[OneShoot] MY FRIEND, MY LOVE

eKpWnd7repg_副本

Tittle : My Friend, My Love

Author : Renveltxy1204

Cast : Kim Jiyeon Lovelyz’s | Kim Taehyung BTS

Other Cast : Find by yourself

Genre : Romance,friendship

Length : Oneshoot

[][][][]

Aku membuka pintu dengan tergesa. Ia berdiri di sana, basah. Tentu saja basah, karena malam ini hujan dan ia nekat menerobosnya. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya? dasar orang aneh! Namanya Kim Taehyung. Kami berteman sejak duduk di bangku sekolah menengah atas sampai kini sama-sama menjadi mahasiswa di Inha University, hanya saja kami berbeda jurusan.

 

Ia pasti sudah melakukan salah satu aksi noraknya lagi. Mengejar-ngejar makhluk menyebalkan berjenis kelamin perempuan yang bisanya hanya dandan, manja dan merepotkan. Oke, aku juga seorang perempuan tapi aku tidak menyebalkan dan suka dandan atau ke salon seperti pacar-pacarnya itu.

 

“Jiyeon-ah, kau kenapa?” tanyanya memecah lamunanku.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Aku balik bertanya tanpa melepaskan tangan dari handel pintu.

“Aish, jadi begini sambutanmu pada tamu setampan diriku?”

Aku mendengus kesal. “Iya tamuku yang paling tampan. Tunggu sebentar, aku akan ambilkan handuk dulu,” ujarku lalu masuk ke dalam dan menuju dapur. Taehyung mengikutiku dari belakang.

“Bagaimana kabar Sujeong?” tanyaku sambil menyerahkan handuk. Ryu Sujeong, pacar terakhirnya. Aku harap begitu, meski seratus persen aku tak meyakininya.

“Apa aku belum cerita?” Taehyung mengerutkan keningnya lalu tersenyum lebar. “Aku sudah putus dengannya, ternyata dia gadis yang cerewet,” jawabnya setengah memelas mencari pembenaran sambil mengeringkan rambutnya yang basah.

Aku tidak kaget mendengar jawabannya, “Bukankah seminggu kemarin kau bilang dia seorang gadis yang perhatian? Lalu sekarang dari perhatian menjadi cerewet? hah kau ini…” Aku memang sengaja menyindirnya dan ia membalas perkataanku hanya dengan cengiran di wajahnya.

Sebenarnya hanya sekedar basa-basi saja saat aku menanyakan kabar Sujeong. Pasti sekarang ia sudah mempunyai pacar baru lagi. Yang lebih sempurna, lebih baik, lebih cantik dan yang lebih-lebih lainnya lagi dari pacar terakhirnya. Tidak perlu mencari alasan yang tak jelas yang sering ia lontarkan, hanya untuk sekedar pembenaran sikapnya di hadapanku. Aku tahu, ia sudah bosan. Dan menurutnya itu alasan yang cukup kuat untuk mengakhiri hubungan.

Kalian jangan langsung menjatuhkan vonis terlebih dahulu. Oke, dia memang playboy, tapi ia tak seburuk yang kalian bayangkan. Itu menurutku. Setidaknya ia tak pernah mempunyai banyak yeojachingu dalam satu waktu. Hanya saja ia menggilir mereka seenak jidatnya sendiri.

Minggu ini pacarnya si A. Minggu depannya lagi ia akan berdiri di depan pintu rumahku dan mengadu kalau si A ini banyak kekurangannya, cerewet lah, inilah, itulah dan seribu alasan lainnya. Besoknya saat aku bertemu dengannya di kampus, ia sudah menggandeng perempuan lain. Ia akan datang padaku lagi dengan sejuta kelebihan yang selalu diceritakan di awal kisahnya dan juga sejuta kekurangan yang selalu ia ceritakan di akhir kisahnya. Kemudian ia berganti yeojachingu lagi.

Aku mengangsurkan minuman hangat yang baru saja kubuat. Ia pasti kedinginan setelah aksi noraknya yang baru saja dilakukan. “Jadi siapa targetmu kali ini, taehyung-ah?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Yein, tetanggamu,” ujarnya setelah menyesap minuman hangatnya beberapa kali. Cengiran kembali menghiasi wajahnya.

Yein, tetanggaku yang masih duduk di bangku sekolah itupun menjadi incarannya. Yang benar saja! Aku menautkan kedua alisku. Pantas ia bisa sampai ke rumahku malam-malam begini, “Lalu hasilnya?”

Taehyung mengangkat bahunya. “Dia marah, tidak mau keluar,” jawabnya santai tanpa beban.

“Memangnya kenapa?”

Sekali lagi Taehyung menunjukkan cengirannya, “Aku lupa kalau hari ini dia berulang tahun.”

“Arraseo, pantas saja dia bersikap seperti itu, kau memang bodoh!” ujarku sambil berjalan ke ruang tengah.

Ia memang selalu begini, cerita ini itu tentang pacar-pacarnya. Dan aku memang selalu begini, mendengar ceritanya, kadang kutanggapi dengan celetukan-celetukan yang tidak ada artinya. Ia memang tidak membutuhkan saran atau nasehat dariku. Ia hanya minta didengarkan. Dan itulah yang selama ini kulakukan sebagai sahabatnya. Tapi malam ini aku merasakan sesuatu yang lain. Entahlah. Apa aku mulai bosan dengan semua ini? Kuhela nafas panjang, membuatnya menoleh ke arahku.

“Ahjussi dan Ahjumma kemana? Apa mereka sudah tidur?”

