Capsula [Chapter 2]

Standard

capsula

-PROLOG-

 

Seoul, 05 Maret 2016

“ Kim Jiyeon ! “

Jiyeon menghentikan langkahnya dan menatap ke sumber suara, “ Sunbae ? “

“ Jiyeon-ah bisa minta waktumu sebentar ? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan “

“ Iya, silahkan saja, Sunbae

“ Sebenarnya ini soal Yein “ Garis wajah Jiyeon berubah, entah kenapa ia bisa meraskaan ada aura-aura buruk yang terbang melayang di sekitar mereka. “ Memangnya ada apa dengan Yein, Sunbae ? “

“ Sebenarnya aku juga tidak yakin sih, tapi kau jangan sampai kaget dengan pertanyaanku ya ? “ Jiyeon mengangguk yakin membuat pria di depannya itu kembali melanjutkan kata-katanya. “ Apa mungkin Yein itu menderita semacam kelainan mental ? “

Gadis itu kaget, terlihat jelas dengan bola matanya yang membesar dan keringat yang mulai mengucur di bagian temporal.

“ Ba-bagaimana kau bisa berkata seperti itu sunbae ? Lagian Yein kelihatan sangat normal kok. “

“ Bukannya begitu sih, aku hanya melihat tingkahnya yang sangat aneh selama pacaran denganku, apalagi saat dia memutusiku hanya karena aku berusaha menciumnya, dia juga melebih-lebihkannya dengan mengatakan aku sudah hampir berbuat mesum, padahalkan itu cuma sebatas ciuman “

“ Mungkin saja dia memang tak suka hal seperti itu kan, sunbae ? “

“ Iya sih, tapi ini pertama kalinya aku melihat ada orang yang gemetar luar biasa saat dicium, bahkan dia hampir pingsan waktu itu. “

“ Mu-mungkin, dia memang sedang sakit “

“ Tapi tetap saja hal itu aneh menurutku, dan hal itu terus membuatku kepikiran. Aku ingin bertanya langsung padanya, tapi dia seperti menghindariku. Tapi—– kau benar-benar tak tahu apa-apa ya ? “

“ Ehh iya kok, aku dan Yein memang sempat berteman dulu, tapi itu sudah lama sekali. Jadi sekarang aku sudah benar-benar tak tahu apapun tentangnya “

“ Begitu ya, kalau begitu maaf sudah mengganggu waktumu, Kim Jiyeon “

“ Ii-iya, tak apa kok, Sunbae

 

.

.

.

.

 

-Capsula-

gxgnn present

Jeon Jungkook (BTS), Jung Yein (Lovelyz)

Genre: Medis!AU, Romance, Hurt/Comfort, Angst | Rating: PG-15| Length: Chaptered | Warning: Cross-Posting, Tissue Warning(failed!), Berbagai istilah aneh akan dijelaskan dalam glossary | Poster by babyglam @ Indo Fanfictions Arts

.

.

.

Chapter 2

“ Somehow “

 

Seoul, 05 Maret 2016

Tangan gadis itu dengan lihai memainkan spatula di dalam belanga berisi sup ikan. Kacang merah juga terlihat berenang-renang indah di dalamnya. Yein bukan tipikal gadis yang pandai memasak, ia hanya memanaskan sedikit sup ikan yang bibinya masak pagi tadi. Setelah selesai, ia mematikan kompor dan pergi meninggalkan tempat sakral itu.

Yein kembali berkutat di depan laptop, berusaha mencari lagi lebih dalam mengenai taurus. Ada apa dengan taurus ? Taurus adalah zodiak baru Yein. Bahkan sampai kolotnya Yein sampai tak tahu sama sekali dengan perubahan zodiak. Yang ia tahu dulunya ia adalah seorang gemini, sampai beberapa menit yang lalu ia baru tahu kalau penanggalan zodiak sudah berubah karena pergeseran sumbu bumi, ia bahkan baru tahu mengenai satu zodiak baru bernama Ophiuchus.

Yein menarik nafasnya pelan, berbagai kejadian buruk dan memalukan yang terjadi hari ini telah berhasil menggerakkan hatinya untuk melakukan suatu pencarian lebih dalam mengenai ramalan bintang, satu hal yang tak pernah ia lakukan sejak ia dilahirkan ke dunia ini. Ia pikir setidaknya jika ia sudah tahu ramalan yang akan terjadi, ia bisa sedikit mempersiapkan diri sehingga takkan terjadi kecolongan seperti hari ini.

 

Fakta 1 : Taurus selalu berusaha membuat orang lain bahagia.

Yein tak pernah peduli dengan orang lain.Mau orang itu bahagia atau sedih, masa bodoh !

 

Fakta 2 :Cinta kuliner, saat stress mereka akan makan lebih banyak.

Yein tak mau makan sampai 3 hari lamanya saat ia baru mengalami PTSD

 

Fakta 3 : Tahu bagaimana caranya memberikan kenyamanan kepada orang-orang yang mereka sayang.

Yein tak tahu dan tak ingin tahu.

 

Fakta 4 : Taurus itu senang becandain temannya, tapi giliran dibecandain mereka malah marah/ngambek.

Mau becandain atau dibecandaian, Yein sama-sama tak suka!

 

Fakta 5 : Taurus itu pingin selalu terlihat kompak sama teman-temannya.

YEIN TAK PUNYA DAN TAK INGIN PUNYA TEMAN ! Harap garis bawahi yang satu ini dengan spidol permanen.

