Capsula [Chapter 1]

capsula a

-PROLOG-

[WARNING! Untuk pembuka ini mungkin memiliki rating PG-17 karena mengandung sedikit simbol-simbol seksualitas (meski hanya sedikit), tapi jika kamu memang tidak suka hal seperti itu, bisa langsung meloncat sesi ini dan langsung ke cerita]

Seoul, 05 Maret 2016

Yein berjalan keluar dari bathtub penuh buih, mencoba membasuh sedikit sisa-sisa sabun yang ada di tubuhnya dengan butiran-butiran air hangat yang terpancar dari shower, hingga beberapa menit kemudian ia segera berpaling untuk mengenakan baju mandi putih yang tergantung indah di sudut kamar mandi. Ia lalu melangkahkan kakinya santai ke meja rias kecil yang berada di dekat pintu, membuka laci lalu mengambil sebotol parfum citrus yang selanjutnya ia semprotkan ke beberapa bagian tubuhnya.

 

Brakkkk!

 

Yein terdiam, ia langsung menatap ke arah pintu dimana suara itu berasal.

 

“ Ah ah~ ahh ahh aahh~ ayahh~ hentikanhh~ ku mohonhh ngh~ “,

 

Suara seorang gadis kecil meminta pengampunan terdengar samar-samar di telinga membuat tubuh Yein tremor mendadak, ia bahkan melepaskan botol parfum citrus itu hingga serpihan-serpihan kacanya berhamburan di keramik kamar mandi.

 

“ Hentikan katamu ? bukankah kau merasa nikmat juga sekarang hahh ? Cukup diam dan rasakan saja, ngghhh ahh~ “ Suara lain terdengar, suara berat nan keras yang sepertinya berasal dari mulut seorang pria paruh baya berumur sekitar 40-an.

 

Setitik cairan khas keluar dari kedua sudut mata Yein, ia lalu secara perlahan berjalan ke arah pintu, ia seakan tak peduli dengan hal lain bahkan kaki yang sudah tersayat-sayat oleh serpihan kaca botol parfum yang jatuh tadi pun tak dirasakannya sama sekali. Ia terus berjalan sempoyongan sambil menahan tremor di tangannya yang semakin menjadi-jadi hingga tubuh itu tiba-tiba saja jatuh tersungkur karena sang kaki tak mampu lagi menahan beban tubuhnya yang tak seimbang.

 

“ Aa****h aayyaahh ng**h ahh~ “

 

“ Ya bagus, aah terus seperti itu, bagussh ngh “

 

Suara itu semakin terdengar jelas ditelinga membuat Yein semakin gelisah, ketakutan yang kuat terlihat jelas disorot matanya. Tremor di sekujur tubuhnya pun juga ikut menjadi-jadi, bahkan air mata yang tak terkontrol sudah mengalir deras di pipi indahnya. Ia bahkan berusaha menggigit ibu jarinya hingga berdarah-darah, mencoba mengalihkan rasa takut ke rasa sakit yang ia rasakan tapi itu tak berhasil, saraf-sarafnya sudah terlanjur takut dan gelisah, Yein tahu pria paruh baya itu akan segera masuk ke kamar mandinya, tapi ia tak bisa melakukan apapun, tubuhnya terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya.

 

Keadaan Yein sekarang bahkan tidak lebih baik dari keadaan mencit putih jika disuntikkan dengan cairan pilokarpin atau epinefrin. Terlihat kacau, kaki dan tangan yang sudah berdarah-darah, tremor disekujur tubuh, kemana perginya ke-anggunan Yein tadi ? entahlah, mungkin sudah pergi bersama sisa-sisa air yang masih sempat menetes di shower.

 

-Capsula-

gxgnn present

Jeon Jungkook (BTS), Jung Yein (Lovelyz)

Genre: Medis!AU, Romance, Hurt/Comfort, Angst | Rating: PG-15| Length: Chaptered | Warning: Cross-Posting, Tissue Warning(failed!), Berbagai istilah aneh akan dijelaskan dalam glossary

.

.

You weren’t just a star to me, you were my whole damn sky!

.

.

Chapter 1

Someone who suddenly comes to my life “

 

 

Seoul, 05 Maret 2016

Gadis dengan surai panjang yang warnanya bak bulu burung gagak itu berjalan di koridor, ia sudah terlambat dan ia tahu itu. Tapi berjalan tergesa-gesa dengan nafas yang terengah-engah tidak pernah masuk dalam kamus keseharian Yein, mungkin memang ia pernah melakukannya jika keadaan sudah sangat gawat darurat.

Memakai sendal dengan perban yang membukus telapak kaki serta sedikit perban kecil di ibu jari bukankah sudah cukup menguatkan alasannya jika ia baru saja kena musibah ? Setidaknya siapapun guru di kelas takkan ada yang mempermasalahkan keterlambatannya hari ini.

Yein terus berjalan santai sampai ia menghentikan langkah kakinya tepat di perbelokkan menuju locker. Ia memutar sedikit otaknya. Siapa gerangan pria itu ? Pria yang berdiri gelisah di depan lockernya. Mungkinkah pencuri ? Tidak, setidaknya dia tahu kalau di sekolah ini tidak pernah ada yang namanya pencuri di locker, lalu ?

Belum sempat gadis penderita PTSD itu selesai berpikir, si pria sudah terlebih dulu menyadari keberadaannya, membuat sebuah kontak mata singkat terjadi di antara mereka.

Entah kenapa si pria langsung menggaruk tengkuknya yang dengan sangat yakin Yein tahu kalau tengkuk pria itu tak gatal sama sekali. Ia juga tersenyum singkat lalu segera pergi secara perlahan. Seperti orang bodoh, itulah yang Yein pikirkan.

