… #curhatMulu

Trus, kenapa mereka dibuat LDRan? Soalnya…Yoongi masih mau mereka jadi ‘manusia’ dulu, belajar yang bener, menikmati banyak momen dan hal-hal baru tanpa perlu dikekang satu sama lain, mencicipi banyak warna lain kalo kata Jiae mah… Because Yoongi treasures Jiae, a lot, walo mesum juga #gagalSeriusLagi :”)

PARAH SIH INI AUTHOR NOTE PANJANG BENER WOOOI!! Heu, aku jelasin ini soalnya aku sempet mikir mau ngebuat ini jadi FF berchapter. Tapi aku ngerasa gak bakal selesai.  //Kalo jadi FF berchapter nanti judulnya aku namain ‘Cintaku Bersemi Saat Aku Sakit’ ._.v//

Semoga tetep terhibur ya, maaf kalo tidak sesuai ekspektasi. Aku akan tambah seneng jg kalo yang baca mendapatkan pesan yang ingin aku sampaikan di sini, ehehehe… Eng, apa ya pesannya dah? #jeleduk

Btw, aku sangat terbuka untuk penilaian kalian terkait penulisan aku :3 Kayak, aku sendiri kurang puas dengan penulisan satu kalimat aku yg kepanjangan, atau berubah2 sudut pandang di saat yang kurang tepat, atau kadang ngalur ngidur kemana tau ._.v DAN penggunaan warna-warna ini…agak cheesy wkwkwk GPP AKU SUKA KEJU! #pembelaan XD

NIWEI, ada yang diundang ke pernikahan mereka? Hari ini nih, wkwkwk #delusiTingkatTinggi :”)

HUUAAA, pokoknya makasih buat semua yang minta sequel Serakah, trus mau baca ini lagi, trus komen atau ngelike. Serius kalo gak dimintain sequelnya mungkin ini gak bakal jadi ihiks :”) Makasih sekali lagi ❤ //parah sih author note sendiri panjangnya bisa dijadiin ficlet -.-“//

Sampai jumpa lagi di Joon, Pinky Black, Butterfly, Abduction, Seven Sins, atau Friday End, atau semuanya, yah ❤  #promosiTerselubung ehe.

Advertisements

64 thoughts on “[A Stepping Stone] Warna

  1. Pingback: [A Stepping Stone] Sama – Lovelyz Fanfiction Indonesia

  2. kak Azel ff-mu benar benar membuat ku gila karena semua gula gula ini;;

    aku tuh pas baca bagian ini “Ada deru napas Yoongi di kulit wajahnya, pun halus bibir laki-laki itu di bibir” langsung kaya, AAAAAAK GILA, JIAE DICIUM WOY, MIN YOONGI BENER BENER FULL OF SUPRISE. GIMANA JIAE GA MAU BUNUH DIRI KALO DIGINIIN, SONGONG BANGET SIH SEBEL
    //maafkan capslock ku yang tidak nyantai ini//

    tapi serius deh pas baca ini aku tuh jejeritan(?) sendiri di kamar, malah pas baca yang serakah teriak teriak nya di sekolah sampe di tegur temen HAHAHA //oke ini kenapa malah curhat ya//

    ya pokoknya aku suka sekali dengan ff ini, kak azel tidak pernah mengecewakanku dan selalu berhasil menggoyahkan hatiku yang lemah akan gula dan banglyz :”)

    Like

  3. Pingback: [A Stepping Stone] Terima Kasih – Lovelyz Fanfiction Indonesia

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s