[A Book of Sacrifice] Genre

GENRE

Genre

Author: azeleza

Cast : Seo Jisoo [Lovelyz] || Kim Namjoon [BTS] || Lee Mijoo [Lovelyz] || Jung Hoseok [BTS]

Genre : School Life – Friendship – Drama – Angst

Length : ~ 1850 words

Rating : G

 

Sebuah kertas bertuliskan Seo Jisoo di bagian kanan atasnya tergeletak begitu saja di atas meja panjang di tengah ruangan. Sang pemilik sudah jengah melirik ke dalam kolom pertanyaan yang tertera di dalamnya. Heran terhadap diri sendiri mengapa ia tidak mampu untuk sekedar membual guna mengisi kolom jawaban.

Genre apa yang paling kau suka?” tanya Jisoo sambil menendang pelan kaki jenjang laki-laki yang duduk di sofa sebelah.

Setelah melirik sekilas, memastikan bahwa pertanyaan itu ditujukkan untuk dirinya, Kim Namjoon melepaskan sebelah earphone dari lubang telinga. “Hip hop.”

“Itu sih, sudah tertulis di jidatmu,” Jisoo mengernyit malas, “Literatur, maksudku,” tuntasnya.

“Biografi,” balas Namjoon tanpa pikir panjang.

“Ah, yang isinya curhatan hidup seorang tokoh –yang mengaku– hebat itu?”

“Berbagi pengalaman,” kata Namjoon, menggerakan telunjuknya ke kiri dan kanan. “Tokoh kontributif. Punya karya nyata. Hebat itu relatif,” tambahnya, meralat ucapan Jisoo tanpa perempuan itu minta –dan peduli.

“Yang lain? Buku motivasional, mungkin?“ tanya Jisoo dengan nada sekenanya. Jujur, sebenarnya ia hanya sedang iseng mencari bahan obrolan. Mencoba terlepas dari beban pikiran yang diakibatkan oleh secarik kertas berjudul “Isian Rencana Masa Depan”.

Kali ini Namjoon membutuhkan beberapa detik lebih lama untuk menjawab. “Sama sekali tidak.”

“Jawaban yang terduga. Bagaimana bisa kau mau diceramahi oleh orang yang tidak kau kenal tentang bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan? Toh ucapan kedua orang tuamu saja tidak pernah kau jadikan bahan pertimbangan,” kata Jisoo, berusaha menyindir.

“Hm, terima kasih telah membuatku tidak perlu menjelaskan,” balas Namjoon sarkastik.

“Sudah, ah. Berbicara denganmu seperti mengerjakan soal integral rangkap tiga.”

Tidak ada balasan. Hanya gerakan mengangkat bahu, lalu Namjoon kembali menyumpal telinganya dengan earphone. Membiarkan dirinya menghayati satu album Snakeships dengan lebih hikmat.

“Integral? Tapi kita kan anak sosial?” Lee Mijoo menyahut dari balik pantri. “Ini jus kalian,” imbuhnya ketika meletakkan nampan di atas meja bar.

“Makanya, ‘susah’, kan?” jelas Jisoo, beranjak menjauh dari Namjoon yang hayatinya sudah berada di dunia milik sendiri. Perempuan itu beralih duduk di kursi bar dan meminum segelas jus guna mendinginkan kerongkongannya yang mulai kering setelah kalah dalam percakapan bertopik acak yang ia mulai duluan dengan Kim Namjoon –Si Jenius yang memutuskan untuk tidak lanjut kuliah.

Beberapa detik setelah Mijoo mengangguk mengerti, Jisoo melirik Jung Hoseok yang tertawa kencang ketika pelakon dalam layar tipis dua puluh empat inci di hadapannya terjatuh ke dalam selokan.

Humor murahan, batin Jisoo.

“Hoseok, genre apa yang paling kau suka?” tanya Jisoo sambil memangku kepalanya dengan tangan. “Pasti komedi.”

Hoseok menggeleng, membuat Jisoo dilanda sedikit rasa penasaran. Hampir dua ratus lebih koleksi video –yang hampir semuanya bajakan– milik Jung Hoseok memiliki konten yang tidak jauh-jauh dari adegan berlebihan yang dibuat untuk mengundang gelak tawa. Kalau bukan komedi, memang namanya apa? Dokumentasi? Kendati isinya kebanyakan adegan orang-orang jatuh tersandung kulit pisang?

“Perempuan.”

Jisoo merasa lengannya spontan kehilangan tenaga untuk menahan kepala. “Itu gender, ‘pintar’,” sindirnya gemas.

