[ONESHOOT] FAILED DATE

failed date

 Title : Failed Date

Author : awknisa

Main Cast : Kim Jiyeon Lovelyz’s | Park Jimin BTS

Other Cast : find by yourself

Genre : Romance,comedy

Length : oneshoot

Rating : Teenager

Disclaimer : All story 100% is mine
dilarang copy paste say. susah bikinnya T_T
sorry for typooo!!

[][][][]

“YA! Jiyeon-ah, berhentilah melempar-lempar bajumu seperti itu. Coba lihat ke belakang, kamarmu sudah lantas seperti gudang baju.” Suara Jiae yang melengking terdengar jelas di telingaku. Entah sudah berapa kali aku mendengar ucapan yang sama dari mulutnya. Persis seperti tadi. Astaga, anak ini. Tidak tahu apa aku sedang sibuk memilih baju?

“Jiyeon-ah! YA! Berhenti! Ini sudah cukup banyak. Kalau kau bingung memilih baju, biarkan aku saja yang memilihnya.” ucap Jiae lagi, terdengar langkahnya berjalan mendekatiku yang sedang sibuk mengorak-arik isi lemari bajuku.

“Ya! Eonnie, kenapa lemarinya kau kunci?” sergahku ketika melihat Jiae mendorong tubuhku ke belakang, menjauhi lemari bajuku lalu segera menutup pintu lemariku dan menguncinya. Astaga, Eonnie-ku satu itu. Berniat membantuku atau apa tidak?

“Kemari kau,” Tiba-tiba Jiae menarik tanganku. “Duduk di sini, jangan banyak bicara.” ucap Jiae lagi sembari mendorong pelan tubuhku agar duduk di tepi tempat tidur.

“Eonnie, aku sedang sibuk. Jangan bermain-main. 2 jam lagi Jimin akan menjemputku. Kau tahu kan, ini akan menjadi kencan yang sangat langka. Aku harus tampil secantik mungkin di kencan malam ini.” jelasku pada Jiae.

Yah, malam ini aku akan kencan dengan Jimin. Setelah hampir 2 minggu kami tidak ada bertemu bahkan berbicara, dan akhirnya dia mengajakku kencan malam ini. Jangan tanya bagaimana perasaanku, bahagia? Senang? Gembira? Ah, semuanya tergabung dalam satu kesatuan yang utuh di dalam hatiku. Oke, jangan protes jika pernyataanku satu ini terkesan sangat berlebihan.

“Dengarkan aku, ya adik kecilku yang manis. Kau itu sudah sangat cantik. Mau memakai pakaian apapun, kau itu selalu terlihat cantik. Untuk apa kau bingung memilih baju sampai semua baju dalam lemarimu kau keluarkan seperti ini?!” timpal Jiae sembari menunjuk baju-bajuku yang bertebaran di mana-mana.

“Aku ingin tampil beda, Eonnie. Wajar,kan? Lagipula, sudah sangat lama aku tidak mengobrak-abrik lemariku.” ucapku sembari menyengir lebar.

“Baiklah, aku mengerti. Biarkan aku yang memilihkanmu. Kau ingin tampil seperti apa?” tanya Jiae kemudian.

“Hmm, aku sudah biasa tampil girly dan cute. Bosan. Bagaimana kalau funky? Rock?” Aku bergumam sembari memilih-milih pakaian seperti apa yang ingin kukenakan.

“YA! Kau gila apa ingin tampil funky? Ini kencan, bukan konser!” komentar Jiae dengan tegas.

“Ya! Jangan marah-marah padaku. Aku kan hanya memberi usulan.” ucapku dengan wajah polos. Sepertinya Jiae sedang datang bulan, kenapa dari tadi dia marah-marah terus?

“Aku tidak marah,” sergah Jiae sembari meraih beberapa bajuku yang tergeletak begitu saja di lantai.

“Shh, mengelak.” gumamku sembari menghela nafas panjang.

Drrrttt.. drrrrttt..

Tiba-tiba, ponselku yang kuletakan di atas tempat tidur bergetar. Senyum ceria langsung mengembang di bibirku begitu melihat nama siapa yang tertera di ponselku.

“Chagi-ya~” Suara lembut itu dengan segera menyapa telingaku begitu ponselku menempel di telingaku. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan suara Park Jimin.

“Bagaimana, sudah siap-siap untuk kencan kita?” tanya Jimin lagi.

