[Oneshoot] Sisa

Standard

 

image

Author : Nnafbjnr

Maincast : Lee Soojung–Lovelyz, Kim Myungso–Infinite.

Genre : sad, romance, drama.

Rating : PG-15

Lenght : Oneshoot.

Disclaimers : banyak typo :” inget gak ada unsur plagiat apapun disini! 

Summary : Yang buruk jangan tersisa, yang baik harus memilik sisa.

Selamat membaca!

••

Gelas bening terisi oleh teh hangat dengan asap tipis yang masih mengepul di udara. Entah gelas keberapa, Soojung meminumnya seperti orang meminum soju, bertubi-tubi cairan itu melintas di tenggorokannya. Lebih sehat di bandingkan dengan soju yang memabukkan, meski kesedihannya tidak bisa terlupakan–tidak pernah mungkin. Gelas ikut menghangat dalam genggaman Soojung. Gadis yang baru ditinggal seseorang itu mulai menitikkan airmatanya.

Bahkan penghangat ruangan tak sehangat pelukannya. Pelukan Myungsoo.

••

Soojung berdiri, menghadap seorang lelaki yang berwajah datar dengan canggungnya. Ia meremas rok sekolahnya. Bagi sebagian siswa perempuan, mengungkapkan perasaannya pada seorang lelaki itu adalah hal yang memalukan. Hari ini, hari tanpa rasa malu untuk Soojung.

“Apa? Kau menyukaiku? Sungguh?” tanya Myungsoo tak yakin, wajahnya tak berubah. Soojung mengangguk lemah.

“Ini sungguh memalukan memang. Tapi.. aku benar – benar tak bisa menahan perasaanku lagi. Hatiku penuh olehmu, hingga membuatku sesak,” ujar Soojung.

Kepala Soojung tertunduk, tak berani menatap Myungsoo yang kini menatapnya tanpa ekspresi. Ingin rasanya ia tuli untuk sekarang, tuli disaat Myungsoo melontarkan kalimat selanjutnya, yang Soojung yakini itu akan terdengar sangat menyakitkan. Sepi, bersyukur tak ada murid lain yang melihat ataupun mendengar semua ini.

Mianhae, Soojung-ssi. Aku juga menyukaimu,” kata Myungsoo membuat gadis dihadapannya mendongak seketika. Soojung menunggu kalimat selanjutnya. “Tapi, kita tidak bisa sedekat apa yang kau harapkan.”

Pantaskah Soojung di sebut sebagai paranormal? Tebakannya sangat tepat. Kalimat menyakitkan merasuki indra pendengarannya. Kata maaf menyertai, tapi hatinya tetap sakit. Tak terima, ia hanya bisa menahan tangis. Ia tidak bisa memaksa Myungsoo untuk menjadi miliknya. Memangnya Myungsoo siapa? Mereka saja baru mengobrol hari ini, dengan topik yang menyakitkan, terlebih untuk Soojung.

Apapun jawaban Myungsoo, bagaimana pun responnya, Soojung yang tak bisa apa-apa. Melawan? Mengamuk? Berteriak, memaksa Myungsoo menjadikannya miliknya. Soojung tak segila itu. Kedua ujung bibir manis Soojung tertarik oleh otot pipi, tersirat senyuman tipis di wajahnya.

“Apa alasannya? Tidak memiliki alasan? Baiklah, aku mengerti. Aku pun tidak memaksa.”

Angin musim dingin berhembus. Tak ada salju yang menambah suasana ini menjadi lebih mengenaskan. Dingin dan sedikit membuat rambut Soojung yang di ikat bergoyang pelan, berbeda dengan tubuhnya yang berdiri kaku. Masih bertahan untuk menatap lelaki yang ia suka.

Mianhae,” kata Myungsoo lagi. Soojung berbalik, dengan perasaan sedih yang tak terelakkan.

••

Bisikan-bisikan terdengar nyaring di telinga Soojung. Maksudnya, terdengar jelas, apa yang orang-orang itu bicarakan. Tentang Soojung yang tak tahu malu, mengungkapkan perasaannya pada lelaki yang cukup populer di sekolahnya itu. Soojung bingung bagaimana semuanya bisa tahu masalahnya dengan Myungsoo, semua pembicaraan itu sudah cukup membuat telinganya panas di pagi hari ini.