Sepertinya ia baru menyadari keadaan rumahku yang sepi. Kulirik jam dinding, jam sepuluh lebih, tapi kedua orangtuaku belum pulang juga. Dua jam yang lalu mereka bilang kalau akan menjenguk saudara Appa yang sakit. Apa mereka terjebak macet? Karena malam ini hujan cukup deras.

“Mereka sedang ada di luar.”

Hujan sudah reda. Setelah satu episode curahan hatinya tentang incaran barunya, Taehyung pamit pulang. Aku mengantarnya sampai pintu.

“Gomawo, Jiyeon-ah.”

“Untuk?” Aku mengernyit bingung. Kulipat kedua tanganku di depan dada sambil bersandar di pintu.

“Malam-malam begini sudah bersedia membukakan pintu untukku,” ujarnya sesaat sebelum berlari menuju mobilnya yang diparkir di seberang jalan.

“Kau sudah mengganggu belajarku!” balasku setengah berteriak. Lalu aku tersenyum getir, malam ini aku mendengar satu lagi ceritanya tentang yeojachingunya. Aku sahabatnya. Ya, hanya sahabatnya. Taehyung tak perlu tahu kalau di dalam hatiku, aku mempunyai perasaan itu. Perasaan ingin memilikinya. Tapi sudahlah, setidaknya aku jauh lebih beruntung dari gadis-gadis mantan kekasihnya itu. Setidaknya ia masih selalu datang padaku, meski hanya sebagai sahabat.
Tin…tin…
Ia membunyikan klakson mobilnya sebelum berlalu. Aku mengulas sebuah senyuman untuknya. Kututup pintu sambil menarik nafas. Mungkin suatu saat nanti aku akan memberitahunya tentang perasaanku. Mungkin.
[][][][]
Pagi ini rasanya hawa di kampus sangat tak bersahabat sekali. Entah memang begitu atau hanya terpengaruh dengan suasana hatiku yang sedang tidak mood. Aku tak peduli dengan suasana hati, yang jelas setengah jam lagi ujian ini sudah harus dikumpulkan. Sementara baru ada beberapa baris kalimat di kertas jawabanku. Setengah malas aku melirik Nayeon, Sowon yang terlihat kompak sedang menatap hasil kerjaan mereka yang dapat kupastikan kalau hasilnya tidak jelas juga sama seperti punyaku.
Pagi-pagi aku ke kampus dengan tampang kesal. Sebelumnya aku melihat mobil Taehyung terparkir di depan rumah Yein. Lebih menyebalkan lagi, kalau ia tak menjemputku pagi ini kenapa ia tidak memberitahuku dulu? Kalau aku tahu ia akan mengantarkan Yein sekolah, aku kan bisa menelfon kedua temanku itu untuk menjemputku. Setidaknya aku tak naik bus seperti yang kulakukan tadi pagi.
Kubaca lagi kertas yang ada di depanku sambil memainkan ujung pulpen. Tapi tetap saja aku tidak punya jawaban soal. Aku menghela nafas, lalu mulai menggerakkan tanganku. Kutulis jawabannya asal-asalan. Tak peduli dengan nilai, yang penting aku mengerjakan.
Ternyata ketiga orang temanku, Nayeon, Sowon juga mempunyai prinsip yang sama. Jadilah lima belas menit kemudian kami sudah berada di kantin sambil berebut mencari jawaban yang benar di buku. Memang bodoh. Ujian sudah selesai baru mencari jawabannya sekarang.
Kualihkan pandanganku karena tak berhasil merebut buku itu dari Sowon. Saat itulah di depan sana kulihat seseorang yang cukup menyita perhatianku. Bukankah itu pria yang kutabrak? Aku tak pernah melihatnya sebelum insiden pagi tadi. Entahlah, aku yang tak pernah melihatnya atau aku memang tak pernah memperhatikan sekelilingku.
Tadi pagi karena terburu-buru aku berlari menuju kelas. Tak kurang dari sepuluh menit aku pasti akan terlambat. Tak bisa menghindar saat seorang pria tengah berjalan di depanku. Dan aku menabraknya. Bukannya marah ia malah tersenyum. Satu lagi aku menemukan orang aneh selain Taehyung.

 

“Nayeon-ah, kau tahu dia siapa?” tanyaku pada Nayeon. Sepertinya temanku yang satu ini kemungkinan besar mengetahui siapa pria itu, karena jika sudah menyangkut hal seperti ini ia tak mungkin ketinggalan informasi.

“Siapa?” ujarnya sambil celingak-celinguk mencari orang yang kumaksud tadi.

“Arah jam sebelas, jangan langsung melihatnya,” gumamku sambil tetap memandangi pria di depan sana.

Memang dasar bodoh, aku sudah berkata jangan langsung melihatnya. Mereka secara serempak malah mengangkat wajah dari rebutan buku ke arah pria tadi. Dan itu membuat pria merasa kalau ia sedang diperhatikan. Kami berempat refleks membuang muka untuk menyelamatkan diri secepatnya. Saat kami ingin melihatnya lagi, ternyata ia sudah tidak ada. Hening sebentar.

“Namanya Park Jimin, putra pemilik Park Corporation. Salah satu pengusaha tersukses di Korea. Baru sebulan dia kuliah di kampus ini. Mahasiswa pindahan dari Amerika, idola baru di kampus kita. Dia belum mempunyai yeojachingu, katanya belum menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi kekasihnya,” terang Nayeon membuat Sowon menganguk-angguk mengerti. Sementara aku tak tertarik dengan penjelasan Nayeon. Bagiku mengetahui namanya saja sudah cukup. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengetahui secara detail tentang mahasiswa baru itu.