Aku tersenyum kecil, “Kalau aku jawab iya apakah aku akan mendapatkan hadiah?” godaku dengan suara manja.

Terdengar suara tawa Jimin, “Apa pun jawabannya, aku akan tetap memberikanmu hadiah.” jawab Jimin lagi.

“Benarkah? Hadiah apa? Jangan bilang hadiah itu.” ucapku sembari menebak hadiah apa yang dimaksudnya. “Itu apa? Hayo, pikiranmu pasti itu.” timpal Jimin dengan suara nakal.

“Itu apa? Memangnya kau mengerti itu apa yang kumaksud?” tanyaku lagi. “Tentu saja, itu itu, kan?” ucap Jimin disertai tawa kecil.

“Sudahlah, aku tahu kau tidak pintar menebak pikiran orang lain. Aku tahu, aku tahu. Jangan mempermalukan dirimu di depanku.” ucapku sembari tertawa kecil.

“Bilang saja tidak ingin ketahuan olehku. Aku tahu itu maksudmu itu, itu yang berunsur mesum, kan?” goda Jimin.

“Yaak! kau yang mesum. Ckckck, pikiranmu itu yang mesum.” sergahku pada Jimin.

Sebenarnya, aku tidak terlalu mengerti apa yang kami bicarakan ini. Tetapi, aku merasa senang berbicara tidak jelas seperti ini. Ya, salah satu hal yang kurindukan adalah berbicara tidak jelas seperti ini. Memang aneh. Tetapi, bukan cinta, kan kalau tidak aneh?

Jimin tertawa lagi, “Baiklah, berhenti berbicara tentang itu. Lebih baik kau dandan yang cantik. Aku akan menunggumu di Namsan Tower, 2 jam lagi. Ne?”

“Ne, chagi-ya. Tenang saja, aku akan tampil sangat cantik. Aku yakin kau akan mati berdiri kalau kau melihatku. Chagi-ya kau dandan yang tampan juga ya.” ucapku sembari tertawa nakal.

“Baiklah, buatlah aku mati berdiri di depanmu. Dandan yang tampan? Hey, aku sudah tampan. Kalau aku dandan lagi nanti aku bisa tambah tampan. Kan, gawat kalau aku semakin tampan, kau mau punya banyak saingan?.” ucap Jimin dengan pedenya.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” ucapku pura-pura batuk.

“Wae?” tanya Jimin sembari tertawa.

“Ada sesuatu yang masuk ke mulutku.” jawabku asal-asalan. Aku dan Jimin kembali tertawa terbahak-bahak.

“Ya sudah, teleponnya kututup, sampai jumpa chagi-ya” ucap Jimin. “Arraseo” Aku kembali meletakkan ponselku di atas tempat tidur sembari tersenyum senang.

“Aku iri!” seru Jiae tiba-tiba. Aku segera menolehkan kepalaku ke samping, tampak Jiae mengerucutkan bibirnya. “Kau dengan Jimin kenapa tampak mesra sekali? Aku jadi ingin punya pacar juga.” gerutu Jiae dengan wajah kesal.

Aku tertawa melihat tingkah Jiae yang tampak seperti anak kecil, “Benarkah? Kalau begitu, kau segera cari pacar, Eonnie.”

“Kau kira mencari pacar seperti menghirup oksigen? kalau kau kan cantik. Pasti banyak lelaki yang mengantri ingin menjadi pacarmu. Sedangkan aku?” ucap Jiae dengan wajah murung.

“Yak, Eonnie kau ini cantik. Semua gadis di dunia itu cantik. Kenapa kau jadi berpikir seperti itu?” tanyaku sembari memandang Jiae dengan senyum tulus.

Jiae hanya menghela nafas panjang.

“Aigoo, kenapa aku jadi murung seperti ini? begini saja, Eonnie ingin punya pacar? akan kucarikan. Ingin siapa? Jin oppa?  Yonggi oppa? Namjoon oppa?” tanyaku pada Jiae.

Tiba-tiba, Jiae tertawa tebahak-bahak, “Aniya kau tidak perlu repot-repot begitu. Aku hanya iri saja. Tidak benar-benar ingin punya pacar. Aku cukup bahagia sendiri seperti ini. Kau ini, niat sekali mencarikan kupacar.”

“Aku serius. Benar tidak mau? Kalau nanti menyesal aku tidak ingin tanggung jawab.” timpalku.

Jiae mengangguk sambil tersenyum, “Pangeranku akan datang sendiri. Untuk apa dicari?”