Satu kelas memandangi Soojung dengan tatapan sinis. Yang ditatap hanya duduk sengan santai dan melanjutkan mencatat catatannya yang belum ia selesaikan. Buku adalah kekasih paling setia untukku, batin Soojung.

Brraaakk!

“Kau menyukai Kim Myungsoo?!” Soojung diam. “KAU MENYUKAI KIM MYUNGSOO?! JAWAB AKU! KAU TULI?!”

Gebrakan di meja dari gadis yang tak di kenal Soojung itu menyebabkan coretan di buku catatan Soojung. Wajah Soojung terangkat dengan sendirinya, tak ada niat sekalipun untuk menatap gadis aneh yang datang tiba-tiba langsung membentaknya.

“Bukan urusanmu,” sahut Soojung dingin.

“Tentu itu urusanku! Kau tidak tahu siapa aku?” lagi, gadis tak dikenal membentak Soojung lagi.

Suasana dikelas menjadi tegang, semuanya memperhatikan meja Soojung yang menengahi gadis tak diketahui namanya dengan Soojung. Apa ini pertanda buruk?  Seumur hidup Soojung tak pernah di labrak seperti ini, malah tak ada yang tertarik untuk melabraknya. Sekarang malah ada seorang gadis yang melabraknya membahas masalahnya dengan Myungsoo, bahasan yang menurut Soojung sudah tak berlaku lagi.

“Siapa yang peduli denganmu? Haters-mu?” kata Soojung.

Gadis itu semakin marah. Soojung meneruskan menulis catatannya tanpa memperdulikan gadis di hadapannya. Jari telunjuk gadis itu hampir saja akan menemani mulutnya yang akan memaki Soojung kalau Sungjong–adik kelasnya– tidak datang dan bilang Soojung di panggil oleh Myungsoo untuk segera perpustakaan.

••

Awan tipis menutupi matahari, mengurangi cahaya teriknya yang menembus masuk lubang fentilasi di perpustakaan. Myungsoo dan Soojung duduk berhadapan di sebuah meja kayu di tengah perpustakaan. Dengan buku yang di ambil asal oleh Soojung, sedikitnya ia bisa mengalihkan pikirannya dari lelaki yang masih– ah tidak, Soojung tak ngin mengatakannya.

“Kenapa kau memanggilku? Ingin meminta maaf? Bilang kau tidak bisa bersamaku? Kalimat apalagi yang akan menyakiti hatiku?” tanya Soojung ketus. Di dalam hatinya ia sama sekali tak berniat berkata seperti itu, tapi setelah kejadian waktu itu, otaknya sudah muak untuk berbicara sehalus saat pertama kali mereka bicara.

“Kau marah?” Soojung tak menjawab. “Kau marah. Padahal tadinya aku ingin berhubungan lebih baik denganmu dan mengajakmu untuk jalan-jalan berdua.”

“Cukup masalah waktu itu saja yang tersebar menjadi gosip terhangat di sekolah. Aku bukan orang yang bagus untuk menjadi topik bergosip.”

“Mulai hari ini, kau dalam perlindunganku.”

Untuk pertama kalinya Soojung melihat Myungsoo tersenyum, tersenyum manis meskipun tipis. Senyuman itu sanggup membuat Soojung lupa bernapas untuk beberapa detik. Yang benar saja, ini hanya mimpi buruk yang di perindah, di edit.

“Memangnya kau siapa? Temanku saja bukan,” ketus Soojung.

“Kita akan menjadi sahabat yang saling menyukai,” kata Myungsoo.

Apa ini awal yang baik? Apakah Myungsoo serius? Apa ini Myungsoo sungguhan, tidak kerasukan roh-roh di sekolah ini?

••

Sore ini, di akhir pekan setelah lelah berjalan-jalan berdua, Soojung dan Myungsoo memutukan untuk makan es krim di kedai es krim yang mereka lewati. Tak disangka hubungan mereka bisa sedekat ini dalam waktu beberapa hari walaupun awalnya mereka memiliki masalah tentang perasaan mereka. Canggung terlewati, tawa menyertai perjalanan mereka sejak tadi.

“Kau ternyata tak sedingin kelihatannya,” ujar Soojung sebelum menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya.

“Orang yang dekat denganku akan tahu aku yang sebenarnya.” Myungsoo menghapus noda es krim pada bibirnya sendiri.

