[Vignette] The Wolf that Fell in Love with Little Red Riding Hood

The.Wolf.that.Fell.in.Love.with.Red.Riding.Hood.full.1343649

Serigala yang Jatuh Cinta Pada Gadis Berkerudung Merah”

By Mingi Kumiko

Main Cast: [Lovelyz] Kei and [SVT] Joshua ★ Genre: AU, fantasy, romance, angst ★ Rating: General ★ Length: Vignette (± 1,3k words)

***

aku mencintaimu dan ingin memelukmu

namun aku tahu tak akan pernah bisa

sekeras apapun aku berjuang dan berdoa

cakar dan taringku tak akan menghilang

maka tunggulah aku hingga tangismu berhenti

aku pasti akan berada di sisi pohon itu

.

.

Matahari belum begitu menyinarkan teriknya manakala tingginya baru sepenggalah. Di pagi secerah ini seharusnya aku tengah menikmati ultraviolet yang membasuh kulit, namun sayang kondisiku saat ini sedang tidak kondusif. Sedari tadi perutku terasa dibombardir oleh hantaman knock out. Kau tahu apa penyebabnya? Tentu saja karena aku lapar.

Dengan langkah gontai aku menyusuri hutan lebat ini. Pasti kondisiku sekarang sudah tidak karuan, aku memang serigala kurang kerjaan.

Setelah sekian lama menapaki tanah, tiba-tiba saja aku melihat setitik samar berwarna kemerahan. Mataku mengerjap, berusaha tetap fokus menilik gelagat makhluk asing itu, membiarkan matahari yang belum benderang memantulkan bayanganku. Sebentar lagi aku akan mendapatkan mangsa. Sungguh, ini adalah momen yang sudah lama aku tunggu.

Oh sial, nampaknya ia menyadari keberadaanku. Si merah itu pun buru-buru lari dengan raut ketakutan. Aku tak tinggal diam dan segera beringsut mengejarnya. Aku tak mau tahu, pagi ini juga aku harus mendapat mangsa!

Seketika terbesit di pikiranku kalau Si Merah tengah bersembunyi di suatu tempat, terlalu jauh untuk kembali karena ia telah sampai di sini. Haruskah aku mengeluarkan jurus andalanku sekarang? Baiklah, demi santapanku yang berharga, aku akan berubah sekarang.

Dan, voila! Wujudku kini bukan lagi seekor serigala, namun sesosok pria tampan dengan surai kecoklatan. Karena sekarang sedang musim gugur, jadi aku memilih untuk mengenakan sweater rajutan. Jangan tanyakan darimana aku mendapat pakaian casual ini – anggap saja sihir.

Aku berjalan dengan amat tenang sembari menguatkan indera penciumanku untuk mendeteksi keberadaan Si Merah.

“Sepertinya serigala itu sudah pergi. Kurasa sudah aman sekarang.” embusan suara yang lembut menyapa telinga. Seketika itu juga seulas senyum mengembang di bibirku. Mataku berbinar, rasanya seperti telah menemukan sepeti penuh harta karun saat mendapati Si Merah itu berada di balik pohon.

Calon santapanku itu lantas berbalik dan keluar dari persembunyiannya. “Astaga!” ia terperanjat kaget tatkala melihat wajahku. Matanya terbelalak hebat dan napasnya tercekat beberapa saat.

“Anda…, siapa?” tanyanya dengan terbata-bata. Aku mengambil satu langkah maju dan mempersempit jarak di antara kami.

“Bisakah Anda sedikit menjauh?” pintanya, namun tak semudah itu kuturuti.

“Halo, aku Joshua. Kalau kamu?” ujarku disertai senyuman tipis yang mengulum.

“Panggil saja…, Kei.”

Perlahan aku menarik wajahku dari hadapannya, tubuhku yang awalnya sedikit membungkuk pun kembali tegap. “Nama yang cantik. Kalau boleh tahu…, ada perlu apa seorang gadis manis menyusuri hutan angker ini seorang diri?” tanyaku, hanya sekedar basa-basi.

