[Freelance] Arloji

arloji-copy

Arloji

Poster by https://lightlogy.wordpress.com/

Author: ANi // Cast: Kim Ji Yeon (Kei LOVELYZ), Do Kyungsoo (Dio EXO), Son Yeon Jae (Atlet) // Genre: Fantasy, Romance, Family life // Rating: T // Length: Oneshoot

This is my story, just mine. The cast’s is not mine. Warning Typo’s everywehere, guys. Don’t be plagiat and Siders, PLEASE…TT

Catatan: kata yang dicetak miring adalah fantasi/bukan bagian kehidupan Kei, jadi ini realita milik orang lain yang tiba-tiba aja masuk ke dalam kepala nya dia.

Yeon Jae memandang ragu pada gang kecil dengan penerangan seadanya itu. Sudah lebih dari sejam ia disini dan tak ada pergerakan apapun saat ia datang. Raut wajahnya menampakkan hal-hal aneh yang syarat akan kebingungan.

Setiap detik kepalan nya mengeras, buku-buku tangan nya berubah putih diikuti caranya bernafas yang seolah haus akan oksigen. Jangan sekarang, pikirnya kuat. Gadis muda berumur 18 tahun yang lengkap dengan setelan hangat khas musim dingin itu tak henti-henti nya meyakinkan diri.

“Waa!” Kei terperanjat kaget dari tidurnya. Begitu ia membuka mata, yang ia lihat hanya Kyungsoo dengan gayung berisi air.

“Apa yang oppa lakukan sih?!” Pekik Kei dan menyibakkan selimutnya.

“Tentu saja membangunkan mu, gadis manis.” Katanya dingin lengkap dengan sorot mata tajam seperti elang yang memang miliknya.

“Sudah sana, keluar! Ganggu waktu tidur ku saja.” Usir Kei dan mendorong pria yang notabene lebih tua darinya 2 tahun ke ambang pintu. BLAM. Pintu pun tertutup-akibat bantingan dari Kei-dan tak ada lagi gangguan seorang Do Kyungsoo.

“Nanti kalau oppa tak kunjung bangun, akan kulakukan hal yang sama ya oppa?!” Sindirnya keras lengkap dengan suaranya yang melebihi 5 oktaf.

“Terserah!”

“Sudah kubilang jangan bangunkan aku dengan air. Oppa sulit sekali sih diberitahu nya.” Ujar Kei saat melihat pria-atau kekasihnya itu-sedang sibung dengan ‘selingkuhan nya’ di dapur.

“Kau saja yang susah dibangunkan.” Balas Kyungsoo tak kalah berang sambil mencincang paprika merah dengan kesal.

“Oppa juga kan sama, susah dibangunkan. Tapi jangan bangunkan aku dengan air kalau aku susah dibangunkan nya, oppa tendang-tendang saja pantatku pasti aku bangun.” Kei mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Kyungsoo lalu memangku wajahnya dengan kedua tangan. Kyungsoo yang mendengarnya mendelik kesal dan semakin semangat mencincang paprika-yang malang itu-hingga kecil.

“Mana berani aku membangunkan mu dengan cara itu?! Sama saja seperti aku masuk dalam kandang buaya tau.” Kyungsoo menghentikan aksi mencincang-cincang paprika merah tersebut yang sudah menjadi irisan kecil oleh ‘selingkuhan nya’ dan melirik sekilas ke arah Kei tepat di netra gadis nya.

“Apa lagi salahku?” Katanya saat Kyungsoo melihat gadis itu dan tertangkap oleh Kei. Kei yang melihat tak ada respon menghela napas pasrah lalu membenturkan kepalanya ke meja kayu.

“Tuhan, kuatkan hamba mu yang sensitif dan lemah ini. Berikan aku ketabahan.” Gumam nya.

Cuaca musim dingin yang terjadi di akhir bulan Desember cukup membuatnya merinding. Setiap 5 detik sekali-kalau dihitung dengan akurat-Kei bisa merasakan setiap endusan angin pada kulit wajahnya. Ditambah dengan beban nya yang berada di samping, yaitu Kyungsoo.

Pria itu tetap saja marah setelah ada adegan ‘tawuran’ sebelum acara sarapan di mulai. Semakin dinginlah cuaca akhir bulan yang sebentar lagi akan memasuki tahun baru. Sejujurnya ia mengaku salah, tapi kalau cara Kyungsoo yang membangunkan nya seperti tadi pagi, itu jelas sudah kelewatan.