“Jangan disisakan es krimnya. Habiskan. Kalau bisa hingga tetes cair es nya pun kau jilat, agar tak tersisa,” kata Myungsoo membuat Soojung mengerutkan dahinya.

“Memangnya kenapa?” tanya Soojung”.

“Sesuatu yang di sisakan itu terkadang baik, terkadang buruk.” Tangan Myungsoo menopang dagunya, ia menatap Soojung bersama senyumnya. “Yang buruk jangan tersisa, yang baik harus memilik sisa,” lanjutnya.

Soojung yang terlalu bodoh hingga tak bisa mencerna perkataan Myungsoo tadi, atau ia terlalu terpesona dengan senyuman Myungsoo, Soojung tak mengerti apa yang Myungsoo katakan. Tapi masa bodoh, yang penting Soojung merasa senang hari ini bisa jalan-jalan bersama Myungsoo hanya berdua, dan ia tak perlu risih–sebenarnya tak pernah risih–karena gosip yang membahas dirinya dan Myungsoo.

Setelah menghabiskan es krim, mereka pun berjalan kaki menuju halte bus terdekat karena hari mulai gelap, lampu jalanan pun sudah mulai dinyalakan. Kali ini keduanya diam, tidak seperti perjalanan mereka yang sebelumnya sangat berisik. Tak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Mungkin menurut mereka suara deru kendaraan sudah cukup untuk mengisi obrolan kosong mereka.

Tiba-tiba Myungsoo berhenti berjalan, otomatis Soojung berbalik dan berjalan mundur beberapa langkah untuk sampai sejajar dengan Myungsoo. Myungsoo memasang wajah seriusnya.

“Aku mencintaimu, Lee Soojung!”

Lagi, Soojung lupa bernapas selama beberapa detik. Bertanya dalam hati kalau saja ia salah dengar atau ia lupa membersihkan telinganya kemarin. Mata Soojung membulat.

“Aku juga. Lalu kenapa kita tidak jadi seperti..–”

“Kita tidak bisa. Aku mengajakmu jalan-jalan hari ini karena aku ingin membuat sisa – sisa kenangan yang bagus untukmu, agar kau bisa mengingatku terus.”

Beberapa detik sepasang remaja SMU ini terdiam, belum mau melanjutkan kalimat mereka masing-masing. Benak Soojung mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi. Tak tahu pasti, hanya saja sekarang ia jadi merasa takut, khawatir atas Myungsoo. Entah apa sebabnya.

Myungsoo menarik Soojung dalam pelukannya yang hangat, lebih hangat daripada matahari pagi. Angin dingin pun tak terasa dingin saat ia di pelukan Myungsoo.

“Kau kenapa?” tanya Soojung, suaranya mulai bergetar.

“Tak apa. Kau akan tahu besok,” jawab Myungsoo. Jemarinya mengelus rambut Soojung perlahan.

Pelukan mereka terlepas, Myungsoo menautkan jarinya dengan jari-jari Soojung. Perlahan Myungsoo mendekatkan wajahnya pada wajah Soojung, dan Soojung menutup matanya. Tak perlu di sebutkan adegan selanjutnya, sudah tertebak pastinya. 

••

Satu teguk lagi untuk menghabiskan teh dalam gelasnya. Kejadian tragis itu terulang lagi apabila Soojung memejamkan mata. Pelukan, kecupan dibibir, tertawa, makan eskrim, masalah pertama soal perasaan Soojung, itu sisa-sisa kenangan yang ditinggalkan Myungsoo. Itu semua sisa-sisa yang bagus, yang benar-benar harus disisakan, tidak dibuang.

Tapi bagaimana kejadian yang terakhir? Itu kenangan? Apakah itu suatu hal pantas untuk disisakan sebagai kenangan yang berharga? Jika Soojung mengingatnya ia merasa akan gila. Dan itu terus teringat. Lagi-lagi ia menuangkan poci berisikan teh dalam gelasnya, lalu meneguknya.

Akankah aku jadi gila jika aku begini terus?

••

Jam istirahat, Soojung mendapatkan pesan dari Myungsoo untuk keluar dari gedung sekolah, berdiri di gedung sekolah. Ia pikir Myungsoo sudah menunggunya, ternyata saat ia sampai di tempat tujuan, Myungsoo belum datang juga, batang hidungnya pun tak terlihat. Sepuluh menit Soojung menuggu, Myungsoo tak kunjung datang.