“Oh. Beda, ya?” balas Hoseok asal, sedikit melirik lawan bicara untuk memamerkan pipinya yang membulat naik jika tersenyum.

Jisoo mengabaikan tawa Hoseok yang menggelegar lagi di ruang tamu keluarga Lee. Kali ini disebabkan oleh seekor kucing yang melintas, mengagetkan seorang laki-laki kekar yang sedang membenahi atap hingga jatuh ke tanah sambil berteriak melengking. Berbeda dengan Jisoo yang menggeleng malas melihat apa yang disuguhkan layar telivisi, Mijoo tertawa tertahan menatapnya. Atau lebih tepatnya, menatap punggung laki-laki bernama Jung Hoseok.

“Kau kenapa? Suka komedi juga? Atau sedang berbunga-bunga karena Jung Hoseok suka wanita?”

Kalimat nyaris tak bernada dari bibir merah muda Jisoo itu sontak membuat Mijoo mengerling kaget dengan mata membulat. “Atau senang karena kau punya kesempatan menguntai kisah asmara bersama Jung Hoseok? Yang walaupun delapan puluh persen isi otaknya hanya ada gerakan popping atau salto di udara, ternyata toh bisa juga memikirkan wanita?”

“Iih, Jisoo-ah. Kau ngomong apa sih. Tidak mungkin aku suka Si Jidat Lebar itu.” Mijoo menggeleng-geleng cepat, tanpa sadar bahwa tindakan tersebut malah diartikan sebaliknya oleh sang sahabat.

Enggan melanjutkan percakapan, Jisoo memutar bola mata. Akhir-akhir ini kehidupan sedang membosankan, pun Jisoo belum juga menemukan jawaban untuk ditulis di kertas perencanaan masa depan yang harus dikumpulkan besok sebelum bel makan siang. Setelah memandangi Hoseok yang masih belum lelah tertawa, Mijoo yang sedang senyum-senyum malu menatap Jung Hoseok –atau televisi, terserahlah–,  dan Namjoon yang sedang kencan dengan ponselnya, Jisoo kembali menghela napas panjang.

Kenapa hidupnya tidak semenarik novel bergenre fantasi? Dengan penyihir jahat tanpa kaki, bocah laki-laki yang tidak bisa mati, ataupun naga bernapas api? Sci-fi juga terdengar menyenangkan, tapi terlalu berat bagi otak Jisoo yang malas berhubungan dengan fakta dan hal ilmiah. Seringkali, mimpi yang ia alami tiap malam malah lebih menarik untuk disaksikan. Bergenre thriller misteri, Jisoo kadang heran juga mengapa selalu dirinya yang berperan sebagai pembunuh yang haus darah dan lapar akan cincangan daging manusia.

“Sudah jam tiga. Kalian tidak telat?” Kalimat dari Namjoon itu adalah kalimat pertama hari ini yang berhasil membuat Hoseok benar-benar melepaskan pandangannya dari layar televisi. Serta membangunkan Jisoo dari lamunannya akan mimpi tadi malam di mana dirinya sedang memaku kepala orang tak dikenal di dinding lorong sekolah…

“Serius? Wah. Mijoo, ayo kita berangkat!!” teriak Hoseok sambil mematikan televisi dan meraih ranselnya.

Mijoo langsung mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya dari kursi. “Kalian masih mau main di sini?”

Namjoon menggeleng. “Ini,” katanya sambil menyodorkan sebuah bingkisan.

Mijoo bingung sesaat, menganga lebar kemudian. “Ankle support? Serius?? Yeeay! Terima kasih, Namjoon-Namjoon,” tutup Mijoo dengan senyum lebar.

Sedangkan mata Hoseok membulat melihat bingkisan yang kini telah berpindah tangan. “Whoaa, Kim Namjoon. Buatku mana?”

“Sudah bulan lalu, Jung Hoseok. Kau berencana membuatku miskin?”

Bibir Hoseok mencibir, kepala mengangguk-angguk cepat sebagai tindakan untuk menahan rasa keki. “Jisoo, kau benar-benar tidak bisa nonton?” tanyanya pada Jisoo yang sudah siap pulang dengan ransel di pundak.

“Tidak mau,” ralat Jisoo. “Waktu istirahat malamku terlalu berharga untuk datang jauh-jauh ke salah satu gedung siaran hanya untuk menonton Lee Mijoo dan Jung Hoseok menjadi penari latar grup idol yang baru debut. Hubungi aku jika kalian adalah penari utama di panggung itu-”

“-atau jika sudah mengadakan fanmeeting sendiri,” sela Hoseok, sudah kelewat hapal dengan jawaban Jisoo yang repetitif.