“Kau menyukainya?” Sowon menoleh menatapku diikuti Nayeon yang ikut menatapku juga. Aish kenapa mereka menatapku seperti itu? Seolah aku ini seperti maling yang baru saja tertangkap basah.

“Hampir semua gadis mengejarnya, kau akan mempunyai banyak saingan,” ujar Nayeon setelah cukup lama menungguku untuk bersuara.

“Termasuk kau,” tukas Sowon cepat sambil menunjuk ke arah Nayeon.

“Aniyo, aku tak menyukainya. Dan aku tak berniat untuk bersaing dengan gadis-gadis bodoh itu untuk mengejarnya,” ujarku lalu berdiri dari kursi. Tak kuhiraukan saat mereka bertanya aku mau kemana.

Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan. Mungkin di sana aku bisa menenangkan diri, sambil mengembalikan moodku yang sejak semalam tak kunjung membaik. Dan tadi pagi semakin bertambah buruk saja saat kulihat mobil Taehyung yang terparkir di depan rumah Yein. Kenapa aku bisa seperti ini? Rasanya kesal sekali. Apakah aku mulai cemburu? Padahal selama ini, aku sanggup menahan perasaanku. Setiap kali ia datang padaku bercerita tentang teman-teman wanitanya, aku tak pernah sekesal ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan melingkar di bahuku.

“Kau kemana saja? Dari tadi aku mencarimu.”

Aku melirik dengan sudut mataku. Sebenarnya tanpa perlu meliriknya, aku sudah tahu siapa yang tengah berjalan di sampingku sekarang. “Aku ada ujian pagi tadi,” jawabku datar sambil melepaskan tangannya yang melingkar di pundakku.

“Lalu bagaimana kau berangkat ke kampus? Apa kedua orang temanmu yang aneh itu menjemputmu?” Dengan santai ia merangkul bahuku kembali. Apa ia tidak peka sedikit saja kalau aku sedang kesal dengannya?

Aku menghentikan langkah dan memandangnya kesal, “Aku jalan kaki!” Kuhentakkan kasar tangannya. Sebelum aku berlalu, masih sempat kulihat ekspresi wajah Taehyung yang kebingungan menerima perlakuanku. Jelas saja ia bingung, selama ia mengenalku baru kali ini seorang Kim Jiyeon bersikap kekanakan.

Meski sebenarnya aku tak ingin membaca, tapi tanganku terulur untuk mengambil salah satu buku yang berjejer rapi di rak-rak buku.

“Kau kenapa?” Aku menoleh sekilas saat mendengar suara Taehyung yang ternyata sudah berdiri tepat di belakangku. Aku kira ia tidak akan peduli dengan sikapku tadi. “Apa kau marah padaku?” Taehyung berjalan mengikutiku dari belakang. “Yak, Kim Jiyeon yang jelek kenapa kau diam saja?” gerutunya sambil menarik kursi, kemudian ia mendudukkan tubuhnya tepat di depanku.

Kualihkan pandanganku dari halaman-halaman buku yang sedari tadi sama sekali tak kubaca. Aku menatapnya dengan ekspresi wajah kesal, hanya sebentar. Lalu berpura-pura kembali menekuri buku di depanku.

“Bukankah kau sudah tahu kalau aku lebih suka kau memarahiku atau memukulku daripada mendiamkanku seperti ini?” ujarnya sembari merampas buku di depanku.

Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan kesabaran, “Arraseo.”

“Lalu?”

“Aku sedang malas berbicara denganmu.”

“Wae?”

Kedua bola mataku membulat. Masih saja ia tidak tahu kalau aku sedang marah padanya. Pria ini benar-benar menyebalkan. Ah iya aku lupa, bukankah ia memang menyebalkan sejak dulu? “Aish jinja, kau sangat mengganggu sekali,” ujarku sambil merampas buku dari tangannya dan kupukul pelan kepalanya, “Tadi kau bilang kau lebih senang jika aku memukulmu bukan?” Sekali lagi aku memukulnya dengan buku yang kupegang.

“Yak appo!” Ia meringis sambil mengelus kepalanya. Memang pukulanku yang kedua sedikit keras. Mau tidak mau aku tertawa pelan melihat ia kesakitan seperti itu, menurutku ia terlihat lucu sekali.

“Mian, kalau aku sudah membuatmu marah,” ujarnya kemudian. Dan itu membuatku merasa senang. Ternyata ia tak seburuk yang aku pikirkan. Menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Terdengar manis sekali.

“Meskipun aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kuperbuat,” gumam Taehyung pelan tapi aku dengan jelas mendengar gumamannya itu. Hampir saja aku ingin memprotes kalau ponsel Taehyung tidak berdering.
[][][][]
Hari ini tepat seminggu aku tak pernah bertemu lagi dengan Taehyung. Terakhir bertemu dengannya waktu di perpustakaan. Setelah itu aku memang sengaja menghindarinya. Setiap ia menelfon, aku tak pernah mengangkatnya. Walaupun aku sesekali masih membalas pesannya. Aku tahu sikapku ini berlebihan, tapi mau bagaimana lagi.

Sebenarnya aku takut, takut jika nantinya aku menjadi pesakitan karena diam-diam mencintainya. Lebih baik aku menjaga jarak dengannya secara pelan-pelan. Toh ia juga sibuk dengan gadis-gadisnya. Berbicara tentang gadis, aku teringat sesuatu. Bukankah ini sudah seminggu lebih, kenapa ia tak datang ke rumahku? Bercerita tentang kekurangan perempuan yang sudah dikencaninya selama seminggu ini. Berarti ia belum putus dengan tetanggaku itu, Yein.

