Faithfulness (1/2) [Twoshoots]

Standard

Untitled-1.jpg

Faithfulness © burritown

Jeong Yein, Jeon Jungkook

Romance, Action, Fluff?

Rating T

Twoshoots (3.091 Words)

Warn! AU, Himedere!Yein, Butler!Jeon, Typo(s), Out Of Character(s), (un) beta-ed, e.t.c

P.S: I didn’t own anything except the plot. Yet I ain’t get any advantages from this fic

“Jungkook, siapkan bajuku!”

“Jungkook, ambilkan sepatuku!”

“Jungkook, temani Aku sarapan!”

Suara melengking nona muda Jeong tidak pernah absen menghiasi rumah besar di distrik Gangnam, Seoul. Namanya Jeong Yein. Seorang gadis berusia delapanbelas tahun dengan tinggi semampai dan proporsi tubuh yang aduhai, walaupun dia termasuk golongan gadis berdada rata (jika dibandingkan dengan Lee Mijoo, si anak sulung keluarga Lee yang tak kalah beruang). Yein memiliki mahkota kecoklatan yang tergerai indah menutupi punggung, terkadang menampilkan leher jenjang yang seputih susu ketika dia memutuskan untuk menguncirnya. Iris gelapnya selalu bersinar bagai rembulan di siang hari, tak ayal selalu membuat banyak kaum adam mengaguminya—terlebih ketika gadis itu tersenyum dengan mata bulan sabitnya, menambah nilai pesonananya—. Putri semata wayang tuan Jeong juga dikenal memiliki perangai yang baik di depan umum, hingga mampu membuat seluruh laki-laki di Korea bertekuk lutut karenanya.

Kecuali, mungkin, satu orang

“Nona, anda akan terlambat.” Seorang laki-laki dengan balutan pakaian resmi khas seorang butler menghampiri Yein ketika gadis itu baru saja menyentuh sarapan paginya. Usianya masih tergolong muda untuk seorang butler sepertinya—hanya satu tahun lebih tua daripada Yein—, dan juga sedikit tampan. Tidak, maksudku, dia memang tampan. Dengan surai hitam kelam yang ditata sedikit acak-acakan, serta iris gelap setajam elang, seolah mampu membunuh manusia dalam sekali tatap (dan laki-laki itu benar-benar mampu membunuh kaum hawa dengan pesonanya). Jeon Jungkook, semua orang memanggilnya seperti itu. Putra bungsu keluarga Jeon yang sudah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya kepada keluarga konglomerat Jeong. Laki-laki berusia sembilanbelas tahun yang di beri mandat sebagai butler pribadi nona muda Jeong—serta mampu membuat iri seluruh kaum adam di luar sana—. Dia baru saja menyelesaikan sekolahnya (terimakasih kepada keluarga Jeong karena telah menanggung seluruh biaya pendidikannya) tahun lalu.

“Aku tahu, Jeon. Lima menit lagi—” Jeong Yein. Dilihat dari manapun, gadis ini memiliki sisi yang baik (kelewat baik, malah), murah senyum (tunggu sampai kau terpesona dengan senyuman bulan sabitnya—lagi), cerdas, bahkan gadis ini memiliki hati yang cukup cantik—Yein sempat beberapa kali memberi makanan kepada kucing di jalanan—. Namun semua hal itu nampaknya tidak berlaku bagi Jungkook. Baginya, Jeong Yein hanyalah putri konglomerat yang manja, cerewet, dan semaunya sendiri. Tidak, tidak. Kau memang tidak salah baca disini.

“Tapi upacara akan dimulai tiga menit la—”

“Jeon. Kau berisik sekali.” Nah. Benar, bukan? Di mata Jungkook, Yein tak lebih dari seorang gadis pengidap kepribadian ganda—hei, lihat saja sampai kau melihat Yein bertemu dengan teman-temannya, dia akan bersikap seolah dirinya adalah makhluk paling baik di dunia; berbeda seratus delapanpuluh derajat ketika gadis itu berbicara dengan Jungkook—. Namun, sesuai dengan prinsip yang dipegangnya, semenyebalkan apapun tuanmu, kau harus mematuhinya. Jungkook tidak mau disebut sebagai seorang anak yang tak balas budi. Biar bagaimanapun, tuan besar Jeong yang telah menanggung biaya hidupnya selama sembilanbelas tahun terakhir (yang diyakini bukanlah biaya yang kecil).