“Ya, ya, ya, terima kasih dukungannya, Jisoo-ah.” Mijoo merangkul bahu Jisoo, paham betul bagaimana Jisoo selalu memunyai cara sendiri untuk mendukung teman-temannya meraih mimpi.

“Sabar ya. Setahun atau dua tahun lagi kau sudah bisa memamerkanku kepada semua orang. ‘Hei, hei, aku kenal sekali dengan laki-laki tampan bernama Jung Hoseok yang itu’ Atau kau boleh lebih pamer lagi seperti-”

Jisoo memukul pelan lengan Hoseok, lagi-lagi harus memutar bola mata. “Sudah. Pergi sana.”

◊◊◊

“Jadi, sudah tahu mau tulis apa?” Kesunyian adalah hal yang wajar ketika Jisoo hanya pulang berdua dengan Namjoon, sehingga sebuah pertanyaan yang diinisiasi oleh laki-laki jangkung itu sempat membuat Jisoo berpikir lama.

“Em…Entah. Yang pasti bukan Rapper Terkenal di Hongdae.”

Jisoo mengangkat bahu ketika ekor mata Namjoon meliriknya. “Aku tidak akan membantu Bibi mengubah pendirianmu. Hubungi aku jika kau-”

“Merupakan rapper utama di panggung itu atau jika kau sudah mengadakan fanmeeting sendiri.”

Jisoo berdecak, tidak suka ucapannya disela walaupun menyela adalah tindakan favoritnya. Teman yang ceplas-ceplos dan menyebalkan merupakan peran yang paling ia kuasai –dan sukai, tanpa ia sadari.

“Hm, kau ingat juga?”

“Tidak perlu IQ 140 lebih untuk mengingat ucapanmu yang nyaris selalu sama per kata dan per nada. Apalagi diucapkan nyaris tiap hari,” ucap Namjoon sambil memainkan tangannya di atas layar ponsel yang sedang menampilkan situs musik online.

Jisoo berdecak lagi, tidak suka ketika ia kehabisan kata untuk membalas Kim Namjoon yang sangat profesional dalam menyombongkan kepintarannya. Jika harus dibuat, maka akan sangat panjang list orang-orang yang menyayangkan keputusan laki-laki itu untuk tidak melanjutkan pendidikan formal ke tingkat yang lebih tinggi. Jisoo salah satunya. Namun, Namjoon juga yang mengajarkan pada Jisoo bahwa ilmu bisa didapat di mana saja. Bangku kuliah hanya salah satu sarana, pun tidak menjamin akan kesuksesan masa depan, apalagi gelimangan material yang sering membuat manusia buta akan harta.

Jisoo menghela napas panjang, kemudian tanpa permisi meraih sebelah earphone dari telinga kanan Namjoon untuk digunakan. “Kalian bertiga ini fansku, atau apa? Mengerikan.”

Sudah terbiasa dengan sikap kurang ajar milik Seo Jisoo, Namjoon hanya tertawa kecil. Mengisi indera pendengaran Jisoo dengan tawa berat beberapa saat, membuat Jisoo menoleh dengan tatapan sinis.

“Kau mungkin cocok jadi penulis,” kata Namjoon, masih tersenyum tipis walaupun berucap penuh keseriusan.

“Fiksi?”

“Mungkin.”

Jisoo langsung mendengus, kemudian menyilangkan tangan di pinggang. “Lalu membukukan kisah kita? Seorang perempuan ketus yang tidak tahu mau jadi apa. Berteman dengan seorang perempuan yang sangat gila dansa dan partner laki-lakinya yang kelebihan hormon bahagia. Lalu seorang lagi laki-laki dari keluarga terpelajar yang rela tidak dianggap anak oleh ayah kandungnya karena lebih suka mengeritisi kehidupan lewat musik dan rima.”

Namjoon hanya mengangkat bahu sekian senti, sekian sekon. “Hm, boleh juga. Hubungi aku ketika kau-”

“Jangan gunakan kalimatku. Sudah punya hak cipta,” ucap Jisoo asal, yang berhasil membuat Namjoon memutuskan untuk menggumam sebagai balasan. Menyudahi percakapan.

Keduanya masih berjalan bersebelahan. Melangkahkan kaki bersamaan. Satu lagu yang sedang berada di puncak chart menjadi latar suara lewat earphone untuk mereka dengarkan. Terlihat seperti satu pasangan kendati tujuan percakapan dari keduanya tadi sama sekali bukan untuk menambah kemesraan. Kesunyian dibalik jutaan kata yang berlari-lari di pikiran membuat Jisoo mulai kegerahan.