“Jiyeon-ah!” Sowon melambaikan tangan dari jauh begitu melihatku datang. Aku tersenyum dan berlari menghampiri kedua temanku.

 

Brukk

 

Buku-buku yang dibawa seseorang yang kutabrak tadi terjatuh semua. “Gwaenchana?” ujarku lalu berjongkok untuk mengambil buku-bukunya yang berserakan. Kenapa aku jadi sering menabrak orang? sepertinya aku perlu memeriksakan penglihatanku ke dokter mata.

“Gwaenchana.” Ia ikut berjongkok memunguti bukunya.

“Mianhae, aku…” Aku tak melanjutkan kalimatku begitu melihat siapa yang kutabrak. Tanganku masih tetap terulur dengan buku miliknya. Bukankah ia Park…Park Jimin? Pria yang pernah kutabrak juga sebelum ini.

“Hei…” Ia menggerakkan sebelah tangannya di depan wajahku.

“Mi..mianhae, aku tidak sengaja.”

Ia tersenyum lalu mengambil bukunya dari tanganku yang masih terulur ke arahnya. “Tidak apa-apa, ini juga salahku karena berjalan tak melihat ke depan.” Senyuman kembali tersungging di bibirnya. Kemudian ia memandangku lekat. Dapat kulihat keningnya berkerut, sepertinya sedang berpikir sesuatu. Jangan-jangan…

“Kau gadis yang menabrakku seminggu yang lalu itu bukan?” Astaga ternyata ia masih mengingatnya.

“N…ne,” jawabku dengan senyuman kaku. “Maaf waktu itu aku terburu-buru, sekali lagi maafkan aku,” lanjutku sambil membungkukkan badan.

“Hahaha… Sudahlah tidak perlu meminta maaf seperti itu. Tapi apa kau memang punya kebiasaan suka menabrak orang?” Lagi-lagi memamerkan senyuman manisnya untukku.

“Eh?” Aku merasakan wajahku memerah. Aku tahu ia sedang menyindirku.

“Aku hanya bercanda, oh ya Park Jimin imnida.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

“Kim Jiyeon imnida.” Dengan ragu kusambut uluran tangannya. Dari tempatku berdiri sekarang, dapat kulihat kedua temanku tengah serius memandangiku dengan Jimin. Setelah itu pria tadi berlalu dari hadapanku, mereka langsung menghampiriku.

“Jiyeon-ah, apa yang terjadi? Apa dia memarahimu?” tanya Sowon dan kujawab dengan gelengan kepala.

“Aku tak menyangka kau dengan mudah berkenalan dengan Park Jimin. Aku?” keluh Nayeon. Aku tertawa kecil mendengarnya.

 

“Jadi sekarang, kau sudah menjadi bagian dari gadis-gadis bodoh itu, Jiyeon-ah?” Aku menatap Sowon tidak mengerti. “Seperti katamu waktu itu, bukankah gadis-gadis yang mengejar Park Jimin adalah gadis-gadis bodoh?” lanjutnya kemudian.

“Aish jinja, aku sama sekali tak tertarik dengannya.”

Kami bertiga berjalan menyusuri lapangan menuju ke gedung kampus.

“Apa kalian sudah menemukan baju untuk pesta minggu depan?”

“Pesta minggu depan? Pesta apa?” tanyaku karena tak paham dengan pesta yang dimaksud Nayeon.

“Aigoo, jangan bilang kau tidak tahu.” Sowon menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pesta dansa tahunan kampus. Bukannya setiap tahun kau selalu datang?”

Ternyata pesta dansa yang diadakan kampus setiap tahunnya. Benar kata Sowon setiap tahun aku memang selalu datang. Bersama Taehyung tentunya. Ya, meskipun aku datang bersamanya, aku hanya duduk manis di sudut ruangan sementara ia sibuk dengan gadis-gadisnya. Tapi mungkin untuk tahun ini, aku tidak akan datang ke pesta itu.

“Aku tidak akan datang.”

“Kenapa?” tanya mereka kompak.

Aku mengangkat bahuku, “Malas.”

“Aish kami akan menyeretmu jika sampai kau tak datang ke pesta dansa,” sahut Nayeon cepat sambil menarik ujung rambutku. Kuhentikan langkahku lalu menoleh ke belakang. Entah kenapa aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku.
[][][][]
“Sepertinya akhir-akhir ini kau berusaha menghindariku atau mungkin ini hanya perasaanku saja?”

Aku menoleh saat kudengar suara yang tak asing lagi menyapa telingaku. Aku hanya terdiam memandanginya saat ia menarik pelan kursi di depanku. Kemudian aku kembali memasukkan sedotan minuman ke dalam mulutku, memainkan sedotan itu dengan lidahku, dan sesekali menggigit ujungnya.

“Kau benar-benar menyebalkan,” ujar Taehyung lalu menendang kakiku di bawah meja sana, membuatku hampir tersedak.

“Yakk Kim Taehyung! Kau itu jauh lebih menyebalkan,” balasku tak mau kalah menendang kakinya juga.

“Aku haus.” Taehyung mengambil paksa minumanku lalu dengan cepat ia memasukkan sedotan ke dalam mulutnya.