“Aku mau mengantar kue ini ke rumah nenekku. Tapi tadi…,” jemarinya yang menggenggam keranjang pun seketika gemetaran.

“Tadi kenapa?”

“Tadi aku melihat serigala, aku takut. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Kalau kuenya tidak sampai ke rumah nenek, ibu pasti marah.” seketika tampias yang bak air hujan itu berjatuhan dari sudut matanya.

Aku pun terbelalak. Hey, kenapa tangisannya itu malah membuatku merasa sangat hina karena terlahir sebagai seekor serigala pemangsa daging? Bodoh, nampaknya rencana untuk sarapan pagi ini terpaksa batal. Baiklah, mungkin kali ini aku harus mengulur waktu beberapa saat untuk mendapat momen yang paling tepat dalam usahaku menjadikannya santapan.

“Mau kuantar sampai ke ujung hutan? Aku akan melindungimu dari serangan serigala.” tawarku.

“Benarkah?” ia menatapku dengan raut keraguan yang tersirat pada sorotnya.

“Tidakkah wajah tampan ini begitu meyakinkan?” aku mengernyitkan dahi, memasang air muka sok keren.

“Baiklah, tolong bantu aku, ya……, Kak.” sekonyong-konyong ia meraih lenganku dan menggandengnya, bergelayut manja layaknya anak serigala yang merajuk pada induknya agar diperbolehkan mencecap puting susu.

Hening menyelimuti perjalanan kami menyusuri hutan. Sungguh tidak lucu tatkala menyadari kami terlihat sama bodohnya. Amboi, kenapa jadi begini, sih? Aku terlalu membuang banyak waktu.

“Kakak tinggal di mana?” celetuknya tiba-tiba. Rahangku sontak mengeras. Mati aku, harus jawab apa sekarang? “Eung…, Ya, pokoknya jauh dari sini.”

“Daerah mana? Habis pakaian kakak aneh, seperti bukan berasal dari lembah pedalaman seperti aku. Rambut kakak juga berbeda. Kakak keturunan ras apa?”

“Ah, kamu terlalu berlebihan. Aku hanya pemuda desa biasa, hehehe.” aku menyengir garing. “Ada tumbuhan di desaku yang berkhasiat merubah warna rambut, ya, begitulah, dik.” aku terus saja melontarkan alibi omong kosong. Rasanya seperti sedang bermain petak umpet dan berusaha keras sembunyi agar tak ketahuan.

“Nenekku pernah cerita kalau ada siluman di sekitar hutan ini, katanya ciri-ciri siluman itu penampilannya aneh, tidak seperti warga desa pada umumnya.” ujar Kei dengan polosnya.

“Oh, jadi kamu curiga kalau aku ini siluman, begitu?”

“Tidak, kok, tidak. Sebenarnya aku tidak percaya. Itu hanya akal-akalan nenek untuk menakutiku, soalnya waktu kecil aku sering susah disuruh tidur.” jelasnya sambil terus berjalan dan tetap menggandeng erat lenganku.

“Gadis pintar…” tanpa sadar tanganku terjulur untuk mengelus lembut ubun-ubunnya.

“Kita hampir sampai di ujung hutan. Aku boleh pergi, ‘kan?” ucapku seraya berusaha melepas rengkuhannya. “Kumohon temani aku sampai rumah nenek. Aku masih takut, Kak.” raut manja itu seakan tak mengizinkanku untuk menolak. Sungguh, gadis di hadapanku ini sangat manis, aku jadi tidak tega andai kulit bersihnya itu terkoyak oleh taringku yang tajam.

Dan, hey! Apa yang baru saja kupikirkan? Ini tak semestinya terjadi. Bisa-bisanya aku menentang kodrat Tuhan yang memang menakdirkan aku menjadi seekor serigala. Tiada yang salah dengan hewan buas yang coba mencari mangsa dengan cara membunuh. Sama halnya dengan memotong lobak menggunakan pisau, atau menggunakan bulu merak untuk menulis.

Kami akhirnya sampai di rumah neneknya Kei. Tangan yang tersampir di lenganku itu seketika mengendur. Tunggu, kenapa rasanya aku tak rela melepasnya begitu saja?

