[Freelance] Little Girl

mndndkdnf

Title : Little Girl

Author : annisa aprilianti

Main Cast : Lovelyz’s Kim Jiyeon | EXO Oh Sehun

Other Cast : find by yourself

Genre : school life,romance

Length : oneshoot

Rating : Teenager

.

Disclaimer : All story 100% is mine

dilarang copy paste say. susah bikinnya T_T

.

sorry for typo!!!

[][][][]

 

Kei pov

“sujeong-ah, cepatt”

Aku merengek memintanya untuk segera kembali ke kelas karena sebentar lagi jam istirahat habis, tapi ia tetap tidak bergeming dan seolah mengacuhkanku. Bagaimana tidak, nam taehyun, sunbae kami yang ia sukai sedang mengajaknya berbicara.

“jiyeon-ah, kau duluan saja ke kelas. Arra?”

Aku memutar bola mataku, tak perduli lagi aku langsung menarik tangannya untuk segera pergi dari sini.

“YA! Kim jiyeon!”

“jangan banyak bicara, sujeong-ah! Sebentar lagi pelajaran di mulai..”

Aku mempercepat langkahku, tapi sujeong memanggilku lagi.

“Kim Jiyeon!”

“Sudah ku bilang jangan banyak bicara!” bentakku tanpa menoleh ke belakang.

“kau mau membawaku kemana, anak kecil?”

Suara berat ini membuatku berhenti berjalan, dan refleks menoleh ke belakang, oh sehun Sunbae, bukan ryu sujeong. Sujeong yang ada di belakang sehun sunbae melotot ke arahku. Aku refleks melepas genggaman tanganku dengan tangan sehun sunbae.

“Dasar bodoh!” bentak sujeong padaku. Aku memang benar benar bodoh.

“jeosonghamnida, Sunbae. Jeosonghamnida”

Aku mengutuk tindakan memalukan yang baru saja aku lakukan ini, membuatku malu. Mungkin juga membuat sehun sunbae merasa malu, tapi kurasa tidak, ia tetap menunjukkan senyumnya.

“jeosonghamnida, sunbae. Maafkan temanku ini.” sujeong ikut meminta maaf dan menundukkan kepalanya, sama sepertiku.

“gwenchanna..” jawabnya enteng.

“kau, lain kali lihat dulu sebelum kau menarik orang ya” ia menunjukku dengan tatapan gemas.

“jeosonghamnida sunbae..” kataku lagi saat ia berlalu meninggalkan kami berdua. Sujeong menghampiriku lalu menoyor kepalaku. “Dasar bodoh!” ucapnya, lalu menarikku ke kelas.

[][][][]

 

Sesampainya di kelas, aku duduk ke kursi. “ini semua salahmu, bodoh!” umpatku pada sujeong yang sedang duduk manis di sebelahku ini. Ia menoleh dan mengeryitkan dahinya.

Meskipun waktu istirahat telah selesai, tapi Seonsaengnim masih belum juga datang. Jadi masih ada waktu untukku melimpahkan kesalahanku pada yeoja di sampingku ini.

“Kau sendiri yang menarik tangan Oh sehun sunbae, kenapa kau menyalahkanku?” elaknya. Aku pasti sudah menyangkal perkataannya tadi kalau saja seonsaengnim belum masuk ke kelas.

Aku melirik jimin sekilas, namja yang pernah menjadi kekasihku ini menjadi pairingku untuk tugas karya ilmiah yang diberikan seonsaengnim kali ini. Aku hanya memastikan apa ia membawa alat yang diperlukan sesuai dengan instruksiku.

Jimin yang tidak sengaja menangkap lirikan mataku dari ekor matanya kini menatapku dan mengisyaratkan ‘tenang saja aku membawa semua yang kau perintahkan’. Aku sangat tahu, ia pria yang dapat dipercaya.

“Sekarang bergabunglah dengan pasangan masing-masing, dan mulai buat karya ilmiahnya!” perintah seonsaengnim. Aku dengan terpaksa mendekat ke arah di mana jimin duduk sekarang, karena mejaku dipakai Sujeonh dan hyeri.

Sebenarnya sudah 2 bulan ini aku mati-matian menghindar dari jimin, agar tidak ada banyak kontak di antara kami, dan juga agar aku cepat melupakannya. Tapi entah mengapa seonsaengnim-seonsaengnim di sekolahku  seolah ingin menjadi cupid yang selalu menyatukan kami berdua di setiap tugas kelompok. Oh hell, apakah neraka pindah ke bumi?

“kita mulai darimana?” katanya sesaat setelah aku memposisikan diriku dengan nyaman di bangku sebalah jimin.

aku menatapnya datar. “tentu saja kita mulai dari bab I, tidak lucu kalau langsung bab III dan penutup.” Jawabku sekenanya, membuat ia terkekeh.

“ayo mulai kerjakan!” ia menghentikan tawanya, lalu tersenyum padaku.

Senyumnya masih sama seperti saat dulu kami bersama. Jimin-ah, jangan buat aku jatuh lagi terhadapmu.

[][][]

 

“lelah sekali yaa.. akhirnya kita bisa pulang ke rumah setelah seharian suntuk terpaku di sekolah ini” dapat kulihat dari ekor mataku sujeong sedang membereskan buku-buku yang berserakan di meja kami. Aku tersenyum tanpa mengalihkan fokus pandanganku dari buku-bukuku yang sedang aku masukkan ke dalam tas ini.

“ayo kita pulang” kataku saat memastikan semua sudah masuk ke dalam tasku dengan rapih, juga memastikan kalau sujeong juga sudah selesai dengan buku-bukunya itu.