“Yak yak… apa yang kau lakukan? Kembalikan minumanku!” Aku berusaha merebutnya, tapi tangannya menghalangiku. Aku mengerucutkan bibir kesal saat kulihat minumanku sudah tak bersisa lagi. Dasar Kim Taehyung menyebalkan!! Tapi entah kenapa aku malah merasa senang dengan sikapnya ini. Aku merutuki diriku sendiri, bukannya aku sendiri yang kemarin-kemarin menghindarinya tapi kenapa aku malah senang dengan kebersamaan ini. Aku sadar, aku memang tak bisa jauh darinya.

“Itu hukuman bagi orang yang sengaja menghindariku,” Taehyung terkekeh pelan. Kekehannya perlahan menghilang saat ia menyadari tatapan membunuhku. Hampir sepersekian menit kami saling menatap tajam. Dan sesaat kemudian…

“Hahaha…” tawa kami pecah bersamaan, refleks membuat seisi pengunjung kantin kampus memandang ke arah kami berdua dengan pandangan aneh.

“Sepertinya ada banyak hal yang harus kuceritakan padamu,” ujarnya setelah berhenti tertawa

“Sepertinya ada banyak hal yang harus kudengarkan darimu, tapi…” Aku menggantungkan kalimatku seolah-olah sedang berpikir, “Kenapa kau jadi stalker? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau mengikutiku beberapa hari ini?” Dapat kulihat ia salah tingkah mendengar tuduhanku yang baru saja kulontarkan.

“I..itu……”

“Oh jadi beberapa hari ini kalian sedang bertengkar? Pantas saja aku tak pernah melihatmu, Taehyung-ssi,” ujar seseorang tiba-tiba. Kupandangi kedua temanku yang sedang tersenyum lebar itu secara bergantian, bahkan aku tidak tahu darimana kedua makhluk ini muncul. Aku menyenggol lengan Sowon saat ia sudah duduk di sampingku.

“Hahaha kalian seperti sepasang kekasih saja pakai bertengkar segala,” tawa Nayeon berderai lalu melanjutkan kalimatnya lagi yang membuat telingaku memerah, “Melihat adegan kalian tadi, aku jadi ragu, apa benar kalian hanya sebatas teman?”

“Benar! Aku pikir kalian berdua cocok. Dan kau Kim Taehyung berhentilah berlagak seperti cassanova.” Sekarang giliran Sowon yang berceloteh.

“Aishh, apa yang sudah kalian bicarakan?” protesku mendelik kesal ke arah mereka.

“Aku baru tahu selain aneh kalian berbakat juga menjadi pelawak,” ujar Taehyung sambil tertawa.
Pletakk
Nayeon yang duduk di sebelah Taehyung dengan mudahnya menghadiahi sebuah jitakan di kepala Taehyung. “Maksudmu siapa yang aneh dan berbakat menjadi pelawak?” tanyanya sambil bersiap mendaratkan jitakannya kembali, sedangkan Taehyung memasang tampang tak berdosanya. Setelah itu suasana pun berubah menjadi ramai karena kami saling bercanda, saling mengejek dan saling menimpali satu sama lain, tapi tiba-tiba menjadi hening saat seseorang memanggil namaku.

“Kim Jiyeon-ssi.”

“Ye?” Aku mendongakkan kepala. Dan sebuah senyuman langsung menyambutku. Park Jimin. Aku mengernyit bingung. “Annyeong Jimin-ssi,” sapaku sambil mencoba untuk tersenyum. Dari sudut mataku, aku melihat Taehyung mengamati Jimin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
[][][][]
Malam ini adalah malam pesta dansa diadakan. Dan malam ini aku datang bersama Jimin. Ya bersama Park Jimin, mahasiswa baru yang banyak menjadi incaran para gadis di kampusku. Perlu aku garis bawahi, kalau aku bukanlah termasuk gadis-gadis yang menurutku bodoh itu.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa pergi ke pesta dansa dengannya? Ia memang mengajakku dua hari yang lalu. Tentu saja aku menolaknya dengan berbagai alasan. Tapi sepertinya Jimin bukanlah pria yang mudah menyerah, buktinya kemarin ia masih menawariku untuk pergi bersamanya. Awalnya kutolak tapi entah kenapa saat tak sengaja mataku menangkap sosok Taehyung yang tengah berduaan dengan seorang perempuan, aku langsung berubah pikiran dan menerima ajakannya.

Taehyung sempat kesal saat kuberitahu kalau aku akan pergi ke pesta dengan Jimin. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena aku sudah mengambil keputusan. Toh ia pergi ke pesta dansa itu, juga bersama pacar barunya kan? Aneh saja kalau ia merasa kesal. Bukankah yang seharusnya kesal itu aku?

Pesta pembukaan sudah selesai dan sekarang semua orang berkumpul di lantai dansa, berpasang-pasangan mengikuti alunan musik yang menggema. Mataku berkeliling mencari-cari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kim Taehyung yang aku cari.

Aku menarik sudut bibirku membentuk lengkungan senyum saat menemukan sosok yang aku cari sedari tadi. Taehyung sedang duduk di depan meja bartender, menatap wine di depannya dengan tidak begitu bersemangat. Aku mengerutkan kening, bukankah ia selalu semangat jika ada pesta seperti ini? Berdansa dengan banyak gadis? Seolah dia adalah manusia yang paling bahagia. Kenapa ia terlihat berbeda malam ini? Aku hendak melangkah menghampirinya bertepatan saat tangan Jimin menggenggam tanganku. Membuatku membeku di tempat.

“Ayo kita berdansa.” Aku terdiam. Berpikir sejenak untuk menerima atau menolak ajakannya. Belum sempat aku bicara, Jimin sudah menggandengku dan menarikku ke lantai dansa. Aku tak bisa menolaknya.