 

 

Ayolah, sebenarnya apa yang salah ? Apa yang salah dengannya ? Apa mungkin ramalan zodiak tidak berpengaruh bagi penderita gangguan mental ? Gadis itu mengacak rambutnya frustasi, ia baru sadar kalau mengecek atau bahkan mempercayai suatu ramalan itu memang sangat tidak beguna dan hanya buang-buang waktu saja.

Yein menutup laptop itu lalu menidurkan kepalanya malas di atas meja. Tiba-tiba ia jadi kepikiran sesuatu, sesuatu yang sebenarnya sudah melayang di pikirannya sejak tadi.

 

JEON JUNGKOOK

 

Yein benar-benar terlalu banyak menghabiskan waktunya hari ini dengan memikirkan mengenai pria itu. kadang-kadang serius tapi kadang-kadang juga ia jadi senyum-senyum sendiri memikirkannya. Apalagi ketika ia mengingat kejadian tadi saat di bus.

 

FLASHBACK ON

Yein hanya diam, tak tahu mau berkata apa, berharap pria yang sedang berdiri di sampingnya itu akan memulai pembicaraan. Lagipula saat ini terlalu banyak spekulasi aneh yang berputar-putar di kepala Yein dan ia tak cukup berani untuk membenarkan spekulasi-spekulasi nya itu.

Bus berhenti di halte pertama membuat beberapa penumpang turun satu persatu. Yein menarik nafas dalam mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan beberapa kata yang sedikit mengganjal di hatinya.

“ Te-terima kasih “ Sungguh sangat sulit bagi Yein untuk hanya sekedar mengucapkan hal seperti itu, ia bahkan mengatakannya dengan suara yang sangat pelan. Tapi alih-alih tak mendapat jawaban, ia mengulanginya lagi sedikit lebih keras “ Aku bilang, te-terima kasih “ Yein menggigit bibir bawahnya, apa sebenarnya yang membuat ia jadi segugup ini ?

 

1.. 2.. 3..

 

3 detik berlalu dan ia tetap tak mendapat jawaban, Yein mulai sedikit kesal dan mulai menatap ke arah pria itu tapi—- di mana dia ? Yein lalu melayangkan seluruh pandangannya ke seisi bus dan sosok itu benar-benar sudah menghilang.

Yein tersenyum singkat ‘ Ternyata dia sudah turun ‘

FLASHABACK OFF

 

Yein juga mengingat kejadian pagi tadi saat ia melihat Jungkook bertingkah aneh di depan lockernya, sebenarnya siapa Jungkook itu ?

 

Teng Nong~ Teng Nong~

 

Suara bel tiba-tba berbunyi dan mengagetkan gadis itu, menyadarkannya dari lamunan yang terus melayang-layang dari tadi. Yein pun bangkit lalu segera pergi membuka pintu. Mungkin efek memikirkan Jungkook barusan membuat Yein tanpa sadar langsung membukakan pintu tanpa melihat dulu di Peephole Viewer.

Namun tiba-tiba saja Yein tercengang, raut wajahnya berubah drastis ketika melihat sosok orang yang sekarang berada di depan pintu apartemennya itu.

 

 

At Jisoo’s Home

Gadis bersurai panjang itu mulai menggerakkan tangannya di ganggang pintu secara perlahan, mencoba masuk tanpa ada yang melihatnya. Ia bukan pencuri, ini adalah rumahnya sendiri. Lagipula Jisoo merupakan anak seorang chaebol, jadi tak mungkin baginya untuk melakukan hal nista itu.

Ia menghembuskan nafas pelan saat tak melihat siapa pun ketika masuk membuat dirinya merasa sedikit lega. Namun sayangnya kelegaan itu tak berlangsung lama ketika seorang pria tua dengan berbagai garis keriput di wajahnya memanggil Jisoo dengan tegas.

“ Nona Jisoo ? “ gadis itu menghentikan langkahnya, sungguh lebih baik mendengar suara dinosaurus daripada harus mendengar suara asisten pribadi ayahnya itu.

Jisoo berbalik merespon si pemanggil “ Ya ? “

“ Tuan Seo memanggil anda keruangannya “ Jisoo mengangguk sebentar lalu segera melangkah ke lantai dua tempat ruang kerja ayahnya. Sempat ia berhenti sebentar lalu kembali menatap pria tua yang berjalan di belakangnya.

“ Kenapa dia memanggilku ? Apa ayah marah ? Atau ? “

“ Maaf nona, tapi saya juga tidak tahu “

Sungguh naif menurut Jisoo, dasar pria tua penuh kebohongan, lagipula memang tak ada gunanya bertanya pada pria yang sudah mempunyai lebih dari 1000 topeng di wajah. Jisoo pun dengan keberanian yang seadanya mulai memutar ganggang itu perlahan.

“ A-ayah, ada apa memanggilku ? “ Jisoo mulai membuka mulutnya, saat ini ia benar-benar tak bisa memprediksi apapun, wajah ayahnya terlihat seperti singa yang sedang kelaparan membuat Jisoo jadi merinding disko.

“ Dari mana saja ? Ini sudah jam 10 dan kau baru pulang. Setahu ayah kau tak ada jadwal les hari ini “ perasaan Jisoo benar-benar tidak enak, sang ayah bahkan bicara tanpa menatapnya sedikitpun dan tetap fokus pada koran ditangannya.

“ A-aaku ………………… “

“ Aku baru saja melihat daftar nilaimu, sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini ? Mau mempermalukan ayah di depan calon walikota yang lain hah ? “ suara pria paruh baya itu meninggi membuat atmosfer di ruangan 8 x 9 itu semakin terasa panas. Jisoo tetap tak berani menatap wajah ayahnya yang ia yakin pasti sudah mengalami midriasis.