“Hei, kau tahu siapa yang-”

“Aku ingat kita sepakat tidak akan membahas ini lagi,” sela Namjoon, tidak memerlukan kalimat lengkap untuk mengerti maksud dari ucapan Jisoo.

“Aku ingat aku tidak janji,” tukasnya cepat. Lalu melepaskan earphone yang menyumbat telinganya, toh tiga menit lagu yang dipenuhi ucapan-ucapan kelewat cepat bukanlah favorit Jisoo.

“Kim Namjoon, tidak bisakah kau berhenti menyukai Lee Mijoo?”

“Dengan orang yang berbeda, apa jawabanmu untuk pertanyaan yang sama?”

Alis Jisoo sukses bertaut, mendengus kesal pada Namjoon yang berhenti berjalan sesaat untuk mengonfirmasi bahwa jawaban dari Jisoo adalah sebuah gelengan. Sejurus kemudian laki-laki itu kembali menampilkan senyum tipis, menyatakan tanpa suara bahwa keduanya memiliki jawaban yang serupa.

“Kau tidak suka genre drama, apalagi romansa.” Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang tidak bisa disanggah. Lagi-lagi membuat Jisoo ingin membuka kepala Namjoon dan mempelajari isi otaknya tanpa terkecuali.

“Penuh tipuan dan pengorbanan. Kau tahu, kisah cinta segiempat di sebuah pertemanan yang terjalin tanpa rencana tidaklah semenarik itu. Terlebih lagi ketika kau menjadi salah satu dari sudutnya,” ujar Jisoo dengan berat. Kakinya melangkah lebar guna mengembalikan posisinya di samping Kim Namjoon yang sudah kembali merajut langkah.

“Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana, Seo Jisoo.”

Kalimat itu sukses membuat Jisoo tertawa kecil. “Jangan ceramahi aku, Tuan Muda Yang Tidak Mau Diceramahi.”

Kesunyian kembali menemani mereka, berlangsung agak lama ketika menunggu bus masing-masing datang. Seketika, manik hitam Namjoon menghadiahkan Jisoo dengan sebuah sorotan.

“Keluarkan,” kata Jisoo, mempersilahkan –atau menyuruh– Namjoon untuk mengutarakan apa yang ada di kepalanya.

“Kau cocok jadi penulis,” ucap Namjoon.

Jisoo spontan menggeleng. “Jangan mulai. Aku tidak mau, karena aku tahu bahwa aku tidak bisa mengubah kenyataan seperti yang penulis lakukan terhadap tokoh buatan mereka…”

“Kau belum selesai.”

“Titik,” balas Jisoo cepat, terlalu malas untuk melanjutkan karena paham bahwa kalimat yang akan ia ucapkan hanya akan berakhir dengan rasa ngilu di seluruh persendian.

“Sudah kubilang, kau cocok jadi penulis.”

Sekarang Jisoo siap membuka perdebatan, namun, terdiam adalah yang ia lakukan. Memandangi lekat-lekat wajah laki-laki itu. Cekungan yang terbentuk sempurna di pipi Namjoon merupakan penampakan langka yang –kalau bisa– ingin Jisoo rekam secara permanen dalam memorinya.

“Ada genre yang namanya… Persahabatan.”

◊◊◊

“Jung Hoseok, aku menyukaimu.”

Ya…Mijoo-ah, kau ngomong apa sih?”

“Pokoknya, aku menyukaimu!”

“Tapi aku-”

“Menyukai Jisoo.”

◊◊◊

Kalaupun bisa, dari dulu sudah aku pastikan bahwa cerita kita akan berakhir bahagia. Tidak ada Seo Jisoo yang menyukai Kim Namjoon. Tidak ada Seo Jisoo yang…

◊◊◊ fin ◊◊◊

◊◊◊ A/N ◊◊◊

Lovelyz and Bantan’s 94 line :’)

Hiks, jadi ini draftnya dibuat bukan di 2016, cuma diseleseiin di 2016 (today @5:48 pm). Eng, pokoknya ini bukan project coming soon 2016.