“Jungkook.” Suara lembut itu kembali mengalun, kali ini sedikit lebih natural. Oh, rupanya Yein telah menghabiskan sarapan paginya. “Hari ini kau cukup mengantarku sampai sekolah saja. Dan—oh! Nanti Aku akan pergi bersama Suji, jadi tidak perlu repot-repot untuk menjemputku.” Gadis itu mengambil tas selempangnya, sedikit menata rok sekolahnya agar tetap terlihat rapi. Sebuah senyum mengembang di paras cantiknya.

“Tapi nona, tuan Jeong bilang—”

“Kau selalu mengatakan hal itu.” Yein menghembuskan napas berat dalam sekali tarikan, “Sebenarnya kau ini butler siapa, sih? Sedikit-sedikit mengatakan ‘tuan Jeong bilang’ atau ‘menurut tuan Jeong’. Tch, menyebalkan.” Merotasikan kedua manik gelapnya. Sungguh, Yein benar-benar gagal paham dengan pola pikir Jungkook yang selalu berpusat pada Ayahnya—lagipula majikan langsungnya adalah Yein, bukan Ayahnya. Gadis itu mencak-mencak dalam pikirannya, mengutuk Jungkook dengan segala umpatan yang diketahuinya.

Jungkook memejamkan manik gelapnya sejemang, mencoba menahan luapan emosi di tubuhnya, “Maafkan Saya, nona Yein. Tapi—aw!” Sepertinya Jungkook benar-benar tak diizinkan untuk sekedar menyelesaikan kalimatnya (salahkan Jeong Yein dan sikap seenak jidatnya yang menyebalkan), gadis itu lantas menendang tulang kering Jungkook dengan pantofel hitam yang dikenakannya, sukses membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.

Duk!

“Oh? Nampaknya kakimu terluka.” Yein mencetak senyum terbaiknya, “Yah, mau bagaimana lagi. Karena Aku sedang berbaik hati jadi kupikir kau tidak usah mengantarku ke sekolah—Aku bisa menyuruh Kyle untuk menggantikanmu. Dan, anggap saja hari ini kau mengambil jatah liburanmu, oke? Aku berangkat, Jeon.” Gadis itu mengibaskan rambutnya, sengaja mengambil langkah lebar dan bergegas meninggalkan Jungkook yang masih sibuk menggerutu dalam hatinya, hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

Sembilanbelas tahun menghabiskan hidupnya bersama Jeong Yein benar-benar membuat Jungkook nyaris hilang akal. Hampir tiap hari anak laki-laki itu harus kuat menahan luapan emosi karena perangai menyebalkan Yein (yang hanya muncul ketika gadis itu bersamanya)—dan dia harus tetap menahan emosinya hingga sepuluh bahkan seratus tahun ke depan—. Nenek moyang keluarganya konon telah berjanji akan terus melindungi dan melayani keluarga Jeong sampai kapanpun. Itulah sebabnya Jungkook harus terjebak dengan seorang gadis manja menyebalkan bernama Jeong Yein selama sisa hidupnya.

Tch, dasar gadis menyebalkan. Beruntung kau adalah putri tuan Jeong yang sangat Aku hormati—” Sepertinya menggerutu merupakan sebuah hobi yang (tidak begitu) baru bagi Jungkook. Entah sejak kapan ia mulai gemar menggerutu jika telah menyangkut putri semata wayang keluarga Jeong, mungkin sekitar empat tahun? Padahal, ketika masih kanak-kanak Yein masuk dalam kategori gadis kalem dan imut di matanya—wow.

“Bertengkar dengan nona Yein lagi, eh?” Kim Seokjin yang tiba-tiba saja telah berdiri di belakangnya mulai membuka suara. Laki-laki dengan sejuta kepercayaan diri itu lantas merangkul bahu temannya. Ngomong-ngomong, Seokjin juga merupakan salah satu dari sekian butler yang dimiliki keluarga Jeong, sama sepertinya. Namun, Seokjin lebih sering menangani urusan dapur (bisa dikatakan kalau laki-laki ini adalah kepala koki).