“ Aku———–hanya pergi dengan teman-teman ku sebentar “ Gadis itu sudah bosan, lagi pula tak ada gunanya diam, lebih baik menyelesaikannya dengan cepat lalu segera keluar dari kandang singa ini.

“ Keluar katamu ? Kau tahu ujian akhir tinggal sebulan lagi dan kau bilang apa tadi ? Hanya pergi jalan dengan teman-teman ? “

“ I-iya. Tapi hari ini kan—— “

“ CUKUP ! Kembali ke kamar mu, belajarlah sampai jam 12 dan bangun lagi jam setengah 4, anggap ini sebagai hukumanmu, ayah akan menyuruh bibi Shin untuk membangunkanmu nanti. Ayah juga akan menyuruh seseorang untuk memperhatikan aktivitas keseharianmu, mulai sekarang kau harus fokus belajar. Jika kau tidak berada di 3 besar saat kenaikan kelas nanti, ayah akan langsung memindahkanmu ke Shanghai “

“ Ayah, tapi ketiga orang yang ada di 3 besar itu kepintarannya sudah tingkat dewa, apalagi si peringkat 1, aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka “

“ Ayah tak menerima alasan apapun. SEKARANG KEMBALI KE KAMAR MU ! “

Jisoo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat yang bahkan hampir membuat luka di bibir ranum itu, ia berbalik dan air matanya langsung keluar saat itu juga.

“ Apa ayah tahu untuk apa aku keluar tadi ? Teman-temanku hanya ingin merayakan ulang tahunku secara sederhana, sesuatu yang bahkan tak pernah dilakukan sama ayah dan ibu “ setelah menyelesaikan segala uneg-uneg nya, gadis malang itu pun segera berlari keluar.

 

‘ Jadi hari ini.. ulang tahunnya ? ‘

 

“ Tanggal berapa ini ? “

“ Li-lima maret, tuan “

“ Kenapa kau tidak memberitahukanku dari tadi hahh ? “

“ Ma-maaf tuan, karena banyaknya jadwal tuan yang harus saya handle hari ini membuat saya juga lupa mengenai ulang tahun nona Jisoo “

Pria tua itu mengurut keningnya kuat, sungguh sebuah rasa bersalah sudah bertengger di hatinya.

 

***

 

Seoul, 06 Maret 2016

Mata Yein terbuka lebar, nafasnya terengah-engah dan keringat sudah membasahi seluruh permukaan tubuh, mimpi buruk yang ia alami 100% berhasil membangunkan gadis itu sesubuh ini.

“ Apa yang terjadi ? “

Yein mencoba mengumpulkan kesadarannya, yang ia ingat terakhir kali adalah saat ia membukakan pintu untuk seseorang yang terus memencet bel, lalu …

Yein langsung bangun dari tidurnya, sebenarnya apa yang terjadi semalam ? Kenapa ia bisa tiba-tiba ada di kasur ? Gadis itu segera berlari keluar dan mendapati bibinya yang sedang memasak.

“ Eh Yein ? Sudah bangun ? Tumben bangun secepat ini “

“ Bi-bibi ? Sebenarnya apa yang terjadi semalam ? “ Sang bibi menghentikan sebentar aktivitas memasaknya dan memandang Yein sebentar. “ Seharusnya bibi yang tanya begitukan ? Apa yang sebenarnya terjadi Yein-ah ? Saat bibi pulang, bibi sudah melihatmu kambuh di depan pintu . Apa ada sesuatu yang terjadi ? “

“ Jadi begitu ya.. Sebenarnya saat itu ada seseorang yang membunyikan bel dan tanpa pikir panjang aku langsung membukakan pintu “ Yein menghentikan ucapannya, ia sedikit terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan.

“ Lalu ? Siapa orang itu ? “

 

 

“ Ayah “

 

Paakk!

 

“ Eh maaf “ Bibi Jung langsung menjatuhkan spatulanya menandakan bahwa wanita yang sudah menjanda itu kaget mendengar ucapan Yein barusan.

“ Tapi.. bagaimana bisa Yein-ah ? Ayahmu sekarang masih ada di ‘sana’ dan lagi pula bibi tak melihat siapa-siapa di depan pintu waktu itu “ Yein mengangguk pelan, “ Sepertinya aku berhalusinasi lagi bi “

“ Halusinasi ? “ sang bibi sedikit memutar otak, hal seperti itu sudah lama tak terjadi pada Yein, hal itu hanya pernah terjadi pada saat awal-awal ia menderita PTSD, lalu saat ia sudah rutin minum obat, hal terburuk yang terjadi hanyalah deja vu dan tak pernah sampai ke taraf halusinasi.

 

***

 

Seperti biasa, bibi Jung mengantar Yein ke sekolah. Biasanya sih sang bibi langsung pergi ke kantor setelah mengantarnya tapi kali ini sang bibi ikut turun, ia berniat untuk menemui Ms. Ahn sebentar.

 

Tok tok.. Srekk~

“ Permisi “ bibi Jung membuka pintu

“ Ehh bibinya Yein ? Silahkan masuk. Tumben datang pagi-pagi begini “

“ Iya Ms. Ahn, ada hal penting yang ingin aku bicarakan “ Bibi Yein mulai duduk dan memulai pembicaraannya.

“ Tentang Yein ? “ tebak Ms. Ahn, lagipula ada urusan apalagi Bibi Jung menemuinya kalau tidak membahas masalah mengenai kelainan Yein.