Aku menarik nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan, mencoba untuk rileks. Jimin tersenyum, sepertinya ia tahu kalau aku sedikit tegang dan tidak terbiasa. Oke, ini adalah kali pertama aku berdansa apalagi dengan pria yang baru kukenal.

“Aku akan mengajarimu.” Aku hanya membalasnya dengan senyuman polos.

Selanjutnya Jimin mulai mengajariku. Meskipun aku enggan dan terlihat malu-malu tapi toh aku mengikuti petunjuknya. Setelah butuh waktu, akhirnya aku mulai terbiasa, yang sebelumnya hampir saja menginjak kaki Jimin dan ia hanya tertawa pelan. Tapi semua jadi berubah ketika seseorang menarik paksa tanganku, menggiringku keluar. Aku bahkan tak sempat melihat bagaimana reaksi Jimin. Kontan saja pemandangan ini menarik perhatian orang-orang. Ada juga yang menyorakinya tapi sepertinya orang yang menarik tanganku tidak peduli.

Aku sendiri kaget dengan tindakan Taehyung yang tiba-tiba, mencoba melepaskan diri tapi genggamannya sangat kuat dan terasa sakit. “Yak apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Ia mengabaikan peritahku. Taehyung terus saja menarikku hingga sampai dimana mobilnya terparkir. Dibukanya pintu mobil dan ia melemparkan tubuhku ke dalam dengan sedikit kasar. Mulutku terbuka, mataku mengerjap. Otakku masih mencerna kejadian yang baru saja kualami.

“Kim Taehyung!!” teriakku marah.

Taehyung menyalakan mesin mobil dan tak memperdulikanku yang memukul-mukul lengannya.

“Kita mau kemana?” tanyaku terengah-engah setelah puas memukulinya. Tentu saja aku masih marah. Bahkan sangat marah.

“Pulang,” jawabnya dingin.

Aku menoleh lagi ke arahnya. Menatapnya tak percaya. Kenapa ia terlihat emosi? Bukannya yang seharusnya emosi itu aku? Menarik tanganku secara paksa dan sekarang memaksaku pulang.

“Aku masih mau menikmati pesta itu,” ketusku.

“Apa kau pikir aku akan membiarkanmu kembali ke pesta itu? Membiarkan Park Jimin menyentuhmu seperti tadi?” ujarnya masih tetap berkosentrasi pada jalanan di depan sana.

Kalian bisa lihat sendiri kan, bagaimana egoisnya dia. Lagipula peduli apa dia kalau Jimin menyentuhku atau tidak? Aku sudah dewasa, jadi aku bisa menjaga diri, bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk untukku. Ya meskipun aku tak terbiasa saat seorang pria mengajakku berdansa seperti tadi.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengannya, berdansa dengannya. Bahkan aku tidak menyangka kau tak menolaknya saat pria playboy itu menggenggam tanganmu dan memeluk pinggangmu.”

Omo apa aku tidak salah dengar? Dia bilang Park Jimin pria playboy? Hah apa dia lupa bagaimana sikapnya ke semua gadis selama ini?

“Dengarkan aku Kim Taehyung! Apa selama ini aku pernah melarangmu mendekati perempuan manapun? Apa aku pernah melarangmu menjalin hubungan dengan perempuan manapun? Apa aku pernah memarahimu setiap kali kau berganti perempuan tiap minggunya? Apa aku pernah mengeluh setiap kali kau datang padaku bercerita tentang perempuanmu itu? Apa aku pernah menuntutmu untuk sekedar mendengar ceritaku sebentar saja? Tidak kan?” ujarku sedikit dingin dan sinis saat mengakhiri ucapanku.

“A…apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba menjadi seseorang yang menyebalkan seperti ini hanya karena seorang pria yang baru kau kenal?” tanyanya bingung sekaligus kesal.

Aku memicingkan kedua mataku menatapnya, lalu detik berikutnya aku membuang muka, memandang ke luar melalui kaca mobil. Aku sudah lelah untuk perasaan ini.

“Sekarang aku mau tanya, apa kau pernah sekali saja mengerti apa yang kurasakan?” Tak ada jawaban, dia hanya tertegun. “Tidak kan?” lanjutku. Mataku mulai basah. Air mataku tertahan di pelupuk mata.

“Diam! Aku tidak ingin mendengarmu bicara lagi,” ujarnya tegas dan dapat kurasakan ia menambah kecepatan mobilnya.

“Turunkan aku di sini!” Aku menoleh ke arahnya, “Apa kau tidak mendengarnya? Aku mau turun!” bentakku, dan tanpa kuduga ia pun mengerem mobilnya mendadak.

“Sekarang apa yang kau tunggu? Cepat turun!” perintahya dengan nada tinggi. Pandangannya masih tetap lurus ke depan. Salah satu air mataku jatuh begitu saja. Aku menghapusnya kasar lalu dengan segera keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil cukup keras. Setelah itu mobilnya melesat begitu saja dari hadapanku.

Aku benar-benar tidak menyangka, kisahku mirip sekali dengan drama-drama yang sering kutonton di televisi. Semakin bertambah sempurna saja, saat kurasakan rintik-rintik hujan mulai membasahi tubuhku, membiarkan air mataku bercampur dengan dinginnya tetesan hujan.
[][][][]
Aku melemparkan remote tv dengan kesal karena tak ada satupun acara yang menarik. Sudah tiga hari ini aku tidak ke kampus. Ya sejak aku kehujanan malam itu, badanku langsung demam. Yang aku lakukan tiga hari ini, hanya berdiam diri di rumah, tidak ada yang bisa kukerjakan selain menonton televisi, makan dan tidur. Kata dokter yang memeriksaku, aku harus istirahat untuk beberapa hari.