“kajja! Aku sudah sangat lelah!” katanya sambil menyambut tangan yang sedari tadi kuulurkan padanya. Kami melangkah meninggalkan kelas yang sudah kosong.

aku menghentikan langkahku, dan menahannya dengan tanganku supaya tidak berjalan lagi. “tunggu sebentar!”

“kenapa?”

“ada sehun sunbae disana, kita lewat sana saja, aku masih malu dengan kejadian tadi pagi itu, arra?” sujeong terkekeh, apa ia senang kalau sahabatnya ini sedang menahan rasa malu yang teramat sangat sejak insiden itu tadi pagi? Benar-benar..

“ayolahh.. kita lewat sana saja, sujeong-ah” aku semakin merengek padanya, bahkan aku menunjukkan puppy eyes-ku yang hanya bisa dinikmati terbatas pada kalangan tertentu saja (?)

“tapi, aku ingin melihat taehyun sunbae, kalau kita lewat sana kita..”

“jebal..” potongku cepat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, lalu menariknya untuk pergi. Aku tidak perduli dengan penolakan apapun yang ia lakukan terhadapku. Aku kejam bukan?

 

[][][][]

 

Author POV

“eungh.. jimin mati kau!” kei mengumpat jimin karena namja itu sudah dengan tega menyuruhnya ke perpustakaan yang terletak di lantai 2 untuk mengambil bertumpuk-tumpuk buku untuk referensi karya ilmiah mereka. Buku-buku itu terlalu berat untuk dibawa seorang wanita. Harusnya jimin yang kemari dan mengambil buku-buku ini, tapi ia malah duduk manis di sana dan mengetik latar belakang karya ilmiah yang tidak menguras tenaga seperti ini, batin kei.

Langkahnya terhenti karena ia melihat sepasang kaki yang menghalangi langkahnya. Ah, mungkin park jimin, pikir kei. Tumpukan buku yang ia bawa sekarang sudah menghalangi pandangannya untuk memastikan siapa pemilik kaki tersebut.

“kau anak kecil yang menarik tanganku waktu itu kan?”

‘matilah aku’ pekiknya dalam hati, kei sudah bisa menebak siapa yang sedang berada di depannya ini tanpa melihat wajahnya sekalipun. Dan jelas, tentu orang yang di depannya ini bukanlah jimin.

“a..annyeonghaseyo oh sehun sunbae..” katanya berusaha tenang, padahal dalam hatinya sekarang sedang bergumul berbagai perasaan, cemas, takut, malu, dan sebagainya. Ia takut sehun akan mempermalukannya di depan banyak siswa sebagai bentuk balas dendamnya atas insiden memalukan itu.

“tenanglah., aku bukan tipe orang yang pendendam” katanya dengan gummy smile yang bisa membuat orang di sekitarnya ikut tersenyum. Sehun seolah bisa menebak apa yang sedang dalam pikiran kei sekarang.

Tiba-tiba sehun mengambil lebih dari separuh bagian dari tumpukan buku yang sedang kei bawa, “sini biar aku bantu..” syukurlah, ternyata sehun sunbae orang yang baik, batin Mingi.

“gamsahamnida, sunbae..” katanya yang hanya dibalas dengan senyuman oleh sehun.

“oiya, anak kecil-…”

“aku bukan anak kecil” potong kei. Sejak insiden kemarin sehun menyebutnya anak kecil terus-menerus.

“yak! Tidak sopan memotong pembicaraan, aku baru mau menanyakan namamu!” sehun menaikkan nada bicaranya ½ oktaf (?)

“ah, arraseo, jeosonghamnida..” kei menunduk malu. Ia sudah memberikan image buruk terhadap sehun tentang dirinya.

“aku tak butuh minta maafmu, aku hanya ingin tahu namamu!” jawab sehun ketus. Membuat kei yang berjalan dibelakang memutar bola matanya.

“aa~ Kim Jiyeon imnida..”

“Kim jiyeon, eumm.. nama yang bagus” jawab sehun sambil terus berjalan di depan kei. Tanpa sadar, sehun telah berjalan melebihi posisi pintu kelas kei.

“Sunbae.. ini kelasku..”

Sehun yang sudah berada di depan berbalik dan mengekor kei untuk masuk ke dalam kelas. Sepi. Hanya ada satu orang, Park jimin.

“gamsahamnida, sehun sunbae” kei membungkukkan kepalanya setelah meletakkan buku-buku itu di dekat meja jimin. Sehun melirik sebentar ke arah jimin. tersenyum, lalu pergi.

Jimin yang menyadari bahwa kei datang tidak sendiri sontak mendongakkan kepalanya, mengalihkan fokusnya pada seseorang yang datang bersama kei. Berjuta pertanyaan berkumpul di kepalanya.

“kenapa kau memandangiku seperti itu?” jimin terkesiap, ia ketahuan sedang melihat kei dengan ekspresi yang berbeda.

“….” jimin tidak menjawab karena gugup, ia hanya mendelikkan bahunya dan kembali memandangi layar laptopnya.

 

[][][][]

 

Kei menendangi kerikil-kerikil tak berdosa yang berserakan di jalan untuk menghilangkan rasa bosannya. Tak seperti biasanya, hari ini pulang sendiri, sujeong yang biasanya pulang bersamanya kini tidak bisa lagi menemani perjalanan pulangnya. Taehyun sunbae dan sujeong sudah berpacaran, tentu saja sekarang sujeong akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan taehyun daripada dengan kei.

“hssss…” kei mendesis. Mungkin dulu saat kei berpacaran dengan jimin, sujeong juga merasakan hal yang sama. sama-sama kehilangan sosok sahabat, karena sahabatnya itu sudah mempunyai kekasih.

