Karma [Chapter 2]

karma

Karma

By Fanita

Infinite’s Woohyun – Lovelyz’ Mijoo

Cast : Infinite’s Member – Lovelyz Member

OC : Jisun – Lee Jungyeop

Genre : Sad – Hurt – Romance || Type : Chapter || Rating : PG-17

Ketika tajamnya sebuah perkataan yang pernah kau lontarkan datang menyerang dirimu, apa itu yang dinamakan sebuah karma?

            Siang harinya ketika jam istirahat Mijoo membersihkan semua berkas-berkas yang dia kerjakan untuk makan terlebih dahulu. Ketika Mijoo berdiri pintu ruangan Woohyun terbuka dan laki-laki itu keluar dari dalam. Mijoo memberikan hormat dengan canggung namun Woohyun terus melangkahkan kakinya tapi beberapa langkah kemudian dia menghentikan langkah kakinya.

“Mijoo-ssi..”panggil Woohyun tanpa membalikan badannya.

Ye sajangnim?”sahut Mijoo.

“ikuti aku,”titah Woohyun.

Mijoo langsung berjalan mengikuti Woohyun dari belakang. Cukup canggung perasaan ini namun mau bagaimana lagi ini sudah takdirnya, kan?

 

“habis makan siang aku ada janji dengan klien dan kau harus ikut aku,”ucap Woohyun.

algeuseumnida sajangnim.”patuh Mijoo.

Keduanya kini sedang makan di salah satu restauran mewah yang mana kini sedang dipadati oleh orang-orang kaya berstatus tinggi. Mijoo tersenyum lirih ketika mengingat pernah pergi ke tempat ini bersama ayahnya satu hari sebelum penyergapan.

“kenapa kau melamun? Cepat makan nanti kita bisa telat,”tegur Woohyun.

N-ne…”

Keduanya kini menikmati makan siang mereka. Dengan perasaan kalut Mijoo berusaha menelan semua makanan lezat itu walaupun dirinya terbayang dengan ayahnya yang sampai sekarang tidak dia ketahui kabarnya. Tanpa Mijoo sadari sejak tadi Woohyun memperhatikannya. Baginya gadis dihadapannya kini sungguh berbeda dari beberapa tahun yang lalu.

 

“Au. sakit! Ya!”

Jiae tidak memperdulikan jeritan dari ketua timnya, Kim Myungsoo yang dia tahu dia akan terus mencubit serta memukul atasannya karena membuat Mijoo bertemu kembali dengan Woohyun.

Ya! Kalau temanmu bertemu dengan orang itu bukan urusanku. Akukan tidak tahu salahkan saja takdir,”oceh Myungsoo.

“Aish timjangnim!!”kesal Jiae.

Langkah kaki seseorang membuat Jiae membetulkan cara duduknya begitu pula Myungsoo ternyata itu adalah Sungjong, kekasih Jiae. Sungjong juga satu kantor dengan Jiae dan Myungsoo hanya saja berbeda departemen dan juga Sungjong memiliki jabatan yang sama seperti Myungsoo.

Ya Sungjong-ah kekasihmu ini menyiksaku,”adu Myungsoo.

na aniya! Ini pantas aku lakukan bukan aku menyiksanya,”oceh Jiae.

Sungjong hanya tertawa dan menghampiri keduanya, “ayo makan siang aku lapar!”kata Sungjong.

Call!!”ucap Myungsoo dan Jiae serentak.

Mijoo dan Woohyun sampai di hotel tempat mereka mengadakan pertemuan rapat. Hal ini cukup canggung bagi keduanya karena harus berjalan bersama serta berada di dalam mobil yang sama. Kini keduanya sudah berada di dalam ruangan tempat mereka memiliki janji dengan seorang klient. Setelah Woohyun duduk dihadapan klietnya orang tersebut malah memperhatikan Mijoo lalu kembali melihat Woohyun.

“bukannya dia anak Lee Jungyeop?”tanya pak Kim, kliet tersebut.