” Apa jangan-jangan dia benar seorang pencuri ? Pencuri baru ? “ Ah sudahlah, Yein tak mau terlalu ambil pusing, ia segera meletakkan beberapa bukunya di locker lalu kembali melanjutkan langkah kakinya ke kelas.

Namun mungkin memang hari ini Yein sedang sial atau apa, lagi-lagi ada sesuatu yang menghambat perjalanan sucinya ke kelas. Bukan hanya melihat seorang pria asing yang bertingkah aneh, kali ini Yein melihat seorang pria yang menurut gadis itu kelakuannya sudah seperti seorang om-om mesum.

Yein bukan hanya berhenti tapi juga bersembunyi di balik tiang-tiang besar penyokong gedung sekolah, berharap pria bernama Park Jimin itu takkan melihatnya. Ia sudah mengendap-endap bagai pencuri bahkan sedikit lari terbirit-birit ketika pandangan Jimin jauh darinya. Baik, tadi sempat dikatakan bahwa berlari dengan tergesa-gesa seperti itu bukanlah gaya Yein, tapi bukankah sudah disebutkan juga kalau ada pengecualian ? Dan ini adalah salah satu contoh pengecualiannya.

Kaki mungil Yein terus berjalan tanpa henti meski kakinya saat ini sedang diperban, bak seekor Rattus argentiventer yang sedang dikejar oleh seekor monster Ptyas korros, Yein tak bisa berhenti walau hanya sepersekian detik.

Yein benci terlihat konyol, ia juga tak ingin terlihat seperti orang bodoh yang ada di depan lockernya barusan, tapi apa boleh buat, lebih baik seperti ini dari pada bayangan dirinya terrefleksikan dengan sempurna dalam bola mata onyx milik monster mesum itu.

Tapi tiba-tiba saja Yein tertarik ke suatu tempat antabranta, dalam hatinya dia sudah siap jika memang sang Ptyas korros mesum itu berhasil memangsanya, tapi ternyata dewi fortuna masih berpihak pada Yein, ia ditarik oleh seorang gadis berkulit putih mulus bak boneka porselen karya Marina Bychkova yang memiliki ruh. Tidak, ini tidak berlebihan untuk mendeskripsikan gadis bernama Kim Jiyeon itu.

 

“ Ji-jiyeon ? “

“ Kau seharusnya langsung belok ke sini tadi “

“ E-eeh ? “

 

Hanya itu, ya hanya itu saja dan sang gadis porselen langsung pergi dan menghilang begitu saja dari hadapan Yein.

 

Jung Yein, gadis kelahiran 4 Juni 1998 dengan tinggi 166 cm dan berat sekitar 48 kg, ia juga memiliki golongan darah O. Makanan kesukaan ? Mungkin cokelat, havermut dan ikan. Untuk minuman mungkin jus brokoli. Tak ada yang namanya angka ataupun warna favorit menurut gadis itu. Teman baik ? Ehmmmmmmmmmmmmmmm, sulit untuk mendeskripsikan seorang teman baik untuk Yein, tapi menurut pemikirannya sendiri ia sama sekali tak membutuhkan dan tak menginginkan kehadiran seorang teman atau sahabat.

Ada satu hal lagi yang unik dari gadis ini, yaitu kepintarannya. Seorang Kim Mingyu pun bahkan tak bisa mengahlakan eksistensi Yein kalau soal pelajaran. Apanya yang aneh jika pintar ? Ya, mungkin tidak akan ada yang aneh jika yang pintar itu orang lain, tapi bagi penderita PTSD seperti Yein, dimana salah satu efek dari penyakit itu adalah penderita yang akan sulit untuk berkonsentrasi ini adalah suatu hal yang aneh dan unik jika ia bisa tumbuh menjadi gadis yang pintar seperti saat ini.

Menderita suatu kelainan seperti PTSD memang sangat menyiksa, tapi bukan berarti Yein hanya akan berdiam diri di rumah atau di rumah sakit jiwa, ini sudah tahun keenam ia menderita kelainan itu dan sampai saat ini, ia tetap berusaha agar bisa menjadi seperti manusia normal lainnya. Bahkan orang yang mengetahui kelainan yang dimilikinya ini hanya sang bibi, dokter serta apoteker langganannya, polisi yang lalu menyelidiki kasus ‘itu’, dan seorang gadis porselen yang menarik tangannya beberapa saat yang lalu. Meskipun begitu bukan berarti juga saat ini ia hidup dengan damai dan tenang, sebaliknya, Yein selalu hidup dalam rasa ketakutan dan kehati-hatian untuk tetap menyembunyikan kelainan yang sudah berteman baik dengan segala sel-sel sarafnya itu.

 

***

 

Kreekk.. Pintu UKS sedikit terbuka. Kelas sudah berakhir dan bel istirahat juga sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Bukan kantin, tapi Yein memilih UKS sebagai tempat tujuannya. Untuk saat ini, untuk keadaan yang tidak stabil seperti saat ini, Yein rasa UKS adalah tempat sunyi terbaik yang bisa ia jadikan persembunyian diwaktu senggang.

Yein perlahan membuka lebar pintu itu, ia tak melihat ada suster penjaga, mungkin sedang pergi istirahat ? Entahlah dan Yein tak ingin peduli, malah bagus jika tak ada siapa-siapa di tempat itu menurutnya. Gadis itu segera memasuki bilik paling ujung, menutup kembali tirainya dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Terlalu banyak hal aneh terjadi untuk mengawali harinya pagi ini, setidaknya ia butuh sedikit istirahat.