“Hey kau!” seseorang berteriak di belakang kei, kei tidak menoleh. Ia tidak merasa dipanggil.

“Hey, kau…” Kini orang itu sudah berdiri sejajar dengan kei, mau tak mau kei menoleh, didapatinya sehun sedang tersenyum ke arahnya. Sehun sunbae tadi memanggilku? Tanya kei pada dirinya sendiri.

“sunbae memanggilku?” tanya kei polos, sehun tertawa.

“tentu saja aku memanggilmu, memang siapa lagi?”

“tapi sunbae tidak memanggil namaku, aku pikir…”

Gadis ini polos sekali, pikir sehun.

“ah, terserah kau saja..”

“Sunbae ada apa memanggilku?” tanya kei sambil melanjutkan langkahnya, tapi kali ini ia sudah menghentikan kegiatannya menendang kerikil tak berdosa di jalan. Ia takut, kalau kerikil itu akan mengenai sehun nantinya.

“tidak ada apa-apa, hehe. Tapi kita sama-sama sedang dicampakkan oleh dua umat manusia yang sedang jatuh cinta itu kan?” kei berpikir sedikit, lau tersenyum mengerti siapa yang di maksud oleh sehun.

“taehyun sunbae dan sujeong?” sehun mengangguk.

“Sehun sunbae kenapa pulang sendiri, tidak punya kekasih?” tanya kei to the point, membuat hati sehun sedikit tertusuk.

“tidak, kekasihku hanyalah taehyun seorang, tapi kini ia…” sehun menerawang, berakting seperti orang yang sedang dicampakkan oleh kekasihnya, tangannya memukul mukul dadanya. Membuat kei terkekeh. Baru sebentar mereka mengenal satu-sama lain, tapi sudah bisa terhanyut dalam percakapan yang panjang ini.

“pantas saja, dasar bujang lapuk hihihi” ejek kei pada sehun, tapi dengan suara yang tidak terlalu keras.

“tadi kau bilang apa?” mata sehun menyipit, ia merasa kei sudah mengatainya.

“bukan apa-apa!” jawab kei, ia menunjukkan smirknya.

“pembohong!”

“tidakk! Aku tidak berbohong sunbae..” kei tertawa dalam hati. Maafkan aku sunbae, tapi aku memang berbohong.

Tidak ada satupun dari mereka yang berminat meneruskan percakapan tersebut. Mereka melangkah dalam diam, sesekali sehun menoleh ke arah kei lalu tersenyum, begitupun sebaliknya.

‘gadis ini manis juga’ pikir sehun yang sekarang sedang mengamati gerak-gerik kei. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Sehun berpikir lagi, begitu cepat baginya untuk menilai seseorang. Tapi entah mengapa, Chanyeol tetap saja memandang kei.

Kei yang merasa sedang diperhatikan menoleh, membuat sehun terkesiap dan mengalihkan pandangannya. Ia tak terlalu memikirkan kenapa sehun memperhatikannya seperti itu. Kei kembali fokus ke depan, sebentar lagi ia akan berbelok agar sampai ke rumahnya.

“di mana rumahmu?” sehun memulai pembicaraan lagi.

“di perempatan itu, aku belok ke kanan, rumah nomor 4, sebelah kiri jalan. Kenapa?” jawab kei.

“whoa.. berarti sebentar lagi kita berpisah. Kau belok kanan, dan aku tetap berjalan lurus. Lain waktu, boleh aku mampir ke rumahmu?”

“tentu, aku akan dengan senang hati menyambutmu.” Jawab kei. Sekarang mereka sudah sampai di perempatan jalan.

“jiyeon-ah annyeong”

“Annyeong sunbae” kei melambaikan tangannya ke arah sehun sunbae yang sudah meninggalkannya. Kei berbelok dan melanjutkan perjalanan pulangnya.

 

[][][][]

 

Baru saja tugas karya ilmiah selesai, kini Han seonsangnim memberikan tugas lain yang juga harus dikerjakan secara berpasangan. Presentasi tentang keadaan geografis dan iklim yang terjadi di sana, adalah tugas yang harus di kerjakan oleh seluruh siswa di kelas kei dan sujeong. Tapi tugas kali ini tidak untuk dikerjakan di sekolah, tapi di kerjakan di rumah.

Sujeong yang biasanya tampak bermalas-malasan bila di beri tugas oleh Han seonsaengnim, kini nampak tenang. Kei sedang gelisah, berdoa pada tuhan, semoga ia tidak di pasangkan dengan jimin lagi. Hatinya sudah cukup menderita karena sejak kemarin jimin dan dirinya selalu mengerjakan tugas bersama hanya berdua saja, dan itu sukses membuat jatung Mingi berdetak 3x lebih cepat dari biasanya.

“Sujeong dengan taehyung, Nara dengan yunhyeong, dan yang terakhir…”

Mati aku! Jerit kei dalam hati, tanpa harus mendengarkan lanjutan kalimat Han seonsaengnim-pun kei sudah tahu kalau ia-lagi lagi- dipasangkan dengan jimin.

“Seonsaengnim.. boleh aku bertukar pasangan?” tawar kei, ia melirik jimin yang tampak tenang-tenang saja. Han seonsaengnim mendelik.

“tidak ada penolakan Kim Jiyeon!” jelas Han seonsaengnim, membuat kei menggembungkan pipinya dan pasrah..

“anggap saja ini jalan untuk membuat kalian berdua kembali berpacaran” canda Han seonsaengnim yang sukses membuat seisi kelas berteriak riuh, juga sukses membuat pipi kei merah merona dan bersinar (?)