Aku tersenyum mendengar ucapan Jiae, “Terima kasih Ya Tuhan, akhirnya pikiran Jiae Eonnie dewasa juga.”

“YA! Kau pikir dulu pikiranku seperti anak kecil?!” seru Jiae. Aku tertawa melihat Jiae yang kembali marah-marah.

“Aku hanya bercanda, Eonni. Jadi kau tidak jadi memilihkan ku baju? Astaga, sudah hampir 1 jam berlalu! Aku bahkan belum menemukan baju yang cocok.” seruku begitu melihat jam di dinding kamarku telah menunjukan pukul 7 malam.

“Aigo, benar! Sebentar, coba yang ini, yang ini, yang ini, yang ini, dan yang ini dulu.” Jiae memberikanku 5 baju pilihannya. Dengan sedikit susah payah, kuraih baju-baju yang diberikannya.

“Ppali, ppali.” perintah Jiae. Dengan kecepatan ekstra, segera kukenakan baju-baju pilihannya. Baiklah, Jiyeon-ah. Kau harus bisa membuat Park Jimin mati berdiri di hadapanmu.

[][][][]

Aku menghela nafas panjang sembari memandang orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Udara malam ini cukup terasa dingin. Aish, kenapa aku lupa membawa mantel tadi? Ini pasti karena aku terburu-buru.

Ya, aku hanya mengenakan dress berwarna putih dengan renda-renda halus di bagian kerahnya. Panjang dressnya hanya sebatas lutut. Lengan tangannya pun hanya berjarak beberapa senti dari pundakku. Dress simple, sebenarnya kainnya cukup hangat. Namun, kalau aku berdiri setengah jam lagi di sini, aku yakin aku akan mati kedinginan.

Jimin kau dimana? Kenapa dia belum datang-datang juga?

Yah, sudah hampir setengah jam aku berdiri di depan Namsan Tower. Namun, dari tadi aku sama sekali tidak melihat batang hidung lelaki itu. Di mana dia? Bukankah dia bilang, dia akan menungguku?

Baiklah. Mungkin dia sedang di jalan. Mungkin jalan sedang padat. Ya, wajar saja, ini malam minggu. Pasti banyak pasangan yang pergi kencan dan beberapa keluarga yang pergi jalan-jalan.

“Hhhmm,” Aku menghela nafas lagi sembari menggosok-gosok kedua telapak tanganku. Ayolah, Jimin. Cepat datang. Aku mulai kedinginan.

Kuedarkan pandanganku ke seluruh wilayah Namsan Tower, mencoba mengusir kebosanan. Tampak beberapa pasangan sedang asyik bercanda ria. Baiklah, sebaiknya aku tidak perlu mengedarkan pandanganku. Itu hanya akan membuatku semakin merasa kesal dan iri.

Kucoba meraih tas kecilku yang tergantung di pundakku. Lebih baik aku telepon Jimin. Sekedar memastikan di mana dirinya sekarang. Ya, aku cukup khawatir karena dia belum tiba juga di Namsan Tower.

“Ah!” seruku tiba-tiba saat melihat ada 2 panggilan tak terjawab dari Jimin. Aigo,bagaimana bisa aku tidak mendengar ada panggilan masuk? Astaga, aku lupa. Ponselku, kan kugetarkan.  Babo!

Dengan segera, kutelepon Jimin kembali. Tidak diangkat. Baiklah, coba telepon sekali lagi. Tidak diangkat juga!

Astaga, Jimin-ah, tolong angkat teleponnya!

Omona, kenapa aku jadi khawatir seperti ini? Ayolah, Jiyeon-ah, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu.

Segera kutarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, “Berfikir positif. Just think positive, Jiyeon-ah.” Aku mencoba meyakinkan diriku.

Kembali kuedarkan pandanganku ke seluruh wilayah Namsan Tower, berusaha untuk mengusir rasa kegelisahan. Jimin, pasti baik-baik saja. Dia pasti sedang di jalan. Semua akan baik-baik saja. Iya, kan?

“Ah, tidak! Tidak! Park Jimin, jangan buat aku khawatir.” ucapku sembari menggenggam ponselku dengan erat.

Dengan segera, kuketik pesan di ponselku. Mengirim pesan padanya kurasa akan sedikit mengatasi rasa kegelisahanku. Ya, kuharap.

Chagi-ya, kau di mana?Aku sudah tiba di Namsan Tower.