Awalnya terasa damai, Yein menutup kedua matanya dan berusaha untuk bisa tidur walau hanya setengah jam saja, sampai kemudian ada suara bising yang sedikit mengganggu.

 

“ Carroline bukannya ingin bersifat sok kuat atau sok tak peduli pada James. Niat untuk mencampakkan pria itu tak sedikitpun ada di hatinya. Ia hanya sadar kalau ia tak cukup sempurna untuk mendampingi pria itu selamanya. Dialah yang malah merasa telah tercampakkan oleh dirinya sendiri. Ia menyukai James, tapi ia tak bisa mengatakan apapun. Dari semua kata yang sudah membendung di hati, hanya kata maaflah yang bisa ia ucapkan, satu kata yang bahkan tak ingin ia katakan pada saat itu. “

Ingin rasanya Yein segera melabrak orang itu, memangnya siapa yang mengizinkan seseorang membaca novel dengan suara kuat di dalam UKS ? Memangnya tempat ini ruang baca ? Bahkan walaupun tempat ini adalah ruang baca, seseorang tak seharusnya bicara sekeras itu hanya untuk membaca novel.

 

“ Carroline bisa melihat dengan jelas raut wajah James yang terpukul. Ia tak ingin menyakiti pria ini, tapi jika ia menerima lamaran itu, maka James akan merasa jauh lebih sakit lagi nantinya. Untuk saat ini, biarkanlah semuanya berlalu. Bahkan seekor burung kecil yang kehilangan induknya tetap bisa terbang bebas suatu saat nanti bukan ? Tapi tetap saja James tak bisa menerima semua ini, ia lalu berkata pada Carroline ‘Jika kau tak mau, maka aku yang akan memaksamu agar kau bisa berada di sisiku selamanya’ “

Yein hanya diam, niat untuk melabrak orang itu hilang sudah. Yein tahu novel yang dibaca keras oleh pria itu. Jika disuruh, ia bahkan bisa mengatakan tiap kata yang tertulis di buku itu tanpa membacanya. Sebuah novel lama berjudul Secret Journey yang sudah ia baca sejak ia berumur 8 tahun.

Tunggu sebentar, Secret Journey ? Pikiran Yein sedikit melayang. Satu hal yang rasanya tidak mungkin terjadi muncul dipikirannya. Dengan sekejap gadis itu pun langsung membuka tirai yang membatasi dirinya dengan pria pembaca novel.

Srekk~

“ Eh, maaf “ hanya ada satu kata yang spontan keluar dari mulut Yein, ada raut wajah yang terlihat sedikit kecewa juga yang menyusul, sepertinya pria itu bukan orang yang muncul di benak Yein beberapa saat yang lalu.

“ Apa aku mengganggumu ? Aku kira tidak ada orang. Maaf “ Pria itu balik meminta maaf pada Yein, dan ahkirnya ia juga baru sadar kalau memang yang harus minta maaf adalah orang itu dan bukan dia.

“ Tak apa. Lanjutkan saja “ satu ultimatum yang diberikan Yein membuat pria itu mengangguk sejenak dan membuat Yein langsung menutup kembali tirai itu.

 

1..

2..

3..

 

Jungkook baru saja ingin kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan kegiatan membaca yang sempat tertahan, namun kegiatan itu harus terhenti lagi ketika Yein kembali membuka tirai pembatas. Dan karena kaget, jungkook sampai menggigit lidahnya sendiri.

“ Aa-ahk “ pekik pria berponi itu

“ Eh ? Ee-h maaf maaf “ merasa itu salahnya, Yein langsung memasang wajah khawatir dan segera beranjak dari kasur serba putih yang sedang menopang tubuhnya. Tapi …. dalam sekejap ia juga langsung menghentikan seluruh pergerakan di tubuhnya.

 

Tangan kiri Yein tiba-tiba saja tremor hebat, membuat tangan yang satunya lagi langsung memegang pergelangan tangan kiri itu agar tremornya tidak nampak. Tapi hal itu tidak terlalu mempan, bibir, lengan, telapak kaki dan lututnya malah ikut-ikutan tremor, membuat gadis itu panik karena kambuh di depan orang asing.

 

“ Tooolooooonggg! Aahhh kumohonnh tooloooonggghhh “

“ DIAM KAU !!! “

Satu tamparan ganas mendarat di pipi gadis itu membuat sebuah bekas merah tampak dengan sangat sempurna.

 

“ Aku membiarkan mulutmu tetap terbuka bukan untuk berteriak minta tolong bodoh ! ! ! Sini ! Sini lidahmu itu “ pria berumur 40 tahunan itu dengan cepat mengambil sebuah pisau yang sudah berlumuran darah lalu menarik dengan paksa lidah gadis yang berteriak tadi. Tak ada yang bisa gadis itu lakukan dalam kondisinya yang seperti ini sehingga pisau itu dengan indahnya membelah lidah itu menjadi ¾ dari bagian yang sebenarnya..

 

“ AAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa “

 

Air mata Yein langsung menetes, Jungkook yang tadi hanya fokus pada lidahnya menatap Yein dengan tatapan kaget. Ada apa dengan gadis itu ? Apa dia kerasukan sesuatu ?

“ Kau baik-baik saja ? Jung Yein ? “

Jungkook dengan hati-hati bertanya padanya, tapi alih-alih menjawab, Yein malah semakin memburuk, tatapannya kosong, tapi air matanya terus keluar, ia tremor hebat di sekujur tubuh dan bahkan berbicara tidak jelas. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sesuatu itu sudah ditahan duluan di tenggorokannya, di mata Jungkook saat ini, Yein malah terlihat seperti seorang penderita stroke.