“sujeong-ah biarkan aku bersama taehyung ne?” rengek kei pada teman sebangkunya ini, dengan suara yang lirih agar tidak terdengar oleh seonsaengnim. Sujeong menggeleng tegas.

“jangan pernah coba-coba untuk menukar pasanganmu, kim jiyeon” kata Han Seonsaengmin tegas. Memberi peringatan. Ternyata Han seonsaengnim masih bisa mendengar suara kei meskipun ia mengatakannya dengan suara yang pelan.

“arraso, Han ssaem..” jawab kei lemah.

“kau yang sabar ya, jiyeon-ah” sujeog menepuk pundah kei yang tidak bersemangat, ia bermaksud memberi kei semangat tapi yang ada malah, sujeong telah memperburuk mood kei.

 

[][][][]

 

“hai anak kecil!” sapa sehun kepada kei. Kei sedang mengekor sujeong yang ingin bertemu taehyun.

Kei memutar bola matanya, harus berapa kali ia harus mengatakan kalau namanya Kim Jiyeon?

“hai bujang lapuk!” balas kei. Sehun melotot.

“yak! Aku bukan bujang lapuk” sehun membuang muka, begitu juga kei.

“oppa, aku lapar..” rengek sujeong pada taehyun. Kei dan sehun yang mendengar rengekan sujeong pada taehyun itu langsung berpura-pura ingin muntah.

“kenapa? Kalau kalian iri, pacaran saja sana!” hardik sujeong pada dua manusia di depannya ini. Lalu menarik taehyun pergi meninggalkan kei dan sehun yang sedang saling pandang dengan pandangan ‘aku? Kau? Pacaran? Iyuuuhhh-___-‘

“aku lapar.. cepat pesankan makan!” perintah seorang sunbae pada juniornya itu.

“memang aku siapamu? Pesan saja sendiri!” jawab kei sambil berlalu meninggalkan sehun.

“YAK! Aku ini sunbae-mu!”

“arraso..” kei memilih mengalah daripada harus terlibat dalam pertengkaran mulut dengan sehun.

“gomawo, jiyeon-ah” kata sehun senang sambil menatap makanan yang terhidang di depannya. Kei tertawa lalu duduk di sebelah sehun.

Di depan kei dan sehun duduk taehyun dan sujeong. Meskipun mereka tahu kalau kehadiran mereka berdua berpotensi mengganggu ketenangan dan kemesraan dua insan (?) yang baru saja berpacaran ini, tapi..

Tapi sebenarnya, itulah tujuan mereka duduk di depan taehyun dan sujeong. Hihihi.

“sepertinya  kau sangat bahagia hari ini, taehyun-ah. Tidak seperti hari-harimu yang kau habiskan bersamaku dulu..” kata sehun dramatis. Sehun menatap taehyun dalam-dalam, membuat taehyun bergidik ngeri.

Sementara itu kei tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di sekitarnya, ia sangat lapar. Apa yang terjadi di sekitarnya ia tak perduli. Ketika tangannya bergerak untuk mengambil sumpit, tanpa ia ketahui tangan sehun juga bergerak menuju sumpit itu.

Kei sudah menggenggam sumpit itu di tangannya, namun belum sempat tangannya terangkat, tangan sehun sudah menempel di tangannya.

Sehun menatap kei, begitu pula sebaliknya. Mereka diam untuk waktu yang cukup lama. Merasakan sensasi kulit mereka yang bersentuhan. Dan seolah enggan menarik tangan mereka masing-masing.

“ehemm..” taehyun berdeham merusak suasana, membuat kei dan sehun terkesiap dan kembali sadar.

Kei menarik tangannya cepat, sehun menggeleng-gelengkan kepalanya. Meruntuki apa yang terjadi barusan. Sujeong tak kuasa menahan tawanya.

Satu lagi insiden memalukan yang terjadi bersama sehun..

 

[][][][]

 

“anak kecil! Tunggu aku!” sehun mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena ia harus berlari agar bisa menyamakan posisinya dengan kei.

Kei memutar bola matanya. Ia tidak menoleh meskipun ia tahu, sehun sedang memanggilnya.

“aku bosan”

“lalu?” jawab kei, ia sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan yang sehun lontarkan padanya. Lagipula ia tidak mau lama-lama berurusan dengan sehun. Second-insiden tadi membuat otaknya sedikit tidak beres. Kei terus memikirkan sehun.

“temani aku jalan-jalan..” pinta sehun. Kei membelalakkan matanya.

“tapi…” ingin sekali kei menolak permintaan sunbaenya ini, tapi belum sempat ia menolak, sehun sudah menarik tangannya untuk segera pergi mengikutinya. Sepertinya dia harus menerima segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi karena berada dekat dengan sehun dalam radius kurang dari 1 meter. Mungkin akan membuat jantungnya bekerja tak seperti biasanya.

“aku tak mengenal kata penolakan, maka ikuti aku saja, ne?” kata sehun sambil terus berjalan dan menggenggam erat tangan kei. Untung saja sehun sedang menatap lurus ke depan, kalau tidak tentu kei harus pintar-pintar berkamuflase agar senyum dan rona merah di pipinya tidak terlihat.

Satu konsekuensi yang sudah dia terima di satu menit kebersamaannya bersama sehun adalah, rona merah di pipi juga debaran jantung yang labil itu.

 

[][][][]

 

Kei dan sehun berjalan beriringan di taman kota. Sehun di sisi kanan, dan kei di kiri Chanyeol. Bahkan tanpa mereka sadari, mereka belum melepas tautan tangan mereka. Sepertinya mereka merasa nyaman, berjalan dengan pertautan tangan seperti itu.