Jungkook menghela napas, untuk beberapa alasan dia ingin bertukar posisi dengan Seokjin. Setidaknya Jungkook tidak akan mendengar celotehan Yein yang membuat telinganya panas tiap lima menit sekali dalam duapuluh empat jam.

“Semangat, bung! Aku yakin nona Yein sebenarnya peduli padamu.”

“Yah, kau benar, hyung. Menendang tulang kering seseorang tanpa alasan yang jelas adalah bentuk kepedulian Jeong Yein kepadaku.” Komentar Jungkook sarkasme. Anak laki-laki itu merotasikan sepasang atensi gelapnya, malas meladeni Seokjin atau siapapun. Demi Tuhan, Jungkook telah kehilangan seluruh moodnya dalam sekejap. Oh, masa bodoh dengan apapun yang terjadi kepada Yein hari ini. Lagipula gadis itu sendiri yang mengatakan bahwa hari ini Jungkook bisa mengambil jatah hari liburnya. Dan akan lebih baik jika dia memanfaatkan kesempatan langka itu dengan efektif.

Faithfulness

Jeong Yein menggelembungkan pipinya sepanjang perjalanan menuju sekolah. Dia benar-benar kehilangan moodnya setelah cekcok singkat dengan Jungkook beberapa menit yang lalu. Bahkan Yein sama sekali tidak mendengarkan segala celotehan Kyle sepanjang perjalanan menyangkut Jungkook—oke, Yein sudah memutuskan untuk menuli sejemang jika seseorang membahas laki-laki tidak peka itu—.

“Nona? Kita sudah sampai, omong-omong.” Suara Kyle kembali menghempaskan Yein menuju realita, sejenak melupakan tentang imajinasinya yang telah membunuh Jungkook berkali-kali. Gadis itu hanya mengangguk dan lantas beranjak keluar dari mobil.

“Oh, Aku hampir lupa. Kyle, nanti kau tidak usah menjemputku, oke? Katakan pada orang rumah Aku bersama Suji. Sampai jumpa,” Yein mencetak senyuman bulan sabitnya, kemudian bergegas menuju sekolah (demi Tuhan, ia sudah terlambat hampir limabelas menit).

Yein mengendap-endap. Mencoba meredam suara sepatunya seminimal mungkin ketika melewati koridor yang sebenarnya cukup sepi—beruntung upacara masih belum berakhir, jadi Yein mampu menggunakan kesempatan tersebut untuk langsung menuju kelas, tanpa mengikuti acara rutin membosankan tersebut. Dia membuka pintu ruang kelas 3-4.

“Masih sepi—”

“Yein!” Gadis itu sedikit terjingkat ketika mendengar suara cempreng (nyaris) berteriak di telinganya. Uh, beruntung Yein tidak tuli dibuatnya.

“Suji! Kau mengejutkanku, tahu.” Yein mencibir ketika melihat sosok gadis nyaris serupa dengannya bersurai hitam legam tengah memasang senyuman lebarnya tanpa sedikitpun rasa bersalah—Lee Suji, tapi orang-orang di sekolah lebih akrab memanggilnya Halla—.

“Eh? Tumben tidak bersama Jungkook?” Atensi gelap Suji  menyapu sekitar, mencoba mencari sosok rupawan menjulang yang selalu bersama Yein dalam jarak tak kurang dari satu meter, namun nihil. Dia bahkan tidak merasakan hawa keberadaan Jungkook di sekitar. Aneh, pikirnya.

Yein merotasikan kedua bola matanya, malas untuk berkomentar. Gadis itu lantas berjalan dan melempar tas selempangnya di meja paling ujung di baris kedua, menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang (tidak cukup) nyaman.

“Kalian bertengkar lagi?” Suji dengan tingkat kuriositasnya yang tinggi benar-benar membuat Yein semakin kehilangan mood baiknya—apalagi hal ini menyangkut Jungkook, si butler tidak peka itu. Dan Yein sudah memutuskan bahwa ia akan menuli jika seseorang membahasnya—.