Oh ya, Jisoo tau Hoseok suka sama dia. Pokoknya dia merasa bersalah karena suka sama Namjoon dan disukain sama Hoseok, tapi ya dia gak bisa apa-apa. Jisoo sama Namjoon ngerti keadaan persahabatan mereka yang kena cinta segi empat. Mijoo tau Hoseok suka Jisoo. Hoseok cuma tau dirinya suka Jisoo…#apasihIni :”)

Aku gak ngerti nge-angst #sukanyaYangBahagia dan aku sendiri masih kurang banget dalam mengerti genre2 yang ada di dunia tulis menulis ini hiks hiks. T.T Iyah gitu :”) Maafkan ini FF hasil dari kegalauanku bingung ngepair Hoseok sama Jisoo ato Mijoo, sama2 onyeo abisan :3

Hue, aku sangat berterima kasih buat yang baca, komentar, dan like :3 (dan memberikan aku pencerahan apa bedanya drama sama angst ._.)

My first attempt to angst/drama, hiks. Semoga terhibur 🙂

Advertisements

32 thoughts on “[A Book of Sacrifice] Genre

  1. Take aku pertama! Azel aku baru tau kalo kmu lebih tua dariku T.T
    Omong-omong aku yg kelewat oon kali ya jadi agak bingung memahami ceritanya tapi yahh aku naksir berat sama diksi di ff ini 😂😂

    Like

    • Iya nih aku mah lahirnya tahun 2005 udh tua banget…#janganSelfDenial wkwkwk

      Jangankan kamu, aku jg bingung kok ini sebenernya nyeritain apa wkwkwk xD Bahkan rencananya gak bakal diselesain ._.v

      Intinya aih Jisoo galau masa depan dan persahabatan mereka wkwkwk. Percakapan antara Namjoon dan Jisoo emng rada nyaru2 aneh, karena aku emng ngebuat mereka kek orang2 nyebelin yg pinter ngomong dan baca orang gitu..duh gitu deh bingung uga wkwwk xD Yasudahlah yg penting persahabatan mrk gak ancur aja :”(

      Btw makasih Intan udh baca dan komentar ❤

      Liked by 1 person

  2. huwaaaaaa demmmmmnnn….
    udaj jalan berduaan kirain namjun bakal nembak, ternyata….
    bagus bgt, aku jg galau, hoseol itu lebih cocok ama miju apa jisu -_-

    Like

    • Hai, Chae~~ Makasih udh mau mampir dan komentar ❤

      Iya nih…mungkin aku harus betapa dulu di suatu tempat terpencil ._.

      Sekali lagi makasih, Chae :3

      Like

  3. Loh loh kak Azel mempertemukan Banglyz 94 liner woww😘
    Kak makasih banyakloh padahal aku kemaren baru ngerengek minta FF pairing atau yang ada Castnya Mijoo J-hope eh gataunya malam ini udah dipost,berarti salah satu wishku terkabula huwaaa😂😂😂😂😂😂
    Bahasanya keren tapi yang penting aku paham isi ceritanya ♥♥

    Your Fans 😘

    Like

    • Kyaaa Nabilaah, makasih udh nongol lg di kolom komentar Genre :3

      Tapi maaf ya, mereka tidak jadi kopel wkwkwkwk xD. Huee makasih, Nab. Yah intinya itu lah ya… #sendirinyaAgakGagalPaham :”)

      Your Fans, too ❤

      Like

  4. hai azaleza-nim!

    I’m here just to compliment your work, no other than that. tapi ada satu kata yg mengganjal di pikiranku pas lg enak2nya baca…

    “…rela tidak dianggap anak oleh ayah kandungnya karena lebih suka mengeritisi kehidupan lewat musik dan rima.”
    it is actually ‘mengkritisi’ ka, karena dlm tatanan Bahasa Indonesia, imbuhan meng- tidak lebur dengan huruf k, p, s, dan t bila huruf setelahnya adalah huruf mati. apalagi ‘kritis’ itu kata serapan dari bahasa asing

    aduh aku ini apa sih T.T author jg bukan, aku udah sok menggurui ttg kosa kata sama yang udah senior TT.TT

    now, the compliments! diksinya. storyline-nya, bahkan pemilihan karakternya… I could’t ask for more, as always. I really thank you for finally making 94liners ff karena selama ini aku nemunya vjeong yekook aja. I also thank you for inspiring me kaaa hehehe. have you ever consider to be an author that sells book? karena aku ngebaca ff ini berasa baca novel, keren amat :”’)

    sampai jumpa di karya berikutnya [or perhaps in your project?] ya ka! keep up the good work until then!!

    Like

    • Hai, Nightskies~ Makasih udh baca dan komentar :”) INI AKAN PANJANG LAGI.