“ Ye-Yein ? Jung Yein ? K-kkau sebenarnya kenapa ? “ Jungkook makin panik, ia benar-benar khawatir jika memang hipotesis yang melayang-layang di pikirannya saat ini benar.

Yein melangkahkan kakinya mundur dan membuat ia terduduk di kasur, kedua tangannya saling mendekap bagai sedang merasakan hawa dingin yang hebat, tapi Jungkook sangat yakin kalau musim dingin sudah lewat satu bulan yang lalu. Meski ia tak tahu apapun, tapi setidaknya ia tahu kalau ada yang salah dengan gadis ini.

“ Yein ? Kau ada di dalam ? “ suara berat terdengar beberapa detik setelah Jungkook mendengar pintu UKS itu terbuka, ia melihat sekilas dari sisi tirai, ia mengenal pria yang mencari Yein itu.

“ Yein ? Aku tahu kau tidak ingin bertemu denganku, dan aku juga tahu kau pasti ada di sini sekarang, bisakah kau menampakkan saja dirimu itu ? Aku hanya butuh 5 menit saja untuk bicara “

Tak mendapat jawaban, pria itu sepertinya sudah agak geram dan langsung masuk dengan membanting pintu, ia bahkan secara tak sopan membuka semua tirai hanya untuk memeriksa kehadiran gadis yang ia cari itu di sana, sudah 5 tirai yang ia buka dan matanya tak berhasil menangkap sosok seorang Yein. Sekarang, tinggal tersisa satu tirai.

“ Aah, aku seharusnya sudah tahu kalau tempat favoritmu memang di sudut-sudut seperti ini. Apa kau memang suka bermain pentak umpet ? Atau kau memang sedang mengajakku bermain Super Deal 2 Milyar sekarang ? “ pria itu dengan nada main-mainnya ———tapi tetap serius———- segera membuka tirai terakhir itu dan …

“ Su-sunbae.. Anda kenapa berteriak-teriak di sini ? “

Sial. Mungkin itulah umpatan yang langsung dikeluarkan oleh bibir tebal Jimin ketika ia hanya mendapati sosok seorang hoobae laki-laki yang bahkan tak dikenalnya itu sedang berbaring lemas dengan selimut yang menutup ujung kaki sampai lehernya.

“ Ahh, apa kau dari tadi ada di sini ? “

“ I-iya “

“ Apa kau tidak melihat Yein ? Kau kelas satu kan ? Seharusnya kau kenal siapa itu Yein “

“ I-iya aku mengenalnya, tapi dia baru saja keluar dari sini beberapa saat yang lalu “

“ Aiisshhh sial ! Dia sepertinya sudah lebih baik dari bunglon sekarang “

Jimin lalu melangkahkan kakinya cepat meninggalkan ruangan itu tanpa sedikitpun mengatakan maaf pada Jungkook, tak apa, tidak ketahuan saja Jungkook sudah merasa sangat bersyukur.

 

 

Ketika dirasa Jimin sudah benar-benar pergi, Jungkook membuka sedikit selimut yang menutupi tubuhnya dan terlihat seorang Yein disana, gadis itu sudah tertidur dalam pelukan erat Jungkook. Bukannya modus, tak ada niat untuk modus sedikit pun di hati Jungkook, ia hanya menyembunyikan Yein karena tadi pagi ia secara tak sengaja melihat gadis ini susah payah menghindar dari Jimin sunbae, jadi itu sebabnya ia melakukan semua hal ini.

Ingin rasanya ia segera bangkit dan terbebas dari situasi ambigu ini, nafas Yein yang dengan sangat jelas bisa ia rasakan dan juga jarak yang bahkan tak terpaut 1 centi ini entah kenapa membuat jantung Jungkook berdegup kencang, tapi… ia tak cukup tega untuk membuat Yein bangun. Karena saat ini di mata Jungkook, gadis itu benar-benar tidur pulas dengan 1001 ketakutan yang nampak di wajahnya. Tanpa sadar, saat ini tangannya sudah berada di dahi gadis itu, berusaha menyeka keringat Yein yang terus saja mengucur. Raut kegelisahan juga makin nampak di wajahnya. Ada apa sebenarnya dengan Yein ? Apa dia sedang mimpi buruk ? Dan juga kenapa dia langsung tidur seperti ini ? Yang Jungkook ingat tadi setelah ia menyadari kehadiran Jimin, dia segera mendekap Yein dalam pelukannya lalu memaksa agar mereka bisa errr— tidur bersama sambil mendekap mulut Yein, lalu menaikan selimut itu setinggi leher. Dan sekarang dalam hitungan menit saja, gadis itu sudah tidur dengan pulas.

Aneh. Itulah yang Jungkook tangkap, tadi ia bertingkah seperti seseorang yang kena stroke akut dan sekarang ia terlihat seperti bayi yang baru lahir.

Perlahan tapi pasti, Jungkook mulai menurunkan kepala Yein agar tidur di bantal, ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu, setelah selesai dia bangkit dan menyelimuti Yein.

“ Mama … Mama~ “ erangan kecil Yein dapat terdengar di telinga Jungkook, meski samar, tapi ia bisa mendengarnya, membuat pria itu berhenti dan kembali menatap Yein. Raut ketakutan itu, Jungkook benar-benar tak tega melihatnya apalagi sepertinya kelenjar apokrin yang terdapat pada lapisan dermis di pelipis Yein mulai kembali terangsang dan menyebabkan banyak keringat bercucuran.

Jungkook tidak tahu kalau Yein mengenalnya atau tidak, tapi yang jelas mereka sekelas. Biasanya Yein selalu menyendiri dan Jungkook hampir tak pernah melihatnya bercengkrama dengan siswa atau siswi lain di kelas. Yein, tidak lebih dari seorang gadis misterius di mata Jungkook.