Jeong Yein mengeluarkan buku sastranya, kemudian membuka halaman terakhir yang dibaca, tanpa mempedulikan rasa kuriositas Suji yang semakin memuncak. Hei, ia sedang tuli sekarang, kau tahu?

“Jeong Yein. Kenapa diam saja? Kau benar-benar bertengkar dengan Jungkook? Kali ini masalah apa?” Sungguh. Tidak bisakah Lee Suji menghentikan pertanyaan menyangkut Jungkook—lagipula ia sudah muak mendengar gadis itu menyebut nama Jungkook dua kali dalam kurun waktu kurang dari lima menit; tidak. Bukan karena Yein marah dengan Suji, telinganya sudah cukup panas hanya mendengar nama Jungkook disebut. Wow.

Yein meletakkan buku bacaannya, dia sudah kehilangan minat membaca sekarang. “Suji, please.” Menatap lurus-lurus gadis yang telah menopang dagunya di atas meja dengan cetakan senyum paling lebar yang pernah dilihat oleh Yein. Sekarang masih pagi dan Yein tidak ingin harinya berujung sial karena sebuah nama, Jeon Jungkook. Yah, setidaknya dia dapat mengambil sisi positif dengan absennya Jungkook di sekitarnya—Yein bisa melakukan apapun yang dia sukai tanpa khawatir dengan celotehan Jungkook yang membuatnya merotasikan kedua bola mata lebih dari sepuluh kali tiap harinya—wow, lagi.

“Sepertinya pertengkaran yang cukup hebat sampai-sampai kau tidak ingin membahasnya. Oke, Aku tidak akan memaksa lagi.” Suji mengangkat kedua bahunya, gadis itu melenggang pergi dan menghempaskan tubuhnya di bangku depan, “Ngomong-ngomong, kalian berdua sudah terlihat seperti suami-istri saja.”

Sebelah alis Yein berkedut ketika mendengar ucapan terakhir Suji—tunggu, dia dan Jungkook? Seperti sepasang suami-istri, katanya? Gadis ini pasti sudah tidak waras—. Memangnya sejak kapan Yein mendeklarasikan sesuatu seperti “Jungkook itu suamiku, jangan dekat-dekat dia” big no! Dia bukan tipe gadis seperti itu. Lagipula Jeon Jungkook hanya sebatas butler pribadinya (butler pribadi yang sangat tidak peka, lebih tepatnya), tak lebih. Tapi—hei! Kenapa dia malah membahas Jungkook disini? Bukankah Yein sedang menuli soal laki-laki itu? Terkutuklah Devy John dan lokernya yang bau.

“Terserah.”

Faithfulness

“Yein, Maaf! Sepertinya kita harus membatalkan janji nonton hari ini. Orangtuaku tiba-tiba menelpon kalau Seokmin oppa akan tiba di bandara malam ini dan Aku harus menjemputnya jadi—” Lee Suji menepukkan kedua belah tangannya di depan wajah, ekspresi penyesalan jelas terlukis di sana.

“Seokmin oppamu yang tampan itu? Whoa!” Di luar dugaan, Yein memberikan respon yang cukup mengejutkan (padahal Suji harus berpikir dua kali untuk menyampaikan berita tersebut, karena perubahan mood gadis kecoklatan yang sudah tidak stabil semenjak pagi hari. Gara-gara Jungkook).

“Un. Setelah dua tahun menghabiskan waktunya di Amerika,” Suji lantas membuat cetakan senyum paling indahnya. Tentu saja dia sangat bahagia setelah hampir tiga tahun hanya mengandalkan skype untuk bertemu sapa dengan kakaknya yang sedang mengenyam pendidikan di negeri paman sam itu.

“Ah, Aku sudah tidak sabar lagi untuk menjemputnya. Kau tahu, Seokmin oppa bahkan berjanji akan membelikanku oleh-oleh—”

Yein tersenyum. Kalau boleh jujur, dia cukup iri dengan Suji. Gadis itu selalu dikelilingi oleh kebahagiaan—kedua orangtua nya selalu memberi perhatian lebih ditengah kesibukan mereka, bahkan kakaknya yang berada di Amerika pun tak lupa dengannya—ah, benar-benar berbeda seratus delapanpuluh derajat dengan Yein. Tidak, tidak. Bukan berarti kehidupan Yein jauh dari kebahagiaan. Dia bahagia, kok. Setiap hari dikelilingi oleh orang-orang yang disayanginya. Kyle yang polos dan lugu, Seokjin oppa yang selalu mengetahui kapanpun Yein memiliki masalah, serta Jungkook (ampun, Yein terpaksa memasukkan nama orang itu disini) yang selalu berada di sisinya setiap saat—minus hari ini—.