      Seriusan aku jg baru mulai dlm tulis menulis dan baca membaca ini, jadi, aku jg masih banyak banget(banget banget banget) kok kurangnya. Kosakata dan EYD jg masih sering bingung dan kurang ngeh sama hal2 perintilannya. Makasih banyak malah atas ralatnya <3<3<3 I’d love to be better everyday, thank you for helping me so, yeaah <3<3<3<3<3

      Pemilihan karakter…honestly ini trancam gak bakal aku kelarin karena aku sempet stuck ngebuat tokoh Namjoon sedemikian rupa dan Jisoo sedemikian rupa…like, what kind of convo does a brilliant boy and a badmouthed girl usually have? =_= not to mention that the girl is falling in love with the boy…

      Oh, iya memang, VJeong and Yekook are life!! WKWKKWKWK XD

      You better stop with me being your inspirator or smth wkwkwk xD Aku masih cupu kok, check out other ff blogs and you’ll agree, but idk, i fell so honored jd bingung harus bilang apa lg :”) MAKASIH SIH YG PASTI ❤

      Sells book? ME? Whoa, pertanyaan kamu tuh selalu bikin aku degdegan ya :”)
      Actually no, but yes, but no. The first no, karena aku belum ngejadiin menulis sebagai kebiasaan aku, it’s merely a passion w/o goals. I write when i want to. Jadiin satu buku masih mustahil dengan niat nulis aku yg kek jaringan GSM di pedalaman, ilang muncul. The yes, karena SIAPA YANG GAK MAU EMANG? Ato ini cuma aku? Sebagai yg suka nulis(walo ilang muncul gitu niatnya) aku jelas mau karya aku diterbitkan secara legal dan punya hak cipta. Bukan masalah royalti, jelas. Recognition dan self-actualization yg dicapai setelah itu yg pastinya wow bgt,dan pasti menantang bgt sih :”). The second no, it’s about me and my insecurity. It’s better now, tho. Dulu aku gak mau publish ff buatan aku karena takut gak ada yg suka, sekarang prinsip aku nulis FF karena aku suka, gak ada yg suka ya gpp(walo sedikit sedih jg ofc), yg penting ada satu yg suka yaitu aku. Sedangkan nulis buku gives different feeling to it. Ada tujuan lain dan itu bikin aku…eng, berharap? Jadinya malah takut kalo harapannya gak tercapai seperti gak diterima publisher, gak ada yg beli, ga ada yg suka…Kesimpulannya, it’s a no, right now. Sekali lagi, makasih Nightskies ❤ Aku curhat mulu padahal pertanyaan kamu bisa dijawab with only a simple yes or no :”) #maafKolomKomentarJadiKolomCurhat

      Yaas, I’ll gladly waiting for your comment in other FFs 😀 aaagh, makasiiih ❤

      Like

      • hai lagi kaa!^^

        thanks for replying!! mungkin komenku bukan satu-satunya yg bakal bantu kakak being the better author, tapi yg pasti aku bakal trs bantu kakak supaya ffnya makin WUAW dari hari ke hari(?)

        pemilihan karakter mengancam selesainya ff ini? ahh! so that’s why your writing-style isn’t as “comfortable” as in your suga-jiae fics then… aku baca ff kakak yg lumayan lama [karena buku teks biologi ftw!] dan yg kali ini somehow berasa rada kaku, ditambah ini ff pertama kaka yg ngelibatin 94liners (yang kubaca. I don’t know if you’ve made another one before, sorry!T.T) jadi aku menyimpulkan bahwa ini adalaj ff kakak yg keluar dari zona nyaman.

        okaaay ka hihi, I’ll stop saying that you are my inspirator but I won’t stop saying that your ffs are inspiring me /bandel. karya author lain jelas ga kalah keren, aku akui itu. but somehow your ff catch my eyes and I won’t hide it hwhw, anggap aja aku fans kakak. don’t worry, aku menghargai ff author lain but you just got a special treatment from me x)

        AAAAAA kakaaak kok kita samaan >< waktu SD aku pernah kirim novel ke penerbit dan ditolak, since then aku gapernah biarin orang baca cerpen2ku until I got into kpop dan mengenal dunia ff(?) aku jd punya motivasi baru dan mulai nulis lagi. tp butuh 3thn [I got into kpop in 2012] utk memberanikan diri ngepost ff-ku karena… again, aku paling takut ditolak T.T

        [ka aku fix bgt ketularan kaka, suka curhat di kolom komen TT.TT]