Tolong, kalau kau membacanya, cepat balas

Baiklah, terkirim. Oke, cukup tunggu balasan dari Jimin.

Menit demi menit entah kenapa terasa begitu lambat bagiku. Kulirik jam tangan yang tergantung di tangan kananku. Sudah jam 10 malam, 2 jam telah berlalu. Ya ampun, perasaanku aku sudah hampir 5 jam berdiri di sini menunggu Jimin yang belum datang-datang juga. Bahkan, pesanku tidak dibalas juga.

Sejenak, aku tidak peduli lagi dengan udara dingin yang menusuk kulitku. Itu tidak penting lagi sekarang. Sekarang, pikiranku hanya dipenuhi dengan Jimin. Ya ampun, kenapa lelaki itu suka sekali memenuhi isi otakku?

Kali ini aku bukan sedang merindukkannya. Aku sedang sangat mengkhawatirkanya.

Baiklah, apa yang harus kulakukan sekarang?

Beberapa pasangan yang tadi memenuhi wilayah Namsan Tower mulai berkurang. Ya, sudah cukup sepi. Namun, masih ada pasangan yang terlihat bercanda dan bermesraan ria. Apa aku pulang saja dan segera pergi ke dorm BTS?

Tetapi, kalau aku pergi ke dorm BTS dan ternyata Jimin pergi ke Namsan Tower bagaimana?
Eomma, kenapa berbelit-belit sekali?
Baiklah, tunggu 15 menit lagi. Kalau Jimin belum tiba juga. Aku harus segera pergi ke dorm BTS!

Lagi dan lagi, aku merasa 15 menit terasa seperti 1 jam. Kenapa waktu berjalan lambat sekali? Ya Tuhan, sepertinya aku bukan tipe manusia penyabar.

Tanpa melirik jam tangan dan berpikir dua kali lagi, aku bergegas berjalan meninggalkan Namsan Tower. Aku tidak tahan menunggu lebih lama lagi. Bahkan jika hanya 5 menit lagi. Jimin, kau berhutang janji padaku. Kenapa, kau selalu saja seperti ini?

“Jiyeon-ah!!”

Tiba-tiba suara seseorang memanggil namaku. Astaga, aku kenal sekali suara ini. Segera kumiringkan kepalaku ke samping, sumber dari suara itu.

“Jimin-ah” gumamku dengan wajah terkejut. Namun, jauh dalam hatiku aku cukup lega melihat orang yang sejak tadi kukhawatirkan telah berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan posisiku berdiri.

“Yak, kenapa kau masih di sini?!” bentaknya sembari berlari-lari kecil mendekatiku. Aku hanya bisa terdiam melihat jimin berlari menghampiriku. Dia bisa berlari? Dia baik-baik saja?

“YA! Seharusnya kau pulang saja. Kenapa kau masih menungguku? Kau ini, kenapa suka sekali membuat orang khawatir?” ucap Jimin sembari memandangku dengan wajah kesal. Namun, dapat kulihat kekhawatiran dari tatapan matanya.

“Aku.. tidak ingin menjadi orang ingkar janji sepertimu.” jawabku dengan suara pelan.

“Aku tidak ingin menjadi orang sepertimu. Yang suka berjanji, namun selalu tidak ditepati. Selalu membuat orang khawatir. Selalu menyusahkan orang lain.” lanjutku

“Chagi-ya,” gumam Jimin.

“Tidak terlalu masalah untukku menunggumu berjam-jam, aku sudah biasa menunggumu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tetapi, bisa tidak jangan buat aku mengkhawatirkanmu? Bisa tidak jangan menyusahkanku? Bisa ti-“

Tiba-tiba, Jimin menarik tanganku, membuatku tidak bisa melanjutkan kalimatku lagi. Kurasakan tubuhku menghangat. Seketika, udara dingin yang tadinya begitu menusuk kulitku berubah menjadi sebuah kehangatan yang nyaman. Jimin memelukku dengan begitu erat.

“Mian. Jeongmal mianhae.” ucap Jimin padaku.

“Kenapa kau begitu menyebalkan, Jimin-ah?” ucapku lagi. Kurasakan cairan bening mulai membasahi pelupuk mataku. Ya Tuhan, kenapa aku harus menangis seperti ini?

“Maaf. Maafkan aku, Jiyeon-ah”

Aku hanya bisa membiarkan air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku tidak tahu, dengan menangis seperti ini membuat rasa kegelisahannku jauh lebih berkurang. Ini sangat melegakan. Namun, cukup memalukan untukku. Aku bukan tipe gadis yang mudah menangis di hadapan seorang lelaki.