“—Dan kita sekeluarga akan pergi makan malam bersama!” Suji kembali berceloteh dengan semangat berapi-apinya, “Eh—maaf, Yein. Aku tidak bermaksud untuk…”

Ah, Yein sungguh merindukan masa-masa dimana keluarganya masih utuh. Tidak ada pertengkaran di antara kedua orangtua nya, hanya kepercayaan dan kebahagiaan yang mengalir dalam keluarga Jeong—sampai kecelakaan tunggal harus merengut nyawa Ibunya empat tahun silam, meninggalkan bekas luka yang menganga cukup lebar di hati Yein. Gadis itu sangat terpuruk dengan kepergian Ibunya secara tiba-tiba; semua bermula dengan pertengkaran hebat Ibu dan Ayahnya beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi. Dan—ya, semenjak itu Yein hampir tidak pernah mau berbicara dengan Ayahnya (kecuali jika menyangkut urusan yang sangat penting, seperti sekolah, misalnya). Beruntung Yein masih memiliki Jungkook (sungguh, Yein sangat terpaksa memasukkan nama orang itu, lagi) yang selalu bersamanya kapan dan dimanapun. Anak laki-laki itu sudah dianggapnya sebagai anggota keluarga (Kyle dan Seokjin oppa juga), walaupun sisi tidak peka Jungkook selalu membuat Yein emosi.

“Tak apa. Lagipula kita masih bisa pergi nonton lain kali, bukan?” Yein menepuk bahu temannya dengan pelan, dengan segaris senyuman menghiasi paras cantiknya. Sepertinya dia benar-benar harus menghubungi Kyle untuk datang menjemput nanti.

Suji merangkul bahu koleganya, “Terimakasih dan—maaf, lagi. Aku tahu kau sebenarnya kecewa tapi rasa kangenku ke Seokmin oppa lebih besar, muehehe.” Gadis itu lantas pergi meninggalkan Yein yang masih mengerjap, memutar otak untuk menangkap maksud ucapan temannya, sampai—

Ya, Lee Suji! Sialan kau!”

“Sampai jumpa besok, Yein-aa. Aku berjanji akan membawakanmu photocard Dane Deehan yang paling tampan!”

Yein menggelengkan kepalanya berulang kali ketika sosok Suji perlahan menghilang di ujung koridor. Lee Suji dan segala perangainya yang menyenangkan benar-benar mampu membuat moodnya membaik dalam sesaat (setelah sebelumnya hancur karena pembahasan tentang Jeon Jungkook).

Gadis itu mematut sejemang, “Sepertinya memang harus menghubungi Kyle—” Yein merogoh tas selempang, mencari benda tipis persegi panjang yang selalu menemaninya. Dan segera memencet nomor Kyle yang memang telah disimpan jauh-jauh hari.

Faithfulness

Jungkook benar-benar tahu bagaimana cara memanfaatkan hari libur dengan baik. Lihat saja dirinya sekarang. Bermalas-malasan di atas ranjang kecil hanya dengan berlapis kaos oblong putih dan celana hitam pendek selutut (tak ada baju resmi ataupun celana kain hitam dan dasi kupu-kupu yang selalu membuatnya susah bernapas) tanpa harus mempedulikan tuannya yang manja dan menjengkelkan. Hanya ada Jungkook, ranjang kecilnya, dan beberapa snack yang dibuat Seokjin khusus untuknya. “masakanku ampuh untuk menghilangkan stress”, Kata laki-laki berusia nyaris seperempat abad tersebut dengan penuh percaya diri.

Well, tidak sepenuhnya menyangkal kalau masakan Kim Seokjin adalah yang terbaik di rumah ini. Laki-laki itu memang mempunyai bakat dalam bidang memasak—ah, siapapun gadis yang akan menjadi istri Seokjin nanti pasti akan makmur kehidupannya.