        Liked by 1 person

  5. Wee kemarin udah bikin yang suga sama jiae, sekarang ini 94liner. Kenapa jisoo ga pasangan sama rapmon? Terus mijoo nya ama hoseok aja. Udah mereka cocok banget. Ih kaka mah jago bikin kaya gini, aku mah apa. Keren sekali, kalo bisa sequel ada biar jisoo sama rapmon jadian terus kaka jadi cupid dadakan nya. Di tunggu ff yang lain nya juga😊

    Like

    • Hai, Nifaaa makasih udh mampir lagi ❤

      Hue iya knp ya mrk gak kopelan aja :”( #penyukaYangBahagia. Karena persahabatan mereka lebih patut untuk dipertahankan, mungkin? #ngomongApaLuZel

      Hue aku mah apa :” masih banyak yg lbh jago kok, Nif. Ayo sama2 jd lbh bagus lagi ehehehe :3
      Duh, aku jd cupid yg lainnya dulu deeeh wkwkwkwk

      Makasih Nifaaa sekalo lagi ❤

      Like

  6. Annyeong reader baru, bias Lovelyzjisoo

    huuuuaaaaaaaa…
    ada cinta segi empat diantara persahabatan mereka jinjja DAEBAK. kirain si gak bakal ada cinta segi empat, eh taunya ada

    Jadi makin suka sama lovelyzbangtan 94lines, ffnya keren.
    kalau bisa minta squelnya dong

    Author fighting

    Like

    • Haloo, parkjeeah~ Makasih udh mau mampir dan komentar jg :3

      Iya…ini cinta segiempat yg tiba2 muncul karena Hoseok terlalu shipable wkwkwk~ Huee makasih parkjeeah :3 Sequel kemungkinan tidak ada nii :”

      Makasih sekali lg ❤

      Like

  7. kak azelll 😥 aku kurang paham sama kalimatnya kak azell..
    jadi beberapa kata aku search di mbah heheheh

    tapi akhirnya paham pas notenya kakak.. jadi begitu toh.

    Intinya genre ff ini friendship (y)

    Liked by 1 person

    • Hueee maafkaan aku, huhu yg ini emng sok2 dibuat gimana gitu soalnya mainnya Jisoo Namjoon yg notabene rada ngotak gitu kesannya ._.

      Iya, Del wkwkwk intinya Jisoo galau masa depan dan hubungan persahabatan mereka duang kok :”

      Makasih Adel udh nongol lagi di kolom komentar heuheu ❤

      Like

  8. Aahhh jadi cinta segiempat ya?kenapa gak segilima#gak
    For thr first kukira namjoon di couplein sama babysoul disini ketika kuliat lagi ada jisoo

    Duh~
    Jadi,intinya mereka tuh tau ada cinta segiempat di antara persahabatan mereka tapi mereka anggap kayak’pura-pura gak tau’?

    Btw,aku juga lagi dilema mikirin Mijoo-Hoseok dan Jisoo-Hoseok,tapi menurut aku pantesan Mijoo-Hoseok sih mereka sama-sama gila×_×
    Ah kok jadi curhat~

    Pokoknya aku suka semua karya kamu kak azel
    Ngefans nih!ngefans!^^

    Liked by 1 person

    • Waduuu rumit sekali itu, babyhee :””)

      Iyaa benar sekali :3 “gak usah dibahas” semacem itu. Tapi yg tau jg cuma Jisu Namjun. Jisu jg udh ngasih tau kalo dia suka Namjun. Tapi ya mau gimana? Kalo kata Jisu mah.

      Setuju sii, tp Jisu jg charming bangeet cerah banget senyum embaknya aku suka silau :”)

      Aku ini mah apa…Huee, makasih babyhee :”) Aku jd tambah semangat bgt pokoknya.

      Like

  9. Pingback: [Vignette] Genre | parkjeeah

  10. Akhirnya ada juga yang bikin ff cast nya mereka ber4.. Suerr aku suka kali cast nya merekaa gampang bayangin nyaa
    Kalimatnya namjoon bikin rada gak mudeng tapi setelah baca beberapa kali lumayan paham..
    Mereka cinta segi 4 dan kenapa si cowok nya gak mau ngungkapin ke si ceweknyaaaa? Kenapaaa? Huhu bikin greget sumpah, itu juga hoseok udah di sindir jisoo kalo mijoo suka sama dia kenapa gak peka jugaaa aduh hosoek gak rela bias digituin
    Buat si jisoo mijoo sabar yah cinta kalian ditolak huhu perlu ganti gebetan kalian..
    Nice ff buat yang cast nya mereka lagi? Suka sama merekaa banget…