“ Iya. Aku hanya ingin sedikit berkonsultasi dan meminta saran anda. Belakangan ini, Yein seperti menampakkan kembali keadaan saat ia baru menderita PTSD “

“ Keadaan saat ia baru menderita PTSD ? “

“ Iya, tadi malam dia berhalusinasi ayahnya datang ke rumah, dan juga ia jadi sering mengalami deja vu akhir-akhir ini, deja vu memang wajar ia alami tapi …. biasanya tidak terlalu sering seperti saat ini “ Ms. Ahn mengangguk mengerti, “ Apa mungkin dosis obatnya harus ditambah lagi ? “

“ Tidak. Sepertinya kali ini bukan masalah dosis. “

“ Lalu ? “ bibi Yein mulai menampakkan wajah cemasnya, memang sejak anaknya meninggal dan ia bercerai beberapa tahun yang lalu, Yein sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.

“ Sebenarnya diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya tapi menurut spekulasi ku, hal terburuk yang bisa terjadi adalah kerusakan ginjal, dan lambungnya sudah tak bisa terlalu merespon penyerapan obat. Hal ini memang biasa terjadi pada pengguna obat dalam jangka waktu yang lama seperti Yein “ Ms. Ahn menghentikan sebentar penjelasannya untuk sekedar menyeruput kopi panas yang ada di atas meja. “ Jika sudah begini, anda harus membawa Yein ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Banyak komplikasi yang bisa saja terjadi mengingat sudah ada beribu-ribu obat yang ia minum selama ini, jadi akan lebih baik untuk diperiksa dulu “

“ Baiklah, aku akan membawanya ke dokter nanti. Kalau begitu permisi ya Ms. Ahn, saya benar-benar sangat berterima kasih kepada anda “ bibi Yein pun berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya, “ Tak apa nyonya, anda bisa datang kemari lagi kapan pun anda mau “ Ms. Ahn pun membalas tundukan itu dan bibi Yein segera pergi.

 

“ Sebenarnya masih ada kemungkinan yang lebih buruk lagi mengenai keadaan Yein itu, tapi sudahlah, tidak baik juga membuat bibi Yein jadi tambah khawatir “

 

***

 

Yein berjalan perlahan, tingkahnya sedikit aneh hari ini, setiap melewati kelas dia akan berjalan sangat lambat sambil menerawang ke dalamnya.

“ Dia kelas berapa sih ? Dia tinggi, apa mungkin sudah kelas 3 ? Tapi dia masih imut -_- apa mungkin masih kelas 2 ? “

Yein menggeleng-geleng frustasi sambil menepuk-nepuk kecil pipinya, “Kenapa aku jadi aneh begini sih ? “

Ia pun mulai berjalan normal ke kelas, lagi pula karena mereka masih di sekolah yang sama pasti akan ketemu juga, kalau jalan ke kantin saat istirahat nanti ia pasti bisa menemukannya dengan mudah.

Ia pun masuk ke kelasnya dan duduk seperti biasa, di kursi terdepan seorang diri, Yein memang tak pernah mengizinkan siapa pun duduk di sampingnya, dan memang karena dia murid yang sangat pintar dan baik hati kalau soal memberikan jawaban ujian lewat grup line jadi tak ada teman sekelas yang mempermasalahkan keinginannya itu.

Yein menopang dagunya malas sambil memikirkan sesuatu yang entahlah apa itu hingga sesuatu mengalihkan perhatiannya, seorang pria yang sangat ingin ia lihat hari ini masuk ke kelas dengan senyuman yang terlalu silau —menurut Yein—- datang menghampirinya.

“ Kau sudah baikan ? “ Jujur Yein sedikit kaget dan gugup, tapi apa kata dunia kalau orang-orang sampai melihat dirinya yang salah tingkah ? Ia harus menutupinya, lagipula Yein memang ahli dalam hal menutupi sesuatu.

“ Ehh.. Kau ——- “ Yein memotong kata-katanya ‘pura-pura’ lupa nama pria yang banyak menolongnya kemarin itu, taktik busuk Yein memang tak ada duanya.

“ Jungkook “

“ Ah iya Jungkook. Aku baik-baik saja kok “ Jungkook dengan wajah polosnya mengangguk “ Tapi—— kau tidak harus jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mengetahui keadaanku “ pernyataan barusan, pernyataan terkonyol yang pernah Yein lontarkan barusan berhasil membuat Jungkook mengerutkan keningnya heran.

“ Aku tak terlalu jauh kok, cuma beda beberapa kursi saja, lihat “ ucap Jungkook sambil menunjukkan tempat duduknya di deretan paling belakang sebaris dengan tempat duduk gadis itu membuat Yein sontak membulatkan matanya tak percaya.

“ Ma-maksudmu ? Kau di kelas ini juga ? “

“ Iya. Kau tidak mengenalku ya ? Sudah ku duga sih “ Sungguh kalau bisa Yein ingin sekali memakai helm dan berlari secepat kilat meninggalkan tempat itu, bahkan kalau bisa lebih cepat dari Jungkook kemarin saat mengejar bus. Dia terlalu malu, pasti Jungkook sudah mengira kalau dirinya terlanjur percaya diri berharap pria itu memiliki perhatian yang lebih terhadapnya. Dan untuk pertama kalinya, seorang Yein terdiam dan tak tahu mau berkata apa. Lagipula meski ia memang jarang berkomunikasi dengan teman sekelasnya ia tak menyangka kalau dirinya sampai sesadis itu untuk tak mengenal wajah teman sekelasnya sama sekali.

“ Kau kira aku seorang sunbae ya ? Hehe, Apa mungkin karena wajahku yang memang kelihatan sudah tua ? “ Jungkook menggaruk tengkuknya mencoba berfikir sepositif mungkin mengenai apa yang Yein katakan tadi.