“Aku harus berterimakasih kepada nona Yein nanti,” Jungkook meraih kentang goreng kesepuluhnya, mencocol dengan sedikit saus, dan memasukkannya ke dalam mulut.

Sedikit perasaan bersalah perlahan menyelimutinya. Kalau saja tadi Jungkook tidak banyak berkomentar, mungkin ia masih bisa mengantar gadis malang itu sampai ke sekolahnya (setidaknya untuk memastikan bahwa Yein benar-benar aman disana). Biar bagaimanapun, Jeong Yein adalah majikannya yang cukup berharga. Maksudku, kehidupan Jungkook benar-benar bergantung pada gaji yang diterimanya tiap bulan dari keluarga Jeong.

“Jungkook-aa, kau tidak menjemput nona Yein?” Kim Seokjin muncul di balik pintu dengan celemek serta topi panjangnya yang dilipat rapi. Oh, sepertinya laki-laki itu baru saja selesai menyiapkan makan malam.

“Tidak. Katanya dia akan pulang bersama temannya—Lee Suji, kalau tak salah sebut.” Jungkook kembali memasukkan kentang goreng kesebelasnya, “Lagipula hari ini Aku sedang bebas tugas, asal hyung tahu.” Dan kentang goreng keduabelas sukses melewati esofagusnya.

“Tapi sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam. Aku takut terjadi sesuatu pada nona Yein.” Seokjin mengusap-usap dagunya, pikirannya jelas berspekulasi tentang skenario buruk yang terjadi pada nona muda Jeong (demi Tuhan, Seokjin benar-benar khawatir sekarang. Apalagi Yein sedang tak memiliki tameng di sekitarnya).

“Aku yakin dia sedang bersama temannya, hyung.” Laki-laki yang lebih muda itu menggigit kentang goreng ke duapuluh. Kalau boleh jujur, Jungkook juga merasa sedikit khawatir dengan keadaan Yein sekarang. Biasanya gadis itu sudah berada di rumah paling lambat pukul delapan malam—dan beradu mulut sejemang dengan Jungkook sebelum akhirnya menyantap masakan Seokjin—. Akan tetapi malam ini berbeda. Sudah hampir pukul sepuluh dan Jeong Yein sama sekali tidak menunjukkan hawa keberadaannya, bahkan sekedar mengabari orang-orang di rumah pun tidak. Oke, Jungkook tahu bahwa dia dan Yein sedang bertengkar, tapi tetap saja, keselamatan Jeong Yein adalah yang utama. Laki-laki itu tidak boleh membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya—tidak selama Jungkook masih hidup—.

Jungkook menghembuskan napas berat dalam sekali tarikan ketika menyadari terdapat satu panggilan tak terjawab. Dari Jeong Yein. Sekitar dua jam yang lalu.

“Aku akan mencarinya.” Seharusnya dia ingat kalau Jeong Yein tidak akan pernah membiarkan harinya berjalan dengan tenang (bahkan di hari libur sekalipun).

Faithfulness

Yein terbangun dengan kepalanya yang sedikit berdenyut nyeri. Sejauh ingatannya, Yein merasakan seseorang telah memukul belakang kepalanya dengan benda tumpul cukup keras hingga gadis itu kehilangan kesadaran selama beberapa saat. Yein mengerjap beberapa kali, mendapati dirinya berada di tempat yang kumuh dan—gelap (nyaris seperti sebuah gudang yang sudah tak dipakai), bukannya halte bus, seperti ingatan terakhirnya.

Yein menggerutu sepanjang perjalanan. Masih sibuk mengumpati Kyle yang tiba-tiba mendapat tugas dari Ayahnya untuk menjadi supir tamu dari China. Laki-laki itu mengatakan permintaan maafnya setindak setelah Yein meminta tolong untuk menjemputnya, “Maaf, nona. Tapi saya sedang berada di Ilsan bersama tuan Jeong dan teman-temannya.”—benar-benar sialan. Oh, bahkan Yein nyaris melempar ponselnya ke sembarang arah kalau saja dia tidak ingat harga selangit benda persegi panjang tersebut.