“iya benar,”jawab Woohyun.

“dia sekretaris barumu Woohyun-ssi? Kau tidak takut bisa saja dia menuruni penyakit ayahnya untuk menggelapkan uang perusahaanmu?”kata pak Kim. Mijoo hanya bisa menundukan kepalanya.

“Haejun-ssi kita disini bukan untuk membicarakan pegawai saya. Urusan karyawan saya itu adalah pilihan saya sendiri mohon jangan mengomentari mereka. Anggap saja ini tidak pernah terjadi dan lebih baik kita mulai rapatnya,”ucap Woohyun datar.

algeuseumnida. Maaf atas kelancangan saya,”kata Haejun.

 

            Sampai di kantor Mijoo melanjutkan kembali pekerjaannya yang tadi belum sempat dia selesaikan. Mijoo mengerjakannya dengan serius bahkan tidak memperhatikan keadaan sekitar. Tiba-tiba saja seseorang menghampiri dan berdiri didepannya. Mijoo memperhatikan seorang gadis berkulit putih susu dihadapannya ini.

“Woohyun oppa ada diruangannya?”Tanya gadis itu.

“Nam Sajangnim ada diruangannya tapi apa Anda sudah memiliki janji dengannya?”tanya balik Mijoo.

“tidak perlu janji….”ucapnya.

Gadis itu langsung masuk kedalam ruangan woohyun tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Mijoo yang takut akan dimarahi oleh Woohyun langsung menyusul gadis itu. di dalam ruangan bosnya Mijoo hanya bisa tercengang ketika gadis tadi sudah bergelayutan dengan manja di lengan Woohyun.

sajangnim maafkan aku,”sesal Mijoo.

“Tidak apa-apa Mijoo-ssi ini sering terjadi. Lebih baik lanjutkan pekerjaanmu,”kata Woohyun.

Mijoo memberikan hormat pada Myungsoo dan langsung keluar dari ruangannya tidak lupa menutup pintu. Saat Mijoo duduk ditempatnya seorang pegawai menghampirinya dan berbicara berbisik-bisik padanya.

“Mijoo-ssi kau harus bersabar dengan gadis itu. Kau tahu? Banyak sekretaris sebelumnya yang berhenti karena tidak tahan menghadapi gadis itu,”bisik Jisoo.

“memangnya dia siapanya sajangnim?”tanya Mijoo.

“Dia? Ngakunya pacar tapi sajangnim tidak pernah meliriknya sedikit pun. Dia anak pengusaha kaya juga si yang aku ketahui,”jawab Jisoo.

“benarkah? hm..”gumam Mijoo.

Jisoo buru-buru kembali ke mejanya karena dia takut untuk mengobrol berlama-lama membuat dirinya mendapatkan teguran dari manager.

 

Oppa.. kau pulang ke Korea lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Kau bilang akan pergi selama 5 minggu ternyata cuma 4 minggu untung saja aku tahu jadi langsung pulang dari Paris,”oceh gadis itu.

Woohyun memijat pelipisnya dengan perasaan frustasi. Hidupnya sudah cukup tenang 1 bulan ini karena terbebas dari perempuan tersebut namun faktanya kini gadis itu kembali dan membuat keadaan runyam.

Oppa! Aku membelikanmu banyak oleh-oleh aku meletakannya di bagasi mobilku. Oppa kau membawakanku oleh-oleh tidak?”ocehnya.

“Haeryung-ah begini.. pertama aku tidak membawakan oleh-oleh untukmu dan kedua aku sedang bekerja jangan ganggu aku!”ucap Woohyun berusaha sabar.

Oppa..”rengeknya.

“berhentilah merengek Haeryung-ah,”

Oppa-ya….”

“Na Haeryung!”bentak Woohyun.

Haeryung terdiam mendengar Woohyun membentaknya gadis itu juga menunjukan raut muka sedih. Woohyun yang melihatnya langsung mengusap mukanya kesal. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan anak dihadapannya ini.

“aku tidak suka dibentak. Kau sudah tahu bukan?”kata Haeryung.