“Mian, aku membasahi kemejamu.” ucapku pada Jimin setelah perasaanku mulai membaik.

“Itu lebih baik daripada melihatmu membasahi kemeja lelaki lain dengan air matamu.” jawab jimin.

Aku mendesah pelan mendengar ucapannya, “Bisakah kita melepaskan pelukan ini?” tanyaku.

“Tidak. Aku akan terus memelukmu sampai tiba di rumah.” cetus Jimin. Mataku membulat mendengar ucapan konyolnya.

“Siapa suruh kau mengenakan baju seperti ini,” jawab Jimin. “Aku lupa membawa mantel. Gara-gara aku terburu-buru tadi.” belaku. “Perlu kutekankan, semua masalah ini gara-gara kau Park Jimin.” sergahku kemudian.

Jimin menghela napas panjang, “Ne, aku tahu.”

“Baiklah, sekarang jelaskan semuanya.”

“Yonggi hyung, masuk rumah sakit.” ucap Jimin, akhirnya.

“Mwo?” Aku terkejut begitu mendengar ucapannya.

“Ne, sebenarnya aku sudah siap-siap ingin berangkat jam 7 tadi. Namun, saat aku ingin keluar dorm, aku melihat Yonggi hyung tergeletak begitu saja di depan pintu kamarnya. Dia pingsan. Ya, di dorm memang hanya ada aku dan Yonggi hyung. Yang lain pergi mengunjungi rumah Taehyung di daegu. Dan ya, kau tahu. Aku tentu saja langsung membawa Yonggi hyung ke rumah sakit.”

“Lalu? Keadaan Yonggi oppa sekarang bagaimana?” tanyaku sembari melepaskan pelukan Jimin, lalu menatap matanya yang tampak murung.

“Dia di rumah sakit. Kelelahan. Tidak usah khawatir, ada manager dan member BTS yang lain yang menjaganya di rumah sakit.” jawab Jimin.

“Semoga saja Yonggi oppa cepat sembuh.” doaku dengan tulus. Jimin mengagguk, “Pasti,”

“Mian, aku telah bersikap seperti itu padamu.” ucapku pada Jimin. Ya, tentu saja aku merasa bersalah dan menyesal karena telah memarahinya tadi.

“Gwaenchana. Salahku juga karena tidak membalas pesanmu.” ucap Jimin sembari tersenyum kecil. “Tetapi, salahku juga tidak mengangkat teleponmu.” timpalku.

“Tidak, ini semua salahku.” sergah Jimin. “Tidak, ini-“

“Intinya kita sama-sama salah. Benar, kan? Sudah, jangan memperpanjang sesuatu yang tidak perlu dipanjangkan.” ucap Jimin sembari menjejalkan tangannya ke saku celananya.

Aku mengangguk, “Yah..” desahku tiba-tiba.

“Wae?” tanya Jimin.

“Kencan kita.. gagal.” jawabku dengan suara lemas.

“Ne, padahal besok aku mulai sibuk lagi.” jawab Jimin.

“MWO?!” seruku dengan suara garang.

Jimin tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.

“Kenapa kau tertawa? tidak ada yang lucu!” seruku dengan wajah kesal.

“chagi-ya kenapa kau sangat lucu eoh?” tanya Jimin sembari mencubit pipiku dengan gemas. Segera kutepis tanganya yang mencubit pipiku, “Jangan mencubit pipiku!” cetusku.

Aku membenarkan posisi poniku yang berantakan, lalu mengalihkan pandanganku dari Jimin yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Aku segera berjalan menjauh darinya sembari memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.

“Jadi kau marah padaku?” tanya Jimin sembari berjalan mendekatiku.

“Menurutmu?” tanyaku balik.

“Menurutku itu.” jawab Jimin yang telah berdiri di sampingku.

“Itu apa?” tanyaku.

“Itu itu.”

Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya. Entahlah, kenapa mood-ku cepat sekali membaik jika bersama dia? Astaga, ini agak sedikit mengkhawatirkan.

“Kau tidak ingin menagih hadiah yang tadi kukatakan di telepon?” tanya Jimin dengan suara nakal.

“Kau serius memberikanku hadiah ?” tanyaku lagi.

“Sudah kubilang aku akan memberikannya.” ucap Jimin yang berusaha berjalan menyamai langkahku yang agak cepat.