“eomma.. hyung dan noona itu serasi sekali. Kalau aku besar nan……”

Kei dan sehun terkesiap. Mereka kembali ke alam bawah sadar mereka. Sekarang otak mereka yang bekerja, bukan hati mereka lagi.

Pertautan tangan yang tadi terjadi kini terlepas. Mereka memalingkan wajah mereka saling berlawanan. Gugup. Satu kata yang bisa mendiskripsikan perasaan mereka sekarang.

Jarak merekapun menjauh, saat tangan mereka tidak lagi bertautan, mereka melangkah menjauh. Satu langkah ke kanan, satu langkah ke kiri. Membuat anak kecil yang tadi memperhatikan mereka mengeryit.

“eomma, mengapa kakak itu jadi saling menjauh? Bukankah mereka berpacaran?” tanya anak kecil itu polos, eommanya hanya tersenyum. “kau masih terlalu kecil..”

Mendengar penuturan anak kecil itu, kei dan sehun saling berpandangan. Berpacaran? Bahkan kata itu sama sekali belum pernah terlintas di otak mereka. Lalu mereka saling tertawa kikuk. Menertawai diri mereka sendiri. entah mengapa.

[][][][]

 

Kei menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hatinya terasa lelah. Berjalan dengan sehun tadi tidak lebih melelahkan daripada mengatur deru nafasnya, detak jantung dan pipinya agar tidak menampakkan warna merah di depan sehun. Ia heran, kenapa ia bisa seperti ini? Mungkin sentuhan tangan sehun di kantin tadi di terima oleh tubuh kei sebagai ‘nikotin’ yang mulai membuatnya kecanduan, buktinya ia bahkan tidak sadar bahwa sepanjang perjalanan dari sekolah sampai suatu saat di mana seorang anak ‘menyadarkan’ mereka atas apa yang sedang mereka lakukan, bergandengan tangan.

Ponselnya berbunyi. Tanda ada pesan singkat yang masuk di ponselnya. Oh Sehun sunbae, itulah nama yang sedang ingin ia lihat di layar ponselnya, entah mengapa. Ia juga tak tahu, kenapa ia begitu ingin mendapat sebuah pesan dari sunbaenimnya itu.

Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja samping ranjangnya. Senyum yang tadi terkembang di bibirnya kini sedikit pudar ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

‘Park Jimin’

Sudah lama dia tidak melihat nama itu di daftar inbox-nya.

– Aku hanya ingin memastikan kau tak lupa dengan tugas kita. Siapkan PC dan banyak cemilan besok, arra? Kita kerjakan tugas kita di rumahmu..

Kei menepuk dahinya. Ia bahkan sampai lupa kalau ia masih punya hutang tugas yang harus ia kerjakan dengan jimin. mulai detik ini ia bertekat, tidak lagi-lagi memikirkan sunbae yang tidak lebih penting dari tugas sekolahnya ini.

“Jiyeon-ah turun dan makanlah…” eomma kei berdiri di ambang pintu kamarnya, hanya untuk memberi tahu anaknya itu untuk segera makan.

Kei mengangguk, “sebentar eomma” ia akan membalas pesan jimin dulu sebelum turun ke ruang makan.

“pesan dari siapa? jimin-ie?” tanya eommanya setelah melihat kei sedang membalas pesan seseorang.

Kei mengangguk. Eommanya sudah sangat hafal dengan jimin. bagaimanapun, dulu jimin adalah pacar anaknya anaknya. Sudah sepantasnya eommanya hafal dengan jimin.

“kalian….”

“tidak!” sangkal kei cepat, ia sudah bisa menebak apa yang akan eommanya katakan.

Eommanya mengerling nakal, mengira kalau putrinya sedang berbohong, padahal kei sedang tidak berbohong. “baiklah, eomma dan appa menunggumu di bawah, arra?”

“ne…” jawabnya singkat. Ia masih fokus menyentuh layar ponselnya.

[][][][]

“annyeonghaseyo eomonim…” sapa jimin saat pintu rumah kei dibukakan oleh eomma kei.

“Jimin-ah aigoo, kau tambah tampan sekarang.. ayo masuk..” pintu rumah kei terbuka lebih lebar lagi, jimin melangkah masuk, tak lupa ia membungkuk kan kepalanya sebentar kepada eomma kei.

“kau sudah lama tak berkunjung kemari. Wae?” pertanyaan ini sukses membuat jimin teringat kebersamaannya dulu bersama kei. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa dia masih tidak bisa melupakan kei dari otaknya. Dulu ia sering berkunjung kemari, tapi sekarang tidak lagi.

“eomonim kau kan tahu, kami sudah berpisah…” kata jimin lirih.

“jimin-ah, kau sudah datang?” kei turun dari lantai atas sesaat setelah ia mendengar tanda-tanda kalau jimin sudah datang. Jimin sontak menoleh ke arah kei.

Jimin menatap takjub ke arah kei. Ia teringat akan masa lalunya. Saat kei turun dari kamarnya dan hendak menemui jimin yang sudah menunggunya dibawah karena jimin ingin mengajaknya pergi, dulu. tapi satu hal yang tidak berubah dari kei, ia masih menapakkan pesona yang sama.

“ah, baiklah.. selamat belajar!” eomma kei berlalu meninggalkan kei dan jimin yang sedang berada di ruangan khusus untuk belajar di samping ruang tamu yang hanya dibatasi oleh sekat dari kaca transparan.

“baiklah.. kita mulai dari mana?” tanya kei pada jimin.