Sempat terbesit di pikirannya untuk menelpon Jungkook dan meminta laki-laki itu untuk menjemputnya, tapi Yein sudah kelewat gengsi karena cekcok mereka tadi pagi (dan dia juga mengatakan kalau Jungkook sedang bebas tugas hari ini), membuatnya harus berpikir dua kali untuk sekedar memencet nomor ponsel Jungkook.

Langit semakin gelap. Sang mentari telah memberikan mandatnya kepada rembulan untuk menerangi horizon Seoul selama beberapa jam ke depan.gadis itu melirik jam tangannya, masih pukul tujuh lebih empatpuluh lima menit. Dan Jeong Yein memutuskan untuk menaiki bus sampai ke rumah.

Gadis itu berjalan, sesekali menendang kerikil kecil yang menghalanginya, sekedar untuk mengurai rasa bosan. Hingga ia merasakan seseorang (atau mungkin sekelompok orang) sedang mengikutinya dari belakang. Yein semakin mempercepat langkah kakinya, mencoba untuk menjauh dari orang-orang tak dikenal tersebut. Bisa saja mereka sekelompok perampok yang akhir-akhir ini sering dibicarakan di televisi—

“Ya ampun, Aku harus cepat—”Kedua tangannya memegang erat benda persegi panjang tersebut, berusaha menemukan nomor kontak Jungkook dengan segera mungkin, dan menelpon laki-laki itu. Masa bodoh dengan rasa gengsinya, kali ini Yein lebih ketakutan.

Yein berhasil menemukan kontak Jungkook dan memencet tombol hijau, akan tetapi sejemang kemudian, gadis itu merasa kepalanya dihantam oleh benda tumpul dengan cukup keras dan semuanya menjadi gelap.

Dia tahu bahwa kondisinya tidak sedang baik-baik saja. Seseorang dengan lancang telah mengikat tubuhnya, bahkan memplester mulutnya supaya Yein tidak banyak-banyak protes. Tas selempang serta ponselnya entah dimana—beruntung pakaian Yein masih lengkap—.

“Oh? Kau sudah sadar, eh? nona Jeong Yein.”

.

.

.

To Be Continued

(finished on 2016 January 16th, 09.28 PM)

.

.

.

A/N:

Ngomong-ngomong, saya sedang ingin mencoba membuat fic relationship antara pelayan – majikan dan langsung kepikiran Jungkook – Yein buat jadi maincastnya /makan krabby patty/. Dan, walla, jadilah fic ini /claps/

Sebenarnya niat mau bikin fic ini jadi oneshoot, biar langsung tamat gitu—eh, malah jadinya kepanjangan dan well, plotnya sedikit aneh dan…sama sekali tidak jelas, orz. Bahasanya juga berantakan sekali ;~; /mojok/ dan di bagian satu ini actionnya belum kerasa ya /emang/ dan kiranya momen Jungkook – Yein bisa disimpan buat bagian akhir nanti ;;) /dikemplang/

Terakhir, shalom!

Advertisements

33 thoughts on “Faithfulness (1/2) [Twoshoots]

  1. Pliz intronya.. datarnya jangan dijelaskan entar malu tujuh turunan wkwkwkw :v
    Ini lagi asik-asik baca ketemu tbc.. kezel :v
    Pokoknya ditunggulah part terakhirnya. Fighting fighting fighting~^^

    Like

  2. tipilllll

    Akh gregetan😭😭😭😭 coba ada mesin waktu, langsung cus ke pt2😂😏
    Btw, kirakira pt 2nya kavan ni💜💘
    I really love it. Semangat!💜💜💜

    Like

  3. azeleza

    Iii, parah sih inii aku baca pas baru banget bangun tidur :3 ❤
    Yeinnya dpt bgt jd nona nona orang kaya yg bawel2 gmn gitu huee, trus Kookie jg cocok /?/ jd butler hiiii para si para siii onyeeo. Iya Yein iya, kamu suka Kuki kan? Aku ngerti kok perasaan kamu #sokTahu wkwkwkkwwk
    Truuus, bahasanya berantakan…DIMANANYA? Ini ngalir gitu aja di otak lemot aku yg baru bangun tidur :”) Rito kece paraaaaaah ❤