“Kak Joshua mau tidak jadi pelindungku setiap menyusuri hutan ini?” pertanyaan Kei dengan wajah penuh harap itu membuatku berpikir keras. Aku ini, kan, serigalanya. Bagaimana mungkin dengan lugunya ia meminta bantuanku? Tapi bukan salahnya juga, sih. Dia, kan, tak tahu apa-apa.

“Boleh.” anggukan singkat menyertai ujaranku. Hatiku merutuk sebal, nampaknya aku sudah benar-benar gila.

“Yang benar? Wah, terima kasih, ya, Kak!” wajahnya sumringah, namun hanya kubalas dengan seringai tipis.

***

Esok menjelang, itu artinya si cantik Kei yang telah semalaman kutunggu juga akan segera datang. Pasti ia sedang memikirkan berbagai hal manis di perjalanan. Aku pun membayangkan kami saling ngobrol dan bertatapan hangat, memandangi wajah imutnya sampai puas. Entah sejak kapan aku jadi serigala yang delusional, lucu sekali.

Kei adalah gadis terlugu yang pernah aku temui. Tiada secercah pun noda di hatinya. Matanya bersih, seperti hanya ada kebahagiaan di dalamnya. Makhluk macam apa aku ini, tega-teganya berniat mengelabui gadis sesuci dia? Ini tidak boleh terjadi. Aku memang bisa berubah menjadi manusia, tapi bukan seperti itu cara yang seharusnya digunakan serigala untuk mendapat mangsa.

Pertemuan singkat kemarin membuatku sadar kalau aku tengah dirundung perasaan aneh. Aku jatuh cinta saat pertama kali menatap raut sendu itu, aku menyukai caranya tersenyum dan memohon dengan manja.

Kemarin malam aku tak bisa tidur, aku terus menantikan esok agar aku bisa segera bertemu dengan Kei. Aku memikirkannya hingga mau gila rasanya.

Beberapa saat kemudian, Kei pun tiba. Pujaan hatiku telah tiba, dan itu membuatku bahagia karena bisa melihatnya lagi. Penampilannya tetap sama, ia mengenakan jubah warna merah sambil membawa keranjang yang kuduga berisi roti. Ia celingukan, menengok ke kanan dan kiri. Aku yakin tebakanku akurat, ia tengah menunggu kedatangan Joshua, sosok lain dari serigala brengsek yang kini hanya bisa mengamatinya dari balik pohon berusia puluhan tahun.

“Kak Joshua, kamu di mana?” Kei memanggil-manggil namaku dengan pekikan gusar.

“Jangan sembunyi! Kakak, kan, sudah janji mau menemani aku menyusuri hutan. Keluarlah, aku harus segera pergi, pasti nenek sudah menunggu.” ia kembali berteriak. Namun tetap tak ada jawaban.

Andai saja Kei tahu bahwa aku tak pernah sembunyi, andai Kei tahu kalau aku menepati janji untuk melindunginya dari terkaman serigala. Dan andai pula Kei tahu betapa sulitnya aku mengendalikan naluriku untuk memangsanya.

Aku masih berada di balik pohon besar ini, menatapnya dengan kristal bening yang tertahan di pelupuk. Perlahan kaki jenjangnya mulai mengendur, lututnya bersimpuh untuk mencium tanah. Setetes demi setetes air mata berlinang deras membasahi pipinya.

Kei…, andai saja kau tahu kalau pemuda yang kau temui kemarin adalah bajingan licik yang menyusun siasat untuk mengoyak dagingmu yang kenyal, apa kau masih bersedia membuang deraian air mata hanya untuk menangisinya?

Aku ingin berada di sisimu saat kau menangis

Namun tangan yang kujangkau gemetaran

Aku ingin bertemu dan menyentuhmu

Aku ingin berbicara namun itu tidak mungkin

Kamu yang lemah dan aku yang licik

Pertemuan kita mengisyaratkan akhir cerita ini

Betapa kejamnya kita telah dikutuk

Takdir kita tidak akan pernah berubah

Ah, mengapa kamu dan aku ada di sini?