 

“ Jungkook ? “ Pria itu membalikkan badannya mendengar seruan dari suara yang tak asing lagi di telinganya.

“ Ms. Ahn ? “

“ Kau bolos lagi ya ? Pelajaran fisika ? atau Matematika ? “ apoteker penjaga UKS itu segera mengambil tempat duduk kerajaannya dan Jungkook hanya tersenyum dengan perkataan itu, ia memang sering ke UKS hanya karena tidak suka pada beberapa pelajaran dan Ms. Ahn sudah tahu tentang semua itu.

“ Aa Ms. Ahn, kau bisa memeriksa gadis ini sebentar ? Sebenarnya tak ada kedua pelajaran itu hari ini, aku di sini karena khawatir dengan keadaannya “ Ms. Ahn memanjangkan sedikit lehernya untuk melihat sekilas gadis yang Jungkook maksudkan, lalu segera berdiri dan mendekat.

“ Yein ? Dia sinkop ? “

“ E-eh ya ? “ Jungkook balik bertanya karena tak mengerti dengan maksud Ms. Ahn

“ Ah maaf. Maksudku apa dia pingsan ? “

“ Oo, daripada disebut pingsan, kurasa lebih baik menyebutnya tidur “

“ Dia tidur ? Dia habis minum obat ? “

“ Iya, sepertinya dia hanya tidur. Kalau soal obat, aku sih tidak terlalu tahu, dia datang lebih dulu dariku.. Tapi, tadi dia terlihat gelisah, dia terlihat gemetar juga kalau tidak salah, yang jelas dia terlihat sedikit errrr—aneh “

“ Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu kau boleh pergi Jungkook-ah. Bukankah 5 menit lagi sudah mau masuk ? Aku pasti akan merawatnya “ ucap Ms. Ahn sambil mengambil kursi dan mengambil posisi di samping ranjang Yein.

“ Baiklah. Aku pergi dulu, Ms. Ahn “

Satu senyuman terlukis di bibir Ms. Ahn ketika Jungkook menunduk dan berlalu pergi. Setelah Jungkook menutup pintu, fokusnya kembali pada Yein.

“ Apa yang terjadi padamu eoh ? Tidak biasanya kau kambuh di sekolah, apa mungkin kau mengurangi dosismu lagi ? Hmm, tapi untung saja hanya Jungkok yang melihatnya. Tunggu sebentar ya, aku akan menyuntikkan cairan penenang untukmu “

Ms. Ahn bangkit lalu mengambil syringe 5ml dan mengisinya dengan sebuah cairan bening hingga mencapai angka 3, lalu segera menyuntikkannya pada Yein, tepatnya di bagian Rectus Femoris, dimana bagian itu sudah diberi desinfektan 30 detik sebelumnya. Lalu hanya memerlukan waktu 30 detik (1ml = 10 detik) hingga penyuntikan itu selesai dilakukan, ia memijat bekas suntikan perlahan lalu segera membuang seperangkat syringe itu di tempat sampah.

Ms. Ahn tahu betul dengan kondisi Yein dan bahkan mengenai PTSD nya, ia juga tahu kalau saat ini Yein tidak sedang tidur melainkan sudah mengalami sinkop.

 

***

 

Di kelas, Jiyeon tidak bisa tenang sedikit pun, matanya memang fokus pada guru yang sedang mengajar di depan, tapi pikirannya hanya terisi dengan kekhawatirannya pada Yein.

Datang lambat, kaki serta jempol yang diperban, dan tak hadir saat jam pelajaran. Mungkinkah semua itu berhubungan ? Jika benar begitu berarti gadis yang sempat menjadi temannya 6 tahun yang lalu itu sedang berada di UKS sekarang. Hanya itu yang bisa Jiyeon pikirkan, berpikir sepositif mungkin.

Waktu berjalan cepat hingga kelas akhirnya berakhir dengan adanya bel yang menggema begitu keras, sebuah suara yang bahkan lebih indah dari lagu apapun di dunia ini. Jiyeon cepat-cepat membereskan segala alat tulisnya dan berniat mengambil tas Yein untuk diantarkan di UKS, meski ia memang belum terlalu yakin kalau Yein ada di UKS atau tidak.

Namun—— niatnya pupus ketika melihat sudah ada orang yang terlebih dulu mengambil tas itu.

 

“ Jungkook ? “

Jiyeon mematung. Memangnya sejak kapan Yein dekat dengan orang lain ? Dan bahkan Jungkook, ia hampir tidak pernah melihat interaksi di antara mereka sebelumnya, lalu ada urusan apa Jungkook mengambil tas Yein ?

“ Cuma jahil kah ? “

Kemungkinan yang ini mungkin saja terjadi, mengingat Jungkook memang kadang jahil jika di kelas, ia pun memutuskan untuk mengikuti pria itu dari belakang, hingga langkah kaki yang diikutinya itu berhenti dan masuk ke UKS.

Perlu waktu bagi Jiyeon untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Jadi Yein benar-benar ada di UKS dan yang menghebohkan pikirannya adalah fakta bahwa Jungkook membawakan tas untuk Yein. Sepertinya memang ada banyak hal yang tak ia ketahui mengenai Yein akhir-akhir ini.

 

***

 

“ K-kau sudah sadar ? “ Yein dan Ms. Ahn sontak mengalihkan pandangannya pada Jungkook yang baru saja masuk, saat ini Yein terlihat sedang mengobrol dengan Ms. Ahn sambil duduk di pinggiran kasur.