“Oppa jangan marah terus.” Rajuk Kei saat sekilas meliat kekasihnya tak kunjung ber-beo seperti biasa.

“Makanya, kalau di bangunkan pagi itu jangan sampai membuat kesabaranku habis.” Sahut Kyungsoo.

“Iya, aku yang salah. Maaf.” Kei yang awalnya tak ingin mengatakan kata maaf akhirnya menyerah melihat kekasihnya yang mendiamkan nya sedari tadi, ia tak tahan kalau didiamkan terus.

“Mendekat padaku.” Begitu mendengar suara yang seperti memaksa itu, Kei patuh dan mendekat pada Kyungsoo.

Setelah mendekat, Kyungsoo memeluknya dari samping. Memberikan kehangatan dari seorang Do Kyungsoo untuk Kei di musim dingin. Mendapat perlakuan yang sama sekali belum pernah dirasakan nya, Kei mulai merona. Tubuhnya menghangat seketika, begitu pun hatinya yang luluh.

“Seharusnya aku pun tidak membentakmu. Maaf.” Chu. Kyungsoo mencium pipinya sekilas membuat gadis itu semakin merona.

Saat Kei ditinggal oleh Kyungsoo karena pria itu sibuk bertransaksi, ia memilih berkeliling toko untuk melihat barang antik di toko tersebut. Kei menuju bagian samping toko yang penuh dengan radio tua dan jam dinding. Tapi retina nya menangkap sebuah arloji yang terpampang indah di antara radio dan jam dinding.

Warna nya cokelat, memiliki lebih dari 3 jarum, mungkin hampir mirip stopwatch yang digunakan para pelatih atlet untuk menghitung waktu tempuh lari. Karena ia tertarik pada arloji tersebut, tangan nya pun terangkat untuk menyentuh arloji tersebut.

“Ada apa?” Seorang pria berambut pirang mendekat dan mulai merubah air muka wajahnya menjadi cemas.

“Tidak, aku baik. Noona baik-baik saja, Hansol-ah.” Jawabnya penuh keraguan. Begitu pria itu sudah dekat dengan nya tanpa jarak, tangan pria itu terulur untuk menyentuh wajah tembam miliknya dan muncul rona merah.

“Noona kedinginan? Aku merasa kalau wajah noona benar-benar dingin sekarang.” Ujar pria berambut priang itu dan menuju netra si gadis.

“Noona serius, noona tidak apa-apa. Hansol-ah, percaya saja pada noona, oke?”

“Aku khawatir dan aku takut. Aku takut terjadi sesuatu yang serius padamu.” Gumam nya dan menatap gadis itu penuh kecemasan.

“Percayalah, percayalah padaku.”

Kei terhuyung kebelakang setelah menyentuh arloji nya. Pikiran nya mendadak kacau dan dimasukki fantasi atau ingatan yang entah milik siapa. Dan dia merasakan bagaimana rasanya setiap sentuhan dan tatapan itu. Seolah dia lah gadis itu, dia lah gadis yang di panggil oleh pria yang bernama Hansol itu dengan sebutan noona. Setiap perasaan ragu dan hangat itu terasa jelas.

“I-itu milik siapa? Ingatan itu milik siapa?” Desis nya.

“Kau kenapa Kei? Ada yang aneh dengan dirimu setelah kita keluar dari toko.” Kyungsoo membuka percakapan nya dan meliat gadis itu sedikit kebingungan sambil menyesap teh.

“Aku baik, oppa. Mungkin karena cuaca dingin, aku jadi sedikit aneh.” Elak nya dan melihat seorang pelayan pria berjalan mendekati mereka, memberikan segelas kopi hitam pesanan Kyungsoo.

“Tenang lah, kita akan segera pulang.” Kyungsoo mengacak pelan rambut legam gadis nya dan tersenyum kecil agar gadis itu baik-baik saja.

“Aku takut. Aku benar-benar takut.” Ujarnya dan menatap sedih pada seorang pria tua berkaca mata bulat.

“Bisa kau berikan arloji itu padaku?” Tanya nya dan gadis itu memberikan arloji nya pada si pria.