Serigala dan gadis berkerudung merah

– END –

Hey, ini FF pertamaku di blog ini. Salam kenal semua, aku Lely, 99line ^^

Oh iya, ceritanya Kei itu masih belia unyu2 gak punya dosa, sedangkan Josh udah oppa2, mangkannya dipanggil “Kak”.

Terinspirasi dari video Vocaloid berjudul “Ookami wa Akazukin ni Koi wo Shita”. Dan sebenarnya ini cerita lama yang aku kemas ulang dengan bahasa yang lebih rapih. Ya semoga saja enggak fail, hehehe.

Advertisements

27 thoughts on “[Vignette] The Wolf that Fell in Love with Little Red Riding Hood

  1. ” Tidakkah wajah tampan ini begitu meyakinkan?” aku ngakak gila ngebayangi joshu ngomong sok keren begitu kwkwkw :v
    Ceritanya secara keseluruhan menghibur. Aku suka.. fluff bangettt tapi ngapa sad ending hikss ㅠㅠ

    Like

  2. aaaaaak, sukak banget sama cerita ini ;~; favorit masa kecil /wut/
    dan ya ampun, si joshua narsis sekali pas bilang kalau dia tampan :v etapi emang elu tampan sih, bang /digeplak/
    cepat sana minta ke ibu peri biar bisa jadi manusia sungguhan, dan menikah sama kei /apaan/ :v wkwk.
    ngomong2 salam kenal, saya burritown 97line o/

    Liked by 1 person

    • Ya iya dong oppa aku emang tamvan /greget2 gimana gitu pas nyebut joshua dgn “oppa aku” XDXD
      iyaa aku juga suka cerita ini sampe skrg kekeke ~
      Huhu boleh2, aku izin pake ide kakak deh ya klo suatu waktu kepikiran sequel
      Hey kak burritown salam kenal, makasih udah komen 🙂

      Like

  3. demi apa kak Lel, aku suka fanficmu ini 😀
    aku juga Joshua-Kei shipper, omong omong /ga ada yang tanya/
    kak Lel, izin minta sequel ya, Joshua jadi manusia terus nikah sama Kei hehe 😀 /dibuang/

    Liked by 1 person

  4. Aku bersedia loh jadi ibu peri yang ngasih wujud manusia buat Josh… #lahSiapaElu :”)

    Duh padahal udah baca kemaren tapi belum komen~ Jadi, iya, indah banget tulisannya :”) Entah mau ngomong apa wkwkwk. Josh kasian ah, aku gak suka ending yang gak bahagia kek macem gini #lahTerus? wkwkwk

    Seperti komen2 di atas, ya, mungkin kudu ada sequel supaya ini berakhir bahagia wkwkwk #timHappyEnding ❤

    Like

    • asyik asyik berarti bentar lagi Josh bisa happy ending happily ever after sama kei XD tak apa kak, kakak mau baca aja diriku sudah gembira tak terkira gyahaha
      aku juga kzl sama diriku sendiri yg bikin ini sad ending XD gak tega sama castnya
      oke deh kak semoga saja diriku segera mendapat ilham untuk menggarap sequel… terima kasih sekali lagi ^^

      Liked by 1 person

  5. Gua mau dong ketemu serigala kayak Joshua 😍😍😍
    Kerasa feelnya nih! Ikutan sedih kenapa Joshua kok nggak jadi makan -eh , salah. Kenapa mereka terpisahkan maksud e._.
    Lel bakalan bagus kalau dijadiin chapter 😻😻

    Like

  6. Kusuka ffnya, tapi kenapa harus sad ending kasian sih ngeliat jojosh harus jauh-jauhan sama kei, mereka kaya udah sehidup semati di ff ini tapi dipisahkan keadaan/ngek/😊
    Kusuka…

    Like

  7. Awwww ini fluff tapi sayangnya sad ending ;n;

    Kenapa takdir sekejam itu sama kalian?! Kenapa?! /kicked. Ayolah~~~ Kei sama Joshua harus bersatu gimana pun caranya!:(

    Ayo buat sequel dong authornim(?)

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s