Dengan malas aku beranjak menuju pintu karena mendengar bunyi bel rumahku. Saat aku tahu untuk siapa aku membukakan pintu, aku berniat menutupnya kembali tapi dengan cepat ia menahannya sambil menunjukkan cengirannya. Aish menyebalkan sekali. Apa dia pikir dia itu menggemaskan?

Kubalikkan badanku, toh percuma saja menahan pintu mengingat tenaganya lebih besar. Aku kembali duduk, menaikkan kaki dan melipatnya di atas sofa sambil kedua tanganku terlipat di depan dada. Berusaha untuk tidak peduli dengan kehadirannya.

“Kau masih sakit?” tanyanya ketika ia sudah duduk di sampingku. Aku menepis tangannya saat ia hendak menyentuh keningku. Apa-apaan! Bukankah kami sedang bertengkar? Sok perhatian sekali dia. Aku sakit juga karena dia.

“Untuk apa kau kesini?” tanyaku ketus.

“Menjengukmu. Kata kedua temanmu yang aneh itu, kau sedang sakit. Aigoo kau itu sudah besar, kenapa masih saja main hujan-hujanan? Dasar kekanakan!” makinya lembut sembari menyunggingkan senyuman. Hey Kim Taehyung apa kau pikir aku sudah melupakan teriakanmu yang menyebalkan malam itu? Sekarang aku benar-benar menyesal, kenapa tadi sudah membuka pintu.

“Kalau begitu pulanglah, sudah selesai menjengukku kan?”

“Jadi kau mengusirku?”

“Ya aku mengusirmu”
“Kalau aku tidak mau?”
“Aku akan menyeretmu.”
“Memangnya kau masih punya tenaga untuk menyeretku ke luar?”

Aku hanya diam saja.

“Wae? Kenapa kau diam saja? Bukankah kita sudah baikan? Selama ini kita tidak pernah bertengkar lebih dari tiga hari.”

“Baru tiga hari, belum lebih dari tiga hari,” ralatku dengan muka yang masih kutekuk.

“Sama saja,” ujarnya tak mau kalah.

Entah kenapa tanpa aku sadari seulas senyum malah tersungging di wajahku. Dan sialnya, Taehyung melihatnya. Ia pun menggeser duduknya mendekat padaku.

Terdengar helaan nafas berat darinya. “Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tidak tahu kenapa malam itu aku bertingkah menyebalkan.” Ada penyesalan di nada bicaranya. “Sekarang kau boleh memukulku sepuasnya,” sambil meraih tanganku lalu menaruh di atas kepalanya. Aku menatapnya dan kembali tersenyum.

“Jadi sekarang kau sudah memaafkanku kan?” tanyanya lagi sedikit memelas. Akupun mengangguk. Aku sadar, sebenarnya aku juga salah. Tapi aku tak mau minta maaf, bisa-bisa dia besar kepala nanti. “Kalau begitu kau harus mendengarkan ceritaku,arra<?” lanjutnya dan terkesan memaksa.

Aku menggembungkan pipi. Meskipun begitu kuanggukkan kepalaku pelan sebagai jawabannya.

“Aku menyukainya sejak dulu. Aku memang bodoh, selama ini tak punya keberanian untuk mengakui perasaan itu. Aku takut, jika aku berterus terang padanya ia akan membenciku dan menjauhiku. Aku tidak mau seperti itu,” ujarnya setelah hening beberapa saat.
Aku mengerjap pelan saat ia memaksakan diri untuk tersenyum.
“Kadang aku ingin sekali bertanya padanya, apakah ia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku?” Taehyung tertawa pelan, “Sekali lagi aku memang tak punya keberanian. Aku memang pengecut. Bagiku, selamanya dianggap sahabat tidak apa-apa. Asalkan dia selalu ada di sisiku, mendengar ceritaku setiap saat. Bahkan dia tak tahu, alasanku berganti pacar setiap minggunya. Aku pikir dia akan marah, tapi dia malah membiarkanku melakukan semua itu. Padahal aku ingin sekali mendengar protes darinya, melihat dia cemburu. Hah ternyata dia lebih bodoh dariku,” terangnya dengan mata menerawang.

Deg! Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia? Siapa yang dimaksudnya?

“Apa aku terlalu banyak bicara?” ujarnya menoleh ke arahku.

Aku hanya menggeleng.
Taehyung menatapku lekat sebelum melanjutkan perkataanya, “Tapi aku rasa dia juga menyukaiku. Entahlah dia menyukaiku sejak dulu atau aku saja yang baru menyadarinya,” ujarnya tersenyum lembut.

Lidahku terasa kelu. Yang kulakukan saat ini hanya bisa menatapnya. Kurasakan wajahku memanas.

“Untuk itu aku datang ke sini, meminta pendapatmu.”

“Apa?” tanyaku tak mengerti.

“Aku ingin memastikannya, apakah dia benar-benar mencintaiku atau tidak? Dan sekarang aku ingin minta saran darimu, bagaimana caranya menyatakan cinta pada gadis itu?”

Aku menaikkan sebelah alisku. Ya Kim Jiyeon kau bodoh sekali. Apa kau pikir gadis yang dimaksudnya itu adalah kau? Dan lagi, apa katanya tadi, meminta saran bagaimana menyatakan cinta? Yang benar saja! Bukankah selama ini, sudah tak terhitung berapa kali ia sudah menyatakan cinta pada banyak gadis?