“Kenapa arloji itu harus diwariskan padaku? Itu membuatku terpuruk, paman. Semenjak benda itu diwariskan padaku, semuanya terasa buruk untukku.” Gadis tersebut terjatuh dan terisak.

“Kau harus bisa mengendalikkan emosi dan kekuatanmu, Yeon Jae. Mereka mewarisi mu ini bukan karena semata-mata benda ini memang seharusnya jatuh ketanganmu, tapi kau yang hanya bisa mengendalikkan semua nya dengan benda ini.” Ujar sang paman dan membantu gadis bernama Yeon Jae itu untuk berdiri. Membantunya berjalan ke sebuah kursi dekat perapian yang menyala.

“Dan kau lah yang seharusnya berada di tahta kerajaan sebagai seorang putri bangsawan. Hanya kau yang bisa menggunakan sihir di keluarga kita, Yeon Jae. Arloji inilah yang akan membantumu nantinya untuk mengatur waktu, seperti jam pasir.” Yeon Jae terbelalak dan melihat paman nya tersebut dengan kaget. Tapi tangisan nya belum berhenti, sesekali bulir air mata menetes dari netra miliknya. Mengukir sungai di pipinya yang basah.

“Paman, tapi aku-Aaaaa~”

“Aaaaa~” Kei terbangun dari mimpi nya. Ia melihat pula disebelahnya sudah ada Kyungsoo yang sedang menggenggam tangan nya.

“Kau mimpi buruk lagi?” Tanya Kyungsoo dan menatapnya cemas. Melihat nafasnya yang terengah-engah, keringat yang bercucuran, sudah jelas kalau kekasihnya tak sedang dalam keadaan baik.

“I-iya.” Entah ini yang minggu ke berapa, tapi ia sudah memimpikkan mimpi yang sama berulang kali sejak ia pulang dari toko antik bersama Kyungsoo waktu itu. Setiap mimpi nya menceritakan hal yang sama, seorang gadis bernama Yeon Jae yang takut karena memiliki sebuah arloji kuno. Ia tak tau menahu kenapa gadis itu takut memiliki arloji kuno tersebut.

“Mimpi apalagi?” Di keheningan, Kyungsoo memecahnya dan menghangatkan setiap tubuh Kei akan suara pria itu.

“Masih sama, tapi aku tak mengerti kenapa mimpi itu berulang kali terjadi. Kyungsoo, gadis yang ada di dalam mimpi ku itu tak pernah ku kenal, aku saja tidak atau sama sekali belum pernah menemuinya. Semua orang yang kuliat dalam mimpi itu tak ada yang kukenali.”

“Sebenarnya itu mimpi apa?” Tanya Kyungsoo lagi.

“Gadis itu takut, takut akan sebuah arloji yang entah dari mana ia dapat. Gadis itu bilang sih kalau arlojinya dapat karena warisan keluarga. Dan paman nya bilang kalau arloji yang diberikan nya itu bukan semata-mata diberikan karena warisan, tapi karena gadis itulah yang hanya bisa mengendalikkan nya. Dan arloji itu adalah arloji yang sama yang kulihat di toko antik bersama mu waktu itu.”

“A-arloji yang sama?” Kei menganguk, bermaksud membenarkan pertanyaan Kyungsoo.

“Arloji yang mana?” Tanya Kyungsoo saat Kei berada di depan nya untuk menunjukkan jalan ke arah arloji kuno itu.

“Itu, arloji yang itu.” Kei menunjuk sebuah arloji dan Kyungsoo mendekat untuk melihatnya.

“Ini kan hanya arloji biasa.”

“Tapi arloji itu sama dengan yang aku mimpikan selama berminggu-minggu ini, oppa.” Rajuk Kei dan sang pemilik toko mendekati mereka saat ia melihat kegaduhan kecil yang ditimbulkan Kei.

“Oh arloji itu, itu memang arloji tua. Sudah ada di toko ini setengah abad, Ayah ku sendiri yang bilang kalau arloji itu lama sekali. Menurut paman ku, arloji itu memiliki kisah. Dua setengah abad yang lalu, ada seorang gadis yang dilahirkan dari keturunan bangsawan. Dia memiliki keistimewaan dalam hidupnya, di dunia ini hanya orang keturunan tertentu yang memiliki hak istimewa seperti itu.