    Ditunggu action dan momen onyeo Yein Kuki nyaaa~ Mach luuuv ❤

    Like

    • elap dulu ilernya kak :3 /dibuang/
      ih, aku pas bikin ini beneran ngebayangin yein jadi nona nona bawel yang sassy2 loh /trus?/ jeka jadi butler aku melayang-layang /apasi/. Yein gengsinya kelewat gede, kak, jadinya dia gak mau ngaku kalau suka sama jeka, wqwqwqwq.
      dan–ya ampun, terimakasih banget ;~; soalnya aku pas bikin ini macem agak ragu mau beneran di posting apa enggak gegara eyd , yang (menurutku) masih banyak berceceran, orz.

      yeeey! semoga bisa diposting sesegera mungkin X3 terimakasih (lagi) kak azel karena sudah mau baca ❤

      Liked by 1 person

    • kuki aja gak peka sama aku 😦 /gak/ jungkook suka sama gajinya yang dapet dari keluarganya yein XD /dilempar/
      senyebelin apapun yein, tetep kuki peduli.. iya, kuki peduli kok, sama gajinya :’) /udahwoy/

      yey! terimakasih sudah mau baca walaupun sejujurnya fic ini masih banyak kekurangan ;~; bagian duanya sesegera mungkin akan di posting 😀

      Like

  4. Aihara

    Ini cerita bertemakan anti-mainstream dengan pairing Jungkook-Yein><
    Jadi semangat bacanya 😀
    Yein itu bilang Jungkook ‘ngga peka’ mengenai perasaan bukan?? /maap aku juga ngga peka/
    Duh itu yang nyulik Yein siapa? kayanya kenal gitu ya
    Penasaran pake banget:3 ditunggu chapter keduanya^o^

    Like

    • uwaaa, terimakasih ;~; walaupun sebenarnya cerita ini masih banyak kurangnya /dlosor/
      nah, jungkook memang gak peka dalam segala hal XD /ditampar jeka/
      hayooo, enaknya siapa yang nyulik yein yaa? /dibunuh/ yosh! semoga chapter dua bisa diposting sesegera mungkin 😀

      Like

  5. imeirianp

    Yein sempat beberapa kali memberi makanan kepada kucing di jalanan. wkwkwk lucu bgt. Btw gak tau kenapa,, kyknya yein x kookie best pairing di ff manapun. Udh jodoh kalee ya 😀
    ditunggu next chap 2 nya

    Like

  6. yein memang lucu dan menggemaskan, huhu ;~; /tiarap/
    yeinkook jodoh di mata saya dan anda sekalian :’) /apasih/ ngomong2 krucil berdua ini main otp saya di banglyz /iya terus?/ wkwk

    terimakasih sudah mau baca 😀 bagian duanya sesegera mungkin akan diposting 😀

    Like

    • DEMI APA AKU BARU BACA KOMENNYA INI :”””) haloo anas, huhuhu. ugh, kuki jadi butler… saya bikinnya aja sesek napas :’) wkwkwk

      HUWAAA, ABIS NGEBACA KOMENMU JADI TERPACU BUAT NGEPOST PART DUANYA T-T HUHUHU, MAKASIH LAGI NAS :”D

      Liked by 1 person

  7. AAAAAAAAAA sumpah suka binggo sama couple ini.
    Itu Yeinnya diculik kaaah? huhuu kasiaaan. Semoga dia gak diapa-apain sampe kuki datang jadi pahlawan kekekeke.

    hiksss ini kapankah part 2 dipost? terlanjur penasaraaaaan.

    Liked by 1 person

    • haloo, justneno 😀 ugh, makasih sudah baca kisah mendramatisir yang receh ini ;~; /sungkem sama yoongi/ iya, dek yeinnya diculik sama orang :”]
      untuk part dua sekarang lagi dalam tahap penggarapan ulang gegara file nya dulu ilang kena virus :”””) jadi mohon menunggu ya ;~; /dilempar/

      sekali lagi, makasih sudah mau baca :”D

      Like

      • ini tidak receh sama sekaliii author-nim 😀

        uwaaa turut berduka cita atas virus yang menyerang laptopmu author-nim, semangat yaaaa garap part duanya, hehehehe

        Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s