“ya aku tahu dan aku juga mohon pengertianmu untuk tidak mengangguku. Lebih baik sekarang kau pulang!”titah Woohyun.

Mendengar ucapan Woohyun barusan Haeryung menghentakan kakinya kesal dan kemudian berlari keluar dari ruangan woohyun. Melihat gadis itu sudah keluar dari ruangannya woohyun menghela nafas legah dan kemudian melanjutkan pekerjaannya.

 

BRAKK..

Suara pintu dibanting membuat Mijoo merasakan jantungnya hampir saja copot. Dia hanya bisa melihat Haeryung dengan heran karena keluar dengan muka yang begitu kusut. Terdengar lagi suara bisikan dari Jisoo yang meja kerjanya ada disamping Mijoo, “hal yang biasa. Kau harus terbiasa,”bisik Jisoo. Mijoo hanya bisa tersenyum dengan kikuk mendengarnya.

 

            Hari ini sudah 7 hari Mijoo bekerja di Namu Corp. Makan siang kali ini Mijoo langsung menuju cafe tempat dia memiliki janji dengan tantenya. Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya Mijoo dapat menghubungi salah satu keluarga ibunya yang berasal dari Incheon. Mijoo masuk kedalam cafe dan melihat ke semua pengunjung di cafe itu dirinya tersenyum tipis ketika melihat seorang bibi berusia 50 tahunan sedang meminum jus. Tanpa pikir panjang Mijoo menghampiri dan duduk dihadapannya.

annyeong haseyo yimo,”sapa Mijoo.

Eoh..”ucapnya ketus.

“aku sungguh berterimakasih karena Aera yimo bersedia merawat ibuku. Gomapseumnida…”kata Mijoo.

“huh.. sudahlah kau tunjukan saja dimana alamat rumahmu aku sangat lelah dan ingin langsung tidur aku tidak mungkin berlama-lama di hotel aku tidak punya uang,”ucap Aera.

Mijoo langsung mengeluarkan kertas dan pena dari tasnya dan mencatatkan alamat lengkap tempat dia dan ibunya sekarang tinggal setelah itu Mijoo langsung memberikannya pada Aera.

yimo aku akan memberikan setengah.. ah tidak.. tiga perempat hasil gajiku tiap bulan untukmu. Yimo aku menitipkan ibu padamu,”

“sudah jangan cerewet. Ahiya aku mau langsung pergi ke rumahmu jadi kau bayarkan minuman ini dan juga nasi goreng yang tadi aku makan. Kau begitu lama sehingga aku kelaparan!”

Setelah Aera pergi Mijoo masih tetap berada di cafe itu karena dia juga harus mengisi perutnya. Seorang pelayan menghampirinya dan alangkah terkejutnya Mijoo saat melihat orang itu begitu juga dengan pelayan tersebut.

“Mijoo-ssi..”

“Sungyeol-ssi..”

Keduanya saling memandang dan tersenyum geli melihat pertemuan yang tidak disengaja antara mereka berdua ini.

 

“ini nasi goreng pesananmu, special untuk Mijoo-ssi.”kata Sungyeol.

Mijoo langsung memakan nasi goreng yang dibuatkan oleh Sungyeol dengan lahap. Sesekali dia mengacuhkan jempolnya pada laki-laki itu membuat Sungyeol tersenyum.

“kenapa makan siang sendiri?”tanya Sungyeol.

“sebenarnya aku ingin makan bersama bibiku ternyata dia sudah makan duluan ya sudah aku makan sendiri saja. Kau sendiri? Bekerja disini?”tanya balik Mijoo.

“Hm iya aku bekerja paruh waktu disini,”jawab Sungyeol.

Mijoo menghabiskan makanannya kemudian setelah selesai dia bergegas untuk membayar pesanannya di kasir namun Sungyeol menyuruh Mijoo untuk tetap duduk ditempatnya. Walaupun bingung wanita itu tetap menuruti perkataan Sungyeol. 10 menit kemudian Sungyeol kembali menghampirinya.