Tapi sayang nya, gadis itu tak mengetahui keistimewaan nya sampai umur 16 tahun. Saat gadis itu mewarisi arloji milik mendiang kakeknya, semenjak saat itu lah gadis bernama Son Yeon Jae itu mengalami kejadian aneh. Seperti bisa melakukan sihir, membaca pikiran manusia, berbicara dengan hewan, berteleportasi, menghentikkan ataupun mengendalikkan waktu.

Dan 2 tahun kemudian, dia merasa takut dan cemas. Ia pun berencana menemui nenek yang melahirkan Ibunya. Saat bertemu, nenek nya bilang kalau dia adalah keturunan dari keluarga bangsawan terpilih yang memiliki kekuatan istimewa dan itu turun sampai kepadanya melalui darah Ayah dan juga Ibunya. Barulah saat itu kekuatan nya bertambah kuat dan ia semakin tak bisa mengendalikkan nya.

Tapi sang paman pun membantunya. Sampai akhirnya ia dinobatkan sebagai Lady pertama. Son Yon Jae pun wafat diumurnya yang ke 67 tahun karena usia. Dan sampai saat ini belum ada keturunan nya yang datang untuk mengambil arloji itu.” Cerita panjang sang pemilik toko membuat Kei mematung. Terdiam karena tak dapat berkata apapun.

“Apa benar arloji itu punya kekuatan seperti itu?” Tanya Kyungsoo.

“Awalnya aku tidak percaya. Tapi setelah ada kejadian yang menimpa anak ku dan kejadian itu berhubungan dengan arloji milik mendiang Son Yeon Jae, aku percaya.” Sahut nya dan tersenyum kecil ke arah Kyungsoo.

“Kenapa?”

“Karena pada kenyataan nya, anakku bermain dengan alat itu. Dan ia bermain menjelajah waktu. Kau juga harus tau bahwa aku juga adalah korban dari arloji itu, aku dibuat hilang ingatan oleh anak ku dan ia membawaku dimana saat Son Yeon Jae masih hidup. “

“Yeon Jae, suatu saat nanti ada saat nya seorang manusia menua dan akhirnya mati layaknya debu yang tertiup angin lalu menghilang, setiap partikel nya akan terpisah jauh tapi tak ada yang tau ia akan kemana. Jika suatu hari itu terjadi padamu, kau akan menurunkan nya pada siapa?” Tanya suami nya yang lebih muda beberapa tahun itu.

“Karena pada kenyataan nya aku sudah tua dan tau hal itu, aku memilih dari garis keturunan ku yang akan mewarisi semua nya. Dia gadis sama sepertiku dan dia akan dinobatkan menjadi Lady kedua setelah aku.” Jawab Yeon Jae dan menatap langit sore yang cerah.

“Kau tau namanya?” Suami nya itu mendekat dan menggenggam tangan Yeon Jae begitu erat.

“Dia adalah keturunan ku, bukan berasal dari keluarga bangsawan tapi dia adalah keturunan kesatria tangguh. Namanya adalah Kim Ji Yeon.”

Kei mengerjapkan matanya berulang kali, kala cahaya matahari menusuk mata gadis itu. Mimpi lagi, tapi kali ini berbeda. Gadis yang sudah menua dan di gerogoti umur tua itu bersama suami nya, berbicara mengenai Kei-di dalam mimpi nya.

Sadar sesuatu, kamar ini bukan miliknya. Terlalu mewah, kuno, dan klasik. Setau Kei, ini bukan kamar nya. Bercat merah maroon, dilengkapi fasilitas mewah ala kerajaan, ini jelas bukan kamar nya yang sederhana berwarna putih dengan hiasan dinding foto-foto nya bersama Kyungsoo, bukan. Tapi ini kamar-

“Ini kamarku.” Suara seorang wanita mengalihkan fokus Kei.

Matanya menatap siluet wanita yang lengkap dengan senyum merekah indah menghiasi wajah nya. Anggun sekali, menurut Kei. Pakaian panjang berwarna gelap, seperti darah yang mulai membeku atau apalah itu, menambah kesan anggun nya.

“Son Yeon Jae, itu namaku,” Ujar nya dan duduk di tepian ranjang. Memilin selimut berbahan sutera merah yang lembut, persis seperti kebiasaan Kei.

“Son Yeon Jae, kau kan-“

“Aku tau. Yang selalu hadir dalam mimpimu itu, ya?” Setalah selesai memotong perkataan Kei, Yeon Jae sibuk tertawa lalu menatap ke arah Kei begitu serius.