“ I-iya, wajahmu memang kelihatan sudah tua. Bahkan aku pikir kau ini sunbae yang sudah lulus ——————– Tidak! Tidak sama sekali kok! Malahan kau itu imut sekali———————— “ Yein menggigit bibir bawahnya tak berani menatap pria itu, dasar Yein, ia pasti akan lulus casting kalau ia mendaftar jadi tokoh di sebuah drama, bakat aktingnya itu benar-benar sesuatu.

“ Hehe begitu ya. Ya sudah kalau begitu aku duduk dulu ya, Jung Yein “ Yein mengangguk sebentar sebelum Jungkook akhirnya pergi dan duduk di kursi kerajaannya. Sementara Yein tetap di tempat yang sama dan tetap dengan aura yang sama, ‘aura menahan rasa malu’ , pipinya bahkan sudah sangat memerah sekarang.

Tanpa Yein sadari, seseorang ternyata sudah memperhatikan tingkahnya dari tadi, siapa lagi kalau bukan siswi tercantik seantero sekolah, Kim Jiyeon. Gadis itu pun terlihat mulai berjalan menghampiri Yein.

“ Yein. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu “ Yein membuyarkan lamumannya dan menatap Jiyeon yang saat ini sudah berdiri di samping tempat duduknya. Dan ketika melihat sosok itu, Yein langsung mendengus ringan.

“ Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan “

“ Ini tentang Jimin sunbae “ Yein langsung menatap kembali gadis itu dengan mata membulat. Ia telah di skak mat.

Cih! Cepat ke atap “ memang pantas jika Yein mendapat gelar gadis paling menjengkelkan ————kecuali kalau soal pelajaran————————– di sekolah ini menurut hasil polling para muridnya. Ia sedetik yang lalu menolak bicara dengan Jiyeon tapi sekarang ia tanpa dosa menyuruh agar Jiyeon mengikutinya. Memang gadis ajaib.

 

***

 

Atap Sekolah

“ Jadi ada apa ? Kumohon katakan dengan cepat dan jangan bertele-tele “ Saat sampai Yein langsung menusuk Jiyeon dengan kata-kata pedasnya, padahal pihak yang sedang ‘membutuhkan informasi’ di sini adalah Yein dan bukan Jiyeon. Tapi untung saja gadis porselen itu memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, setinggi parameter tingkat kecantikannya.

“ Apa kau—————- berpacaran dengan Jungkook ? “

“ Eh ? “ Yein benar-benar tak menyangka kalau Jiyeon akan menyebutkan nama itu, bukankah tadi katanya ingin bicara soal Jimin ?

“ Tadi kau bilang kau mau bicara soal Jimin sunbae kan ? Aku yakin telingaku tidak sedungu itu untuk salah mengartikan apa yang kau katakan di kelas tadi “

“ Iya, memang tentang Jimin sunbae. Aku hanya khawatir saja jika kau memang sudah pacaran dengan Jungkook. Karena sepertinya kau sudah melakukan satu kesalahan besar saat dulu kau berpacaran dengan Jimin sunbae. Aku hanya tidak mau kau mengulangi kesalahan yang sama saat berpacaran dengan Jungkook ataupun orang lain “

“ Hah ? Maksudmu apa sih ? “

“ Begini, kemarin Jimin sunbae menghampiriku dan bertanya apa kau memiliki suatu gangguan mental atau tidak “ lagi-lagi mata Yein membulat mendengar kata-kata yang dilontarkan bibir manis Jiyeon.

“ A-apa ? Kau mengatakannya ya ? “

“ Tidak. Aku hanya bilang kau dan aku sudah tak dekat lagi beberapa tahun silam. Jadi aku berkata bahwa aku sama sekali tak tahu apa-apa lagi tentangmu “

“ Bukan, bukan itu. Maksudku, apa kau mengatakan sesuatu sebelumnya sampai-sampai dia bisa berspekulasi seperti itu ? “

“ Seharusnya aku yang tanya begitu. Tapi dia bilang, dia hanya berspekulasi karena melihat tingkahmu yang aneh, kau tidak pernah mau berkencan padahal kalian sudah pacaran, dia juga bilang kau selalu menutup dirimu pada orang lain dan tidak menyukai tempat ramai dan yang lebih menguatkan spekulasinya lagi adalah— karena kau memutusinya hanya karena dia berusaha menciummu—– “

“ Cukup! Aku mengerti. Jika dia bertanya lagi, jangan katakan apapun padanya. Selebihnya akan aku atasi sendiri “

Setelah itu Yein segera melangkahkan kakinya pergi tanpa mengatakan Terima Kasih sama sekali. Namun ia kembali menghentikan langkahnya ketika suara Jiyeon kembali terdengar.

 

“ Yein-ah, saat kau rasa semuanya sudah sangat berat untuk kau tahan sendirian, kau bisa memanggilku untuk membantumu kapan pun kau mau “

Tak ada tanggapan dari Yein, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Jiyeon, ia lagi-lagi hanya bisa menatap punggung Yein menghilang dari hadapannya tanpa bisa melakukan apa pun, sama seperti kejadian 6 tahun yang lalu.

 

Yein menuruni tangga dengan sedikit sempoyongan. Bagaimana kalau Jimin mesum itu berhasil mengetahui semuanya ? Berarti usahanya menutupi semuanya selama 6 tahun belakangan ini akan terbongkar sudah. Yein menggerutu frustasi, kalau dipikir-pikir ia memang sudah sering kecolongan akhir-akhir ini, bukan hanya pada Jimin tapi juga Jungkook. Sepertinya ia harus lebih berhati-hati lagi sekarang.