“sekarang kau bisa pulang atau aku harus mengantarmu?”tanya Sungyeol.

“ye? Aku belum membayar—“

“aku sudah membayarnya dengan memotong gajiku,”potong Sungyeol.

“Sungyeol-ssi….”ucap Mijoo. Dia sungguh tidak enak karena laki-laki itu membayar makanannya dan juga bibinya tadi.

“tenang saja. Sekarang kau mau kembali bekerja ya? Aku antar,”ajak Sungyeol.

“tidak perlu aku bisa pulang sendiri. A-aku pulang dulu terimakasih banyak Sungyeol-ssi,”

Mijoo buru-buru keluar dari cafe itu dan Sungyeol yang sejak tadi tetap diam di tempatnya hanya bisa menghela nafas legah. Dia sudah cukup senang bisa bertemu lagi dengan Mijoo tapi dia ingin lebih, Sungyeol ingin lebih mengenal gadis itu.

 

            Dengan terburu-buru Mijoo berlari naik ke lift karena Jisoo yang kebetulan sedang dibawah sedang dilantai dasar memberitahu dia jika Woohyun sejak tadi menunggunya. Sampai dilantai atas tanpa memperdulikan orang-orang yang tak sengaja dia senggol Mijoo berlari keruang kerja Woohyun. Sampai di depan pintu ruangan Woohyun dia mengetuk pintu.

“Masuk!!”seru woohyun dari dalam.

Perlahan Mijoo membuka pintu dan dia terkejut melihat Woohyun begitu marah menatapnya. Dengan perasaan takut Mijoo menghampiri Woohyun dan bertanya padanya.

sajangnim apa saya memiliki kesalahan?”Tanya Mijoo.

“bagus kau meyadarinya. Apa kau sadar kau sudah keliru menuliskan surat pengajuan untuk Kim company? Kau tahu kerugian apa yang bisa terjadi jika aku tidak menyadarinya?”oceh Woohyun.

Mijoo meremas roknya dengan perasaan takut dan gelisah. Ini baru pertama kalinya dia melihat Woohyun marah kepadanya.

“ah jinjja untung saja aku belum mengirim emailnya ke mereka. Aku menyesal memilihmu!”lanjut Mijoo.

“maafkan aku sajangnim. Aku tahu aku salah. maafkan aku…”sesal Mijoo.

“Heol…”

sajangnim jika kau menyesal memilihku lebih baik pecat saja aku dibandingkan aku terus bekerja denganmu karena rasa kasihanmu itu,”ucap Mijoo.

Woohyun kebablasan mendengar ucapan Mijoo barusan. Dia tidak ada maksud untuk membuat gadis itu dipecat hanya saja saat ini dia begitu kesal karena sesuatu yang penting hampir saja merugikan perusahaannya.

“Mijoo-ssi aku tidak ada maksud untuk memecatmu hanya saja aku ingin menegurmu agar tidak melakukan kesalahan yang sama,”kata Woohyun. Suaranya tidak tinggi lagi seperti tadi.

Sajangnim jika Anda menerimaku karena masalah pribadi yang aku milikku lebih baik pecat saja dan cari pegawai yang lebih cekatan dan berpengalaman dariku,”ucap Mijoo.

“Mijoo-ya geumanhae..”lirih Woohyun.

Mijoo memberikan hormat pada Woohyun setelah itu membalikan badannya dan keluar dari ruangan. Woohyun mengacak rambutnya frustasi mendengar ucapan Mijoo barusan membuatnya merasa bersalah.

 

 

1 minggu sebelumnya..

 

Setelah Howon mengantarnya pulang ke apartemennya Woohyun langsung mencuci mukanya di toilet dan membongkar laci meja kerjanya. Dia bersyukur bahwa dirinya tidak terlalu mabuk sehingga masih memiliki setengah nyawanya. Dengan mata yang sedikit buram dia membawa dokumen yang dia keluarkan dari laci dan membawa dua buah kertas secara bergantian. Kertas tersebut adalah formulir pendaftaran Mijoo dan seorang pendaftar lainnya.

eoetteoke?”racau woohyun.