“….” tidak ada jawaban. Jimin sedang memandangi toples toples berisi cemilan kesukaannya yang selalu kei sediakan untuknya dulu saat mereka masih berpacaran. Rumah ini membawa banyak kenangan tentang hubungan mereka di masa lalu.

“Jimin-ah” kei mengerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, bermaksud menyadarkan lamunan jimin.

“kau……bahkan masih mengingat cemilan kesukaanku…” kata jimin, tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang tadi kei tanyakan padanya. Membuat kei terdiam.

“ne.. karena aku tak berniat melupakannya..” jawab kei tiba-tiba. Jimin menatap kei yang sedang menunduk lekat-lekat. suasana diantara mereka menjadi canggung.

“baiklah.. kita mulai tugas kita dari sini saja…” jimin tidak mau terlarut dalam suasana yang tidak begitu nyaman di antara mereka. Ia mengeluarkan sebuah notes kecil dari tasnya. dan inilah hal yang membuat kei begitu menyukai jimin dulu, jimin adalah tipe orang yang mempersiapkan apapun dengan rinci, ia akan selalu membawa notes kecil kemanapun ia pergi. Ia akan mencatat hal-hal penting yang ia temui.

[][][][]

 

“Jiyeon-ah” panggilan eommanya membuatnya berhenti menatap layar laptopnya.

“apa?” jawab kei setengah berteriak, tapi sukses membuat telinga jimin tidak nyaman. Jimin menatap tajam ke arah kei. Kei hanya bisa menunjukkan ‘Vsign’nya.

“ada temanmu berkunjung.. silahkan masuk…” kei bisa mendengar eommanya sedang mempersilakan masuk tamu itu. Kei mengintip dari tempatnya ia berada sekarang.

“Kim Jiyeon annyeong”

Kei tersenyum kikuk saat ia tahu, Oh Sehum yang datang ke rumahnya. Ada jimin di rumahnya, ia takut sehun akan merasa tidak nyaman.

“Sunbaenim…” kei menghampiri sehun yang berdiri tak jauh dari sofa ruang tamunya. Lalu ia mempersilahkan sehun untuk duduk.

“siapa dia?” sehun melihat seseorang di ruangan tempat kei belajar.

Kei gugup, ia bingung.

“a… itu…aku sedang….mengerjakan tugasku dengan jimin..” jawabnya terbata-bata. Jimin mendengus kesal di sana.

“sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat.. kau selesaikan dulu tugasmu bersama dia..” kata sehun bijak. Seperti biasa, ia tersenyum.

“arraso..” jawabnya sambil berjalan menuju jimin. membuat jimin tersenyum lega. Kalau boleh jujur, ia cemburu melihat kei bersama sehun.

Jimin dan kei sedang asik berkutat dengan tugas mereka, sesekali jimin mencomot cemilan yang ada di toples. Sementara sehun, ia sedang melihat-lihat foto yang ada tertempel di dinding juga yang ada di rak untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyesap jus jeruk yang tadi dibawakan oleh eomma kei sesaat setelah kedatangannya.

Sehun mengeryitkan dahinya ketika dilihatnya foto jimin dan kei berdua, tampak sangat dekat. Membuat hatinya terasa berbeda, ada perasaan takut yang mendera. Takut kalau kei sudah dimiliki oleh jimin, dan ia tidak bisa bersama kei lagi. Sepertinya sehun cemburu.

Ia cepat-cepat menampik pikirannya tadi. Bagaimanapun ia baru tempo hari mengenal Mingi.

“kalian berdua berpacaran?” tanya sehun. ia menujukkan foto kei dan jimin. ia berharap itu semua tidak benar.

Kei pun langsung menoleh, dan tergugup. Ia takut sehun akan marah.

“iya.. kami berdua berpacaran” jawab jimin mantap. Membuat kei terlonjak, bagaimana bisa jimin masih menganggapnya sebagai pacar.

“tidak! Dulu kami berpacaran, tapi sekarang tidak lagi” sangkal kei. Sehun mengangguk mengerti, ia membentuk bibirnya ‘o’. Kei menunduk, ia berharap sehun akan menunjukkan ekspresi yang berbeda dari apa yang sehun tunjukan sekarang. Ia hanya bisa berharap.

Sehun merasa lega, kesempatan untuk memiliki kei masih terbuka. Tapi mengingat dan melihat seringnya kei dan jimin mengerjakan tugas bersama bukan tidak mungkin kei dan jimin masih memiliki perasaan untuk satu sama lain. Mungkin ini akan menghambat langkah sehun untuk mendapatkan kei.

Sehun tersadar lagi, tidak sepantasnya ia begini. Ia baru beberapa hari yang lalu dekat dengan kei, mungkin perasaan yang ia rasakan sekarang bukan rasa cinta.

Atau.. memang rasa cinta? Siapa yang tahu?

 

[][][][]

 

Sedikit lagi, tugas yang di kerjakan kei dan jimin akan selesai. Hanya perlu bagian penutup dan sedikit koreksi, mungkin ada tulisan yang salah atau kurang rapi. Jimin memperlambat kerjanya, berniat mengulur waktu agar kei ada di sisinya lebih lama, dan tidak segera menemui lelaki itu, Oh sehun.

Tapi kei bukanlah gadis yang bekerja lambat, ia cekatan dalam melakukan segala hal. Bagaimanapun usaha yang dilakukan jimin agar tugas mereka tidak cepat selesai, itu hanya sia sia karena nyatanya sekarang tugas mereka sudah selesai.

“selesai juga…” kei merenggangkan lengannya.

“kau senang? Kau senang sudah terbebas dari tugas yang mengikatmu denganku?” jimin mendelik, membuat kei menatap tidak mengerti ke arah jimin.