“ I-iya “

“ Sudah bel pulang ya Jungkook ? “

“ Ne “ Jungkook mulai melangkah mendekati kedua wanita itu

“ Yein-ah, ini Jeon Jungkook, dia yang menjagamu tadi sebelum aku datang “ ucap Ms. Ahn, dan Yein menanggapinya hanya dengan sebuah anggukan. Tak lebih dan tak kurang. Tak ada ucapan terima kasih ataupun senyum untuk Jungkook. Yang ada hanya sebuah anggukan dengan wajah yang datar.

“ Emm, ini tasmu “ Jungkook menyodorkan tas yang ia pegang itu pada Yein, gadis itu mengambilnya dan tersenyum singkat, senyum yang tidak ikhlas menurut Jungkook. Yein juga langsung berdiri dan pamit.

 

“ Baiklah kalau begitu hati-hati ya, jaga baik-baik kesehatanmu “

“ Ne, aku pergi dulu ya Ms. Ahn dannn—— “ Yein menggantungkan ucapannya sambil menatap Jungkook.

“ Jungkook “

“ Ah iya, Jungkook.. “ Yein pun segera pergi sesudah membukukkan badannya.

 

“ Ms. Ahn, aku juga pamit pergi, permisi “ Jungkook dengan cepat membungkuk dan segera pergi menyusul Yein, tidak benar-benar menyusul karena ia hanya berjalan sedikit jauh di belakang gadis itu.

 

“ Jeon Jungkook, kira-kira apa yang dia pikirkan saat melihatku tadi ya ? Apa mungkin dia akan bermulut besar dan mengatakannya pada orang-orang ? Semoga saja tidak. Dan juga, semoga dia tak berpikir macam-macam mengenai keadaanku tadi “

 

“ Jung Yein, apa dia mengingat kejadian saat aku dengan paksa membuatnya tertidur dalam pelukanku tadi ? Errr~ semoga saja tidak “

 

***

 

Yein berjalan ke arah halte, tadi bibinya menelpon dan mengatakan kalau ada rapat dadakan di kantor dan menyebabkan wanita paruh baya itu tak bisa menjemputnya. Yein benar-benar menyesal, jika tahu begini, lebih baik ia mengikuti kata-kata sang bibi agar tak usah pergi ke sekolah, karena toh pada akhirnya tak ada satu pun pelajaran yang bisa ia hadiri hari ini.

Bus yang akan dinaiki Yein sudah sampai dan sialnya jaraknya masih cukup jauh dari halte itu, ia sedikit berlari meski tak terlalu cepat karena kakinya yang diperban. Tiba-tiba saja seseorang lewat, Jungkook, ya itu Jungkook, dia berlari dengan kecepatan super ke arah bus. Sial, seharusnya tadi Yein bertingkah manis pada pria itu jadi mungkin dia akan mau menolongnya, tapi nasi sudah menjadi bubur, Yein sadar sesadar-sadarnya kalau ia tak mengucapkan terima kasih sedikitpun pada pria itu tadi. Mana mungkin pria itu mau menolongnya lagi ? Benar-benar sial hari ini.

Akhirnya Yein berhasil masuk ke bus itu, meskipun sudah dapat dipastikan kalau seluruh kursi sudah penuh. Ia menarik nafasnya pelan, salahkan berita yang akhir-akhir ini menayangkan mengenai penculikan di dalam taksi yang membuatnya lebih memilih naik bus. Tapi apa mau dikata ? Ia sudah terlanjur berada di sini dan tidak ada pilihan lain selain berdiri. Namun lagi-lagi sesuatu terjadi, belum sempat ia memegang gantungan tangan, bus itu sudah lebih dulu berjalan menyebabkan tubuh kurusnya tersungkur ke belakang. Untung saja seseorang dengan sigap menahannya dan bahkan menarik gadis itu untuk duduk.

.

.

.

 

James lalu berkata pada Carroline ‘Jika kau tak mau, maka aku yang akan memaksamu agar kau bisa berada di sisiku selamanya’

.

.

.

 

Yein sedikit kaget dengan kejadian yang barusan terjadi, ia bahkan sudah duduk sekarang. Di kursi yang mana ? Bukankah tadi sudah penuh semua ? Ia menatap ke arah Jungkook yang saat ini sudah berdiri di sampingnya. Otak Yein sebenarnya sudah selesai bekerja, tapi— Yein tak bisa percaya dengan tanggapan yang diperoleh otaknya ini.

 

‘Tadi pria itu berlari secepat kilat yang bahkan kecepatannya bisa mengalahkan kecepatan seorang Flash agar dia bisa mendapatkan tempat duduk ini untukku ? ‘

 

 

 

 

To Be Continued

.

.

-EPILOG-

 

Busan, 17 Oktober 2005

“ Yein-ah, apa kau menangis ? “

Gadis itu tersadar. Dia menangis. Itu memang bukanlah hal yang aneh, memangnya apa yang aneh dari seorang gadis kecil berumur 7 tahun yang menangis ?

“ Kenapa kau menangis, Yein ? “

“ Tidak tau “ Suara polos itu terdengar, kelewat polos malah.

“ Lalu, kenapa kau menangis ? “

“ Aku tidak menangis “

Gadis kecil itu menyeka air matanya. Memangnya, sejak kapan ‘mengeluarkan air mata’ itu bukan menangis ? Wonhoo sedikit memutar otaknya untuk menemukan jawaban.

“ Jangan begitu. Lagi pula tidak ada yang aneh jika kau menangis, kau bisa menangis di dadaku jika — aakkkhhh “ sebuah hantaman keras mendarat di kepala bocah itu.

“ Jangan bertingkah sok cool bodoh. Ayo pergi, Jiyeon pasti sedang menunggu “ Yein kecil segera berlari meninggalkan Wonhoo yang masih meratapi nasibnya setelah dipukuli.