Menunggu sendirian memang hal yang sangat membosankan. Sepatu Soojung sudah terangkat akan menapaki jalan selanjutnya, meninggalkan tempatnya menunggu Myungsoo. Namun belum sempat melanhkah, ponselnya berbunyi pertanda sebuah pesan masuk.

From : Kim Myungsoo

Soojung, jangan pergi dulu. Aku akan sampai sebentar lagi. Tunggu aku disana, akan ada kejutan.

Batal melangkahkan kakinya, Soojung kembali ke posisi asalnya menunggu Myungsoo bersama kejutannya. Tak beberapa lama kemudian–

Bbuuukk!

–orang yang ia tunggu datang bersama kejutannya.

Myungsoo melompat dari atas gedung sekolahnya, dan jatuh tepat di hadapan Soojung dengan sepucuk surat di genggaman Myungsoo yang sudah bermandikan darah.

Kaki Soojung lemas. Ia melangkah saja sampai tertatih-tatih untuk mendekati Myungsoo yang ia tebak sudah tak bernyawa lagi. Soojung terduduj lemas di samping jasad Myungsoo yang basah karena darah yang tak kunjung berhenti mengalir. Tak peduli seragamnya akan kotor terkena noda darah Myungsoo, Soojung memeluk tubuh Myungsoo yang masih terasa hangat–sedikit.

“Kim..Myungsoo..,” lirih Soojung yang masih shock.

Air mata Soojung tak henti-hentinya mengalir. Tangis histerisnya pun mengundang murid lain untuk mendekat.

“Kim Myungsoo.. Kau gila..”

“KIM MYUNGSOO!”

••

Seorang suster ke kamar rawat Soojung yang sunyi, sepi. Jendela terbuka, memberi sedikit kesempatan oksigen yang lebih segar untuk masuk. Tak ada hal yang menarik dari ruang rawat ini, tak mengasyikkan sama sekali. Suster itu mendekati Soojung di sudut ruangan ditemani satu poci teh dan satu gelas bening.

“Kau sudah minum terlalu banyak, Soojung-ssi. Tidak baik jika kau tidak mau makan sedangkan perutmu penuh oleh air,” nasihat suster tersebut.

Rambut Soojung berantakan, sangat berantakan. Lingkaran hitam di sekitar mata menambah pemandangan di wajahnya, membuatnya semakin terlihat mengenaskan.

“Suster, apa aku terlalu berlebihan?”

Sang suster tidak menyahut.

Fin!

 

••

Alhamdulillah slesai ini ff gaje ku :”” maaf ya kalo gak ngena banget, gak sedih, gak seru, alurnya kecepetan, terus gak nyambung sama tema atau si judulnya, atau kesalahan lainnya, plis kasih saran sama kritiknya lah, kutungguu…

Ehh,, kan si Myungsoo nya itu meninggalnya megang surat, tapi disana gak dicritain isi suratnya apaan. Yaah, sebutin gk ya isi suratnya? Gak penting sih. Udahlah, plis komen, kritik, and saran!!

Gomawo!❤

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshoot] Sisa

  1. Yeonji

    Kok myungsoo mati? Dia kenapa bisa gitu? Suratnya isinya apaan? Myungsoo sama soul eonni saling cinta, tpi kok g bisa jadian? Alasanya apaa?? Kok myungsoo udah ngasih tanda seakan mreka g bisa sama2 di ke esokannya? Myungsoo udah tau klo dia akan mati? Yg ngirim pesan siapa? klo myungsoo nya aja udah berdarah-darah–‘ Ini g ada lanjutannya?? Akhh aku bisa gila dengan semua pertanyaan dan rasa penasaran ini T^T

    Liked by 1 person

    • nnafbjnr

      ya amvunn~~ hmz hmz, banyak aned pertanyaannya :v myungsoo mati gegara jatoh dari gedunng sekolahnya, dia bisa gitu karena dia jatoh dari gedung, yaaaah gtu lah :v doain aja aku bikin lanjutannya. hehee makasih udah bacaa~

      Like

  2. raacester

    wahaw… myungsoonya ekstream😨😨, pertamanya aku kirain myungsoonya kena kanker/tumor/dkk. ternyata dia jatuh😶. tapi apa alasannya?? kenapa kak??! kenapa??! #duhh. tapi ceritanya bagus koq kak 👍👍👍

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s