“jimin-ah apa yang kau katakan? Aku hanya senang kalau tugas ini selesai.” Jawab kei apa adanya.

“kenapa kau masih menyimpan foto kita berdua?” jimin mengalihkan pembicaraannya.

“aku….”

“sudahlah, kau tak mungkin menjawabnya. Tugas kita sudah selesai, aku pulang. Nikmati waktumu dengan sehun sunbae” jimin sama sekali tak melirik kei yang sedang kebingungan dengan sikapnya. Ia melenggos pergi. Ada apa dengannya? Tanya kei dalam hati. Ia jadi merasa bersalah terhadap jimin.

[][][][]

 

“sunbae ada apa kau kemari? Maaf telah membuatmu menunggu lama..” kei menghampiri sehun yang sedang duduk termangu di ruang tamunya.

“ah.. tidak juga. Aku tidak tahu juga untuk apa aku kesini?” sehun menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu.

“hihihi…”

Sehun terkesiap melihat tawa kei. Entah mengapa membuat matanya tak mau lepas memandangnya lekat.

“sunbae!?” kei menyadarkan sehun yang sedang asik memandanginya tanpa berkedip. Seperti raga tanpa jiwa.

“ahh…ne…” jawab sehun kikuk. Lagi-lagi Ia tertangkap basah sedang memperhatikan kei.

“Sunbaenim, kau tidak apa-apa?” sehun terlihat tidak seperti biasanya di matanya. Tidak ada senyuman yang bisa membuatnya ikut tersenyum, tapi ekspresi yang bisa membuatnya gugup.

“ne..”

“jiyeon-ah.. sepertinya aku…”

“ne?”

“sepertinya aku menyukaimu..”

DEG!

Kei menjerit senang dalam hati, tapi mungkin saja sehun hanya bercanda dan berniat mempermainkannya.

“sunbaenim, bercandamu tidak lucu..” kei mengerucutkan bibirnya. Sehun tertawa sebentar lalu menghela nafasnya.

“tidak lucu.. karena aku sedang tidak bercanda, jiyeon-ah” jawab sehun mantap, ia menatap kedua manik mata kei lekat-lekat. mempersilahkan kei untuk menemukan tanda-tanda kebohongan dari manik matanya. Tapi dia sama sekali tak menemukan tanda itu, ia malah melihat sorot mata ketulusan di bola mata sehun.

“Sunbae…” panggil kei ragu-ragu, sama dengan hatinya yang juga ragu-ragu.

“panggil aku oppa.. aku ingin mendengarnya..”

“Oh sehun sunbae…”

“jiyeon-ah..” sehun semacam sedang memohon pada Mingi untuk memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ bukan sunbae lagi.

“sunbae.. ini teralu cepat.. kau itu sunbae-ku, aku tidak bisa memanggilmu oppa..” dalam kamusnya, oppa hanya akan ia ucapkan pada 1; kakak laki-lakinya 2; kekasihnya 3; idolanya. Dan sehun bukan termasuk dalam daftar tersebut, sehun sekarang hanyalah sunbaenya tidak lebih.

“aku tahu apa yang ada di fikiranmu saat ini, hari ini aku masih sunbaemu.. aku akan menunggumu sampai kau memanggilku oppa, dan ku harap aku tidak mendapat penolakan..” sehun mengusap puncak kepala kei yang sedang menunduk. Ia paham, kei hanya akan memanggil seseorang dengan panggilan oppa jika orang itu kakaknya, kekasihnya ataupun idolanya.

“aku pulang dulu.. maaf aku sudah mengganggu” sehun beranjak pergi, kei hanya bisa diam saja melihat sehun sudah meninggalkan rumahnya.

 

[][][][]

 

Saat ini di kelas hanya ada sujeong, kei dan jimin. Kei sedang tidak ingin keluar kelas dan bertemu dengan sehun setelah apa yang dia katakan padanya kemarin sore di rumahnya, sujeong akhirnya terpaksa menemani kei di sini dan merelakan waktu istirahat yang seharusnya ia habiskan dengan taehyun. Sedangkan jimin? pria itu memang jarang keluar kelas.

Jimin berjalan mendekati kei dan sujeong yang sedang berbicara entah apa.

“sujeong-ah bisa kau tinggalkan kami berdua?” sela jimin di antara perbincangan mereka. Sujeong menoleh dan mengangguk patuh. Sekarang sujeong bisa menemui taehyun di kantin.

“jiyeon-ah..” panggil jimin setelah memastikan sujeong sidah berada jauh di luar sana.

“jimin-ah ada apa” ia hafal benar, gelagat jimin seperti ini, pasti ada yang ingin ia bicarakan dengannya.

“jiyeon-ah aku ingin kau dan aku kembali berpacaran seperti dulu..” kata jimin to the point. Membuat jantung kei nyaris lompat dari tempatnya. Tapi untung tulang rusuknya masih kuat.

“Jimin-ah kau jangan bercanda!” kei berharap kata-kata jimin tadi hanyalah bualan semata. Ia sedang bingung tentang perasaannya terhadap sehun, dan sekarang jimin tiba-tiba datang dan memintanya untuk kembali berpacaran. Tidakkah itu cukup untuk membuatnya gila?

“jiyeon-ah, aku serius!”

“tapi….”

“kenapa? Sunbae itu mendahuluiku?”

“aniya..”

“tapi kau menyukainya?” jimin membuat kei pusing. Kei memijat dahinya. Kenapa semua ini menjadi rumit?

“kau masa laluku. Bukan karena sehun sunbae, atau apapun, tapi aku tidak bisa. Aku tak lagi meyukaimu jimin-ah. Mianhae..”