Dia membaca dengan seksama dan membandingkan kinerja Mijoo dengan orang bernama Nari itu.

“Nari berpengalaman tapi Mijoo… dia pasti butuh pekerjaan ini dan juga dia lulusan universitas ternama di L.A,”gumam Woohyun.

Setelah berfikir keras pada akhirnya Woohyun menjatuhkan pilihannya kepada Mijoo, “Nam Woohyun kau melakukan ini hanya untuk membantunya bukan berarti kau masih menyukainya, kan?”tanyanya pada diri sendiri.

 

Sampai dirumah Mijoo langsung menghampiri ibunya yang sedang makan bersama Aera. Mijoo menghampiri mereka sambil tersenyum dan berbicara kepada ibunya.

“Ibu.. aku menitipkan ibu pada Aera yimo. Aku harap ibu mengerti,”kata Mijoo.

“Mijoo-ya lalu kau akan tinggal dimana? Kita menumpang di paviliun milik pak Son,”ucap Jisun.

Memang tempat yang mereka tinggali saat ini adalah sebuah paviliun milik pak Son yang merupakan ketua pelayan rumah mereka dulu. Pak Son banyak membantu Mijoo dan Jisun ketika masalah datang kepada mereka. Seperti menolong agar mereka tidak terekpos ke media saat penangkapan Jungyeop dan juga memberikan tumpangan tempat tinggal karena rumah beserta aset yang lain disita oleh negara.

“aku meminta tolong Jiae untuk mencarikan flat. Jangan khawatir,”dusta Mijoo. Dia sama sekali tidak meminta bantuan pada Jiae sebetulnya.

“jangan banyak omong lagi besok aku akan membawamu ke Incheon. Aku tidak betah meninggalkan anak-anakku disana,”celetuk Aera.

“aku mengerti baiklah Mijoo-ya kau harus hati-hati sendiri disini,”pesan Jisun.

Mijoo menganggukan kepala dan kembali berdiri untuk membereskan baju dan perlengkapan ibunya yang harus dibawa ke Incheon. Sebenarnya dia sangat sedih untuk meninggalkan ibunya sendiri tapi apa boleh buat jika dia kerja hingga malam tidak ada yang merawat ibunya maka dari itu dia berusaha menghubungi Aera, sepupu ibunya untuk merawat Jisun.

 

            Mijoo memandangi sebuah mobil hitam yang sungguh mewah itu dengan datar. Bukan karena dia ingin memiliki mobil itu melainkan dia sedang memperhatikan seseorang disana. Woohyun dia di dalam mobil bersama dengan gadis bernama Haeryung itu. Mijoo tersentak kaget ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dia mengerutkan keningnya ketika Jisoo tersenyum padanya.

“kau suka dengan sajangnim ya? Kenapa memperhatikannya?”tanya Jisoo.

Aniyo aku tidak menyukainya. Hanya saja aku bingung dengan gadis itu. sebenarnya dia siapanya Nam sajangnim sih?”tanya Mijoo. Yang dia perhatikan bukanlah Woohyun melainkan Haeryung.

“Na Haeryung itu yang jelas orang kaya dia mengenal Nam sajangnim sejak kuliah ya awalnya hubungan sunbae-hoobae. Aku juga tidak tahu jelas kenapa perempuan itu mengekori sajangnim. Kasihan beliau,”oceh Jisoo.

Mijoo menganggukan kepalanya mengerti karena tidak ada yang dibicarakan lagi diapun pamit pulang terlebih dahulu, “aku pulang duluan Jisoo-ssi..”pamit Mijoo.

TBC

Advertisements

8 thoughts on “Karma [Chapter 2]

  1. Na Haeryung itu yang jadi Yena di high school love on ya kak? Aduhhh jadi makin penasaran sama chapter selanjutnya ^^ Di tunggu chapter 3 nya ya kak

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s