“Bu-bukankah kau sudah meninggal? Maksudku, kau tidak lagi tinggal di dunia semacam ini, kita berbeda.” Kata-kata menohok Kei berhasil membuat Yeon Jae bangkit dan bergerak jauh dari ranjang, ia sedikit tersinggung.

Tapi kenyataan nya, mereka memang…..berbeda.

Sangat berbeda.

Jauh dari kata sama.

“Kim Ji Yeon, yang harus kau ketahui adalah, bahwa kau adalah penerus ku. Ji Yeon yang ada di hadapan ku saat ini, atau Kei, dia adalah seorang Lady kedua.” Berkata sedikit ketus dan tajam, Kei terlonjak kaget. Khususnya saat Yeon Jae mengatakan kata ‘penerus’ dengan penuh penekanan.

“Ta-tapi aku, aku bukan siapa-siapa disini.” Kei kebingungan, berusaha mencari jalan keluar dengan pandangan tajam nya.

“Jangan berusaha menghindar, Kei. Kau tau, sudah kuberikan peringatan di mimpi mu tadi.” Walau Yeon Jae tak menghadap atau melirik gadis itu, ia tetap tau apa yang dilakukan Kei.

“Tapi aku memang bukan siapa-siapa disini, benarkan?” Sergah nya dan meluncur pada lantai kayu dengan memakai sandal tidur-yang entah milik siapa.

“Tidak. Sudah kukatakan kau adalah penerusku, kau anak ksatria.” Mulailah kini Yeon Jae menghadap Kei lewat sorot mata serius tapi meneduhkan.

“Aku tak ingin menjadi penerusmu, aku punya kehidupan ku sendiri.” Kei, menepis perkataan Yeon Jae lalu bergegas pergi.

Tapi perkataan Yeon Jae, membuat Kei berhenti membuka gagang pintu.”Inilah kehdupanmu, Kim Ji Yeong. Ini kehidupan asli mu. Dan kukirimkan Kyungsoo untukmu, untuk mendampingi hidup mu agar tak ada kekosongan seperti yang kurasakan.”

“Di-dia, siapa dia?” Tanya Kei dan menurunkan tangan nya dari gagang pintu emas di kamar tersebut.

“Dia, yang kukirimkan padamu. Choi Tae Joon. Sebenarnya dia adalah salah satu pria terpenting dalam hidupku, teman kecilku, seorang yang berhasil membuat hati ku hangat. Dia, cinta pertamaku. Aku yang membunuhnya saat usiaku beranjak 20 tahun karena aku tau tentang mu. Dan ku buat ia be-reinkarnasi, Do Kyungsoo. Pria yang kau cintai.” Hati Kei mencelos mendengar penuturan jujur dari bibir Yeon Jae. Mencengkram ujung baju piyama nya begitu kuat dan menahan luapan amarah yang menumpuk.

“Kei, aku relakan ia untukmu dan aku bersama Hansol. Apa itu tidak cukup untuk kau berada disini?” Tanya Yeon Jae perlahan.

“Aku masih punya keluarga ku. Aku masih punya teman-teman ku. Dan aku masih punya kakak ku. Yeon Jae-ssi.”

Tangan nya kembali terulur untuk meraih gagang pintu. Tapi tak berhasil. Yeon Jae terlebih dahulu memegang gagang pintu nya, menghentikkan tangan nya di udara.”Jangan kau buka pintu nya.” Ujar Yeon Jae.

“Sebelum kau mengatakan ‘ya’ padaku, pintu ini takkan pernah terbuka untukmu.” Tambah nya lagi membuat tangan Kei terhempas begitu saja ke samping tubuhnya.

Sekilas, ia melirik Yeon Jae dari ekor matanya. Ada rasa panas dan cemburu di hati nya. Itu karena-kenyataan yang baru saja ia ketahui-Do Kyungsoo alias kekasihnya adalah seorang yang pernah mengisi hati Yeon Jae selama bertahun-tahun.

“Do Kyungsoo, sekarang milikmu. Bukan siapa-siapa dalam hidupku.” Kata Yeon Jae seolah tau apa isi pikiran Kei.

Risau.

Ketidakpercayaan.