“….” tidak ada jawaban. Jimin menjambak rambutnya sendiri frustasi.

“mian..” kei hanya bisa meminta maaf, karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

“arraseo.. aku tahu. Tersenyumlah, jangan merasa bersalah seperti itu.”

“jimin-ah…” panggil kei, hanya ingin menunjukkan senyumnya pada jimin. Jimin tampak merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk setengah hati. Setengah hati yang lain ada pada kei. Couple necklace ini mereka beli saat mereka masih berpacaran dulu, dan sampai sekarang mereka masih menyimpannya.

“ini..” jimin menyerahkan benda itu pada kei, kei mengeryit, meminta penjelasan.

“hatiku dan hatimu tidak mungkin bersatu lagi. Kalung itu bukan lagi tanda hati masing-masing dari kita. Jadi, aku belum sempat mengatakan ini dulu. Terima kasih jiyeon-ah..”

Dipandanginya liontin yang sedang berada di telapak tangannya itu. Jimin lalu beranjak pergi.

“jimin-ah terima kasih… aku juga belum sempat mengatakan ini padamu saat kita berpisah dulu..” kei berkata lirih, jimin mungkin tak bisa mendengarnya karena ia sudah melangkah keluar kelas sekarang.

[][][][]

 

Masalah kei dengan sehun, juga dengan jimin membuatnya stres berat. Sepulang sekolah ia tidak langsung pulang kerumah tapi lebih memilih untuk mengunjungi taman kota sebentar. Ia berharap semoga ada hal yang mampu menghibur hati dan pikirannya sekarang.

“hei anak kecil?”

Sehun melihat kei sedang duduk di taman sendirian, ia pikir kei pasti sedang tertekan karena pernyataannya saat ia berkunjung ke rumahnya kemarin.

“Op..ah Sunbae..” nyaris saja kei memanggil sehun dengan sebutan oppa, untung saja hatinya masih mau bersinkronisasi dengan baik dengan otaknya.

Sehun tersenyum senang, meskipun kei hanya hampir memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’, tapi itu tetap saja pertanda yang baik kan?

“kau sedang memikirkanku, eoh?” tanya sehun dengan nada meledek. Ia duduk di samping kei tiba-tiba.

“aa..aniya sunbae…”

“kau gugup.”

“tidak!”

“tapi pipimu memerah..” goda sehun, dan sontak kei menutupi kedua pipinya dengan tangan.

“sunbae..”

“kapan kau memanggilku oppa, anak kecil?”

“lalu kapan kau akan memanggilku kim jiyeon, oh sehun Sunbae?” kei melempar pertanyaan itu kembali. Sehun tersenyum penuh arti.

“saat kau akan memanggilku oppa!”

“apa?”

“Kau juga menyukaiku kan?”

“a…tidak!”

“kau berbohong…aaa~” sehun semakin menggodanya dan membuatnya kei terpojok.

“Sunbaenim jangan menggodaku seperti itu..” kei mulai kesal, ia membuang pandangnya ke arah lain. Ia sedang tak ingin melihat ‘baby face’ face milik sehun. Tapi kalau nuest face, mungkin kei mau *skip._.

“baiklah.. sekarang terserah kau saja..”  sehun memasrahkan semuanya pada kei. kalau kei masih saja memanggilnya sunbae, itu pertanda penolakan dari kei.

“oppa…”

Sehun seolah mendapatkan setetes air di gurun yang gersang.

“apa? Aku tidak mendengarnya anak kecil…” ia bermaksud menggoda kei lagi.

“sunbae!!!” kei berteriak tepat di samping telinga kanan sehun, membuatnya begidik ngeri.Sehun berniat ingin menggoda kei atau bagaimana? kei sudah habis kesabaran.

“yakk, kau berniat membuatku tuli eoh?” hardik sehun, sambil mengelus-elus telinga kanannya.

“tidak! Aku hanya berniat membuatmu tahu kalau aku ingin memanggilmu oppa!” semua yang ada di hati ke kini sudah terlepas. Apa yang ingin ia katakan, apa yang ia inginkan sudah tidak lagi mengganjal di hatinya.

CUP!

Sebuah kecupan berhasil mendarat di bibir kecil kei. Membuatnya terlonjak dan seluruh sistem syaraf tubunya bekerja abnormal. Sehun menciumnya, meskipun hanya sekilas.

“kau sekarang milikku anak kecil!”

“yak! Jangan panggil aku anak kecil, oppa!”

Sehun merengkuh kei kedalam pelukannya. Sebagai tanda bahwa kei miliknya sekarang, dan semoga selamanya.

Meskipun baru beberapa hari mengenalnya, tapi ia sudah bisa merasakan benih-benih cinta yang tumbuh di hatinya juga di otaknya. Cinta dalam seminggu pertama? Kenapa tidak? Bahkan ada cinta pada pandangan pertama. Dan itulah yang membuat sehun yakin, perasaan yang mengganggu hidupnya belakangan ini adalah perasaan cinta.

“jiyeon-ah saranghae…” bisik sehun tepat pada telinga kei.

“Nado saranghae, sunbae…” balas kei. Sehun melepaskan pelukannya, menatap kei meminta penjelasan. ‘kenapa kau masih memanggilku sunbae?’

Kei terkekeh, tak berniat menjawab apapun. Ia sudah puas melihat sehun marah karena ia masih memanggilnya dengan sebutan sunbae.

END

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] Little Girl

  1. Hai,jumpa lagi thor😁
    ceritanya seru deh, ditunggu yah fanfict selanjutnya. Oh iya, first love juga buruan diposting banyak yang nungguin👌
    #fighting

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s