 

***

 

Kelas sudah usai, dan di sinilah Yein berada, berdiri sendirian di depan gerbang sekolah menunggu jemputan, sambil sesekali ia harus bersusah payah menyembunyikan dirinya ketika melihat Jimin lewat. Benar-benar sangat menyusahkan.

Lalu ia kembali menunggu hingga ia tak sengaja melihat Jungkook keluar dari gerbang dan berjalan menuju halte.

 

“ Dia tak melihatku ya ? Atau dia sudah ilfeel padaku ? “

 

Tanpa pikir panjang Yein langsung meraih ponselnya sebentar dan menghubungi sang bibi.

“ Halo ? “

“ Halo bi ? Bibi tidak usah menjemputku hari ini ya, aku masih ada urusan sedikit, aku akan naik bus saja “

“ Hah ? Eh Yein ? Tak apa kok, bibi akan menunggu sampai urusanmu selesai “

“ Bukan begitu bi. Aku hanya ingin naik bus saja kok, sudah ya bi, tidak usah datang ke sini, aku sudah mau naik bus nih. Sampai bertemu di rumah “

“ Eh eh Yein ? Tapi sepertinya akan turun hujan, akan lebih baik jika bibi menjemputmu saja. Lagipula biasanya kamu paling tidak suka naik bus kan ?, tapi kenapa sekarang——- “

 

Teeettt Teetttttt

 

Bibi Jung menghembuskan nafasnya singkat, ada apa lagi dengan Yein ? Dia benar-benar khawatir dengan tingkah gadis itu akhir-akhir ini.

 

Sementara Yein, ia segera berlari ke arah halte mencoba mengejar Jungkook, tapi belum sampai juga di halte ia tiba-tiba berhenti. “ Di sana terlalu ramai. Ayolah Jung Yein, kau harus kuat, kau sudah minum obat tepat waktu juga tadi pagi, dengan dosis tetap lagi. Ini akan baik-baik saja “

 

Ketika keberanian itu sudah berkumpul seutuhnya, Yein kembali melangkahkan kedua kaki jenjangnya “ Ayolah Yein, ini tidak seperti kau akan pergi ke lubang buaya atau apa, kau hanya pergi ke halte saja kok, iya cuma halte, jadi tenanglah “ Yein bergumam-gumam tak jelas di dalam hatinya, sebenarnya itu dilakukannya hanya untuk mengalihkan rasa takut yang ia rasakan.

 

Finally, untuk pertama kalinya Yein berhasil melangkahkan kakinya di halte sebelum bus datang (biasanya Yein menunggu bus di tempat yang tidak jauh dari halte seperti pada chapter 1) dan hal itu ia lakukan hanya karena Jungkook ? Lucu.

Yein dengan susah payah mengatur deru nafasnya dan sepertinya Jungkook masih belum menyadari kehadiran gadis itu sampai kemudian bus datang. Semua orang mulai memasuki bus termasuk Jungkook, tapi Yein, ia hanya terdiam di tempat itu, terdiam sambil memusatkan pandangannya pada seseorang yang baru ia lihat.

 

“ Ayahh ? Itu ayahkan ? “

 

Yein gemetar dan mulai berkeringat dingin, kenapa akhir-akhir ini ia sering melihat bayangan sang ayah ? Apa ini hanya halusinasi semata ? Tidak, Yein sangat yakin kalau yang dilihatnya kali ini memang nyata. Sungguh ia sangat ingin pergi mengejar sang ayah dan menanyakan banyak hal yang selama ini berputar-putar di kepalanya, tapi di sisi lain ia juga takut, takut jika ayahnya mengulangi perbuatan yang ia lakukan beberapa tahun silam. Tapi tetap saja, Yein harus tahu kebenarannya.

 

Jungkook memasuki bus dan duduk di pinggir jendela membuatnya otomatis jadi salah fokus pada Yein yang masih berdiri terpaku di luar. “ Yein ? Dia kenapa ? Apa ada sesuatu lagi ? “ Baru sedetik, ia sudah melihat Yein langsung berlari entah kemana “ Kenapa dia selalu bertingkah aneh sih ? “

Yein mulai berlari, berlari secepat mungkin ke arah di mana ia melihat ayahnya tadi, ia tak peduli jika itu tempat ramai karena yang gadis itu inginkan sekarang hanyalah bertemu sang ayah dan mengetahui kebenarannya langsung dari bibir pria paruh baya itu.

 

Tik tik tik . . .

 

Tetesan-tetesan hujan mulai turun mengguyur kota Seoul, ada yang langsung mengembangkan payung yang sudah disiapkan tapi tak kurang juga ada yang berlari-lari untuk sekedar berteduh di tempat terdekat. Tapi Yein, ia bahkan tak peduli dengan hujan yang sudah membasahi 40% dari tubuhnya itu, ia terus memutar pandangannya ke sekililing berharap sosok yang ia cari bisa tercetak jelas di kedua bola matanya.

 

“ Ayah, kau di mana ? “

 

“ Aiisshh, ayolah cepat tunjukkan dirimu ayah “

 

“ Ayahh, kau bilang kau menyesalkan ? Kau bilang kau menyesal telah melakukan semuanya, jadi muncullah dihadapanku sekarang dan katakan semuanya, semua tentang kejadian buruk itu, ayolah ayahh “

 

Air mata yang keluar otomatis langsung menyatu sempurna dengan tetesan hujan yang turun, seperti biasa tremornya juga makin menjadi-jadi, ia bahkan mulai berjalan sempoyongan sekarang. “ Sial! Lagi-lagi aku harus membiarkan tubuh ini kambuh di depan orang banyak, apalagi ini tempat umum, bodohh~ dasar bodooh “

 

 

Jungkook berlari dan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya, ia dengan cepat membuka kemeja itu dan menggunakannya untuk menutupi kepala Yein, tak lupa ia bahkan langsung mendekap gadis itu dalam pelukannya.