 

***

 

“ Yein ? Kenapa kalian lama sekali ? Mana Wonhoo ? “

“ Di belakang “ satu jawaban yang refleks dikatakan oleh bibir mungil Yein.

“ Lihatlah, aku mendapatkan sebuah buku “ Jiyeon segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya, tapi Yein hanya menatap tak selera.

“ Bukankah itu buku orang dewasa ? Anak-anak seperti kita tidak akan mengerti apa isinya “ Yein mulai mengambil tempat disamping Jiyeon.

“ Tapi aku melihat kakakku sering membaca buku ini, pasti bukunya bagus. Meskipun aku tidak tahu apa judulnya “

“ Kenapa kau tidak tahu ? “

“ Itu tidak tertulis dengan hangul. Coba lihat “

Yein pun mulai melihat judul buku itu, benar, ia pun tak bisa membaca judul buku itu. (judul yang tertulis sebenarnya adalah Secret Journey)

“ Bahasa apa itu ? Mungkinkah bahasa alien ? “ Wonhoo yang baru datang tiba-tiba ikut nimbrung.

“ Tidak tau “ kini Jiyeon yang mengeluarkan kata itu, apa mungkin dia sudah tertular Yein yang hanya menggunakan bahasa seadanya untuk menjawab seseorang ?

“ Sini coba. Aku baca sedikit “ Yein segera mengambil buku itu dari Jiyeon

 

“ Keillollin .. jeimseu .. Nama apa ini ? “ Yein hanya serius membaca keanehan nama-nama tokoh yang ada di novel itu.

 

“ Eh man teman. Aku mungkin akan pindah besok “

Jiyeon sontak menatap Wonhoo dengan tatapan aneh seperti tatapan saat menonton episode terakhir suatu drama sedangkan pandangan Yein tetap pada buku di depannya. Hanya pikirannya saja yang sudah melayang-layang.

“ Pindah ? Dengan siapa ? Kemana ? Kenapa ? Kapan ? Mengapa ? Bagaimana ? “ pertanyaan beruntun Jiyeon tadi sontak mendapat tatapan menjijikkan dari Yein. Jiyeon terlalu pintar, terlalu pintar untuk memvisualisasikan pelajaran Bahasa Korea ke kehidupan sehari-hari.

“ Ehh. Aku pindah besok, tadi malam ada orang tua yang datang ke panti asuhan untuk mencari anak angkat, dan mereka memilihku, mereka juga bilang kalau sebentar malam mereka akan langsung menjemputku untuk pergi ke Laseu Pegasus (maksudnya Las Vegas), ehh maksudnya Leiseu Pegasus, ehh entahlah, yang jelas katanya kota itu ada di luar negri “ terang Wonhoo dan mendapat anggukan imut dari Jiyeon, sementara Yein hanya memberi tatapan serius dan penuh makna/?

“ Lalu… Kau mau meninggalkan kami ? “ Suara dingin Yein terdengar di telinga membuat Wonhoo merinding sejenak.

“ I-iya.. Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi mau bagaimana lagi ? Aku tidak mau terus hidup di panti itu “ Yein menunduk, ia memang masih anak umur 7 tahunan yang sama sekali belum tahu apa-apa mengenai dunia luar, tapi setidaknya ia tahu bagaimana hidup Wonhoo menderita selama tinggal di panti asuhan itu.

“ Baiklah, selamat tinggal kalau begitu “

 

“ Huaaaahhh !! “ suara tangisan terdengar, suara itu berasal dari mulut si malaikat kecil bernama Kim Jiyeon, dimana hal itu sontak membuat Yein menatap jijik lagi ke arahnya.

“ Sudahlah jangan menangis. Ingus mu keluar terus tahu. Dasar Jorok “ ledek Yein sambil sedikit bergeser dari Jiyeon.

“ Ia tidak usah menangis. Saat besar nanti, aku pasti akan datang lagi ke sini dan mengunjungi kalian “

“ Janji ? “ Jiyeon mengusap-usap matanya lalu memberikan jari kelingkingnya ke arah Wonhoo

“ Ne, Janji “ balas Wonhoo dengan anggukan yakin sembari ikut mengarahkan jari kelingkingnya. Meski masih bersifat acuh tak acuh, Yein juga ikut mengaitkan jari kelingkingnya.

“ Kalau begitu, kau harus membawakan kami kuda pegasus nanti “

“ Tentu saja “

“ Janji ? “

“ Janji ! “

.

.

.

.

Chapter Selanjutnya

“ Yein-ah, saat kau rasa semuanya sudah sangat berat untuk kau tahan sendirian, kau bisa memanggilku untuk membantumu kapan pun kau mau “

“ Tadi Jimin sunbae datang padaku, dia bertanya satu pertanyaan aneh. Dan sepertinya, kau sudah membuat satu kesalahan besar, Jung Yein “

“ Jika kau tidak masuk 3 besar saat akhir semester nanti, ayah akan langsung mengirimmu ke Shanghai “

“ Bus ? Kau mau naik bus ? Kau serius tidak mau bibi jemput ? Biasanya kan kau paling tidak suka naik bus “

“ Gadis misterius, yang tingkat kemisteriusannya sudah melewati batas malah. Tapi karena itulah, aku jadi ingin tahu lebih banyak mengenainya “

.

.

.

.

GLOSSARIUM

 

Tremor : Gemetar

PTSD : Singkatan dari Post Traumatic Stress Disorder. PTSD merupakan sindrom kecemasan, labilitas otonomik, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih setelah stress fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa. Biasanya karena mengalami atau menyaksikan suatu kejadian buruk, seperti pembunuhan, pemerkosaan, mengalami kecelakaan, dll.