Kei merasakan itu. Ia merasakan kedua hal itu menjalar setelah rasa panas dan cemburu mengalir.”Ini, semua ini adalah milikmu. Kau bisa bersama dengan Kyungsoo atau siapapun.”

“Jangan katakan Kyungsoo, tak ada hubungan nya dengan pria itu di bahasan kita.” Desis Kei dengan luapan amarah nya.

“Jadi jawaban mu?” Tanya Yeon Jae yang perlahan melepas genggaman nya pada gagang pintu.

“Ya.”

“Jangan lupa satu hal, Kim Ji Yeong. Jangan sampai kau merasa terlena dengan semua ini.” Yeon Jae berjalan menjauh dari Kei ke sisi lain kamar, entah itu kemana. Dan tiba-tiba ada perasaan ragu saat tangan Kei yang mengambil alih gagang pintu.

Putih,

Berputar,

Sangat lama.

Definisi tak jelas Kei saat ia membuka pintu kayu dengan gagang emas yang besar tersebut. Seperti ia ditarik masuk ke dalam ruang putih lalu berputar sangat lama. Sampai akhir nya putaran yang berada di depan matanya berhenti.

Sekarang, gadis itu sudah ada di kamar nya. Dengan menghadap plafon putih berhias tempelan gambar-gambar. Kei beranjak duduk 90 derajat. Menatap kesekeliling. Lalu kepalanya terasa sangat berat dan pusing.

Ceklek

“Kei, kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bertanya dan duduk di hadapan Kei. Melihat gadis nya berwajah pucat dan mata berkaca-kaca, Kyungsoo sungguh khawatir setengah mati.

“Kyungsoo..” Segera ia memeluk Kyungsoo dengan erat dan menenggalamkan wajah nya di antara dada bidang pria itu.

“Iya, aku ada disini.” Dan Kyungsoo balik memeluknya, menepuk pundak gadis itu untuk memeberi ketenangan.

“Jangan tinggalkan aku. Kumohon.” Isak nya.

Entahlah, melihat wajah Kyungsoo, ia merasa bersalah. Tadi ia begitu dibakar cemburu, kini malah perasaan yang dibenci Kei muncul. Tak berselang lama, Kei melepaskan pelukan nya. Menatap Kyungsoo dengan mata sembab dan sayunya. Lalu di balas tatapan mengunci pria tersebut.

“Takkan kutinggalkan. Aku, akan tetap disini. Bersamamu.” Kei tersenyum mendengar perkataan pria Do itu. Kyungsoo mengacak pelan rambut gadis nya dengan sayang sembari tersenyum.

“Soal meninggalkan dan ditinggalkan, apakah kau akan meninggalkan arloji itu di toko? Kau kan sudah membeli nya kemarin.” Senyum tersebut luntur dari wajah Kei mendengar kata-kata Kyungsoo.

“Tapi, baru saja tukang pos datang. Membawa sebuah kotak dan kulihat isinya, itu arloji yang kau beli. Lalu ada surat nya. Aku tak berani buka, jadi kau saja yang buka.” Kyungsoo merogoh saku jaket nya dan mengeluarkan amplop cokelat.

“Terima kasih, untuk Kim Ji Yeon. Kau resmi menjadi Lady kedua setelah aku. Tertanda Son Yeon Jae.” Kata Kei yang sudah membuka amplop nya dan melihat isinya.

“Son Yeon Jae, sepertinya aku mengenal nama itu. Tapi siapa ya?” Gumam Kyungsoo dan Kei hanya bisa menelan saliva nya kasar.

FIN

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] Arloji

  1. Whoa, whoa, apa ya mau bilang apa aku lupa :”)

    Idenya keren, gak ada yg aneh jg pas aku baca :3. Cuma bertanya2 aja sekarang sihir itu diwarsikan untuk apa? Apakah di dunia Kei sekarang ada penyihir jahat atau sebagainya? #iniKomenMacamApa :”)
    Mungkin secara tidak tersirat aku meminta sebuah sequel? #LAHENTUDIJELASIN wkwkwk

    Nice, ANi ❤

    Like

  2. Ayo inget-inget aja lagi kak. Ini mah ide cetek ga kaya kak azel yang keren. Kalo sihir itu, aku juga masih bingung/plak/ dan untuk sequel, mungkin segera aja lah hehe/ketawa lima jari/….
    Makasih kak udah baca plus komen:)

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s