“ Ehh ? “ Yein sedikit kaget, ia menengadahkan sebentar kepalanya untuk sekedar melihat pria yang memeluknya ini, “ Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, takkan ada yang melihatmu. Kau bisa gemetar sesuka hati, tapi jangan sampai pingsan ya ? “

“ Ju-jungkook ? “

Jungkook tersenyum tipis, “ Akhirnya kau bisa mengingat namaku juga, Jung Yein “

Tanpa sadar, Yein secara perlahan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Jungkook, mencoba membalas pelukan pria itu. Ia juga membenamkan lebih dalam wajahnya di dada Jungkook.

 

“ Biasanya aku akan langsung gemetar jika berada sedekat ini dengan orang asing, tapi—— kenapa aku malah merasa sangat nyaman sekarang ? “

 

To Be Continued~

.

.

.

-EPILOG-

 

Busan, 13 Desember 2010

Hari itu tepat sebulan setelah kejadian buruk menimpa keluarga Yein, dan 3 minggu 2 hari setelah Yein dinyatakan menderita PTSD. Saat itu aku masih sangat belia sehingga aku tak terlalu paham mengenai kelainan itu, satu yang bisa aku ingat jelas dipikiranku hanyalah kata-kata yang ia sampaikan padaku tepat pada saat salju pertama turun di tahun itu, sungguh musim dingin terburuk yang pernah ku lalui selama aku hidup, suhu udara pada saat itu bahkan terasa lebih dingin dari biasanya, efek kata-kata Yein mungkin.

 

“ Mari putuskan pertemanan kita “ kata-kata yang keluar tanpa beban dari bibir manis seorang Yein, kata-kata yang ia katakan dengan wajah yang teramat sangat datar, sungguh jika aku ini adalah orang lain pasti orang itu akan langsung melayangkan sebuah tamparan pedas di pipinya.

“ Apa maksudmu, Yein-ah ? Pertemanan itu tidak bisa diputuskan seperti orang pacaran, sekali kau berteman maka akan terus seperti itu sampai kapan pun “

“ Kalau aku tidak mau ? Cukup saling menganggap seperti orang asing, seperti orang yang belum pernah kenal sebelumnya “

“ Yein, aku tahu ini pasti karena PTSD-mu itu tapi bukan berarti —— “

“ Ini keputusanku, aku harap ini terakhir kali kita bicara seperti ini. Juga, kumohon padamu jangan katakan apapun pada Wonhoo. Ini permintaan terakhirku. “

Hanya itu lalu Yein segera pergi dari hadapanku, bagai baru saja disambar petir, aku tak bisa melakukan apapun, hanya mematung sambil melihat punggungnya menghilang begitu saja dari hadapanku. Jika seandainya Wonhoo masih di sini, apa yang akan dia lakukan ? Aku benar-benar ingin tahu tentang hal itu.

 .

.

GLOSSARIUM

 Temporal : Pelipis

Midriasis : Bola mata yang hampir keluar

.

.

SOUNDTRACK

Ji Chang Wook – I Will Protect You

 .

.

A/N

Selamat membaca chapter 2. Pertama, mungkin kalian akan ngerasa semacam ada yang kurang di chapter ini dari chapter sebelumnya, yaitu di chapter ini bahasa-bahasa anehnya agak kurang dan lebih banyak dialognya. Lalu di chapter ini juga belum ada penjabaran tokoh-tokoh pendukung lain, kurang lebih masih seputar Jungkook-Yein, meski Jisoo juga ada nongol dikit, tapi saya janji kalau tokoh lainnya akan lebih menonjol di chapter selanjutnya. Dan kalau boleh jujur sebenarnya saya ngerasa kurang puas di chapter ini, saya juga kaga tahu kenapa, pokoknya ngerasa kurang puas aja pas bacanya, wkwk.

Saya juga mau kasih sedikit spoiler lewat satu poster di bawah. Jangan tanya apa maksudnya itu, karena nanti kalian juga akan tahu sendiri kok.

 Capsula-bts

See u in the next chapter. Jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga pendapat kalian mengenai chapter kali ini.

Advertisements

31 thoughts on “Capsula [Chapter 2]

  1. ANi

    Ini jadi yein udah mulai agak gimana gitu sama si jungkook, terus jisoo itu nanti siapa nya yein/penasaran tingkat tinggi/? Terus jimin kenapa ga di depak aja sih/ih mau nya/ ngeliat kelakuan nya dia itu bikin kesel. Lanjut ya kak^^

    Liked by 1 person

  2. adelia

    ‘Kau boleh gemetar sesuka hatimu, tapi jangan samapai pingsan ya’ WOAHH Jungkook manly bnget yaaaa ??

    iya nih thor, kurang puas sama chap ini.. tapi gpp kok, yg penting author postnya jangan lama-lama..

    Conflict disini juga bagussss banget serius deh

    Like

  3. adelia

    ‘kau boleh gemetaran sesuka hati, tapi jangan sampai pingsan ya’ WOAHHH Jungkook manly banget yaaaaaaaa…

    iya nih thor kurang puas chap ini, tapi gpp asal author post nya ga lama-lama..