Rattus Argentiventer : Tikus Sawah

Ptyas Korros : Ular pemakan tikus sawah

Marina Bychkova : Seorang seniman yang terkenal dengan keahliannya membuat boneka porselen yang terlihat sangat nyata.

Havermut : Nama lain Oat Meal

Kelenjar Apokirn : Kelenjar keringat

Sinkop : Pingsan

Syringe : Alat suntik / Dispo

Rectus Femoris : Bagian paha depan, pada orang dewasa berada pada sepertiga tengah paha bagian depan. Salah satu titik penyuntikan intramuskular yang dapat di absorpsi dengan baik oleh tubuh. Titik ini sebenarnya jarang digunakan, tapi sangat penting untuk melakukan auto-injection.

Flash : Tokoh superhero tercepat

.

.

.

.

SOUNDTRACK

Yael Meyer – When You Hold Me Tight

Taeyeon – Closer

.

.

.

.

A/N

Maaf telat posting dan di chapter ini pendek. Dan juga maaf kalau kalian masih punya banyak pertanyaan di chapter 1 ini. Maaf juga kalau cerita di chapter ini agak gaje, mungkin efek sudah lama kaga bikin fanfict chaptered. Dan ada satu lagi, ini sebenarnya versi kedua yang saya buat, versi pertamanya benar-benar hancur dan saya tidak menganjurkan utk dibaca karena ceritanya 80% berbeda dengan yang versi ini. Versi pertama sendiri sudah saya publish di ffn tapi akan segera saya tarik dari peredaran 😀 . Akhir kata, mohon untuk kritik dan sarannya agar chapter 2 nanti bisa lebih baik lagi (y)

Advertisements

38 thoughts on “Capsula [Chapter 1]

  1. Wow…. speechless… ff nya benar-benar beda dari yang lain :O
    Gatau mau komen apa… kayaknya ada sesuatu yang buruk terjadi pada yein waktu dia kecil.. next authornim.. you’re the bestㅠㅠ

    Like

    • Kalo soal istilah sebenarnya sy tambahin untuk memperkental efek medisnya 😀 Maaf kalau membingungkan yoo.
      Sampai bertemu dichapter selanjutnya. And thanks for ur comment (y)

      Like

  2. Di tengah malam ffmu menemaniku kakk ~ ya ampunnn,aku syukak syukak sama ff nnyaa,jatuh cinta sejatuh jatuhnyaaa. Ini di tungguin dari kapan ya? Ahh kangen banget baca yg genrenya kek gnik. Next chapter cepat-cepat yoooo kakk,😍😍😍😍 keep writing! Love yuu (apa?!diseretkookie)

    Liked by 1 person

  3. baru baca chapter satu dan langsung jatuh cinta sama ceritanya ;~; authornim, why you did this to meeeh? /iniapasi/
    huhu, asli saya suka (banget) sama plot ceritanya, ehm, termasuk genre yang langka loh T-T uhuhu
    ditunggu lanjutannya yaa 😀 semangat!

    ngomong2, salam kenal o/ panggil saya burritown, wqwq /whusssh/

    Liked by 1 person

  4. Waaah ini anti-mainstream>< dari awal baca ini serius banget, udah tertarik, suka suka:3
    Dilihat dari prolog, Yein di masa lalu ngalamin sesuatu yang buruk kan, jadi ngeri
    Dan itu… Yein masih jaga image ya sama Jungkook hahaha XD
    Ditunggu terus kak kelanjutannya 😀

    Like

  5. Whoa, kamu…bisa banget menistakan tokoh sampe segitunya :”) Sesuatu yang sampe sekarang susah banget aku lakuin yaitu ngebuat tokoh ‘nelangsa’ :””

    Abis baca ini fix bgt aku jadi penasaran sama semua2nya, which is cool!! Ditunggu kekerenan yang lebih di chap berikutnya ❤

    Ini bukan masalah kamu sih, wkwkwk cuma mau curhat…Aku jadi bingung dengan banyaknya istilah yang kamu pake. Bagus kok, cuma saat aku lagi asik-asik dan ngalir bgt bacanya tiba2 aku disuguhkan sama kata yang bacanya aja aku ribet, apalagi artinya, yang ngebuat aku jadi terdistraksi buat nikmatin kalimat yang lg aku baca dan harus nyaris fokus lagi buat kalimat berikutnya. TAPI, karena menurutku ini kebanyakan ditulis dengan sudut pandang Yein yang notabene NAQ SMA YANG PINTER NAUJUBILE, trus ada si Mrs Ahn jugak, menurutku jadi masuk akal sih dia pake BAHASA BUKAN MANUSIA kek gitu wkwkwk. Kamu jg udah ngasih footnote jg, mungkin kalo ini buku novel jadi ya bakal langsung jelas sih wkwkwk. BEUH, JADI INTINYA SATU PARAGRAF INI AKU CURHAT DOANG TENTANG BETAPA LEMODNYA DIRIKUH INIH! XD

    Ah, ya sudahlah. Aku akan menunggu chapter berikutnya dalam sangkar Paradiseseidae #eak :3

    Like

    • Wkwk, ngebuat si tokoh nelangsa itu udah mendarah daging sama aye nun (?)
      kalo soal kata-kata asing itu wkwk, saya sendiri juga sebenarnya tidak tahu kenapa jadi demen nulis yg begituan haha 😀
      btw thanks udah ninggalin jejak nun

      Liked by 1 person

  6. huh serius deh .. genrenya bagus baget, karakter Jungkook dan Jiyeon juga bagus..

    capsula salah satu ff yg aku tunggu selain ff punya kak azel, pas baca teaser aja udah menarik..

    Pokoknya author jjang

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s