“Jiyeon-ah, kenapa kau diam saja?” ujarnya menyadarkanku. “Kalau menurutmu, apa yang harus kulakukan?” tanyanya lagi dengan wajah tak berdosanya dan senyuman menyebalkan.

Aku menghela nafas kesal tentunya. “Datang saja ke rumahnya sambil membawa bunga,” jawabku asal. Antara kesal, sedih, marah, kecewa semua bercampur jadi satu.

Taehyung berpikir sebentar lalu mengerling ke arahku, “Tidak buruk juga. Kau tah kan kalau gadis ini adalah gadis yang spesial.” Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah seringaian.

“Yein?”

“Hanya dua hari aku bersama gadis manja itu.”

Aku berdecak, “Gadis waktu itu?”

“Nugu?” tanyanya padaku sambil mengernyit bingung.

“Aku melihatnya beberapa hari yang lalu. Kalian berdua sedang berbincang dengan akrab.”

Taehyung masih mengernyit bingung, sepertinya berusaha untuk mengingat-ingat. “Hayoung?”

Aku mengangkat bahu.

“Dia teman lama dan teman baikku, namanya Oh Hayoung.”

Aku menatapnya, dia terlihat bahagia sekali saat menyebut teman lamanya itu. Teman lama? Bahkan aku tak tahu kalau ia mempunyai teman baik seorang perempuan selain aku. Apakah ‘dia’ yang dimaksud tadi adalah Oh Hayoung? Ya, pasti begitu.

“Baiklah sepertinya aku harus menemuinya sekarang juga. Gomawo, sudah memberiku saran,” ujarnya sembari tertawa pelan. “Apa kau masih bersedia untuk selalu mendengarku bercerita?”

Apa kau tak lihat kalau aku menyukaimu? Sebegitu sulitkah kau menyadari perasaanku? Taehyung-ah tidak pernahkah kau berpikir untuk jatuh cinta padaku juga? gerutuku dalam hati.

“Tentu saja, aku akan selalu ada untukmu,” ujarku miris. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku.

Taehyung menyentuh kepalaku sebelum ia beranjak dari duduknya, “Sampai jumpai besok, istirahatlah agar kau cepat sembuh.”

Aku hanya mengangguk pelan. Ia berjalan menjauh dariku lalu mulai menghilang dari pandanganku.

Apakah selamanya kau hanya menganggapku sebagai seorang sahabat? Aku tidak keberatan untuk hal itu, tapi aku juga mempunyai hati. Dan aku jatuh cinta padamu, tidakkah kau merasakannya? Kim Taehyung, aku mencintaimu bodoh. Hah kalau begini terus, sakitku tidak akan sembuh-sembuh juga. Aku berjalan gontai masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuhku di atas ranjang, mulai memejamkan mata berusaha untuk istirahat. Baru saja alam bawah sadarku mulai menyambut, samar-samar aku mendengar bel rumahku berbunyi lagi.

“Nuguya?” teriakku lemah dari dalam kamar. Meski aku tahu percuma saja, karena orang itu tidak akan mendengarnya. “Mengganggu tidur siangku saja,” omelku turun dari ranjang lalu ke luar menuju pintu depan.

Sesaat kemudian aku mematung di depan pintu. Memandanginya penuh tanda tanya. Kini di hadapanku, Taehyung sudah berdiri lagi di sana padahal belum satu jam ia pamit untuk melakukan aksi noraknya. Ia tersenyum simpul sambil membawa sebuket bunga di tangannya. Yang benar saja, apa ia juga akan meminta pendapatku tentang bunga yang akan diberikan kepada perempuan barunya nanti? Dia benar-benar sudah kelewatan, tidak punya hati.

“Ehem…”

Ia berdehem, mungkin untuk meyadarkan lamunanku.

“Aku tahu kalau aku tampan tapi kau tak perlu memandangiku seperti itu Kim Jiyeon yang jelek,” ujarnya masih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. “Kenapa kau tak mengambil bunganya? Bukankah tadi kau yang menyuruhku untuk melakukan hal norak seperti ini?” Taehyung mengarahkan sebuket bunga yang masih ada di tangannya padaku.

Aku masih terpaku melihatnya. Sekarang aku semakin tidak mengerti dan aku bisa menebak kalau wajahku pasti terlihat bodoh saat ini. Otakku mulai mencerna. Mungkinkah… mungkinkah orang yang diceritakannya padaku tadi adalah… aku? Jadi kalau begitu selama ini dia…? Aku menatapnya lekat, mencari jawaban di matanya. Taehyung menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang kupikirkan.

Meyakinkan diriku sendiri kalau ini bukanlah mimpi. Sedikit bergetar tanganku terulur untuk menerima bunga darinya. Taehyung tersenyum bahagia saat aku mengambil bunga itu dari tangannya.

“Jadi…” ujarnya masih menatapku lekat dan dengan senyuman lembutnya.

“Aku membencimu,” desisku pelan. Aku menangis tertahan. Tentu saja tangisan bahagia.

Taehyung tertawa kecil mendengar ucapakan. “Kau masih saja suka bercanda,” ujarnya sambil menyentil hidungku, “Saranghae.” Menarikku ke dalam pelukannya.

Hidup ini memang indah, kadang kita tak pernah menyangka akan berakhir manis.
END

 

Advertisements

6 thoughts on “[OneShoot] MY FRIEND, MY LOVE

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s