    Conflict disini itu bagusss banget seh serius

    Liked by 1 person

  4. Nurul

    Yein mulai ada rasa kyanya ma Jungkook,duh penasaran bgt kejadian yg terjadi antara Yein, jiyeon dan wonho beberapa tahun yg lalu… Di tunggu pake BANGET next chapter nya. Author Fighthing

    Liked by 1 person

  5. tetoott! jeka tumben peka banget :’) /ditendang/ dan–ah, sepertinya saya paham maksud kemunculan mbak jisoo disini, huhu /wut/
    memang, sih, saya juga ngerasa chapter ini banyak yang kurang–tapi overall sudah cukup bagus kok :’D
    tetap semangat buat nulisnya, ya o/ authornim, fighting!

    Liked by 1 person

  6. Authornya ngeselin deh >< bikin penasaran banget duhhh😍😍
    Ini gak banyak yg kurang kok, cuma kurang panjang aja hehe..
    1 pertanyaan terjawab, dan malah banyak pertanyaan lgi muncul😂😂 Jisoo ntar kenapa ya, kok dia jdi jahat?? Apa ntar dia yg ngebully Yein??
    Terus aku penasaran sama masa lalu Yein, dan sebab dia kena PTSD😞😞 Tpi aku suka Yein udh mulai punya rasa sama Jungkook, dan Jungkook yg perhatian bnget sama Yein❤❤
    Authorrr pliss jangan update lama” yaaa.. Ini FF yg aku tunggu” bnget..

    Maaf klo comment nya kepanjangan😀😀 aku padamu thor💜

    Liked by 1 person

    • Hehe, chapter 3 bakal diusahain panjang kalau gitu 😀
      Untuk berbagai pertanyaannya tunggu aja jawabannya di chapter2 selanjutnya yoo 😀
      Thanks udah ninggalin jejak (y)

      Like

  7. Hmm.. Komen apa, ya? Kebiasaan buruk males komen. Di part pertama aku gak komen lho Thor. ngaku #ditabok
    Satu aja, deh. Scene pas Jungkook ngejar Yein itu kerasa kurang gereget gitu. Kurang dramatis gimana gitu. #eaaa #korbandrama

    Di sini istilah ilmiahnya jauh lebih dikit dari chapter 1 ya. Tapi bikin jadi lebih enak dibaca Thor. (mianhae mianhae mianhae Thor) Aku tu suka sama istilah ilmiah, jadi nambah pengetahuan gitu sambil baca cerita ringan. (mulai ngeles) Tapi kadang kalo terlalu banyak jadinya agak..gimana gitu. Rasanya kaya baca buku biologi. (jangan bunuh saya Thor)
    Haha.. Cuma itu sih unek-uneknya. Kalo mau lagi, ntar kukasih. watados #slap (makaseh)

    Kalo dari segi ceritanya, bener-bener captivating. (apaan dah?) Aku suka kalo ada unsur-unsur medical ato psikologi kaya gini.
    Trus diksinya lumayan. (songong banget ni anak) Menyenangkan dan gak bikin bosen untuk ditelusuri. (kayak hutan)

    Oh, iya ada lagi. (tadi bilang cuma satu.. -__-) Siapa Jisoo? Dia sekolah juga, ya di sekolahnya Yein? (pertanyaan yang udah banyak ditanya tapi tetep pengen kutanya biar manjangin komen) #slap
    Trus, kenapa Yein mulai berhalusinasi soal ayahnya? Apa penyakitnya memburuk? Kalo dipikir-pikir 6 tahun itu waktu yang luar biasa lama lho buat nutupin cacat mental (mungkin). Hebat banget Yein bisa nutupin itu selama ini. Dan satu lagi, scene awal di chapter 1 itu bener-bener kejadian ya? Itu ayahnya Yein? Apa dia penyebab dari penyakit yang diderita Yein? Aih… Penasaran, kan jadinya.

    Fighting authoooor…~ Ditunggu dengan sangat chapter selanjutnya. :-* ❤ ❤ penutup yang awkward

    N.B. : Komen ini bayaran untuk chapter 1. 😀 kabur

    Liked by 1 person

    • Haha, kaga apa kok, yang pentingkan udah nongol a.k.a komen di chapter ini 😀
      Kalo yang soal feeling itu ada rada kayak dipaksain gitu pan ? xD mohon maafkan saya krn ngebut pas nulisnya. Kalo Jisoo, ditunggu aja chapter selanjutnya ye (y)
      Kalo soal prolog di chapter 1, itu cuma deja vu kok.
      Bedanya deja vu sama halusinasi, kalo deja vu kejadian yang ia lihat sama persis dengan kejadian di masa lalu, kalau halusinasi apa yang dia lihat itu bukan berdasarkan memory/kejadian masa lalu.
      Terakhir, thanks udah ninggalin jejak. See u in the next chapter (y)

      Liked by 1 person

  8. azeleza

    Apa ya, mau ngomong apa wkwkwkwk

    Banyak pertanyaan yg ngalur ngidur sih, jd aku simpen aja deh buat chap berikutnya siapa tau udh kejawab /trus kabur/ wkwkwkwkwk xD

    Liked by 1 person

  9. Aihara

    “ Biasanya aku akan langsung gemetar jika berada sedekat ini dengan orang asing, tapi—— kenapa aku malah merasa sangat nyaman sekarang ? “
    A: Itu karena kamu punya perasaan ke Jungkook, ya kan?? XD
    Jungkook modusnya manis sekali:3
    Hm, jadi mengenai Yein ngeliat ayahnya, itu bukan halusinasi ya?
    Dan…
    Jisoo jadi jahat?? Iya sih dia kan harus ngerebut posisi Yein yang notabenenya murid pintar._.
    Ok, ditunggu ya chapter 3-nya ^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s