    Liked by 1 person

    • Hi, Emma :3 Makasih udah baca dan komentar ❤

      Ihiks, iya ceritanya dia gitu emng sulit dipahami kayak gadis2 remaja gitu deh /lah?/

      Iyaaaa, kalo Namjun sih ya krn itu, mrk mau ttp menjaga pertemanan mereka :”) Dan Jisoo jg gitu sebenernya, cuma dia gregetan ngeliat Namjun sakit ati ngeliatin Miju Hoseok ._. Eng yah semacam itu ihiks /tidak jelas kamu Zel/

      Kalo Namjun sama Hoseok menyatakan cinta jg mrk bakal ditolak T.T Ugh, knp gak bahagia banget sih sebel jugaaaka :”””

      Nantikan saja ya kehadiran 94l ini wkwkwk ^O^ Makasih sekali lagi Emma udh mau baca :3

      Like

  11. Pingback: [Ficlet] Summary | Lovelyz Fanfiction Indonesia

  12. Pingback: [TEASER?] Love is… | Lovelyz Fanfiction Indonesia

  13. Jisoo x Hope pls T.T mereka terlalu imoed di isac, melihat bagaimana Jisoo ngeliatin jhope dengan tatapan damba (?) /ih
    Dan bagaimana jhope deket binggow sama Jisoo, pls deh hati Aku gaququ😥😭😭😭😭😭 #banglyzgariskeras
    .
    Anyways, I luv it! As usual, kakzel keyen :3

    Liked by 1 person

    • WADUH IYA BENER! AKU JG GREGETAN NGELIATNYA WKWKWK. Mungkin Jisoo lagi kesilauan itu :””) Emang momen gitu2 bikin hati shipper kalang kabut lah -.-” #banglyzgariskerasjugak wkwkwkwk XD

      Huaa, maaci tipilllll di Genre aku malah kurang srek karena kalimatnya agak sok berat gitu entah kenapa :”

      Luv ❤

      Like

  14. WHOA KEREN BANGET. SEQUEL DONG HAHA /? SERU. PERTAMA KALINYA SAYA PENGEN SEQUEL :”)

    karyamu bagus. i will always wait and anticipate your fanfiction, fighting! > <

    Liked by 1 person

    • Hai, Mathilda :3
      Huaa makasih udh baca dan komentar, dan suka juga :”D
      Sequelnya…bukan berupa sequel nih, wkwkwk tp lebih kayak cerpen /?/ banyak gitu tentang mereka. Nextnya bisa liat judulnya Summary, Mathilda :3

      Like

  15. ini ff sukses banget bikin hatiku terkoyak koyak /apaan
    pokoknya keren deh huhuhu
    peurih liat cinta segi-empat diantara persahabatan gini /yha

    +kalau bisa hoseok sama jisoo soalnya aku ngeship mereka hahaha

    ditunggu kelanjutannya, fighting! x)

    Liked by 1 person

    • Haloo, Yienjoo? Hihihi :3
      Maaci udh baca si Genre tempat aku menyakiti /?/ 94znya banglyz :””), makasih udh bilang keren jugaaa huaaa :”D

      Iyaa gak tau gmn mrk kek muter2 di kotak gitu kisah cintanya kesian T.T Wkwkwk duh sama siapa yaaaa xD jujur aku teh sampe skrng jg blm nemu akhir bahagia buat mrk :”)

      Iyaaa makasih semangatnyaaa trus udh mau nungguin jugaaa ♡♡♡

      Like

  16. Hai kak Azel, maaf aku baru mampir di sini, hikseu:’)
    Rumit juga ya kayanya, segitiga aja udah rumit apalagi segiempat kan wkwk
    Tapi entah kenapa aku suka cara si dua orang itu (Namjoon dan Jisoo) nanggapin masalah yang ada di tengah-tengah persahabatan mereka
    Ngga baper atau semacamnya, tapi lebih kaya ‘jalanin aja’ yang ada sekarang
    Hahaha, gitu deh kak~ XD /apa sih?/

    Liked by 1 person

    • Hai, Ai~ tbh gak tau knp kamu harus minta maaf heuheu, pdhl makasih bgt loh udh nyempetin mampir ke lapak lama wkwkwk

      Iya…iya, gitu. SAMA IH. Mereka emg so cool aku gak paham :”) Yup yup, mereka menjaga pertemanan mrk bgt gitu kan T~T Betul kok gituuuuuuu wkwkwk

      Makasih Ai udh mampir yaah :3

      Like

  17. Pingback: [A Book of Sacrifice] Introduction – Lovelyz Fanfiction Indonesia

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s