“Baiklah.” jawabku dengan sedikit ragu.

“Kalau begitu, berhenti berjalan,” Jimin tiba-tiba menahan tanganku hingga membuatku menghentikan langkahku. “Di.. mana hadiah itu?” tanyaku dengan suara agak ragu sembari menatap matanya.

Jimin hanya tersenyum sembari membalikkan tubuhku agar sejajar dengan tubuhnya. Ya, kini tubuh kami berdua berdiri saling berhadapan. Dan kau tahu, jarak wajah kami berdua hanya berkisar 10 centimeter. Astaga, sepertinya aku dapat menebak apa hadiah itu.

“Jangan tutup matamu, aku tidak memintamu menutup mata.” ucap Jimin tiba-tiba. “Aku tidak menutup mata.” jawabku jujur. Sebenarnya, yang berpikiran agak mesum dia atau aku?

“Sudah siap ingin melihat hadiah itu?” tanya Jimin kemudian. Aku mengangguk pelan.

Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Semoga ini tidak terkesan kekanak-kanakan.” gumamnya. Aku menyerengitkan kening mendengar gumamannya.

“Ada kotoran di rambutmu,” ucap Jimin lagi tiba-tiba.

Belum sempat aku menyentuh rambutku, tiba-tiba tangan Jimin lebih dahulu menyentuh rambutku. Dan.. tiba-tiba, sebuah kalung berwarna bening dengan bandul hati kecil bergantung ringan di hadapanku.

“Oke, aku tahu ini sangat murahan dan terlalu kekanak-kanakan. Dan.. tolong, jangan tertawa.” ucap Jimin sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan di jari tangan kanannya, masih tergantung kalung berwarna bening yang kukatakan tadi.

Sebuah senyum segera terukir di bibirku begitu melihat tingkah Jimin. “Ne, trikmu agak murahan dan kekanak-kanakan, Jimin-ah.” jawabku berusaha menahan tawa.

“Ck, ini hanya karena suasananya yang kurang mendukung. Ini hadiah dadakan. Asal kau tahu, hadiah yang sebenarnya jauh lebih romantis dari pada ini. Dan aku yakin kau pasti akan menangis tersedu-sedu karena terlalu terharu dengan hadiah yang kuberikan.” bela Jimin.

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum kecil, “Baiklah. Tetapi, aku suka dengan hadiah ini. Meski kekanak-kanakan dan murahan, aku tahu kau telah berusaha dengan keras mempersiapkannya.”

Jimin segera tersenyum mendengar ucapanku, “Chagi-ya biarkan aku yang memakaikanmu”.”

“Ne” jawabku. Aku segera meraih rambutku yang panjang, lalu membiarkan Jimin memasangkan kalung itu di leherku.

Aku tersenyum sembari menyentuh bandul kalung itu, “Chagi-ya gomawo.”

Jimin hanya tersenyum lalu mendekap tubuhku kembali ke pelukannya,

“Chagi-ya kau tahu, meskipun aku sibuk dengan kehidupanku, tapi aku tetap memikirkanmu, aku takut kau akan mendapatkan pria yang lain diluar sana, aku sangat tersiksa merindukanmu, aku juga tidak bisa memberitahumu bagaimana keadaanku selama ini. Mianhe”

Aku hanya bisa tersenyum bahagia mendengar ucapannya. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjawab ucapannya. Terlalu menyentuh dan membuat kukehilangan otak untuk berpikir.

“Hanya satu kata untukmu Jiyeon-ah. Saranghae.”

“Nado Saranghae, Jimin-ah”

Kurasakan jimin mengeratkan pelukannya. Meskipun kencan kami gagal, kupikir ini jauh lebih membahagiakan dari pada kencan hanya sekedar jalan-jalan dan dinner.

Ya, kau tahu, aku tidak bisa berhenti tersenyum hingga detik ini. Segera kubalas pelukan Jimin dengan lebih erat. Kuharap, aku bisa selalu memeluk pemilik tubuh bernama Park Jimin ini.

THE END

Advertisements

14 thoughts on “[ONESHOOT] FAILED DATE

  1. MINKEI! MINKEI! MINKEI ❤ ❤ ❤
    Awalnya kukira mereka bukan BTS dan Lovelyz idol wkwkwk, ternyata mereka ceritanya idol jg ya di sinih? Heum heum. Manis kek candy jelly love :3 wkwkwk

    Semangat buat karya2nya yang lain ya, Nis :3

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s